Senin, 26 Desember 2011

Sarjana Muda

Sahabatku di Jurnal 07, Lala dan Inda, baru aja resmi dinyatakan sebagai sarjana ilmu komunikasi (S.Ikom). Yihaaa selamat ya! Setelah melewati masa-masa penggalauan yang tiada henti selama mengerjakan skripsi, akhirnya sekarang mereka bisa bernafas lega. Yaa… meskipun masih ada revisian, tapi setidaknya gelar dan jadwal wisuda udah di tangan, sikasik!



Malamnya aku membantu Lala buat packing di kosannya. Baju, tas, buku-buku, masuk kardus. Dia mau pulang ke rumah, jadi dia akan nyicil bawa pulang sebagian barangnya. Kukira Lala udah nggak akan galau lagi, ternyata malemnya dengan muka sedih dia bilang, “Ken… sekarang aku udah bukan mahasiswa lagi ya…” Iya Lala, kamu sarjana sekarang. “Terus aku udah nggak kuliah lagi ya…” Iya Lala, sekarang orientasi kamu adalah bekerja dan melepaskan ketergantungan finansial dari orang tua. “Huaaaa… aku sediiiiiihhh…” Jiaaa, ternyata menjadi sarjana pun dia belum berhenti menggalau.

Tapi kesedihan Lala memang beralasan. Masa-masa menjadi mahasiswa adalah masa-masa terbaik dalam hidup. Masa paling bebas, kita akan melihat dan merasakan banyak hal baru yang belum pernah kita tahu sebelumnya. Uang kuliah kita (sebagian besar) masih ditunjang orang tua. Jadwal kelas kita tidak seketat waktu SMA dahulu. Kita menjadi pengangguran terselubung. Kita punya banyak sekali waktu luang untuk diri sendiri. Apakah mau dimanfaatkan untuk berhura-hura atau untuk membentuk kematangan diri, itu pilihan. Pokoknya kita bebas.

Masa-masa ngerjain tugas kelompok, liputan dan ngedit bareng, nongkrong di kafe lama-lama sambil internetan, saling nginep dan curhat-curhatan di kosan, tentu saja Lala akan kangen dengan ini semua. Terutama kangen dengan Jatinangor yang “sagala aya” ini.

Iya sih, aku juga merasakan itu. Rasa kehilangan saat aku nggak pernah lagi ketemu teman-temanku yang udah lulus. Dewi Ifani, Agis, Laras, Puti, Inop, dan sekarang aku akan jarang lagi ketemu Inda dan Lala di kampus. “Yah Lala… jadi kita nggak bisa menggalau bareng lagi dong…” Lala akan jadi wartawan di sebuah surat kabar biro Bandung, mungkin akan pindah kosan ke Bandung, dan nggak akan jadi AGJ lagi (Anak Gaoul Jatinangor). Hiks, Lala!



But yes, life must go on.

Banyak fase dalam hidup yang mesti kita lalui. Masa anak kecil, masa remaja, masa jadi mahasiswa, masa bekerja, lalu sebagai perempuan kita juga akan melewati masa menjadi istri dan ibu. Meski enggan melangkah pergi dari masa-masa indah itu, tapi kita juga nggak mungkin berhenti di satu titik.

Dulu kita enggan meninggalkan teman-teman dan cinta pertama kita di SMA, karena kita pikir itu adalah masa-masa paling indah dalam hidup. Tapi ternyata setelah menjadi mahasiswa, dunia kampus pun tak kalah indahnya. Sebentar lagi dunia kampus pun akan kita tinggalkan. Namun ini bukan akhir, ini awal yang baru bagi hidup kita.

Kita akan memasuki dunia kerja. Mau jadi pegawai atau berwirausaha, yang pasti kita harus melepaskan ketergantungan dari orang tua. Kita belajar mandiri, berdiri di atas kaki sendiri.

So, selamat ya teman-temanku para sarjana muda! Dunia baru siap menyambut kalian. Meskipun itu berarti aku akan merasa kehilangan kalian di kampus dan di kosan, tapi aku selalu mendoakan! Semoga ilmunya bermanfaat di dunia, sehingga bisa menjadi tabungan untuk akhirat. Amin…


Sarjana kloter pertama di Jurnal 07, Inop, Laras & Puti

Selasa, 20 Desember 2011

Renungan tahun ke-22

Aku letih. Semakin aku mencari, semakin jauh aku merasa tersesat. Cukup sudah, tak perlu lagilah sok-sokan mau mencari JATI DIRI yang entah apa, di mana, dan bagaimana bentuknya.

Aku sampai di satu titik perenungan bahwa seharusnya aku menjadi seperti apa yang diharapkan kedua orang tuaku. Mungkin itulah diriku yang sebenarnya, yang seharusnya.

Aku tak mau lagi mencoba, meniru orang lain dan terus menyakiti orang tuaku akan sikapku yang aneh-aneh itu. Aku ingin mereka bahagia, maka aku akan jadi apapun yang mereka inginkan.

Sering aku menganggap, cuma akulah yang paling tau mauku dan maksudku. Tapi semakin hari aku justru makin tidak paham apa yang sesungguhnya aku inginkan di hidup ini. Aku seharusnya bersyukur atas apa yang telah diusahakan kedua orang tuaku demi membuat hidupku jadi sempurna.

Orang tua mungkin tak selalu paham kemauan kita, tapi mereka selalu tahu apa yang baik buat kita. Mereka nggak akan pernah menyesatkan dan membiarkan kita jatuh. Sekarang aku percaya itu sepenuhnya.

Jadi mulai hari ini, aku adalah apa yang orang tuaku inginkan.

Aku akan buat mereka bahagia.

Minggu, 18 Desember 2011

Setelah Sondang Pergi

Sondang, oh Sondang.

Dua minggu terakhir ini nama itu begitu sering kita dengar. Sondang Hutagalung, seorang mahasiswa tingkat akhir Fakultas Hukum Universitas Bung Karno yang juga seorang aktivis HAM, Ketua HAMURABI (Himpunan Advokasi dan Studi Marhaenis Muda untuk Rakyat dan Bangsa Indonesia), nekat bakar diri di depan Istana Negara, pada Rabu (7/12). Ia mengalami luka bakar 97%, dan akhirnya meninggal dunia setelah 3 hari mendapatkan perawatan intensif dari RSCM.

Aksi Sondang membuat kita semua terhentak kaget. Meski tidak ada pesan tersurat yang ia tinggalkan, namun ketika seorang aktivis mahasiswa, bakar diri, di depan Istana Negara, maka apalagi pesan yang ingin ia sampaikan jika bukan kritik keras terhadap kinerja pemerintah? Mungkin ia sudah kehabisan kata-kata untuk kelakuan para petinggi negara yang sudah tuli akan suara-suara rakyat.

Tanpa bermaksud mengecilkan arti sebuah nyawa, aku sendiri sebenarnya masih tidak mengerti mengapa dan bagaimana Sondang bisa nekat melakukan tindakan seekstrim itu. Justru aku sangat menyayangkan, mengapa orang muda secemerlang dia harus mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara demikian.

Sondang dikenal sebagai seorang aktivis HAM, yang memiliki jabatan sebagai ketua HAMURABI. Ia juga seorang mahasiswa tingkat akhir, yang tengah mengerjakan skripsi. Dari perspektifku sebagai seorang mahasiswa, juga sebagai seorang anak, rasanya aku tidak berani melakukan hal-hal nekat, sebelum aku resmi lulus kuliah. Iya, aku kan jadi mahasiswa juga karena bapak-ibuku yang membiayai aku, mereka menaruh banyak harapan kepadaku. I still owe them my graduation, at least. Sejujurnya aku mikir, duh Sondang, coba paling tidak kamu biarkan orang tuamu melihat kamu wisuda dulu, gitu…

Dan dari perspektifku sebagai orang muda, sebagai bagian dari rakyat Indonesia, kalaupun aku marah dan frustasi terhadap kondisi negeri ini, rasanya aku tidak mau menyebarkan energi negatif itu kepada seluruh rakyat Indonesia yang memang sedang menghadapi begitu banyak masalah.

Tahun 1940-an, sebanyak 95% rakyat Indonesia pada saat itu buta huruf. Soekarno-Hatta, sebagai bagian dari yang 5%, punya banyak alasan untuk pesimis, frustasi atas kondisi itu. Mereka punya banyak alasan untuk mundur dan berhenti berjuang. Para orang hebat itu bisa saja hidup enak di luar negeri dan meninggalkan 95% rakyat tak berpendidikan, yang juga tidak mereka kenal itu. Tapi mereka maju, terus berjuang, and here we are now.

Merasa marah dan frustasi itu wajar, sangat manusiawi. Ketika seorang presiden merasa marah dan kesal, sebagai seorang manusia, wajar kan? Namun yang bisa menjadi masalah adalah saat dia curhat dan mengeluh. Ia menyebarkan energi negatif, dan tentu kita tidak mengharapkan itu dari seorang pemimpin. Tak beda pula dengan kita, sebagai orang muda.

Saat ini, kita juga punya banyak alasan untuk frustasi, pesimis, marah atas semua permasalahan bangsa, tingkah polah “menggemaskan” para petinggi negara, korupsi dan konflik di sana-sini. Namun sebagai orang muda, yang di pundak kita ditumpukan banyak harapan, haruskah kita menunjukkan, bahkan menyebarkan pesimisme dan rasa frustasi kita?

Indonesia, negeriku tercinta ini, tidak seburuk itu kok. Ini negeri begitu indah dan kaya raya, ia hanya seringkali jatuh ke tangan yang salah. Ibarat putri cantik yang dibelenggu dalam penjara naga. Yang harus kita lakukan adalah menolongnya, bukan berputus asa atau melakukan hal yang bisa membuat sang putri semakin sedih.

Permasalahan yang ada di Indonesia sekarang ini udah kayak benang kusut, udah nggak tau lagi di mana ujungnya. Kita harus mengurai benang kusut itu dengan hati-hati, perlahan tapi pasti. Tiap-tiap orang memiliki caranya masing-masing dalam mengurai keruwetan ini. Ada yang menyampaikan aspirasi lewat tulisan, musik, sastra. Ada pula yang menyampaikan kritik lewat aksi unjuk rasa. Ada yang langsung turun ke lapangan untuk mengadvokasi masyarakat yang terlibat konflik. Ada yang memulainya dengan membantu anak-anak di kampung pemulung untuk belajar. Ada yang masuk jauh-jauh ke dalam hutan untuk menyelamatkan satwa dan melakukan penghijauan.

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menolong negeri ini. Besar atau kecilkah dampaknya, itu urusan nanti. Sedikit kepedulian saja sudah berarti banyak. Tak perlulah ada anggapan, bahwa yang menulis di blog tidak lebih baik daripada yang main teater. Yang memilih berunjuk rasa di jalan juga tak usahlah merasa lebih keren daripada mereka yang memilih untuk mengajar anak-anak di kampung. Tiap-tiap kita bisa memegang satu ujung benang yang ruwet tadi, dan dengan cara sendiri-sendiri, kita akan berusaha mengurai keruwetan ini. Semua punya peranan masing-masing, yang tujuannya satu, membuat Indonesia jadi lebih baik.

Apa yang telah dilakukan Sondang semestinya menjadi pelecut semangat, sekaligus bahan renungan buat kita semua. Sudah cukup dia saja yang mengorbankan nyawanya demi menyentak kepekaan kita. Jangan ada lagi. Sudah cukup, jangan sebarkan energi negatif seperti rasa marah, frustasi, apalagi pesimisme kepada rakyat Indonesia yang terlanjur jenuh dengan semua ini. Kita, pemuda Indonesia, harus bangkit dan mewujudkan harapan seluruh rakyat yang ditumpukan di pundak kita. Dengan cara yang positif, tentu saja.

Aku tidak mau Indonesia mencontek revolusi yang berlandaskan amarah, seperti negara-negara di Timur Tengah. Kalau mau mengubah keadaan suatu negara, kita harus memulainya dengan taktis dan hati-hati, bukan atas amarah semata.

Sudah cukup, jangan tangisi lagi Sondang. Jangan biarkan pengorbanannya hanya ditanggapi dengan seremoni aksi solidaritas semata. Kita harus bergerak dalam aksi nyata. Banyak hal yang mesti kita perbaiki dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Satu kutipan di buku terakhir Harry Potter and The Deathly Hallows mungkin bisa kita renungkan. “Do not pity the dead, Harry. Pity the living, and, above all those who live without love.”

Cukup Sondang yang meninggalkan kita. Aku dan kamu, masih di sini. Yang akan terus berjuang untuk hidup. Kita akan buat Indonesia jadi lebih baik.


***

Tadinya aku tidak akan menulis tentang hal ini, namun aksi solidaritas sekelompok mahasiswa di depan kampus ITB pada Rabu lalu yang membuatku gregetan untuk menuliskan opiniku. Mereka, para mahasiswa dari berbagai kampus di Bandung itu memaksa anak-anak ITB yang lagi UAS buat ikut aksi mereka, bahkan memaksa menurunkan bendera merah putih di halaman kampus ITB. Saat mahasiswa ITB menolak ikut aksi (karena ricuh juga aksinya), presiden mahasiswanya dikirimin celana dalam wanita dan pembalut oleh para pendemo –-yang justru merupakan satu bentuk pelecehan terhadap perempuan, menurutku. Mereka pikir dengan berdemonstrasi, maka mereka lebih baik daripada anak-anak ITB yang lagi belajar buat UAS. Pola pikir seperti ini yang tidak kusuka. Kita semua bergerak dengan cara kita masing-masing, tak perlu menganggap diri lebih paham, lebih peduli, lebih baik dari yang lain.

Ini opiniku, bagaimana menurutmu?

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=11983377

Senin, 05 Desember 2011

Perempuan Sempurna

Jadi mahasiswi, itu biasa.
Menikah dan membina keluarga di usia muda, itu pun biasa.
Namun menikah di usia muda, lalu membina keluarga sambil tetap menjalankan tugas sebagai mahasiswi, wah itu baru luar biasa!

Adalah Hani Noor Ilahi dan Rachmi Nurhanifah, dua sahabatku di Jurnal, yang cerdas luar biasa. Sejak pertama mengenal mereka, aku yakin, mereka akan selalu jadi shining star, di manapun dan apapun yang mereka lakukan. Nggak cuma cerdas, sikap mereka juga selalu lebih tenang dan dewasa daripada aku.

Hani aktivis dakwah kampus, dia juga aktif di Badan Perwakilan Mahasiswa Unpad, suka orasi, jago memanah, orang tuanya aktif di kancah politik. Ami, she is a seeker, just like me. Dia akan baca semua buku, ikuti semua diskusi, dan dengarkan opini semua orang. Ami ngambil double degree, pendidikan bahasa Inggris di UPI (Gegerkalong) dan Jurnalistik Fikom Unpad (Jatinangor). Jauh ya boo...

Aku sama sekali nggak mengira bahwa kedua sahabatku yang lagi bersinar-sinarnya itu, kemudian memutuskan untuk menikah di usia muda. Hani menikah pada Agustus 2009, saat itu kami masih semester 5. Kemudian Ami menyusul di awal 2010. Jujur aja, aku memang termasuk cewek yang (dulu masih) berpikiran, ketika kamu menikah, kamu nggak akan sebebas dulu. Jadi aku kaget, khawatir, ngerasa kehilangan, saat mereka memutuskan menikah. Aku nggak mau kalau nanti setelah menikah apalagi punya anak, Hani dan Ami akan mengurangi porsi aktivitas mereka sebagai orang muda, sebagai mahasiswi. Aku nggak mau pendar mereka meredup.

Tapi kemudian, Hani yang terlebih dulu membuktikan bahwa aku salah. Selama hamil, Hani membuktikan ia nggak sedikitpun mengabaikan kuliahnya. Paling sekali-dua kali izin di kuliah pagi, karena morning sickness di trimester pertama. Semakin kehamilannya membesar, Hani makin rajin kuliah. Malah kami yang suka cemas kalau lihat Hani kuliah dari pagi sampe sore, naik tangga pelan-pelan ke lantai tiga.. waduh! Dan tentu saja, kami juga jadi saksi betapa aktifnya si jabang bayi. Pernah, Hani lagi presentasi di depan kelas, eh trus si bayi aktif banget sampe perutnya Hani ikut bergerak-gerak. Kontan kami satu kelas ketawa seneng, ternyata si bayi seneng diajak kuliah!

Kami kuliah di jurusan jurnalistik, maka tugas-tugas kuliah kami nggak jauh dari liputan dan wawancara. Hani nggak pernah melewatkan itu. Saat hamil 8 bulan, dia masih meliput demonstrasi Hari Buruh Dunia di depan Gedung Sate siang-siang bolong. Wara-wiri dengan kamera dan tripod plus perut besarnya, kami cuma bisa teriak-teriak cemas. Suatu hari kami harus liputan ke Jakarta, dan Hani pun sangat bersemangat menelusuri belantara Jakarta. Ya, naik bus! Kopaja! Kami selalu cemas, tapi Hani selalu bilang “Kalo aku kuat, bayiku juga jadi kuat.”

Juni 2010, Fathan Syamil Al-Kautsar lahir dengan normal. Kami, Jurnal 2007 menyambut bahagia kelahiran jagoan jurnal, keponakan pertama kami ini. Hani bener, dia ga pernah manja selama hamil, makanya pas melahirkan pun prosesnya mudah. Seminggu setelah melahirkan, Hani langsung ikut UAS! Ya ampun, bukannya minta tugas pengganti, dia malah dateng ke kampus! Han, han...

Punya anak, pun tidak menghalangi kuliahnya. Ia membawa Fathan ke kampus, lalu dititipkan ke penitipan anak di Fakultas Ilmu Keperawatan. Si Fathan jadi objek pengamatan para mahasiswi FIK, hahaha! Hani juga jadi sangat terlatih menulis dan mengetik pake satu tangan, karena tangan yang satunya sambil gendong atau pegangin Fathan.


Seringkali, tanpa diminta, kami dengan senang hati babysitting si Fathan. Atau bergantian ngejagain dia yang diboboin di kursi perpus sementara Bundanya ngetik skripsi. Sekarang Hani udah sampe Bab 3, jauh mendahului aku. Hebat kan? Dia punya semangat dan motivasi lebih untuk lekas menyelesaikan kuliah, tak lain demi suami dan Fathan-nya.





Pertengahan 2011, Ami dinyatakan positif hamil. Wah padahal kuliah lagi padat-padatnya tuh waktu itu. Trimester pertama dan kedua Ami lalui dengan penuh perjuangan, ia mengalami hiperemesis. Atau bisa dibilang, morning sickness-nya parah. Bahkan nggak cuma morning, tapi hampir sepanjang hari Ami muntah-muntah, nggak ada makanan yang bisa masuk. Dia harus melewati masa-masa sulit dengan tiga kali keluar-masuk rumah sakit. Sampai-sampai berat badannya turun drastis hingga 38 kg (tapi emang dia asalnya orangnya imut sih).

Namun syukurlah, setelah melewati bulan ketujuh, kandungannya semakin kuat. Ami pun bersemangat lagi menata kuliahnya yang sempat ketinggalan. Dia sekarang lebih memfokuskan untuk menyelesaikan studinya di UPI, karena yang di Unpad sudah tinggal job training dan skripsi saja. Sahabatku yang satu ini, meski bisa dibilang punya kesibukan dan tugas yang lebih daripada kami mahasiswa biasa (yang nggak ambil double degree), aku nggak sekalipun mendengar Ami mengeluh. Dia menjalani semuanya dengan santai. Begitupun saat tengah hamil. Ami tetap rajin ke kampus. Dia naik tangga ke kelasnya di lantai 5, sekalian olahraga. “Kemarin-kemarin kan Ami sakit, tiduran terus Ken. Makanya sekarang mumpung udah sehat Ami harus banyak bergerak biar bayinya juga kuat,” katanya. Suaminya, Mas Darta, yang juga masih berstatus sebagai mahasiswa STSI, mendukung penuh aktivitas Ami. Ia nggak pernah melarang dan membatasi, melainkan melindungi. Begitulah seharusnya suami membiarkan istrinya jadi diri sendiri.



Aku suka nemenin Ami di rumahnya. Beli es krim, beli bakso, ngemil coklat, jalan-jalan di sekitaran Jalan Aceh-Jalan Halmahera-GOR Saparua sampe ke Tobucil. Pokoknya hidup sama ibu hamil enak deh, ngemil melulu! Hehehe... Terakhir, berat Ami udah naik jadi 53 kg. Bok, berat gue aja 55 kg ya, dan gue tidak sedang hamil. Ami sedang menunggu mules minggu-minggu ini. Bayinya diprediksi akan lahir awal Desember, wow, betapa bahagianya dia! Makin hari terlihat makin segar dan bersemangat.



Tentu butuh perencanaan, manajemen waktu, tenaga, pikiran, dan mood yang lebih stabil untuk menjadi mahasiswi sekaligus (calon) ibu. Saat hamil, kamu akan mengalami banyak perubahan fisik yang tak jarang memicu permasalahan psikis. Tapi kamu nggak boleh egois, kamu harus pikirkan, bahwa saat ini kamu tidak hidup untuk dirimu sendiri, melainkan ada si utun (jabang bayi) yang hidupnya juga tergantung padamu. Ada kalanya kamu nggak nafsu makan, atau males makan karena takut tambah gendut, tapi kamu harus memikirkan si bayi. Ada kalanya kamu maleeeeesss banget bergerak dan berolahraga, pengennya tiduran terus, tapi kamu juga harus memikirkan dampaknya buat kandunganmu dan proses kelahiran kelak.

Itulah yang namanya seorang ibu. Aku teringat apa yang pernah dikatakan Hani waktu sedang mengandung Fathan, “Sebentar lagi aku jadi perempuan sempurna, Ken. Sudah jadi istri, sebentar lagi jadi ibu...”

Dalam hidup, tidak ada yang namanya pengorbanan. Yang ada hanyalah pilihan. Kalau kamu mengorbankan sesuatu demi suatu hal yang lain, berarti kamu menyesali apa yang kamu tinggalkan. Namun ketika kamu memilih sesuatu, berarti kamu bersiap menghadapi tantangan apapun yang akan ada di jalan yang kamu pilih itu.

Hani dan Ami, kedua sahabatku itu memilih untuk menikah, meski masih berstatus sebagai mahasiswi. Tentu bukan keputusan yang main-main, mengingat bahwa dengan menikah kamu bersiap menjadi istri sekaligus ibu. Dengan menjadi seorang istri, berarti kau harus melepaskan hidupmu dari ketergantungan kepada orang tua, dan mempercayakan hidupmu sepenuhnya kepada suami. Dan dengan menjadi seorang ibu, berarti kau harus punya waktu, tenaga, biaya, dan pikiran yang siap kau bagi demi buah hatimu. Itu jelas bukan suatu pengorbanan. Hanya sebuah pilihan, yang telah mereka yakini dapat membuat hidup mereka lebih baik.

Maka, perempuan sempurna buatku adalah, yang menjalani dengan baik kodrat mereka sebagai istri dan ibu, namun tetap bersemangat mengembangkan potensi dirinya sebagai seorang perempuan. Suatu saat nanti, kalau aku hamil dan berumah tangga, aku akan selalu ingat semangat yang dicontohkan kedua sahabatku, Hani dan Ami. Salutku untuk para (calon) ibu muda yang masih bersemangat kuliah dan beraktivitas!

***

Minggu, 04 Desember 2011

Lelucon yang Tidak Lucu

Tuhan tidak pernah tidur. Tuhan tidak pernah salah. Maka semua yang ia ciptakan, pastilah diciptakan dengan sebaik-baiknya, tanpa kecacatan. Ia menciptakan semua makhluknya dengan hikmah, yang terkadang kita tidak bisa memahaminya, malah menjadikannya sebagai lelucon.

Aku seringkali geram menyaksikan acara-acara lawak di televisi, yang menyajikan lelucon-lelucon konyol minim esensi. Pelawak kita, misalnya. Seringkali mereka mengambil bahan lawakan dengan karakter tertentu yang menurutku, mengejek, menghina, merendahkan kawan-kawan kita yang memang diciptakan berbeda dengan kita. Ada pelawak yang menghina orang tunarungu atau kurang pendengaran, dengan meniru dan menamai karakternya, Si Bolot. Ada pelawak yang menghina saudara-saudara kita yang memiliki kesulitan berbicara dengan meniru dan menamai karakternya, Si Gagap. Pernah juga seorang pelawak OVJ tampil dalam karakter yang cenderung menghina orang-orang yang memiliki kesulitan melihat, teman-temannya di panggung sering meneriakkan karakternya itu dengan sebutan, “Dasar picek lo ye!” Tak hanya itu, orang-orang pendek yang ditampilkan di televisi, kerap kali hanya menjadi objek lelucon.

Itu baru tentang penampilan fisik. Belum lagi lelucon-lelucon seperti, “Emang dasar lo cacat mental!” atau “Sumpah, lo autis sendiri deh!” atau "Ih ayan deh lo! Epilepsi lo ya?" yang amat sering kita dengar bukan hanya dari televisi, melainkan juga dari mulut candaan kawan-kawan kita sendiri. Artinya sebagian besar orang telah menganggap lelucon seperti itu sebagai sesuatu yang wajar. Padahal tanpa kita sadari, ada orang-orang yang tersakiti ketika kita membuat lelucon semacam itu.

Banyak kawan kita yang memiliki kerabat, atau bahkan yang terlahir dengan keadaan demikian. Tunarungu, kesulitan bicara, masalah penglihatan, orang pendek, keterbelakangan mental, autisme, epilepsi. Mereka tidak cacat, mereka hanya memiliki perbedaan yang mungkin hanya dimiliki sebagian kecil orang. Namun itu sama sekali bukan alasan untuk sebagian besar kita –yang merasa telah diciptakan Tuhan dengan fisik dan mental yang sempurna- untuk mengolok-olok, apalagi menjadikan mereka sebagai bahan tertawaan. Buatku, itu sama sekali tidak lucu.

Betapa sombongnya kita, jika merasa diri lebih baik daripada mereka. Tuhan tidak salah menciptakan mereka seperti itu. Ada hikmah tersendiri yang Tuhan titipkan pada mereka, yang semestinya menjadi bahan renungan buat kita. Tidak sedikit dari saudara-saudara kita yang terlahir dengan segala keterbatasan itu, malah memiliki semangat dan prestasi yang jauh lebih unggul daripada kita.

Sayangnya hal-hal seperti itu kerap luput dari kepekaan kita sebagai manusia. Kita seringkali tidak sadar, dan menjadikan apapun yang menurut kita berbeda dan lucu, sebagai bahan tertawaan. Bahkan kalaupun itu menyangkut keterbatasan seseorang, juga kaum marjinal. Iya, kaum marjinal. Kita tentu tak jarang mendengar atau melihat lelucon-lelucon tentang bencong, banci, waria, atau apapunlah yang keluar dari mulut kita tentang mereka. Kita nggak pernah tahu betapa berat pergulatan batin saudara-saudara kita yang seperti itu, merasa terjebak dalam tubuh yang tidak mereka kehendaki. Maka kita nggak berhak menghakimi, apalagi menjadikan mereka bahan olok-olok.

Aku pernah datang ke sebuah acara yang diadakan oleh sekelompok mahasiswa. Tiba saat break, ada sesi hiburan berupa penampilan-penampilan yang telah dipersiapkan panitia. Apa yang ditampilkan sebagai hiburan saat itu ternyata adalah pom-pom boys. Delapan orang mahasiswa (laki-laki) menari-nari genit menirukan gerakan wanita, dengan rok rumbai-rumbai dari tali rafia, dan, dua buah mangkok yang digantungkan di dada kanan-kiri mereka. Tanpa baju. Ceritanya mereka para waria yang berdandan menyerupai penari-penari Hawaii. Tapi kemudian dalam tariannya, mereka menampilkan gerakan-gerakan yang sangat menggangguku sebagai seorang perempuan. Mereka memegang mangkok tersebut dengan cara tertentu, memain-mainkannya hingga hadirin TERTAWA. Kecuali aku, tentu saja. Tanpa basa-basi, aku hampiri panitia dan menyatakan bahwa aku tidak setuju ketika kamu menjadikan kaum marjinal (waria, dalam hal ini), dan bagian tubuh perempuan sebagai lelucon. Kukatakan, pasti ada lelucon yang lebih cerdas daripada itu. Si panitia cuma bisa minta maaf.

Tertawa memang sehat, kawan. Tetapi tertawalah dengan cara yang sehat pula. Dengan cara yang tidak menyinggung orang lain. Humor memang perlu kawan, tapi ingatlah, humor adalah bagian dari seni. Seni itu bagian dari ilmu, maka ia harus dilakukan dengan cara yang cerdas. Seni pun bagian dari kehidupan manusia, maka jangan hilangkan kepekaan sosial. Sebentuk karya seni semestinya menghadirkan keindahan dan pencerahan, bukannya penghakiman dan penghinaan terhadap manusia lain.

Sekian.