Kamis, 29 Januari 2009

Jangan Dekat-Dekat Bom, Ayah..

Cerpen oleh: Ken Andari

“Ayah pergi dulu, ya. Dah Arif sayang, Ayah pasti cepat pulang! Jaga Bunda dan Arif ya Ris, jagoan Ayah,” ujarnya sambil mengacak rambutku. Aku hanya bisa terpaku memandangi punggung kekarnya yang kian menjauh. Ayah harus pergi lagi. Kali ini ke Mesir, perbatasan Rafah tepatnya. Di sanalah Ayah akan bertugas, mengabarkan situasi langsung dari Gaza untuk dunia.

Ya, ayahku adalah seorang wartawan televisi. Ia tak pernah berhenti mencari berita, karena memang berita tak pernah habis. Namun karena ayahku memang wartawan senior, ia kerap diberikan tugas liputan yang berat-berat. Seringkali ke daerah konflik atau daerah bencana.

Tahun 2004 lalu misalnya, ketika situasi di Aceh sedang panas-panasnya, Ayah dikirim ke sana. Aku dan Bunda sangat khawatir, tapi setiap malam Ayah menelepon dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Selama satu minggu, kami masih bisa bernafas lega karena Ayah tak pernah absen mengabari kami. Namun tiba-tiba pagi hari tanggal 26 Desember 2004 peristiwa itu terjadi. Tsunami besar menghantam Aceh, seluruh kota luluh lantak. Lebih dari seratus ribu orang meninggal dunia. Selebihnya hilang disapu lautan yang mengamuk. Aku sedang ujian akhir semester saat itu. Dan aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi mengerjakan soal. Pikiranku selalu tertuju pada Ayah, dimana dia? Apakah ia baik-baik saja? Bagaimana keadaannya sekarang? Adakah ia terluka? Atau... ah tidak! Berbagai bayangan buruk tak henti mengusik pikiranku.

Tentu saja, kita semua tahu Aceh benar-benar hancur kala itu. Listrik terputus, saluran komunikasi tidak ada, makanan sulit. Banyak daerah yang terisolasi. Selama satu minggu tak ada kabar dari Ayah. Semua orang masih sibuk mengevakuasi jenazah yang ribuan jumlahnya. Aku tak pernah mau melihat liputan televisi atau foto-foto di media cetak. Apalagi foto para korban meninggal. Aku takut. Aku takut akan melihat sosok yang kukenali... Bunda pun tampak layu. Ia selalu berusaha tersenyum di hadapanku, mencoba menguatkanku dan bilang bahwa Ayah akan baik-baik saja, tapi aku tahu saat aku tak ada, Bunda menangis sejadi-jadinya.

Saat itu kami benar-benar digantung. Tersiksa betul rasanya. Akhirnya, seminggu kemudian Pak Andi, pemimpin redaksi Ayah menelepon kami dan mengabarkan bahwa Ayah baik-baik saja. Ayah sedang berada di bukit, dalam hutan bersama kelompok GAM ketika tsunami terjadi. Ayah selamat, tapi baru bisa pulang sepuluh hari kemudian. Ia tampak lusuh dan tertekan, tapi matanya berbinar seketika ia menatap kami kembali.
Sejak itu, Ayah semakin sering menyediakan waktu untuk kami. Agaknya Ayah merasakan betul bahwa apapun bisa terjadi dalam hidup. Ia harus siap menghadapi segala kemungkinan terburuk. Ia tak tahu kapan akan ditugaskan lagi. Mungkin besok, lusa, atau bulan depan. Mungkin ke Irak, Afghanistan, atau Rwanda. Aku tak tahu, Ayah pun tak tahu. Karena memang tak ada yang tahu, apa yang akan terjadi esok. Adik kecilku yang masih berumur lima tahun, Arif, setiap hari selalu bilang dengan polosnya, ”Ayah jangan pergi lagi...” Ayah biasanya cuma tersenyum. Ia tak bisa janji. Arif tak akan mengerti. Itu sebabnya ia menangis lagi ketika Ayah pergi tadi pagi.

Aku pun tak mau Ayah pergi. Aku sudah lihat pemberitaan di media massa tentang betapa kacaunya situasi di Gaza. Pasukan Israel menyerang siapa saja dengan membabi buta. Anak-anak, wanita, orang tua, semua terluka. Aku tahu, wartawan tidak boleh diserang di medan perang. Tapi tentu saja, kekhawatiran itu tetap saja ada. Kalau para tentara biadab itu saja tidak memandang anak-anak dan wanita, bagaimana mau menjamin keselamatan wartawan? Makanya, kami tak henti berdoa.

Sebenarnya menyenangkan jadi anak seorang wartawan. Bangga rasanya. Berkat merekalah kita jadi tahu banyak informasi dari berbagai belahan dunia. Ayah sudah terjun ke dunia jurnalistik sejak muda. Ia dahulu aktivis di kampusnya. Sebelum menikah pun, Ayah sudah bekerja sebagai reporter di sebuah surat kabar terkemuka ibukota. Berarti sudah lebih dari 13 tahun Ayah mengabdi kepada masyarakat dengan menjadi wartawan. Ya, Ayah bilang menjadi wartawan berarti memegang amanat masyarakat, karena wartawan mewakili right to know dan right to inform khalayak luas. Karena itu, Ayah tak pernah mengeluh meskipun gajinya tak sebesar kawan-kawan lain yang bekerja di perusahaan swasta. Kata Ayah, ia bekerja bukan untuk digaji perusahaan, tapi ia bekerja untuk memenuhi kepuasan khala-yaknya. Dan satu lagi, yang menurutku paling keren, Ayah bekerja untuk kebenaran.

Karena Ayah seorang wartawan, nilai-nilai jurnalistik ia terapkan juga dalam mendidik anak-anaknya di rumah. Misalnya, tepat waktu, harus bersikap kritis, tak boleh asal berbicara, apalagi berbohong. Ayah juga sangat demokratis. Ia tak pernah melarang anak atau istrinya melakukan sesuatu. Biarpun aku dan Arif masih kecil, ia bicara dan memperlakukan kami berdua layaknya orang dewasa. Kalau ada masalah kami tidak pernah dimarahi, melainkan diajak duduk bersama di ruang tamu dan mendiskusikan masalah tersebut.

Ayahku pengetahuannya luas sekali, seperti ensiklopedi berjalan. Seaneh apapun pertanyaan yang pernah aku ajukan kepadanya, tak satu pun yang tak bisa dijawabnya. Waktu memang tak akrab denganku dan Ayah, sebab ia pergi sangat pagi. Kadang pulang pagi lagi. Tapi setiap kali pulang, selalu banyak hal, banyak cerita yang ia uraikan kepada kami. Makanya rindu kami pada Ayah tak pernah musnah, walau ia jarang di rumah.

Seperti hari ini. Sudah seminggu sejak Ayah berangkat ke Gaza. Situasi di sana sudah semakin menggila. Hari ini, sudah hampir 500 orang warga sipil terbunuh. Tentara Israel benar-benar tak menghargai jiwa. Setiap hari, kami bertiga tak pernah ketinggalan mengikuti program berita. Sebab pada sesi liputan khusus mengenai krisis di Jalur Gaza, kami bisa melihat Ayah di layar kaca yang sedang melaporkan langsung dari perbatasan Rafah. Ayah dan rombongan relawan Indonesia lainnya memang belum bisa memasuki Gaza, karena tentara Israel masih memblokadenya.

Walaupun cuma lewat televisi, itu sudah cukup mengobati kerinduan kami. Kami juga bisa tahu, bahwa Ayah baik-baik saja. Meskipun tak jarang kami nyaris histeris melihat bom atau granat meledak hanya sekian kilometer dari tempat Ayah berdiri. Atau suara gemuruh pertempuran jarak dekat yang juga terdengar di antara suara Ayah yang sudah mulai serak. Suasana yang menyeramkan itu terbawa hingga ke ruang tamu kami. Setiap menonton liputan langsung Ayah, mata Bunda selalu berkaca-kaca. Tapi ia tidak mau menangis. Aku mengerti perasaan Bunda. Pasti campur aduk rasanya, rindu, khawatir, takut, sekaligus bangga. Aku juga. Aku bangga pada Ayahku yang pemberani.

Selama di Gaza, Ayah baru bisa menghubungi kami tiga kali. Itu pun ketika baru hari-hari pertama di sana. Selepas itu, mungkin situasi bertambah gawat sehingga Ayah tak sempat lagi menghubungi kami. Kini, cuma kabar dari Pak Andi dan gambar-gambar Ayah di televisi yang menjadi pengobat rindu kami. Ayah sama sekali tak pernah menelepon lagi. Setiap pagi, aku terbangun dan mendapati Bunda sudah duduk di depan televisi mengikuti berita pagi. Tentu saja, menunggu Ayah, apalagi? Bunda mengucapkan selamat pagi dan tersenyum, tapi kulihat matanya semakin hari semakin cekung. Aku mencium pipinya, mencoba membuat Bunda bahagia dan bersinar seperti biasanya. Aku ingat kata-kata Ayah sebelum ia berangkat, ”Haris jagoan Ayah, jaga Bunda dan Arif, ya!”

Tapi kurasa aku tak pernah benar-benar berhasil mengembalikan bintang di mata Bunda. Karena aku pun tak kuasa terbang lebih tinggi. Aku butuh Ayah, yang mengajari aku terbang, untuk mengambilkan Bunda bintang-bintang. Ayah, cepatlah kembali! Aku tak tahan melihat mata Bunda yang semakin meredup. Mataku pun kembali menghangat. Apalagi kalau men-dengar adikku, Arif bertanya, ”Ayah kapan pulang? Kok Ayah nggak pernah nelpon, Bunda? Arif kangen mau foto-foto lagi.” Ya, adikku itu meskipun baru 6 tahun umurnya, sudah jago memotret, loh. Pakai kamera Nikon Ayah. Aduh Dik, Ayah sendiri pun tampaknya belum tahu kapan ia bisa pulang. Karena konflik pun tampaknya belum akan berakhir.

Aku sedang duduk dan membaca buku-buku Ayahku, di ruang kerjanya. Ruang kerja Ayah kecil, tapi rapi sekali. Bukunya banyak, aku sudah baca hampir setengahnya. Sejak aku kecil, Ayah tak pernah menyodoriku buku mewarnai dan semacamnya. Ia malah membuatku penasaran dengan buku-buku ”orang gede”, seperti buku sastra atau buku tebal berbahasa Inggris. Kalau nggak ngerti, aku akan tanya pada Ayah. Maka tak heran, isi otakku sekarang agak berbeda dengan anak-anak kelas 2 SMP lain seusiaku. Bukan komik, bukan video game yang aku minati, melainkan buku.
Tiba-tiba telepon berdering. Aku mengangkatnya, dan aku langsung mendengar suara yang sangat aku kenali, Ayah!

”Assalamualaikum, Nak. Ini Ayah!”
”Wa’alaikum salam! Iya Ayah! Waa Ayah kok baru nelepon sih? Ayah kemana aja, kita kan nunggu-nungguin telepon Ayah! Ayah lagi di mana? Apa kabar, Yah?”
”Waduh, stop stop nanyanya satu-satu dong. Iya nih Rif, susah banget buat nelpon ke Jakarta dari sini. Maaf ya. Ayah sekarang lagi di Rafah. Satu jam lagi Ayah siaran, nonton ya! Hehehe...”
”Ayah jangan deket-deket sama bom dong, kita ’kan ngeri ngeliatnya.”
”Hahaha! Kadang kita ’kan juga nggak bisa memprediksi bomnya akan jatuh dimana. Tahu sendiri kan, gimana tentara Israel itu? Tapi tenang aja kok, banyak pasukan PBB di sini. Insya Allah, Ayah aman. Bunda sama Arif mana?”
”Bunda tadi lagi keluar, ada acara sama ibu-ibu RT. Arif dibawa. Mau dipanggilin?”
”Duh, nggak usah deh. Soalnya Ayah nggak bisa lama-lama. Salam aja ya, buat Bunda dan Arif. Salam sayang, salam kangen mmuah. Hahaha!”
”Oke. Ayah... cepat pulang....” suaraku tercekat.
”Iya Ayah pasti pulang bagaimanapun bentuknya. Hahaha! Titip rumah ya, Jagoan. Gantikan Ayah sebentar, oke? Assalamualaikum!”
”Wa’alaikum salam. Ayah, jangan....”
Tut...tut...tut... Sambungan telepon terputus.
...jangan dekat-dekat bom lagi.

Aku melirik jam. Wah sudah pukul lima sore. Waktunya lihat berita, lihat Ayah. Bunda belum juga pulang. Ya, aku menonton sendirian deh. Aku senang sekali habis ngobrol dengan Ayah. Aku lihat berita, ternyata situasi di Gaza semakin kacau saja. Israel semakin gencar mela-kukan serangan. Mereka bahkan mengebom rumah sakit, pengungsian, dan pos kesehatan PBB. Korban jiwa sudah mendekati angka seribu. Seluruh dunia mengutuk Israel, tapi hanya sebatas mengutuk. Mereka tidak bisa menghentikannya. Ffiuhh...tapi aku sudah lega karena Ayah baik-baik saja. Nah, itu dia Ayahku di layar kaca!

”Ya, pemirsa. Kembali Faisal Akbar melaporkan tentang situasi di Jalur Gaza, langsung dari perbatasan Rafah. Seperti bisa Anda lihat, pemirsa, di belakang saya...”

Wah baru kali ini saya tidak merasa sedih melihat Ayah. Rasa kangen saya sudah sedikit terobati. Sayang Bunda dan Arif tidak ada. Situasi di belakang Ayah sangat menyeramkan. Ada sekitar tiga atau empat asap hitam berbentuk cendawan raksasa yang mengotori langit gaza. Kemudian ada juga bom yang ditembakkan dari udara, yang asapnya berbentuk seperti ubur-ubur dan berwarna putih. Bom apa itu, ya? Duh Ayah, tadi ’kan aku sudah bilang, jangan dekat-dekat bom.

DHUAARRRR.....!!!
Suara gemuruh keras sekali. Aku tak bisa melihat apa-apa lagi di layar kaca, kecuali debu dan...darah! Astaga! AYAH!!! Bunda, tolong!! Bunda, aku sendiri! Bunda cepat kemari! Bunda, dimana kau Bunda? Bunda, aku mau lari...!!! Tapi tubuhku seperti terkunci di sofa. Mati rasa. Aku seperti mau mati. Aku tak mau percaya! Apa yang sedang terjadi? Darah siapa yang muncrat di kamera tadi? Ya Tuhan!

Ini siaran langsung, kawan! Ini sungguhan! Dan reporter itu Ayahku! AYAHKU! Seketika situasi kacau, suara tak jelas. Gambar mengerikan itu pun segera digantikan dengan gambar studio di Jakarta, yang penyiarnya tampak kalang kabut. Kedua penyiar berita sore itu berusaha tenang, tapi suara mereka hampir-hampir tercekat ketika mencoba menjelaskan apa yang terjadi kepada pemirsa. Penyiar yang perempuan bahkan tak bisa berkata-kata lagi, wajahnya memerah ketakutan. Air matanya hampir menetes. Semua orang di studio, semua pemirsa di rumah bingung apa yang terjadi. Apa yang harus dilakukan? Semua terjadi begitu cepat, dan tentu saja, sama sekali di luar bayangan kami semua! Ini siaran langsung! Berarti, saat ini, detik ini, apa yang terekam kamera barusan betul-betul sedang terjadi. Gambar yang terlalu mengerikan, terutama untukku!

Astaga, itu Ayahku! Ayahku yang baru saja menelepon satu jam yang lalu! Aku baru saja bicara dengannya! Ia bilang ia akan pulang! Peristiwa tadi kembali berputar dalam pikiranku. Suara gemuruh, debu, dan darah yang muncrat. Semua terekam jelas. Aku melihat peristiwa tadi, dengan mata kepalaku sendiri! Aku sendiri! Bunda, aku takut... Aku tak bisa bergerak Bunda! Bunda, cepat pulang... Kemudian terdengar suara pintu pagar rumah dibuka. Bunda! Terdengar suara si kecil Arif, ”Bunda, ayo cepat nanti kita ketinggalan nonton Ayahnya!” Bunda masuk, dan menyapaku, ”Mas Haris lagi nonton Ayah, ya? Kita udah ketinggalan belum?”

Aku mau mati rasanya.


***

Jumat, 16 Januari 2009

Cerpen: Jangan Terlalu Dekat Bom, Ayah!

“Ayah pergi dulu, ya. Dah Arif sayang, Ayah pasti cepat pulang! Jaga Bunda dan Arif ya Ris, jagoan Ayah,” ujarnya sambil mengacak rambutku. Aku hanya bisa terpaku memandangi punggung kekarnya yang kian menjauh. Ayah harus pergi lagi. Kali ini ke Mesir, perbatasan Rafah tepatnya. Di sanalah Ayah akan bertugas, mengabarkan situasi langsung dari Gaza untuk dunia. Ya, ayahku adalah seorang wartawan televisi. Ia tak pernah berhenti mencari berita, karena memang berita tak pernah habis. Namun karena ayahku memang wartawan senior, ia kerap diberikan tugas liputan yang berat-berat. Seringkali ke daerah konflik atau daerah bencana.

Tahun 2004 lalu misalnya, ketika situasi di Aceh sedang panas-panasnya, Ayah dikirim ke sana. Aku dan Bunda sangat khawatir, tapi setiap malam Ayah menelepon dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Namun tiba-tiba pagi hari tanggal 26 Desember 2004 peristiwa itu terjadi. Tsunami besar menghantam Aceh, seluruh kota luluh lantak. Lebih dari seratus ribu orang meninggal dunia. Selebihnya hilang disapu lautan yang mengamuk. Aku yang sedang ujian akhir semester, sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Pikiranku selalu tertuju pada Ayah, dimana dia? Apakah ia baik-baik saja? Adakah ia terluka? Atau... ah tidak! Berbagai bayangan buruk tak henti mengusik pikiranku.

Selama satu minggu tak ada kabar dari Ayah. Semua orang masih sibuk mengevakuasi jenazah yang ribuan jumlahnya. Bunda pun tampak layu. Ia selalu berusaha tersenyum di hadapanku, mencoba menguatkanku dan bilang bahwa Ayah akan baik-baik saja, tapi aku tahu saat aku tak ada, Bunda menangis sejadi-jadinya.

Akhirnya, seminggu kemudian Pak Andi, pemimpin redaksi Ayah menelepon kami dan mengabarkan bahwa Ayah baik-baik saja. Ayah sedang berada di bukit, dalam hutan bersama kelompok GAM ketika tsunami terjadi. Ayah selamat, tapi baru bisa pulang sepuluh hari kemudian. Ia tampak lusuh dan tertekan, tapi matanya berbinar seketika ia menatap kami.

Sejak itu, Ayah semakin sering menyediakan waktu untuk kami. Agaknya Ayah merasakan betul bahwa apapun bisa terjadi. Ia tak tahu kapan akan ditugaskan lagi. Mungkin besok, lusa, atau bulan depan. Mungkin ke Irak, Afghanistan, atau Rwanda. Aku tak tahu, Ayah pun tak tahu. Adik kecilku, Arif, setiap hari selalu bilang dengan polosnya, ”Ayah jangan pergi lagi...” Ayah biasanya cuma tersenyum. Ia tak bisa janji. Arif tak akan mengerti. Itu sebabnya ia menangis lagi ketika Ayah pergi tadi pagi.

Sebenarnya menyenangkan jadi anak seorang wartawan. Bangga. Ayah sudah terjun ke dunia jurnalistik sejak muda. Kini sudah lebih dari 13 tahun Ayah mengabdi kepada masyarakat dengan menjadi wartawan. Ya, Ayah bilang menjadi wartawan berarti memegang amanat masyarakat, karena wartawan mewakili right to know dan right to inform khalayak luas. Ayah tak pernah mengeluh meskipun gajinya tak sebesar kawan-kawannya. Kata Ayah, ia bekerja bukan untuk digaji perusahaan, tapi ia bekerja untuk memenuhi kepuasan khalayaknya. Dan satu lagi, yang menurutku paling keren, Ayah bekerja untuk kebenaran.

Karena Ayah seorang wartawan, nilai-nilai jurnalistik ia terapkan juga dalam mendidik anak-anaknya di rumah. Misalnya, tepat waktu, sikap kritis, tak boleh asal berbicara, apalagi berbohong. Ayah juga sangat demokratis. Biarpun aku dan Arif masih kecil, ia bicara dan memperlakukan kami layaknya orang dewasa. Kalau ada masalah kami tak pernah dimarahi, melainkan diajak duduk bersama di ruang tamu dan mendiskusikan masalah tersebut.

Ayahku pengetahuannya luas sekali, seperti ensiklopedi berjalan. Seaneh apapun pertanyaan yang ku ajukan kepadanya, semua bisa dijawabnya. Waktu memang tak akrab denganku dan Ayah, sebab ia pergi sangat pagi. Kadang pulang pagi lagi. Tapi iya selalu pulang dengan banyak cerita. Makanya rindu kami pada Ayah tak pernah musnah, walau ia jarang di rumah.

Seperti hari ini. Sudah seminggu sejak Ayah berangkat ke Gaza. Situasi di sana semakin menggila. Setiap hari, kami tak melewatkan sesi liputan khusus dari Jalur Gaza, karena saat itulah kami bisa melihat Ayah di layar kaca yang sedang melaporkan langsung.

Walaupun cuma lewat televisi, itu sudah cukup mengobati kerinduan kami. Kami juga bisa tahu, Ayah baik-baik saja. Meskipun tak jarang kami histeris melihat bom atau granat meledak hanya beberapa kilometer dari tempat Ayah berdiri. Suara gemuruh pertempuran jarak dekat juga terdengar di antara suara Ayah yang mulai serak. Suasana yang menyeramkan itu terbawa hingga ke ruang tamu kami. Setiap menonton liputan langsung Ayah, mata Bunda selalu berkaca-kaca. Tapi ia tidak mau menangis. Aku mengerti perasaan Bunda. Pasti campur aduk rasanya, rindu, khawatir, takut, sekaligus bangga. Aku juga bangga pada Ayahku yang pemberani.

Selama di Gaza, Ayah baru bisa menghubungi kami tiga kali. Selepas itu, mungkin situasi bertambah gawat sehingga Ayah tak sempat lagi menghubungi kami. Kini, cuma kabar dari Pak Andi dan gambar-gambar Ayah di televisi yang jadi pengobat rindu kami. Ayah tak pernah menelepon lagi. Setiap bangun pagi, aku mendapati Bunda sudah duduk di depan televisi mengikuti berita pagi. Tentu saja menunggu wajah Ayah, apalagi? Bunda mengucapkan selamat pagi dan tersenyum, tapi kulihat matanya semakin hari semakin cekung. . Aku ingat kata-kata Ayah sebelum ia berangkat, ”Haris jagoan Ayah, jaga Bunda dan Arif, ya!” Aku cium pipinya, mencoba membuat Bunda bahagia dan bersinar seperti biasanya.

Ayah, cepatlah kembali! Aku tak tahan melihat mata Bunda yang semakin sayu. Apalagi kalau mendengar adikku, Arif bertanya, ”Ayah kapan pulang? Kok Ayah nggak pernah nelpon, Bunda?” Aduh Dik, Ayah sendiri pun tampaknya belum tahu kapan ia bisa pulang. Karena konflik pun tampaknya belum akan berakhir.

Aku sedang duduk dan membaca buku-buku Ayahku, di ruang kerjanya. Bukunya banyak, aku sudah baca hampir setengahnya. Sejak kecil, Ayah tak menyodoriku buku mewarnai. Ia malah membuatku penasaran dengan buku-buku ”orang gede”, seperti buku sastra atau buku tebal berbahasa Inggris. Maka tak heran, minatku agak berbeda dengan anak-anak seusiaku. Bukan komik atau video game yang aku minati, melainkan buku.

Tiba-tiba telepon berdering. Aku mengangkatnya, dan aku langsung mendengar suara yang sangat aku kenali, Ayah!
”Assalamualaikum, Nak. Ini Ayah!”
”Wa’alaikum salam! Iya Ayah! Ayah kok baru nelepon sih? Ayah kemana aja, kita kan nungguin telepon Ayah! Ayah lagi di mana? Apa kabar, Yah?”
”Waduh, stop stop nanyanya satu-satu dong. Iya nih Rif, susah banget buat nelpon ke Jakarta dari sini. Maaf ya. Ayah sekarang lagi di Rafah. Satu jam lagi Ayah siaran, nonton ya! Hehehe...”
”Ayah jangan deket-deket sama bom dong, kita ’kan ngeri ngeliatnya.”
”Hahaha! Kadang kita ’kan juga nggak bisa memprediksi bomnya akan jatuh dimana. Tenang aja, banyak pasukan PBB di sini. Insya Allah, Ayah aman. Bunda sama Arif mana?”
”Bunda tadi lagi keluar, ada acara sama ibu-ibu RT. Arif dibawa. Mau dipanggilin?”
”Duh, nggak usah deh. Ayah nggak bisa lama-lama. Salam ya, buat Bunda dan Arif. Salam sayang, salam kangen!”
”Oke. Ayah... cepat pulang....” suaraku tercekat.
”Iya Ayah pasti pulang! Titip rumah ya, Jagoan. Gantikan Ayah sebentar, oke? Assalamualaikum!”
”Wa’alaikum salam. Ayah, jangan....”

Tut...tut...tut... Sambungan telepon terputus.

...jangan dekat-dekat bom lagi.

Aku melirik jam. Wah sudah pukul lima sore. Waktunya lihat berita, lihat Ayah. Bunda belum pulang. Ya, aku menonton sendirian deh. Aku senang sekali habis ngobrol dengan Ayah. Aku lihat berita, ternyata situasi di Gaza semakin kacau saja. Ffiuhh...tapi aku sudah lega karena Ayah baik-baik saja. Nah, itu dia Ayahku di layar kaca!

”Ya, pemirsa. Kembali Aji Ismail melaporkan situasi di Jalur Gaza, langsung dari perbatasan Rafah. Seperti bisa Anda lihat, pemirsa, di belakang saya...”

Wah baru kali ini aku tidak merasa sedih melihat Ayah. Situasi di belakang Ayah sangat menyeramkan. Ada tiga atau empat asap hitam berbentuk cendawan raksasa yang mengotori langit Gaza. Kemudian ada juga bom yang ditembakkan dari udara, yang asapnya berbentuk seperti ubur-ubur dan berwarna putih. Bom apa itu, ya? Duh Ayah, tadi ’kan aku sudah bilang, jangan dekat-dekat bom.

DHUAARRRR.....!!!

Suara gemuruh keras sekali. Aku tak bisa melihat apa-apa di layar kaca, kecuali debu dan...darah! Astaga! AYAH!!! Bunda, tolong!! Bunda, aku sendiri! Bunda cepat kemari! Bunda, aku mau lari...!!! Tapi tubuhku seperti terkunci di sofa. Mati rasanya. Aku tak mau percaya! Apa yang sedang terjadi? Darah siapa yang terlihat di kamera tadi? Ya Tuhan!

Ini siaran langsung, kawan! Ini sungguhan! Dan reporter itu Ayahku! AYAHKU! Seketika situasi kacau, suara tak jelas. Gambar mengerikan itu segera digantikan dengan gambar studio di Jakarta, yang penyiarnya tampak kalang kabut. Kedua penyiar berita sore itu berusaha tenang, tapi suara mereka hampir-hampir tercekat ketika mencoba menjelaskan apa yang terjadi kepada pemirsa. Penyiar yang perempuan bahkan tak bisa berkata-kata lagi, wajahnya memerah ketakutan. Air matanya hampir menetes. Semua orang bingung dan kaget. Semua terjadi begitu cepat, dan tentu saja, di luar bayangan kami semua! Ini siaran langsung! Berarti, saat ini, detik ini, apa yang terekam kamera barusan betul-betul sedang terjadi. Gambar yang terlalu mengerikan, terutama untukku!

Astaga, itu Ayahku! Ayahku yang baru saja menelepon satu jam yang lalu! Aku baru saja bicara dengannya! Ia bilang ia akan pulang! Peristiwa tadi kembali berputar dalam pikiranku. Suara gemuruh, debu, dan darah yang muncrat. Semua terekam jelas. Aku melihat peristiwa tadi, dengan mata kepalaku sendiri! Bunda, aku takut... Bunda, cepat pulang...

Kemudian terdengar suara pintu pagar rumah dibuka. Bunda! Terdengar suara si kecil Arif, ”Bunda, ayo cepat nanti kita ketinggalan nonton Ayahnya!” Bunda masuk, dan menyapaku, ”Mas Haris lagi nonton Ayah, ya? Kita udah ketinggalan belum?” Aku mau mati rasanya.

***

Minggu, 11 Januari 2009

Jatinangor, Membangun untuk Siapa?

Jatinangor, sebuah kota kecil perbatasan Bandung-Sumedang, kini mulai tumbuh menjadi sebuah “kota baru”. Kota baru yang diperkenalkan sebagai kawasan pendidikan, dengan didirikannya empat perguruan tinggi di wilayah ini, yaitu Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Institut Koperasi Indonesia (IKOPIN), Universitas Winaya Mukti, dan Universitas Padjadjaran. Dibangunnya keempat perguruan tinggi ini memaksa Jatinangor untuk melakukan perubahan besar-besaran.

Dulu, Jatinangor masih berupa bentangan perkebunan karet yang hijau dengan kehidupan masyarakatnya yang masih sangat tradisional. Sekonyong-konyong datanglah IPDN, Unpad, dan Hotel Bandung Giri Gahana Golf yang dalam waktu singkat telah mengubah wajah Jatinangor. Ratusan hektar perkebunan karet itu kini digantikan lapangan golf serta bangunan-bangunan hotel, kampus, dan kos-kosan yang tinggi menjulang.

Kesejukan udaranya berganti kepulan asap dan bisingnya suara kendaraan yang macet setiap hari. Para petani yang kehilangan tanahnya beralih profesi menjadi tukang ojek dan penarik angkutan umum. Warung-warung kecil milik penduduk lokal pun kalah pamor dengan Jatinangor Town Square, Cherrish Corner, Alfamart, Yomart, dan Indomaret yang berderet sepanjang jalan. Mereka kalah modal.

Anak-anak kecil yang dulu biasa memainkan kaulinan urang lembur ala anak-anak tradisional Sunda, kini berlomba-lomba meniru gaya kakak-kakak mahasiswa yang mungkin menurut mereka ‘keren’. Mereka ngebut naik motor, memainkan handphone, berpenampilan gaya layaknya pemain band ibukota, bahkan merokok. Beberapa anak laki-laki berpakaian lusuh juga kini tak malu-malu lagi menadahkan tangannya dan setengah memaksa minta uang kepada setiap orang yang lewat. Inilah contoh masyarakat yang mulai kehilangan arah dan terjajah di atas tanahnya sendiri.

Sejak mencuatnya kasus-kasus kekerasan praja IPDN, banyak media massa yang mulai mengalihkan perhatiannya ke kota kecamatan yang sibuk ini. Jatinangor tengah mengalami perubahan sosial yang cukup signifikan dalam sepuluh tahun terakhir. Hal ini disebabkan oleh pembangunan sejumlah kampus perguruan tinggi tadi dan kos-kosan untuk para mahasiswanya yang tentu saja telah banyak mengambil lahan dan kesempatan para penduduk lokal. Akibatnya, banyak penduduk lokal yang justru terpinggirkan oleh kaum pendatang, seperti mahasiswa dan para pemegang saham. Mereka yang terpaksa beralih profesi kini masih banyak yang bekerja dengan upah di bawah UMR dan tingkat kesejahteraan hidup yang memprihatinkan.

Salah satunya adalah Emod (66), seorang petugas keamanan Unpad yang telah bekerja selama hampir 20 tahun. Menurut Emod, dulu ia dan warga Jatinangor lainnya bekerja sebagai petani. Namun ketika lahan mereka dibeli oleh Unpad, mereka terpaksa beralih profesi. Kebanyakan malah memutuskan untuk bekerja menjadi kuli di proyek pembangunan Unpad. Kampung Emod yang bernama Babakan Sari dulu berdiri di atas lahan kampus Fakultas Ilmu Komunikasi yang sekarang. Emod mengaku dulu hanya diberikan uang pengganti rumah dan lahan yang pas-pasan, bahkan sempat diancam akan digusur bila menolak pindah. Walau begitu, Emod menyadari ia tinggal di atas tanah milik pemerintah Jawa Barat, sehingga ia akhirnya pindah ke Desa Hegarmanah bersama tetangga-tetangganya. Namun tentu saja, kesejahteraannya tak kunjung meningkat.

Emod mengungkapkan bahwa sebelum mulai membangun Unpad pada tahun 1982, bagian perencanaan pembangunan Unpad dulu pernah menjanjikan akan mengutamakan lapangan kerja untuk warga Jatinangor, sebelum warga pendatang. Namun pada kenyataannya, warga Jatinangor kini justru seperti menjadi terasing di tanahnya sendiri. Banyak warga pendatang yang memiliki modal lebih (uang dan keahlian) justru menjadi lebih sukses mendulang rupiah di Jatinangor. Masyarakat Jatinangor yang notabene berasal dari kalangan menengah ke bawah dan berpendidikan rendah pun menjadi jauh tertinggal.

Janji Unpad 20 tahun lalu tentang mengutamakan lapangan pekerjaan bagi warga asli Jatinangor pun, menurut Emod, baru terealisasi dua tahun belakangan. Unpad banyak merekrut warga asli Jatinangor menjadi satpam, petugas kebersihan, kuli bangunan, maupun supir angkutan kampus. Tapi hanya sebatas itu. Mereka masih ditempatkan di posisi yang rendah, dengan gaji yang pas-pasan, bahkan tidak memadai. Masih banyak pekerja di Unpad yang digaji di bawah standar UMK Sumedang. Untuk Kabupaten Sumedang sendiri, sebelumnya UMK pada tahun 2008 yaitu sebesar Rp 886.000 untuk Jatinangor dan Tanjungsari, dan untuk luar Jatinangor dan Tanjungsari sebesar Rp 700.000. Sedangkan untuk tahun 2009 UMK Kabupaten Sumedang naik sebesar 12,30% menjadi Rp 995.000 untuk daerah Tanjungsari dan Jatinangor, sedangkan untuk luar Tanjungsari dan Jatinangor menjadi Rp 809.000 naik sebesar 15,57%. (Tribun Jabar, 29 November 2008)

“Memangnya gaji Anda berapa, Pak?” kata saya penasaran. Pak Emod menjawab sembari tersenyum, “Gaji saya sebulan 400 ribu rupiah, Neng. Kalau uang makan juga ada, 6 ribu rupiah setiap hari.” Astaga, bisa dapat apa kita di zaman yang serba mahal ini dengan uang 400 ribu rupiah per bulan? Dan pekerjaan ini telah dilakoninya selama hampir 20 tahun! Selama itu pula Emod masih hidup dalam keadaan ekonomi yang pas-pasan, karena upah yang diterimanya juga tak pernah memadai. Bapak tiga anak ini sudah bekerja sebagai petugas keamanan Unpad sejak tahun 1999. Dulu gajinya tak sampai 100 ribu rupiah. Kemudian pada tahun 2000 barulah naik menjadi 350 ribu rupiah, dan baru dua bulan terakhir ia digaji sebesar 400 ribu rupiah. Ketika ditanya, apakah ia merasa cukup dengan uang itu? Emod menjawab, “Sebenarnya tidak cukup, tapi mau bagaimana lagi? Ini juga sudah naik kok, dibandingkan dulu. Ya dicukup-cukupin saja.:” Emod tak pernah mengeluh, meskipun gajinya hanya sedikit. Ia tetap bertahan, meskipun dengan cibiran banyak orang.

Tahukah Anda apa yang membuat Emod bertahan? Tak lain dan tak bukan adalah dedikasinya sendiri terhadap tanah kelahirannya, kampung halamannya, Jatinangor. “Saya ini orang Jatinangor, yang dipercaya menjaga keamanan asrama (Unpad). Kalau bukan saya, siapa lagi? Orang luar (Jatinangor) kan belum tentu bisa di sini terus. Rumahnya ‘kan jauh. Selain itu, saya juga punya tanggung jawab. Kalau saya nggak kerja, saya bukan malu kepada atasan, tapi kepada orang tua Neng. Orang tua Neng ‘kan sudah menitipkan Neng ke saya, kalau saya nggak amanat terus gimana?” Alasan yang sungguh sederhana, tapi tidak remeh, untuk bisa bertahan dengan gaji minim selama 10 tahun.

Bukan Pak Emod saja yang masih memiliki penghasilan minim, di bawah ketentuan UMR. Masih ada Komasih (37), seorang tukang cuci di asrama POMA Unpad yang suaminya berjualan bakso tahu (siomay). Penghasilan mereka yang tak tentu, kadang kurang dari 500 ribu rupiah setiap bulannya, habis dipakai untuk bayar kontrak rumah dan kebutuhan sehari-hari. Anak sulung Komasih yang baru lulus SMA pun masih kesulitan mencari kerja. Komasih pun kini sedang kebingungan mendapatkan biaya untuk menyekolahkan anak bungsunya di sekolah dasar. “Sekarang apa-apa mahal, sekolah juga mahal. Kata saya mah enakan zaman Pak Harto, semua murah, enak, daripada sekarang!”

Ada pula Kiki Susanto (32), petugas cleaning service di Fakultas Kedokteran Unpad, yang menyatakan, uang sebesar 200.000 rupiah yang ia terima sebagai gaji tiap dua minggu hanya cukup untuk makan keluarganya (kebetulan ia belum punya anak) dan uang rokok. Kemudian ada Bapak Aca, petugas kebersihan Pasar Unpad (Paun) yang dibayar 37 ribu rupiah untuk setiap kali selesai membersihkan Unpad. Itu masih kotor, artinya uang makan, ongkos, harus ia tanggung sendiri. Pak Aca yang tinggal di Tanjungsari ini pun terpaksa jalan kaki sampai ke Jatinangor. “Kalau naik ojek mah, habis atuh Neng, uang saya!” ujarnya sambil tertawa ringan.

Begitulah cerita-cerita masyarakat asli Jatinangor, yang di tengah pembangunan besar-besaran kota mereka, masih belum sejahtera. Memang pembangunan ini dirasa tanpa rencana, tanpa ditata. Jadi, sebenarnya untuk siapa Jatinangor ini dibangun?

Jumat, 02 Januari 2009

Susahnya Nyari Gentlemen di Damri

Setiap kali naik Damri, sebenarnya ada satu hal yang saya perhatikan kok semakin parah dari hari ke hari. Yaitu, menemukan sosok anak muda yang mau merelakan tempat duduknya untuk orang yang lebih tua. Suer deh. Semakin jarang aja.

Tadi juga gitu, pas saya mesti ke Bandung jam 7 pagi. Yaa kamu tau ‘kan betapa padatnya Damri jam 7 pagi? Semua tempat duduk penuh. Pas di Cileunyi, ada sepasang aki-nini yang udah tuaaa banget (ya iyalah tua) sampe-sampe buat naek ke Damri aja susah payah. (Saya suka mikir kalau gitu teh anaknya pada kemana, ya?)

Dengan Damri yang penuh tadi, otomatis mereka berdua nggak dapet tempat duduk. Dan nggak ada satu pun yang berdiri dan mempersilakan duduk. Padahal jelas banyak, malah hampir semua “dudukers” saat itu adalah mahasiswa (jelas masih muda-seenggaknya dibandingkan aki-nini itu), cowok apalagi, banyak.

Nggak ada yang bangkit. Kalau kamu bertanya dimana saya, oioiiii...saya duduk di pojok belakang sodara-sodara! Sulit untuk maksa keluar dengan keadaan penduduk Damri yang berdiri berdesak-desakan di depan saya. Lagian sebenernya banyak kok cowok yang duduk di pinggir dan lebih strategis posisinya dengan aki-nini itu. Bukannya mau berdalih, tapi emang begitu kenyataannya.

Nggak berapa lama, kemudian ada teteh yang berdiri dan mempersilakan si nini duduk di tempatnya. Sementara itu para cowok masih dengan santainya duduk dan pura-pura nggak tau. Uuh...kalau saya jadi cowok ya, saya bakal malu banget dengan teteh itu. Dengan nini itu juga. Dengan penumpang semuanya saya bakal malu! Masak saya yang lebih muda nggak mau merelakan tempat duduk untuk aki dan nini? Masak saya cowok yang lebih kuat nggak mau merelakan berdiri?

Sementara itu si aki belum juga duduk, padahal kaki tuanya udah gemeteran. Mungkin karena Pak Kondektur geregetan ngeliat para cowok yang apatis itu, akhirnya dia nyuruh seorang cowok yang duduk di pinggir buat berdiri dan ngasih tempat duduknya buat si aki. Disuruh, sodara-sodara! Ck ck ck...malunya dobel, cing!