Senin, 09 Februari 2009

Membangun Indonesia dengan Kemerdekaan Pers

Indonesia adalah salah satu negara yang terbilang unik, di mana konsep kebangsaannya dibangun di atas tradisi cetak, alias dunia pers dan surat kabar. Hal ini dapat dilihat dari sebagian besar founding fathers kita adalah para penulis handal. Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Rasuna Said, Dr. Soetomo, dan tokoh bangsa lain, juga menjadi pemimpin surat kabar. Surat kabar dan pers ini digunakan untuk menyampaikan ide-ide mereka tentang kemerdekaan dan pembelaan terhadap rakyat yang ditindas pemerintahan kolonial.

Sejak dulu, efektivitas pers sebagai alat propaganda memang sudah tidak diragukan lagi. Tentu kita tahu propaganda yang dilakukan PKI (Partai Komunis Indonesia) lewat salah satu majalahnya, Lekra yang laku keras saat itu. Tapi tentu saja bukan hanya PKI yang punya media. Salah satunya adalah “Soenda Berita”, sebuah surat kabar yang didirikan, dibiayai, dipertahankan oleh seorang pribumi, Tirtoadhisoerjo. Kemudian banyak bermunculan ide pergerakan kebangsaan yang disalurkan melalui tulisan-tulisan yang membakar semangat anak bangsa di berbagai media massa.

Salah satu surat kabar yang cukup terkenal dan bisa bertahan lama adalah Medan Prijaji. Surat kabar ini juga dirintis oleh Tirtoadhisoerjo. Meskipun namanya “Medan Prijaji”, surat kabar ini boleh dibaca semua orang, bukan hanya untuk mereka yang berasal dari kalangan bangsawan atau priyayi. Bahkan saat itu, Medan Prijaji menjual sahamnya kepada para pembaca, untuk menegaskan prinsip mereka, sebagai korannya rakyat. Dari sini, kita bisa melihat bahwa ungkapan bahwa pers merupakan “the fourth estate” dalam suatu negara tidaklah salah, bahkan pers bisa jadi suatu wujud kekuatan yang lebih besar lagi dalam suatu negara. Dikatakan, kita bisa membangun ideologi negara yang berawal dari idealisme pers dan kesamaan visi dalam menyejahterakan rakyat Indonesia.

Sebelum reformasi, keadaan dunia pers kita sangat jauh dari kebebasan. Baik penguasa Orde Lama maupun Orde Baru, keduanya takut terhadap kebebasan pers. Banyak alasannya, revolusi belum selesai-lah, menjaga stabilitas pembangunan-lah. Namun pasca reformasi, angin segar menyambut dunia pers kita. Salah satunya adalah dengan ditetapkannya UU No. 40 tahun 1999 yang merupakan salah satu indikasi bebasnya pers kita. Tapi apakah hal itu kemudian bisa dijadikan tolok ukur kemajuan pers kita? Kalau dinyatakan pers kita sudah maju, memangnya pers kita punya apa?

Dari sejak awal munculnya, tarik-menarik antara idealisme media massa dan komersialisme pasar memang tak ada habisnya. Karena ternyata lama kelamaan orang media itu sendiri menyadari, bahwa pers bukan sekadar ideologi, tapi juga pasar. Apalagi akhir-akhir ini, ketika pers semakin nyata menjelma menjadi sebuah industri, dimana berita dan khalayak menjadi komoditas yang bernilai dagang tinggi. Kebebasan pers banyak disalahartikan.

Hal ini diakibatkan oleh lemahnya regulasi atau kebijakan yang ditetapkan pemerintah terhadap pers dan pasarnya. Hasilnya, pengertian kebebasan pers saat ini justru terkait dengan banyak kepentingan yang justru memenjarakan makna kebebasan itu sendiri. Kita selama ini masih banyak menuliskan apa yang dikatakan pemerintah. Kita belum bisa banyak menuliskan realita dan memaparkannya sebagai suatu ide yang mencerdaskan masyarakat. Dalam UU NO. 40 tahun 1999 itu juga ada sebuah kalimat yang tampaknya sedikit mengganggu prinsip idealisme pers, yaitu pers yang dinyatakan bisa berfungsi ekonomi.

Ini dia masalahnya, ketika orang-orang pebisnis melihat kesempatan emas di sini. Yang dkhawatirkan adalah, ketika fungsi konvensional pers terbawa fungsi ekonomi ini. Contohnya, banyak terbit pers kuning, atau tabloid gosip dan kriminal yang menjual mimpi dan kesengsaraan. Pers ini bukan kontrol sosial, atau alat mencerdaskan bangsa. Masyarakat kini sudah semakin pintar, mereka sendiri yang akan memberikan sanksi terhadap pers yang partisan. Toh buktinya, surat-surat kabar yang beridealisme tinggi tetap bertahan, bahkan telah memiliki pasarnya sendiri.

Guru besar sejarah Unpad, DR. Nina Herlina Lubis memberikan contoh yang apik mengenai keseimbangan yang baik antara ideologi dan permintaan pasar yang belum berjalan seimbang. Ia meneladani sosok Rosihan Anwar, yang sangat fleksibel dalam menentukan kebijakan pers yang dipimpinnya, di hadapan kuasa Orde Baru kala itu. Saat Mochtar Lubis memilih untuk mati demi mempertahankan idealismenya (Indonesia Raya), Rosihan Anwar masih bisa berbelok sedikit dan mengikuti aturan yang ada, untuk bisa bertahan dan menjadi lurus kembali.

Solusi yang dibutuhkan saat ini adalah tegasnya regulasi atau kebijakan dari pemerintah. Para insan pers juga seharusnya bisa lebih menghargai karya dan keutuhan konsep pers, yang menjadi simbol kebebasan. Dibutuhkan juga adanya pembinaan terhadap para wartawan maupun calon wartawan serta pers kuning, supaya media-media massa kita menjadi media yang sehat, mencerdaskan bangsa, serta tidak merusak idealisme dan makna kebebasan pers.

DR. Nina Lubis juga mengungkapkan, bahwa untuk menjadi idealis, wartawan harus digaji cukup, supaya ia tidak menerima uang dari sana-sini. Wartawan juga harus moderat. Pers harus menjalankan fungsinya sebagai kontrol sosial, yang siap berjuang dari rakyat untuk rakyat. Wartawan bukanlah pekerjaan sampingan, ia harus punya ideologi yang kuat dan nyata.

Jumat, 06 Februari 2009

Si Mbah

Nenek saya namanya Siti Hamidah. Semua orang memanggilnya dengan sebutan Mbah. Mbah itu satu-satunya grandparent saya, karena mbah-mbah yang lain udah pada meninggal. Bahkan saya tidak terlalu mengenal mbah-mbah yang lain (bapaknya Bapak dan kedua orang tuanya Ibu), sebab mereka meninggal saat saya masih sangat kecil. Nggak heran kalau saya sayaaaang banget sama Mbah Midah ini ^.^ Mbah saya ini orang Madura asli. Kata Bapak, Mbah keturunannya Raja Madura dulu. Makanya kulit Mbah putih, nggak kayak orang Madura lain yang cenderung gelap. Mbah saya juga tingkah lakunya kayak ningrat banget, rapi, jalannya anggun, kalo makan pake table manner, ya tipe-tipe perempuan Jawa rumahan. Tapi kalo soal gaya ngomong sih, sama aja kayak orang Madura umumnya, blak-blakan, rada galak, tapi lucu, hehehe. Mbah saya nih gaul dah orangnya, nggak kolot gitu. Suka bercanda sama cucu-cucunya.

Walaupun umurnya udah lebih dari 80 tahun, alhamdulillah sampe sekarang Mbah masih sehat. Nggak ada penyakit serius. Paling batuk, pegel-pegel, kata Mbah, biasalah namanya juga orang tua. Rahasianya, Mbah ini idupnya bahagia banget, dikelilingi sama cucu-cucu yang sayang banget sama beliau... Rumahnya nggak sepi deh. Terus, Mbah itu makannya sehat banget, serba ‘godokan’, alias serba direbus, non kolesterol, non lemak. Eits, jangan salah, biarpun cuma godokan, masakannya semua enak! Kalo masak buat diri sendiri, paling sayur bening, bandeng, yah pokoknya yang light bumbunya, tapi uenak’e rek! Nyam nyam... Kalo buat cucu-cucunya, baru deh masak masakan khas Jawa Timur, yang rasanya Jawa Timur banget: ikan pari bumbu rujak, rawon, telor bali, tahu balap, gule kacang ijo, wah poko’e maknyuss...! Mbah ini juga rajin minum susu dan sangat konsisten menjaga berat badannya. Hidupnya teratur, makan, tidur, ngaji, semua dijaga.



Bapak saya hobi banget ngajak Mbah jalan-jalan, abis seru sih kalo sama Mbah! Yang penting Mbah nggak perlu duduk lama dan merasa nyaman selama perjalanan. Dari mulai Taman Safari sampe Bunaken sampe umroh semua pernah. Ke mall juga sering. Biarpun masih make kebaya, sarung, dan selendang (kayak perempuan Jawa dulu lah), Mbah saya nggak katro loh! Naek eskalator, naek lift, naek pesawat, makan di restoran hotel bintang lima, keciiil...! Hahaha! Dan biar kemana aja, bahkan sampe pas naek haji dan umroh sekalipun, Mbah saya ini selalu pake pakaian tradisionalnya. Nggak mau dibeliin pakaian jaman sekarang. Tapi jangan salah, kebaya, sarung dan selendang Mbah nggak murahan. Sarungnya batik asli, selendangnya keren-keren, dan bajunya pake bahan yang mahal. Habisnya dibeliin baju-baju modern yang mahal sama anak-anaknya nggak mau.

Soal pakaian yang tradisional ini, ada cerita lucu. Yaitu saat tahun 2004, waktu kita ngajak Mbah umroh. Dari sejak pertama datang di Jeddah, Mbah udah jadi pusat perhatian gara-gara pakaiannya yang sangat berbeda dari orang-orang sana. Waktu solat di Masjidil Harom juga, berkali-kali sarung Mbah ditarik-tarik sama perempuan Arab atau Turki. Mereka senyum-senyum naksir gitu liat motif batik. Waaa Mbahku membawa misi mempromosikan budaya Indonesia ternyata, hahaha! Gaul yah.

Nah, sewaktu kita baru sampai di airport Madinah, turun dari pesawat kita diperiksa dulu sama petugas keamanan perempuan, masuk ke ruangan khusus pemeriksaan (kalo cowok kan di luar aja diperiksanya). Semua logam dikeluarkan, terus badan kita diperiksa pake alat pendeteksi logam yang panjang itu loh, yang kalo ada sesuatu dia bunyi, niit niit... Saya lolos, ibu lolos. Lha emang kita kagak bawa apa-apa kan. Eh pas si Mbah diperiksa, alat itu bunyi. Wah kita langsung kaget kan, emang Mbah bawa apa gitu?! Pikiran gw langsung ngayal-ngayal, jangan-jangan ada orang tak bertanggung jawab yang ngumpetin sesuatu di Mbah, dan memperdaya Mbahku yang tidak tahu apa-apa ini. Si petugas keamanan langsung jadi galak gitu, nyuruh Mbah buka bajunya. Saya dan ibu tentu saja pucat, khawatir, sementara Mbah ngomel-ngomel pake bahasa Madura ke petugas keamanan itu yang katanya kurang ajar. Saya bilang, ikutin aja Mbah, karena saya juga penasaran, emang Mbah bawa apa gitu? Dan pas Mbah baru ngangkat bajunya, eng ing engggg.........! Serentetan peniti yang dipake Mbah di korsetnya itulah yang ternyata membuat alat pendeteksi bom itu berbunyi! Mbah saya dikira bawa peluru! Hahaha! Sumpah ya, saat itu juga saya dan ibu ketawa ngakak! Si petugas keamanan yang tadinya tampangnya galak, jadi mati-matian nahan senyum (menjaga wibawa) dan bilang, “Andonesi?” Iya, kita orang Indonesia dan itu nenek gue make korset dan rentetan peniti di balik sarung batiknya, bo! Kalo lw kagak tau, itu fungsinya biar sarung nggak melorot, cing!

Bapak saya dan Niko (adek) udah nunggu di luar dengan tampang khawatir, kok ni orang bertiga lama bener diperiksanya? Terus akhirnya kita bertiga keluar, saya dan ibu ketawa ngakak nggak berenti-berenti, sementara Mbah masih ngomel-ngomel sambil benerin sarung yang direcokin petugas keamanan tadi. Percuma Mbah marah-marah juga mereka kagak ngarti, hahaha! Dan makin ngedumel waktu kita jelasin bahwa tadi itu alat pendeteksi bom, dan Mbah dikira nyembunyiin peluru di balik baju, yang ternyata adalah peniti dan korset, ahahahaha! Mbah ngomel sampe bilang “Wedhus wong iku!”

Ada juga kejadian lucu baru-baru ini. Mbah bilang, matanya sekarang udah mulai perih kalo dipake baca Al-Qur’an lama-lama. Akhirnya diajaklah Mbah ke dokter mata sama tante. Sesampainya di dokter mata, seperti biasa kan kita dikasih kaca mata, kemudian disuruh MEMBACA ABJAD dari yang paling besar sampai ke yang paling kecil.

Helooooww... ini nenek udah 80 tahun lebih umurnya, hidupnya di jaman penjajahan, kagak pernah sekolah, eh malah disuruh baca abjad! Plis de ah. Pertamanya Mbah diem aja, pas disuruh baca Mbah langsung berdiri dan ngomel-ngomel ke dokter matanya pake bahasa Madura. “Wong goblok ngene kok disuruh mbaca ki piye! Nek dikasi Qur’an, wis, ta’ telen!”...dan seterusnya. Malah si Mbah minta ABC nya itu diganti aja pake alif-ba-ta-tsa. Akhirnya si dokter mata menyadari kekhilafannya (ini yang bego siapa, ya?) dan minta maaf sama Mbah sambil ketawa-ketawa. Akhirnya sibuklah si dokter mencari-cari Al-Qur’an berbagai ukuran buat ngetes penglihatannya si Mbah. Barulah si Mbah puas dan mau dites, pake Al-Qur’an. Terus Mbah berpesan ke dokter mata, lain kali kalo ngetes penglihatan nenek-nenek kayak dia, jangan disuruh baca ABC. Mustinya bu dokter punya juga yang alif-ba-ta-tsa.

Wah pokoknya Mbah saya nih lucu banget dah! Gahul pisan! Itu yang membuat saya selalu kangen sama beliau, sama masakannya, sama cerita-ceritanya, sama omelannya, semuanya! I love you, Mbah sayaaaang...!

Senin, 02 Februari 2009

Senyuman untuk Petugas Gerbang Tol

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana rasanya duduk berjam-jam di dalam sebuah ruangan yang sempit, di tengah deru kendaraan, sendirian? Pasti gerah, bosan, pegel, pusing kepala... ya, siapa yang tak pernah lewat jalan tol? Siapa yang tak pernah bayar atau ambil karcis di gerbangnya?

Kita semua pasti sudah ribuan kali melakukan hal itu. Lewat gerbang tol, berhenti untuk bayar atau ambil karcis dari petugas, dan wusss... ngebut lagi. Pernahkah kita menyadari, setidaknya, bahwa ada seorang petugas, seorang manusia di sana, di dalam loket kecil itu? Bahwa yang memberikan tiket itu adalah seseorang seperti kita yang punya wajah, perasaan, dan perut? Sepertinya tak semua orang menyadari. Tapi Bapak saya berbeda. Salah satu yang saya sukai darinya adalah tentang hal-hal kecil yang ia lakukan, namun besar maknanya bagi orang lain. Seperti juga hal kecil yang selalu ia lakukan kepada para petugas pintu gerbang tol: tersenyum dan menyapa.

Setiap melewati pintu gerbang tol, Bapak dengan wajah dan senyum yang jenaka, selalu menyapa ramah petugas yang duduk di sana. Tak jarang Bapak juga melontarkan lelucon sederhana yang bisa membuat mereka berdua tertawa terbahak-bahak layaknya kawan yang sudah lama kenal. Yang tak pernah ketinggalan, Bapak selalu menyapa nama petugas tersebut, yang terpampang di kaca loket. “Selamat pagi Mas Haryanto! Sudah makan, Mas?” atau “Assalamualaikum, Mbak Siti! Jangan melamun aja, Mbak! Hehe...” Tak pelak, mereka tertawa senang mendengar teguran Bapak saya.

Lucunya, pernah juga Bapak udah dengan semangat ‘45 menyapa petugas yang di papan namanya tertulis “KHAERUDDIN”, tapi ternyata yang ada di dalamnya justru seorang Mbak berkerudung. “Assalamualaikum, Mbak Khaeruddin!” Lho?! Hahaha! Ibu, saya, dan adik tentu saja ketawa ngakak, sementara si “Mbak Khaeruddin” tersipu malu. “Saya lagi gantiin Mas Khaeruddin, Pak.” “Oh kirain namanya beneran Mbak Khaeruddin... Hehehe!”

Kebiasaan itu masih dilakukan Bapak sampai sekarang, malah kini banyak petugas gerbang tol yang duluan menyapanya. Padahal Bapak juga kayaknya udah lupa kalau dulu ia pernah menyapa Mas atau Mbak itu, tapi ya tetap saja senang, dikenal oleh orang yang tidak kita kenal, hahaha! Saya membayangkan kalau saya jadi petugas gerbang tol itu, pasti akan senang sekali. Di antara ribuan pengemudi mobil yang mungkin tak menyadari bahwa ada seorang manusia di sana, kemudian ada seorang pengemudi yang datang dengan senyum dan sapaannya. Layaknya setetes embun di tengah padang pasir, hehehe... Walau kadang konyol, setidaknya Bapak saya menganggap para petugas gerbang tol itu ada, sebagai manusia, bukannya sebagai sebuah robot atau mesin yang tinggal dipencet tombol, ambil tiketnya. Bapak saya mengakui eksistensi mereka sebagai seseorang yang punya hati, punya perasaan. Bapak saya menghargai keberadaan mereka, hanya dengan hal paling sepele sekaligus paling bermakna: senyuman.

Dalam keluarga, saya memang dididik untuk tidak meremehkan hal-hal kecil, apalagi senyuman. Bapak selalu mengingatkan saya untuk tersenyum, kepada orang-orang yang tidak dikenal sekalipun. Tukang siomay, pemulung, nenek-nenek pemanggul kayu bakar, anak kecil, semuanya! Bagi saya, kalau saya lagi badmood dan tiba-tiba seseorang (apalagi yang tidak saya kenal) tersenyum tulus kepada saya, bisa dipastikan beban saya akan terasa berkurang. The power of smile, saya sudah tidak meragukan itu.

Ada juga misalnya saat Ibu saya ingin menyumbang untuk anak-anak sebuah kampung yang cukup terpencil di daerah Pandeglang. Ibu saya mikir, apa lagi yang harus disumbangkan, ya? Baju, seragam sekolah, sepatu, alhamdulillah sudah banyak yang ngasih. Kemudian Ibu teringat satu hal: celana dalam! Ya, itu dia! Kalau kamu ke kampung-kampung terpencil, coba deh perhatikan celana dalam yang dikenakan anak-anak kecilnya. Kebanyakan sudah kumal, kotor, kedodoran, nggak nyaman lah pokoknya. Jelek-jelek lagi. Padahal tentu kita semua tahu, celana dalam itu ‘kan kita pakai setiap hari, dan berfungsi melindungi bagian tubuh kita yang cukup sensitif. Harus selalu bersih, harus nyaman, tidak boleh lembab. Kalau banyak kuman di selangkangan, tentu banyak penyakit nantinya.

Akhirnya jadilah Ibu pergi ke pasar membeli berbagai macam model celana dalam dan kaos dalam. Warna-warni, banyak rendanya. Pokoknya lucu-lucu deh. Dan ketika anak-anak kampung itu menerima celana dalam-celana dalam mereka, waaaa mereka senang sekali! Ada yang langsung dipakai, nggak mau dicopot-copot. Ada juga yang maunya pake celana dalam aja, nggak mau pake baju lagi. Waduuh gawat juga ya, hihihi. Senang juga melihat anak-anak itu sekarang udah pake celana dalam yang bagus, warna-warni, nggak kumal dan kedodoran lagi. Orang-orang senengnya membeli makanan, baju mahal-mahal, tapi sedikit sekali yang inget bahwa pakaian yang paling deket nempel dengan kulit kita adalah celana dalam dan kutang, dan betapa kenyamanan pakaian dalam sangat penting adanya. Begitulah, betapa hal-hal kecil yang penting ternyata sering luput dari perhatian kita. Saya sangat beruntung dibesarkan dalam keluarga yang selalu menghargai hal-hal kecil itu.