Senin, 30 April 2012

Menuju Kelimutu, Perjalanan Penuh Liku


Kamis, 26 April 2012

Mentari bahkan belum terbit saat kami sudah bersiap meninggalkan hotel. Kami punya penerbangan pukul 6.15 WITA, jadi memang harus check in 1 jam sebelum boarding. Hari ini, kami akan ke Endeeeee...! Yeaayy...!

Kami boarding sesuai jadwal. Omong-omong, ini pertama kalinya aku naik pesawat yang bukan GIA, hehe... Maap, mau norak sebentar ya, hehe... *ndeso


Cuma ada 3 maskapai yang melayani rute ke Ende: Merpati Nusantara, Trans Nusa, dan Wings Air ini. Pesawat ini akan terbang menuju Labuan Bajo, tapi singgah sebentar ke Ende. Kami akan turun di Ende. Ke Labuan Bajo-nya lain waktu saja, hehe...

Pesawat ini ketinggian jelajahnya hanya pada 13.000 kaki, jadi mudah-mudahan aku bisa melihat pemandangan pulau-pulau-pulau nan cantik. Eh tapi pas boarding tiba-tiba gerimis, mendung menutupi langit Kupang. Yaahh...gak keliatan lagi dong nanti?

Eits, jangan sedih dulu! Karena ternyata, setelah pesawat berada di atas awan, aku disajikan pemandangan yang sangat luar biasa! Keren! Sinar matahari terbit kalo ketemu sama rintik-rintik gerimis jadinya apa hayo? Yap, betul! Pelangi! Bukan cuma satu, tapi banyaaaaakkk sekali pelangi yang muncul di balik awan. Di sana ada, eh di sini ada lagi, di situ juga ada. Waaaaww... aku sampe mau nangis ngeliatnya. Bagus banget...

Perjalanan dari Kupang menuju Ende hanya ditempuh dalam waktu 30 menit. Begitu sudah mendekati Ende, cuaca jadi cerah. Aku pun bisa melihat lansekap Ende yang unik, di mana barisan bukit-bukit hijau bertemu dengan jernihnya laut nan biru. Ditambah dengan matahari pagi yang bersinar keemasan, membuat semuanya tampak semakin cantik. It’s a WOW.  

Ende tampak dari atas
Waktu baru menunjukkan pukul 7 WITA saat kami mendarat di Bandara Haji Hasan Aroeboesman, Ende. Udara sejuk dan suara deburan ombak langsung menyambut kami. Iya, jadi runway di bandara ini tuh letaknya persis di pinggir laut. Sekaligus di kaki bukit. Bukit kecil ini namanya Gunung Meja.


Selagi kami menunggu bagasi, Bapak langsung keluar cari-cari info sewa mobil. Hari ini rencananya kami langsung menuju Kampung Moni, desa di kaki Gunung Kelimutu untuk bermalam di sana. Esok pagi baru kami menuju kawah dan menantikan matahari terbit dari puncak Kelimutu. Rencananya sih begitu...

Banyak banget yang nawarin mobil sampai Moni. Tapi yang dapet rejeki pagi itu adalah Bang Yosi. Dialah driver yang akan mengantarkan kami sampai ke Kampung Moni, yang jaraknya kurang lebih 66 km dari Kota Ende. Harga yang disepakati adalah Rp 400.000 sampai Kampung Moni. Sebetulnya ada juga angkutan umum berupa bus yang melewati Moni. Tapi ongkosnya Rp 50.000 per orang. Kami lebih pilih diantar Bang Yosi aja.

Bang Yosi ini orangnya ramah sekali, dan banyak bicara. Jadi banyak informasi yang kami dapatkan. Trus kayaknya dia ni gaul banget, soalnya setiap ketemu orang di persimpangan, adaaa...aja yang dia kenal. Bahkan dia mengantarkan kami beli nasi kuning di Bibi penjual langganannya. Berkali-kali sopir angkutan umum, pengendara motor, petugas pom bensin, sampai ibu penjual sayuran di pasar pinggir jalan pun menyapa dia. Gaoul bangetz kan?

Dari Bang Yosi yang ramah inilah kami dapat banyak informasi. Kirain jarak dari Kampung Moni ke Kelimutu cuma 5 km, ternyata 18 km. Biasanya orang ke Kelimutu naik ojek. Trus Bang Yosi tanya, besok mau berangkat ke kawah jam berapa? Kami bilang, kira-kira jam 4 atau jam 5. Waduh, orang setengah mati bangun jam segitu Pak! Dingin! Mungkin ada ojek, tapi agak sulit mencari ojek dalam jumlah banyak sekaligus. Kami kan berempat. Belum lagi kalau ada pengunjung lain. Trus ibu bilang, “Ibu kirain deket... gataunya 18 km. Ngebayangin naik ojek 18 km ke atas gunung, pagi-pagi buta, dingin pula... duh gimana ya?” Iya sih, kasian juga ibu.

Ya sudah, bagaimana kalau kita ke Kelimutu-nya sekarang aja, bareng Bang Yosi? Besok pagi aku dan Niko naik lagi lihat sunrise. Berdua aja nggak papa kalo naik ojek mah. Oke, Bang Yosi pun setuju mengantar kami sampai ke Kelimutu. Soal biaya, nanti saja dibicarakan.

Awalnya kami menggunakan AC dan menutup jendela mobil. Tapi pemandangan di kanan-kiriku membuatku nggak tega kalau harus menutup jendela terus. Akhirnya aku bilang, “Bang, gimana kalo jendelanya dibuka dan kita pakai AC alami saja?” Bang Yosi menyambut dengan senang hati karena itu berarti dia juga bisa sambil merokok, hehe... Beberapa kali kami berhenti di pinggir jalan untuk menyaksikan tebing-tebing dan perbukitan yang indah. Tidak seperti di Jawa, bukit-bukit di sini tidak rimbun pepohonan, melainkan rumput dan semak-semak saja. Kayak bukitnya Teletubbies. Banyak kuda merumput di bukit-bukit pinggir jalan itu. Nggak tau deh ada yang punya apa enggak, habis mereka tidak diikat tuh.

Bukit-bukit itu kebanyakan adalah bukit kapur, jadi tidak subur. Tidak tumbuh pohon besar, yang ada malah tebing-tebing retak. Yang lebih menakjubkan adalah, di antara retakan-retakan tebing itu ada banyak air terjun kecil-kecil. Kebayang nggak? It’s so beautiful.

dari retakan tebing seperti itu mengalir air terjun kecil-kecil

Kondisi jalan dari Ende menuju Moni sebetulnya beraspal cukup bagus. Hanya saja, jalannya berkelok-kelok, di sebelah kiri jurang, di sebelah kanan tebing batu yang rawan longsor. Mirip-mirip Cadas Pangeran di Sumedang, lah. Yosi bilang, kalau hujan sering terjadi longsor di sini. Wah, serem juga... 


Eh nggak berapa lama, terbukti lah perkataan Bang Yosi itu. Di depan kami melintang sebuah batu berukuran kurang lebih 1 meter kubik yang menghalangi jalan. Orang bilang, batu itu belum lama jatuh dan menimpa pengendara sepeda motor yang berboncengan. Keduanya mengalami patah kaki (untung nggak menimpa kepala) dan baru saja dilarikan ke rumah sakit.

Bang Yosi, Bapak, dan Niko pun turun dari mobil. Di belakang kami sudah terjadi kemacetan pendek (ini bukan Jawa, jadi lalu lintas tidak padat). Ada mobil tentara juga. Semua pun turun dan berusaha menyingkirkan batu itu. Dibantu oleh warga, ada sekitar 14 orang laki-laki yang berusaha untuk:
1.       Mengangkat batu itu --> GAGAL
2.       Menggelindingkan --> GAGAL
3.       Mendorong --> GAGAL
4.       Menggeser --> GAGAL juga

“Ya ampun, nengok aja enggak dia!” seru Bapak. Batu itu tidak bergerak barang sesenti pun.

Itu dia batunya di tengah jalan. Gak terlalu besar kan? Tapiiii...

Kelihatannya sih nggak terlalu gede ya batunya, tapi ternyata itu batu isi. Ya Alloh, semoga yang tadi tertimpa kakinya nggak parah...

Kami menunggu sampai buldoser datang dan menyingkirkan batu itu ke pinggir jalan. Dan ternyata, batu besar itu tidak sendirian. Di pinggir jalan sudah banyak temen-temen senasibnya yang sudah jatuh terlebih dahulu. Bok, serem ye.

Setelah kejadian itu, kami jadi mikir. Awalnya kan kami berencana menginap di Moni sampai Sabtu malam, dan Minggu paginya baru ke Ende, karena kami akan terbang ke Kupang pada Minggu pagi pukul 11. Tapi setelah kejadian ini, kami jadi mikir. Nanti seandainya Minggu pagi itu kami baru berangkat dari Moni, terus ada kejadian longsoran batu lagi, dan kami ketinggalan pesawat gimana? Tidak ada hujan saja batu itu bisa longsor, gimana kalau hujan ya? Hufft... Apalagi sampai sekarang kami pun belum tahu akan naik angkutan umum apa dari Moni ke Ende.

Ohya, ngomong-ngomong soal angkutan umum, di sana angkutan umum yang dari Moni menuju Ende itu banyak yang berupa truk. Truk yang sudah diberikan penutup, dan bangku berjejer. Seperti bus saja, tapi ini truk. Kenapa ya harus bikin bus dari truk? “Karena orang-orang dari kampung sana tidak biasa naik bus, dia orang pasti mabuk. Jadi mereka lebih pilih naik truk seperti itu,” kata Bang Yosi. Oalaaah...

Truk yang diubah jadi angkutan umum
Perjalanan pun dilanjutkan, melewati jalanan yang berkelok-kelok dan terus menanjak. Rasa mual dan pusing mulai menyerang, apalagi udara semakin dingin. Setibanya di Desa Koanara, Kecamatan Bolowaru, Bang Yosi memberhentikan mobil di pinggir sebuah pasar kecil. Pasar itu menjual aneka sayur dan buah yang segar, baru dipetik dari kebun. Katanya, “Belanja saja dulu Ibu, nanti di Kelimutu juga banyak kera, belikan mereka pisang sedikit!” Atuhlah Bang, bukan kera doang yang mau pisang! Kami juga mau!

Pasar di Desa Koanara
Di situ ibu beli dua sisir pisang yang rasanya legit banget. Satu buat kera, satu buat kami, hehe... Terus beli mentimun segede pepaya. Aku nggak ketinggalan dong, aku beli buah favoritku, markisa! Kelihatannya sih masih ijo-ijo, baru dipetik dari pohon, kata si Mamak penjual. Batangnya juga terlihat masih ijo. Tapi ternyataaaa... sluuurpp! Manis banget! Sumpah! Airnya banyak! Seger banget deh pokoknya! Bu, sumpah ini mah mesti beli banyak! Akhirnya selama perjalanan ke Kelimutu aku dan Niko nggak berhenti menyeruput markisa yang segar itu. Daripada ngemil keripik bikin haus, atau ngemil beng-beng bikin eneg, mending ngemil markisa!

Jalanan terus menanjak dan kabut semakin tebal. Bahkan jarak pandang terkadang tak lebih dari 5 meter. Padahal kanan-kiri jurang. Banyak tikungan 180 derajat. Ini sih mesti yang udah biasa bawa mobil ke sini. Kita, terutama ibu, jadi makin mikir, “Gimana kalo naik ojek pagi-pagi buta ya?”

Di sebelah kiri jalan kami melihat deretan rumah-rumah penduduk yang bentuknya masih tradisional, dari kayu. Itulah Kampung Moni, desa terakhir sebelum puncak Kelimutu. (Tadinya) kami berencana nginep di situ. Tapi ya itu tadi, kami masih mikir. Hehe...

Anak-anak desa yang melihat mobil kami berteriak sambil melambaikan tangan dan memanggil kami, “Mister! Mister!”

“Itu karena saking seringnya orang bule yang datang ke Kelimutu. Orang Indonesia malah jarang sekali. Jadi anak-anak itu terbiasa panggil semua yang lewat dengan “Mister,” kata Bang Yosi. Duh, kok miris ya? Ini tanah kita, negeri kita, tapi mengapa orang bule yang lebih banyak menikmati? Mereka jauh-jauh datang ke sini, sementara orang Indonesia yang tidak perlu pakai paspor dan visa malah jarang yang ke sini? Malah pergi belanja ke Singapura, malah ke Thailand, malah jauh-jauh ke Amerika. Padahal, surga itu ada di sini. Keindahan Kelimutu sungguh tiada duanya. Tidak percaya?

Tunggu catatan berikutnya, aku akan tunjukkan kepada kalian foto-foto pemandangan Kelimutu yang elok tiada tara. 

***

Melintas Garis Wallace

Aku sering berpikir, hal terbaik apa yang bisa kuwariskan ke anak-anakku kelak. Apakah ilmu, harta, pangkat? Tak semua hal bisa diwariskan. Namun setelah perjalananku kali ini, aku jadi tau apa yang bisa kuwariskan kepada anak-anakku. Kecintaan kepada tanah air Indonesia. Tidak ada yang lebih indah daripada Indonesia, dan tidak ada yang lebih baik daripada mencintai Indonesia.

Itulah yang telah diwariskan Bapak untukku.

***

Rabu, 25 April 2012

Pukul 4 pagi kami sudah bangun dan bersiap-siap berangkat. Kepagian ya? Hehe...kami terlalu bersemangat. Gimana nggak semangat, hari ini kami akan memulai perjalanan ke Nusa Tenggara! Uhuiiii...


Kalau orang-orang ditanya, tempat mana yang paling ingin kau kunjungi saat liburan? Ada yang jawab Bali, Singapura, Korea, Venezia, Paris, New York, dsb. Tapi kalau buatku, wilayah yang paling ingin aku jelajahi adalah wilayah Indonesia bagian tengah. Kau ingat kan dulu kita belajar tentang garis Weber dan garis Wallace yang membagi wilayah Indonesia menjadi tiga bagian? Aku selalu penasaran sama wilayah Indonesia bagian tengah yang jenis flora dan faunanya berbeda dengan dua wilayah lainnya. Sejak itu aku yakin bahwa wilayah Indonesia tengah itu istimewa.

Dulu Bapak sudah pernah mengajak kami ke Sulawesi Utara, tapi karena waktu itu aku dan adikku masih kecil, jadi wisatanya ala koper banget. Sekarang, Bapak kembali memberikan surprise untuk kami, perjalanan ke Nusa Tenggara! Kayaknya sih Bapak baca tulisan blogku yang ini, ^^

Karena sekarang anak-anaknya udah pada gede-gede, perjalanan kali ini adalah ala ransel! Yeaaayy...! Bahkan kata Bapak, "Bapak belum pernah lho ke Kupang. Kita sama-sama nggak tau, jadi nanti kita cari penginapan, cari makan, dan siap-siap juga kalo gak dapet tiket pesawat ke Ende." Ahh gapapa, kumaha engke eta mah, yang penting pergi! Hehe...


Travel ala ransel sudah siap!

Pesawat kami menuju Kupang akan berangkat pukul 07.10 WIB jadi kami sudah siap-siap check in sejak pukul 6 biar gak mepet dan buru-buru. Di pesawat, aku kebagian duduk dekat jendela darurat, jadi lega deh tempatnya, hehe... (ya iyalah, jalur evakuasi :p)

Pagi itu pemandangan dari atas indah sekali. Pesawat bergerak lewat selatan, jadi kami bisa lihat barisan pegunungan di Jawa Barat. Bahkan puncak Gede-Pangrango juga kelihatan menyembul dari balik awan. Heiii aku kan pernah ke situ! Kalo dilihat dari atas kayaknya kecil banget, padahal waktu mendaki dari bawah rasanya mau mati banget -______-“


Krucuk-krucuk... perutku sudah minta diisi. Maklum, sudah bangun dari jam 4 pagi tapi baru diisi donat doang. Baiklah, waktunya sarapan! Menunya segerrrr deh... omelet, kentang, tomat, sosis, plus buah dan susu. Selamat makan!

Sarapan
Pesawat ini nggak langsung terbang di Kupang, melainkan singgah dulu selama 30 menit di Denpasar. Selama 30 menit tersebut penumpang dengan lanjutan penerbangan ke Kupang boleh turun sambil menunggu di ruang tunggu airport Ngurah Rai, atau boleh juga tinggal di pesawat. Ya Alloh, aku terakhir ke Bali tuh 14 tahun yang lalu, masa udah di Bali cuma tinggal di pesawat? Seenggaknya aku harus menginjakkan tanah di Bali, biarpun cuma di runway. Ada buktinya! Nih!



Baru liat-liat sebentar di toko souvenir, tiba-tiba aku pengen pipis. Dan ternyataaaa toiletnya penuh banget! Terpaksa aku mengantri, dan setelah aku baru selesai pipis, eh ada panggilan boarding... Ya ampun, nasip... Setelah 14 tahun nggak ke Bali, sekalinya ke Bali cuma buat numpang pipis :’(

Perjalanan pun dilanjutkan. Aku udah niat, pokoknya gak mau tidur, aku mau lihat kepulauan Nusa Tenggara yang cantik! Aku mau lihat Rinjani! Sayang seribu sayang, ternyata si pesawat nggak lewat di atas Pulau Lombok, melainkan langsung ke Selatan. Hiks! Kepulauan Nusa Tenggara juga nggak banyak kelihatan karena cuaca berawan dan ketinggian pesawat ini ada di 34.000 kaki. Hiks! Untungnya, cuaca lumayan cerah di atas Kupang. Jadi ketika pesawat sudah turun dari ketinggian, aku bisa melihat pulau-pulau dan pantai yang indah di sekitar Pulau Timor. Cantiiiiiikkkk banget.

Tepi laut Pulau Timor warnanya turqoise, cantik ya?

Kami mendarat dengan selamat di Bandara El Tari Kupang, tepat pukul 12.46 WITA. Kami langsung disambut wajah-wajah ramah khas Indonesia Tengah. Malam ini, kami akan bermalam dulu di Kupang, besok pagi baru terbang lagi ke Ende. Kami pun langsung nyewa taksi yang mengantarkan kami ke hotel Le Detadu (agak susah diinget ya namanya) yang letaknya di Jalan Matahari, Penfui, Kupang. Nggak jauh, hanya <2km dari bandara.

Rugi besar kalau selama di Kupang kami hanya mendekam di kamar. Kami memutuskan untuk cari-cari jajanan di kota sambil menikmati sore di Kupang. Kami naik angkutan umum Kupang yang terkenal sebagai diskotek berjalan. Orang-orang di sini sangat suka bernyanyi, jadi tak heran kalau angkutan umumnya pun memasang speaker besar-besar dan menyetel musik keras-keras. Dag dug dag dug... dentuman speaker membuat penumpang nggak bisa ngobrol. Kalau mau turun, jangan teriak “kiri bang!” percuma, nggak akan kedengeran. Ada tombol di belakang yang bisa dipencet. Nanti si abang supir akan berhenti. Ongkosnya, jauh-dekat sama saja, Rp2000.

Kami turun di pertigaan Jalan Timor Raya, jajan dulu sambil tanya-tanya. Ternyata tak jauh dari situ ada sebuah pantai, namanya Pantai Lasiana. Karena sudah jam 5, kayaknya asik juga nih main di pantai sambil menikmati sunset. Saat itu, pantai terlihat sepi. Rupanya pantai ini biasa ramai kalau hari Sabtu-Minggu saja. Pantai Lasiana pasirnya halus berwarna coklat keabuan (dan empuk banget, asli). Selain itu, banyak sekali batu warna-warni yang terhampar di pinggir pantainya. Ada yang warna merah, kuning, biru, ungu, putih. Segera saja aku dan adikku, Niko, menelusuri pasir pantai sambil ngumpulin batu-batu lucu itu.

Batu-batuan warna-warni berserakan
Pasirnya empuk
Ken Andari, Lasiana Kupang 24 April 2012

Sayangnya sore itu mendung, jadi kami nggak bisa lihat matahari terbenam. Menjelang maghrib, kami memutuskan untuk pulang. Sebelum pulang ke hotel, kami beli makan malam dulu. Malam ini kami harus tidur cepat karena besok kami harus berangkat pagi-pagi sekali, mengejar pesawat pukul 6.15 WITA yang akan membawa kami ke Ende. Cerita di Ende nanti jauh lebih seru lagi! Jadi, tunggu ya catatanku berikutnya! ^^

***

Kamis, 19 April 2012

Pantai Balekambang, Surga Tersembunyi di Selatan Malang


Bicara tentang wisata di Malang, yang sering disebut adalah kawasan dataran tingginya seperti Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru atau kawasan agrowisata di Wonosari dan Batu. Tempat-tempat itu memang indah, tetapi jangan salah, Malang juga punya pantai mempesona!



Melihat foto ini kamu mungkin akan langsung teringat dengan Tanah Lot di Bali. Eh enak aja, Indonesia bukan cuma Bali! Bukan cuma Bali yang punya pasir putih dan laut biru jernih, dan pura di atas karang. Ini adalah Pantai Balekambang, sebuah surga tersembunyi di selatan Malang.
Pantai Balekambang terletak di Kecamatan Bantur, 45 km ke arah selatan Kota Malang. Perjalanan harus ditempuh selama 3 jam melewati jalanan naik turun dan berliku. Namun jangan khawatir, kondisi jalan sudah beraspal dan cukup lebar sehingga aman dilalui kendaraan pribadi maupun bus.
Pantai Balekambang tidak seperti pantai lain yang bisa terlihat dari jauh ditandai dari banyaknya nyiur melambai-lambai. Letak pantai ini agak tersembunyi. Gerbang masuknya pun ditutupi oleh pepohonan tinggi yang hampir rapat. Kita baru bisa melihat pantai setelah berbelok di parkiran.
Perjalanan yang jauh dan melelahkan akan terbayar lunas begitu kita mendengar deburan ombak Laut Selatan yang bergulung-gulung. Ya, pantai yang memiliki garis pantai sepanjang hampir 2 km ini ombaknya memang terkenal ganas. Jangan berpikir untuk surfing, karena sangat berbahaya, nanti bisa dijemput Nyi Ratu x_X
Air lautnya jernih berwarna biru kehijauan. Pantainya berpasir putih dan cukup bersih, membuat kita pengen cepat-cepat berlari membasahi kaki dan menyusuri pantai. Ciri khas pantai ini yang membedakannya dengan beberapa pantai lain yang pernah kukunjungi, pasirnya besar-besar tapi halus. Butirannya seukuran merica, tapi kalau diinjak langsung mendlesep. Besar tapi halus, gimana yah?


Jejak di pasir

Cantik ya? *pantainya
Di sebelah barat pantai terdapat sebuah pura yang berdiri di atas batu karang besar, persis seperti yang ada di Tanah Lot, Bali. Pura di atas karang itu dihubungkan dengan jembatan sepanjang 50 meter dari pulau utama. Saat matahari terbenam, pemandangan akan menjadi sangat indah.


Pura

Gradasi
Di pantai sebelah barat inilah biasanya anak-anak berenang, karena ombak sudah terpecah oleh karang, sehingga airnya tenang. Istimewanya, air yang telah melewati karang ini bukan hanya tenang, tetapi rasanya pun tidak lagi asin. Semakin dekat ke muara sungai, air ini menjadi air tawar. Tak heran banyak yang membasuh badan di sini usai berenang di air laut.
Pantai Balekambang tidak seramai pantai-pantai lain, hanya di waktu-waktu tertentu saja. Misalnya pada saat liburan atau saat ada perayaan umat Hindu. Namun fasilitas di pantai ini sudah cukup lengkap. Ada tempat parkir, toilet bersih, rumah makan, pusat oleh-oleh bahkan penginapan murah.
Selain Pantai Balekambang, di selatan Malang ada pula Pantai Ngliyep dan Pantai Sendangbiru. Belum lagi eksotisme Pulau Sempu, salah satu pulau terluar Indonesia yang masuk Kabupaten Malang. Pulau itu bisa diakses dari ketiga pantai ini.
Ternyata masih banyak ya, tempat-tempat indah di sekitar kita yang belum kita jelajahi. Maka tak perlu buru-buru menyiapkan budget besar untuk pelesir ke luar negeri. Karena percayalah, surga itu ada di sini.