Jumat, 21 Juni 2013

Tips Packing untuk Perempuan: (4) Another Tips


Ada tips-tips lain seputar packing yang harus kamu ketahui. Remember, keep your bag/suitcase slim. Jangan sampai menggembung saking semua dipaksa masuk. Nanti nggak keren lagi keliatannya.
  1. Coba gulung bajumu,jangan dilipat. Lihat perbedaan ruang yang dihabiskan antara lipat dengan gulung. Aku tidak punya bag cover, jadi biasanya aku membungkus pakaianku ke dalam beberapa plastik berbagai warna (atau transparan), lalu mengikatnya dengan karet. Tas akan lebih luang, lebih rapi, dan baju terlindung dari basah. Perbedaan warna plastik akan memudahkan kita jika ingin mengambil barang, jadi tidak perlu membongkar semuanya. Oh ya, plastik dan karet itu 2 hal yang sering dicari lho saat traveling. Dan peniti.
  2. Letakkan benda-benda yang besar/berat di bagian bawah. Misalnya baju, sepatu. Benda kecil seperti tas kosmetik/perlengkapan mandi, kacamata, dan makanan, letakkan di bagian atas atau di kantung-kantung terpisah.
  3. Bawalah minimal 2 tas, satu besar dan satu kecil. Di tas kecil kamu bisa menyimpan benda-benda penting seperti dompet, paspor, tiket, kamera pocket, dan lipstick. Jadi kalau butuh benda itu nggak perlu ngubek-ngubek seluruh isi tas besar. 
  4. Perhatikan ukuran tas yang akan dibawa ke kabin (your hand luggage). Biasanya ada contoh standar ukurannya di check in counter. Beberapa kali aku melihat orang yang ukuran tasnya terlalu besar, tidak bisa dimasukkan ke bagasi kabin, terlalu besar juga untuk ditaro di bawah kursi. Akhirnya, terpaksa ia harus memangku tasnya. Kalau memang besar, letakkan saja di bagasi, daripada menimbulkan ketidaknyamanan di pesawat/kereta/bus.  
  5. Aku tipe yang menghindari bawa jaket tebal saat traveling. Aku lebih suka menggunakan pakaian berlapis, misalnya kaos + kardigan + pashmina + sarung tangan + kaos kaki. Atau kalaupun harus membawa jaket tebal, biasanya aku cenderung memakainya selama di airport/pesawat. Kalau gerah, tinggal copot dan tenteng.
    Selalu buat check-list tentang apa yang harus dibawa dan tidak, sebelum kamu mulai packing. Hitung berapa hari perjalananmu, jumlah baju yang dibutuhkan dan barang-barang yang wajib dibawa. Packing beberapa hari sebelum keberangkatan akan memberikanmu waktu berpikir ulang, "Eh sepertinya aku nggak butuh ini deh, eh sepertinya aku nggak usah bawa ini deh, dll".
    Happy traveling & stay pretty!

Tips Packing untuk Perempuan: (3) Must Bring Items


Ada beberapa must-bring items yang tidak boleh ketinggalan.
  1. Kamera dan notes. No explanation needed about how important they are.
  2. Mukena bahan parasut, di mana pun Anda berada, solat jangan lupa.
  3. Foldable bag. Ini sangat penting saat kamu berencana belanja beli oleh-oleh. Daripada pakai kantong kresek yang baru bisa terurai ribuan tahun, lebih baik siapin tas sendiri. Lebih kuat, lebih unyu!

  4. Tolak angin. Ini resep berumur ribuan tahun kayaknya, so aku nggak ragu membawa ini sebagai pertolongan pertama pada mabuk, capek, flu, dan tentu saja, masuk angin.
  5. Minyak kayu putih atau aroma terapi untuk menghangatkan badan dan meredakan mual di perjalanan.
  6. Sebatang coklat bisa menjadi pertolongan pertama pada kelaparan. Atau keaseman mulut, hehehe… Biasalah namanya juga cewek, nggak betah kalo kelamaan nggak ngunyah.
  7. Tempat makan kosong buat menyimpan makanan yang tidak habis/ tidak sempat dimakan. Aku sering banget mengalami ini, ditawari cemilan ini-itu padahal perut udah kenyang banget. Kalau gak dimakan, yang menjamu sedih. Tapi kalau maksain makan, kita bisa kekenyangan. Coba deh bilang dengan sok imut, “Bu, kalau kubungkus di sini boleh?” Beuuuhh… pasti dia seneng dan mengerti alasan kita kekenyangan, hehe… Kita pun bisa punya cemilan ekstra yang penuh berkah :D

  8. Panty liner dan pembalut. Ah girls, kalian tau lah tamu kita suka datang di saat yang tak diduga-duga. So, always prepare. 

Kamis, 20 Juni 2013

Tips Packing untuk Perempuan: (2) Kosmetik


Kebiasaan cewek sangat berbeda dengan lelaki. Kebanyakan tips packing selama ini sangat tidak pro-perempuan (apa si?)
Betul, karena tidak seperti laki-laki, perempuan harus tetap memperhatikan penampilan dan kesehatan kulit di mana pun dia berada. Tapi nggak perlu sampe bawa make up pallets juga girls kalo mau ngebolang mah. Berikut beberapa kosmetik dasar yang biasa kubawa saat traveling


  1. Sun screen! Kalian tau kan motto-ku, cewek sejati nggak takut matahari. Ini nih yang bikin aku gak takut matahari, sunscreen dengan SPF 30. Biarpun lagi ngebolang, cewek harus tetap memperhatikan kesehatan kulit. Karena sinar ultraviolet, terutama di negara tropis, dalam jangka panjang bisa berbahaya bagi kulit kita.
  2. Baby powder. Ini akan sangat membantu terutama kalau pergi ke daerah yang panas, engap, bin lengket. Well that’s Indonesia. Saat kulit terasa lengket, berminyak, jangan pake bedak padat atau parfum! Seringkali itu memperparah keadaan. Taburkan saja bedak bayi ini di bagian yang terasa lengket dan berminyak, akan terasa lembut dengan aroma bayi yang segar dan ringan.
  3. Eyebrow alias pensil alis hitam. Saat wajahmu bengep, matamu sembab gak sempat dandan, pakai pensil alis untuk mempertegas bentuk alismu dan sapukan sedikit juga di ujung kelopak mata atas. Seketika, efek cat eye akan membuat matamu lebih terbuka.
  4. Lipstick warna oranye plus moisturizer. As for me, gadis Indonesia berkulit sawo matang, lipstick warna oranye paling cocok di segala kesempatan. Terutama untuk terlihat effortlessly fresh.
  5. Spray air mawar/ green tea. Saat wajah terasa panas dan lengket, trus kamu nggak sempat cuci muka, tinggal spray aja air mawar atau toner green tea sebagai penyegar sementara untuk kulit wajahmu. Sebelum tidur, spray lagi. Bangun tidur, spray lagi. Ini perawatan wajah paling sederhana saat traveling
     
  6. Tissue basah antiseptic. Aduh, ini benda gunanya banyak banget. Sebagai sanitizer tangan, pelembab & pembersih wajah, bahkan untuk bersuci setelah buang air. Fungsi yang terakhir terasa banget saat kamu mendaki gunung atau saat kamu berada di Singapura, yang toiletnya canggih tapi ga ada air buat cebok.
  7. Rexona sachet dan body lotion. Aku sih nggak biasa temenan sama parfum, buatku yang penting keti nggak bau aja. Lotion sangat penting untuk menjaga kelembaban kulit, baik saat berada di ruangan AC (seperti ruang tunggu dan di dalam pesawat) atau saat beraktivitas di luar ruangan yang terik.
  8. Alat mandi imut plus handuk kecil. Inget ya, jangan heboh-heboh bawa alat mandi. Cukup bawa sabun cair di botol imut, odol kecil, sikat gigi, dan sampo sachet. Sabun cair itu bisa kok buat cuci-cuci daleman doang mah, ga usah bawa deterjen segala kalo emang nggak niat nyuci. Bawa handuk imut, seukuran sapu tangan. 

    Yang perlu diperhatikan ya temen-temen, jangan membawa terlalu banyak cairan. Khususnya liquid/ gel di atas 100 ml itu tidak boleh dibawa dalam penerbangan internasional.
    Masih ada lagi beberapa tips lainnya!
      

Tips Packing untuk Perempuan: (1) Fashion Items


Saat ini, traveling jarak jauh, bahkan sampai berhari-hari bukan cuma dilakukan kaum lelaki. Para perempuan juga tak ragu lagi menikmati kebebasan dengan traveling. Tapi persiapan perempuan untuk traveling termasuk barang bawaannya, pasti berbeda dengan lelaki.
Sebagai orang yang sudah terbiasa bepergian sejak kecil dan sering diajari packing sendiri oleh Bapak, aku pengen sedikit berbagi beberapa tips packing untuk para perempuan, khususnya muslimah. Packing itu juga ada ilmunya lho. Tentang bagaimana memilah barang bawaan yang paling diperlukan, must bring items, sampai cara menghemat ruang dalam ransel/ koper.
Saat kita bepergian, apa sih yang paling banyak dibawa? Ya baju! Dan memilah baju mana yang akan dibawa, itu pun bisa menimbulkan kegalauan tingkat tinggi bagi perempuan saat packing. Kayaknya semua harus matching, jadi semua mesti dibawa. Nggak gitu juga say, ada triknya. Here’s the tips for you.
  1. Traveling itu harus ada colour theme-nya. Contoh, waktu ke Palembang kemarin temanya adalah ungu. Jadi aku bawa pakaian serba ungu yang bisa dipasang-pasangin, plus 1-2 warna netral (hitam/biru/cokelat). Penting, untuk memudahkan kita memilih baju dan memudahkan mix ‘n match karena warna yang serasi.
  2. Pashmina. Benda satu ini berguna banget, bisa jadi selimut saat dingin, jadi masker pelindung wajah dari debu dan matahari, bisa jadi kerudung, syal, bahkan sajadah. Dengan sedikit keterampilan mengikat, ia juga bisa kamu jadikan luaran atau rompi sebagai alternatif gaya. So, pashmina is a must bring item.
  3. Kerudung langsung. Of course kita mau tetap bergaya saat traveling, tetapi membawa 1 kerudung instan juga perlu. Akan diperlukan saat kita harus buru-buru keluar dan tidak sempat nyari peniti.
  4. Kardigan. Ini penting banget buat mix ‘n match karena dia bisa dipake beberapa kali dengan kaos dalaman dan kerudung yang berbeda. Mau bawa kardigan warna netral atau ngejreng, terserah. Bisa dikreasikan dengan belt juga biar lebih fresh. Yang penting tetep matching.
  5. Baju bali, karena pewe banget buat dipake tidur. Selain itu, bahannya yang tipis akan menghemat ruang di tas kita ketimbang kalo bawa kaos.
  6. Untuk traveling, aku lebih memilih bawa celana bahan yang agak longgar ketimbang jeans. Selain lebih nyaman dipakai, lebih cepat kering kalau kena basah, ia juga tidak makan tempat di tas dan tidak seberat jeans. Kalaupun lagi pakai rok atau gaun terusan, celana itu bisa dijadikan dalaman, ya kan? Oh, buat tidur pun cukup nyaman.
  7. Tetep keliatan keren saat dipotret paparazzi iseng
  8. Bawa kacamata besar (sunglasses ataupun kacamata biasa terserah) yang akan sangat berguna menutupi wajah kita yang baru bangun tidur atau nggak sempat berdandan. Ya kali ketemu paparazzi, kan harus tetep keliatan oke.
  9. Jangan lupa kotak P3K untuk looks kita yang berisi: jarum pentul dan peniti. Hal remeh kayak gini sering diperlukan saat-saat genting.  

Demikian tips soal fashion items yang mesti dibawa saat traveling. Berikutnya, aku akan share soal KOSMETIK dasar. Jangan salah, kosmetik juga penting banget buat cewek dan kita sering merasa "Kayaknya perlu dibawa semua deh..." Benarkah? Stay tune!

Selasa, 18 Juni 2013

Orang-orang Pilihan

Para dai pulau bukan orang sembarangan. Mereka adalah lulusan terbaik dari sejumlah pondok pesantren kenamaan di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Medan. Proses seleksinya pun cukup ketat, ada serangkaian tes tertulis dan wawancara intensif. Tentu dibutuhkan keluasan pengetahuan dan kemantapan mental untuk menjadi seorang dai pulau. Karena mereka tidak ditempatkan di sana 1-2 tahun saja, melainkan permanen!

Subhanalloh… aku merinding membayangkan betapa istimewanya orang-orang ini. Apakah mereka hidup enak dengan fasilitas terjamin di pulau? Tidak juga. Mereka sama, menyatu dengan penduduk setempat. Rumah Ustadz Waris sama dengan rumah penduduk lain. Rumah panggung dari kayu, berukuran 4 x 5 meter, beratap daun kelapa. Di sana ia tinggal bersama istri dan ketiga anaknya. Dan yang pasti gaji mereka tidak seberapa. Mungkin gajimu lebih besar.

Tetapi siang itu Ustadz Waris menjamu kami dengan makanan super mewah. Gonggong (keong), ketam (rajungan), dan aneka ikan laut FRESH! Subhanalloh… aku nggak bisa membalas apa-apa kecuali doa, semoga Allah memberkahi hidupmu Ustadz, dan membangunkan sebuah rumah indah untuk keluargamu di jannah. Amin…


Ustadz Waris menjamu kami dengan fresh sea food

Pulau Nanga adalah sebuah pulau kecil yang dihuni oleh 48 kepala keluarga. Mayoritas adalah Suku Orang Laut, penduduk pribumi Kepulauan Riau. Mereka bukan orang Melayu, wajahnya khas, seperti si Buntut dan kawan-kawan ini. Sebagian Suku Orang Laut sudah menetap di pulau-pulau kecil, namun banyak juga yang masih tinggal di perahu, hidupnya nomaden. Baca sejarahnya di sini. 


Judi masih membudaya di masyarakat sini. Juga kumpul kebo. Karena untuk menikah itu, sulit sekali mengurusnya. Harus ke sini, ke kantor itu, ah berapa banyak ongkos yang harus dikeluarkan untuk menikah sah saja (bukan untuk pestanya ya!). Tak heran, banyak anak Pulau Nanga yang tak punya akta kelahiran karena orang tuanya tidak menikah, dan ini menjadi masalah di kemudian hari ketika mereka akan sekolah. 

Si Buntut yang senang bergaya. Dia memanggilku Kakak Cantik, hihi...

Abdat dan Nabila (putri Ustadz Waris) bersama anak-anak Pulau Nanga
Tingkat kesejahteraan penduduk Pulau Nanga (dan mungkin juga pulau-pulau kecil lainnya) masih sangat rendah. Mereka masih terjebak di lingkaran setan miskin-bodoh-miskin-bodoh. Bayangkan, di antara sekian banyak pulau kecil, satu-satunya SD hanya ada di Pulau Sembur. Anak-anak harus berangkat pukul 5.30 untuk menuju ke sekolah. Mereka naik pompong bersama-sama. Jumlah siswa kelas 1 di SDN Sembur hanya 30 orang dari berbagai pulau. Jumlah itu pun akan berkurang setiap tahunnya. “Mulai kelas 2-3, siswa akan berguguran satu demi satu. Karena begitu mereka sudah bisa dayung sampan sendiri, tak boleh lagi sekolah sama orang tuanya. Disuruh bantu orang tua cari ikan,” kata Ustadz Waris. Penduduk Pulau Nanga sendiri, hingga kini tak ada seorang pun yang pernah mencicipi bangku SMP. Apalagi SMA.

Bagaimana soal listrik dan air bersih? “Listrik di sini menggunakan genset pemberian pemerintah, tetapi solarnya hasil iuran warga. Yang punya televisi atau kipas angin membayar lebih. Cuma sampai pukul 10 malam, sudah itu ya gelap gulita,” kata Ustadz Waris sambil tertawa. Ia memang ramah sekali, tak sekalipun tampak mengeluhkan keadaan. 


“Kalau air bersih, kami dapatkan dari seberang. Dayung sampan dulu sampai sana, lalu naik sedikit ke hutan, nanti di situ ada mata air. Alhamdulillah tidak pernah kering walaupun kemarau panjang,” Ustadz Waris sungguh punya banyak alasan untuk mengeluh, tetapi ia memilih bersyukur. Ia mengambil air setiap pagi, saat matahari masih teduh. Setiap harinya ia mengambil 6-10 ember. Tetapi kalau cuaca tidak bersahabat, hujan, angin disertai gelombang tinggi, maka mengambil air pun bisa jadi perjalanan yang mempertaruhkan nyawa. 


Ustadz Waris punya sebuah pengalaman traumatik. Waktu itu ia mengajak serta anak dan istrinya ke seberang untuk mengambil air. Setelah selesai mengambil 6 ember air, barulah ketahuan kalau ternyata sampan pinjamannya itu bocor! Dalam waktu singkat, terjadi kepanikan. Ombak yang cukup besar mengombang-ambingkan kapal. Putri kecilnya hampir saja tenggelam. "Untung ada yang segera datang menolong. Kalau telat sedikit saja, saya tidak tahu bagaimana nasib Nabila," kenangnya lirih.

Dan semua itu dilakukan demi mengambil 6 ember air bersih!


Sungguh, aku tak akan boros listrik dan air lagi!


Belum lagi kalau soal kesehatan. Fasilitas kesehatan cuma ada di Pulau Sembur, itu pun sering tidak buka. Praktek dokter cuma ada di Sembulang, 2 jam naik pompong. Itu pun dokternya belum tentu ada, karena si dokter itu cuma sendirian melayani pasien di berbagai tempat. Persalinan ibu kebanyakan masih ditolong oleh dukun beranak. Para ibu di sini tidak mengenal pemeriksaan semasa kehamilan, sehingga banyak yang keguguran. Rini, istri Ustadz Waris yang baru melahirkan 3 minggu lalu memilih untuk tinggal di Batam sampai hari persalinannya. 


Ustadzah Mulyasaroh, istri Ustadz Musyafa yang kini mendampingi masyarakat di Pulau Sembur juga punya cerita sendiri. “Waktu pertama datang tahun 2003, anak saya masih usia 1 tahun. Masyarakat di sana saat itu juga masih sangat terbelakang. Saat ditunjukkan rumah yang akan kami tempati di Pulau Tanjung Melagan, saya mau nangis rasanya. Ini rumah apa kandang ayam… Bagaimana saya bisa tinggal bersama anak balita saya di sini. Tetapi suami menguatkan, di sinilah kita akan mencari ridho Allah,” kenangnya. Mereka berdua berasal dari Nganjuk, tetapi kini sudah menjadi bagian dari masyarakat Pulau Sembur. Betapa hebatnya pendekatan mereka menerobos segala batasan bahasa dan budaya, sehingga kini bisa menjadi dai yang disegani.


Ustadz Musyafa dan keluarganya menuruni dermaga untuk naik pompong

Program pemberdayaan desa pantai yang digagas DSNI Amanah sejak 2002 telah mengirim 33 ustadz ke 33 pulau. Jumlah itu akan terus bertambah. Salah satu yang termuda adalah Ustadz Uda, yang ditempatkan di Pulau Malabar. Ia baru sebulan bermukim di sana, baru lulus sarjana dan masih bujang. Usianya 22 tahun! Weeeeewww kalo elu umur 22 tahun lagi ngapain Ken? *menggalau :((

“Sudah waktu zuhur, yuk sholat!” Ustadz Waris bergegas menuju masjid mungil di tengah pulau yang baru dipugar kemarin. Ia mengajak setiap orang yang ditemuinya.“Allahu Akbar Allahu Akbar!” lantunan suara merdunya dari speaker masjid memecah kesunyian. Allahu Akbar… Bagi kita yang tinggal di kota-kota besar, kumandang adzan bukanlah sesuatu yang asing. Seruannya bisa kita dengar dengan jelas, dari speaker masjid di mana-mana. Tak jarang kita abaikan.

Namun mendengar adzan di sebuah pulau kecil di tengah laut, nun jauh dari kota, adalah sebuah peristiwa yang bisa membuatku meneteskan air mata. Berada entah di mana, tetapi bisa mendengar suara adzan itu rasanya… Nyesss… Mulai kini aku akan bersyukur atas setiap adzan yang kudengar. 



Masjid yang baru dibangun di Pulau Nanga
Maha Besar Engkau yang telah memberikan alam yang begitu indah, dan mengaruniakan kami orang-orang yang begitu peduli menjaga bumi-Mu. Berkahi mereka Ya Allah…

Mereka, lulusan terbaik ponpes ternama, yang bisa saja hidup nyaman di kota. Tetapi Allah telah menunjuk orang-orang pilihan ini untuk berdakwah, mendidik dan mendampingi masyarakat di pulau-pulau terpencil menuju kehidupan yang lebih baik.

Setelah solat zuhur, kami berpamitan. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, dan aku harus boarding pukul 16.50. Wow, lagi panas-panasnya nih! Ya sudahlah, sampai kapanpun aku lebih memilih bermandi matahari daripada berdiam di ruangan ber-AC. Sadar, masih banyak yang harus kulihat di Indonesia. 



Senyum Ustadz Waris, Yusuf, dan Nabila mengantar kami ke dermaga

Aku pulang dengan membawa sejuta perenungan tentang apa yang sudah kulakukan untuk bangsaku, untuk agamaku. Indonesia telah memberiku begitu banyak. Airnya, udaranya, tanahnya, eksotika alamnya, dan senyum masyarakatnya. Berapa banyak titik di negeri ini yang belum kupedulikan? Islam telah membuat hidupku jauh lebih baik. Hidayah Allah menuntunku dalam setiap keputusan. Ah, apa yang bisa kulakukan untuk menyatakan rasa syukur? 

Pikiranku memang tak bisa berhenti bekerja, tetapi kekuatan fisikku ada batasnya. Aku teler di ruang tunggu, sendirian seperti anak ilang tidur berbantal ransel. Naik pesawat dengan setengah sadar, bangun untuk makan, terus tidur lagi. Ah, besok aku harus masuk kerja lagi. I have so many stories to tell! Sungguh sebuah perjalanan yang menginspirasi.



Aku bersama Ustadzah Mulyasaroh, dengan latar belakang Pulau Teluk Nipah yang cantik

Senin, 17 Juni 2013

Mengintip Lahan Dakwah di Pulau Nanga


Ini hari terakhirku di Batam. Pukul 9 pagi aku sudah dijemput oleh Mas Siswanto dari pengurus masjid Nurul Islam Batamindo, yang menjamu kami di PUMA semalam. Sementara yang lain masih akan mengisi workshop tata letak media di Politeknik Negeri Batam, aku akan berkunjung ke Pulau Nanga, sebuah pulau kecil berjarak 80 km ke arah barat laut Kota Batam. Ada apa sih di Pulau Nanga?

Berpisah dengan Mbak Shinta dan Ridwan yang masih akan mengisi materi hari ini
 
Aku pergi bersama Mas Siswanto, Mas Dani, dan Mas Ahmad dari Nurul Islam. Juga ada Mas Fatur yang akan menyetir mobil, bersama putranya, Abdat. Anak 3 tahun ini lucu sekali! Matanya indah, cerewet, nanya melulu, dengan logat bicara Melayu-Tegal yang super cute! “Kok jauh sekali sih Abi? Kapan sih kita sampainya?” Gemas, aku pun mencoba berkompromi, “Abdat, kita akan menyeberang sampai jembatan 6! Ini kita baru jembatan 1, coba nanti Abdat hitung yaa, kalau sudah jembatan ke-6 berarti kita sampai!” Dia pun menghitung dengan gembira setiap jembatan yang kami lewati.

Iya, memang jembatan Barelang itu bukan cuma 1, melainkan ada 6 sampai di ujung Pulau Galang (Barelang = Batam Rempang Galang). Jalan raya yang menghubungkan jembatan 1 sampai 6 disebut Trans Barelang, panjangnya 60 km. Ini Batam, bukan Jakarta. Jadi jarak itu bisa ditempuh dalam 40 menit perjalanan. “Horeee jembatan enaaam…!” Abdat selesai menghitung. Kami belok kiri menuju dermaga batu bara. Di sana sudah menunggu Ustadz Musyafa bersama istrinya Mulyasaroh, dan Rizal, putra mereka. Kami akan ke Pulau Nanga naik pompong (kapal kecil) bersama mereka.




Tingkah Abdat di atas pompong
Abdat senang sekali naik pompong, dan aku senang sekali melihat tingkah Abdat. Beberapa kali dia berusaha meniru aku, menyentuh air laut dengan tangan. Sambil kaosnya dipegangin Abinya. Hihi… tante ini sudah memberi contoh yang nekat ya! Terus aku menjilat air laut, dia ngikutin juga, hahahaha… bisa ditebak, langsung meringis! Dia bertanya kenapa air laut asin, terus kuajak dia mengulurkan tangan yang basah air laut dan membiarkannya terpapar angin dan matahari. Tak lama, terlihat butiran-butiran putih di tangan kami. “Abi, di laut ada garam! Jadi asin!”Awwww so cute!

Merasakan garam yang mengkristal di tangan
 Saat itu laut tengah surut, jadi nahkoda harus pandai-pandai memilih jalur agar pompong tidak karam. Coba lihat, warna lautnya beda kan, ada yang kehijauan. Ini artinya laut dangkal, di bawahnya ada gundukan pasir putih yang hanya nampak saat laut surut. Bahkan ada gundukan yang sudah kelihatan, membentuk daratan kecil di tengah laut. Ngebayangin main bola di situ, di tengah laut, how cool is that! Indonesia selalu punya banyak kejutan!

Yang hijau itu laut dangkal, harus hati-hati!
Ada lapangan bola di tengah laut!

Tak terasa, 30 menit berlalu dan kami pun sampai di Pulau Nanga. Di sinilah kami akan bersilaturahim dengan Ustadz Waris, salah seorang dai pulau. Hah, dai pulau??

Betul kawan, dai pulau. Program ini mungkin tak seheboh Indonesia Mengajar atau Pencerah Nusantara, tetapi kisah mereka tak kalah dahsyatnya.

Ada lebih dari 2000 pulau di Provinsi Kepulauan Riau, yang penduduknya masih menghadapi kesulitan akses transportasi, pendidikan, kesehatan, apalagi dakwah. Sebagian besar kita mungkin hidup nyaman di kota metropolitan sambil nonton ustadz seleb di infotainment, tetapi pernahkah terpikir, berapa banyak lahan dakwah yang terlupakan? Yang tidak tersentuh televisi, yang jauh dari perpustakaan, bahkan mungkin membeli Al-Quran pun masih sulit?

Kita mungkin tak pernah terpikirkan soal itu, tetapi Ustadz Waris dan 32 ustadz lainnya tidak tinggal diam. Melalui program Pemberdayaan Desa Pesisir dari DSNI Amanah (lembaga amil zakat yang dikelola NIG Batamindo), para ustadz ini mengajukan diri untuk menjadi pendamping masyarakat pulau-pulau terpencil di Riau. Sudah 33 ustadz yang menyebar di 33 pulau, di antaranya Pulau Kore, Pulau Malabar, Pulau Caros, Pulau Tanjung Melagan, dan Pulau Sembur.

Kondisi umat muslim di pulau-pulau tersebut bisa dibilang sangat mengkhawatirkan. Bukan cuma dalam hal kesejahteraan ekonomi dan pendidikan, tetapi juga dalam hal keimanan. Sebagian besar penduduk berprofesi sebagai nelayan, dan keterbatasan ekonomi masih menjadi problem utama mereka. Banyak yang menggadaikan iman mereka demi sekardus mi instan dan sembako.

Dari 48 kepala keluarga yang menghuni Pulau Nanga, 7 di antaranya kini sudah berpindah keyakinan.“Ini juga menjadi kritik buat kita, betapa kita kalah peduli dan kalah cepat menanggapi kebutuhan saudara-saudara kita di sini,” kata Ustadz Waris.


Suasana di Pulau Nanga
Seorang anak perempuan Pulau Nanga mendayung sampan ke Pulau Teluk Nipah yang tampak di belakang

Letak Pulau Nanga berseberangan dengan Pulau Teluk Nipah, hanya dipisahkan selat selebar 30 meter. Namun fakta yang ada di Pulau Teluk Nipah lebih mencengangkan lagi, “Orang muslim di sana tinggal 12 orang,” kata Ustadz Waris. Sambil berdakwah di Pulai Nanga, ia juga berusaha terus merangkul saudara muslim di Pulau Teluk Nipah yang tinggal sedikit itu.

Sudah 7 tahun Ustadz Waris tinggal di Pulau Nanga untuk berdakwah. Ia mengajar anak-anak mengaji, mengumandangkan adzan, hingga mengimami solat 5 waktu. Jalan dakwahnya ini tentu bukan tanpa tantangan. Ia mengaku sangat sulit mengajak para ibu untuk mengaji. “Awalnya cukup banyak yang ikut mengaji. Tetapi lama kelamaan berkurang, alasannya sama saja, mau bekarang (mencari gonggong dan ketam di karang,- pen.),”Kaum lelakinya pun begitu, sulit diajak. “Jumlah jamaah solat jumat itu tergantung musim ikan,” Ustadz Waris tertawa. Kalau ikan sedang sedikit, jamaah lumayan banyak. Kalau ikan sedang banyak, jamaah pun berkurang drastis.

Maka saat ini Ustadz Waris memfokuskan dakwahnya dengan mengajar anak-anak membaca dan mengaji Al-Quran. Ia juga berupaya membujuk para orang tua agar memperbolehkan anaknya sekolah sampai selesai alih-alih menyuruh mereka melaut cari ikan. Tujuannya satu, mengeluarkan mereka dari lingkaran setan dan mengubah hidup mereka jadi lebih baik.


Ustadz Waris dan keluarga kecilnya

Meski awalnya ia menghadapi banyak kendala dalam berdakwah, kini Ustadz Waris semakin mendapat tempat di hati masyarakat Pulau Nanga. Ia kini bukan sekadar pengajar ngaji, melainkan bisa disebut sebagai pendamping masyarakat. Layaknya tetua kampung, ia menjadi tempat bertanya bagi warga atas berbagai permasalahan mereka. Betapa hebat pendekatan pria asal Palembang ini. Ia yang notabene seorang pendatang, sekarang jadi begitu dihormati penduduk Pulau Nanga. Padahal usianya juga baru 30-an.


** bersambung...


Rabu, 12 Juni 2013

Annida & Ummi Goes to Batam!


Paling enak jalan-jalan itu yang bukan sekadar liburan menghabiskan uang. Momen jalan-jalan akan menjadi semakin bermakna ketika kita mengisinya dengan kegiatan yang produktif. Kali ini, aku bersama kru Annida datang ke Batam dalam rangka kampanye Hijab Syar’I, mengisi seminar kepemudaan, pelatihan jurnalistik, serta workshop tata letak media di Politeknik Negeri Batam. It’s gonna be a hectic trip.

Personil kali ini adalah aku sebagai reporter majalah UMMI yang akan mengisi pelatihan jurnalistik bersama Agung, reporter Annida. Lalu ada Ridwan, fotografer kesayangan UMMI-Annida yang akan memandu workshop tata letak media, dan ketua geng kami, Mbak Shinta sebagai pemred Annida sekaligus Presiden Hijab Syar’I Community yang akan mengisi seminar kepemudaan dan kelas Hijab Syar’i. Mereka bertiga berangkat lebih dulu dengan penerbangan paling pagi, sedangkan aku menyusul dengan penerbangan siang.

Nah, ini nih yang seru! Menikmati senja di Barelang! Inilah jembatan ikon Batam, yang dibangun pada tahun 1992 dan diresmikan pada 1998 oleh BJ Habibie. Jembatan Barelang (BAtam, REmpang, gaLANG) dibangun untuk mendukung perkembangan industri di Pulau Batam dan sekitarnya. 
 
Yang difoto
Yang memfoto
Ah... dunia memang tak seindah yang tampak di lensa... 
Fotografer seringkali lebih banyak gaya daripada model.

Setelah puas berfoto-foto, kami bertolak ke Barelang Seafood Resto, menyantap hidangan laut segar sambil menikmati lembayung senja berlatar Jembatan Barelang. Mantap nih sajiannya, ada kepiting telur bumbu pedas, gonggong (keong), ikan ini-itu, wuaaahh... kolesterol alert deh pokoknya! Hihi. Thanks to Mbak Dwi dan keluarga, yang sudah menjamu kami dengan luar biasa. Jazakumullah :)




Makan kepiting jumbo, bumbu pedas, gimana gak khilaf? Krek... krek... srupuutt... huh hah! Sambil kepedesan. Pokoknya, kalo baru jadian, jangan sekali-kali ngajak cewekmu makan kepiting pedas dan gonggong di sini. Romantis sih tempatnya, tapi begitu lihat kepiting merah merona melambai-lambai, imej cantik bisa good bye! Foto-foto aku pas lagi makan aja kunilai tidak lolos sensor. Apalagi pas mencabut gonggong dari cangkangnya, terus dikorek-korek pake tusuk gigi, terus dicocol ke saos asam manis, beuh... B.R.U.T.A.L


gonggong yang tercerabut dari cangkangnya trus dicocol saos

Kami menginap di Sky View Hotel di kawasan Sungai Panas. Lumayan enak tempatnya, tapi sarapannya nggak enak banget. 

Batam juga punya holiwut-holiwutan (tulisan putih besar di atas bukit). Ya, 11-12 lah dengan Hollywood. Sebelum mengisi seminar di Politeknik Negeri Batam, foto lagi,,, hehe.


Full team

Acara dimulai pukul 9, pesertanya sekitar 130 orang. Glek! Agak-agak nervous gimana gitu, udah lama banget nggak ngomong di depan banyak orang, hihi... Apalagi mereka antusias sekali, dan aktif bertanya. So here we go, beberapa foto ketika acara berlangsung. 



kelas Hijab Syar'i bersama Mbak Shinta
me in action, hihi...
promosi majalah, aheeeyy...!

sesi tanya-jawab. pertanyaan mereka lucu-lucu!

Afifah & Salena, ce-esan kita di Politeknik Negeri Batam
Demikianlah acara hari itu berjalan sukses. Mudah-mudahan banyak inspirasi yang mereka dapatkan. Aku senang sekali dengan antusiasme mereka, terima kasih teman-teman dari Politeknik Negeri Batam! ^^