Sabtu, 09 Maret 2013

Apa Ayat Favoritmu?

Orang-orang sering bertanya,
Apa lagu favoritmu? Penyanyi favoritmu?
Apa buku favoritmu? Apa makanan favoritmu?

Kali ini aku mau bertanya, apa ayat favoritmu?

Al-Qur'an diturunkan sebagai pedoman, petunjuk, dan pengingat. Di antara ribuan kalam Tuhan nan indah itu, mana yang jadi favoritmu? Yang paling suka kau baca, yang paling bermakna buatmu, yang sering membuatmu terhenyak saat mendengarnya?

Buatku, QS Ali Imron ayat 190-191 adalah favoritku.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. * (yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” 

Apapun pertanyaanku tentang kehidupan, Tuhan, dan Islam, ayat ini seolah menamparku lagi, memangnya kau sudah cukup banyak memperhatikan tanda-tanda yang diberikan Allah? Atau kau hanya asal bertanya dan mempertanyakan? Ayat ini selalu membuatku terhenyak dan berpikir, berapa banyak tanda-tanda-Nya yang belum bisa kupahami.

Ayat ini selalu menyadarkan betapa kecil, bodoh, dan terbatasnya akalku dalam memahami kebesaran-Nya. Dan betapa sombong aku hanya bisa sok bertanya dan mempertanyakan seperti orang Bani Israil, sementara aku sendiri tidak banyak menyediakan waktu untuk mengingat-Nya dan merenungkan semua ciptaan-Nya. 

Sungguh, ayat ini selalu menjadi tamparan keras buatku. Seorang ustazahku di pondok dulu selalu menangis setiap kali membaca ayat ini saat mengimami para santrinya. Aku yang jadi makmum juga jadi terhenyak dan meneteskan air mata, malu... betapa bodohnya aku sebagai manusia yang sombong merasa paling tahu semuanya...

Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari api neraka...

Jumat, 08 Maret 2013

Tolong Matikan Rokoknya


Hari ini aku menghadiri sebuah acara peringatan Hari Perempuan Sedunia yang juga dihadiri Menteri Kesehatan RI Nafsiah Mboi. Dalam sambutannya, Ibu Naf mengungkapkan data-data tentang dampak rokok bagi perempuan yang membuat air mataku hampir jatuh.

Beliau bilang, saat ini masih 67% atau sekitar 70 juta laki-laki di Indonesia merokok, dan tak kurang dari 62 juta perempuan menjadi perokok pasif. Tidak hanya itu, ternyata 11,4 juta balita Indonesia juga menderita sakit pernafasan karena orang dekatnya merokok.

Orang dekat itu siapa sih? Ya pacar, suami, kakak, atau ayah mereka. “So called love” Bu Menteri menyebutnya. Yeah, so called love. Orang-orang yang (katanya) mencintai mereka, tetapi malah dengan egois dan teganya menghembuskan asap beracun setiap hari untuk mereka hirup.



Dulu aku termasuk orang yang nyantai dengan perokok. Dulu. Karena kupikir, merokok itu hak masing-masing orang. Dia yang beli, dia yang make, toh nanti kalau sakit atau melarat, dia juga yang rugi. Itu pikiran sempitku dulu. Tetapi semakin hari aku semakin sadar bahwa rokok ini benar-benar setan.

Aku jadi benci sama rokok saat aku tahu bahwa ada (dan mungkin banyak) kepala keluarga dari masyarakat menengah ke bawah yang lebih memilih beli rokok daripada beli buku untuk anaknya. Lebih baik anaknya nggak minum susu daripada dia nggak ngerokok. Dan semakin banyak aku mengetahui data-data dampak rokok, semakin aku benci sama benda itu. Ternyata efeknya tidak sempit, tetapi meluas ke kesehatan sampai pendidikan keluarga. Menurutku, di Indonesia rokok itu masih menjadi bagian dari lingkaran setan miskin-bodoh-miskin-bodoh. Rokok memiskinkan, mendatangkan penyakit, membodohi,  mengotori, dan membuat seseorang jadi egois.

Aku sangat bersyukur tidak tumbuh di lingkungan perokok. Mungkin ada satu-dua orang terdekatku yang merokok, tetapi mereka tidak merokok di depanku. Dan jangan coba-coba lagi karena aku tidak mau lagi menoleransi perokok.  

Ini dia realitas lain yang aku lihat. Banyaknya jumlah perokok pasif dari kaum perempuan agaknya disebabkan oleh ketidakberdayaan mereka menegur orang-orang terdekatnya yang merokok. Takut nanti marah. So what, bukankah seharusnya kita yang marah disemburin asap beracun?

Di era emansipasi wanita ini, inilah yang masih membuatku bertanya-tanya, ke manakah para perempuan hebat yang lantang berbicara itu saat dihadapkan dengan lelaki perokok? Taruhlah, ketika pacarmu merokok saat sedang bersamamu. Misalnya setiap habis makan, sambil ngobrol dia menghembuskan asap beracun ke depan wajahmu. Di saat yang bersamaan dia bilang, dia sayang kamu. How absurd is that.  

Lelaki sejati nggak akan merokok di depan orang yang ia cintai. Titik nggak pake tapi.

Begitu juga saat di ruang publik. Seringkali aku melihat laki-laki merokok dengan santainya di ruang tunggu, restoran, atau bahkan angkutan kota yang notabene ruang tertutup. Di sekitarnya banyak perempuan, bahkan para ibu dengan anaknya, tetapi tak ada satupun yang berani menegur. Mereka hanya bisa diam, menutup hidung dan memilih tetap menjadi perokok pasif.

Please, jangan diam! Jangan lagi berikan toleransi kepada perokok. Walaupun ia orang yang kau cintai. Karena rokok itu setan, sungguh akan membuat seseorang menjadi egois. Hanya memikirkan kenikmatannya sendiri tanpa memikirkan dampaknya buat orang di sekitar.

Kalau ada yang merokok di depanmu, bicaralah wahai para perempuan! Tegur dengan tegas, “Tolong matikan rokoknya.” Buat mereka merasa bersalah. Okelah kalau kita tidak bisa memusnahkan industri rokok, tetapi memang bukan dari sana seharusnya rokok itu dihentikan. Akan lebih efektif jika semakin banyak lelaki sejati yang dengan penuh kesadaran sendiri berhenti merokok. Dan lebih banyak perempuan yang berani bicara dan tegas menolak jadi perokok pasif.

“Tolong matikan rokoknya.” Cukup tiga kata itu saja, jangan pernah segan mengucapkannya.

Apalah arti emansipasi, kebebasan berbicara dan pembelaan hak-hak perempuan kalau perempuan itu saja tidak berani bicara membela haknya sendiri atas udara bersih?