Kamis, 10 Juli 2014

Pelajaran Setelah Menikah (3) Tentang Berbagi Peran


Sejak sebelum menikah, aku sudah punya kriteria lelaki yang bakal jadi suamiku. Nomor satu, TIDAK PATRIARKIS. Ini sangat penting buatku, tipikal perempuan yang punya self-esteem tinggi. Dulu, kalau jalan sama cowok aku sering bayar makananku sendiri, aku buka pintuku sendiri, dan aku nggak masalah kalau nggak dianter pulang. I can do it all by myself. Makanya aku enggak banget sama cowok yang pikirannya sempit, yang buat dia kerjaan istri tuh sebatas dapur-sumur-kasur; aku pergi pagi pulang malam, buatkan aku kopi pagi-pagi dan pijitin aku di malam hari. Terus yang nuntut aku harus hamil dan punya anak. Kalo nggak bisa ngasih anak, minta poligami. Beuh. Minta digampol.

Alhamdulillah Abangku nggak gitu. Itulah kenapa aku memilihnya jadi suamiku 

Saat ini aku masih bekerja jadi wartawan, sesuatu yang sangat aku sukai. Abang tau aku enjoy sama kerjaanku, jadi dia nggak pernah menyinggung aku untuk berhenti kerja dan jadi full time wife yang ngurus rumah. Dia bahkan rela jauh-jauh ke kantornya, karena kami memilih tempat tinggal yang lebih dekat ke kantorku. Kadang dia antar aku wawancara sampai malam. Aku sangat bersyukur.

Sampai seminggu menikah, dia masih pegang kendali di dapur. Aku belanja, dia yang masak. Berapa banyak sih istri yang bawa bekal hasil masakan suaminya ke kantor? Well that's me :D Lalu lama-lama aku belajar juga. Abang pun nggak segan nyuci piring, buang sampah, beres-beres. Biasa aja. Kalo aku males nyuci, ya tinggal taro aja di laundry. Kalo aku males belanja, ya nanti masak mi atau sarden atau telor. Santey lah pokona.

Lagipula, dengan bantuin pekerjaan rumah tangga Abang jadi tau problem-problem yang ada di dapur. Misal, karena dia bantuin aku buang sampah dia jadi tau betapa banyak sisa makanan yang terbuang dan bikin tempat sampah jadi bau. "Duh kita berdua aja sampahnya banyak banget ya Dek," besok-besok dia jadi aware saat masak (masak secukupnya), dan saat makan (dihabiskan). Dan jadi inisiatif bikin keranjang takakura buat sampah organik. Itulah, jadi pemimpin rumah tangga pun kamu harus turun tangan dan memahami sendiri problem yang ada di grassroot (baca: dapur) hahahaha :D

Tapi kita terlanjur hidup di lingkungan patriarkis jadi beberapa orang mungkin agak kaget gitu ketika mengetahui suamiku turun tangan di dapur atau saat tahu bahwa aku nggak segitunya ngurusin rumah. Kadang ada juga yang bilang “Kamu bukannya harus pulang lebih dulu, beres-beres sebelum suamimu datang?” atau “Emang nggak papa sama suami lo kalo lo pergi?” -___- Anyway, aku pun pernah kesel banget saat ibu nyuruh aku nemenin Abang makan di meja makan, ngambilin minum (sampai sini aku gak masalah) dan ngambil air di mangkuk kecil untuk dia cuci tangan (!!!) Why would I do that?? Wastafel juga nggak jauh-jauh amat. Aku bete banget tuh. Aku nggak suka ketika ada orang lain yang menuntutku melakukan itu. Seolah-olah aku harus pulang lebih cepat dan beres2 rumah padahal aku juga lagi deadline, seolah-olah aneh banget ketika suamiku masak atau pegang mixer. He loves cooking so what...??

Tuntutan-tuntutan seperti itulah yang sering bikin aku sebel sendiri. Bukan dari Abang, tapi dari lingkungan. Walau suami sebenernya santai, tapi pandangan demikian dari lingkungan kerap membuatku sebagai perempuan jadi merasa bersalah ketika nggak melakukan hal-hal itu. And I hate that feeling.

Sampai suatu hari aku bilang sama Abang: “Abang, aku benci kenapa aku merasa bersalah kalau aku bangun siang dan males belanja, nggak masak. Aku juga benci, kenapa aku harus merasa bersalah kalau lagi banyak kerjaan dan aku nggak sempat nyetrika bajumu. Aku benci kenapa aku merasa bersalah kalau aku pulang malam dan kamu di rumah sendirian. Kenapa aku harus merasa bersalah, Abang?”

#drama

Huft. Usia kami terpaut 7 tahun, dengan karakter dan latar belakang yang sangat berbeda. Aku nih anak manja yang hidupnya serba sempurna dan selalu dikelilingi orang-orang tersayang. Sedangkan Abang orang rantau yang biasa sendiri dan udah mengalami berbagai fase perjuangan hidup. Jadi terhadap kelakuanku, dia santai aja. Paling juga dipeluk, terus dijelasin pelan-pelan. Kebayang kan seandainya suamiku lelaki patriarkis dan nggak paham tentang isu gender yang sensitif buatku? Atau yang sama-sama berwatak keras nggak mau ngalah? Bisa berantakan rumah :D

See? I learned a lot from my marriage. Pendewasaan. Menerima dan beradaptasi. Terus saling mengingatkan untuk memperbaiki diri. Yuk yang belum menikah, menikahlah! Terutama buat perempuan, I’m telling you, pacaran lebih banyak berpotensi merugikan kalian secara materiil maupun immateriil hahaha.. So just cut it out. Good luck!

Yes, he loves cooking!


Selasa, 08 Juli 2014

Pelajaran Setelah Menikah (2) Tentang Memahami Kebiasaan

Siapapun yang sudah lama mengenalku, pasti tau kalo aku orang yang sangat ceroboh. Brak bruk brak bruk asal naro. Terus pas butuh nyari-nyari. Lupa naro di mana. Pegang apa-apa jatoh. Krompyang! Bener-bener nggak telaten. Aku juga cuek banget dan nggak peka sama hal-hal kecil. Mirip sifat cowok.

Semua itu nggak pernah aku pikirin selama aku hidup sendiri. Mo lemari berantakan kayak apa kek, mo buku bertebaran di mana-mana, kasur ga pernah dirapiin, bangun siang, who cares? Paling kalo udah gak betah baru deh beberes.

Lalu sekarang aku hidup sama Abang yang orangnya lumayan detail dan rapi. Suatu hari dia pulang lebih dulu daripada aku. Buku-buku yang berantakan udah diberesin. Di samping pintu dia pasang gantungan, juga tempat sepatu. Aku masuk lepas sepatu, naro tas asal, lalu bruk! Tengkurep di kasur. Tunduh. Lalu aku dipanggil, “Dek sini deh. Tiap pulang kerja sepatunya masukin ke kardusnya, trus taro di sini. Ini gantungan buat tas dan jaket. Harus dibiasain, jadi rapi terus. Itu di belakang ada tas besar, buat tempat cucian kotor.” FYI, sebelumnya gw naro cucian kotor ya dilempar aja ke ember, nyucinya nunggu mood, hahaha… Terus ada kotak kecil, “Barang-barang yang dibawa setiap hari taro situ. Kacamata, flashdisk, dompet, jam, kartu pers. Daripada kamu bolak-balik ini ketinggalan-itu ketinggalan?” FYI lagi, gw kan emang demen gonta-ganti tas, jadi barang pentingnya tersebar di tas satu dan lainnya. 

“Emang harus ya kayak gitu Bang? Males…” “Iya apalagi kalo udah ada anak. Masa kalo kamu capek pulang kerja trus anaknya ditaro gitu aja deket pintu kayak tas?” Iiiiihhh ya enggak juga sih…

Soal masak juga detail. “Dek kalo motong buncis, seratnya dibuang juga,” Hah? Serat apa? Trus ditunjukkin, di samping itu ada serat memanjang yang bisa dicopot. Emang itu penting ya? “Ya nggak enak aja makannya,” OMG gue bahkan gatau kalo dia ada, hahaha… Kadang aku masak juga, goreng tempe. Tempe dipotong-potong, rendem air garem, cusss goreng deh. Suatu hari Abang yang goreng tempe. Dia ngulek ketumbar (yang gw masih bingung bedainnya dengan lada), bawang putih, garam, kunyit sampe halus. Dicampur ke tepung terigu plus irisan daun bawang, buat dilumurin ke tempe sebelum digoreng. Haaaiiissshh… betapa complicated-nya tempe ini… Ya tapi enak sih.

Sebaliknya, aku juga harus beradaptasi dengan kebiasaan Abang. Pertama, dia itu kalo tidur lama banget. Pulang kerja jam 8 udah ngantuk. Bangunnya juga siang. Sementara aku plongo-plongo karena terbiasa tidur di atas jam 10, dan bangun jam 4. Abis itu aku jarang tidur lagi. Kedua, Abang kalo bobo pake kipas angin >,< sedangkan aku kalo bobo selimutan gak tahan dingin. Yaa bbrp malam awal sih gw masuk angin gitu.. tapi lama kelamaan udah biasa. Ketiga, Abang peka sekali dengan rasa. Juga gak mau masakan tadi pagi, pengennya masakan baru yang anget. Untung aja doi bisa masak sendiri, haha.. Sedangkan gw? Sayur atau nasi basi juga gw makan kalo ga dikasitau.. karena buat gw ga ada yang gak enak. Adanya ENAK sama ENAK BANGET.
 
I basically eat anything
Agak OOT sih tapi aku pengen cerita sedikit soal ilmu belanja dan masakku yang masih cetek banget. Ternyata butuh ilmu juga belanja di pasar. Aku pernah bilang mo beli daun salam 2rb, daun jeruk 2rb :D :D :D kata abangsayurnya, “Waduh Neng saya nggak punya segitu, beli bumbu dapur aja gimana?” Ternyata, bumbu dapur itu sepaket, di dalemnya isi rempah macem-macem termasuk beberapa lembar daun salam, daun jeruk, sereh, dan aneka rimpang, satu plastik harganya seribu rupiah. Seribu!!! Ahahaha… Gw ngga ngerti jadi harga daun jeruk dan daun salam itu berapaan :D :D :D

Pas gue buka di rumah plastik bumbu dapur itu, aku hampir aja teriak melihat satu wujud aneh sebesar kelingking, Abaaang what the hell was that?! Gw lempar-lempar pake sendok, aneh bet bentuknya. Kayak ulet kering (?) Dan ternyataaaa itulah yang namanya temukunci sodara-sodaraaaa… Okesip. Cukstaw. 

weird temukunci
Nih agak2 ilmiah nih. Kebetulan aku kemaren habis wawancara psikolog soal ini (iye, wartawan kan ajuin masalah sendiri di majalah sendiri lalu wawancara sendiri ke pakar, kece kan). 

Menurut psikolog Inna Muthmainnah yang aku wawancarai, 2 tahun pertama pernikahan memang cukup berat, karena di situ kita menyesuaikan sifat-sifat. Anak kembar yang berasal dari satu telur, bisa memiliki sifat berbeda, bahkan berkonflik. Apalagi suami-istri yang berasal dari lingkungan berbeda, pola asuh berbeda, latar belakang berbeda. Istilahnya, asam di gunung, garam di laut, bertemu di periuk. 

"Tapi kalau kita punya keluwesan dan ambang toleransi yang besar, hal-hal kayak gitu akan terlewati seiring waktu. Ambang toleransi ini berbanding lurus dengan kedewasaan dan kematangan kita. Semakin kita matang dan kaya, kita semakin siap menerima perbedaan," jelas Inna. 

Aku orang yang sangat terbuka. Nggak bisa memendam emosi. Kalau ada sesuatu yang nggak aku suka dari Abang, aku akan bilang. Nggak mesti saat itu juga (ada kalanya aku manyun dulu seharian), tapi aku pasti ngomong sama dia. "Abang, aku nggak suka kalau Abang bla..bla.." atau "Abang, tadi aku kesel tau. Soalnya Abang bla..bla.." Perbedaan itu wajar, tinggal gimana cara mengungkapkannya. 
catet!

Senin, 07 Juli 2014

Pelajaran Setelah Menikah (1) Tentang Mengatur Keuangan

Kalau kamu merasa belum cukup dewasa untuk menikah, menikahlah. Karena menikah itu mendewasakan.

Dulu aku punya bayangan yang sederhana sekali tentang pernikahan. Menikah itu ya sebatas punya teman hidup. Tapi kemudian seiring proses aku memahami, pernikahan bukan cuma itu. Ia mendewasakan, dan aku belajar sangat banyak.

Kali ini, aku mau cerita soal poin pertama yang bakal kamu pelajari setelah menikah: mengatur keuangan. Ini hal yang sangat prinsipil ya, karena kalian hidup berdua sekarang. Pendapatan harus digunakan untuk kepentingan berdua, bukan sendiri doang. Harus transparan, belajar mencatat, belajar mengontrol.

Sebelum menikah, mana pernah aku menabung? Gajiku hampir selalu habis untuk hal-hal yang “nggak jadi barang” Nah loh! Dulu mana pernah sih mikir dua kali sebelum ngeluarin uang buat kongkow di luar sama temen-temen. Coba, sekali nongkrong di kafe ada kali habis 100rb an mah sekali makan. Terus karaokean. Nonton di bioskop. Bisa habis berapa tuh. Beli sepatu, beli baju, dan perintilan nggak penting lainnya di online shop. Anak kosan, gak ada dapur, bisanya beli makan di luar. Minimal ngeluarin 10rb buat nasi goreng, 5rb buat beli jus. Atau 20rb untuk paket ayam bakar, 5rb es teh manisnya. Dan hal-hal itu mana kerasa. Tau-tau baru juga tanggal 15 saldo udah menipis.

Tiga hari setelah menikah, aku dan Abang belanja di Jatinegara buat ngisi rumah. Beli gorden 80rb, karpet 200rb, rak piring 100rb, dan perabotan 10rb dapet 3, sendok sayur 7rb yang ditawar Abang jadi 5rb. Gak sampe 500rb udah jadi tuh barang. Rumah rapi. Gile yah, dulu mah kalo kita jalan ama temen-temen seminggu 3 kali makan, nonton, dan karaokean, ada kali tuh abis 300rb. Dan gak mikir sama sekali. Eh sekarang, beli sendok sayur 7rb aja masih nawar! Hahaha… TER-LA-LU!

Terus sekarang kita masak setiap hari. Sebagai tukang belanja, aku ngerasain banget beda harganya (note: Abang yang masak, jadi aku yang belanja). Beli tempe 2rb aja udah bisa makan pagi-malem kan. Sop-sopan 2rb seplastik aja udah banyak banget. Cabe-bawang-bumbu dapur 5rb buat 3 hari. Trus beli buah bikin smoothies sehat sendiri pake madu. Beuh… Bandingin sama paket ayam bakar + es teh manis 25rb sekali makan. Yang lebih penting, karena masak sendiri kita jadi tau prosesnya. Nyucinya bersih, peralatannya bersih, nggak pake penguat rasa, kematangan sesuai selera, dll yang membuat kita makan jadi lebih lahap. Apalagi kalau ke kantor bawa bekal untuk makan siang, kita mengurangi sampah daripada beli makan di luar, yang dibungkus pake 2 lapis kertas, plastik untuk bungkus kerupuk atau lalap, dan plastik kresek untuk membawa semuanya. Ada juga yang pake kardus bahkan sterefoam. Plus air minum kemasan, sedotan, dan sendok sekali pakai. Haduh tambah parah. Alhamdulillah, lebih menyenangkan bawa minum dan bekal makan sendiri pake Tupperware warna-warni 

Begitupun kalau mau beli apa-apa yang nggak penting. Cyin.. jalan ke mall sendiri atau sama temen cewek itu beda banget loh dibanding jalan ama suami. Kalau jalan sendiri, aku gampang banget melipir. Trus beli sepatu. Maskara. Kaos kaki. Haish… Apalagi sama temen cewek ye kan, kompor meledug. Bukannya nge-rem malah saling mendukung, “Ih iya itu lucu tau.. Yaudah sih mumpung diskon.. Eh buy 2 get 1, ayok dong lo beli juga dong…” Kan parah kan. Abis belanja haus, beli eskrim sama-sama. Gendut. Trus pulangnya males ngangkot. Naik taksi. Wassalam.

Sekarang mah: Abang.. mo beli sepatu/ Nabung dek, kita kan mo beli tanah. Abang.. pengen baju itu/ Nanti dulu, kita kan mo mudik/ Oh iyaa. Abang.. aku naksir yang itu/ Belum perlu dek. Abang.. pengen eskrim/ Manis-manis mulu ntar gendut loh/ Iya ya >,< Terus sebelum permintaanku semakin aneh, buru-buru digandeng pulang. Cusss… Makan di rumah. Selamet deh tuh ratusan ribu.


Soal manajemen keuangan itu udah pasti. Dulu mana pernah gw ngitung. Wong gajiku bener-bener untuk kebutuhan dan kesenanganku sendiri kok. Sekarang, gaji berdua diitung. Terus masing-masing masukin rekening tabungan. Buat beli tanah cenah mah. Hihi. Baru deh sisanya kita bagi untuk keperluan bulanan, belanja sabun & beras, beli majalah.. Alhamdulillah kita sepakat gak ada cicilan dan kartu kredit sih. Kalo sebelum jatuh tempo duit udah abis, kita periksa catatan pengeluaran, bocor di mana nih? Terus evaluasi.

Membuat timeline dan planning hidup jadi lebih konkrit setelah menikah. Kalo sama pacar, ih males amat kan kalo udah berbagi pendapatan. Lo apa bukan siapa bukan. Nah, ini mah sama suami sendiri, yang udah jelas dia akan sama-sama kita sampai tua. Kelak kita akan melahirkan anaknya. Kita punya mimpi bersama, ya kita rencanakan sama-sama. Sangat menyenangkan.

Jumat, 30 Mei 2014

Alhamdulillah, Sah...!

Kalau memang terlihat rumit lupakanlah. Itu jelas bukan cinta sejati kita. Cinta sejati selalu sederhana.

Tere Liye dalam "Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah"


***

Ini tanggal 30 Mei. Baru 6 hari yang lalu aku menikah.

Whaattt..?? Sama siapa? Sejak kapan? Gimana ceritanyaaa?? >> respon sebagian besar orang ketika mendengar pernikahanku :D

Iyah aku juga nggak nyangka.. Semua terjadi begitu saja *loh kesannya* hahaha engga kok ini mah beneran. Intuisi. Hidayah.

So let me tell you about this one lucky guy *ehem* suamiku Abang Rahmat Hidayat. Kami bertemu November lalu, suatu senja di Bakoel Koffie Cikini. Gaya banget gitu ya kesannya kalo ditanya, "Pertama ketemu di mana?" Di Bakoel Koffie.. haseeek.. ala-ala kelas menengah Jakarta banget sih!

Demikianlah sejak pertemuan itu, komunikasi kami semakin intens via whatsapp. Yaa sebenernya kadang cuma iseng-iseng doang sih eh tapi kok asik ya dia orangnya, hehe...

Sampai suatu hari di pertengahan Desember, dia ngajak aku menuju hubungan serius. Aku agak nggak percaya, tapi dia bilang, "Aku minta waktu paling lama setahun untuk proses pengenalan. Kalau selama setahun itu banyak hambatan, banyak capeknya, banyak hal yang memberatkan niat kita, ya sudah berarti kita nggak jodoh. Nggak perlu berlarut-larut. Sebaliknya, kalau ternyata dalam proses itu kita diberi kemudahan, berarti memang jalannya." Hmm... okay. Interesting.

Peganganku adalah QS Ali Imron 190-191. Membaca pertanda semesta. Tanda-tanda yang diberikan Allah di sekitarku. Dan ternyata, semua pertanda itu semakin dekat mengarahkanku ke Abang. Satu per satu kriteria terceklis. Dan kemudahan demi kemudahan pun mengiringi niat kami.

Sampai pada tanggal 31 Maret, Abang datang ke rumah melamarku. Sendirian! Hehe... Dia mengemukakan maksudnya langsung ke Bapakku. Dialognya macem Indonesian Idol.

A: Saya mau melamar Ken.
B: Saya sih gimana Ken-nya aja. Gimana Ken?
K: *gelagepan, kaget* Eh.. Oh.. Oke..
B: Saya OK kalo gitu.

Eaaaaa...

Just like that. Lalu Abang telepon, mengabari keluarganya di Palopo, Sulawesi.

Frequently asked questions: Sejak kapan pacarannya? Well.. kami memang nggak pacaran. Nggak ada dasar hukum/perlindungannya baik dalam hukum agama maupun negara. Malesh. Kok gak bilang-bilang lamaran? Kalo persepsimu lamaran adalah pertemuan dua keluarga besar bawa ono-ini, wah.. nggak ada deh kayak gitu. Keluargaku sudah lama nggak manut tradisi. Tapi kalau dilamar, iya, aku memang sudah dilamar (dikhitbah). Islam tidak pernah menyulitkan kok :)

Kok cepet banget mutusinnya, emang bener udah yakin? Udah dipikir-pikir? Hmm.. jujur aja menurutku ini adalah keputusan menikah yang sangat logis. Karena aku melihat dari kriteria yang terceklis. Cinta? Ah bukankah cinta justru seringkali menumpulkan logika? Jadi ia tak bisa dijadikan landasan pertama. Semakin banyak poin kriteria yang terpenuhi, visi misi yang sama, semakin banyak daerah arsiran, maka cinta semakin mudah tumbuh.

Alhamdulillah, semua urusan dimudahkan hingga kami sampai di hari H, 24 Mei 2014. Aku mengintip dari balik tirai rumah saat Abang menjabat tangan Bapakku dan mengucapkan ijab qabul dalam satu tarikan nafas. Miitsaqan ghaliizha. 

Janji dua orang lelaki

"Saya terima nikahnya Ken Andari binti Mamang Isnanda dengan maskawin tersebut, tunai, karena Allah!"

Alhamdulillah, sah...!

Lalu Niko, adikku, menuntunku keluar dan mengantarkan aku ke Abang, suamiku. Ahh... haru banget rasanya.



Sumringah banget yaa...

Terima kasih kawan-kawan yang datang, aku senang bangeeeeett...! Hope you guys enjoy my party! Special thanks to SISESA for my beautiful wedding dress... Simple, syar'i, elegant, banyak yang suka lohh...! Dengan gaun ini aku jadi leluasa bergerak menemui teman-temanku, bersalaman dengan para tamu, senaaangg ^.^ Makasih udah buatin gaun ini spesial untukku. I am wearing Asma dress & Salamah khimar by Sisesa, fresh from IFW 2014 runway :D

Thankyou Sisesa! I love it!
And many thanks to Baiq Dewi yang udah membuat pernikahanku berkesan dengan souvenir bibit tanaman yang imut-imut. Ditanam yaa teman-teman.. ingat itu dari aku dan Abang :D Let our love grow <3

souvenir bibit tanaman :D

Peluk cium buat Powerpuff Girls aku kak Noni dan Desma yang udah mau jauh-jauh dateng ke Tangerang, tengah malam untuk nemenin aku bobo dan memandu acara akad nikahku dengan fresh! I love youuuuuuu... Mmuach! Kalian cantik sekali! Terima kasih buat Bibink, suaminya kak Noni yang udah ngizinin kak Noni nginep, hehe.. Aku nggak ngerasa kehilangan kak Noni walau setelah menikah sama Bibink :D

Lovely MCs

Nikmat mana yang aku dustakan...? Begitu banyak berkah dan kemudahan yang diberikan Allah buat aku dan Abang, sehingga kami nggak perlu berlama-lama untuk menetapkan hati dan segera memulai babak baru kehidupan. Bismillah Abang, ayok kita lewati semuanya sama-sama!

Berkah mmenikah dapat keluarga dan teman-teman baru!

Jumat, 18 April 2014

Kacang Ijo


Suatu hari aku makan siang sama temen-temen di Warung Sunda. Salah satu sayurnya adalah tumis toge plus oncom. Eh, togenya itu di ujungnya masih ada kulit ijo tipis. Trus aku tiba-tiba teringat, eh iya ya toge kan dulunya kacang ijo kan? Bener gak sih?

“Iyalaaah… dulu kan pas SD apa SMP gitu ada praktikumnya, kita naro kacang ijo di kapas basah trus dia tumbuh kecambahnya,” temen-temen pada ngetawain pertanyaanku.

Gaktau kayaknya aku lagi ga masuk, sakit, apa emang lagi skip aja. Yang jelas aku nggak ngerasa pernah praktikum ngerendem kacang ijo di kapas basah. Kalo praktikum belah katak hidup-hidup aku pernah. Trus setelah aku berhasil ngebuka organ-organ dalamnya katak itu pun berlompatan dengan organ yang ke mana-mana. Hal terkeji yang pernah kulakukan. Astagfirulloh.

Kembali ke soal kacang ijo. 


Pertanyaanku itu pun membelokkan pembahasan siang itu jadi tentang kacang ijo.
“Jadi toge itu dulunya kacang ijo?”
“Eh bukannya ada juga toge dari kacang kedelai?”
“Kalau dari kacang tanah?”
“Masa sih namanya toge juga?”
Okay please define ‘toge’! Bukankah intinya dia itu kecambah? Nggak sebatas kecambahnya kacang ijo kan?”
“Iya sih tapi kayaknya selama ini yang kita makan adalah toge yang dulunya kacang ijo deh,”

Yak, kamilah anak-anak urban yang nggak tau dari mana makanan kami berasal.

“Pohon toge itu kayak gimana sih?”
“Nggak adaaaa…! Toge itu ya toge itu aja nggak ada pohonnya!”
“Oh aku kira toge dan kacang ijo itu sesuatu yang bergelantungan di pohon…”
“Terus kalo panen dipetikin satu-satu gitu ya…”
“Atau ditepok-tepok pake sendal pohonnya digoyang-goyangin sambil di bawah ada yang nadahin kacang ijo yang jatuh bertebaran, kayaknya cara itu lebih gampang kalo emang kacang ijo itu bergelantungan…”

… kemudian hening …

Masing-masing pegang smartphone.. brb googling “pohon kacang ijo” gaktau juga deh kalo ada yang googling dengan kata kunci “pohon toge”.

Beberapa saat kemudian,
“Oooooohhh… kacang ijo itu ada buahnya panjang-panjang ijo. Dia itu seeds…”
“Eh iya dia pohonnya merambat kayak kacang panjang,”

Ternyata kami seumur-umur belum pernah lihat pohon kacang ijo. Ada juga yang search di youtube “growing mung beans”. Ah okey, jadi kacang ijo itu seeds, yang kalau direndem di kapas bisa jadi toge.

“Trus toge kalo misalnya gak dipanen-panen, dia bisa layu trus rontok gitu? Trus dia jadi kacang ijo lagi?”

… hening … mikir … lalu semua ngakak x)))

YA ENGGAK LAH! Toge kalo digedein ditanem di tanah ya jadi pohon kacang ijo! HAHAHA…

Gak kebayang gue seandainya siklus hidup kacang ijo sebatas begini:
Dia terlahir sebagai sebutir kacang ijo. Lalu jika direndem di air dia tumbuh kecambah dan jadi toge. Trus kalo nggak dipanen dan dimasak, dia lama kelamaan akan menua, kecambahnya layu, rontok, dan dia kembali ke wujud asalnya sebagai… sebutir kacang ijo.  

Nggak seru banget hidupnya. Kupu-kupu aja ada empat tahap metamorphosis kan siklus hidupnya. Masa si kacang ijo cuma melalui dua tahap: kacang ijo – toge – kacang ijo – toge – dst. Kan kasian.

Oke baiklah kami sudah paham perihal siklus hidup kacang ijo, toge, sampai dia jadi pohon yang merambat dan berbuah. Buah berkacang ijo.

Ih jadi pengen bikin bubur kacang ijo kan.

“Eh kalo mo bikin bubur kacang ijo tuh kacang ijonya harus direndem dulu ya?”
“Iya rendem aja semalem, biar empuk dan masaknya enak,”
“Emang dia ga akan berubah jadi toge kalo direndem semaleman?”

HAHAHAHA…

Sedih banget. Seandainya udah semangat-semangat ngerendem kacang ijo malem hari buat dibubur besok pagi. Eh tau-tau besokannya udah jadi toge. Terpaksa ganti menu jadi bikin urap. HAHAHAHA…

Ebleng. Gara-gara kacang ijo doang aja. Sakit perut gueeeeh...

NOTE:
Trus abis percakapan itu gw googling dan youtube juga soal SAGU. Dari mana ia berasal, kayak apa pohonnya. Asli baru tau. Trus gw juga googling dan menemukan bahwa buah srikaya dengan selai sarikaya yang di dalem roti itu ternyata nggak ada hubungannya. Okesip.


Kamis, 16 Januari 2014

Wawancara dengan Saiful Munir: Anak Muda Harus Peduli Isu Pangan

“Sukses”-nya gelaran Konferensi Tingkat Menteri World Trade Organization (WTO) di Bali pada 3-6 Desember 2013 kemarin tidak bisa kita anggap sebagai angin lalu. Eh, karena dampaknya serius lho, khususnya bagi sektor pertanian dan ketahanan pangan kita.

Tenang sodara-sodara, jangan setres dulu. Kita akan bicarakan ini dengan santai. Aku perkenalkan Saiful Munir, cacakku dari Blitar yang sekarang lagi getol mengampanyekan gerakan anak muda peduli pangan, Youth Food Movement. Dengan cara bicara yang santun dan senyum manisnya Cak Munir, obrolan ini pasti akan jadi menyenangkan. 

Cak Munir
Cak Munir, lama kita nggak ketemu dan konsolidasi hati! Lagi sibuk apa kau sekarang? 
Haha… Ken, emang lamanya berapa bulan sii? Aku sekarang sedang bergiat di komunitas/organisasi anak muda yang peduli soal isu pangan. Namanya Youth Food Movement (YFM) Indonesia. 

Apa tuh? Kok tumben kau nginggris? Haha.. 
Menurut temen-temen sih biar populer buat telinga anak-anak muda sekarang. YFM ini tempatnya anak-anak muda yang peduli dengan pangan lokal. Anggotanya ada musisi, pelajar, mahasiswa, pemuda tani, siapapun boleh gabung. 

Memang kenapa dengan pangan lokal Cak? 
Gini, kira-kira pada tau nggak ya, dari mana asal makanan yang tersedia di meja makan kita setiap hari? 

Ya dari petani toh, kan mereka yang produksi bahan pangan? 
Eitt… jangan buru-buru, coba kita selidiki petani mana yang memproduksi bahan pangan itu. Saat ini banyak produk pangan yang diimpor dari luar lho. Tanaman pangan yang dikembangkan negara-negara maju itu dikuasai oleh perusahaan-perusahaan raksasa. Mereka mengembangkan tanaman transgenik yang berbahaya bagi tubuh manusia. 

Terlebih, kita yang tinggal di kota besar ini seneng banget belanja di supermarket. Padahal, supermarket dengan seluruh jaringan ritelnya bisa mengubah gaya hidup manusia kota. Di sana isinya buah-buahan impor, daging, kentang, garam, dan makanan kemasan impor semuanya. Selain berdampak kepada gaya hidup tidak sehat karena makanan yang tidak fresh, dengan belanja produk impor di pasar modern kita juga bakal merugikan petani kecil yang memproduksi sayur dan buah lokal. Karena produk petani kita susah banget masuk ke supermarket. 

Nggak mikir segitunya aku Cak… 
Makanya kita musti tau dan support petani lokal dengan membeli produk pangan lokal di pasar tradisional. Isu pangan dan pertanian ini lekat sekali kaitannya. Yang menambah kita resah hari ini adalah kondisi pertanian kita yang mengalami aging (penuaan). Sensus BPS menunjukkan telah terjadi penurunan minat penduduk usia produktif untuk bekerja di sektor pertanian.

Pada tahun 2004 ada 40,61 juta orang berusia 15 tahun ke atas yang bekerja di sektor pertanian atau 43,33% dari total penduduk Indonesia. Namun pada 2013, jumlah itu menyusut jadi 39,96 juta orang atau tinggal 35,05% saja. Lebih dari 50% orang yang bekerja di sektor pertanian kita berusia di atas 40 tahun. Bahkan presentase terbesar, yakni 12,33% petani kita adalah kelompok umur di atas 60 tahun. 

Lha kalau nggak ada yang meneruskan bapak-bapak kita untuk mengelola lahan dan bertani, beberapa dekade ke depan kita makan apa dong ya? 
Nah, menjawab keresahan itu, YFM dibentuk. Kami ingin mempertemukan pemuda-pemuda kota yang menjadi konsumen dengan pemuda tani di kampung (sebagai produsen pangan) untuk membangun kesadaran bersama tentang kedaulatan pangan. Cita-cita kami, bagaimana Indonesia ke depan dapat memenuhi pangan secara mandiri. Tidak lagi bergantung pada impor. 

Ada twitternya ya? Aku udah follow donk @YFMovement! 
Yak betul, terima kasih Dek Ken! Kami sadar betul, anak-anak muda pengguna social media itu banyak banget. Social media kami manfaatkan sebagai media kampanye, menyebarkan virus-virus kedaulatan pangan. Kita memang bisa melakukan hal-hal bodoh dengan social media, tapi ingat, dengannya kita juga dapat melakukan perubahan besar.

Nggak cuma kampanye on line, kita juga realisasikan dengan berbagai bentuk kegiatan seru. Misalnya kemarin kita bikin Youth Food Movement Camp. Sambil camping kita belajar isu pangan. YFM juga melakukan kampanye melalui musik. Juni 2013 lalu, kami menggandeng musisi dan seniman yang pro kedaulatan pangan untuk menggelar Konser Kedaulatan Pangan. Ada Fadly Padi, Navicula dari Bali, Jess Santiago dari Filipina, dan beberapa musisi lainnya. Seru. 

Terakhir, kita memobilisasi para pegiat YFM di 7 kota dalam Youth Food Movement Caravan #EndWTO untuk menyikapi Konferensi Tingkat Menteri Organisasi Perdagangan Dunia (KTM 9 WTO) 3-6 Desember di Bali. 

Youth Food Movement Camp
Sebentar Cak Munir, emangnya ada apa sih di WTO kemarin? Mengapa anak muda mesti peduli? Dan sekarang setelah gelaran itu sukses, memangnya apa dampaknya buat Indonesia? 
World Trade Organization (WTO), organisasi yang mengurusi perdagangan di seluruh dunia. Keren ya. Tapi jangan dibayangkan WTO hanya mengurusi perdagangan barang saja. Sektor jasa, investasi, bahkan hak kekayaan intelektual juga diatur di dalamnya.

Kenapa sektor kesehatan, pendidikan, transportasi, dan pariwisata di Indonesia mahal? Ya, karena sektor-sektor di atas termasuk 4 dari 12 sektor jasa yang harus diprivatisasi dalam kerangka General Agreement on Trade in Services (perjanjian perdagangan jasa). Jangan heran kalau kamu lagi keliling Nusantara dan mendapati kerusakan lingkungan karena tambang dan reklamasi pantai. Karena Agreement on Trade Related Investment Measures (perjanjian terkait investasi) memfasilitasi juragan-juragan asing untuk berinvestasi besar-besaran di Indonesia dan mengeksploitasi kekayaan alam kita.

Kasus lain, ingat nggak waktu medio 2006, Pak Tukirin, petani pemulia tanaman dari Nganjuk dan Budi Purwo Utomo petani jagung dari Kediri dikriminalisasi karena tuduhan mencuri benih jagung hibrida PT BISI? Karena Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (perjanjian terkait hak kekayaan intelektual) memfasilitasi perusahaan-perusahaan benih raksasa mematenkan benih mereka. Sementara di saat yang sama, keanekaragaman benih lokal perlahan menghilang dari tangan petani

Segitunya? Bahkan mereka mematenkan benih? 
Ya, itulah yang terjadi. Makanya petani lokal jadi korban.

Sering dengar kan katanya kita ni negara agraris? Tapi akibat perdagangan bebas yang diatur WTO keran-keran impor dibuka lebar, termasuk di sektor pangan. Dampaknya, kita negeri agraris yang kaya ini dibanjiri bahan pangan dari luar dengan segala resikonya yang sudah kita bicarakan di atas tadi. Buah-buahan, kedelai, bawang putih, bahkan garam saja impor.

Padahal, petani-petani di dataran tinggi Dieng dan Pangalengan belum lelah menanam kentang kok. Jika diberi subsidi, petani-petani di Jawa pasti mampu memproduksi kedelai organik yang lebih sehat dari kedelai impor dari AS. Petani garam di Madura juga masih mampu memproduksi garam sendiri. Lha wong Indonesia ini sebagian besar wilayahnya laut kok, tanah kita juga subur, kita nggak akan kekurangan garam dan bahan pangan kalau petani lokal dilindungi dan didukung. 

Suksesnya pertemuan Bali Desember lalu berarti Indonesia akan terus menjadi pasar dan surga investasi asing. Karena hari ini motif berdagang bukan lagi untuk saling memenuhi kebutuhan, tetapi mendikte. Lalu, darah muda, apakah kamu mau diam saja? Move on dong! 

Iya yah, hari gini anak muda Indonesia masih aja galau percintaan. Padahal masih banyak hal yang lebih penting digalauin. Kapitalisme, masalah serius itu! Kalau nggak peduli dan nggak ngerti, bisa habis kita diinjak.
Makanya dek Ken, move on dong! Hehe... 

Siaaap! Cak Munir, balik lagi ke isu yang diangkat YFM, kedaulatan pangan. Coba jelaskan dengan simpel, kedaulatan pangan itu apa sih?
Sederhananya gini, kedaulatan pangan itu merujuk pada kondisi di mana masyarakat atau negara mampu berdaulat dan tidak tergantung pada kekuatan di luarnya akan produksi, konsumsi, serta ketersediaan dan distribusi pangannya.

Dari segi produksi mereka (masyarakat dan negara) mampu mengusahakannya sendiri. Tidak tergantung asupan dari luar, jenis komoditas apa yang harus ditanam dan dikonsumsi. Benihnya punya sendiri, bukan dari pabrik. Kedaulatan untuk tidak menggunakan bahan-bahan kimia pabrikan ini dilanjutkan dengan penggunaan bahan-bahan organik. Selain akan memberikan makna mendasar pada kedaulatan pangan, ia juga akan membuahkan arti pertanian yang berkelanjutan secara ekologis.

Terakhir, kedaulatan distribusi dapat diindikasikan dengan kemampuan masyarakat untuk memasarkan dan mengakses hasil-hasil produksinya, jalur-jalur yang dilalui, dan media-medianya (pasar). Fase-fase dalam jalur distribusi itu dapat diketahui secara fair oleh produsen sendiri, yakni petani-petani penghasil pangan.

Coba kita merenung, dari prasyarat di atas, apa yang sudah masyarakat dan negara kita penuhi? 


Halah, harga kedelai impor naik aja kita sudah panik nggak bisa makan tempe. Kita belum berdaulat karena pemerintah kita tidak memproteksi pangan lokal dan tidak mendukung petani lokal. 
Betul, dan kita nggak boleh diam saja atau pura-pura nggak tau. Indonesia itu kaya. Kaaayaaaaa banget. Kekayaan yang mestinya dapat menyejahterakan 230 juta jiwa, bukan untuk melayani segelintir orang serakah. Kemarin saat YFM Caravan, kami melakukan perjalanan darat Jawa-Bali dan singgah di 7 kota. Kami ketemu komunitas-komunitas lokal yang bergerak dan berjuang di ranah masing-masing.

Di Cirebon kami ketemu kelompok nelayan tradisional dan buruh migran. Kemudian di Semarang, Solo, dan Surabaya kami ketemu kelompok perempuan dan mahasiswa progresif yang juga meneriakkan kedaulatan pangan. Di Banyuwangi kami bertemu kelompok pecinta alam yang sedang kampanye menolak tambang emas karena merusak lingkungan. Dan di Bali kami disambut Forum Rakyat Bali yang sedang berjuang menolak reklamasi Teluk Benoa demi kepentingan investasi.

Satu benang merahnya: mereka semua anak-anak muda. Kata mereka, ‘‘Kita tidak wajib untuk menang dalam setiap perjuangan. Tetapi kita wajib untuk tidak diam saat melihat penindasan dan kemungkaran.’’ 

Cak, aku jadi kepingin jadi petani, hehe... Kamu gimana, apakah bakal balik ke Blitar dan jadi petani berdaulat di sana? 
Hehe… siap nyangkul ya? Entah di Blitar atau di manapun domisiliku, apapun profesiku nanti, aku tetap ingin bertani. Karena aku lahir dan dibesarkan dalam budaya agraris, budaya pedesaan.
Menjadi petani itu pekerjaan mulia lho. Kalo kepingin, ayo bareng YFM perlahan kita ubah image petani yang miskin, kucel, dan bau, menjadi petani itu ganteng-cantik, keren dan pintar. Aku lagi nyari lahan nih sekarang buat ngajak anak YFM belajar bercocok tanam. Sekitaran Jakarta aja. Nanti kamu harus ikut. 

Ih syeddaaaapp! Bertani karena benar! Sekarang ini rencana kegiatan terdekat YFM apa? 
Kita lagi belajar menulis, terutama peserta YFM Caravan kemarin. Kami punya banyak cerita yang ingin dibagi. Menulis itu penting, agar kritik dan ide kedaulatan pangan dapat ditularkan ke khalayak lebih luas. 

Betul, aku setuju banget soal itu! Kata Subcomandante Marcos, our word is our weapon! Baiklah, terima kasih Cak Munir, tetap berkabar yah..
Sama-sama! Ingat ya, anak muda harus peduli pangan, food sovereignity! 

**

Perbincangan dengan Cak Munir membuka mataku akan banyak hal, terutama soal betapa negara agraris ini ternyata tidak memproteksi petani lokal. Jadi kalau kita masih impor pangan, itu bukan karena petani kita nggak mampu memproduksi sendiri, melainkan karena ada kepentingan yang lebih besar dari oknum-oknum kapitalis pengeruk kekayaan, yang kepingin menjadikan Indonesia ini sebagai pasar. Mereka bersekongkol dengan pemerintah neoliberal untuk melucuti proteksi terhadap petani dan pangan lokal. Subsidi pupuk dikurangi, benih-benih dipatenkan, tanah dan lahan diserobot, rantai distribusi hasil tani carut-marut, tetapi keran impor dibuka lebar-lebar. Hasil produksi petani lokal bersaing mati-matian dengan produk impor yang lebih murah.

Jadi, apa lagi yang tersisa dari petani? Tidak ada.

Apakah kita akan diam saja? Baca, anak muda! Pahami bagaimana dunia bekerja, ambil cangkulmu, lalu jadilah petani yang pintar! Bertani karena benar!