Senin, 26 Desember 2011

Sarjana Muda

Sahabatku di Jurnal 07, Lala dan Inda, baru aja resmi dinyatakan sebagai sarjana ilmu komunikasi (S.Ikom). Yihaaa selamat ya! Setelah melewati masa-masa penggalauan yang tiada henti selama mengerjakan skripsi, akhirnya sekarang mereka bisa bernafas lega. Yaa… meskipun masih ada revisian, tapi setidaknya gelar dan jadwal wisuda udah di tangan, sikasik!



Malamnya aku membantu Lala buat packing di kosannya. Baju, tas, buku-buku, masuk kardus. Dia mau pulang ke rumah, jadi dia akan nyicil bawa pulang sebagian barangnya. Kukira Lala udah nggak akan galau lagi, ternyata malemnya dengan muka sedih dia bilang, “Ken… sekarang aku udah bukan mahasiswa lagi ya…” Iya Lala, kamu sarjana sekarang. “Terus aku udah nggak kuliah lagi ya…” Iya Lala, sekarang orientasi kamu adalah bekerja dan melepaskan ketergantungan finansial dari orang tua. “Huaaaa… aku sediiiiiihhh…” Jiaaa, ternyata menjadi sarjana pun dia belum berhenti menggalau.

Tapi kesedihan Lala memang beralasan. Masa-masa menjadi mahasiswa adalah masa-masa terbaik dalam hidup. Masa paling bebas, kita akan melihat dan merasakan banyak hal baru yang belum pernah kita tahu sebelumnya. Uang kuliah kita (sebagian besar) masih ditunjang orang tua. Jadwal kelas kita tidak seketat waktu SMA dahulu. Kita menjadi pengangguran terselubung. Kita punya banyak sekali waktu luang untuk diri sendiri. Apakah mau dimanfaatkan untuk berhura-hura atau untuk membentuk kematangan diri, itu pilihan. Pokoknya kita bebas.

Masa-masa ngerjain tugas kelompok, liputan dan ngedit bareng, nongkrong di kafe lama-lama sambil internetan, saling nginep dan curhat-curhatan di kosan, tentu saja Lala akan kangen dengan ini semua. Terutama kangen dengan Jatinangor yang “sagala aya” ini.

Iya sih, aku juga merasakan itu. Rasa kehilangan saat aku nggak pernah lagi ketemu teman-temanku yang udah lulus. Dewi Ifani, Agis, Laras, Puti, Inop, dan sekarang aku akan jarang lagi ketemu Inda dan Lala di kampus. “Yah Lala… jadi kita nggak bisa menggalau bareng lagi dong…” Lala akan jadi wartawan di sebuah surat kabar biro Bandung, mungkin akan pindah kosan ke Bandung, dan nggak akan jadi AGJ lagi (Anak Gaoul Jatinangor). Hiks, Lala!



But yes, life must go on.

Banyak fase dalam hidup yang mesti kita lalui. Masa anak kecil, masa remaja, masa jadi mahasiswa, masa bekerja, lalu sebagai perempuan kita juga akan melewati masa menjadi istri dan ibu. Meski enggan melangkah pergi dari masa-masa indah itu, tapi kita juga nggak mungkin berhenti di satu titik.

Dulu kita enggan meninggalkan teman-teman dan cinta pertama kita di SMA, karena kita pikir itu adalah masa-masa paling indah dalam hidup. Tapi ternyata setelah menjadi mahasiswa, dunia kampus pun tak kalah indahnya. Sebentar lagi dunia kampus pun akan kita tinggalkan. Namun ini bukan akhir, ini awal yang baru bagi hidup kita.

Kita akan memasuki dunia kerja. Mau jadi pegawai atau berwirausaha, yang pasti kita harus melepaskan ketergantungan dari orang tua. Kita belajar mandiri, berdiri di atas kaki sendiri.

So, selamat ya teman-temanku para sarjana muda! Dunia baru siap menyambut kalian. Meskipun itu berarti aku akan merasa kehilangan kalian di kampus dan di kosan, tapi aku selalu mendoakan! Semoga ilmunya bermanfaat di dunia, sehingga bisa menjadi tabungan untuk akhirat. Amin…


Sarjana kloter pertama di Jurnal 07, Inop, Laras & Puti

Selasa, 20 Desember 2011

Renungan tahun ke-22

Aku letih. Semakin aku mencari, semakin jauh aku merasa tersesat. Cukup sudah, tak perlu lagilah sok-sokan mau mencari JATI DIRI yang entah apa, di mana, dan bagaimana bentuknya.

Aku sampai di satu titik perenungan bahwa seharusnya aku menjadi seperti apa yang diharapkan kedua orang tuaku. Mungkin itulah diriku yang sebenarnya, yang seharusnya.

Aku tak mau lagi mencoba, meniru orang lain dan terus menyakiti orang tuaku akan sikapku yang aneh-aneh itu. Aku ingin mereka bahagia, maka aku akan jadi apapun yang mereka inginkan.

Sering aku menganggap, cuma akulah yang paling tau mauku dan maksudku. Tapi semakin hari aku justru makin tidak paham apa yang sesungguhnya aku inginkan di hidup ini. Aku seharusnya bersyukur atas apa yang telah diusahakan kedua orang tuaku demi membuat hidupku jadi sempurna.

Orang tua mungkin tak selalu paham kemauan kita, tapi mereka selalu tahu apa yang baik buat kita. Mereka nggak akan pernah menyesatkan dan membiarkan kita jatuh. Sekarang aku percaya itu sepenuhnya.

Jadi mulai hari ini, aku adalah apa yang orang tuaku inginkan.

Aku akan buat mereka bahagia.

Minggu, 18 Desember 2011

Setelah Sondang Pergi

Sondang, oh Sondang.

Dua minggu terakhir ini nama itu begitu sering kita dengar. Sondang Hutagalung, seorang mahasiswa tingkat akhir Fakultas Hukum Universitas Bung Karno yang juga seorang aktivis HAM, Ketua HAMURABI (Himpunan Advokasi dan Studi Marhaenis Muda untuk Rakyat dan Bangsa Indonesia), nekat bakar diri di depan Istana Negara, pada Rabu (7/12). Ia mengalami luka bakar 97%, dan akhirnya meninggal dunia setelah 3 hari mendapatkan perawatan intensif dari RSCM.

Aksi Sondang membuat kita semua terhentak kaget. Meski tidak ada pesan tersurat yang ia tinggalkan, namun ketika seorang aktivis mahasiswa, bakar diri, di depan Istana Negara, maka apalagi pesan yang ingin ia sampaikan jika bukan kritik keras terhadap kinerja pemerintah? Mungkin ia sudah kehabisan kata-kata untuk kelakuan para petinggi negara yang sudah tuli akan suara-suara rakyat.

Tanpa bermaksud mengecilkan arti sebuah nyawa, aku sendiri sebenarnya masih tidak mengerti mengapa dan bagaimana Sondang bisa nekat melakukan tindakan seekstrim itu. Justru aku sangat menyayangkan, mengapa orang muda secemerlang dia harus mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara demikian.

Sondang dikenal sebagai seorang aktivis HAM, yang memiliki jabatan sebagai ketua HAMURABI. Ia juga seorang mahasiswa tingkat akhir, yang tengah mengerjakan skripsi. Dari perspektifku sebagai seorang mahasiswa, juga sebagai seorang anak, rasanya aku tidak berani melakukan hal-hal nekat, sebelum aku resmi lulus kuliah. Iya, aku kan jadi mahasiswa juga karena bapak-ibuku yang membiayai aku, mereka menaruh banyak harapan kepadaku. I still owe them my graduation, at least. Sejujurnya aku mikir, duh Sondang, coba paling tidak kamu biarkan orang tuamu melihat kamu wisuda dulu, gitu…

Dan dari perspektifku sebagai orang muda, sebagai bagian dari rakyat Indonesia, kalaupun aku marah dan frustasi terhadap kondisi negeri ini, rasanya aku tidak mau menyebarkan energi negatif itu kepada seluruh rakyat Indonesia yang memang sedang menghadapi begitu banyak masalah.

Tahun 1940-an, sebanyak 95% rakyat Indonesia pada saat itu buta huruf. Soekarno-Hatta, sebagai bagian dari yang 5%, punya banyak alasan untuk pesimis, frustasi atas kondisi itu. Mereka punya banyak alasan untuk mundur dan berhenti berjuang. Para orang hebat itu bisa saja hidup enak di luar negeri dan meninggalkan 95% rakyat tak berpendidikan, yang juga tidak mereka kenal itu. Tapi mereka maju, terus berjuang, and here we are now.

Merasa marah dan frustasi itu wajar, sangat manusiawi. Ketika seorang presiden merasa marah dan kesal, sebagai seorang manusia, wajar kan? Namun yang bisa menjadi masalah adalah saat dia curhat dan mengeluh. Ia menyebarkan energi negatif, dan tentu kita tidak mengharapkan itu dari seorang pemimpin. Tak beda pula dengan kita, sebagai orang muda.

Saat ini, kita juga punya banyak alasan untuk frustasi, pesimis, marah atas semua permasalahan bangsa, tingkah polah “menggemaskan” para petinggi negara, korupsi dan konflik di sana-sini. Namun sebagai orang muda, yang di pundak kita ditumpukan banyak harapan, haruskah kita menunjukkan, bahkan menyebarkan pesimisme dan rasa frustasi kita?

Indonesia, negeriku tercinta ini, tidak seburuk itu kok. Ini negeri begitu indah dan kaya raya, ia hanya seringkali jatuh ke tangan yang salah. Ibarat putri cantik yang dibelenggu dalam penjara naga. Yang harus kita lakukan adalah menolongnya, bukan berputus asa atau melakukan hal yang bisa membuat sang putri semakin sedih.

Permasalahan yang ada di Indonesia sekarang ini udah kayak benang kusut, udah nggak tau lagi di mana ujungnya. Kita harus mengurai benang kusut itu dengan hati-hati, perlahan tapi pasti. Tiap-tiap orang memiliki caranya masing-masing dalam mengurai keruwetan ini. Ada yang menyampaikan aspirasi lewat tulisan, musik, sastra. Ada pula yang menyampaikan kritik lewat aksi unjuk rasa. Ada yang langsung turun ke lapangan untuk mengadvokasi masyarakat yang terlibat konflik. Ada yang memulainya dengan membantu anak-anak di kampung pemulung untuk belajar. Ada yang masuk jauh-jauh ke dalam hutan untuk menyelamatkan satwa dan melakukan penghijauan.

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menolong negeri ini. Besar atau kecilkah dampaknya, itu urusan nanti. Sedikit kepedulian saja sudah berarti banyak. Tak perlulah ada anggapan, bahwa yang menulis di blog tidak lebih baik daripada yang main teater. Yang memilih berunjuk rasa di jalan juga tak usahlah merasa lebih keren daripada mereka yang memilih untuk mengajar anak-anak di kampung. Tiap-tiap kita bisa memegang satu ujung benang yang ruwet tadi, dan dengan cara sendiri-sendiri, kita akan berusaha mengurai keruwetan ini. Semua punya peranan masing-masing, yang tujuannya satu, membuat Indonesia jadi lebih baik.

Apa yang telah dilakukan Sondang semestinya menjadi pelecut semangat, sekaligus bahan renungan buat kita semua. Sudah cukup dia saja yang mengorbankan nyawanya demi menyentak kepekaan kita. Jangan ada lagi. Sudah cukup, jangan sebarkan energi negatif seperti rasa marah, frustasi, apalagi pesimisme kepada rakyat Indonesia yang terlanjur jenuh dengan semua ini. Kita, pemuda Indonesia, harus bangkit dan mewujudkan harapan seluruh rakyat yang ditumpukan di pundak kita. Dengan cara yang positif, tentu saja.

Aku tidak mau Indonesia mencontek revolusi yang berlandaskan amarah, seperti negara-negara di Timur Tengah. Kalau mau mengubah keadaan suatu negara, kita harus memulainya dengan taktis dan hati-hati, bukan atas amarah semata.

Sudah cukup, jangan tangisi lagi Sondang. Jangan biarkan pengorbanannya hanya ditanggapi dengan seremoni aksi solidaritas semata. Kita harus bergerak dalam aksi nyata. Banyak hal yang mesti kita perbaiki dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Satu kutipan di buku terakhir Harry Potter and The Deathly Hallows mungkin bisa kita renungkan. “Do not pity the dead, Harry. Pity the living, and, above all those who live without love.”

Cukup Sondang yang meninggalkan kita. Aku dan kamu, masih di sini. Yang akan terus berjuang untuk hidup. Kita akan buat Indonesia jadi lebih baik.


***

Tadinya aku tidak akan menulis tentang hal ini, namun aksi solidaritas sekelompok mahasiswa di depan kampus ITB pada Rabu lalu yang membuatku gregetan untuk menuliskan opiniku. Mereka, para mahasiswa dari berbagai kampus di Bandung itu memaksa anak-anak ITB yang lagi UAS buat ikut aksi mereka, bahkan memaksa menurunkan bendera merah putih di halaman kampus ITB. Saat mahasiswa ITB menolak ikut aksi (karena ricuh juga aksinya), presiden mahasiswanya dikirimin celana dalam wanita dan pembalut oleh para pendemo –-yang justru merupakan satu bentuk pelecehan terhadap perempuan, menurutku. Mereka pikir dengan berdemonstrasi, maka mereka lebih baik daripada anak-anak ITB yang lagi belajar buat UAS. Pola pikir seperti ini yang tidak kusuka. Kita semua bergerak dengan cara kita masing-masing, tak perlu menganggap diri lebih paham, lebih peduli, lebih baik dari yang lain.

Ini opiniku, bagaimana menurutmu?

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=11983377

Senin, 05 Desember 2011

Perempuan Sempurna

Jadi mahasiswi, itu biasa.
Menikah dan membina keluarga di usia muda, itu pun biasa.
Namun menikah di usia muda, lalu membina keluarga sambil tetap menjalankan tugas sebagai mahasiswi, wah itu baru luar biasa!

Adalah Hani Noor Ilahi dan Rachmi Nurhanifah, dua sahabatku di Jurnal, yang cerdas luar biasa. Sejak pertama mengenal mereka, aku yakin, mereka akan selalu jadi shining star, di manapun dan apapun yang mereka lakukan. Nggak cuma cerdas, sikap mereka juga selalu lebih tenang dan dewasa daripada aku.

Hani aktivis dakwah kampus, dia juga aktif di Badan Perwakilan Mahasiswa Unpad, suka orasi, jago memanah, orang tuanya aktif di kancah politik. Ami, she is a seeker, just like me. Dia akan baca semua buku, ikuti semua diskusi, dan dengarkan opini semua orang. Ami ngambil double degree, pendidikan bahasa Inggris di UPI (Gegerkalong) dan Jurnalistik Fikom Unpad (Jatinangor). Jauh ya boo...

Aku sama sekali nggak mengira bahwa kedua sahabatku yang lagi bersinar-sinarnya itu, kemudian memutuskan untuk menikah di usia muda. Hani menikah pada Agustus 2009, saat itu kami masih semester 5. Kemudian Ami menyusul di awal 2010. Jujur aja, aku memang termasuk cewek yang (dulu masih) berpikiran, ketika kamu menikah, kamu nggak akan sebebas dulu. Jadi aku kaget, khawatir, ngerasa kehilangan, saat mereka memutuskan menikah. Aku nggak mau kalau nanti setelah menikah apalagi punya anak, Hani dan Ami akan mengurangi porsi aktivitas mereka sebagai orang muda, sebagai mahasiswi. Aku nggak mau pendar mereka meredup.

Tapi kemudian, Hani yang terlebih dulu membuktikan bahwa aku salah. Selama hamil, Hani membuktikan ia nggak sedikitpun mengabaikan kuliahnya. Paling sekali-dua kali izin di kuliah pagi, karena morning sickness di trimester pertama. Semakin kehamilannya membesar, Hani makin rajin kuliah. Malah kami yang suka cemas kalau lihat Hani kuliah dari pagi sampe sore, naik tangga pelan-pelan ke lantai tiga.. waduh! Dan tentu saja, kami juga jadi saksi betapa aktifnya si jabang bayi. Pernah, Hani lagi presentasi di depan kelas, eh trus si bayi aktif banget sampe perutnya Hani ikut bergerak-gerak. Kontan kami satu kelas ketawa seneng, ternyata si bayi seneng diajak kuliah!

Kami kuliah di jurusan jurnalistik, maka tugas-tugas kuliah kami nggak jauh dari liputan dan wawancara. Hani nggak pernah melewatkan itu. Saat hamil 8 bulan, dia masih meliput demonstrasi Hari Buruh Dunia di depan Gedung Sate siang-siang bolong. Wara-wiri dengan kamera dan tripod plus perut besarnya, kami cuma bisa teriak-teriak cemas. Suatu hari kami harus liputan ke Jakarta, dan Hani pun sangat bersemangat menelusuri belantara Jakarta. Ya, naik bus! Kopaja! Kami selalu cemas, tapi Hani selalu bilang “Kalo aku kuat, bayiku juga jadi kuat.”

Juni 2010, Fathan Syamil Al-Kautsar lahir dengan normal. Kami, Jurnal 2007 menyambut bahagia kelahiran jagoan jurnal, keponakan pertama kami ini. Hani bener, dia ga pernah manja selama hamil, makanya pas melahirkan pun prosesnya mudah. Seminggu setelah melahirkan, Hani langsung ikut UAS! Ya ampun, bukannya minta tugas pengganti, dia malah dateng ke kampus! Han, han...

Punya anak, pun tidak menghalangi kuliahnya. Ia membawa Fathan ke kampus, lalu dititipkan ke penitipan anak di Fakultas Ilmu Keperawatan. Si Fathan jadi objek pengamatan para mahasiswi FIK, hahaha! Hani juga jadi sangat terlatih menulis dan mengetik pake satu tangan, karena tangan yang satunya sambil gendong atau pegangin Fathan.


Seringkali, tanpa diminta, kami dengan senang hati babysitting si Fathan. Atau bergantian ngejagain dia yang diboboin di kursi perpus sementara Bundanya ngetik skripsi. Sekarang Hani udah sampe Bab 3, jauh mendahului aku. Hebat kan? Dia punya semangat dan motivasi lebih untuk lekas menyelesaikan kuliah, tak lain demi suami dan Fathan-nya.





Pertengahan 2011, Ami dinyatakan positif hamil. Wah padahal kuliah lagi padat-padatnya tuh waktu itu. Trimester pertama dan kedua Ami lalui dengan penuh perjuangan, ia mengalami hiperemesis. Atau bisa dibilang, morning sickness-nya parah. Bahkan nggak cuma morning, tapi hampir sepanjang hari Ami muntah-muntah, nggak ada makanan yang bisa masuk. Dia harus melewati masa-masa sulit dengan tiga kali keluar-masuk rumah sakit. Sampai-sampai berat badannya turun drastis hingga 38 kg (tapi emang dia asalnya orangnya imut sih).

Namun syukurlah, setelah melewati bulan ketujuh, kandungannya semakin kuat. Ami pun bersemangat lagi menata kuliahnya yang sempat ketinggalan. Dia sekarang lebih memfokuskan untuk menyelesaikan studinya di UPI, karena yang di Unpad sudah tinggal job training dan skripsi saja. Sahabatku yang satu ini, meski bisa dibilang punya kesibukan dan tugas yang lebih daripada kami mahasiswa biasa (yang nggak ambil double degree), aku nggak sekalipun mendengar Ami mengeluh. Dia menjalani semuanya dengan santai. Begitupun saat tengah hamil. Ami tetap rajin ke kampus. Dia naik tangga ke kelasnya di lantai 5, sekalian olahraga. “Kemarin-kemarin kan Ami sakit, tiduran terus Ken. Makanya sekarang mumpung udah sehat Ami harus banyak bergerak biar bayinya juga kuat,” katanya. Suaminya, Mas Darta, yang juga masih berstatus sebagai mahasiswa STSI, mendukung penuh aktivitas Ami. Ia nggak pernah melarang dan membatasi, melainkan melindungi. Begitulah seharusnya suami membiarkan istrinya jadi diri sendiri.



Aku suka nemenin Ami di rumahnya. Beli es krim, beli bakso, ngemil coklat, jalan-jalan di sekitaran Jalan Aceh-Jalan Halmahera-GOR Saparua sampe ke Tobucil. Pokoknya hidup sama ibu hamil enak deh, ngemil melulu! Hehehe... Terakhir, berat Ami udah naik jadi 53 kg. Bok, berat gue aja 55 kg ya, dan gue tidak sedang hamil. Ami sedang menunggu mules minggu-minggu ini. Bayinya diprediksi akan lahir awal Desember, wow, betapa bahagianya dia! Makin hari terlihat makin segar dan bersemangat.



Tentu butuh perencanaan, manajemen waktu, tenaga, pikiran, dan mood yang lebih stabil untuk menjadi mahasiswi sekaligus (calon) ibu. Saat hamil, kamu akan mengalami banyak perubahan fisik yang tak jarang memicu permasalahan psikis. Tapi kamu nggak boleh egois, kamu harus pikirkan, bahwa saat ini kamu tidak hidup untuk dirimu sendiri, melainkan ada si utun (jabang bayi) yang hidupnya juga tergantung padamu. Ada kalanya kamu nggak nafsu makan, atau males makan karena takut tambah gendut, tapi kamu harus memikirkan si bayi. Ada kalanya kamu maleeeeesss banget bergerak dan berolahraga, pengennya tiduran terus, tapi kamu juga harus memikirkan dampaknya buat kandunganmu dan proses kelahiran kelak.

Itulah yang namanya seorang ibu. Aku teringat apa yang pernah dikatakan Hani waktu sedang mengandung Fathan, “Sebentar lagi aku jadi perempuan sempurna, Ken. Sudah jadi istri, sebentar lagi jadi ibu...”

Dalam hidup, tidak ada yang namanya pengorbanan. Yang ada hanyalah pilihan. Kalau kamu mengorbankan sesuatu demi suatu hal yang lain, berarti kamu menyesali apa yang kamu tinggalkan. Namun ketika kamu memilih sesuatu, berarti kamu bersiap menghadapi tantangan apapun yang akan ada di jalan yang kamu pilih itu.

Hani dan Ami, kedua sahabatku itu memilih untuk menikah, meski masih berstatus sebagai mahasiswi. Tentu bukan keputusan yang main-main, mengingat bahwa dengan menikah kamu bersiap menjadi istri sekaligus ibu. Dengan menjadi seorang istri, berarti kau harus melepaskan hidupmu dari ketergantungan kepada orang tua, dan mempercayakan hidupmu sepenuhnya kepada suami. Dan dengan menjadi seorang ibu, berarti kau harus punya waktu, tenaga, biaya, dan pikiran yang siap kau bagi demi buah hatimu. Itu jelas bukan suatu pengorbanan. Hanya sebuah pilihan, yang telah mereka yakini dapat membuat hidup mereka lebih baik.

Maka, perempuan sempurna buatku adalah, yang menjalani dengan baik kodrat mereka sebagai istri dan ibu, namun tetap bersemangat mengembangkan potensi dirinya sebagai seorang perempuan. Suatu saat nanti, kalau aku hamil dan berumah tangga, aku akan selalu ingat semangat yang dicontohkan kedua sahabatku, Hani dan Ami. Salutku untuk para (calon) ibu muda yang masih bersemangat kuliah dan beraktivitas!

***

Minggu, 04 Desember 2011

Lelucon yang Tidak Lucu

Tuhan tidak pernah tidur. Tuhan tidak pernah salah. Maka semua yang ia ciptakan, pastilah diciptakan dengan sebaik-baiknya, tanpa kecacatan. Ia menciptakan semua makhluknya dengan hikmah, yang terkadang kita tidak bisa memahaminya, malah menjadikannya sebagai lelucon.

Aku seringkali geram menyaksikan acara-acara lawak di televisi, yang menyajikan lelucon-lelucon konyol minim esensi. Pelawak kita, misalnya. Seringkali mereka mengambil bahan lawakan dengan karakter tertentu yang menurutku, mengejek, menghina, merendahkan kawan-kawan kita yang memang diciptakan berbeda dengan kita. Ada pelawak yang menghina orang tunarungu atau kurang pendengaran, dengan meniru dan menamai karakternya, Si Bolot. Ada pelawak yang menghina saudara-saudara kita yang memiliki kesulitan berbicara dengan meniru dan menamai karakternya, Si Gagap. Pernah juga seorang pelawak OVJ tampil dalam karakter yang cenderung menghina orang-orang yang memiliki kesulitan melihat, teman-temannya di panggung sering meneriakkan karakternya itu dengan sebutan, “Dasar picek lo ye!” Tak hanya itu, orang-orang pendek yang ditampilkan di televisi, kerap kali hanya menjadi objek lelucon.

Itu baru tentang penampilan fisik. Belum lagi lelucon-lelucon seperti, “Emang dasar lo cacat mental!” atau “Sumpah, lo autis sendiri deh!” atau "Ih ayan deh lo! Epilepsi lo ya?" yang amat sering kita dengar bukan hanya dari televisi, melainkan juga dari mulut candaan kawan-kawan kita sendiri. Artinya sebagian besar orang telah menganggap lelucon seperti itu sebagai sesuatu yang wajar. Padahal tanpa kita sadari, ada orang-orang yang tersakiti ketika kita membuat lelucon semacam itu.

Banyak kawan kita yang memiliki kerabat, atau bahkan yang terlahir dengan keadaan demikian. Tunarungu, kesulitan bicara, masalah penglihatan, orang pendek, keterbelakangan mental, autisme, epilepsi. Mereka tidak cacat, mereka hanya memiliki perbedaan yang mungkin hanya dimiliki sebagian kecil orang. Namun itu sama sekali bukan alasan untuk sebagian besar kita –yang merasa telah diciptakan Tuhan dengan fisik dan mental yang sempurna- untuk mengolok-olok, apalagi menjadikan mereka sebagai bahan tertawaan. Buatku, itu sama sekali tidak lucu.

Betapa sombongnya kita, jika merasa diri lebih baik daripada mereka. Tuhan tidak salah menciptakan mereka seperti itu. Ada hikmah tersendiri yang Tuhan titipkan pada mereka, yang semestinya menjadi bahan renungan buat kita. Tidak sedikit dari saudara-saudara kita yang terlahir dengan segala keterbatasan itu, malah memiliki semangat dan prestasi yang jauh lebih unggul daripada kita.

Sayangnya hal-hal seperti itu kerap luput dari kepekaan kita sebagai manusia. Kita seringkali tidak sadar, dan menjadikan apapun yang menurut kita berbeda dan lucu, sebagai bahan tertawaan. Bahkan kalaupun itu menyangkut keterbatasan seseorang, juga kaum marjinal. Iya, kaum marjinal. Kita tentu tak jarang mendengar atau melihat lelucon-lelucon tentang bencong, banci, waria, atau apapunlah yang keluar dari mulut kita tentang mereka. Kita nggak pernah tahu betapa berat pergulatan batin saudara-saudara kita yang seperti itu, merasa terjebak dalam tubuh yang tidak mereka kehendaki. Maka kita nggak berhak menghakimi, apalagi menjadikan mereka bahan olok-olok.

Aku pernah datang ke sebuah acara yang diadakan oleh sekelompok mahasiswa. Tiba saat break, ada sesi hiburan berupa penampilan-penampilan yang telah dipersiapkan panitia. Apa yang ditampilkan sebagai hiburan saat itu ternyata adalah pom-pom boys. Delapan orang mahasiswa (laki-laki) menari-nari genit menirukan gerakan wanita, dengan rok rumbai-rumbai dari tali rafia, dan, dua buah mangkok yang digantungkan di dada kanan-kiri mereka. Tanpa baju. Ceritanya mereka para waria yang berdandan menyerupai penari-penari Hawaii. Tapi kemudian dalam tariannya, mereka menampilkan gerakan-gerakan yang sangat menggangguku sebagai seorang perempuan. Mereka memegang mangkok tersebut dengan cara tertentu, memain-mainkannya hingga hadirin TERTAWA. Kecuali aku, tentu saja. Tanpa basa-basi, aku hampiri panitia dan menyatakan bahwa aku tidak setuju ketika kamu menjadikan kaum marjinal (waria, dalam hal ini), dan bagian tubuh perempuan sebagai lelucon. Kukatakan, pasti ada lelucon yang lebih cerdas daripada itu. Si panitia cuma bisa minta maaf.

Tertawa memang sehat, kawan. Tetapi tertawalah dengan cara yang sehat pula. Dengan cara yang tidak menyinggung orang lain. Humor memang perlu kawan, tapi ingatlah, humor adalah bagian dari seni. Seni itu bagian dari ilmu, maka ia harus dilakukan dengan cara yang cerdas. Seni pun bagian dari kehidupan manusia, maka jangan hilangkan kepekaan sosial. Sebentuk karya seni semestinya menghadirkan keindahan dan pencerahan, bukannya penghakiman dan penghinaan terhadap manusia lain.

Sekian.

Minggu, 13 November 2011

Aku Benci Spesiesku!

Sebuah kabar memilukan datang dari bumi Borneo. Baru-baru ini harian lokal di Kalimantan Timur gencar memberitakan tentang pembantaian orang utan. Primata yang (seharusnya) dilindungi itu dibantai oleh manusia-manusia tak beradab lantaran dianggap hama di perkebunan kelapa sawit. Ada foto-foto, bahkan videonya, yang nyaris membuatku menangis menyaksikan betapa hewan-hewan lucu itu terluka bersimbah darah, atau bahkan mati mengenaskan. Pembantaian itu diduga berlangsung sekitar tahun 2009-2010 di Muara Kaman, Kutai Kartanegara. Entah kalau masih berlangsung hingga sekarang. Bukti berupa foto-foto dokumentasi pembantaian orangutan itu diperoleh melalui penyelidikan yang dimulai sejak akhir September 2011 lalu, seiring dengan mencuatnya pemberitaan di media massa. Aku mau nangis tiap kali melihatnya, jadi aku tidak akan memperlihatkannya kepada kalian di sini.

Mereka dibunuh karena dianggap hama. Hama! Perusak tanaman sawit katanya. Hei, manusia bodoh! Memangnya siapa yang terlebih dahulu merampas habitat mereka? Kalian! Kalian yang terlebih dahulu menggusur keberadaan mereka hanya demi memenuhi perut-perut buncit kalian!

Peneliti dari Pusat Penelitian Hutan Tropis Universitas Mulawaran Samarinda, Yaya Rayadin mengatakan, satu ekor orang utan dapat menghabiskan 30 hingga 50 tanaman sawit yang berumur di bawah satu tahun, sehingga satu ekor orang utan tersebut dapat menimbulkan kerugian Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta jika diasumsiskan harga sawit itu Rp 20 ribu per pohon (http://www.republika.co.id/berita/nasional/lingkungan/11/10/04/lsjld8-peneliti-unmul-bersedia-jadi-saksi-pembantaian-orang-utan). Itulah sebabnya pengusaha kelapa sawit 'membasmi' mereka.

Berkurangnya populasi orang utan di alam liar dari tahun ke tahun, kebanyakan adalah akibat degradasi habitat. Ribuan hektar hutan lindung di Kalimantan makin menyusut tiap tahunnya, berganti dengan hamparan perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman produksi. Orang utan yang kehilangan tempat tinggal dan makanannya pun terpaksa memakan apa yang mereka temui. Berhubung yang mereka temui adalah kelapa sawit, ya jadi mereka terpaksa tinggal dan makan di sana. Aslinya, makanan orang utan adalah buah-buahan hutan tropis yang manis dan beragam. Maka ketika mereka makan kelapa sawit yang udah pasti nggak seenak pisang (gue juga bingung bagian apa yang bisa mereka makan dari tanaman kelapa sawit) pastilah itu karena mereka terdesak kelaparan. Eh, malah dibasmi sebagai hama. Yang hama tuh siapaaaa...!!

Aku semakin jijik sama spesies homo sapiens. Iya, spesiesku sendiri! Wajar saja jika dahulu malaikat bertanya kepada Tuhan, mengapa harus menciptakan manusia, yang suka merusak bumi dan menumpahkan darah. Manusia, yang katanya makhluk berakal, malah banyak yang tidak beradab. Manusia jahat, bodoh, dan sombong. Mereka sering merasa sebagai makhluk paling berkuasa di muka bumi, maka dengan rakus melibas apapun, atau siapapun yang menghalangi keserakahannya. Mau itu tumbuhan, hewan, ataupun sesama manusia.

Manusia masuk ke dalam golongan omnivora, alias pemakan segala. Benar-benar pemakan segala! Tak jarang mereka juga jadi kanibal. Manusia akan melakukan apapun untuk membuat dirinya puas dan kenyang. Celakanya, mereka nggak pernah merasa puas atau kenyang!

Manusia adalah makhluk paling kejam yang pernah kutahu. Apalagi kalo sudah urusan perut. Singa, ular, serigala, nggak ada yang lebih kejam daripada manusia.

Manusia suka makan ayam, ikan, dan sapi. Semua bagian disantap tak bersisa. Kepala, kaki, jeroan, telur, ekor, kulit. Ayam-ayam disuntik biar gendut, lalu dibunuh massal dengan menggunakan mesin. Manusia suka makan kepiting. Untuk mendapatkan daging yang enak dan juicy, manusia merebus kepiting hidup-hidup. Manusia suka makan sirip hiu. Hiu-hiu muda yang masih lunak ditangkap, diiris sirip-siripnya, lalu dicemplungin lagi ke laut dalam keadaan hidup-hidup. Ular dan buaya jadi tas tangan, kepala rusa jadi pajangan dinding, bulu beruang jadi karpet, rubah dan rakun jadi syal.

Beberapa tahun yang lalu pun kita mendengar, saat ada yang menjadikan janin manusia sebagai konsumsi, dibikin sop. Belum lama ini seorang pemimpin negara mati mengenaskan di tangan rakyatnya. Ia diberondong tembakan, dijanggut, dijatuhkan. Ketika ia sudah terkapar bersimbah darah, orang-orang bersorak, malah ada yang memfoto dirinya sendiri menggunakan kamera telepon sambil tersenyum di samping mayat diktator yang baru terbunuh itu. Tentu kau ingat adegan itu. Aku hampir-hampir muntah melihatnya. Lalu mayatnya diarak, dan dipajang di lemari pendingin sebuah supermarket. Homo homini lupus. Manusia sungguh menjijikkan.

Tak kalah jahatnya kalau soal kantong. Demi kepentingan ekonomi, manusia menebangi ribuan hektar hutan alam, menggusur habitat satwa liar. Mengeksplorasi tambang-tambang, menguras habis-habis isinya. Mereka tak peduli lagi dengan akibat yang bisa terjadi. Ah, itu masalah nanti. Kalaupun ada bencana, toh bukan gue yang kena. Paling warga sekitar. Begitu pikirnya.

Sungguh bodoh. Selama ribuan tahun, alam liar terbukti bisa hidup tanpa campur tangan manusia. Tapi percayalah, manusia tidak akan bisa bertahan sepuluh tahun saja tanpa adanya alam liar. Dan kalau alam sudah marah, tunggu saja. Ya, kau manusia, tunggu saja. Meski dengan teknologi secanggih apapun, manusia tidak akan pernah menang melawan alam. Karena pada akhirnya, alam sudah pasti menang.

Belakangan, banjir sudah terjadi di mana-mana. Tak pandang bulu, negara maju maupun negara berkembang. Perubahan iklim yang diperparah dengan terus mencairnya lapisan es di kutub, membuat volume air kian tak terbendung. Siapkan saja bahtera Nuh dari sekarang.

Semua kekacauan yang terjadi di muka bumi ini adalah akibat perilaku-perilaku kita sendiri, yang tidak pernah bersyukur, dan tidak mau bertoleransi dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lain. Kita pikir kitalah yang paling pintar, paling kuat, paling mulia. Sering lupa bahwa kita diamanahi untuk menjaga dan menghormati semua ciptaan Tuhan yang ada di sekitar kita. Hutan, gunung, satwa, dan juga manusia lain. Bukankah Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi khalifah, wakil Tuhan di muka bumi? Hei manusia, lupa ya?

Ah manusia, berhentilah membuatku muak!

Sabtu, 12 November 2011

Pensieve

Apa yang biasanya kamu lakukan saat sedang sedih, dalam tekanan,banyak pikiran, stres? Ada yang bilang, makan! Ada juga yang bilang, jalan-jalan! Karokean sama temen-temen!

Manusia selalu punya cara dalam menghadapi keterbatasannya. Terutama keterbatasan pikiran dan emosional. Yang namanya kesabaran, semangat, rasa ikhlas, seringkali naik-turun grafiknya dalam diri manusia. Kepala juga terasa mumet saat banyak pikiran. Saat sedang labil inilah, manusia punya berbagai cara untuk mengembalikan kestabilan emosinya, juga meringankan kepenatan pikirannya.

Salah satu tokoh dalam kisah Harry Potter, yaitu Albus Dumbledore, sang kepala sekolah sihir Hogwarts, juga punya cara untuk meringankan kepenatan pikiran. Kau ingat, saat penyihir berjenggot putih itu merasa pikirannya sudah terlalu penuh dan terasa amat penat, ia akan menaruh sebagian kecil dari memorinya itu ke dalam sebuah bejana biru, yang disebut Pensieve.



Masing-masing kita memiliki pensieve, sebuah wadah penyaluran bagi pikiran yang kelebihan muatan. Hanya saja, pensieve kita dalam bentuk yang berbeda, tidak seperti pensieve-nya Dumbledore. Dengan menyalurkan kelebihan muatan pikiran kita ke dalam pensieve, biasanya pikiran akan terasa jauh lebih ringan.

Aku, misalnya. Blog yang sedang Anda baca sekarang, inilah pensieve-ku. Tiap kali aku merasa jenuh dan pikiranku terasa amat penuh, aku menulis. Tentang segala kegelisahan dan curahan hati yang kalau tak disalurkan dengan menulis di sini, ah rasanya aku bisa meledak. Menulislah salah satu terapi paling ampuh buatku. Terutama dalam hal menyembuhkan kondisi mental yang sedang jatuh. Karena dengan menulis di blog ini, aku bahkan punya pensieve yang lebih hebat daripada milik Dumbledore. Apa yang kutuangkan di sini bisa dibaca orang, dan itu mungkin berarti pula buat orang lain. Mungkin ada yang merasakan hal yang sama, mungkin ada yang jadi merenung, atau bahkan terinspirasi oleh tulisanku. Bisa saja kan?

Begitulah caranya pensieve-ku ini menyembuhkan aku, yaitu dengan membuatku tetap produktif menghasilkan karya, bahkan di saat aku terpuruk. Bisa memupuk kembali rasa percaya diriku, dan itu sangat penting. Selain menulis, aku juga kerap mengurai kepenatan pikiranku dengan menyalurkan kreativitas dalam merajut, menggambar, atau kerajinan tangan lainnya. Intinya, aku perlu tetap produktif.

Memang banyak orang yang memilih karya seni sebagai pensieve mereka. Entah mengapa ya, mungkin karena cakupan seni itu luas sekali, sehingga begitu dekat dengan kegiatan manusia sehari-hari. Dan karya seni, sering diidentikkan sebagai bentuk perlawanan, atau tempat melarikan diri dari rutinitas dan segala sesuatu yang berbau formal.

Seperti halnya presiden kita yang satu ini, Susilo Bambang Yudhoyono. Belum lama ini, tepatnya 31 Oktober lalu, SBY resmi meluncurkan album keempat bertajuk “Harmoni”, berisi kumpulan lagu-lagu ciptaannya. Ya, album keempat. Presiden SBY memang produktif sekali dalam menghasilkan karya seni lagu sejak album pertamanya diluncurkan pada 2007. Lebih tepatnya sih, beliau menulis lirik lagu, sedangkan untuk aransemen dan penyanyinya, ia menggandeng sejumlah musisi ternama Indonesia.



Banyak orang memandang sinis tentang “prestasi” SBY itu. Dikatakan, kok sempet-sempetnya presiden bikin 4 album di tengah kemelut bangsa. Ini presiden apa musisi nih, kok rajin amat produksi lagu, ngalahin Melly Goeslaw.

Aku sendiri berpandangan, presiden pun seorang manusia. Pasti ada kalanya ia jenuh, capek, penat dengan segala permasalahan yang ia hadapi sebagai seorang presiden di negara yang tengah repot berbenah ini. Eh, jadi presiden Indonesia tuh capek lho. Kita yang jadi rakyat aja sering merasa capek, padahal kita banyakan. Apalagi presiden, yang semua beban tanggung jawab Indonesia ditumpukan di pundaknya. Jadi biarkanlah presiden kita menghela nafas sejenak dan menemukan media katarisasi di jalur seni.

Hal yang kubilang soal pensieve tadi, kita memerlukannya untuk mencurahkan segala kegelisahan dengan cara yang kita sukai. Dengan begitu, kita bisa tetap produktif berkarya, bahkan di saat kita merasa terpuruk. Rasa lega dan percaya diri pun terpupuk kembali.

Sudahlah, jangan terlalu jahat kepada pak presiden dalam hal ini. Tak apalah membuat album setiap tahun, lagipula toh lagu-lagu yang diciptakan SBY nggak yang galau-galau gitu kan? Emangnya anak jaman sekarang, apa-apa galau! Kalau kuperhatikan justru lirik yang ditulis SBY banyak bercerita tentang keindahan Indonesia, kecintaannya terhadap negeri ini, persahabatan serta semangat-semangat positif dalam memandang hidup. Perhatikanlah, melalui lirik-lirik itu ia berusaha menyembuhkan lelah hatinya. Melalui energi positif yang ia sebarkan melalui lagu-lagunya, mungkin pula ia sedang menyemangati dirinya sendiri.



Kita boleh berbangga lah, malam tadi pada saat puncak pembukaan acara SEA GAMES XXVI di Palembang, salah satu lagu ciptaan Pak Presiden SBY pun turut memeriahkan pagelaran megah tersebut. “Together We Will Rise” adalah lagu ciptaan SBY yang dinyanyikan dengan indah oleh Joy Tobing pada puncak pesta SEA GAMES XXVI ini. Sudah beberapa tahun belakangan ini pula, tiap upacara peringatan hari kemerdekaan di Istana Negara, tidak hanya lagu-lagu kebangsaan lawas yang dinyanyikan. Kini hampir tiap tanggal 17 Agustus, lagu-lagu ciptaan SBY turut dinyanyikan.

Jadi, mungkin kita boleh sedikit berempati kepada presiden kita yang tercinta ini. Sebagai manusia biasa, selayaknyalah ia berkreasi dan tetap produktif melakukan hal-hal yang ia sukai. Masalah Indonesia tuh banyak banget lho, tak apalah sekali-kali di waktu senggang biarkan Pak SBY menghela nafas sambil menuliskan lirik-lirik indah. Bayangkan Pak SBY seperti Albus Dumbledore, dengan tongkat sihir, mengeluarkan pendar dari pelipisnya, lalu ia letakkan ke dalam sebuah bejana biru yang isinya hampir penuh. Pensieve. Tak apa, asal setelah itu Pak Presiden harus bersemangat, bahkan semakin bersemangat dalam bertugas!

Daripada diem-diem nilep duit sampe kantong menggembung, mendingan diem-diem nulis lirik lalu bikin album!

Senin, 07 November 2011

Korean Pop; Sebuah Kontra Hegemoni

Saat ini demam boyband dan girlband sedang melanda Indonesia. Namun yang berbeda pada demam boyband kali ini adalah, kiblatnya bukan lagi berasal dari UK atau US seperti Boyzone, Backstreet Boys, NSYNC, dan Weslife (lawas abis). Kali ini, virus boyband dan girlband itu berasal dari negeri ginseng, Korea Selatan.

Melalui produk-produk budaya populer seperti film, drama, dan musik, Korea Selatan getol menyebarkan pengaruh budayanya, yang dikenal dengan sebutan Korean Pop, K-Pop, atau Hallyu Wave. Tak cuma di Indonesia, demam K-Pop bahkan sudah meluas ke berbagai penjuru dunia. Di sebagian besar wilayah Asia, Eropa, bahkan Amerika, nama-nama seperti DBSK, Superjunior, Wondergirls, dan Big Bang sudah tak asing. Perlahan tapi pasti, mereka menggeser dominasi musisi UK dan US yang sejak dulu selalu merajai tangga musik internasional. Hegemoni Hollywood yang amat mapan kini dilawan oleh sebentuk kontra hegemoni dari Korean Pop ini.

Apa sih yang membuat para selebriti Korean Pop menjadi idola baru bagi seluruh dunia? Mungkin karena musik mereka yang catchy, penampilan yang bener-bener unik dan fashionable, koreografi memukau, fisik yang dipoles dengan sempurna, serta identitas mereka sebagai orang Korea, orang timur, yang tidak hilang meski dikemas dalam paket modern. Video-video klip dan film mereka mungkin menjadi semacam angin segar di tengah video klip dan film para artis Hollywood yang penuh ketelanjangan. Ya karena lama kelamaan ngelihat video klip Lady Gaga, Katy Perry, Black Eyed Peas & Fergie yang selalu menyajikan pakaian minim, kekerasan fisik dan verbal, serta ketelanjangan mungkin menimbulkan kejenuhan tersendiri di antara para penikmat seni musik. Maka ketika Korean Pop datang dengan seni ala orang Timur, itu memberikan suatu kesegaran.

Di Indonesia, hegemoni K-Pop dibuktikan dengan digelarnya konser K-Pop bertajuk KIMCHI (Korean Idols Music Concert Hosted in Indonesia) yang untuk pertama kalinya digelar di Jakarta, 4 Juni 2011. Lima artis Korea tampil dalam ajang Kimchi tersebut, yaitu The Boss, X5, Girl’s Day, Park Jung Min, dan diakhiri dengan tampilnya Super Junior. Tak disangka-sangka, ternyata peminat konser KIMCHI ini membludak!

Awalnya aku sama sekali nggak tertarik dengan boyband-girlband Korea itu. Sama sekali. Sementara temen-temen kosan setiap hari selalu nyetel keras-keras “Gee”, “Sorry Sorry”, “Nobody”. Beberapa bahkan nyetel videonya di ruang TV dan dengan penuh semangat ngikutin koreografi mereka buat senam pagi (-__-!)

Oke, lagu-lagu mereka memang catchy. Tapi begitu lihat videonya... umm... nggak terlalu cocok dengan seleraku. Cewek-cewek kurus bak boneka porselen tanpa cacat yang didandani seragam serta beautiful boys yang berpakaian sangat modis dengan V neck berbelahan rendah, (plus suka nge-wink ~ ;) bukan seleraku. Sudah gitu, video klipnya gitu-gitu aja, menurutku kurang keren. Cuma mengandalkan setting studio, koreografi enerjik, serta gambar close up wajah-wajah para anggota boy/girlband yang tanpa cacat. Udah, gitu doang. Nggak ada alur cerita, nggak ada karakter tertentu, semua dibikin seragam dan sangat-sangat mem-boneka. Kualitas suara dan musik mereka juga kurang menarik perhatianku.

Sampai kemudian aku mendengar lantunan suara merdu yang menyanyikan “Tell me goodbye, oh tell me goodbye... hanasou...” Weits! Keren banget suaranya! Siapa tuh yang nyanyi? “Ini lagu Big Bang,” kata temenku yang nyetel lagu itu. Boyband Korea juga, tapi kok lagunya bahasa Jepang? Oh, ternyata lagu ini memang ada di album khusus Jepang. Aku suka banget lagu ini, terutama ada satu suara yang bener-bener membuatku terpesona mendengarnya *lebay. Tapi beneran deh. Bagus banget suaranya. Siapa sih iniii...

Temenku itu pun menunjukkan video klip lagu Tell Me Goodbye, supaya aku bisa lihat, siapakah gerangan pemilik suara nan indah itu. Dan ternyata, dialah Kang Dae Sung! Asli, aku bener-bener jatuh cinta sama suaranya. Beautiful. Smooth but Powerful. Dalem. Keren banget. Udah ngga ngerti mau ngomong apa lagi.


Kang Dae Sung - Big Bang

Dari mulanya hanya pengen tau siapa pemilik suara merdu itu, aku kok jadi kepincut juga sama video klip Tell Me Goodbye-nya Big Bang yang keren ini, setidaknya jauh lebih niat ketimbang video klip boyband lain yang pernah aku lihat. Shot-nya keren, wardrobe-nya apalagi, ada alur, beda lah pokoknya. Wah baru ini nih gue liat video klip artis Korea seniat ini.



Video klip semestinya menjadi bentuk penghargaan manajemen terhadap kerja keras artisnya. Membandingkan dengan video klip boyband lain yang pernah kulihat, aku jadi bisa melihat perbedaan, mana manajemen yang bener-bener menghargai artis, mana yang pelit dan cuma mau jual kesempurnaan fisik artisnya aja. Itu sih pandanganku sebagai orang awam aja ya, sebagai penikmat karya seni musik.

Suara merdu Kang Dae Sung kemudian menyeretku perlahan ke pusaran Hallyu Wave... Kena deh, aku demam Korean Pop! Aku jadi mulai tau karya-karya Big Bang yang lain, serta tentu saja, saudara perempuan mereka dari satu manajemen, 2NE1. Nah, keren juga nih. Video klip pertama yang kulihat dari 2NE1 adalah “It Hurts” yang coooool abissss! Video klip bertema Halloween yang setting, wardrobe, serta make up nya niat banget.



Oh, coba Girls Generation di-package seperti ini, mungkin akan jauh lebih menarik. Anggota 2NE1 dan Big Bang, kalo secara penampilan fisik kayaknya sih nggak semulus Superjunior atau Girls Generation ya (aih, sebut nama juga akhirnya), tapi manajemen mereka bener-bener menghargai talenta mereka dengan ngebikin video klip yang keren dan artistik. Coba bandingin, video klip Tell Me Goodbye dan Love Song dengan Sorry Sorry atau Mr Simple. Versi cewek, coba bandingin video klip It Hurts dan Fire dengan Mr Taxi atau Visual Dream (yang terakhir, yang paling parah menurutku).

Yang aku kritik bukan performa Suju atau SNSD-nya (aku malah salut dgn kekompakan mereka), melainkan manajemennya itu lho, yang menurutku kurang memberikan apresiasi untuk mereka dalam bentuk video klip yang artistik dan keren.

Sebagai seorang penikmat musik, aku semestinya memang terbuka dengan berbagai jenis musik, termasuk Korean Pop. Ya, setidaknya tau lah. Tapi jujur aja, memang nggak banyak sih yang cocok dengan seleraku. Hanya beberapa aja seperti Big Bang, 2NE1, trus reality show Running Man yang lucu banget, hehe... Tapi tetep, suaranya Dae Sung-lah yang jadi daya tarik utama buatku dalam K-Pop ini. Asli, keren banget lah dia, bahkan performa live-nya sangat prima. Kerennya Big Bang udah diakui dengan terpilihnya mereka sebagai Worldwide Act dalam MTV Europe Music Award di Belfast, 6 November 2011 kemarin. Mereka mewakili Asia Pasifik, mengalahkan Britney Spears yang mewakili Amerika Utara, Lena yang mewakili Eropa, Abdelfattah Grini yang mewakili Afrika/India/Timur Tengah, dan Restart yang mewakili Amerika Latin.



Sedangkan 2NE1 sendiri buatku sangat unik karena mereka mengusung konsep girl power, seperti Spice Girls dulu. Mereka bukan girlband yang berimut-imut unyu dengan bodi dan wajah sempurna seperti cetakan porselen. Mereka menonjolkan karakter masing-masing anggota, dan itu yang aku suka. Trus fashion-nya itu loh boooo... berani, beda, dan fresh banget lah!

Aku bener-bener menikmati performa, musik, dan karya-karya mereka, tapi sama sekali nggak peduli dengan kehidupan pribadinya. Mau operasi plastik apa engga, mau ngeganja atau engga, punya pacar apa belom, bukan urusanku juga sih... aku cuma menikmati karya mereka sebagai para pekerja seni. Sejauh ini, baru tiga hal tadi sih yang menarik perhatianku tentang K-Pop: Big Bang, 2NE1, dan Running Man. Lainnya, belum.

Baiklah, tidak bisa disangkal bahwa demam K-Pop sedang melanda dunia, Indonesia, dan akhirnya, aku juga kena :p


*ada yg tau apa iniiii...?? hahaha

Senin, 31 Oktober 2011

Donor Darah

Akhir Oktober seperti ini, orang-orang Barat sedang heboh merayakan pesta Halloween, yang identik dengan segala yang seram-seram, hantu, labu nyengir, dan kostum-kostum aneh. Saya punya kegiatan lain di masa Halloween ini. Daripada berseram-seram pake make up berdarah-darah, lebih baik donor darah. *maksa

Ini pengalaman pertama kali bagi saya mendonorkan darah. Udah kepingin sejak lama, tapi waktunya selalu ga tepat. Entah di saat saya lagi menstruasi, lagi puasa, abis minum obat, dan sebagainya. Baru kali ini ada kesempatan, Alhamdulillah.

Usai makan siang dan solat zuhur, saya bersama tiga orang kawan langsung menuju GOR Pakuan, tempat acara donor darah berlangsung. Acara donor darah kali ini merupakan inisiatif dari mahasiswa Fakultas Geologi Unpad kerjasama dengan Corporate Social Responsibility Cipaganti dan Palang Merah Indonesia.

Wow, lumayan banyak juga yang datang. Senengnya lihat antusiasme mahasiswa untuk mendonorkan darah, sebuah kegiatan yang pastinya sangat bermanfaat! Aku, Diana, dan Anbel segera mengisi formulir pendaftaran. Sementara Ershad, dia lagi ga bisa mendonorkan darah karena lagi sakit, tubuhnya sedang terinfeksi virus-virus penggalauan, yang takut menular kalo dia mendonorkan darahnya. Akhirnya Ershad cuma cek kesehatan.

Buat aku dan Diana, ini kali pertama. Buat Anbel, ini kali kedua dia mendaftar ikut donor darah. Dulu yang pertama dia gagal karena abis minum obat, jadi gak boleh. Sekarang dia mau coba lagi. Anbel pun dipanggil ke meja pertama untuk terlebih dulu cek kesehatan. Gak lama kemudian, dia balik lagi. Lah?? Kenapa Bel?

“Gue gagal lagi donk! Kan ditanya, semalem tidur jam berapa? Gue tidur jam 3 pagi, bangun 5.30, gak bisa katanya, hehe…” Jiaaah si Anbel, ada lagi. Dia emang sering tidur jam segitu, ckckck… Lagipula katanya, tekanan darah dia rendah. Tuh, berarti besok kalo mau donor darah, inget-inget ya, ga boleh minum obat dalam jangka waktu 4 hari sebelum donor, ga boleh pas lagi mens, harus makan dulu, dan ga boleh tidur lewat dari jam 1 malam.

Diana pun dipanggil, aku juga, ya ampun deg-degan banget. Ngebayangin jarum, dan darah yang mengalir ke kantong, huaaa jujur aja serem! Tapi ga boleh kalah sama tekad dan niat baik…!!! ~tsah~

Pertama-tama dicek kesehatan dulu di meja pertama. Formulir yang udah kita isi diperiksa, sambil dicek tekanan darah. Wah, tekanan darah gue bagus banget, 120/80! Terus ditanya, udah makan? Udah. Semalem tidur jam berapa? Jam setengah sebelas. Bangunnya? Jam tiga, laper doang, makan biskuit terus tidur lagi bangun jam setengah enam. Lagi mens? Belum. Abis minum obat ga? Iya waktu hari Rabu minum Diatabs, akika menci-menci cyiinn... Terus sekarang gimana? Udah gapapa, udah normal. Terakhir minum obat kapan? Rabu siang. Gapapa minum obat hari Rabu mah, yang penting sejak Jumat udah ga minum.

Lolos ke meja kedua! Diana juga. Di meja kedua ini aku cek golongan darah dulu. Golongan darahku O positif, golongan darah yang paling banyak ditemukan. Sedangkan Diana AB positif, paling langka di antara golongan darah yang lain, jadi dia termasuk kaum minoritas yang sangat dibutuhkan. Setelah cek golongan darah, kamu diberikan kantong dan menuju ruang pengambilan darah. Deg deg deg deg!! Hiks, darah gue bakal diambil segini (450 cc) banyak bener yak, huhu…

Aku sebelahan sama Diana. Kami saling menguatkan (lebay). Ibuuu…jarumnya gede banget, hiks… cuss! Terasa digigit semut sebentar, dan darah pun mulai mengalir mengisi kantong. Satu menit, lima menit, sepuluh menit, aku baik-baik aja, malah cerewet banget nanyain segala macem ke petugas PMI yang menangani aku dan Diana. Insting jurnalis, hehe. Nah, lewat sepuluh menit ketika kantong darah sudah mau penuh, aku mulai merasa engap. Keringet dingin. Jarum pun mulai dicopot. Diana selesai lebih dulu daripada aku, kayanya darah dia mengalir deres banget yak.

Ibu petugas PMI bilang, “Kamu pusing ya dek? Pucat banget, kelihatan,” aku pun diminta istirahat sebentar, ga boleh bangun dulu, dengan posisi kaki lebih tinggi dari kepala. Lalu panitia mengantarkan teh manis buatku, yang semakin menambah rasa eneg. Mungkin lebih baik kalo dianterin teh tawar atau yang asem-asem gitu kali ya.

Beberapa menit kemudian, aku merasa baikan. Akhirnya aku diperbolehkan keluar, sambil si ibu berpesan, “Atur nafas ya, segera cari udara segar ke luar.” Kukira aku udah gapapa, ternyata setelah berdiri dan jalan, rasa pusing dan mual itu muncul lagi. Sambil mengambil kartu donor, aku bilang sama panitia aku pusing. Terus aku dikasih kotak makanan dan minuman bervitamin. Aku sempoyongan keluar gedung, dan akhirnyaaa… makan siangku tadi keluar semua. Parah banget.

Beberapa petugas langsung membopongku ke dalam ruangan lagi, dan mengambilkan sebuah kursi khusus buatku. Aku lagi-lagi diminta istirahat dengan posisi kaki lebih tinggi dari kepala. dan pada saat itu gue ditempatin deket pintu keluar, di antara antrian para calon pendonor. Boo, plis ya, gue pasti membuat mereka jiper. Apalagi nggak lama setelah gue, ada cowok yang jatuh pingsan. Pasti mereka semakin jiper, haha…

Boro-boro malu dipajang gitu, aku udah nggak bisa ngomong, nggak bisa mikir. Ditemenin Anbel, aku cuma bisa konsen atur nafas, jangan sampai aku pusing dan muntah lagi. Sekitar 15 menit, setelah keringetan, baru aku boleh berdiri dan jalan pelan-pelan keluar. Petugas PMI-nya berpesan, “Nggak apa-apa kok, mual pusing itu biasa, apalagi buat yang pertama kali. Jangan kapok ya donor darah…” Iya, insya Alloh ga kapok kok 

Aku harus segera dapat udara segar. Di luar, aku makan dan minum, tapi baru sedikit, udah eneg lagi. Langsung ilang nafsu makanku seharian itu. bahkan sampai malam, masih pusing dan mual. Kok agak lebay ya…

Aku baru merasa baikan waktu aku bangun tidur jam 3, badanku keringetan kayak abis nguli. Aku coba berdiri, jalan sedikit, dan ternyata emang udah gak pusing sama sekali. Wah, syukurlah. Soalnya semalem solat isya pun masih mual dan pusing.

Begitulah pengalaman pertamaku mendonorkan darah. Rada ngga enak memang pengalamannya, tapi insya Alloh aku ga akan kapok! Lagipula sebetulnya lebih banyak sisi positif daripada sisi negatif dengan jadi pendonor. Kita bisa menolong orang yang membutuhkan. Ini bentuk sedekah paling mudah, karena toh kita semua kan punya darah untuk didonorkan. Lalu sirkulasi darah dalam tubuh juga bisa lebih lancar, dan akan ada darah baru yang akan segera menggantikan 450 cc yang kita donorkan tadi. Pasti jadi lebih sehat! Terus kita bisa cek kesehatan gratis, dan dapet makanan gratis, hehehe…

Paling cepat 3 bulan lagi aku baru bisa donor. Pelajaran aja sih, berarti besok-besok sebelum donor, harus lebih fit dan makan lebih banyak! Hehehe…

*

*aku yg pucat pasi dan Diana yg tetap segar bugar

Jumat, 14 Oktober 2011

Tulisan Tangan

Teknologi memang diciptakan untuk memudahkan pekerjaan manusia. Namun tetap saja, dalam hubungan interaksi antar manusia, banyak hal yang tak bisa tergantikan, bahkan oleh teknologi paling modern sekalipun.

Contohnya, meski saat ini berkomunikasi semakin mudah menggunakan berbagai perangkat seperti telepon, SMS, chat, instant messenger, bahkan video chatting, tetap saja, semua tak bisa menggantikan peran komunikasi tetap muka. Meski sekarang kau bisa punya ribuan teman maya di facebook atau jutaan followers di twitter, tetap tak ada yang akan bisa menggantikan sepuluh sahabatmu.

Dan meski sekarang sudah ada berbagai perangkat teknologi untuk mengirim pesan singkat, mengetik lebih cepat, serta berbagai font tipografi, buat saya, tetap tak ada yang bisa menggantikan tulisan tangan.

Ya, tulisan tangan.

Hampir setiap hari orang menulis dengan tangan. Dan tulisan tangan itu seperti sidik jari, tak ada tulisan orang yang sama persis. Bahkan kita bisa membaca karakter dan sifat seseorang dari tulisan tangan, bahkan perasaannya ketika itu!

Tulisan tangan sebenarnya adalah tulisan dari otak manusia yang merupakan gambaran kepribadian setiap individu. Pikiran manusia secara sadar menentukan apa yang Anda tulis dan alam bawah sadar mengontrol bagaimana cara kita menulis. Jadi, analisa tulisan tangan adalah studi tentang tulisan tangan seseorang untuk menilai karakter kepribadian seseorang.

Otak manusia seperti sebuah komputer, yang mengontrol apa yang kita lakukan, apa yang kita rasakan/inginkan dan apa yang menjadi kebiasaan kita dan tangan yang kita miliki adalah seperti sebuah keyboard pada komputer yang hanya merupakan ”alat” untuk menuliskan apa yang diperintahkan oleh otak kita.

Semua orang memiliki kekhasan goresan tangannya masing-masing. Dan aku membuktikan, bahkan setelah bertahun-tahun kemudian, kau masih akan bisa mengenali tulisan tangan kawanmu, dengan goresan khas mereka.

Disadari atau tidak, tulisan tangan temen-temen SD/SMP/SMA bisa begitu melekat dalam memori kita. Saat-saat dulu saling mencontek PR kawan, menyalin catatan dari buku kawan, menulis biodata dan kesan di agenda, atau bahkan surat-surat cinta dari pacarmu semasa sekolah. Coba deh, kau masih ingat tidak, tulisan tangan kawan-kawanmu?

Beberapa waktu yang lalu aku berkesempatan ketemu dengan sahabat-sahabatku semasa sekolah menengah. Wah, senang sekali rasanya, terutama dengan mereka yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu.

Di saat temen-temen sibuk jeprat-jepret pake kamera, aku iseng mengeluarkan buku dan pulpen. Lalu kuminta mereka satu per satu menuliskan tulisan tangan mereka di bukuku. Ada yang ngaku-ngaku “Tulisan gue udah berubah Ken, rada bagus tulisan gue sekarang mah!” tapi pas nulis, doeeenggg…!!! Tetep aja kayak sandi rumput, hahaha (Riyan Suhendra, peace ^.^V)









Adalah sebuah ilmu bernama "grafologi", yang dengannya kita dapat menganalisis makna dari tulisan tangan. Bukan hanya kepribadian, namun juga karakter dan kecenderungan perilaku seseorang. Ini ilmu tua, lho. Buku pertama tentang grafologi ditulis oleh Camillo Baldi, seorang dokter asal Itali pada tahun 1622. Tahun 1872, Jean Michon menerbitkan bukunya yang menjadi buku pokok grafologi pada saat itu. Tak lama kemudian, universitas-universitas di Eropa mulai memberi gelar Ph.D. atau Master di bidang ini.

Dalam grafologi, yang dinilai atau dilihat bukan apa yang tertulis (pikiran sadar) namun arti dari setiap lengkungan, titik, garis tekanan, ukuran, konsistensi dan lainnya (pikiran bawah sadar). Karena setiap manusia merupakan makhluk yang otentik, maka dalam Graphologhy setiap tulisan bahkan coretan tangan adalah sebuah informasi berharga yang mampu menguak apa yang ada dalam pikiran bawah sadar seseorang. Ia merupakan metode yang mengukur spontanitas seseorang dan komunikasi non verbal yang berasal dari dalam diri seseorang.

Nah, kalo tulisannya mirip sandi rumput, berarti dia suka makan rumput. Kalo tulisannya bulet-bulet, kemungkinan orangnya juga bulet. Kalo tulisannya tebal dan ditekan, berarti ia punya energi yang cukup besar saat menulis, entah marah atau amat percaya diri. Sedangkan karena tulisanku imut-imut, tak bisa terbantah lagi bahwa memang seimut itulah orangnya. *skip

Begitulah, aku suka mendokumentasikan tulisan tangan teman-temanku. Tulisan tangan, tetap punya sentuhan personal, yang tak bisa digantikan oleh perangkat-perangkat digital.

Sering aku merindukan masa-masa dahulu, saat penggunaan ponsel dan internet belum sepopuler saat ini. Ah, kau tau kan, waktu kita masih SD, lalu majalah Bobo jadi bacaan favorit kita. Di rubrik “Apa Kabar Bo?” kita saling berkirim surat ke Bobo si Kelinci Biru, lalu kita juga melihat alamat sahabat Bobo lain yang suratnya dimuat di rubrik itu. Kemudian kita mengirimkan surat kepada mereka, dan jadilah SAHABAT PENA! Ah yaa… sudah berapa lama aku tak mendengar kata itu: sahabat pena. Padahal saat itu berkirim surat adalah salah satu hobiku, dan filateli (koleksi perangko) masih jadi hobi yang populer.

Ingatkah kau kawan?

Aku juga teringat dahulu saat menjelang lebaran sibuk berkirim kartu lebaran, sambil menunggu-nunggu datangnya kartu lebaran dari sahabat-sahabatku. Seru banget kayaknya. Sejak H-7 lebaran, Pak Pos sudah bolak-balik datang ke rumah, dan aku bukan main senangnya, menerima semua kartu lebaran dari sahabat-sahabatku. Kartu lebarannya lucu-lucu, plus pesan-pesan lucu juga, yang ditulis dengan tangan, tentu saja.

Saat ini, tak ada lagi kartu ucapan menjelang lebaran. Yang ada hanyalah traffic yang padat di SMS. Semua mengucapkan selamat lebaran lewat SMS hasil forward. Tak ada lagi sentuhan personal itu. Apalagi kalo di BBM, mungkin ucapan lebaran itu disebarkan via broadcast di BBM grup. Ah…gak seru.

Saya emang termasuk orang yang ketinggalan kalo soal gadget/perangkat komunikasi saat ini. Saat orang-orang pake BB, saya sebisa mungkin menghindarinya. Saat orang-orang beli komputer tablet, saya coba bertahan sama si Acer yang batrenya bahkan udah DIE dalam 5 menit ini.

Beberapa waktu yang lalu saya datang ke seminar tentang New Media, pastinya yang datang ke sana adalah anak muda digital native semua. Saat seminar berlangsung, semua pada pegang iPad. Oh sekarang tuh nyatet seminar udah pake iPad juga ya. Saya nyoba sih, dan gak nyaman. Saya lebih suka buku catatan saya.

Saya mulai punya buku harian sejak kelas 3 SD. Kalo dikumpulin, mungkin udah ada satu dus buku harian saya. Sampe sekarang pun saya masih setia sama yang namanya buku harian, di mana saya bebas menulis, menggambar, bikin kalender to do list, nyatet utang + pengeluaran, nyoret-nyoret, bikin bunga-bunga dan matahari di atas tulisan saya… trus diwarnain pake spidol…ditempel-tempelin foto, bunga edelweiss, bahkan kecupan lipstick.. hal-hal seperti itu yang buat saya nggak akan bisa digantikan dengan perangkat teknologi secanggih apapun.



Kalo lagi iseng baca-baca buku harian dari jaman dahulu kala, seru. Bisa kelihatan dari tulisan tangan saat saya berbunga-bunga, lagi emosi jiwa, lagi galau… saya juga bisa lihat perubahan sikap dan kedewasaan saya di buku harian… betapa semakin tahun semakin jarang terlihat tulisan gede-gede, coret-coret penuh kemarahan, hehe… saya semakin stabil.

Yah, begitulah saya mengenang masa-masa dahulu, saat teknologi belum menggantikan sentuhan-sentuhan personal dalam buku harian, surat, dan tulisan tangan. Saya merindukannya.

Rabu, 17 Agustus 2011

INDONESIA: Places I Should See Before I Die (Part 2)

Dirgahayu Indonesiaku!

Siapapun tahu, Indonesia adalah negara yang luar biasa indah. Pesonanya tiada dua di dunia ini. Mulai dari keramahan masyarakatnya, kekayaan budayanya, dan tentu saja, eksotisme alamnya!

Sungguh, budaya dan alam Indonesia tak akan pernah habis dibahas. Banyaaaaakk sekali tempat indah di Indonesia yang pengeeeeeeennn banget saya datengin. Sampai saya bikin daftarnya di buku harian saya: INDONESIA: Places I Should See Before I Die. Banyak banget. Berikut lanjutannya.

1. Nusa Tenggara
Kepulauan yang terletak di Indonesia bagian tengah ini begitu eksotis, menyimpan kekayaan alam dan budaya yang unik, berbeda dari daerah lain. Begitu banyak tempat yang ingin saya kunjungi dari kepulauan ini. Di antaranya adalah, Danau Kelimutu,


pantai berbatu hijau-biru di Ende,


terus pengen lihat kuda-kuda Sumbawa berlarian di savana,


pengen lihat orang main Sasando,


dan tentu saja, Pulau Komodo.



2. Gunung Rinjani



Masih di Indonesia bagian tengah, aku pengeeeen sekali mendaki gunung Rinjani, gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia. Katanya, pemandangan gunung Rinjani ini kalo diibaratkan hotel tuh, bintang lima! Alias indah banget! Ehem,, lagian ada yang udah janji mau ajak aku ke sini ^^

3. Sulawesi Utara
Banyak tempat yang pernah saya kunjungi di sini, beberapa tahun yang lalu. Di antaranya, Danau Tondano, danau cantik berbentuk gitar. Lalu Bukit Kasih, Makam Imam Bonjol, serta tentu saja Taman Laut Bunaken. Kapal saya pernah mogok di tengah laut pas lagi on the way dari Manado ke Bunaken. Lagi ketakutan di tengah laut, ehh ada segerombolan lumba-lumba yang berenang dekat kami, seolah menghibur. Pengalaman itu tak terlupakan. Jadi meskipun saya sudah pernah ke Sulawesi Utara, saya pengen bisa ke sana lagi!

4. Palangkaraya

Saya pengen ke Pulau Borneo, lalu menelusuri Sungai Kapuas yang terkenal itu. Kemudian saya juga ingiiiinnn sekali melihat orangutan, si primata terlucu sedunia itu, di habitat aslinya. Saya pengen ekoturisme di Borneo Orangutan Survivor, Palangkaraya.



Last but no least, saya pengen banget menjelajah Maluku dan Papua. Begitu banyak eksotisme alam dan budayanya yang masih tersimpan bagai misteri. Justru dua daerah inilah yang paling bikin penasaran. Banyak yang pengen dilihat di sana selain keindahan alamnya. Saya juga ingin melihat bagaimana kehidupan masyarakat di sana, apakah dengan alam yang begitu kaya mereka sudah hidup dengan sepantasnya? Atau mereka cenderung dilupakan oleh pemerintah pusat di Jawa? Ya, saya ingin melihat saudara-saudara di Indonesia Timur sana, dan memastikan bahwa mereka baik-baik saja.

Sungguh, saya terobsesi banget pengen mengelilingi negeri ini. Kalau ada tawaran, mau trip Eropa apa ke trip Nusa Tenggara? Jelas saya pilih Nusa Tenggara. Trip ke China atau ke Maluku? Jelas saya pilih Maluku. Pokoknya I love I love Indonesia...!!

Terserah mau kayak apa kelakuan para pejabatnya, Indonesia di mata saya tetaplah sebuah negara indah, yang patut saya syukuri. Indonesia bukan negara gagal, bukan bangsa yang ambrol! Tak ada alasan bagi saya untuk menghujat Indonesia, karena satu-satunya yang membuatnya terpuruk adalah masalah manajemen. Negeri nan penuh pesona ini, kerap jatuh ke tangan yang salah.

kulihat ibu pertiwi
sedang bersusah hati
air matanya berlinang
mas intan yang terkenang

hutan gunung sawah lautan
simpanan kekayaan
kini ibu sedang lara
merintih dan berdoa

oh ibu, ibu pertiwi
kami datang berbakti
lihatlah putra-putrimu
menggembirakan ibu

ibu kami tetap cinta
putramu yang setia
menjaga harta pusaka
demi nusa dan bangsa


Dirgahayu, Ibu Pertiwi-ku nan jelita. Masih banyak putra-putrimu yang cinta Bunda.

Selasa, 19 Juli 2011

INDONESIA: Places I Should See Before I Die (Part 1)

1. Ngarai Sianok, Sumatera Barat


NGARAI SIANOK, lembah curam yang terletak di perbatasan Bukittinggi dengan Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Jurang ini dalamnya sekitar 100 m membentang sepanjang 15 km dengan lebar sekitar 200 m dan merupakan bagian dari patahan yang memisahkan Pulau Sumatera menjadi dua bagian memanjang (Patahan Semangko). Patahan ini membentuk dinding curam, dan membentuk lembah hijau yang dialiri Batang Sianok yang airnya jernih.

Pertama kali aku lihat foto Ngarai Sianok di kalender. Waaahhh… aku bener-bener melongo waktu memandangi fotonya, dan membayangkan betapa kecilnya aku jika berada di bawah tebing-tebing batu itu. Ngarai Sianok ini sebetulnya patahan, mirip-mirip lah dengan patahan Lembang di Jawa Barat, tapi menurutku ngarai ini pemandangannya lebih W.O.W!

2. Pantai-pantai di Bangka Belitung


Kepulauan BANGKA–BELITUNG, sebuah provinsi muda yang dulunya menjadi bagian dari Sumatra Selatan. Kepulauan Babel dipisahkan oleh Selat Bangka dari Pulau Sumatra, dan Selat Karimata, yang memisahkannya dengan Pulau Kalimantan. Provinsi Babel yang beribukota di Pangkal Pinang ini merupakan penghasil timah terbesar di Indonesia.

Aku pertama kali baca tentang Babel di majalah Bobo, aku langsung jatuh cinta dengan panorama pantainya yang khas, pasir putih, air sebening kaca, dan tentu saja, batu-batu putih besar yang menghampar di pantai. Apalagi setelah nonton film Laskar Pelangi, widiwww… semakin mupeng saja melihat pantai-pantai di Bangka. Apa daya, belum tercapai…


3. Jembatan Ampera, Sumatera Selatan


Ide untuk menyatukan dua daratan di Kota Palembang ”Seberang Ulu dan Seberang Ilir” dengan jembatan, sebetulnya sudah ada sejak zaman Gemeente Palembang, tahun 1906. Namun pembangunan jembatan ini baru terlaksana pada April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana rampasan perang Jepang.

Awalnya, jembatan ini dinamai Jembatan Bung Karno sebagai bentuk penghargaan kepada Bung Karno, yang telah mewujudkan keinginan warga Palembang untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi. Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada 1965, saat itu jembatan ini adalah yang terpanjang di Asia tenggara. Setelah terjadi pergolakan politik pada 1966, gerakan anti-Soekarno menguat, maka nama jembatan itu diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).

Aku punya banyak kawan orang Sumsel, dan aku selalu penasaran setiap mereka cerita tentang Sungai Musi dan Jembatan Ampera. Terutama tentang cantiknya jembatan Ampera di malam hari. Selain itu, ke Sumsel aku juga punya misi lain, yaitu wisata kuliner! Ahaha… Sejak dulu aku memang penggemar makanan-makanan dari sini, mulai dari krupuk kemplang-nya, trus pempek, tekwan, pindang ikan belido, dannnn… sang juara: TEMPOYA!


4. Situ Gunung, Jawa Barat



SITU GUNUNG, sebuah danau di kaki Gunung Pangrango. Kesan pertama adalah ketika ikut kelas fotografi sama Arbain Rambey, dia nunjukin salah satu jepretannya yang membuat kami semua, waktu itu bertanya, “Waaahhh…itu di mana Bang?”

Dan ternyata, lukisan nirwana itu adalah Situ Gunung, Sukabumi. Danau tenang nan jernih dikelilingi bukit hijau, dengan sinar matahari keemasan yang memantul di permukaan air dan membentuk siluet perbukitan, luar biasa indah. Kayaknya pengen banget camping di tepi danaunya yang dingin dan tenang. Pagi-pagi, minum coklat panas sambil baca buku. Apalagi kalau dengan orang yang kita sayang, wah persis adegan Meg Ryan & Nic Cage di “City of Angels”…

5. Green Canyon, Jawa Barat


GREEN CANYON, nama aslinya adalah Cukang Taneuh. Sebuah panorama alam yang unik dan sangat indah, sungai jernih yang mengalir di antara ngarai hijau. Letaknya di selatan Jawa Barat, antara Batu Hiu dengan Batu Karas.

Dua tahun lalu aku melihat-lihat kamera digital seorang kawan yang baru pulang dari Pangandaran, dan ternyata ia juga mampir ke Green Canyon. Aku lihat foto-foto dan videonya, wow…subhanallah banget tempat itu. Air sungainya jernih kehijauan, di kanan kiri tebing-tebing hijau, yang meneteskan air dari atas. Bener-bener hijau, pertama kali yang kupikirkan saat melihat foto dan video Green Canyon adalah, ini sungguh sebuah replika surga. Pasti di surga ada tempat kayak gini.

Belum lama ini aku ke Batu Karas, sudah lewat sungai yang jernih kehijauan itu, tapi sayang seribu sayang nggak bisa mampir. Maklumlah, rombongan. Lain waktu aku mau ke Pangandaran lagi, tapi kayaknya naik pesawat aja deh. Naik bus, gak gak gak kuat >.<

6. Lawang Sewu, Jawa Tengah


LAWANG SEWU, sebuah gedung tua di Semarang, Jawa Tengah yang dibangun pada 1903 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda Semarang yang dahulu disebut Wilhelmina Plein. Pada masa perjuangan, gedung ini menjadi saksi atas peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober-19 Oktober 1945). Di sini terjadi pertempuran hebat antara pemuda Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang.

Bangunan ini sekarang dianggap angker, bahkan dijadikan lokasi syuting film horor dan uji nyali. Aku penasaran banget sama Lawang Sewu. Sekeren ini, masa iya sekarang dibiarkan kosong, tak terpakai dan kurang terawat? Padahal katanya Lawang Sewu inilah yang membuat Kota Lama Semarang semakin eksotis.


7. Ranu Kumbolo



RANU KUMBOLO, sebuah danau indah di ketinggian Gunung Semeru. Pertama kali kudengar kata Ranu Kumbolo adalah dari lagunya Dewa 19, Mahameru. Lalu aku baca buku “5 CM” di mana Ranu Kumbolo digambarkan seperti danau dan lembah hijau yang ada di film Jurassic Park. Siapa yang nggak mupeng coba? Aku sangat ingin naik Mahameru, tapi paling tidak jika aku nggak bisa mencapai puncak, aku ingin bisa seharian di Ranu Kumbolo.


*** bersambung

Senin, 18 Juli 2011

Lollipop Clutch, My HANDMADE...!

Aku baru aja menyelesaikan sebuah rajutan, kali ini bukan syal atau topi, melainkan sebuah dompet atau CLUTCH...!



Cantiknyaaa ♥♥♥

Aku menyebutnya Lollipop clutch, karena warna benangnya itu ngingetin sama lollipop, si permen warna-warni, aaaa lucu deh pokoknya! Ukurannya lumayan besar, karena awalnya pengen bikin laptop case, tapi apa daya benangnya kurang >.< trus aku males beli lagi (belinya jauh euy di gerlong, soalnya di sana lucu-lucu dan murah)



Dari luar sih kelihatan baik-baik aja ya clutch ini, tapiiiiii jangan coba-coba lihat dalemnya! Ahahahaha... parah banget asli! Terutama di bagian retsleting, alamak... trus masang dalemannya juga kujahit pake tangan aja, trus nggak tau lah gimana caranya yang penting nempel! \m/

Dalemannya pakai kain pelangi juga, keren deh pokoknya colorful!



Eits, udah udah jangan diliatin detailnya gitu dong, gak usah merhatiin jaitannya deh, hihi. Ini tadi pagi aku diajarin Mbah buat ngejahitnya, Mbahku sampai mumet dan nyerah, "Yo opo nak, jaitanmu iku... koyok aku biyen. Wis gak popo lah." :p

Well, sekarang aku punya tempat bagus untuk kosmetikkuuuuuu... asiiiikk...




Nb: Aku juga pernah bikin syal dari benang lollipop ini, emang lucu banget dia warna-warninya. Ini syal bikinanku, dipake si Panda, hehehe



♥♥♥

Minggu, 17 Juli 2011

P.M.S

Sebentar, ini tanggal berapa? Udah menjelang tanggal 20 ya?

Huh, pantas saja aku nge-galau. Sudah 3 hari terakhir ini kepala migrain, perut melilit, pegal-pegal, jerawat kecil-kecil, aaagghh... This is my PMS!

Apa? PMS?

Seperti kita ketahui, perempuan memang berbeda dari kaum pria. Mereka memiliki siklus-siklus tertentu dalam hidupnya, bahkan dalam setiap bulannya. Siklus-siklus yang pada umumnya diakibatkan oleh perubahan hormonal dalam tubuh seorang perempuan.

Nah, PMS atau pre-menstruation syndrome adalah gejala-gejala khas yang (katanya) lumrah dialami para perempuan menjelang "tanggal merah"-nya. Seringkali, di tanggal-tanggal ini (katanya) perempuan jadi sangat sensitif. Dikit-dikit marah, dikit-dikit nangis, dikit-dikit ngambek. Senggol-bacok, gitu istilah seremnya. Sehingga seringkali para perempuan mencoba untuk meminta orang-orang di sekitarnya untuk memahami gejolak emosionalnya, "Ei, gue lagi PMS nih! Jangan macem-macem ya!" atau, "Haduh...sori sori gue lagi PMS nih, jd meledak-ledak gitu..."

Tapi, benarkah demikian? Atau itu hanya pembelaan diri saja atas kesalahan mereka?

Justru itulah yang ingin saya bagi, khususnya kepada sista-sista semua. Apakah kamu juga mengalami gangguan-gangguan tertentu menjelang "tanggal merah"-mu?

Kalau aku, awalnya memang tidak begitu percaya hubungan antara siklus menstruasi dengan gejala-gejala tertentu, terlebih gejala yang bersifat mental atau emosional. Aku juga nggak mau dikatakan nyari-nyari alasan agar orang lain memaklumi diriku yang (lagi) nyebelin.

Tapi aku penasaran juga, mengingat bahwa memang hampir setiap bulan aku merasakan gejala-gejala yang nggak enak di badan. Dan biasanya, seminggu setelah aku uring-uringan nggak enak badan gitu, aku haid. Jadi aku memutuskan untuk mulai rajin membuat kalender pribadi di buku catatanku. Aku tandai setiap tanggal dengan simbol-simbol tertentu, plus catatan kecil di bawahnya. Tanggal sekian aku migrain, tanggal sekian aku sakit perut sampe 3 hari, tanggal sekian mulai nongol jerawat, tanggal sekian aku mulai males ngapa-ngapain, tanggal sekian aku haid, dan tanggal sekian haidku selesai.



Setelah tiga bulan berlalu, aku review lagi kalender-kalender itu, dan... bener juga sih, semua gejala nggak mengenakkan itu datang hampir selalu tepat waktu setiap bulannya. Dan gejalanya juga itu-itu aja. Oke, aku paham, berarti memang pre-menstruation syndrome itu menimbulkan gejala fisik demikian di dalam tubuhku.

Nah, bagaimana dengan gejala emosional? Justru inilah yang paling ingin kuketahui. Oke, aku kembali rajin merunut kejadian-kejadian tertentu dalam kalender pribadiku, dan... jeng jeng! Aku nggak tau kenapa, tapi iya bener! Antara 7-10 hari menjelang "tanggal merah" selalu ada catatan seperti ini: #dimarahin ibu, #ngomel-ngomel ke orang, #berantem sama niko, #manja sampe bikin gondok, #bikin kacau rapat, #nangis, #minum obat nyamuk (astajim! gak deng, becanda haha!). Intinya adalah, ada tanggal-tanggal di mana aku sangat galau, sensi, dan nyebelin buat orang lain. Dan tanggal itu ada di dalam siklus yang sama.

Dugaan awal atas kelabilan emosi atau gejala psikis PMS adalah disebabkan oleh perasaan tidak nyaman di dalam diri, yang masih terkait dengan gejala-gejala fisik. Misalnya, gejala fisik seperti migrain, sakit perut bagian bawah (rahim), gangguan pencernaan, nyeri di bawah ketiak, plus dtgnya segerombolan jerawat tak diundang adalah saaangaaaaaaattttt menyebalkan buat cewek! Sumpah! Dan percaya atau tidak, semua gejala itu bisa datang BERSAMAAN!!!! *hosh,,hosh,, (Sabar Ken, sabar...(>.<) Maaf, curhat nih ==> sedang mengalami*.

Kan, semua itu tak pelak membuat kau jadi males ngapa-ngapain, males ngomong, males ngaca, males ketemu orang, maunya bergelung di tempat tidur. Apalagi jika semua gejala itu datang hampir bersamaan, ya ampun, pasti cowok-cowok ngga kebayang ya? Sumpah bro, itu ngga enak banget rasanya. Bawaannya pengen marah-marah geje. Jadi ya, mungkin sedikit banyak itu berpengaruh ke mood.

Dulu aku pernah membaca buku "Why Men Don't Listen & Women Can't Read Maps" (sekarang dmn ya bukunya, lupa) Itu salah satu literatur yang bisa menjelaskan kepadamu tentang perbedaan pria dan wanita, secara hormonal dan cara kerja otak yang berimplikasi kepada perbedaan sifat-sifat umum mereka. Allan & Barbara Pease menjelaskannya berdasarkan penelitian, jadi itu uraian ilmiah.

Seperti kita ketahui, hormon yang sangat berperan pada tubuh wanita adalah estrogen dan progesteron. Kedua hormon ini yang membuat payudara membesar dan suara menjadi lebih tinggi. Sedangkan pada pria, hormon yang mendominasi adalah testosteron, yang menyebabkan pria memiliki suara berat dan tubuh lebih berotot. Hormon yang dimiliki wanita juga dimiliki oleh pria, begitupun sebaliknya. Hanya rasio jumlah hormon-nya yang sangat berbeda.

Secara biologis, siklus perubahan hormonal pada wanita juga diikuti perubahan psikologis pada wanita. Maka, kemudian ada istilah PMS (pre-menstrual syndrome) yang ditandai dengan ketidakstabilan emosi. Wanita pun dianggap main 'perasaan' atau lebih sensitif.

Pre-menstruation syndrome atau PMS adalah hal yang lumrah terjadi pada perempuan. Itu adalah sebuah fakta ilmiah. Seperti apapun gejalanya, yang jelas kebanyakan bukanlah hal enak. Berikut info yang kudapat dari sebuah situs kesehatan.

Terdapat kurang lebih 200 gejala yang dihubungkan dengan PMS, namun gejala yang paling sering ditemukan adalah iritabilitas (mudah tersinggung) dan disforia (perasaan sedih). Gejala mulai dirasakan 7-10 hari menjelang menstruasi berupa gejala fisik maupun psikis yang mengganggu aktivitas sehari-hari dan biasanya menghilang setelah menstruasi.

#Fisik
-Kelemahan umum (lekas letih, pegal, linu) *di gue, yap!
-Acne (jerawat) plus muka berminyak *iya banget
-Nyeri pada kepala, punggung, perut *semuanya, IYA!
-Nyeri pada payudara ***** (sampe 5 bintangnya)
-Gangguan saluran cerna misalnya rasa penuh/kembung, konstipasi, diare *bener bgt
-Perubahan nafsu makan, sering merasa lapar (food cravings) *di gue, enggak. malah ga napsu makan


#Mental
-Mood menjadi labil (mood swings), iritabilitas (mudah tersinggung), depresi, ansietas
-Gangguan konsentrasi
-Insomnia (sulit tidur)

klo aku tambah 2 poin lagi:
-Jadi sangat tidak logis dan cenderung "nggak mau ngerti"
-mencari media katarisasi dengan berbelanja ***gawat

Hmm... setelah baru saja aku mengamati kalender pribadiku dan merunut gejala-gejala fisik maupun psikis yang datang di periodik tertentu, sepertinya memang aku (juga orang-orang di sekitarku) harus mewaspadai gejala ini. Antisipasi sebelum, juga ketika ia datang. Aku tidak ingin berapologi atas perilaku-perilaku nyebelin yang kebetulan kubuat selama periode itu. Sebagai perempuan aku ingin berbagi saja, mudah-mudahan kita semua bisa semakin memahami diri sendiri. Aku sendiri, setelah memahami kalender dan siklus pribadi-ku, ingin belajar untuk bisa menguasai diri. Bagaimana denganmu, sista? Kau juga mengalami PMS yang nyebelin seperti aku? Sharing dong!