Minggu, 13 November 2011

Aku Benci Spesiesku!

Sebuah kabar memilukan datang dari bumi Borneo. Baru-baru ini harian lokal di Kalimantan Timur gencar memberitakan tentang pembantaian orang utan. Primata yang (seharusnya) dilindungi itu dibantai oleh manusia-manusia tak beradab lantaran dianggap hama di perkebunan kelapa sawit. Ada foto-foto, bahkan videonya, yang nyaris membuatku menangis menyaksikan betapa hewan-hewan lucu itu terluka bersimbah darah, atau bahkan mati mengenaskan. Pembantaian itu diduga berlangsung sekitar tahun 2009-2010 di Muara Kaman, Kutai Kartanegara. Entah kalau masih berlangsung hingga sekarang. Bukti berupa foto-foto dokumentasi pembantaian orangutan itu diperoleh melalui penyelidikan yang dimulai sejak akhir September 2011 lalu, seiring dengan mencuatnya pemberitaan di media massa. Aku mau nangis tiap kali melihatnya, jadi aku tidak akan memperlihatkannya kepada kalian di sini.

Mereka dibunuh karena dianggap hama. Hama! Perusak tanaman sawit katanya. Hei, manusia bodoh! Memangnya siapa yang terlebih dahulu merampas habitat mereka? Kalian! Kalian yang terlebih dahulu menggusur keberadaan mereka hanya demi memenuhi perut-perut buncit kalian!

Peneliti dari Pusat Penelitian Hutan Tropis Universitas Mulawaran Samarinda, Yaya Rayadin mengatakan, satu ekor orang utan dapat menghabiskan 30 hingga 50 tanaman sawit yang berumur di bawah satu tahun, sehingga satu ekor orang utan tersebut dapat menimbulkan kerugian Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta jika diasumsiskan harga sawit itu Rp 20 ribu per pohon (http://www.republika.co.id/berita/nasional/lingkungan/11/10/04/lsjld8-peneliti-unmul-bersedia-jadi-saksi-pembantaian-orang-utan). Itulah sebabnya pengusaha kelapa sawit 'membasmi' mereka.

Berkurangnya populasi orang utan di alam liar dari tahun ke tahun, kebanyakan adalah akibat degradasi habitat. Ribuan hektar hutan lindung di Kalimantan makin menyusut tiap tahunnya, berganti dengan hamparan perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman produksi. Orang utan yang kehilangan tempat tinggal dan makanannya pun terpaksa memakan apa yang mereka temui. Berhubung yang mereka temui adalah kelapa sawit, ya jadi mereka terpaksa tinggal dan makan di sana. Aslinya, makanan orang utan adalah buah-buahan hutan tropis yang manis dan beragam. Maka ketika mereka makan kelapa sawit yang udah pasti nggak seenak pisang (gue juga bingung bagian apa yang bisa mereka makan dari tanaman kelapa sawit) pastilah itu karena mereka terdesak kelaparan. Eh, malah dibasmi sebagai hama. Yang hama tuh siapaaaa...!!

Aku semakin jijik sama spesies homo sapiens. Iya, spesiesku sendiri! Wajar saja jika dahulu malaikat bertanya kepada Tuhan, mengapa harus menciptakan manusia, yang suka merusak bumi dan menumpahkan darah. Manusia, yang katanya makhluk berakal, malah banyak yang tidak beradab. Manusia jahat, bodoh, dan sombong. Mereka sering merasa sebagai makhluk paling berkuasa di muka bumi, maka dengan rakus melibas apapun, atau siapapun yang menghalangi keserakahannya. Mau itu tumbuhan, hewan, ataupun sesama manusia.

Manusia masuk ke dalam golongan omnivora, alias pemakan segala. Benar-benar pemakan segala! Tak jarang mereka juga jadi kanibal. Manusia akan melakukan apapun untuk membuat dirinya puas dan kenyang. Celakanya, mereka nggak pernah merasa puas atau kenyang!

Manusia adalah makhluk paling kejam yang pernah kutahu. Apalagi kalo sudah urusan perut. Singa, ular, serigala, nggak ada yang lebih kejam daripada manusia.

Manusia suka makan ayam, ikan, dan sapi. Semua bagian disantap tak bersisa. Kepala, kaki, jeroan, telur, ekor, kulit. Ayam-ayam disuntik biar gendut, lalu dibunuh massal dengan menggunakan mesin. Manusia suka makan kepiting. Untuk mendapatkan daging yang enak dan juicy, manusia merebus kepiting hidup-hidup. Manusia suka makan sirip hiu. Hiu-hiu muda yang masih lunak ditangkap, diiris sirip-siripnya, lalu dicemplungin lagi ke laut dalam keadaan hidup-hidup. Ular dan buaya jadi tas tangan, kepala rusa jadi pajangan dinding, bulu beruang jadi karpet, rubah dan rakun jadi syal.

Beberapa tahun yang lalu pun kita mendengar, saat ada yang menjadikan janin manusia sebagai konsumsi, dibikin sop. Belum lama ini seorang pemimpin negara mati mengenaskan di tangan rakyatnya. Ia diberondong tembakan, dijanggut, dijatuhkan. Ketika ia sudah terkapar bersimbah darah, orang-orang bersorak, malah ada yang memfoto dirinya sendiri menggunakan kamera telepon sambil tersenyum di samping mayat diktator yang baru terbunuh itu. Tentu kau ingat adegan itu. Aku hampir-hampir muntah melihatnya. Lalu mayatnya diarak, dan dipajang di lemari pendingin sebuah supermarket. Homo homini lupus. Manusia sungguh menjijikkan.

Tak kalah jahatnya kalau soal kantong. Demi kepentingan ekonomi, manusia menebangi ribuan hektar hutan alam, menggusur habitat satwa liar. Mengeksplorasi tambang-tambang, menguras habis-habis isinya. Mereka tak peduli lagi dengan akibat yang bisa terjadi. Ah, itu masalah nanti. Kalaupun ada bencana, toh bukan gue yang kena. Paling warga sekitar. Begitu pikirnya.

Sungguh bodoh. Selama ribuan tahun, alam liar terbukti bisa hidup tanpa campur tangan manusia. Tapi percayalah, manusia tidak akan bisa bertahan sepuluh tahun saja tanpa adanya alam liar. Dan kalau alam sudah marah, tunggu saja. Ya, kau manusia, tunggu saja. Meski dengan teknologi secanggih apapun, manusia tidak akan pernah menang melawan alam. Karena pada akhirnya, alam sudah pasti menang.

Belakangan, banjir sudah terjadi di mana-mana. Tak pandang bulu, negara maju maupun negara berkembang. Perubahan iklim yang diperparah dengan terus mencairnya lapisan es di kutub, membuat volume air kian tak terbendung. Siapkan saja bahtera Nuh dari sekarang.

Semua kekacauan yang terjadi di muka bumi ini adalah akibat perilaku-perilaku kita sendiri, yang tidak pernah bersyukur, dan tidak mau bertoleransi dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lain. Kita pikir kitalah yang paling pintar, paling kuat, paling mulia. Sering lupa bahwa kita diamanahi untuk menjaga dan menghormati semua ciptaan Tuhan yang ada di sekitar kita. Hutan, gunung, satwa, dan juga manusia lain. Bukankah Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi khalifah, wakil Tuhan di muka bumi? Hei manusia, lupa ya?

Ah manusia, berhentilah membuatku muak!

Sabtu, 12 November 2011

Pensieve

Apa yang biasanya kamu lakukan saat sedang sedih, dalam tekanan,banyak pikiran, stres? Ada yang bilang, makan! Ada juga yang bilang, jalan-jalan! Karokean sama temen-temen!

Manusia selalu punya cara dalam menghadapi keterbatasannya. Terutama keterbatasan pikiran dan emosional. Yang namanya kesabaran, semangat, rasa ikhlas, seringkali naik-turun grafiknya dalam diri manusia. Kepala juga terasa mumet saat banyak pikiran. Saat sedang labil inilah, manusia punya berbagai cara untuk mengembalikan kestabilan emosinya, juga meringankan kepenatan pikirannya.

Salah satu tokoh dalam kisah Harry Potter, yaitu Albus Dumbledore, sang kepala sekolah sihir Hogwarts, juga punya cara untuk meringankan kepenatan pikiran. Kau ingat, saat penyihir berjenggot putih itu merasa pikirannya sudah terlalu penuh dan terasa amat penat, ia akan menaruh sebagian kecil dari memorinya itu ke dalam sebuah bejana biru, yang disebut Pensieve.



Masing-masing kita memiliki pensieve, sebuah wadah penyaluran bagi pikiran yang kelebihan muatan. Hanya saja, pensieve kita dalam bentuk yang berbeda, tidak seperti pensieve-nya Dumbledore. Dengan menyalurkan kelebihan muatan pikiran kita ke dalam pensieve, biasanya pikiran akan terasa jauh lebih ringan.

Aku, misalnya. Blog yang sedang Anda baca sekarang, inilah pensieve-ku. Tiap kali aku merasa jenuh dan pikiranku terasa amat penuh, aku menulis. Tentang segala kegelisahan dan curahan hati yang kalau tak disalurkan dengan menulis di sini, ah rasanya aku bisa meledak. Menulislah salah satu terapi paling ampuh buatku. Terutama dalam hal menyembuhkan kondisi mental yang sedang jatuh. Karena dengan menulis di blog ini, aku bahkan punya pensieve yang lebih hebat daripada milik Dumbledore. Apa yang kutuangkan di sini bisa dibaca orang, dan itu mungkin berarti pula buat orang lain. Mungkin ada yang merasakan hal yang sama, mungkin ada yang jadi merenung, atau bahkan terinspirasi oleh tulisanku. Bisa saja kan?

Begitulah caranya pensieve-ku ini menyembuhkan aku, yaitu dengan membuatku tetap produktif menghasilkan karya, bahkan di saat aku terpuruk. Bisa memupuk kembali rasa percaya diriku, dan itu sangat penting. Selain menulis, aku juga kerap mengurai kepenatan pikiranku dengan menyalurkan kreativitas dalam merajut, menggambar, atau kerajinan tangan lainnya. Intinya, aku perlu tetap produktif.

Memang banyak orang yang memilih karya seni sebagai pensieve mereka. Entah mengapa ya, mungkin karena cakupan seni itu luas sekali, sehingga begitu dekat dengan kegiatan manusia sehari-hari. Dan karya seni, sering diidentikkan sebagai bentuk perlawanan, atau tempat melarikan diri dari rutinitas dan segala sesuatu yang berbau formal.

Seperti halnya presiden kita yang satu ini, Susilo Bambang Yudhoyono. Belum lama ini, tepatnya 31 Oktober lalu, SBY resmi meluncurkan album keempat bertajuk “Harmoni”, berisi kumpulan lagu-lagu ciptaannya. Ya, album keempat. Presiden SBY memang produktif sekali dalam menghasilkan karya seni lagu sejak album pertamanya diluncurkan pada 2007. Lebih tepatnya sih, beliau menulis lirik lagu, sedangkan untuk aransemen dan penyanyinya, ia menggandeng sejumlah musisi ternama Indonesia.



Banyak orang memandang sinis tentang “prestasi” SBY itu. Dikatakan, kok sempet-sempetnya presiden bikin 4 album di tengah kemelut bangsa. Ini presiden apa musisi nih, kok rajin amat produksi lagu, ngalahin Melly Goeslaw.

Aku sendiri berpandangan, presiden pun seorang manusia. Pasti ada kalanya ia jenuh, capek, penat dengan segala permasalahan yang ia hadapi sebagai seorang presiden di negara yang tengah repot berbenah ini. Eh, jadi presiden Indonesia tuh capek lho. Kita yang jadi rakyat aja sering merasa capek, padahal kita banyakan. Apalagi presiden, yang semua beban tanggung jawab Indonesia ditumpukan di pundaknya. Jadi biarkanlah presiden kita menghela nafas sejenak dan menemukan media katarisasi di jalur seni.

Hal yang kubilang soal pensieve tadi, kita memerlukannya untuk mencurahkan segala kegelisahan dengan cara yang kita sukai. Dengan begitu, kita bisa tetap produktif berkarya, bahkan di saat kita merasa terpuruk. Rasa lega dan percaya diri pun terpupuk kembali.

Sudahlah, jangan terlalu jahat kepada pak presiden dalam hal ini. Tak apalah membuat album setiap tahun, lagipula toh lagu-lagu yang diciptakan SBY nggak yang galau-galau gitu kan? Emangnya anak jaman sekarang, apa-apa galau! Kalau kuperhatikan justru lirik yang ditulis SBY banyak bercerita tentang keindahan Indonesia, kecintaannya terhadap negeri ini, persahabatan serta semangat-semangat positif dalam memandang hidup. Perhatikanlah, melalui lirik-lirik itu ia berusaha menyembuhkan lelah hatinya. Melalui energi positif yang ia sebarkan melalui lagu-lagunya, mungkin pula ia sedang menyemangati dirinya sendiri.



Kita boleh berbangga lah, malam tadi pada saat puncak pembukaan acara SEA GAMES XXVI di Palembang, salah satu lagu ciptaan Pak Presiden SBY pun turut memeriahkan pagelaran megah tersebut. “Together We Will Rise” adalah lagu ciptaan SBY yang dinyanyikan dengan indah oleh Joy Tobing pada puncak pesta SEA GAMES XXVI ini. Sudah beberapa tahun belakangan ini pula, tiap upacara peringatan hari kemerdekaan di Istana Negara, tidak hanya lagu-lagu kebangsaan lawas yang dinyanyikan. Kini hampir tiap tanggal 17 Agustus, lagu-lagu ciptaan SBY turut dinyanyikan.

Jadi, mungkin kita boleh sedikit berempati kepada presiden kita yang tercinta ini. Sebagai manusia biasa, selayaknyalah ia berkreasi dan tetap produktif melakukan hal-hal yang ia sukai. Masalah Indonesia tuh banyak banget lho, tak apalah sekali-kali di waktu senggang biarkan Pak SBY menghela nafas sambil menuliskan lirik-lirik indah. Bayangkan Pak SBY seperti Albus Dumbledore, dengan tongkat sihir, mengeluarkan pendar dari pelipisnya, lalu ia letakkan ke dalam sebuah bejana biru yang isinya hampir penuh. Pensieve. Tak apa, asal setelah itu Pak Presiden harus bersemangat, bahkan semakin bersemangat dalam bertugas!

Daripada diem-diem nilep duit sampe kantong menggembung, mendingan diem-diem nulis lirik lalu bikin album!

Senin, 07 November 2011

Korean Pop; Sebuah Kontra Hegemoni

Saat ini demam boyband dan girlband sedang melanda Indonesia. Namun yang berbeda pada demam boyband kali ini adalah, kiblatnya bukan lagi berasal dari UK atau US seperti Boyzone, Backstreet Boys, NSYNC, dan Weslife (lawas abis). Kali ini, virus boyband dan girlband itu berasal dari negeri ginseng, Korea Selatan.

Melalui produk-produk budaya populer seperti film, drama, dan musik, Korea Selatan getol menyebarkan pengaruh budayanya, yang dikenal dengan sebutan Korean Pop, K-Pop, atau Hallyu Wave. Tak cuma di Indonesia, demam K-Pop bahkan sudah meluas ke berbagai penjuru dunia. Di sebagian besar wilayah Asia, Eropa, bahkan Amerika, nama-nama seperti DBSK, Superjunior, Wondergirls, dan Big Bang sudah tak asing. Perlahan tapi pasti, mereka menggeser dominasi musisi UK dan US yang sejak dulu selalu merajai tangga musik internasional. Hegemoni Hollywood yang amat mapan kini dilawan oleh sebentuk kontra hegemoni dari Korean Pop ini.

Apa sih yang membuat para selebriti Korean Pop menjadi idola baru bagi seluruh dunia? Mungkin karena musik mereka yang catchy, penampilan yang bener-bener unik dan fashionable, koreografi memukau, fisik yang dipoles dengan sempurna, serta identitas mereka sebagai orang Korea, orang timur, yang tidak hilang meski dikemas dalam paket modern. Video-video klip dan film mereka mungkin menjadi semacam angin segar di tengah video klip dan film para artis Hollywood yang penuh ketelanjangan. Ya karena lama kelamaan ngelihat video klip Lady Gaga, Katy Perry, Black Eyed Peas & Fergie yang selalu menyajikan pakaian minim, kekerasan fisik dan verbal, serta ketelanjangan mungkin menimbulkan kejenuhan tersendiri di antara para penikmat seni musik. Maka ketika Korean Pop datang dengan seni ala orang Timur, itu memberikan suatu kesegaran.

Di Indonesia, hegemoni K-Pop dibuktikan dengan digelarnya konser K-Pop bertajuk KIMCHI (Korean Idols Music Concert Hosted in Indonesia) yang untuk pertama kalinya digelar di Jakarta, 4 Juni 2011. Lima artis Korea tampil dalam ajang Kimchi tersebut, yaitu The Boss, X5, Girl’s Day, Park Jung Min, dan diakhiri dengan tampilnya Super Junior. Tak disangka-sangka, ternyata peminat konser KIMCHI ini membludak!

Awalnya aku sama sekali nggak tertarik dengan boyband-girlband Korea itu. Sama sekali. Sementara temen-temen kosan setiap hari selalu nyetel keras-keras “Gee”, “Sorry Sorry”, “Nobody”. Beberapa bahkan nyetel videonya di ruang TV dan dengan penuh semangat ngikutin koreografi mereka buat senam pagi (-__-!)

Oke, lagu-lagu mereka memang catchy. Tapi begitu lihat videonya... umm... nggak terlalu cocok dengan seleraku. Cewek-cewek kurus bak boneka porselen tanpa cacat yang didandani seragam serta beautiful boys yang berpakaian sangat modis dengan V neck berbelahan rendah, (plus suka nge-wink ~ ;) bukan seleraku. Sudah gitu, video klipnya gitu-gitu aja, menurutku kurang keren. Cuma mengandalkan setting studio, koreografi enerjik, serta gambar close up wajah-wajah para anggota boy/girlband yang tanpa cacat. Udah, gitu doang. Nggak ada alur cerita, nggak ada karakter tertentu, semua dibikin seragam dan sangat-sangat mem-boneka. Kualitas suara dan musik mereka juga kurang menarik perhatianku.

Sampai kemudian aku mendengar lantunan suara merdu yang menyanyikan “Tell me goodbye, oh tell me goodbye... hanasou...” Weits! Keren banget suaranya! Siapa tuh yang nyanyi? “Ini lagu Big Bang,” kata temenku yang nyetel lagu itu. Boyband Korea juga, tapi kok lagunya bahasa Jepang? Oh, ternyata lagu ini memang ada di album khusus Jepang. Aku suka banget lagu ini, terutama ada satu suara yang bener-bener membuatku terpesona mendengarnya *lebay. Tapi beneran deh. Bagus banget suaranya. Siapa sih iniii...

Temenku itu pun menunjukkan video klip lagu Tell Me Goodbye, supaya aku bisa lihat, siapakah gerangan pemilik suara nan indah itu. Dan ternyata, dialah Kang Dae Sung! Asli, aku bener-bener jatuh cinta sama suaranya. Beautiful. Smooth but Powerful. Dalem. Keren banget. Udah ngga ngerti mau ngomong apa lagi.


Kang Dae Sung - Big Bang

Dari mulanya hanya pengen tau siapa pemilik suara merdu itu, aku kok jadi kepincut juga sama video klip Tell Me Goodbye-nya Big Bang yang keren ini, setidaknya jauh lebih niat ketimbang video klip boyband lain yang pernah aku lihat. Shot-nya keren, wardrobe-nya apalagi, ada alur, beda lah pokoknya. Wah baru ini nih gue liat video klip artis Korea seniat ini.



Video klip semestinya menjadi bentuk penghargaan manajemen terhadap kerja keras artisnya. Membandingkan dengan video klip boyband lain yang pernah kulihat, aku jadi bisa melihat perbedaan, mana manajemen yang bener-bener menghargai artis, mana yang pelit dan cuma mau jual kesempurnaan fisik artisnya aja. Itu sih pandanganku sebagai orang awam aja ya, sebagai penikmat karya seni musik.

Suara merdu Kang Dae Sung kemudian menyeretku perlahan ke pusaran Hallyu Wave... Kena deh, aku demam Korean Pop! Aku jadi mulai tau karya-karya Big Bang yang lain, serta tentu saja, saudara perempuan mereka dari satu manajemen, 2NE1. Nah, keren juga nih. Video klip pertama yang kulihat dari 2NE1 adalah “It Hurts” yang coooool abissss! Video klip bertema Halloween yang setting, wardrobe, serta make up nya niat banget.



Oh, coba Girls Generation di-package seperti ini, mungkin akan jauh lebih menarik. Anggota 2NE1 dan Big Bang, kalo secara penampilan fisik kayaknya sih nggak semulus Superjunior atau Girls Generation ya (aih, sebut nama juga akhirnya), tapi manajemen mereka bener-bener menghargai talenta mereka dengan ngebikin video klip yang keren dan artistik. Coba bandingin, video klip Tell Me Goodbye dan Love Song dengan Sorry Sorry atau Mr Simple. Versi cewek, coba bandingin video klip It Hurts dan Fire dengan Mr Taxi atau Visual Dream (yang terakhir, yang paling parah menurutku).

Yang aku kritik bukan performa Suju atau SNSD-nya (aku malah salut dgn kekompakan mereka), melainkan manajemennya itu lho, yang menurutku kurang memberikan apresiasi untuk mereka dalam bentuk video klip yang artistik dan keren.

Sebagai seorang penikmat musik, aku semestinya memang terbuka dengan berbagai jenis musik, termasuk Korean Pop. Ya, setidaknya tau lah. Tapi jujur aja, memang nggak banyak sih yang cocok dengan seleraku. Hanya beberapa aja seperti Big Bang, 2NE1, trus reality show Running Man yang lucu banget, hehe... Tapi tetep, suaranya Dae Sung-lah yang jadi daya tarik utama buatku dalam K-Pop ini. Asli, keren banget lah dia, bahkan performa live-nya sangat prima. Kerennya Big Bang udah diakui dengan terpilihnya mereka sebagai Worldwide Act dalam MTV Europe Music Award di Belfast, 6 November 2011 kemarin. Mereka mewakili Asia Pasifik, mengalahkan Britney Spears yang mewakili Amerika Utara, Lena yang mewakili Eropa, Abdelfattah Grini yang mewakili Afrika/India/Timur Tengah, dan Restart yang mewakili Amerika Latin.



Sedangkan 2NE1 sendiri buatku sangat unik karena mereka mengusung konsep girl power, seperti Spice Girls dulu. Mereka bukan girlband yang berimut-imut unyu dengan bodi dan wajah sempurna seperti cetakan porselen. Mereka menonjolkan karakter masing-masing anggota, dan itu yang aku suka. Trus fashion-nya itu loh boooo... berani, beda, dan fresh banget lah!

Aku bener-bener menikmati performa, musik, dan karya-karya mereka, tapi sama sekali nggak peduli dengan kehidupan pribadinya. Mau operasi plastik apa engga, mau ngeganja atau engga, punya pacar apa belom, bukan urusanku juga sih... aku cuma menikmati karya mereka sebagai para pekerja seni. Sejauh ini, baru tiga hal tadi sih yang menarik perhatianku tentang K-Pop: Big Bang, 2NE1, dan Running Man. Lainnya, belum.

Baiklah, tidak bisa disangkal bahwa demam K-Pop sedang melanda dunia, Indonesia, dan akhirnya, aku juga kena :p


*ada yg tau apa iniiii...?? hahaha