Jumat, 26 November 2010

Si Laba-Laba Kuning dan Sarangnya

Ada seekor laba-laba kuning besar bersarang di dahan pohon mangga depan kamarku. Ia mulai memintal benang dan membuat sarangnya sejak seminggu yang lalu. Awalnya, ibu yang suka bersih-bersih di kosanku memutus benang pintalan si laba-laba, sehingga sarangnya yang setengah jadi itu hancur. Aku kasihan melihatnya. Padahal ia sudah buat dari hari sebelumnya.

Rupanya si laba-laba tidak putus asa. Keesokan hari, ia memintal lagi benangnya yang berwarna kuning keemasan. Matching sekali dengan warna tubuhnya. Pagi-pagi sekali ia sudah mulai memintal. “Sebelum si ibu datang,” begitu mungkin ia pikir.

Ia melompat dari satu dahan dan daun, mengaitkan benang keemasan yang tipis namun kuat itu, sampai membentuk segi delapan yang tidak teratur. Lalu ia mengaitkan tiap sudutnya hingga berbentuk mirip jaring. Pelan-pelan ia menjalin benang-benang tipis itu. Sepertinya ia mau membuat rumah yang luas.

Tak lama kemudian, si ibu yang bersih-bersih di kosanku itu datang. Ia mau memutus lagi benang rumah si laba-laba pakai sapu. Aku berteriak, “Ibu, jaangaaann...! Kasihan, biar aja bu.” Si ibu pun menghentikan ayunan sapunya. Huff...untung saja. Kasihan si laba-laba. Aku ‘kan lihat bagaimana ia sudah bekerja sejak pagi-pagi sekali “menjahit” sarang itu. Sementara manusia bisa dengan satu ayunan tangan saja memutus benang dan menghancurkan hasil kerja keras si laba-laba.

Waktu itu sudah pukul 8, aku mau berangkat kuliah. Kulihat lagi si laba-laba kuning. Ia masih bersemangat merangkai kedelapan sisi jaring itu. Sinar matahari pagi yang kekuningan menerpa sarangnya yang setengah jadi. Benangnya yang kuning keemasan jadi terlihat berkilauan. Aku bisikkan dalam hati sebelum aku pergi, “Semangat ya, laba-laba! Sampai jumpa sore hari!”

Sore hari, aku pulang ke kosan. Sebelum masuk kamar, kulihat lagi sarang si laba-laba kuning. Delapan sisi sarangnya memang sudah jadi, berupa benang-benang lurus yang dikaitkan satu sama lain. Tapi ternyata ia belum puas juga. Sekarang ia berjalan memutar, perlahan...sekali, dimulai dari sisi paling dalam, terus menuju arah luar sarang sambil memintal benang. Ia membuat pola lingkaran di sarangnya itu!

Wah...aku kira bentuk jaring laba-laba hanya berupa kaitan benang-benang tak teratur, tapi setelah kuperhatikan dari dekat, laba-laba yang satu ini benar-benar telaten! Kaki depannya bergerak cekatan memintal benang, sementara kaki-kaki lain menggerakkan badannya berjalan mundur, memutar. Pola lingkaran itu terjalin sangat rapat, mulai dari lingkaran paling kecil di tengah sarang, yang semakin besar hingga ke tepian. Semua ia buat dengan jarak yang teratur! Sambil berjalan memutar, ia memperbaiki juga jaring-jaring yang berlubang. Telaten... sekali.

Malam hari, hujan angin melanda Jatinangor. Aku sempat kepikiran juga sama rumah si laba-laba. Kasihan kalau rumahnya hancur diterpa derasnya hujan dan kencangnya angin yang bertiup. Rumahnya ‘kan cuma dari benang.

Keesokan paginya, aku penasaran ingin lihat hasil karya si laba-laba. Mudah-mudahan masih ada. Wuaah...ternyata masih ada, dan bahkan sudah jadi! Sarangnya besar dan jalinan benangnya rapat sekali. Tak lupa, pola lingkaran yang cantik dan teratur itu sudah ia selesaikan hingga ke tepi. Aku melihat si laba-laba kuning tak bergeming di tengah sarang. Entah, mungkin ia sedang istirahat menikmati rumah baru yang ia kerjakan siang-malam.

Seperti biasa, sinar matahari pagi menerpa sarang hingga tampak indah kuning keemasan. Angin dan hujan deras ternyata sama sekali tidak merusak rumah si laba-laba kuning. Malah bintik-bintik air sisa hujan semalam tampak mempercantik sarangnya itu. Seperti jalinan mutiara kecil di benang gaun seorang gadis. Subhanallah.

Selamat menikmati rumah barumu ya, laba-laba kuning! Sarangmu yang indah kuning keemasan kini menghiasi kosan. Semoga kamu betah ya tinggal bersama kami!

Kamis, 25 November 2010

Serba-Serbi Kontroversi RUU PRT

oleh: Ken Andari dan Hani Noor Ilahi

Pembantu atau Pekerja?

“Bibi, tolong siapkan sarapannya!”
“Bi, kaos kakiku di mana?”
“Bi, adik sudah dimandikan belum?”

Begitulah pekerjaan Bi Imah setiap hari, mengurus semua pekerjaan rumah tangga. Apalagi di pagi hari, saat semua orang rumah hendak pergi beraktivitas. Mulai dari menyiapkan sarapan bagi seluruh keluarga, sampai dengan mencarikan kaos kaki. Tapi itu belum apa-apa.

Ketika semua orang sudah pergi, pekerjaan yang sesungguhnya dimulai. Menyapu, mengepel, merapikan seisi rumah. Belanja ke pasar, memasak, mencuci piring. Mencuci baju, menyetrika. Pekerjaan-pekerjaan yang seringkali dianggap remeh orang. Padahal sebenarnya tidak! Apalagi jika semua itu harus dilakukan setiap hari. Butuh tenaga, butuh keterampilan, dan butuh perlindungan.

Pembantu rumah tangga. Demikian orang biasa menyebut pekerjaan Bi Imah ini. Benarkah hanya sekadar membantu? Tidak juga. Nyatanya sebagian besar pekerjaan domestik diserahkan kepada mereka. Pemerintah hingga kini memang belum mengakui PRT sebagai pekerja formal. Akibatnya hak-hak mereka sebagai pekerja seperti hak atas gaji layak, aturan jam kerja dan cuti, perlindungan kesehatan, serta jaminan-jaminan kerja lainnya belum bisa direalisasikan.

Ada jutaan Bi Imah di Indonesia. Data International Labour Organization (ILO) pada tahun 2002 mencatat jumlah PRT di Indonesia kurang lebih 2,59 juta jiwa dan 1,4 juta PRT bekerja di Pulau Jawa. Berdasarkan estimasi International Labour Organization (ILO), PRT adalah kelompok pekerja perempuan terbesar secara global.

Mereka masih belum mendapat perlindungan hukum yang layak, sementara eksploitasi kerja, pelecehan, maupun tindak kekerasan terus menimpa mereka. Hingga September 2010, JALA PRT (Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga) mencatat ada 24 kasus kekerasan terhadap PRT, setengahnya menimpa PRT berusia di bawah 18 tahun. Jumlah PRT yang meninggal akibat kekerasan bahkan sudah mencapai 12 orang.

JALA PRT saat ini sedang berupaya menggolkan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU P PRT). Calon payung hukum yang spesifik bagi pekerja rumah tangga ini sebetulnya sudah masuk Prolegnas DPR tahun 2010. Namun kini, tahun 2010 sudah hampir berakhir, dan belum ada tanda-tanda DPR akan mengesahkannya.

“Ketika membicarakan PRT, tidak bisa lepas dari tiga hal: PRT itu sendiri, majikan, dan agen penyalur PRT yang sekarang semakin banyak bermunculan. Nah, RUU PRT ini sifatnya mengatur ketiga unsur tadi, agar tidak sembarangan. Supaya masing-masing tahu hak dan kewajibannya. Majikan jadi tahu hak-hak PRT, PRT juga sadar akan kewajibannya, dan agen pun tidak sembarangan mengeksploitasi PRT,” jelas Lita Anggraini, Koordinator JALA PRT, tentang rancangan undang-undang ini.

Hubungan PRT-Majikan dalam Masyarakat Indonesia
Dalam masyarakat Indonesia modern, pekerja rumah tangga memiliki peran yang signifikan. Semakin luasnya akses terhadap pendidikan, sosial, ekonomi, dan budaya, telah mendorong semakin banyak perempuan dari kelas menengah hingga menengah ke atas untuk meninggalkan ruang domestik. Mereka berkarier, berbisnis, bahkan tak sedikit yang terjun ke dunia politik. Kegiatan mereka banyak berpindah ke ruang publik.

Ruang kosong yang ditinggalkan perempuan kelas menengah ke atas ini mem-berikan peluang bagi perempuan kelas bawah untuk menggantikan posisi, peran, dan fungsi domestik yang dulu dimainkan oleh perempuan menengah-atas. Berkembanglah pekerjaan sebagai PRT, utamanya di kota-kota besar. Disadari atau tidak, peran mereka sebenarnya sangat besar dalam meningkatkan kualitas hidup kita.

“Coba bayangkan nggak ada PRT, lumpuh! Orang nggak bisa kerja di bank, pagi-pagi mereka akan terburu-buru, memasak, membersihkan rumahnya dulu. Yang kerja di kantor akan bawa anaknya bekerja. Kenyataannya, orang kelas menengah ke atas, mana mau dia mengerjakan pekerjaan-pekerjaan seperti mencuci piring, membuang sampah, mengepel.. Pekerjaan domestik bisa terbengkalai kalau tidak ada PRT,” kata Lita, yang ditemui di kediamannya di Kalibata, Jumat (15/10) petang.

Kebutuhan yang tinggi dari masyarakat akan PRT, ternyata tidak diimbangi dengan pemahaman dan kesadaran yang memadai tentang hak dan perlindungan untuk mereka. Banyak sekali kasus kekerasan terhadap PRT yang terjadi di Indonesia. Bukan hanya buruh migran saja yang kerap menderita disiksa majikan, pekerja domestik di negeri sendiri pun masih banyak yang tidak mendapatkan perlakuan sebagaimana mestinya.

Maka di satu sisi, RUU PRT ini memang mendesak bagi perlindungan PRT, namun di sisi lain juga ternyata masih menimbulkan kontroversi. Terutama di DPR itu sendiri.
“RUU PRT ini memang belum dibahas, masih ada perbedaan pendapat antara partai-partai yang ada di DPR. Ada kubu yang merasa ini harus dibahas, ada juga kubu yang menolak,” kata Arief Minardi, Anggota Komisi IX DPR-RI.

Perbedaan pendapat ini memiliki alasan yang beragam. Sebagian menganggap bahwa sebaiknya perlindungan PRT ini dimasukkan ke dalam UU Tenaga Kerja yang sudah ada, ada juga yang berpendapat bahwa UU ini berpotensi merusak hubungan kekeluargaan menjadi sekedar hubungan formal hukum, sebagian lain menganggap bahwa keberadaan UU ini akan merugikan majikan.

“Jadi ya belum tentu yang tidak setuju dengan pembahasan RUU ini adalah mereka yang tidak pro rakyat. Pada kenyataannya mereka punya alasan yang masuk akal dalam penolakan yang mereka lakukan, “jelas Arief.

Alasan yang tak jauh berbeda juga terlontar dari mulut Komalasari, Ibu Rumah Tangga yang mempekerjakan PRT di rumahnya.

“Bagaimana ya kalau ada UU PRT... Agak berat juga kalau harus diatur sedemikian kaku. Masalahnya saya tidak memandang Bibi sebagai pekerja seperti itu. Bibi ini masih keluarga saya juga, saya ambil dari kampung di Tasik supaya dia bisa mendapat penghidupan yang lebih baik, daripada di kampung dia tidak bekerja,” ujarnya.

Memang, PRT di Indonesia agak berbeda dengan PRT di negara lain. Tidak semuanya diambil dari agen atau yayasan. Banyak juga yang mengambil PRT dari kerabat di kampung, kemudian PRT itu diperlakukan dengan baik layaknya keluarga sendiri. Tak heran jika kemudian timbul pendapat, kehadiran UU PRT nantinya dapat mengubah hubungan tradisional antara majikan-PRT, yang bagi sebagian orang sudah dianggap keluarga.

Bahkan ada yang mempekerjakan pekerja rumah tangga anak (PRTA). Memang sebetulnya mempekerjakan anak itu dilarang. Namun dalam kasus ini, majikan mengambil PRTA itu untuk disekolahkan di kota. Sebagai imbalannya, ia harus membantu mengurus pekerjaan rumah. Inilah yang seringkali disebut sebagai hubungan tradisional, hubungan kekeluargaan antara majikan dan PRT. Dalam tradisi masyarakat Jawa disebut ngenger.

“Ya hubungan tradisional itu seperti apa. Yang feodal jangan diteruskan dong. Okelah, kalau memang mau mempekerjakan PRT, penuhi hak-haknya. Kita bersikap setara saja. Banyak orang tidak siap untuk itu,” kata Lita. Menurut Lita, pendapat-pendapat seperti ini harus dikritisi lagi. Jangan sampai pendapat-pendapat semacam ini menjadi dalih saja yang digunakan oleh majikan untuk menghindar dari kewajiban melindungi PRT.

Rimbo Gunawan, sosiolog FISIP Unpad menjelaskan, hubungan PRT-majikan di Indonesia tidak bisa dipukul rata sebagai hubungan antara buruh dengan majikannya.

“Di Indonesia ini ada variabilitas dalam masyarakat yang mempekerjakan PRT. Ada yang didasari hubungan kekeluargaan, misalnya dari orang kampung yang dipekerjakan oleh tetangganya yang tinggal di kota. Ini kan sangat personal, konteksnya betul-betul saling membantu. Seseorang membantu saudaranya yang lain,” jelasnya.

Namun, lanjut Rimbo, ada juga yang mempekerjakan PRT yang tidak mereka kenal sama sekali. Artinya mereka mengambil dari agen. Dari sinilah seringkali timbul kasus-kasus kekerasan terhadap PRT. “Ini hubungannya impersonal. Maka hubungan yang semacam ini butuh perlindungan. Khususnya bagi PRT, di mana ia jauh dari keluarganya, dari rumahnya, jauh dari hal-hal yang bisa menolong dia,” tambah dosen sosiologi FISIP Unpad ini.
***

Dilema RUU PRT

Masih segar di ingatan kita, kasus Rasmiah, seorang pekerja rumah tangga yang dituntut majikannya ke pengadilan. Rasmiah terpaksa mendekam di tahanan Polres Ciputat, lantaran sang majikan menuduhnya mencuri enam buah piring selama ia bekerja. Rasmiah, di usianya yang sudah mencapai 60 tahun, tak bisa berbuat banyak manakala sang majikan melaporkannya ke polisi atas tuduhan pencurian tersebut. Ia yang telah renta hanya bisa duduk tak berdaya sembari menjalani persidangan.

Padahal Rasmiah sudah bekerja mengurusi pekerjaan domestik sang majikan selama 10 tahun. Guratan di wajahnya menggambarkan kerja keras yang ia lakukan selama ini. Tubuh rentanya menunjukkan keausan. Dan kemiskinannya membawa ketakberdayaan. Namun dengan pengorbanan seperti itu bukan penghargaan, apalagi perlindungan yang ia dapatkan. Malah bui yang ”dihadiahkan” sang majikan di akhir masa kerjanya.

Posisi para pekerja rumah tangga (PRT) saat ini memang masih lemah. Sama seperti buruh, nilai tawar mereka amat rendah. Kasus kekerasan terhadap PRT di Indonesia masih tinggi, baik kekerasan fisik, non-fisik, bahkan seksual. Kekerasan fisik misalnya pemukulan, penganiayaan, makan yang tidak layak, serta kerja tanpa ada batasan waktu yang pasti. Kekerasan non-fisik juga sering dialami PRT, misalnya tidak adanya hari libur, gaji yang tidak dibayarkan atau dipotong karena alasan tidak jelas.

Kekerasan seksual pun kerap terjadi. Kita masih ingat kasus pemerkosaan Max Don, suami penyanyi Imaniar, terhadap PRT-nya. Banyak kasus-kasus lain, yang jika dipaparkan hanya menambah panjang kepiluan. Hal ini menjadi ironi tersendiri, manakala Indonesia getol mengecam kekerasan dan penganiayaan terhadap para tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, namun justru tidak melindungi para pekerjanya di dalam negeri.

PRT masih kerap dianggap sebagai masyarakat kelas bawah. ”Ini feodalisme. Para PRT sering tidak mendapatkan hak dan kesetaraan dengan majikan. Mereka kerap dianggap budak zaman modern,” kata Lita Anggraini, Koordinator Jaringan Nasional Advokasi untuk Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT), saat ditanya mengenai kondisi PRT di Indonesia. Pandangan masyarakat yang seperti inilah yang kerap membuat PRT akrab dengan ketidakadilan.

Selama 2004-2008, JALA PRT mencatat ada 472 kasus pelecehan terhadap PRT. Sebanyak 105 kasus di antaranya berupa kekerasan fisik yang menyebabkan 18 PRT meninggal dunia. Ini hanya yang tercatat. Entah berapa banyak lagi yang tak tercatat. Lemahnya perlindungan hukum terhadap mereka tentu sangat berpengaruh terhadap tingginya angka kasus kekerasan ini.

Memang, sudah ada beberapa undang-undang yang digunakan sebagai “pertolongan pertama” terhadap berbagai kasus ketidakadilan yang menimpa PRT. Ada Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 tahun 2003, namun undang-undang ini hanya mengatur hubungan industrial. Sementara kenyataan yang ada saat ini, PRT masih dianggap sebagai pekerja sektor informal. Ada pula Undang-Undang Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Ternyata undang-undang ini pun tak bisa digunakan sebagai payung bagi PRT, lantaran tidak mengatur hubungan kerja antara PRT dengan pemberi kerja (majikan).

Landasan itulah yang membuat JALA PRT merasa bahwa PRT perlu memiliki suatu undang-undang yang secara spesifik mengatur hubungan kerja PRT serta bersifat melindungi mereka dari berbagai macam kasus kekerasan yang selama ini kerap terjadi. PRT adalah kelompok pekerja perempuan terbesar secara global, banyak di antara mereka bahkan masih di bawah umur. Mereka yang berasal dari masyarakat kelas menengah ke bawah ini umumnya berpendidikan rendah, sehingga mudah dilecehkan. Mereka yang tidak melek hukum juga tidak mengerti hak-haknya, sehingga seringkali tidak melapor ketika mendapatkan perlakuan kasar.

Sementara JALA merasa keberadaan RUU ini sangat penting dan signifikan, lain halnya dengan pakar hukum, Prof. Pantja Astawa. Dia berbendapat bahwa sebenarnya keberadaan KUHP sendiri sudah cukup untuk melindungi semua tindakan kriminal yang terjadi di negeri ini, termasuk tindakan kriminal pada PRT.
“Saya tidak menentang adanya UU ini, hanya harus dipertimbangkan betul, jangan sampai ada overlapping dengan UU yang lain. UU yang ada itu sudah cukup, tinggal pelaksanaannya, “jelas Dosen Fakultas Hukum Unpad ini.

Selanjutnya Pantja menambahkan bahwa ada tiga hal yang harus diperhatikan dari RUU PRT ini. Pertama, masalah domain dari UU tersebut. RUU PRT memiliki domain domestik, berbeda dengan UU Tenaga Kerja yang memiliki domain publik. Ranah domestik ini sendiri sangat susah dimasuki oleh hukum, karena sudah masuk dalam ranah pribadi, dalam hal ini rumah tangga orang. Orang sering tidak mau urusan pribadinya dicampuri oleh orang lain.

Kedua, masalah urgensi. Negeri ini sudah memiliki KUHP, dimana di dalamnya sudah mengatur segala hal yang berkaitan dengan tindak kriminal.

Ketiga, masalah pengawasan. Kasus kekerasan pada PRT ini termasuk dalam hal delik aduan. Tidak akan ada yang ditindak jika memang tidak ada yang mengadu. Bagi Pantja hal tersebut berpotensi membuat keberadaan UU ini tidak akan efektif. Seperti halnya dalam kasus KDRT, banyak yang tidak terungkap karena memang tidak banyak yang melapor. Keengganan melapor tersebut terkait persoalan kultur, tidak ingin membuka aib pribadi pada umum. Lalu juga pengaduan dianggap akan membuat masalah baru yang akan menambah banyak daftar masalah yang sudah ada. Hal ini bisa terjadi juga pada PRT, alih-alih untuk melindungi PRT, yang terjadi malah sebaliknya.

“Jadi harus hati-hati, harus dipikirkan bagian-bagian apa saja yang harus diatur. Khawatir juga akan terjadi overlapping dengan hukum-hukum yang sudah ada,”kata Pantja.

Pendapat Pantja diamini oleh Ir. Arief Minardi, anggota DPR dari komisi IX. Bagi Arief, tak mudah untuk mengesahkan sebuah perundang-undangan.

“Kami harus melihat dari berbagai sisi, jangan sampai keberadaan hukum tersebut tumpang tindih dengan hukum yang lainnya.” Sejauh ini Arief mengakui bahwa memang RUU PRT ini belum dibahas oleh DPR. Meski sebenarnya RUU ini sudah masuk Prolegnas 2010.

“Memang belum dibahas, kami masih memiliki prioritas agenda lain yang harus lebih dulu diselesaikan,”kata Arief. Sembari mengobrol ringan, pria yang sebelumnya menjadi advokat bagi buruh PT. DI ini kemudian menceritakan kondisi real yang terjadi di DPR. Ia mengungkapkan masih adanya pro kontra di kalangan anggota DPR terkait keberadaan RUU tersebut. Ada pihak yang merasa bahwa RUU ini harus segera dibahas, ada juga yang menolak untuk membahasnya.

“RUU tersebut banyak mengatur majikan. Sedangkan majikan mana mau diatur Undang-Undang. Jadi secara psikologis masih ada keengganan untuk membahas dan menggolkan RUU ini,”ungkap Arief.

Selain itu, beberapa anggota DPR justru berpendapat bahwa keberadaan RUU ini akan merusak tatanan keluarga yang ada di negeri ini. Ketika hukum ini ditegakkan, maka kontrak kerja antara majikan dan PRT pun akan sangat kental nuansa hukum. Kekeluargaan bisa jadi menghilang, karena hubungan yang ada sudah menjadi hubungan formal hukum.

Arief merasa bahwa masih banyak hal lain yang harus dikaji lebih jauh dari RUU ini. Misalnya penerapan waktu kerja 8 jam.

“Penerapan seperti itu akan membuat PRT malah seperti robot, karena majikan sendiri tidak mau rugi. Semua hal dan tugas yang harus dikerjakan PRT tersebut sudah didaftar untuk diselesaikan satu-satu dalam kurun waktu yang ditentukan. Ini kan malah seperti pergawai pabrik. Karena biasanya PRT kita melakukan banyak istirahat di tengah pekerjaaan mereka,”pungkas Arief.

Menengahi delik antara penting tidaknya RUU PRT ini, Pakar Sosiolog, Rimbo Gunawan memiliki pandangan yang agak berbeda. Rimbo mengungkapkan bahwa di Indonesia kondisi dan keberadaan PRT tidak bisa dipukul rata. Ada yang mengambil PRT dari lingkungan sekitar mereka, orang-orang dekat. Hubungan mereka tidak bisa dilihat sebagai hubungan antara majikan dengan buruh, tapi hanyalah bagaimana seorang saudara membantu saudaranya yang lain. Dengan kondisi seperti ini Rimbo berpendapat bahwa keberadaan UU ini jadi tidak produktif, malah jadi merepotkan untuk hubungan yang seperti ini.

Namun, ada juga yang memang memiliki hubungan antara majikan buruh. Anonim, impersonal. Dia jauh dari keluarga dan hal-hal yang bisa menolong dia. Mempekerjakan dia semata-mata karena dibutuhkan. Kaum PRT seperti inilah yang bagi Rimbo harus mendapatkan perlindungan hukum atas hak-hak mereka. Akan tetapi, ketika konteksnya bahwa yang dipekerjakan masih saudara atau kerabat, harus dilihat lagi. Karena bisa saja Ia tidak sekadar dipekerjakan, namun juga disekolahkan, diberikan pendidikan, diberikan penghidupan yang lebih baik. Variabilitas inilah yang bagi Rimbo harus diakomodasi undang-undang .

“Harus jelas dalam konteks apa negara mau mengatur rumah tangga orang. Selain itu, UU itu juga harus jelas mau dibawa ke mana arahnya. Apakah dibuat untuk melindungi pekerja-pekerja anonim tadi, atau untuk melindungi semuanya?”kata Rimbo saat ditemui di FISIP Unpad Jatinangor.

Menjawab keraguan-keraguan yang ada, Lita lantas tak mau kalah. Ia dengan payung JALA PRT yang digawanginya bersikukuh bahwa keberadaan RUU PRT ini akan mendorong perlindungan PRT di Indonesia, bahkan di luar Indonesia. Jumlah PRT Migran berdasarkan data ILO kurang lebih 6 juta orang. Fakta memperlihatkan kasus kekerasan PRT di dalam negeri sama halnya dengan kasus kekerasan PRT migran.

Beberapa kali Indonesia gagal dalam meminta dan melakukan perjanjian bilateral untuk perlindungan buruh migran, khususnya PRT migran dengan Negara tujuan seperti Malaysia, Arab Saudi, Singapura, dan Uni Emirat Arab. Kegagalan ini disebabkan penolakan mereka yang beralasan bahwa Indonesia tidak konsisten dengan permintaan dan usulan perjanjian bilateral perlindungan PRT, karena di Indonesia sendiri tidak ada perlindungan PRT.

Hal ini berbeda dengan negara asal PRT mingran seperti Philipina, India, Cina yang PRT nya juga bekerja di negara tujuan yang sama dengan PRT Indonesia. Mereka diperlakukan lebih baik karena negara-negara asal PRT migran tersebut sudah memiliki UU tentang perlindungan PRT. Sehingga adanya UU PRT akan mendorong posisi tawar PRT di luar negeri, dan pada akhirnya juga akan memperbaiki kondisi PRT dalam negeri.

Selain itu, keberadaan RUU PRT ini juga disebut-sebut akan mempromosikan citra Indonesia sebagai negara yang menghargai dan menegakkan HAM dan khususnya memberikan perlindungan dan jaminan hak dasar bagi pekerja. JALA PRT juga menegaskan bahwa RUU PRT ini hanya akan mengatur jenis hubungan kerja dalam rumah tangga, bukan masuk dalam wilayah relasi persaudaraan yang bukan dalam konteks relasi kerja. Lita menambahkan bahwa hubungan yang harus diubah dalam konteks ini ialah hubungan yang bersifat feodal. Bukan hubungan tradisional yang disebut juga sebagai hubungan kekeluargaan. Hubungan yang ditekankan adalah sebagaimana budaya Indonesia menjunjung hubungan yang saling menghargai satu sama lain.

***

Ketika Anak Jadi Pekerja Rumah Tangga

Pekerjaan rumah tangga hingga kini dianggap sebagai lahan pekerjaan yang paling mudah dimasuki. Anggapan bahwa pekerjaan domestik adalah pekerjaan yang biasa dilakukan setiap hari, seringkali membuat orang memandang sebelah mata. Bagi perempuan-perempuan di desa yang menghendaki penghidupan lebih baik, PRT menjadi satu pilihan. Ia tidak membutuhkan keterampilan dan pendidikan yang tinggi, karena dianggap ringan, hanya mengurusi pekerjaan domestik saja.

Anggapan ini kemudian berkembang juga di antara anak-anak perempuan desa, yang masih di bawah umur. Mereka yang kebanyakan berasal dari kalangan miskin desa, tak mampu melanjutkan sekolah. Untuk membantu ekonomi keluarga, anak-anak perempuan ini kemudian tertarik menjadi PRT di kota.

Misalnya, kisah seorang gadis belasan tahun asal Serang, Kaminah. Kaminah menjadi salah satu bagian dari fenomena gunung es pembantu rumah tangga di bawah umur. Ia menjadi korban tradisi di kampungnya di Serang, yang terbiasa membiarkan anak perempuan setamat SD untuk bekerja sebagai PRT atau TKW. Pada usia 12 tahun, Kaminah sudah pergi ke melamar jadi PRT di Bekasi. Baru 5 bulan, ia memutuskan berhenti dan kembali ke kampungnya di Serang.

Tak lama kemudian, ia ditawari kerja oleh Haji Ruki, seorang calo tenaga kerja di kampungnya. “Aku juga nggak kenal dia, cuma waktu itu dia datang ke kampung aku, katanya mau kerja nggak? Tapi nggak dikasih tau kerja di mana, pokoknya ditawarin kerja. Terus ya udah mau aja, daripada bengong di rumah, mendingan kerja...” kenang Kaminah, ketika dihubungi lewat telepon, Sabtu, 13 November lalu. Oleh Haji Ruki, ia kemudian diserahkan kepada Didit, seorang pegawai biro jasa penyedia PRT untuk dicarikan majikan. Akhirnya Kaminah bekerja pada sepasang suami istri, Yudaka dan Noni, di perumahan elit Taman Royal Tangerang.

Itulah awal penderitaannya. Majikannya yang baru tak memperlakukannya dengan baik. Hampir setiap hari ia dimarahi dan dipukuli, dengan atau tanpa alasan. Setiap pergi, majikannya bahkan mengunci pintu pagar dari luar. Di rumah mewah itu, Kaminah, yang pada waktu itu masih berusia 15 tahun, bekerja mengurus segala keperluan, lebih dari 18 jam setiap harinya. Selama hampir 9 bulan, tanpa upah, tanpa fasilitas layak, tanpa penghargaan atas hak-haknya sebagai pekerja, terlebih-lebih sebagai anak. Ia hanya diberi makan satu kali, pada pukul 11 malam. Setiap malam, Kaminah tidur di atas lantai dingin dekat kamar mandi, tanpa alas. Bantalnya adalah sebuah tas yang berisi pakaiannya sendiri. Ia tak diberikan kamar, kasur, ataupun lemari.

Kaminah rapuh dan ketakutan. Dia juga kedinginan, dan lapar. Suatu hari, rasa lapar yang tak tertahankan memaksa Kaminah untuk diam-diam mengambil makanan dari kulkas majikannya. Naas betul, ia ketahuan. Majikannya tanpa ampun, memukul ia dengan menggunakan sebuah pisau besar hingga berdarah. Kaminah hanya bisa menangis. Malam itu, Kaminah tidur dengan luka menganga, dan beralaskan bantal pakaian kotornya.

“Dingin banget. Kepala aku, semua badan aku sakit, lantainya ‘kan keras banget ya... sedangkan waktu itu aku ada banyak banget luka di badan,” kata Kaminah getir.
Tak tahan penderitaan, Kaminah pun nekat kabur. Ia memanjat tembok dinding belakang rumah setinggi 3 meter, dari jemuran rumah majikan ke jemuran tetangga. Tetangga sebelah rumah itu, yang melihat Kaminah dalam kondisi memprihatinkan segera menolongnya dan mengantar Kaminah melaporkan kejadian tersebut ke kantor kepolisian. Oleh pihak kepolisian, Kaminah dibawa ke RSUD Tangerang untuk mendapatkan pengobatan.

“Aku waktu itu kabur ke tetangga, terus dibawa ke rumah sakit. Di sana aku dijenguk Mbak Lita. Aku di rumah sakit sebulan, tadinya aku mau dibawa sama majikan aku yang tadi itu ‘kan, terus Mbak Lita tanya, “Kamu mau ikut pulang siapa?” Aku akhirnya ikut sama Mbak Lita. Terus aku diantar pulang, aku nggak mau balik lagi ke sana.”

Hasil rontgen dan CT Scan yang dilakukan oleh RSUD Tangerang dan RSUD Serang memperlihatkan adanya pembengkakan di lapisan luar tengkorak kepala Kaminah, serta adanya indikasi pendarahan di wilayah otak, dan ada fraktur di tulang belikat sebelah kanan. Ia mengalami cacat permanen. Tak hanya itu, ia juga kekurangan gizi.

Didampingi oleh JALA PRT dan Dela Feby Situmorang selaku kuasa hukum, Kaminah menggugat mantan majikannya itu. Sri Sunarti (29) dan Yudaka (63) diadukan ke PN Tangerang pada September 2008. Hakim menjatuhkan vonis 10 tahun penjara untuk Sri Sunarti dan 6 tahun untuk Yudaka. Putusan ini dikuatkan dengan putusan banding PT Banten. Namun kemudian putusan ini dimentahkan MA yang mengabulkan permohonan peringanan hukuman bagi mereka. Akhirnya pada pertengahan Februari 2010, hukuman bagi mereka ditetapkan masing-masing 2 tahun penjara.

Kaminah hanya salah satu dari banyak PRTA di Indonesia. Jumlah anak yang bekerja sebagai PRTA di Indonesia, berdasarkan Data ILO IPEC Tahun 2002, mencapai 688.132 anak dari 2,5 juta PRT. Angka ini tentu tidak main-main. Data yang dikumpulkan oleh Human Rights Watch menunjukkan mereka biasanya bekerja 14 sampai 16 jam sehari, tujuh hari seminggu, tanpa hari libur atau hari libur.

Gaji mereka bervariasi, survei pada tahun 2009 yang dilakukan oleh CARE International Indonesia menemukan bahwa pendapatan bulanan rata-rata pekerja rumah tangga anak di Tangerang tak lebih dari Rp 360.000 (US$ 36). Dengan jam kerja 15 jam sehari selama 30 hari, artinya mereka dibayar Rp 800 per jam. Kekerasan terhadap mereka pun disinyalir amat tinggi. Salah satu survei ILO terhadap pekerja rumah tangga di Jakarta dan sekitarnya menemukan bahwa 161 dari 173 responden telah mengalami beberapa bentuk kekerasan fisik; 118 responden pernah mengalami kekerasan mental, dan 73 lainnya mengaku pernah mengalami pelecehan seksual.

Sementara itu, Lembaga Advokasi Hak Anak (LAHA) Bandung yang berdiri sejak tahun 2006 juga memiliki data-data mengenai situasi kerja PRTA di Bandung Raya. mereka menghimpunnya sendiri, dan menemui beberapa kesulitan.

“Pertama, secara lokasi, PRTA itu sifatnya tertutup, tersebar, dan tersembunyi. Tersembunyi di balik pagar rumah majikannya, tersebar di mana-mana. Sebetulnya, bagaimanapun kondisi PRTA, ketika ada departemen yang mau bertanggungjawab, pasti akan ada data. Itulah masalahnya, tidak ada yang mengurusi ini. Mengapa tidak ada yang mengurusi? Nah inilah problem kedua. Dari segi posisi, pekerjaan PRTA ini berada di wilayah abu-abu. Dia tidak dianggap pekerja, tapi sebenarnya dia bekerja ‘kan? Nggak ada kejelasan bagi mereka. Lalu data itu mau kita cari ke mana? Ke Disnaker, nggak ada. Dinas sosial, nggak ada juga. tidak ada yang mau menangani. Jadi kami terus memikirkan strategi sendiri untuk mendapatkan data jumlah PRTA,” Andi Akbar, Kepala Divisi Pendidikan dan Kajian Publik LAHA menjelaskan.

Tidak adanya departemen yang secara spesifik bertanggungjawab terhadap nasib PRTA inilah yang amat disayangkan oleh Andi. “Tidak ada kerangka perlindungan hukum/standar bagi PRT, juga PRTA. Padahal sektor pekerjaan ini adalah yang paling mudah, dan paling banyak dimasuki. Banyak sekali anak-anak yang masih bekerja pada sektor ini. Nasib mereka tidak jelas. Semuanya bergantung kepada kebaikan majikan,” kata Andi prihatin. Ia menambahkan, di situlah letak bahayanya, apabila nasib seseorang –terlebih-lebih seorang anak- hanya bergantung kepada kebaikan hati orang lain.

Bukankah anak di bawah usia 18 tahun yang menjadi PRTA juga termasuk kategori anak yang dieksploitasi? “Ya, memang sudah disebutkan dalam undang-undang Tenaga Kerja, bahwa anak tidak boleh bekerja lebih dari 4 jam sehari. Masalahnya, yang dimaksud dengan pekerja anak dalam undang-undang ini adalah untuk mereka yang bekerja di sektor formal. Untuk sektor informal, tidak ada. Artinya memang tidak ada aturan bagi PRTA ini,” kata ayah satu anak ini.

Permasalahan pekerja rumah tangga di bawah umur ini memang kian menambah pelik saja permasalahan PRT. Apakah ini berarti RUU PRT amat diharapkan bagi perlindungan mereka?

“Kalau dibilang penting, ya penting. Negara kita ‘kan negara hukum, hampir semua aspek kehidupan diatur dalam undang-undang. Cuma saking banyaknya undang-undang, malah menjadikan undang-undang itu tidak ada artinya,” kata Andi sinis. Ia berpendapat, sebaiknya bukan hanya undang-undang saja yang harus dipikirkan, tapi juga aksi-aksi konkrit untuk mendukung undang-undang tersebut.

Andi mencontohkan, walaupun LAHA adalah sebuah lembaga advokasi, bukan berarti LAHA hanya memikirkan hitam-putih ranah hukum. LAHA justru bertindak langsung, membuat program-program untuk menarik anak-anak di Bandung khususnya; dari pekerjaan rumah tangga. “Setiap tahun kita punya strategi berbeda untuk menarik sebanyak-banyaknya anak dari pekerjaan ini. LAHA bekerja sama dengan lembaga pelatihan kursus menjahit, supaya anak-anak itu setidaknya memiliki bekal keterampilan untuk bekerja di sektor yang lebih baik, yang ada standar-standarnya,” ujar Andi. Sejak tahun 2006 hingga tahun ini sudah 729 PRTA di Kota Bandung yang berhasil dikursuskan oleh LAHA. Dari jumlah tersebut, hanya 132 anak yang kembali menjadi PRT.

Memang, di antara para PRTA masih banyak juga yang menganggap pendidikan tidak terlalu penting. Mereka memilih untuk bekerja daripada bersekolah atau menjalani kursus keterampilan. Misalnya saja Kaminah. Meski pernah menjadi korban kekerasan majikan, ternyata tidak membuat Kaminah jera untuk bekerja menjadi PRT. Saat ini ia sudah bekerja dengan majikannya yang baru, Aci Nurmansyah. “Alhamdulillah di sini ibunya baik banget sama aku, akunya jadi kerasan,” kata Kaminah, ketika ditanya soal situasi kerjanya sekarang.

Aci, yang juga kawan dekat Lita Anggraini, memperlakukan Kaminah dengan baik. Lita-lah yang menitipkan Kaminah di rumahnya. Awalnya, Aci tidak menganggap Kaminah sebagai PRT. Ia menawarkan untuk menyekolahkan Kaminah, “Tapi dia tidak mau,” kata Aci. Akhirnya Aci mendaftarkan Kaminah dalam sejumlah kegiatan kursus keterampilan, seperti kursus menjahit dan salon, namun semua putus di tengah jalan. Kaminah menjalani semuanya dengan enggan.

“Niat saya waktu itu untuk membantu dia melupakan traumanya, dengan mengkursuskan dia. Tapi kemudian Kaminah malah bantu-bantu saya menyapu, mengepel, dan segala macam. Sekolahnya malah nggak mau diteruskan, kursus pun nggak mau. Dia bilang, dia mau kerja saja sama saya. Pertimbangannya, perekonomian keluarga. Ya saya juga nggak tega. Akhirnya sekarang saya berikan dia uang saku 300 ribu setiap bulan. Soal makan, kamar tidur dan sebagainya, sudah ada,” jelas Aci panjang lebar.

Aci menyerahkan pilihan kepada Kaminah. Kini, meskipun Kaminah mengaku senang bekerja di rumahnya, Aci yang juga aktif di P2TP2A Kabupaten Tangerang ini tetap ingin Kaminah mendapatkan hak dasarnya sebagai anak, yaitu pendidikan. “Saya sudah sering bilang sama Kaminah, Min, kalau kamu dari sini pengen cari kerja yang lebih baik, silahkan. Kalau mau teruskan sekolah juga nggak apa-apa. Karena sudah dua tahun Kaminah di sini, saya kasihan melihat dia di rumah aja, kasihan kalau dia nggak berkembang.” Tetap saja, Kaminah enggan bersekolah. Ia bilang, keluarganya butuh uang.

***

Agen Penyalur, Permasalahan Utama

Dahulu, memang kebanyakan masyarakat kota mempekerjakan orang-orang di desa mereka sendiri untuk menjadi PRT di rumahnya. Niatnya pun masih dalam konteks saling membantu. Orang kota, terutama perempuan kalangan menengah ke atas yang sudah bekerja dan berkarier di luar rumah, sangat membutuhkan bantuan PRT.

Mereka yang harus beralih dari ruang domestik ke ruang publik, butuh PRT untuk ganti mengurusi pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang mereka tinggalkan. Sementara para perempuan desa dari kalangan menengah ke bawah pun membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi keluarganya. Di sinilah ada kebutuhan dari masing-masing pihak. Sehingga wajar saja ketika orang kota tersebut mengajak perempuan desa untuk bekerja di rumahnya, demi kualitas hidup yang lebih baik.

Pada umumnya para PRT ini mendapatkan perlakuan sebagaimana mestinya, seperti yang digambarkan dalam hubungan tradisional. Bahkan mereka dianggap bagian dari keluarga majikan.

“Ari bibi mah nya kumaha nya neng, alhamdulillah we sok dibantosan ku ibu..pami nuju kirang sok ditambutan artos. Pami nuju teu damang dilongokan..(Kalau bibi sih bagaimana ya neng, alhamdulillah suka dibantu sama Ibu, kalau lagi kurang suka dipinjemin uang. Kalau lagi sakit suka ditengok),”kata Engkat (44), PRT yang bekerja di bilangan Cimahi. Bi Engkat, begitu Ia biasa dipanggil, berasal dari keluarga miskin. Majikan yang mempekerjakannya adalah tetangga dekatnya sendiri.

“Dulu teh bibi ditawarin ku Ibu, mau ga bantu-bantu di rumah Ibu. Ya mumpung bibi teu aya dameleun, yah diterima aja neng. Lumayan juga buat ngabiayaan si bungsu,”ujar Ibu tujuh anak ini. Engkat adalah satu dari beberapa PRT yang mendapatkan hak yang layak dari tempat Ia bekerja. Sebagai majikan dari Engkat, Komalasari sendiri mengaku memperlakukan Engkat bukan sebagai PRT, tetapi dalam hubungan kekeluargaan saja.

“Yah, namanya juga bertetangga, harus saling menolong. Gitu aja sih landasannya,”kata wanita yang sedang merintis usaha catering ini.

Dalam konteks ini, mungkin RUU PRT belum menjadi kebutuhan penting dan mendesak. Apalagi jumlah perempuan yang berkarier di luar rumah pun mungkin belum banyak, dan hanya berasal dari kalangan menengah ke atas. Dari tahun ke tahun, permasalahan PRT kian kompleks. Sebagaimana dipaparkan dalam data yang dihimpun JALA PRT, ada beberapa hal yang menjadi sumber masalah utama.

Pertama, permasalahan mulai muncul manakala perempuan kalangan menengah pun semakin banyak meninggalkan ruang domestik, sehingga permintaan terhadap kehadiran PRT juga semakin tinggi. Sejak era industrialisasi meningkat, angkatan kerja perempuan semakin banyak. Orang yang mempekerjakan PRT yang dahulu hanya dari kalangan kelas atas, kini meluas hingga ke kalangan menengah, bahkan kalangan bawah. Pegawai negeri sipil golongan 1 dan 2, bahkan buruh-buruh pabrik pun mempekerjakan PRT, sementara pendapatan mereka sendiri masih minim. Ini tentu berdampak kepada minimnya upah untuk PRT yang mereka pekerjakan.

Kedua, permasalahan yang muncul seiring perkembangan zaman adalah munculnya agen-agen atau yayasan penyalur PRT. Permintaan yang tinggi dari masyarakat terhadap PRT memang dilihat sebagai peluang bisnis oleh sebagian orang. Lita Anggraini berpendapat, agen-agen atau yayasan penyalur PRT ini telah menimbulkan banyak permasalahan baru. Mereka kerap melakukan eksploitasi, bahkan memperdagangkan para PRT.

Lebih dari 35% PRT disalurkan ke majikan melalui agen. Dan banyak di antara mereka yang masih di bawah umur, artinya termasuk pekerja anak. Sebetulnya sudah ada undang-undang yang melarang mempekerjakan anak di bawah umur, namun berdasarkan keterangan Lita yang diperoleh dari data kasus agen di Jabodetabek, ternyata agen lebih cerdik. Mereka memalsukan identitas anak-anak itu.

Lita justru berpendapat berbeda mengenai agen ini. Ia mengatakan, agen berperan besar dalam melakukan eksploitasi. Mereka bahkan sering melakukan tipu daya. ”Mereka sudah mengerti modusnya supaya tidak ketahuan. Misalnya, seorang anak yang akan dipekerjakan di Jakarta, diambil dari agen yang ada di Bantul, Yogyakarta. Padahal sesungguhnya anak ini berasal dari Semarang. Perpindahan tangan ke tangan seperti ini rupanya amat membantu memudahkan pemalsuan identitas.

“PRT merupakan bagian dari lahan bisnis bagi agen, jadi mereka tidak memikirkan soal kepentingan PRT, apalagi hak-haknya. Dari kasus-kasus yang kami tangani, malah banyak agen yang turut berperan dalam kasus-kasus kekerasan dan eksploitasi terhadap PRT. Dan dari penelitian yang kami lakukan, biasanya agen akan menjanjikan yang manis-manis kepada PRT dan juga calon majikan. Namun, kasus biasanya akan timbul setelah 1 bulan,” jelas Lita panjang lebar.

Apa saja biasanya yang menjadi permasalahan PRT melalui agen? Menurut Lita, agen jarang sekali memberikan informasi yang pasti tentang siapa majikannya kelak, bagaimana situasi kerjanya nanti, uraian tugasnya, apalagi hak-hak dia sebagai PRT. Sehingga permasalahan banyak timbul. Misalnya, dari uraian tugas yang tadinya A-G menjadi A-Z.

Salah satu agen yang menyalurkan PRT di Bandung adalah Yayasan Sosial Cahaya Mekar yang berkantor di Jalan Stasiun Barat, Bandung. Yayasan ini sudah berdiri sejak tahun 1994. PRT dari yayasan ini berasal dari daerah di Jawa Tengah, khususnya di daerah Cilacap.

”Kami mengambil orang-orang terdekat di lingkungan kami di sana. Jadi ya masih orang-orang yang kita kenal. Supaya ngga susah juga ngebinanya,”kata Abd. Kodim yang ditemui di kantornya, Selasa 16/11 silam. Bentuk pembinaan yang dimaksud adalah dengan memberikan pelatihan-pelatihan khusus seputar pekerjaan rumah tangga.

”Ini sebagai antisipasi kami untuk menyeleksi PRT yang berkualitas,” tambah Abdul Kodim. Setelah dibina, PRT lalu dikenalkan dengan calon majikannya. Di situlah terdapat kontrak kerja antara yayasan sebagai agen penyalur, PRT, dan majikan. Dari hasil pemantauan, terdapat beberapa syarat sebelum PRT bisa diambil dari agen. Calon majikan harus memberikan fotokopi tanda pengenal, dalam hal ini, KTP. Lalu ada juga aturan yang mengharuskan majikan melaporkan keberadaan PRT ke pejabat RT/RW tempat majikan tersebut tinggal. Calon majikan juga harus membayar uang jaminan kepada yayasan, senilai 500ribu rupiah. Dalam aturan yayasan, jika dalam waktu 2 minggu ada ketidakcocokan, maka uang tersebut bisa dikembalikan 50%, atau majikan bisa memilih PRT yang baru.

Ditanya seputar kasus yang pernah terjadi antara majikan dan PRT, Abdul Kodim mengatakan bahwa selama ini tidak ada kasus buruk yang terjadi.

”Yah, paling hanya ketidakcocokan saja antara majikan dan PRT. Kalau tentang kasus pencurian, hanya satu dua saja. Maklumlah, dari sekian banyak PRT yang kami ambil, tidak semuanya bisa terseleksi dengan baik, ”ujarnya. Untuk kasus-kasus seperti itu, yayasan langsung mengambil alih PRT yang bersangkutan. Abd Kodim sendiri menyadari bahwa PRT yang disalurkannya tak seluruhnya berkualitas baik. Beberapa di antara mereka tidak memiliki keahlian khusus di bidangnya, bahkan cenderung dipaksakan. Dari beberapa kasus yang ada, ketidakmampuan ataupun keterbatasan PRT dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga ini seringkali memicu terjadinya kekerasan terhadap PRT.

Menurut Lita, seharusnya sebelum disalurkan kepada majikan, PRT berhak mendapatkan pembekalan keterampilan, juga informasi yang memadai tentang kondisi kerjanya kelak. Termasuk uraian tugasnya. Tanpa pembekalan keterampilan, kehadiran PRT malah bisa mengecewakan majikan.

Misalnya Kriswati (42), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di bilangan Tangerang. Ia pernah mempekerjakan seorang PRT muda, waktu itu berusia 15 tahun. Ia tidak mendapatkan informasi yang memadai tentang PRT tersebut, namun Kriswati yang saat itu baru saja melahirkan, memang sedang amat butuh bantuan PRT.

Namun yang ada kemudian, PRT tersebut ternyata tidak mampu mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik. “Apa-apa yang dilakukannya tidak benar. Seringkali akhirnya saya juga yang harus mengerjakan,” keluh ibu dua anak ini. Kekecewaan Kriswati memuncak ketika suatu hari PRT-nya ia minta memasak ati-ampela dan merebus usus ayam. Sang PRT ternyata tidak tahu bagaimana cara mengolah bahan makanan tersebut, ia langsung saja memasukkan ati-ampela dan usus ayam tersebut ke dalam air mendidih, tanpa dibersihkan terlebih dahulu. Jadilah kotoran-kotoran yang ada dalam usus ayam tersebut ikut termasak. “Akhirnya setelah itu saya pulangkan saja dia kembali ke kampungnya,” kata Kriswati.

Inilah salah satu faktor yang membuat PRT masih tidak dianggap sebagai bagian dari pekerjaan formal. Menjadi PRT dianggap sebagai pilihan pekerjaan paling mudah, tidak perlu pendidikan tinggi, dan tidak membutuhkan bekal keterampilan. Padahal seiring perkembangan teknologi dan semakin banyaknya orang-orang kaya yang mempekerjakan PRT, pembekalan keterampilan rumah tangga amat dibutuhkan.

Rupanya agen kerap memberikan informasi palsu kepada PRT tentang majikan, juga kepada majikan tentang PRT; bahwa PRT-nya sudah terampil dan sebagainya. Berbagai masalah bisa timbul dari sini. “Dalam mengoperasikan alat-alat rumah tangga, apalagi banyak alat-alat modern saat ini kan, dibutuhkan pengetahuan. Memasak pun butuh keterampilan, tidak bisa asal memasak,” ujar Lita lagi. Jika dua hal ini tidak diperhatikan, majikan juga yang rugi. Misalnya saja kasus PRT yang bekerja di rumah Kriswati tadi, yang tidak memiliki keterampilan memasak.

Atau dalam banyak kasus, PRT yang kebanyakan berasal dari desa dan berpendidikan rendah, sering tidak bisa mengoperasikan peralatan rumah tangga modern. Misalnya, kompor gas, mesin cuci, micro wave, dan vacuum cleaner. Ketidakpuasan majikan ini bisa berbuntut kekerasan terhadap PRT, baik kekerasan verbal maupun kekerasan fisik.

Seperti penuturan Rimbo tadi, PRT yang berasal dari agen-agen penyalur bisa menimbulkan berbagai permasalahan. Tidak ada hubungan personal, yang ada hanyalah hubungan kerja majikan dengan karyawan. Sehingga ketika PRT berbuat kesalahan, majikan kesal, dan PRT menjadi rentan kekerasan. “Untuk hubungan PRT yang impersonal seperti ini, memang dibutuhkan perlindungan,” katanya.

Sementara itu Lita menambahkan, dalam RUU PRT nantinya peran agen akan coba diminimalisasi. “Pemerintah harus mengawasi keberadaan agen, operasional mereka seperti apa. Dalam RUU PRT itu intinya kita berusaha meminimalisir peran agen. Kita justru menyarankan agar pemerintah menggunakan Balai Latihan Kerja (BLK) yang ada di setiap kabupaten. Lebih baik orang-orang yang mencari kerja daftar ke BLK, dan BLK yang menyalurkan. BLK ‘kan di bawah Disnaker. Lebih baik dibandingkan melalui agen-agen yang tidak jelas.”

***

Selasa, 23 November 2010

Nelayan Oh Nelayan



Stok BBM subsidi menipis, diperkirakan tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sampai akhir tahun 2010. Akibatnya, pasokan premium dan solar di SPBU banyak dikurangi. Orang-orang antri panjang.

Tapi pagi ini, ada berita yang ironis kulihat di televisi. Mengiris hatiku. Di Ende, Nusa Tenggara Timur, para nelayan membawa perahu mereka untuk antri di SPBU. Mereka bilang, sudah seminggu tak melaut karena tidak dapat pasokan BBM. Jadi mereka ikut antri saja di SPBU, di antara antrian mobil dan motor. Orang marah-marah, mereka bilang nelayan tak seharusnya antri di sana. Sempat ricuh.

Ah, aku sedih. Yang punya motor dan mobil itu kok ya jahat banget sama nelayan, marahin mereka yang ikut antri di SPBU dengan perahu mereka. Padahal mereka amat butuh solar untuk bahan bakar perahu. Kebanyakan nelayan miskin di Indonesia, kalau tak melaut tak makan. Pemerintah juga bagaimana, kok bisa sampai nelayan itu tidak dapat solar selama seminggu, sementara di “darat”, premium dan solar masih dipasok, walau dikurangi.

Kasihan.

Aku makin jelas saja melihat ketidakadilan. Selama ini yang terus diprioritaskan adalah kebutuhan orang-orang “darat”, terutama yang punya mobil dan motor. Kebutuhan nelayan, di sini jelas terlihat, dinomorduakan.

Dan aku, makin jelas saja melihat pemerintah yang kufur nikmat. Betapa tidak, negara kita lebih luas wilayah laut daripada daratnya. Di dalam laut Indonesia, aku yakin ada kekayaan tak terhingga. Tapi lihat, nelayan kita dianaktirikan. Padahal harusnya nelayan disayang-sayang. Difasilitasi dengan baik. Diberikan kehidupan yang lebih baik. Dan, dibantu dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, bagaimana caranya supaya bisa menangkap ikan dengan efektif dan efisien.

Harusnya nelayan tak lagi memikirkan “tak ada solar, tak melaut, tak makan”!

Tega betul pemerintah kita ini. Dengan kekayaan laut kita yang luar biasa, harusnya para nelayan bisa hidup sejahtera. Dengan wilayah laut yang begitu luas, harusnya mereka sudah bisa mengesksplorasi hingga tiap sudut biru Nusantara. Harusnya nelayan tak jadi masyarakat yang termarjinalkan.

Ya, tapi begitulah kenyataannya. Kita sering lupa bahwa negara kita adalah negara maritim. Bukan nelayan yang sejahtera, malah mall dan pabrik saja yang makin menjamur. Mulai dari pabrik rokok lokal sampai perusahaan multinasional, tumbuh subur. Bukan perahu nelayan yang dimanjakan, malah mobil-mobil mewah dan motor saja yang kian hari kian memenuhi jalan-jalan kota.

Sementara nelayan kita seminggu tak melaut, kapal-kapal asing justru setiap hari mencuri ikan di laut kita. Para nelayan makin sengsara. Seperti ayam yang mati di lumbung padi.

Catatan:
Soal ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang perikanan dan kelautan yang dapat membantu nelayan, sepertinya juga belum begitu dimanjakan. Aku jadi teringat perbincanganku dengan salah seorang Guru Besar UPI, Prof. Said Hamid Hasan. Ia pernah bercerita,
“Seorang ibu, doktor berusia 35 tahun, dosen biologi Universitas Sam Ratulangi. Ialah orang pertama di dunia yang berhasil mengembangkan plankton, yang selama ini dianggap tidak bisa diternakkan. Kalau plankton sudah bisa diternakkan maka industri perikanan pun akan maju. Maka ketika dia selesai (program doktornya) apa yang terjadi? Universitasnya (di Jepang) menolak dia untuk kembali ke Indonesia. Mereka menjanjikan gaji dan fasilitas untuk mendukung penelitiannya, supaya dia mau tinggal di Jepang. Ia bilang “Nggak, saya mau pulang, saya mau membangun bangsa saya.” Pulanglah ia ke universitasnya (di Manado), lalu di sana ia hanya diberikan lab (berukuran) 3x2 meter, dan... selesai sudah. Ilmunya habis. Tidak terpakai. “

See? Padahal menurutku, harusnya ilmu perikanan dan kelautan jadi primadona di Indonesia.

Sabtu, 20 November 2010

Benda-benda Kesayanganku...

Semua orang pasti punya benda kesayangan, entah itu bantal, boneka, dompet, atau bahkan kaos kaki. Benda kesayangan itu menjadi sangat berarti, kebanyakan bukan karena mahal harganya atau jauh belinya, melainkan karena benda itu memiliki kenangan atau kenyamanan tersendiri bagi si empunya.

Biasanya, seseorang yang mempunyai benda kesayangan nggak akan rela kehilangan benda itu, betapapun ada yang beli, atau ada yang mau menukar. Mungkin di antara kawan-kawan ada yang punya bantal yang udah buluk, bau iler, tapi nggak bisa tidur kalo nggak pake bantal itu. Atau mungkin ada yang punya dompet berumur puluhan tahun, yang udah nempel “PW” banget di kantong celana.

Aku juga punya beberapa benda kesayangan, yang ingin sekali aku ceritakan di sini. Kadang dengan melihat benda-benda kesayangan seseorang, kita juga bisa sedikit punya gambaran tentang sisi unik orang tersebut. Jadi, benda-benda yang aku sayangi itu di antaranya adalah:

1. Panda
Begitu aku memanggil boneka beruang kuning yang lucu ini. Sederhana, kan? Tapi cerita si Panda ini tidak sederhana. Imut-imut begini, Panda-ku sudah berumur 20 tahun loh! Seumuran denganku.



Jadi ceritanya dulu, waktu aku lahir, Bapak masih tugas di luar negeri. Pulang-pulang, Bapak bawa si Panda ini dari Amsterdam. Dulu ada pita merah di lehernya, dan warnanya tentu saja nggak se-buluk ini, hehe... Aku tambah gede, tapi Panda tidak. Itulah lucunya mainan anak-anak. Selamanya, ia akan jadi sahabat kecil kita.

Ohya, biarpun bentuknya sederhana, tapi Panda punya keunikan. Kalau digerakkan, Panda bisa berbunyi “klining klining”. Seperti ada kerincingan halus di dalamnya. Lucu kan... Sampai sekarang, Panda selalu jadi teman tidurku. Mudah-mudahan kelak juga bisa jadi teman tidur anakku.

2. Selimut Bali
Kalau kalian main ke kamarku dan mendapati sebuah selimut hijau yang lusuh dan agak bau, inilah selimut kesayanganku. Aku lupa sudah sejak kapan ia menyelimuti tidurku. Kalau tidak salah Bapak membelinya di Bali waktu aku umur 3 tahun. Mungkin di antara teman-teman juga ada yang punya kain semacam ini. Adem banget kan bahannya? Makanya aku betah...



Selimut ini memang bahannya enak banget. Kalau dingin, dia menghangatkan. Bahkan kalau lagi panas, menurutku dia juga bisa bikin adem. Tidur nggak tidur, selimut ini sering kupakai. Bukan untuk selimut aja loh, dia juga bisa dipake buat sprei kasur, sarung, alas duduk, eh jadi gorden juga bisa! Selimutku sayaaaang...

Aku males banget nyuci selimut ini. Aku nggak tahan berpisah lama-lama darinya (mulai lebay). Kalo udah diprotes sama orang, baru deh aku cuci dia, dengan berat hati. Di rumah juga ibuku nyucinya selalu tanpa sepengetahuan aku. Jadi rada gimanaaa gitu kalo dicuci. Bukan apa-apa, baunya aja udah bikin nyaman. Itu tuh baunya gue bangeeeet (lebay nggak si gw, haha).

3. Jam Tangan
Jam ini sebetulnya punya Bapak, jadi aku suka gantian pakenya. Aku berasa keren banget kalau pakai jam tangan ini, karena jam ini unik. Merk Citizen, automatic watch. Kenapa automatic watch? Soalnya jam ini nggak pake batre seperti jam-jam lain. Jam ini mengandalkan energi kinetik si pemakai.

Jadi di dalamnya itu ada bandul, yang menghasilkan energi buat si jam. Yang membuat bandul itu bergerak, tentu saja gerakan tangan dari si pemakai. Jadi jam ini harus dipakai terus supaya tetap hidup. Kalau nggak dipakai (atau kita pake tapi kitanya nggak bergerak sama sekali), ya nggak ada yang menggerakkan bandulnya. Ya mati jamnya. Begitchuuuu...



Jam ini membuat aku berpikir, kalau gerakan satu tanganku saja bisa menghasilkan energi untuk sebuah jam, bagaimana dengan gerakan larianku? Bagaimana energi panas tubuhku? Dan... bagaimana energi milyaran manusia lain di dunia? Wow, kalau dipikir-pikir itu adalah energi potensial yang sangaaaat besar ya! Tapi tampaknya di Indonesia ini masih belum banyak pemanfaatan energi manusia itu. Jadi banyaknya energi manusia itu belum dimanfaatkan menjadi bentuk energi lain.

Di stasiun-stasiun kereta di Jepang, ada satu contoh pemanfaatan energi manusia. Layar-layar papan pengumuman digerakkan dengan menggunakan listrik yang dihasilkan oleh langkah-langkah kaki calon penumpang yang ada di stasiun tersebut. Ini bisa jadi solusi baik untuk mengantisipasi krisis energi. Eh kok jadi ke sana-sana ya? Hihi... Ya, seringkali benda kesayangan membuat kita berpikir, bahkan memberikan inspirasi.

Itulah kawan, tiga benda kesayanganku yang akan jadi kesayanganku selamanya. Ada yang berusia sama denganku, ada yang nggak rela aku cuci, dan ada juga yang memberikanku inspirasi. Mereka jadi bagian dalam cerita hidupku. Bagaimana dengan cerita unik tentang benda kesayanganmu kawan?

Selasa, 16 November 2010

"Not Responding"

Lima hari terakhir ini, padat sekali. Hectic. Waktuku padat dengan agenda, otakku padat dengan pikiran. Padahal perutku kosong terus, karena memang beberapa hari terakhir ini aku puasa Dzulhijjah. Hari ini aku puasa Arofah. Kau juga kan?

Rasanya beberapa hari terakhir ini aku dikendalikan oleh tugas-tugasku. Mereka mencekik aku, mendesakku. Argh! Aku ingin bercerita! Tapi sudah dua hari ini, orang yang biasanya kujadikan tempat bercerita- seperti enggan mendengarkan aku.

Ah, ya sudah lah. Aku menulis saja. Bercerita kepada siapa saja. Dengan menulis, aku merasa memiliki waktu dengan diriku sendiri. Aku menemukan otonomi diriku kembali. Izinkan aku menulis kawan, dan biarkan tulisan ini bercerita tentang hariku yang melelahkan. Mudah-mudahan kalau sudah kukeluarkan lewat tulisan, segala kepenatan yang memenuhi otakku bisa sedikit hilang. Oke, aku cerita, ya.


Kamis, 11 November 2010.
Saat perkuliahan pelaporan mendalam, dosenku Pak Sahala Tua Saragih berbicara panjang lebar tentang sumber-sumber dalam laporan investigasi. Ada ring 1, ring 2, dan ring 3. Ring 1 adalah lingkaran pertama, orang-orang yang terkait langsung dengan peristiwa. Mereka harus dicari paling awal. Misalnya, dalam sebuah kasus pencurian, ring 1 sang pelaku atau korban. Ring 2 adalah lingkaran kedua, biasanya orang-orang yang tidak terkait secara langsung dengan peristiwa, namun mengetahui peristiwa tersebut, misalnya saksi mata. Sedangkan ring 3 adalah lingkaran paling luar. Mereka memang tidak terkait dengan suatu peristiwa, namun mereka memiliki pengetahuan yang cukup untuk menganalisis peristiwa tersebut. Orang-orang yang termasuk dalam ring 3 biasanya adalah para pakar. Misalnya, seorang sosiolog yang memaknai realitas, mengapa pencurian masih kerap terjadi di Indonesia.

Di akhir perkuliahan, dosenku menambahkan, deadline dimajukan.

Aku bengong.

Ini sudah H-14. Aku sudah menjelajah hingga ke ring 2 dan ring 3, para pakar yang kuwawancarai sudah berbicara ke sana ke mari. Masalahnya, AKU BELUM DAPAT RING 1! Astaga Tuhan...

Aku jadi berpikir, apakah dimungkinkan dalam sebuah laporan mendalam, ring 1 itu belakangan? Habisnya, justru ring 1 itu paling susah, tauk...! Huhu...
Udah mana deadline dimajukan, ckckck.

Oh, aku baru ingat ada tugas ekonomi politik media. "Hari ini kita wawancara dengan Kepala Pemberitaan RRI Bandung," kata Agnes. Yah, padahal aku baru aja mau ngajak Hani untuk liputan buat indepth. Ya sudah, berarti habis dari RRI kita kejar sumber indepth itu.

Tapi ternyata kami selesai liputan pukul 3 sore. Dan kantor instansi yang ingin kukejar untuk pelaporan mendalam tutup menjelang pukul 4. Aku telepon ke sana. "Besok aja deh Mbak, sekarang sudah sore, sedikit waktunya untuk wawancara." Sampai Jatinangor malam hari.

Sampai kosan, aku langsung mengerjakan transkrip wawancara. Hingga pukul 1.30 dini hari.


Jumat, 12 November 2010
Usai kuliah Jurnalisme Kontemporer, aku langsung menuju Bandung, mengejar sumber yang aku lewatkan hari kemarin. Nyasar. Sumpah, nyasar. Salah naik angkot. Salah alamat. Hingga pukul 4 aku belum juga sampai. Aku panik, kalau bukan sekarang kapan lagi? Aku telepon lagi ke sana, aku mohon-mohon sama Mbaknya, "Mbak udah mau pulang ya? Please Mbak, tunggu aku, sebentaaar aja." Untungnya dia baik dan mau menungguku.

Setelah ngobrol-ngobrol ke sana ke mari, ternyata AKU SALAH SUMBER. Dowewwww...

Intinya dia tidak lagi mengurusi hal-hal yang aku tanyakan. Jadi dia pun tidak punya data-data yang aku butuhkan. Intinya, apa banget deh perjuangan gue hari ini... -__-"

Sampai di Jatinangor pukul 7. Hujan-hujan, aku langsung menuju rumah Hani. Mau curhat. Sampai malam membicarakan nasib dan kelangsungan laporan mendalam kami. Aargghh...we still have a lot of things to do!

Di kosan, aku belum mau tidur. Masih kepikiran nasib laporan mendalamku. Aku menyalakan laptop, tapi belum juga 30 menit, rupanya aku terlalu lelah untuk begadang. Aku pun tertidur dengan lelapnya di depan laptopku yang masih menyala.


Sabtu, 13 November 2010
Pukul 3 pagi aku terbangun. Laptopku masih menyala. Ah, aku kan mau mengerjakan tulisan laporan mendalamku. Akhirnya aku mulai membaca tumpukan kertas bahan tulisanku. Aku rangkai kata satu-satu. Sambil makan sahur. Dipotong solat subuh sebentar, kulanjutkan lagi menulis, sampai pukul 1 siang.

Lalu Hani SMS, katanya ia dan kawan-kawan sudah menungguku di rumahnya untuk menyelesaikan tugas ekonomi politik media. Hasil wawancara dengan pihak RRI Bandung kemarin harus kami analisis.

Sampai di rumah Hani pukul 3, kami nggak berhenti mikir sampai pukul 10 malam. Astaga, sumpah, kajian ekonomi politik media tuh rumit banget... Sumpah, aku mumet. Memang selama di rumah Hani tuh aku suka "not responding". Maklum lah, aku sudah bangun dari jam 3 pagi mengerjakan laporan mendalam sampai jam 1 siang, lalu langsung diskusi analisis ekonomi politik media di RRI Bandung. Jadi aku masih suka loading lama. Aku lupa solat, lupa buka puasa, lupa ini-itu. Suka bengong tiba-tiba. Ah, dodol banget lah.

Sampe kosan, aku teringat tugas kapita selekta komunikasi yang BANYAK banget. Aku pun berusaha nyicil ngerjain, sampai pukul 2. AKU MULAI GILA.


Minggu, 14 November 2010
Pagi-pagi aku sudah berjibaku dengan cucian yang numpuk. Hari ini aku masih puasa. Pukul 11 pagi, aku ke rumah kerabatku di Antapani, Bandung. Ada titipan yang harus kuantarkan. Huh...lumayan juga, panas, dan macet. Eh tapi pulangnya malah kehujanan. Sampai Jatinangor pukul 3 sore, aku beli buku yang akan kugunakan untuk mengerjakan tugas. Aku sempat hampir pingsan. Lemas betul rasanya. Sudah mual mau muntah juga. Aku pun terduduk di pinggir jalan, mencoba menetralisasi semua gejolak ini (haha lebay ya bahasanya).

Di kosan, aku langsung tepar. Kepala sakit, perut mual, keringat dingin, badan agak hangat tapi aku sendiri kedinginan. Aku mencoba tidur, sampai magrib datang. Malamnya, Ami SMS, ternyata tugas ekonomi politik media kemarin masih banyak kekurangan. Astaga... Padahal niatku malam ini mau mengerjakan kapita selekta komunikasi dan tulisan laporan mendalam. Yah, mau tak mau.

Sambil mengerjakan analisis ekonomi politik media, aku mengerjakan juga kapita selekta komunikasi. Soalnya ada yang mirip-mirip. Tentang wacana, ideologi dan hegemoni media massa. Canggih kan aku mengerjakan dua sekaligus? hahaha... Padahal itu kepala udah kayak apa tauk rasanya. Penuh sama Gramsci, Althusser, Bordiaeu, Mosco...


Senin, 15 November 2010
Pukul 3 pagi aku terbangun. Ah ya, aku kan mau puasa Arofah, sekalian sahur saja. Aku menyalakan laptop lagi, membuka file ekonomi politik media yang belum rampung. Sambil sesekali melirik tugas kapita selekta komunikasi. Pelaporan mendalam...duh, nanti dulu deh ya. (Padahal itu sama sekali nggak seharusnya dipinggirkan)

"Han, nanti ke kampus pagi yuk. Kita satuin makalah ekopol nih," aku mengirim SMS kepada Hani. Pukul 7.30 aku sudah mandi, siap ke kampus buat menyatukan dan menge-print makalah. Eh, tiba-tiba Andini SMS, "Ibunya udah ada."

Aku bengong. Apaan sih?

ASTAGA. Seminar kan juga hari ini, pukul 8? Oh noooo...
Jadilah aku terburu-buru naik ojek. Langsung ke ruang seminar, langsung mendengarkan presentasi makalah semiotika dan studi korelasional. Habis itu didiskusikan. Ya ampun, padahal aku presentasi ekopol pukul 10.20, dan ini makalahku belum di-print!

Aku pun izin ke luar ruangan seminar. Otakku rasanya mumet betul. Masih juga mabok ekopol tadi pagi, sudah diajak berdiskusi teori semiotika dan studi korelasional. "Haaan...aku cuma izin keluar sebentar..." aku menemui Hani di gedung 5. Nggak bisa lama-lama nih. "Iya Ken, biar aku aja yang selesain, kau masuk aja lagi," waaaah baiknyaaaaa...

Pukul 10.20, aku dan kawan-kawan mempresentasikan hasil analisis kami tentang ekonomi politik media RRI Bandung. Komodifikasi, spasialisasi, strukturasi. Hegemoni, kontra hegemoni. daaaann sebagainyaaaaa...

Ternyata makalah kami masih banyak kekurangan! Kata Pak Adi, dosen kami, "Minggu depan saya tunggu ya REVISI makalahnya." Astaga, ternyata perjuangan kami belum berakhir.

Tengtong...tengtong...
Aku loading dulu.
Not responding.

Aku bengong aja selama beberapa detik. Mungkin menit. Keluar kelas, di mushola, Hani tiba-tiba bilang, "Ken, si Ibu Dewi itu nggak bisa dihubungin... Dia, bla bla..." Not responding. Terus tiba-tiba si Lala pamer dengan bangganya, "Tugas kapita selekta-ku udah selesai dong..." Ha? Not responding again. Sumpah, loading-ku lama banget kali ini.

Aku nggak tau mana dulu yang harus didengarkan. Mana dulu yang harus dipikirkan. Di sini aku merasa benar-benar seperti robot yang sedang error. Kata Hani, ya ampun Ken, solat dulu gih. Kau kacau betul.

Ah iya, aku solat dulu ah. Usai solat, aku tiba-tiba pengen bilang, "Han, creambath yuk..." Sekarang giliran Hani yang bingung.

Rabu, 10 November 2010

"Ruang Kerja"

Beberapa waktu yang lalu aku sudah cerita tentang salah satu sudut favoritku di kamar. Masih ingat tulisan “Suatu Pagi dari Jendela Kamarku”? Ya, salah satu sudut favoritku di kamar ini adalah jendela di samping tempat tidur itu. Dari sana aku bisa lihat banyak hal. Seringkali dapat inspirasi.

Nah, kali ini aku ingin tunjukkan kepada kalian satu lagi sudut favoritku di kamar kosku yang nyaman. Kalau di depan jendela aku lebih sering terdiam sambil merenung, di sudut yang satu ini aku lebih banyak kerja. Ngetik ngetik ngetik, mikir mikir mikir. Jeng jeng... inilah sudut favoritku itu:



Ini mirip ruang kerja. Memang di sinilah tempatku bekerja (baca: ngetik, begadang, ngerjain tugas). Ya, sebagai mahasiswa jurusan jurnalistik semester 7, aku banyak menghabiskan waktu di sini. Dibanding tempat tidur, rasanya aku lebih akrab di sini, hehehe...

Ruang kerjaku ini terletak di samping pintu. Kalau pintu kamarku terbuka, kau hampir pasti bisa melihatku di sana. Lihat, ada sebuah meja yang dihias kertas warna-warni. Di sana, laptopku tersayang si Acer Tokcer duduk dengan manisnya, berdampingan dengan dispenser. Ya...jujur saja, duduk lama-lama depan laptop bikin males, atau lupa minum. Jadi, kuletakkan saja dispenser itu tepat di samping laptop. Kalau aku sedang berkutat dengan tugas dan mulai ngantuk, tinggal CTEK!! Dan beberapa menit kemudian aku langsung bisa membuat kopi, teh, energen, atau bahkan masak mi instan. Atau semuanya sekaligus. Praktisnyooo... Di sini sekarang kau bisa lihat ada biskuit cemilan. Tapi percayalah, itu jarang terjadi. Paling sebulan dua kali, ketika aku lagi kaya.

Di bawah meja itu, ada tumpukan kertas dan buku, biasanya bahan-bahan tulisan yang sedang kukerjakan. Di kolongnya ada banyak sekali kabel. Ada charger hp, kabel laptop, setrikaan, USB kamera... haduuuh baru sadar, berantakan sekali di sini. Iya iya, besok kubereskan deh.

Nah, buku-buku milikku numpuk di sudut ini. Di samping kiri meja, ada rak buku mini. Di atasnya, ada rak buku juga. Pokoknya bagiku, di mana laptopku berada, di situ buku berkumpul (kadang berserakan). Hohoho...

Lagi, sebagai mahasiswa jurusan jurnalistik, aku harus akrab dengan kalender. Maka kugantungkan kalender besar tepat di atas meja. Angka tanggalnya tak jauh dari jangkauan mataku. Biar kelihatan terus. Kalendernya penuh coret-coret. Sekarang sudah bulan November, di tanggal 26 terlihat coretan besar dengan spidol ungu bertuliskan: DEADLINE INDEPTH. Ya ampun.

Tak lupa, ada karpet lucu yang melindungi diriku dari masuk angin akibat duduk lama-lama di atas lantai dingin. Aku sering banget ketiduran di sini kalau lagi begadang mengetik. Itu tuh, ada si Pisang yang setia jadi bantal daruratku.

Di rak buku atas, aku menggantungkan sebuah kantung kain transparan berisi kuntum-kuntum kenanga dan melati. Ku ambil dari halaman depan rumah. Wangi sekali. Menenangkan, terutama kalau sudah mumet berpikir. Ini namanya aroma therapy alami! Seringkali kawan yang main ke kamarku ketakutan saat mencium aroma wangi itu. Mereka menyangka yang aneh-aneh. Oalaah... aku tunjukkan saja kantung bunga itu, mereka tetap saja merasa aneh denganku. Yah sudahlah, aku memang suka kok harum bunga. Dari dulu, aku suka memetik melati dan kuletakkan di bawah bantal.

Sudut favoritku ini penuh warna-warni. Mejanya, rak bukunya, kalendernya, dan karpetnya. Warna-warni ceria penting sekali bagi semangatku. Terutama warna kuning dan oranye. Membawa energi positif. Eh kau tahu tidak, sebenarnya di bawah meja itu kusimpan juga sekotak krayon. Biar kalau lagi bosan sama laptop, aku banting setir aja jadi pelukis dadakan. Well...nggak melukis juga sih. Hanya coret-coret. Pokoknya warna-warni, aku suka warna-warni. Dan itulah sebabnya kusukai sudut ini.

Sabtu, 06 November 2010

Perempuan dan Laki-laki, Rival atau Kawan?

Rabu (17/12) lalu saya sempat mewawancarai Ibu Yusi Fitri Mardiah, caleg DPR-RI dari Partai Keadilan Sejahtera mengenai keterwakilan perempuan dalam politik. Saya sudah mempersiapkan banyak pertanyaan, termasuk soal kuota 30%. Dalam pikiran saya, politisi perempuan itu pastilah seorang feminis yang bakal ngotot soal keterwakilan perempuan itu. Jadi memang, pertanyaan-pertanyaan saya persiapkan untuk menghadapi orang feminis.

Tapi ternyata saya salah besar. Bu Yusi yang ramah itu bukan perempuan yang mendukung kuota 30% itu. Menurutnya hal itu cenderung dipaksakan, mengingat kultur perempuan Indonesia yang umumnya masih tradisional dan belum berminat untuk terjun ke dunia politisi praktis. Menurutnya, kehadiran 30% minimal perempuan di parlemen itu sebenarnya tidak terlalu penting. Dan tidak akan ada masalah kalaupun laki-laki lebih banyak, kalau memang mereka berkualitas. Jepang, Malaysia, itu merupakan negara yang tingkat keterwakilan perempuan di parlemennya rendah, dibandingkan dengan negara-negara seperti Somalia dan Nigeria. Artinya, tidak ada relevansi antara jumlah keterwakilan perempuan di parlemen dengan kesejahteraan rakyat. ”Kita harus percaya, laki-laki juga akan melindungi kita, mewakili kita memperjuangkan hak-hak kita. Rasulullah SAW, beliau seorang laki-laki tapi beliau sangat peduli dengan perempuan. ”

Pertamanya tentu saja saya sewot. “Anda meragukan kualitas perempuan Indonesia?” ”Laki-laki zaman sekarang ‘kan jarang yang seperti Rasulullah SAW?” begitu kata saya. Tapi kemudian ia melontarkan sebait pernyataan lembut yang menohok batin saya.

”Kenapa sih kita selalu menganggap laki-laki itu sebagai rival kita? Apakah dahulu Hawa diciptakan untuk bersaing dengan Adam? Tidak! Hawa diciptakan untuk menemani Adam, untuk melanjutkan kehidupan di muka bumi, bersama-sama. Laki-laki itu saudara kita, pasangan kita, kawan kita! Bukan rival kita, sama sekali. Kita harus waspada dengan pemikiran feminisme Barat yang sepertinya akan mengangkat derajat kita, tapi sesungguhnya ia sedang memecah belah kita. Seperti contoh keterwakilan perempuan di parlemen yang ngotot harus memenuhi kuota 30%. Sebenarnya apa sih yang ingin kita capai, kesetaraan perempuan atau kesejahteraan rakyat Indonesia? Mengapa perempuan menjadi begitu egois? Bukankah seharusnya kita maju bersama laki-laki, mendukung mereka, saling melengkapi dan saling menguatkan?”


Yang saya catat juga, adalah perkataan Ibu Yusi yang demikian:

"Kata Rasulullah SAW sebaik-baik laki-laki adalah yang paling baik kepada keluarganya. Laki-laki itu bukan rival kita, mereka adalah teman kita, saudara kandung kita. Kalau kita menganggap laki-laki sebagai rival, kemudian kita membenci mereka, hancurlah dunia ini. Seperti yang dialami para feminis barat yang membenci kehamilan, melahirkan, dan menyusui, karena mereka menganggap itu sebagai salah satu bentuk penindasan oleh kaum laki-laki. Akibatnya, di negara-negara Barat tingkat kematian lebih tinggi daripada angka kelahiran.

Sangat berbeda dengan kita yang menganggap kehamilan, melahirkan, dan menyusui adalah saat-saat paling menakjubkan bagi seorang perempuan. Betapa tidak, kita telah diberikan kepercayaan oleh Allah untuk melahirkan keturunan dan melanjutkan kehidupan. Itulah sebabnya gerakan feminis di Barat mendapatkan perlawanan yang cukup kuat dari banyak kelompok. Contohnya dari film Sex and The City, yang menggambarkan betapa menderita dan hampanya kehidupan seorang feminis. Kita tentu tidak ingin perempuan negeri kita menjadi seperti itu ‘kan? Hawa diciptakan untuk menemani Adam, bukan untuk bersaing dengannya.

Tapi di Indonesia sekarang ini lucu, menyusui anak saja harus diatur dengan undang-undang. Mengapa? Nah, itulah hasil pengaruh dari pemikiran feminisme Barat. Sepertinya ingin mengangkat derajat perempuan, namun sebenarnya secara perlahan akan menghancurkan dan memecah belah kita. Aneh bin ajaib, perempuan zaman sekarang untuk menyusui saja harus diatur undang-undang. Padahal dulu ibu kita, tak pernah perhitungan sedikit pun, walau harus menyusui kita sampai dua tahun lamanya."

Wah...ya, agaknya aku harus lebih kritis terhadap wacana feminisme...
Bagaimana pendapatmu kawan?


Ken Andari
17 Desember 2008

Bahasa "Alay" di Kalangan Remaja

Akhir-akhir ini di kalangan anak muda muncul sebuah cara baru dalam berbahasa tulisan, yang lebih dikenal dengan istilah “bahasa alay”. Bahasa alay muncul dan berkembang seiring dengan pesatnya penggunaan teknologi komunikasi dan situs-situs jejaring sosial.

Bahasa alay ini mengingatkan kita pada saat maraknya bahasa gaul. Bahasa gaul adalah dialek bahasa Indonesia nonformal yang digunakan oleh komunitas tertentu atau di daerah tertentu untuk pergaulan (KBBI, 2008: 116). Bahasa gaul identik dengan bahasa percakapan (lisan).

Kemudian kini hadir istilah “bahasa alay”. Kata “alay” bisa diartikan sebagai anak layangan, anak lebay (berlebihan), dan sebagainya. Istilah ini hadir setelah di facebook semakin marak penggunaan bahasa tulis yang tak sesuai kaidah bahasa Indonesia oleh remaja. Hingga kini belum ada definisi yang pasti tentang istilah ini, namun bahasa ini kerap dipakai untuk menunjuk bahasa tulis. Dalam bahasa alay bukan bunyi yang dipentingkan tapi variasi tulisan.

Kemunculan bahasa alay ini awalnya memang bukan di facebook, melainkan ditandai dengan maraknya penggunaan singkatan dalam mengirim pesan pendek atau SMS (short message service). Misalnya, “u gi di humz gk?” yang berarti “kamu lagi di rumah nggak?”, atau “aq lum mam” yang berarti “aku belum makan”. Tujuan awalnya adalah untuk mengirimkan pesan yang singkat, padat, dan dapat menekan biaya.

Namun seiring semakin banyaknya pengguna bahasa alay, variasi bahasa ini pun semakin banyak dan berani. Mulai dari penulisan yang menggunakan huruf besar kecil (sEpErTi iNi), sampai ke kombinasi angka, huruf, dan simbol-simbol lain (5ep3rt! In1). Kata-kata dalam bahasa alay tidak mempunyai standar yang pasti, tergantung mood atau teknik si pembuat kata.

Peranan Media Komunikasi
Menjamurnya internet dan situs-situs jejaring sosial juga berdampak signifikan terhadap perkembangan bahasa alay. Penikmat situs-situs jejaring sosial yang kebanyakan adalah remaja, menjadi agen dalam menyebarkan pertukaran bahasa alay. Tulisan seorang remaja di situs jejaring sosial yang menggunakan bahasa ini, akan dilihat dan bisa jadi ditiru oleh ribuan remaja lain.

Saking dahsyatnya penyebaran penggunaan bahasa alay, di internet saat ini bahkan sudah tersedia sebuah situs yang disebut dengan “alay generator”. Yaitu sebuah situs yang bisa menerjemahkan penulisan bahasa Indonesia yang benar ke dalam penulisan ala bahasa alay. Bahkan situs ini juga dapat diunduh lewat telepon seluler.

Sebetulnya bahasa yang menyimpang dari bahasa baku seperti ini, tidak hanya ada di Indonesia. Di luar negeri, bahasa alay lebih dikenal dengan leet speaking atau L337. Bahasa ini berisi tentang berbagai macam kombinasi karakter dengan tujuan untuk menjaga kerahasiaan sandi. Leet sangat populer sekitar tahun 1980.

Leet berasal dari kata "elite". Awalnya, Leet speaking digunakan oleh para hacker dan gamer online. Hacker menggunakan Leet speaking ini untuk berkomunikasi dengan hacker lain. Tujuannya, agar kerahasiaan pesan bisa terjaga, karena tidak setiap orang bisa membacanya.

Penggunaan leet ini awalnya untuk mengelabuhi teks filter yang ada di IRC yang digunakan untuk menyaring kata-kata kotor dan porno. Contoh bahasa leet “joo” artinya you, “the” jadi t3h dan masih banyak lagi.

Mengapa Remaja?
Ada dua hal utama yang menjadi perhatian remaja, yaitu identitas dan pengakuan. Penulisan bahasa dengan ciri khasnya bisa jadi pembentukan kedua hal di atas. Menurut Derrida bahasa merupakan penginterpretasian sebuah tanda. Bahasa merupakan simbol utama yang diproduksi dan dikonsumsi manusia. Bahasa merupakan muara dari imajinasi, pemikiran, bahkan konsep realitas dunia.

Menurut Lina Meilinawati, pengamat bahasa dari Fakultas Sastra Indonesia Unpad, ada dua hal alasan utama remaja menggunakan bahasa tulis dengan ciri tersendiri (alay), “Pertama, mereka mengukuhkan diri sebagai kelompok sosial tertentu, yaitu remaja. Yang kedua, ini merupakan sebuah bentuk perlawanan terhadap dominasi bahasa baku atau kaidah bahasa yang telah mapan,” jelasnya. Artinya, remaja merasa menciptakan identitas dari bahasa yang mereka ciptakan sendiri pula.

Lina mengungkapkan, remaja sebagai kelompok usia yang sedang mencari identitas diri memiliki kekhasan dalam menggunakan bahasa tulis di facebook. Ada semacam keseragaman gaya yang kemudian menjadi gaya hidup (lifestyle) mereka.

Remaja yang masih labil dan gemar meniru, sangat mudah tertular dan memilih menggunakan bahasa ini daripada menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. “Apalagi ada anggapan bahwa bahasa ini adalah bahasa gaul, sehingga orang yang tidak menggunakannya akan dianggap ketinggalan jaman atau kuno,” ujar dosen Fakultas Sastra Unpad ini.

Menurut Owen (dalam Papalia: 2004) remaja mulai peka dengan kata-kata yang memiliki makna ganda. Mereka menyukai penggunaan metafora, ironi, dan bermain dengan kata-kata untuk mengekspresikan pendapat, bahkan perasaan mereka. Terkadang mereka menciptakan ungkapan-ungkapan baru yang sifatnya tidak baku. Bahasa seperti inilah yang kemudian banyak dikenal dengan istilah bahasa gaul atau bahasa alay.

Indra Sarathan, dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran berpendapat, munculnya fenomena bahasa alay di kalangan generasi muda adalah sebuah bentuk pemberontakan. Pemberontakan hanya akan terjadi jika ada sesuatu yang salah. Lalu apa yang salah?

“Bukan karena bahasa Indonesia yang kaku, melainkan metode pembelajaran di kelas yang mungkin kaku. Padahal tata bahasa Indonesia termasuk yang fleksibel dan mudah dipelajari,” ujarnya.

Sobana Hardjasaputra dalam sebuah tulisannya yang berjudul “Bahasa Nasional yang Belum Menasional” menyebutkan sejumlah hal yang menyebabkan bahasa Indonesia bisa semakin “tidak menasional”, di antaranya pengaruh bahasa media massa dan “bahasa gaul” bagi kalangan remaja.

Oleh karena terbiasa menggunakan “bahasa gaul”, dalam pembicaraan formal pun para remaja lupa untuk berbicara dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Inilah yang gawat. Selain itu, pengaruh budaya Barat yang sulit dibendung, akibat perkembangan teknologi juga akan berpengaruh terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang semakin tidak merakyat.

Fenomena lain ditunjukkan pada saat ujian negara atau ujian nasional. Bahkan pada UN April lalu, banyak siswa SMP dan SMA jatuh nilainya pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Jika hal ini dibiarkan, bagaimana jadinya bahasa Indonesia nanti di tangan mereka? Mereka saat ini pun lebih suka menggunakan bahasa gaul atau bahasa alay yang jauh melenceng dari kaidah bahasa Indonesia.

Bahasa Alay versus Bahasa Indonesia
Kurangnya pemahaman remaja akan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar serta minimnya kesadaran mereka dalam menggunakannya, sedikit-banyak akan berdampak terhadap eksistensi bahasa Indonesia, khususnya yang formal. Masih banyak orang Indonesia yang cenderung tak peduli dengan pentingnya bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa.

Berdasarkan sumber kutipan dari http://mgmpbismp.co.cc/2009/06/17/pembusukan-penggunaan-bahasa-indonesia/, kerusakan bahasa bisa disebabkan oleh tiga hal yaitu: pertama, pembusukan yang dilakukan oleh media, baik cetak maupun elektronik. Kedua, pembusukan yang dilakukan oleh kaum elite di berbagai lapis dan kini yang seharusnya menjadi anutan sosial dalam berbahasa. Ketiga, pembusukan akibat merebaknya gejala tuturan Indonesian-English.

Hal ini berkaitan dengan hasil studi Lina Meilinawati yang menemukan beberapa kecenderungan dalam bahasa tulis alay. Pertama, ada penyingkatan dengan penghilangan huruf vokal, contoh “Gk tau tuh.tp bisa jd jg”. Kedua, penulisan huruf kapital yang tidak semestinya, contoh “hrZ dOnk Bro..” Ketiga, penulisan huruf dan tanda baca yang berlebihan, contohnya “muaachhh,, wkwkwkkwk!!” Keempat, ada penulisan angka dalam kata, contohnya “nah 9t dunk5”. Penulisan berdasarkan kesamaan bunyi, contohnya “hmm gpp jugga sichh, hhoho.”

Nah, mungkin bisa ditambah juga dengan penulisan kata bahasa Inggris yang tidak sesuai dan tidak pada tempatnya. Contoh: “Thx bgdzz yuaa..” atau “u ada d humz gag?” atau “gut nait...naiz dlimzz beibh.” Soal media massa sebagai panutan utama bagi bahasa Indonesia yang baik dan benar, itu sudah pasti. Karena seperti dikatakan tokoh bahasa kita Remy Sylado, media massa adalah guru pertama masyarakat dalam belajar bahasa Indonesia. Bukan guru, bukan sarjana bahasa.

Perusak atau Sekedar Variasi?
David Crystal dalam bukunya Texting: The Gr8 Db8, mencoba menjawab kenapa orang gemar mengirim pesan pendek dengan cara menyingkat-nyingkat tulisan. Menurutnya, orang suka menulis demikian karena menganggapnya sebagai sebuah permainan kreativitas.

Ia juga mengatakan bahwa penggunaan singkatan bukan hanya ada sejak zaman telepon genggam ataupun jejaring sosial. Dalam surat resmi pun dari dulu sudah ada inisial ”A.S.A.P” (sesegera mungkin), ”R.S.V.P” (mohon jawaban), atau ”cc” (tembusan).

Meski begitu, David Crystal yang juga seorang linguis profesional mengaku tidak cemas dengan fenomena perubahan penulisan bahasa ini. Sebab, kata Crystal, fenomena ini tak lebih dari sekedar percik buih dalam samudra bahasa. Lagi pula, sejak dulu manusia memang senang bermain-main dengan bahasa, dan sampai sekarang kita masih bisa saling berkomunikasi dengan baik.

Indra Sarathan juga berpendapat, fenomena ini tak perlu dikhawatirkan. Karena menurutnya, bahasa alay adalah bahasa bagi komunitas alay. Jangan ditempatkan sebagai bagian dari bahasa Indonesia. “Bahasa alay adalah bahasa alay, bukan bagian dari bahasa Indonesia atau bahasa Indonesia yang salah. Bahasa alay berkembang tanpa terikat dengan bahasa Indonesia,” jelasnya. Karena bukan bahasa Indonesia, tentu saja bahasa alay tidak perlu mengikuti kaidah bahasa Indonesia serta tidak digunakan dalam tulisan formal, artikel ilmiah dan tulisan publik. Bahasa alay hanya untuk lingkungannya sendiri.


Fenomena penggunaan bahasa gaul atau bahasa alay dalam masyarakat sebenarnya sah-sah saja jika digunakan sesuai dengan porsinya dan tepat sasaran. Masalahnya sekarang, penggunaan bahasa gaul atau bahasa alay yang populer dikalangan remaja merusak tatanan dan mengancam eksistensi bahasa Indonesia di masa mendatang. Mereka lebih suka menggunakan bahasa gaul yang bebas dan tidak mempunyai aturan daripada menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.