Kamis, 10 Juli 2014

Pelajaran Setelah Menikah (3) Tentang Berbagi Peran


Sejak sebelum menikah, aku sudah punya kriteria lelaki yang bakal jadi suamiku. Nomor satu, TIDAK PATRIARKIS. Ini sangat penting buatku, tipikal perempuan yang punya self-esteem tinggi. Dulu, kalau jalan sama cowok aku sering bayar makananku sendiri, aku buka pintuku sendiri, dan aku nggak masalah kalau nggak dianter pulang. I can do it all by myself. Makanya aku enggak banget sama cowok yang pikirannya sempit, yang buat dia kerjaan istri tuh sebatas dapur-sumur-kasur; aku pergi pagi pulang malam, buatkan aku kopi pagi-pagi dan pijitin aku di malam hari. Terus yang nuntut aku harus hamil dan punya anak. Kalo nggak bisa ngasih anak, minta poligami. Beuh. Minta digampol.

Alhamdulillah Abangku nggak gitu. Itulah kenapa aku memilihnya jadi suamiku 

Saat ini aku masih bekerja jadi wartawan, sesuatu yang sangat aku sukai. Abang tau aku enjoy sama kerjaanku, jadi dia nggak pernah menyinggung aku untuk berhenti kerja dan jadi full time wife yang ngurus rumah. Dia bahkan rela jauh-jauh ke kantornya, karena kami memilih tempat tinggal yang lebih dekat ke kantorku. Kadang dia antar aku wawancara sampai malam. Aku sangat bersyukur.

Sampai seminggu menikah, dia masih pegang kendali di dapur. Aku belanja, dia yang masak. Berapa banyak sih istri yang bawa bekal hasil masakan suaminya ke kantor? Well that's me :D Lalu lama-lama aku belajar juga. Abang pun nggak segan nyuci piring, buang sampah, beres-beres. Biasa aja. Kalo aku males nyuci, ya tinggal taro aja di laundry. Kalo aku males belanja, ya nanti masak mi atau sarden atau telor. Santey lah pokona.

Lagipula, dengan bantuin pekerjaan rumah tangga Abang jadi tau problem-problem yang ada di dapur. Misal, karena dia bantuin aku buang sampah dia jadi tau betapa banyak sisa makanan yang terbuang dan bikin tempat sampah jadi bau. "Duh kita berdua aja sampahnya banyak banget ya Dek," besok-besok dia jadi aware saat masak (masak secukupnya), dan saat makan (dihabiskan). Dan jadi inisiatif bikin keranjang takakura buat sampah organik. Itulah, jadi pemimpin rumah tangga pun kamu harus turun tangan dan memahami sendiri problem yang ada di grassroot (baca: dapur) hahahaha :D

Tapi kita terlanjur hidup di lingkungan patriarkis jadi beberapa orang mungkin agak kaget gitu ketika mengetahui suamiku turun tangan di dapur atau saat tahu bahwa aku nggak segitunya ngurusin rumah. Kadang ada juga yang bilang “Kamu bukannya harus pulang lebih dulu, beres-beres sebelum suamimu datang?” atau “Emang nggak papa sama suami lo kalo lo pergi?” -___- Anyway, aku pun pernah kesel banget saat ibu nyuruh aku nemenin Abang makan di meja makan, ngambilin minum (sampai sini aku gak masalah) dan ngambil air di mangkuk kecil untuk dia cuci tangan (!!!) Why would I do that?? Wastafel juga nggak jauh-jauh amat. Aku bete banget tuh. Aku nggak suka ketika ada orang lain yang menuntutku melakukan itu. Seolah-olah aku harus pulang lebih cepat dan beres2 rumah padahal aku juga lagi deadline, seolah-olah aneh banget ketika suamiku masak atau pegang mixer. He loves cooking so what...??

Tuntutan-tuntutan seperti itulah yang sering bikin aku sebel sendiri. Bukan dari Abang, tapi dari lingkungan. Walau suami sebenernya santai, tapi pandangan demikian dari lingkungan kerap membuatku sebagai perempuan jadi merasa bersalah ketika nggak melakukan hal-hal itu. And I hate that feeling.

Sampai suatu hari aku bilang sama Abang: “Abang, aku benci kenapa aku merasa bersalah kalau aku bangun siang dan males belanja, nggak masak. Aku juga benci, kenapa aku harus merasa bersalah kalau lagi banyak kerjaan dan aku nggak sempat nyetrika bajumu. Aku benci kenapa aku merasa bersalah kalau aku pulang malam dan kamu di rumah sendirian. Kenapa aku harus merasa bersalah, Abang?”

#drama

Huft. Usia kami terpaut 7 tahun, dengan karakter dan latar belakang yang sangat berbeda. Aku nih anak manja yang hidupnya serba sempurna dan selalu dikelilingi orang-orang tersayang. Sedangkan Abang orang rantau yang biasa sendiri dan udah mengalami berbagai fase perjuangan hidup. Jadi terhadap kelakuanku, dia santai aja. Paling juga dipeluk, terus dijelasin pelan-pelan. Kebayang kan seandainya suamiku lelaki patriarkis dan nggak paham tentang isu gender yang sensitif buatku? Atau yang sama-sama berwatak keras nggak mau ngalah? Bisa berantakan rumah :D

See? I learned a lot from my marriage. Pendewasaan. Menerima dan beradaptasi. Terus saling mengingatkan untuk memperbaiki diri. Yuk yang belum menikah, menikahlah! Terutama buat perempuan, I’m telling you, pacaran lebih banyak berpotensi merugikan kalian secara materiil maupun immateriil hahaha.. So just cut it out. Good luck!

Yes, he loves cooking!


Selasa, 08 Juli 2014

Pelajaran Setelah Menikah (2) Tentang Memahami Kebiasaan

Siapapun yang sudah lama mengenalku, pasti tau kalo aku orang yang sangat ceroboh. Brak bruk brak bruk asal naro. Terus pas butuh nyari-nyari. Lupa naro di mana. Pegang apa-apa jatoh. Krompyang! Bener-bener nggak telaten. Aku juga cuek banget dan nggak peka sama hal-hal kecil. Mirip sifat cowok.

Semua itu nggak pernah aku pikirin selama aku hidup sendiri. Mo lemari berantakan kayak apa kek, mo buku bertebaran di mana-mana, kasur ga pernah dirapiin, bangun siang, who cares? Paling kalo udah gak betah baru deh beberes.

Lalu sekarang aku hidup sama Abang yang orangnya lumayan detail dan rapi. Suatu hari dia pulang lebih dulu daripada aku. Buku-buku yang berantakan udah diberesin. Di samping pintu dia pasang gantungan, juga tempat sepatu. Aku masuk lepas sepatu, naro tas asal, lalu bruk! Tengkurep di kasur. Tunduh. Lalu aku dipanggil, “Dek sini deh. Tiap pulang kerja sepatunya masukin ke kardusnya, trus taro di sini. Ini gantungan buat tas dan jaket. Harus dibiasain, jadi rapi terus. Itu di belakang ada tas besar, buat tempat cucian kotor.” FYI, sebelumnya gw naro cucian kotor ya dilempar aja ke ember, nyucinya nunggu mood, hahaha… Terus ada kotak kecil, “Barang-barang yang dibawa setiap hari taro situ. Kacamata, flashdisk, dompet, jam, kartu pers. Daripada kamu bolak-balik ini ketinggalan-itu ketinggalan?” FYI lagi, gw kan emang demen gonta-ganti tas, jadi barang pentingnya tersebar di tas satu dan lainnya. 

“Emang harus ya kayak gitu Bang? Males…” “Iya apalagi kalo udah ada anak. Masa kalo kamu capek pulang kerja trus anaknya ditaro gitu aja deket pintu kayak tas?” Iiiiihhh ya enggak juga sih…

Soal masak juga detail. “Dek kalo motong buncis, seratnya dibuang juga,” Hah? Serat apa? Trus ditunjukkin, di samping itu ada serat memanjang yang bisa dicopot. Emang itu penting ya? “Ya nggak enak aja makannya,” OMG gue bahkan gatau kalo dia ada, hahaha… Kadang aku masak juga, goreng tempe. Tempe dipotong-potong, rendem air garem, cusss goreng deh. Suatu hari Abang yang goreng tempe. Dia ngulek ketumbar (yang gw masih bingung bedainnya dengan lada), bawang putih, garam, kunyit sampe halus. Dicampur ke tepung terigu plus irisan daun bawang, buat dilumurin ke tempe sebelum digoreng. Haaaiiissshh… betapa complicated-nya tempe ini… Ya tapi enak sih.

Sebaliknya, aku juga harus beradaptasi dengan kebiasaan Abang. Pertama, dia itu kalo tidur lama banget. Pulang kerja jam 8 udah ngantuk. Bangunnya juga siang. Sementara aku plongo-plongo karena terbiasa tidur di atas jam 10, dan bangun jam 4. Abis itu aku jarang tidur lagi. Kedua, Abang kalo bobo pake kipas angin >,< sedangkan aku kalo bobo selimutan gak tahan dingin. Yaa bbrp malam awal sih gw masuk angin gitu.. tapi lama kelamaan udah biasa. Ketiga, Abang peka sekali dengan rasa. Juga gak mau masakan tadi pagi, pengennya masakan baru yang anget. Untung aja doi bisa masak sendiri, haha.. Sedangkan gw? Sayur atau nasi basi juga gw makan kalo ga dikasitau.. karena buat gw ga ada yang gak enak. Adanya ENAK sama ENAK BANGET.
 
I basically eat anything
Agak OOT sih tapi aku pengen cerita sedikit soal ilmu belanja dan masakku yang masih cetek banget. Ternyata butuh ilmu juga belanja di pasar. Aku pernah bilang mo beli daun salam 2rb, daun jeruk 2rb :D :D :D kata abangsayurnya, “Waduh Neng saya nggak punya segitu, beli bumbu dapur aja gimana?” Ternyata, bumbu dapur itu sepaket, di dalemnya isi rempah macem-macem termasuk beberapa lembar daun salam, daun jeruk, sereh, dan aneka rimpang, satu plastik harganya seribu rupiah. Seribu!!! Ahahaha… Gw ngga ngerti jadi harga daun jeruk dan daun salam itu berapaan :D :D :D

Pas gue buka di rumah plastik bumbu dapur itu, aku hampir aja teriak melihat satu wujud aneh sebesar kelingking, Abaaang what the hell was that?! Gw lempar-lempar pake sendok, aneh bet bentuknya. Kayak ulet kering (?) Dan ternyataaaa itulah yang namanya temukunci sodara-sodaraaaa… Okesip. Cukstaw. 

weird temukunci
Nih agak2 ilmiah nih. Kebetulan aku kemaren habis wawancara psikolog soal ini (iye, wartawan kan ajuin masalah sendiri di majalah sendiri lalu wawancara sendiri ke pakar, kece kan). 

Menurut psikolog Inna Muthmainnah yang aku wawancarai, 2 tahun pertama pernikahan memang cukup berat, karena di situ kita menyesuaikan sifat-sifat. Anak kembar yang berasal dari satu telur, bisa memiliki sifat berbeda, bahkan berkonflik. Apalagi suami-istri yang berasal dari lingkungan berbeda, pola asuh berbeda, latar belakang berbeda. Istilahnya, asam di gunung, garam di laut, bertemu di periuk. 

"Tapi kalau kita punya keluwesan dan ambang toleransi yang besar, hal-hal kayak gitu akan terlewati seiring waktu. Ambang toleransi ini berbanding lurus dengan kedewasaan dan kematangan kita. Semakin kita matang dan kaya, kita semakin siap menerima perbedaan," jelas Inna. 

Aku orang yang sangat terbuka. Nggak bisa memendam emosi. Kalau ada sesuatu yang nggak aku suka dari Abang, aku akan bilang. Nggak mesti saat itu juga (ada kalanya aku manyun dulu seharian), tapi aku pasti ngomong sama dia. "Abang, aku nggak suka kalau Abang bla..bla.." atau "Abang, tadi aku kesel tau. Soalnya Abang bla..bla.." Perbedaan itu wajar, tinggal gimana cara mengungkapkannya. 
catet!

Senin, 07 Juli 2014

Pelajaran Setelah Menikah (1) Tentang Mengatur Keuangan

Kalau kamu merasa belum cukup dewasa untuk menikah, menikahlah. Karena menikah itu mendewasakan.

Dulu aku punya bayangan yang sederhana sekali tentang pernikahan. Menikah itu ya sebatas punya teman hidup. Tapi kemudian seiring proses aku memahami, pernikahan bukan cuma itu. Ia mendewasakan, dan aku belajar sangat banyak.

Kali ini, aku mau cerita soal poin pertama yang bakal kamu pelajari setelah menikah: mengatur keuangan. Ini hal yang sangat prinsipil ya, karena kalian hidup berdua sekarang. Pendapatan harus digunakan untuk kepentingan berdua, bukan sendiri doang. Harus transparan, belajar mencatat, belajar mengontrol.

Sebelum menikah, mana pernah aku menabung? Gajiku hampir selalu habis untuk hal-hal yang “nggak jadi barang” Nah loh! Dulu mana pernah sih mikir dua kali sebelum ngeluarin uang buat kongkow di luar sama temen-temen. Coba, sekali nongkrong di kafe ada kali habis 100rb an mah sekali makan. Terus karaokean. Nonton di bioskop. Bisa habis berapa tuh. Beli sepatu, beli baju, dan perintilan nggak penting lainnya di online shop. Anak kosan, gak ada dapur, bisanya beli makan di luar. Minimal ngeluarin 10rb buat nasi goreng, 5rb buat beli jus. Atau 20rb untuk paket ayam bakar, 5rb es teh manisnya. Dan hal-hal itu mana kerasa. Tau-tau baru juga tanggal 15 saldo udah menipis.

Tiga hari setelah menikah, aku dan Abang belanja di Jatinegara buat ngisi rumah. Beli gorden 80rb, karpet 200rb, rak piring 100rb, dan perabotan 10rb dapet 3, sendok sayur 7rb yang ditawar Abang jadi 5rb. Gak sampe 500rb udah jadi tuh barang. Rumah rapi. Gile yah, dulu mah kalo kita jalan ama temen-temen seminggu 3 kali makan, nonton, dan karaokean, ada kali tuh abis 300rb. Dan gak mikir sama sekali. Eh sekarang, beli sendok sayur 7rb aja masih nawar! Hahaha… TER-LA-LU!

Terus sekarang kita masak setiap hari. Sebagai tukang belanja, aku ngerasain banget beda harganya (note: Abang yang masak, jadi aku yang belanja). Beli tempe 2rb aja udah bisa makan pagi-malem kan. Sop-sopan 2rb seplastik aja udah banyak banget. Cabe-bawang-bumbu dapur 5rb buat 3 hari. Trus beli buah bikin smoothies sehat sendiri pake madu. Beuh… Bandingin sama paket ayam bakar + es teh manis 25rb sekali makan. Yang lebih penting, karena masak sendiri kita jadi tau prosesnya. Nyucinya bersih, peralatannya bersih, nggak pake penguat rasa, kematangan sesuai selera, dll yang membuat kita makan jadi lebih lahap. Apalagi kalau ke kantor bawa bekal untuk makan siang, kita mengurangi sampah daripada beli makan di luar, yang dibungkus pake 2 lapis kertas, plastik untuk bungkus kerupuk atau lalap, dan plastik kresek untuk membawa semuanya. Ada juga yang pake kardus bahkan sterefoam. Plus air minum kemasan, sedotan, dan sendok sekali pakai. Haduh tambah parah. Alhamdulillah, lebih menyenangkan bawa minum dan bekal makan sendiri pake Tupperware warna-warni 

Begitupun kalau mau beli apa-apa yang nggak penting. Cyin.. jalan ke mall sendiri atau sama temen cewek itu beda banget loh dibanding jalan ama suami. Kalau jalan sendiri, aku gampang banget melipir. Trus beli sepatu. Maskara. Kaos kaki. Haish… Apalagi sama temen cewek ye kan, kompor meledug. Bukannya nge-rem malah saling mendukung, “Ih iya itu lucu tau.. Yaudah sih mumpung diskon.. Eh buy 2 get 1, ayok dong lo beli juga dong…” Kan parah kan. Abis belanja haus, beli eskrim sama-sama. Gendut. Trus pulangnya males ngangkot. Naik taksi. Wassalam.

Sekarang mah: Abang.. mo beli sepatu/ Nabung dek, kita kan mo beli tanah. Abang.. pengen baju itu/ Nanti dulu, kita kan mo mudik/ Oh iyaa. Abang.. aku naksir yang itu/ Belum perlu dek. Abang.. pengen eskrim/ Manis-manis mulu ntar gendut loh/ Iya ya >,< Terus sebelum permintaanku semakin aneh, buru-buru digandeng pulang. Cusss… Makan di rumah. Selamet deh tuh ratusan ribu.


Soal manajemen keuangan itu udah pasti. Dulu mana pernah gw ngitung. Wong gajiku bener-bener untuk kebutuhan dan kesenanganku sendiri kok. Sekarang, gaji berdua diitung. Terus masing-masing masukin rekening tabungan. Buat beli tanah cenah mah. Hihi. Baru deh sisanya kita bagi untuk keperluan bulanan, belanja sabun & beras, beli majalah.. Alhamdulillah kita sepakat gak ada cicilan dan kartu kredit sih. Kalo sebelum jatuh tempo duit udah abis, kita periksa catatan pengeluaran, bocor di mana nih? Terus evaluasi.

Membuat timeline dan planning hidup jadi lebih konkrit setelah menikah. Kalo sama pacar, ih males amat kan kalo udah berbagi pendapatan. Lo apa bukan siapa bukan. Nah, ini mah sama suami sendiri, yang udah jelas dia akan sama-sama kita sampai tua. Kelak kita akan melahirkan anaknya. Kita punya mimpi bersama, ya kita rencanakan sama-sama. Sangat menyenangkan.