Senin, 17 Juni 2013

Mengintip Lahan Dakwah di Pulau Nanga


Ini hari terakhirku di Batam. Pukul 9 pagi aku sudah dijemput oleh Mas Siswanto dari pengurus masjid Nurul Islam Batamindo, yang menjamu kami di PUMA semalam. Sementara yang lain masih akan mengisi workshop tata letak media di Politeknik Negeri Batam, aku akan berkunjung ke Pulau Nanga, sebuah pulau kecil berjarak 80 km ke arah barat laut Kota Batam. Ada apa sih di Pulau Nanga?

Berpisah dengan Mbak Shinta dan Ridwan yang masih akan mengisi materi hari ini
 
Aku pergi bersama Mas Siswanto, Mas Dani, dan Mas Ahmad dari Nurul Islam. Juga ada Mas Fatur yang akan menyetir mobil, bersama putranya, Abdat. Anak 3 tahun ini lucu sekali! Matanya indah, cerewet, nanya melulu, dengan logat bicara Melayu-Tegal yang super cute! “Kok jauh sekali sih Abi? Kapan sih kita sampainya?” Gemas, aku pun mencoba berkompromi, “Abdat, kita akan menyeberang sampai jembatan 6! Ini kita baru jembatan 1, coba nanti Abdat hitung yaa, kalau sudah jembatan ke-6 berarti kita sampai!” Dia pun menghitung dengan gembira setiap jembatan yang kami lewati.

Iya, memang jembatan Barelang itu bukan cuma 1, melainkan ada 6 sampai di ujung Pulau Galang (Barelang = Batam Rempang Galang). Jalan raya yang menghubungkan jembatan 1 sampai 6 disebut Trans Barelang, panjangnya 60 km. Ini Batam, bukan Jakarta. Jadi jarak itu bisa ditempuh dalam 40 menit perjalanan. “Horeee jembatan enaaam…!” Abdat selesai menghitung. Kami belok kiri menuju dermaga batu bara. Di sana sudah menunggu Ustadz Musyafa bersama istrinya Mulyasaroh, dan Rizal, putra mereka. Kami akan ke Pulau Nanga naik pompong (kapal kecil) bersama mereka.




Tingkah Abdat di atas pompong
Abdat senang sekali naik pompong, dan aku senang sekali melihat tingkah Abdat. Beberapa kali dia berusaha meniru aku, menyentuh air laut dengan tangan. Sambil kaosnya dipegangin Abinya. Hihi… tante ini sudah memberi contoh yang nekat ya! Terus aku menjilat air laut, dia ngikutin juga, hahahaha… bisa ditebak, langsung meringis! Dia bertanya kenapa air laut asin, terus kuajak dia mengulurkan tangan yang basah air laut dan membiarkannya terpapar angin dan matahari. Tak lama, terlihat butiran-butiran putih di tangan kami. “Abi, di laut ada garam! Jadi asin!”Awwww so cute!

Merasakan garam yang mengkristal di tangan
 Saat itu laut tengah surut, jadi nahkoda harus pandai-pandai memilih jalur agar pompong tidak karam. Coba lihat, warna lautnya beda kan, ada yang kehijauan. Ini artinya laut dangkal, di bawahnya ada gundukan pasir putih yang hanya nampak saat laut surut. Bahkan ada gundukan yang sudah kelihatan, membentuk daratan kecil di tengah laut. Ngebayangin main bola di situ, di tengah laut, how cool is that! Indonesia selalu punya banyak kejutan!

Yang hijau itu laut dangkal, harus hati-hati!
Ada lapangan bola di tengah laut!

Tak terasa, 30 menit berlalu dan kami pun sampai di Pulau Nanga. Di sinilah kami akan bersilaturahim dengan Ustadz Waris, salah seorang dai pulau. Hah, dai pulau??

Betul kawan, dai pulau. Program ini mungkin tak seheboh Indonesia Mengajar atau Pencerah Nusantara, tetapi kisah mereka tak kalah dahsyatnya.

Ada lebih dari 2000 pulau di Provinsi Kepulauan Riau, yang penduduknya masih menghadapi kesulitan akses transportasi, pendidikan, kesehatan, apalagi dakwah. Sebagian besar kita mungkin hidup nyaman di kota metropolitan sambil nonton ustadz seleb di infotainment, tetapi pernahkah terpikir, berapa banyak lahan dakwah yang terlupakan? Yang tidak tersentuh televisi, yang jauh dari perpustakaan, bahkan mungkin membeli Al-Quran pun masih sulit?

Kita mungkin tak pernah terpikirkan soal itu, tetapi Ustadz Waris dan 32 ustadz lainnya tidak tinggal diam. Melalui program Pemberdayaan Desa Pesisir dari DSNI Amanah (lembaga amil zakat yang dikelola NIG Batamindo), para ustadz ini mengajukan diri untuk menjadi pendamping masyarakat pulau-pulau terpencil di Riau. Sudah 33 ustadz yang menyebar di 33 pulau, di antaranya Pulau Kore, Pulau Malabar, Pulau Caros, Pulau Tanjung Melagan, dan Pulau Sembur.

Kondisi umat muslim di pulau-pulau tersebut bisa dibilang sangat mengkhawatirkan. Bukan cuma dalam hal kesejahteraan ekonomi dan pendidikan, tetapi juga dalam hal keimanan. Sebagian besar penduduk berprofesi sebagai nelayan, dan keterbatasan ekonomi masih menjadi problem utama mereka. Banyak yang menggadaikan iman mereka demi sekardus mi instan dan sembako.

Dari 48 kepala keluarga yang menghuni Pulau Nanga, 7 di antaranya kini sudah berpindah keyakinan.“Ini juga menjadi kritik buat kita, betapa kita kalah peduli dan kalah cepat menanggapi kebutuhan saudara-saudara kita di sini,” kata Ustadz Waris.


Suasana di Pulau Nanga
Seorang anak perempuan Pulau Nanga mendayung sampan ke Pulau Teluk Nipah yang tampak di belakang

Letak Pulau Nanga berseberangan dengan Pulau Teluk Nipah, hanya dipisahkan selat selebar 30 meter. Namun fakta yang ada di Pulau Teluk Nipah lebih mencengangkan lagi, “Orang muslim di sana tinggal 12 orang,” kata Ustadz Waris. Sambil berdakwah di Pulai Nanga, ia juga berusaha terus merangkul saudara muslim di Pulau Teluk Nipah yang tinggal sedikit itu.

Sudah 7 tahun Ustadz Waris tinggal di Pulau Nanga untuk berdakwah. Ia mengajar anak-anak mengaji, mengumandangkan adzan, hingga mengimami solat 5 waktu. Jalan dakwahnya ini tentu bukan tanpa tantangan. Ia mengaku sangat sulit mengajak para ibu untuk mengaji. “Awalnya cukup banyak yang ikut mengaji. Tetapi lama kelamaan berkurang, alasannya sama saja, mau bekarang (mencari gonggong dan ketam di karang,- pen.),”Kaum lelakinya pun begitu, sulit diajak. “Jumlah jamaah solat jumat itu tergantung musim ikan,” Ustadz Waris tertawa. Kalau ikan sedang sedikit, jamaah lumayan banyak. Kalau ikan sedang banyak, jamaah pun berkurang drastis.

Maka saat ini Ustadz Waris memfokuskan dakwahnya dengan mengajar anak-anak membaca dan mengaji Al-Quran. Ia juga berupaya membujuk para orang tua agar memperbolehkan anaknya sekolah sampai selesai alih-alih menyuruh mereka melaut cari ikan. Tujuannya satu, mengeluarkan mereka dari lingkaran setan dan mengubah hidup mereka jadi lebih baik.


Ustadz Waris dan keluarga kecilnya

Meski awalnya ia menghadapi banyak kendala dalam berdakwah, kini Ustadz Waris semakin mendapat tempat di hati masyarakat Pulau Nanga. Ia kini bukan sekadar pengajar ngaji, melainkan bisa disebut sebagai pendamping masyarakat. Layaknya tetua kampung, ia menjadi tempat bertanya bagi warga atas berbagai permasalahan mereka. Betapa hebat pendekatan pria asal Palembang ini. Ia yang notabene seorang pendatang, sekarang jadi begitu dihormati penduduk Pulau Nanga. Padahal usianya juga baru 30-an.


** bersambung...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar