Selasa, 12 September 2017

Ketika Uyut Rindu Ali

Sudah 6 bulan sejak Mbah, Uyut, wafat. Kami selalu merindukannya. Tapi mungkin, Ali yang paling dirindukan Uyut. Cicit kesayangan yang sering nemenin Uyut tidur siang.

Kami selalu mengajak Ali kalau mau ziarah ke makam. Ali memetik kuntum melati dan kenanga, bunga kesukaan Uyut, untuk diletakkan di pusaranya. Ali bahkan hapal letak makam Uyut. Ia akan melepaskan gandengan kami dan berlari ke sana, bilang "ikum, Uyut!" lalu jongkok dan nyabutin rumput. Suatu kali sesampainya di samping makam, aku mengeluarkan botol minum dan menawarkannya ke Ali. Siang itu memang cukup terik, kupikir Ali haus. Eh, ternyata ama dia dituangin isinya ke tanah makam 😁😁 "Buat Uyut ajah!" katanya. Saat berpamitan, Ali selalu melambaikan tangannya, hihi.

Pernah juga suatu hari saat aku bersepeda sama Ali melewati depan rumah Uyut, yang sekarang lebih sering kosong. Tiba-tiba Ali bilang, "Uyut..." aku menjelaskan, "Uyut kan nggak ada Li," eh Ali menyanggah "Ada!!!" katanya sambil menganggukkan kepala yakin. "Ada Uyut Mamaaaa..." iya iya deh. Subhanallah.

Terus barusan, pas lagi main mobil-mobilan sendirian, Ali kok kayak menyebut "Yut... Iyah Yut..." lalu kami tanya,

"Siapa Li?"
"Yut yut uyuuut..."
"Uyut?! Di mana?"
"Tuh di atas."

Mataku terasa menghangat. Aku langsung terbayang senyumannya yang kurindukan. Uyut kangen Ali ya? Jadi nengokin. Subhanallah.

Tak mungkin rasanya Ali mengada-ngada. Selepas salat, aku mengajak Ali mendoakan Uyut, membacakan Fatihah dan surat Al Mulk.

Semoga Allah  mengampuni dosa dan melimpahkan rahmat-Nya untuk Uyut tercinta. Salam rindu.