Rabu, 29 Maret 2017

Ambruk Akibat Double Combo (Demam Berdarah + Tifoid)

Sepeninggal Mbah, acara pengajian digelar 7 malam berturut-turut di rumahku. Mbahku sosok yang sangat well-loved dan well-respected di keluarga dan lingkungan kami, sehingga berbagai jenis bahan makanan, sumbangan uang, dan cenderamata subhanallah walhamdulillah tiada henti mengalir. Kami membungkusnya penuh suka cita dan membagi-bagikan ke tetangga.

Paginya, tentu saja pekerjaanku menumpuk. Juga sisa makanan, yang seringkali membuatku tak harus memasak. Apalah, aku santap saja. Sayang.

Pengajian berlanjut setiap malam Jumat, terus hingga 40 harinya kelak. Banyak sekali yang ingin mendoakan Mbah.

Ali senang banyak teman, sepupunya kecil-kecil. Sore ia pasti main, lari-larian, becanda ketawa-ketiwi. Makannya banyak, karena memang banyak makanan, comot-comot. Jam 8 malam, ia sudah ngantuk. Tidur dengan mudahnya.

Dulu ia biasa tidur jam segitu sampe pagi. Tapi ternyata sekarang dia sudah gede. Tidur jam 8, jam stgh 2 pagi bangun. Laper, minta makan. Minta gendong keluar. Atuh gelap nak. Akhirnya baca buku di ruang tamu sambil nonton Chef Gordon. Main masak-masakan. Main balok. Main mobil-mobilan. Lalu nyuruh aku berdiri ajak lompat-lompat dan main bola. Gitu aja terus.

Duh, badan rentek rasanya.

Ali baru tidur jam 5. Sedangkan jam segitulah aktivitasku dimulai.

Mulai pagi itu, Selasa (21/3) pasca begadang dengan Ali, aku meriang. Demam tinggi 38,7 dan nggak turun2. Semua otot dan persendian sakit, ngilu, mual luar biasa. Air putih aja nggak sanggup, aneh rasanya. Teh manis juga jd aneh. Makan cuma sanggup dua sendok, enegnya 2 jam. Kupantau suhuku di kisaran 38-39++ mungkin sampai 40 ketika itu aku udah gak sanggup ngukur, karena kalau panas tinggi banget aku udah nggak bisa buka mata, ngigo-ngigo mimpi buruk.

Rabu, aku gak ngerasa membaik. Mungkin, bisa jadi, ini adalah siklus tipes dua tahunanku, tapi aku paham betul, tipes nggak sesakit ini. Tipes biasanya lemes aja sama sakit perut, demam tinggi malam aja. Ini engga. Ditambah kuping dan hidungku yg sakit kalau demam tinggi.

Kamis malam aku menyerah. Sudah sedikit sekali yg bisa masuk ke tubuhku dan aku sgt lemas. Aku dibawa ke IGD, cek darah. Diagnosis dokter, dengue fever, tapi trombosit masih >140.000. Yang langsung ketauan melalui tes widal adalah bakteri tipesnya.

Dokter fokus mengobati tipesku yang setelah cek darah, urin, dll, memang terbukti positif tipes tipe 6. Panasku tetap tinggi. Masih 38-39. Tidak pernah kurang.

Sampai Sabtu pukul 3 dini hari, aku terbangun karena untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, aku merasa tidak demam. Aku mengukur suhu dengan termometer yang kubawa sendiri dari rumah. 34,5 derajat celcius. What??! Masa iya anjlok banget. Memang sih aku merasa dingin dan lemas walau demamku turun. Aku turun dr tempat tidur, duduk di kursi penunggu pasien (kalau malam aku memang sendirian, karena orang rumah bergantian begadang gendong Ali). Aku bersiap ke kamar mandi, mau pipis dan ganti pembalut (yapp... Udah mah lemes dirawat, pas kena haid banyak, makin lemes). Tiba-tiba... Darah menetes dari hidungku. Aku mimisan. Aku membersihkan kotoran hidungku yang mengering, dan semuanya berwarna merah tua. Berarti  darah yang sudah kering pun cukup banyak.

Aku langsung pencet bel dan laporan sama suster. Bahwa aku tidak pernah mimisan seperti ini, dan aku perlu tau apakah ada kaitannya dengan penyakit lain (bukan tipes).

Jam 5 darahku diambil untuk cek lab, jam stgh 7 dokter visit dan bilang, trmbositku 49.000. Aku positif tipes 6, tapi sekarang demam berdarahnya yang lebih kuat. Dokter memperlihatkan pola bercak merah yang jelas di telapak tanganku. Di situ doang, lain2nya gak kentara karena kulitku mah kan sawo matang :D

Udah langsung diganti tuh infusannya. Aku jg minum banyak sari kurma. Sambil ttp dikasih antibiotik utk tipesnya tiap sore. Aku msh lemes, tapi feel better.

Besok paginya, cek darah lagi. Trombosit 41.000. Gak ada demam lagi cuma tekanan darah msh mandek di 80/60 jd msh keliyengan. Kata dokter, minimal trmbosit 100.000 deh br saya pertimbangkan utk km pulang.

Selasa pagi cek darah lagi, alhamdulillah kali ini mah trombositnya 110.000 yeaaayy... Dokter bilang, hari ini observasi dulu ya. Kalau smua bagus, besok pagi km boleh pulang. Tapi di rumah msh hrs banyak istrht, aktvts yang ringan2 aja... Rumah dijaga kebersihannya, upayakan jangan ada tempat bertelur n tempat ngumpet nyamuk. Makan pun jangan sembarangan, karena ini bakat tipesnya kamu langsung nongol begitu daya tahan tubuh melemah.

Iyah bener euy.

Alhamdulillah, urusan administrasi di Rabu pagi lancar, cepat, sehingga aku bisa segera pulang menyambut pelukan Ali.... Yang... Membuat... Oleng... Hahahaa. Aku belum kuat menggendongnya. Jalan pun rasanya masih engga napak. Kadang kalau keliyengan berlanjut dengan sedikit mimisan.

Intinya mah, masih butuh banyak istirahat lah. Cukup sekali ini aja kena yang namanya demam berdarah. Cukstaw cukstaw cukstaw. Pergi jauh2 ko virus n nyamuk!

Minggu, 12 Maret 2017

Sebaik-baik Pengingat

Ini kali pertama aku mengalami kehilangan seseorang yang sangat dekat, yang sehari-hari bersamaku. Mbah memang sudah sangat tua, dan seringkali mengingatkan kami bahwa ia bisa dipanggil Allah kapan saja. Namun tidak ada seorang pun yang siap kehilangan. Seperti ada kehampaan besar di hati, di rumah, di mana saja kami biasa melihat Mbah beraktivitas.

Tapi wafatnya Mbah membuatku merenungkan banyak hal. Sungguh kematian adalah sebaik-baik pengingat.

Belakangan, aku seperti sedang galau menjalani aktivitasku sebagai IRT yang sehari-hari kerjaannya ngurus rumah dan nemenin Ali main. Padahal dulu, semasa kuliah, aku semangat menyuarakan feminisme dan apa yang kujalani saat ini sangat jauh dari bayanganku dulu. I was a journalist before. I used to travel a lot, mewawancarai sosok-sosok inspiratif. Pulang kerja, kumpul dulu sama temen-temen. Betapa aku sangat merindukan bekerja di luar rumah. Akhir-akhir ini, aku sering merasa useless, powerless, jenuh dan penat sekali rasanya. Seperti post power syndrome.

Aku juga tinggal bersama bapak-ibu, dan Mbah juga suka tinggal di rumah. Extended family. Tidak mudah, seringkali terjadi perbedaan pendapat dalam hal mengurus rumah atau mengasuh Ali.
Namun hari-hari terakhir bisa merawat Mbah sungguh membuatku bersyukur dan merenungi lagi posisiku saat ini. Aku memang di rumah saja sehari-hari, aku jadi punya banyak waktu luang bersama keluarga. Menemani anakku main, memasak untuk suami, ngobrol dengan bapak dan ibu, serta, menemani Mbah tidur siang. Aku suka bersepeda dengan Ali saat pagi dan sore, membawakan kue untuk Mbah.

Sekarang aku sadar, bahwa momen-momen itu sangat berharga. Merawat orangtua di masa senja merupakan suatu kehormatan, keberkahan. Tidak semua anak-cucunya punya banyak kesempatan menemani Mbah di masa tuanya. Aku yang sehari-hari di rumah patut bersyukur punya banyak waktu luang bersama keluarga dan bisa mencurahkan perhatian untuk mereka.

Kepergian Mbah juga membuatku tersadar, kehidupan dunia sungguh fana. Anak-cucu sekalipun.

Malam kedua sepeninggal Mbah, Abang (suamiku) bilang sebelum tidur. "Aku kepikiran Uyut, sendirian sekarang di makam. Padahal biasanya makan aja nunggu ditemenin."

Sesayang-sayangnya, nggak ada anak-cucu yang mau nemenin di kubur. Sesedih-sedihnya ditinggal pergi, setelah tiga hari, seminggu, satu per satu kembali ke urusan mereka masing-masing. Pekerjaan, sekolah, keluarga, dll. Kembali mengurus kesibukan duniawi yang juga, fana.

Kalau sudah sendirian di kubur, tidak ada lagi yang menemani. Kecuali amal, kecuali doa mengalir dari anak yang sholih.

Setiap bulan, Mbah selalu menyisihkan sebagian uang belanjanya untuk infak masjid dan anak yatim. Jumlahnya bisa ratusan ribu lho. Sepeninggalnya, beliau juga sudah mengamanatkan agar perhiasan, cincin dan giwang, dijual lalu uangnya diinfakkan. Insya Allah amal jariyah menjadikan kubur Mbah lapang.

Sekarang sudah hampir seminggu berlalu. Tanahnya mungkin mulai mengering. Karangan bunga telah layu. Kesedihan sedikit memudar, digantikan dengan kebahagiaan lain yang mengisi hari. Semua orang pun telah kembali pada aktivitasnya masing-masing.

Sampai kini, Ali masih suka memetik melati setiap pagi, dibawanya pulang, seperti yang biasa ia lakukan kalau ada Mbah di rumah. Mbah suka menyelipkan melati di sanggulnya, atau di bawah bantal tidurnya.

Aku juga kadang masih refleks menyalakan dispenser, karena biasanya Mbah selalu cari air hangat untuk minum. Abang pun masih menyikat lantai kamar mandi agar jangan sampai Mbah terpeleset karena licin. Seolah Mbah masih ada.

Hal-hal itu sering membuatku tercekat, ya Allah, sedang apa Mbah di sana. Setiap kali teringat Mbah, aku membacakan Fatihah untuknya dan berdoa semoga Allah melimpahkan rahmat dan ampunan.

Seperti yang selalu Mbah pesankan kepadaku, tolong jangan pernah lupa doakan Mbah. Mbah nggak minta banyak-banyak, minimal satu Fatihah setelah solat. Jangan doain panjang umur, kata Mbah. Doain aja biar umurnya berkah, dosanya diampuni.

Ya Allah, betapa aku tahu Mbah selalu duduk lama setelah solat mendoakan anak-cucunya. Setiap kali mendengar ada kerabat atau tetangga yang meninggal, Mbah langsung buka Quran dan membaca Yasin dengan mata tuanya yang berair. Bagaimana mungkin permintaan satu Fatihah seusai solat terlalu berat?

Mbah tidak pernah lupa nama dan wajah anak-cucu-cicitnya yang banyak sekali. Dan aku yakin, tak satu pun yang luput ia doakan.

Mari laksanakan permintaan Mbah untuk terus mendoakannya, minimal satu Fatihah seusai sholat. Anak Mbah ada 10, cucunya buanyak, cicitnya 42, canggahnya 1. Bayangkan betapa terang kuburnya jika doa mengalir deras dari anak-anak sholih setiap hari. Ajarkan Fatihah kepada anak-anak kita, ceritakan ke mereka tentang Uyutnya yang cantik, yang selalu mencium hangat pipi mereka setiap ketemu. Setiap kali kita merindukan beliau, bacakan Fatihah agar Allah senantiasa merahmatinya, menerangi kuburnya dengan doa-doa kita yang tiada terputus.


Tutup Usia

Sampai hari ini aku masih sulit percaya Mbah sudah wafat. Beliau memang sangat sehat, sehingga kami sering lupa bahwa sebenarnya beliau sudah sangat renta.

Usianya sudah 92 tahun, dengan 10 anak dan jumlah cucu yang aku nggak bisa ngitung saking banyaknya. Cicitnya ada 42, canggah (anaknya cicit) ada 1, mau 2. Wow!

Rabu pagi (1/3) Mbah jatuh saat sedang di rumah sendirian. Beruntung, ada tetangga yang melihat dan menolongnya. Katanya, bagian tubuh sebelah kanannya tiba-tiba lemas dan dingin. Ibuku segera menyusul dan membawanya ke rumah kami. 

Malamnya, Bapak dan ibu mengajak aku dan Ali mengantar Mbah periksa ke dokter. Dokter ini mungkin hampir 20 tahun menangani Mbah, hampir seperti dokter pribadi. Beliau sebenarnya sudah pensiun, tapi tetap datang kalau Mbah mau ketemu, hehe. Mbah nggak pernah mau ke rumah sakit dan nggak pernah ke dokter lain.

Berdasarkan pemeriksaan dokter malam itu, semua bagus, hanya sedikit kembung. Kami pun pulang dengan lega. Mbah mungkin hanya kelelahan, sebab hari Senin beliau baru datang dari Surabaya, menjenguk anak sulungnya yang sedang sakit di sana.

Kamis pagi, Mbah sudah beraktivitas seperti biasa. Makannya banyak, lalu jalan-jalan pagi di depan rumah, ngobrol dan nonton TV sama aku, nonton Bake with Anna Olson, inget banget. Lalu main sama Ali dan kelinci. Makan siang pake sayur asem, Mbah makannya banyak. Kami senang Mbah sudah terlihat lebih segar.

Setelah makan, beliau solat zuhur. Ali menghampiri beliau solat di musholla. Biasanya Ali ikutan solat, tapi ini Ali berdiri bengong di tempatnya dengan ekspresi bingung. Bapak dan ibu segera menghampiri, ternyata Mbah sudah tersungkur dalam posisi kaki sedang duduk tahiyat akhir. Mbah tidak sadarkan diri, berkeringat.

Kami menggotong Mbah ke kasur, membuka mukenanya, namun Mbah tidak jua membuka mata. Beliau mengerang-erang. Kami membimbingnya mengucap lailaha illalllah. Terus menerus.
Ibu menelepon anak-anak Mbah yang lain agar segera datang. Sebelumnya, Mbah tidak pernah jatuh tak sadarkan diri seperti ini.

Sampai sore, kondisi Mbah tidak membaik. Masih tidak membuka mata, hanya merespon dengan tangan kiri dan menitikkan air mata jika mendengar anaknya datang. Kami berdiskusi untuk membawa Mbah ke rumah sakit, namun tiba-tiba Mbah menangis dan mendekap erat anaknya yang berada di dekatnya. Rupanya Mbah mendengar.

Mbah memang sering berpesan, kalau aku sakit, biar bagaimana jangan dibawa ke rumah sakit. Di rumah aja, ditemenin sama anak-anak sampai di mana juga.

Kami urung membawanya ke rumah sakit. Namun Mbah semakin lemas. Beliau tidak bisa makan atau minum. Bisa minum, setetes-dua tetes. Kami mencoba memberikannya makan biskuit, namun Mbah tersedak. Wajahnya memerah.

Tidak ada yang kami mengerti dari kondisi Mbah saat itu. Apakah Mbah terkena serangan stroke, atau lemas karena apa, tak ada yang bisa kami lakukan. Sementara Mbah semakin lemah karena tidak ada asupan. Semua dokter yang kami hubungi menyarankan agar membawa Mbah ke rumah sakit.

Akhirnya tengah malam, aku dan bapak naik motor ke rumah sakit. Saat ini, paling tidak kami harus tahu apa yang terjadi pada Mbah. Memeriksa tanda-tanda vitalnya. Dan yang paling penting, Mbah harus mendapatkan asupan agar tidak dehidrasi.

Kamar di rumah sakit terdekat rupanya penuh. Kami pun menuju RS Hermina. Aku berbicara panjang lebar kepada perawat dan dokter jaga di ICU tentang riwayat kesehatan dan kondisi terakhir Mbah, termasuk tentang keinginannya agar tidak dibawa ke rumah sakit. Aku juga menyelesaikan urusan administrasi. Dokter meminta Mbah agar segera dibawa ke RS untuk dilihat kondisinya, dan apakah harus masuk ICU. Aku berpesan, agar setiap rencana tindakan dikonfirmasi dulu ke kami, dan ICU itu pilihan terakhir saja. Setelah memastikan ada kamar rawat inap, kami pun menelepon om-tante di rumah untuk membawa Mbah ke RS.

Tiba di IGD, kesadaran Mbah sudah menurun. Beliau sudah sangat lemas, mengingat sudah 10 jam tidak ada asupan apapun. Tapi aku masih berpikir, sungguh Mbah sangat kuat. Hasil pemeriksaan menunjukkan, tekanan darah Mbah cukup tinggi, 179/90 dan ada penyumbatan yang melebar di otak kiri. Mbah terkena stroke.

Pagi itu, dokter memutuskan Mbah harus masuk ICU untuk mendapatkan perawatan intensif. Kami tidak bisa menjenguknya kecuali pada saat jam besuk, itu pun harus masuk satu per satu. Mbah menangis, tidak mau melepas tangan anak-anaknya yang menjenguk.

Kami sadar, Mbah tidak butuh semua peralatan ini. Mbah butuh bersama anak-cucunya. Kami pun sepakat memindahkan Mbah dari ICU ke kamar perawatan biasa. Kami menandatangani surat pernyataan bahwa keluar dari ICU adalah permintaan pasien dan keluarga pasien sehingga pihak RS tidak bertanggung jawab apabila ada kegawatan. Sungguh suatu keputusan yang berat karena kami sadar betul konsekuensinya.

Jumat pukul 8 malam, Mbah dipindahkan ke ruang VIP. Semua alat bantu dilepas, tinggal infus, selang makan, dan oksigen saja. Kami semua berkumpul di sisinya. Mbah tidak mau melepaskan genggaman sehingga kami bergantian menggenggam kedua tangannya.

Anak, cucu, cicit, berkumpul dan menjaganya bergantian. Kami menemani Mbah berdzikir dan mengaji. Tekanan darah Mbah masih tidak stabil dan Mbah masih belum membuka mata, namun Mbah masih bisa menggenggam erat tangan kami.

Minggu pagi, saat adzan subuh, Mbah membuka mata sebentar, lalu merem lagi. Seorang sahabatku yang bekerja di RS Hermina membantuku memantau keadaan Mbah. Ia bilang, sebenarnya keadaan Mbah menunjukkan kemajuan. Leukositnya normal, nadinya pun normal. Hanya tekanan darah yang belum stabil, dan dokter masih berharap Mbah bisa membuka mata.

Senin pagi, aku menggantikan Bapak-Ibu yang sudah begadang menjaga Mbah. Berdua saja di ruangan, aku membacakan Ar-Rahman, Al-Mulk, Al-Fajr, dan beberapa surat lain untuknya. Aku menyenandungkan lagu "Ilir-ilir" sambil mengusap rambutnya, seperti yang kulakukan saat menidurkan Ali. Mbah menangis.

"Mbah sabar ya, Mbah jangan kesel sakit kayak gini. Nggak ngerepotin siapapun kok Mbah, semuanya senang bisa nemenin Mbah di sini. Mbah banyak istighfar aja, Iken temenin di sini. Insya Allah sakitnya Mbah penggugur dosa." Mbahku menghela nafas panjang.

Kemudian beliau bersin. Banyak dahak yang keluar. Sejak kemarin memang banyak dahak yang mengganggu jalan nafas Mbah, tapi kalau disedot pakai alat sama suster, Mbah nggak mau. Selangnya digigit.

Tapi kalau dibersihkan pakai tisu sama cucunya, Mbah mau. Aku pun segera membersihkan dahak Mbah dengan tisu, sambil terus berbicara, "Ini Iken Mbah, Iken bersihin ya supaya Mbah nafasnya enak. Buka mulutnya ya Mbah." Alhamdulillah bisa dibersihkan dan Mbah bisa bernafas lebih lega.
Aku pulang menjelang zuhur, digantikan oleh budeku. Seharian itu aku tidak ke RS lagi. Aku mendoakan Mbah tiada henti dari rumah.

Malamnya, aku mimpi Mbah mau solat di musholla, minta tolong ambilin mukena. Aku mengambilkan mukena untuknya, tapi Mbah malah naik ke atas (tangga). Kubilang, Mbah mau ke mana? Mbah solat di atas aja, katanya.

Aku terbangun, sudah pukul 4 pagi. Aku membacakan Al Fatihah untuk Mbah, mengganti popok Ali, lalu tidur lagi, karena aku sedang tidak solat.

Pukul 6, ibu membangunkanku dan bilang, Mbah sudah wafat subuh tadi. Innaa lillahi wa innaa ilaihi rojiun. Hatiku mencelos. Walau kami sudah pasrah dan sudah paham kemungkinan yang bisa terjadi sejak memutuskan membawa Mbah keluar dari ICU, tetap saja, kabar duka itu terasa menyesakkan.

Cerita tante, dari pukul 2 hingga menjelang subuh, Mbah demam sampai 40 derajat celcius. Bapakku mungkin emosional, beliau segera turun ke musholla untuk sholat.

Saat itu ada om dan tante yang memegang tangan Mbah, dan terus membimbing Mbah mengucap Laa ilaha illallah, sebelum akhirnya Mbah seperti cegukan dan mengembuskan nafas panjang satu kali. Lalu genggaman tangannya melemah.

Om ku berlari ke perawat dan dokter, yang segera mengecek keadaan Mbah. Mbah pun dinyatakan wafat oleh dokter, Selasa (7/3) pukul 5.21 pagi.

Jenazah Mbah dibawa pulang ke rumahku, banyak sekali yang datang. Semua tetangga kaget, menangis, sepertinya baru kemarin lihat Mbah jalan kaki. Baru kemarin ngobrol. Baru kemarin beli jamu.

Memang sebelumnya Mbah sangat sehat, hanya 5 hari terakhir beliau drop, sebelum akhirnya wafat. Aku memandangi wajah Mbah yang cantik, cerah, seperti habis mandi lalu tidur. Tapi dingin. Padahal aku masih ingat sekali hangat genggamannya beberapa hari lalu.

Mbah dimakamkan di pemakaman dekat rumah ba'da zuhur. Cuaca hari itu sejuk, mendung, seperti menemani duka kami. Allahummarhamha wa 'afiha wa'fu 'anha. Insya Allah Mbahku husnul khotimah.

Tasurrun Nazhirin

Sejak dulu aku selalu ingin nulis tentang selera fashion, gaya berpakaian Mbah yang menurutku, berkelas. Hahaha. Beneran deh. She got style. Bahkan di usianya yang tidak muda lagi, Mbahku masih "tasurrun nazhirin" alias enak dipandang. Anggun, sederhana, cantik tapi tidak berlebihan. Caranya berjalan, memakai kerudung, memadu-padankan kebaya dengan sarung, sampai caranya menenteng tas, sungguh menawan. Kalau diajak makan di restoran hotel bintang lima sekalipun, Mbah tidak canggung. Ia tahu bagaimana makan pakai pisau dan garpu, bagaimana mengaduk teh dan meletakkan sendok, serta bagaimana duduk dan menarik kursi. Like a royal lady.

Gaya berpakaian Mbah sejak dulu tidak berubah. Zaman boleh berganti, namun Mbah tetap setia mengenakan selendang, kebaya, dan kain sarung, yang selalu matching.

Bila keluar rumah, Mbah menutup rambut bersanggulnya dengan kerudung kecil yang disebutnya "krepus", beberapa hasil rajutan tangannya sendiri. Ia sering memetik beberapa kuntum melati, lalu diselipkan di dalam krepusnya. Aroma wangi inilah yang sangat khas Mbah. Kalau mau bepergian, Mbah mengenakan selendang panjang yang dililitkan. Ada satu favoritnya, selendang Turki tebal hadiah cucunya dari Jeddah.

Kebaya Mbah pas di badan, dengan model yang tidak pernah berubah. Mbah nggak betah kalau kebayanya kekecilan atau kebesaran. Pasti didedel kalau engga langsung dikasih orang. Pilihan motif dan warnanya cenderung kalem. Aneka gradasi coklat, hitam, putih, ungu muda, krem, baru-baru ini aku lihat juga kebaya baru Mbah berwarna merah muda. Tidak ada renda, tidak ada manik-manik. Tapi manis. Kalau bepergian naik pesawat atau ke tempat dingin, Mbah tidak lupa menenteng kardigan putih rajut.

Sarung Mbah pun nggak bisa sembarangan. Favoritnya adalah Danar Hadi dan Batik Keris. Motifnya juga dicermati baik-baik sebelum dipilih. Apa yang terjadi kalau Mbah dibelikan sarung 100ribuan? Gatel 😂😂 Mbah pasti akan mengeluh kakinya gatal memakai sarung murah tersebut. Padahal beliau juga nggak tau harganya berapa, misalnya karena sarung itu adalah pemberian orang. Tetep aja, beliau pasti langsung mengeluh kakinya gatal. Hahaha canggih ya.

Sandal pilihan Mbah selalu empuk, simpel, sangat nyaman dengan warna yang tak jauh dari hitam dan coklat. Mbah suka sedikit aksen, tapi say NO to manik-manik atau kelip-kelip. Koyok wong ndeso, katanya 😂 Mbah harus diajak dan memilih sendiri sendalnya. Kalau kita salah-salah beliin, nggak bakal dipakai. Atau, ya, kakinya jadi gatal 😂 Sandal Mbah juga nggak ada yang di bawah 100 ribu. Padahal beliau nggak bisa baca ya, tapi beliau selalu melipir ke koleksi-koleksi Buccheri. Aku dan ibu sering nemenin Mbah cari sendal baru, seringnya sih ke mall. Dan itu bisa lama pilah-pilihnya. Mbah sama aja yah dengan perempuan pada umumnya kalau soal ini 😂

Berikutnya, tas atau dompet. Mbah menyukai tas dan dompet bergaya etnik, dan buatan tangan. Dompet kecilnya adalah rajutan tangannya sendiri. Dompet lainnya terbuat dari rangkaian manik-manik. Isinya, ya uang, KTP, dan beberapa kuntum melati. Kalau bepergian dan menginap, Mbah membawa tas tenteng. Ada yang bercorak batik, bermotif tenun atau bordiran khas daerah tertentu.

Gaya berpakaian Mbah tidak pernah berubah. Ke mall, ke dokter, ke Manado, atau bahkan saat umroh dan haji sekalipun, Mbah tetap dengan selendang, kebaya, dan sarung batik. Throughout the years, she stayed true to her self, to her own style. Aku pernah cerita kan, bagaimana motif kain batik Mbah menarik perhatian perempuan Turki dan Arab saat di Masjidil Haram? Mbah tidak takut untuk tampil berbeda, demi tetap menjadi dirinya sendiri.

Saat di rumah maupun bepergian, Mbah sama cantiknya. Menurutnya, begitulah seharusnya perempuan menghargai diri sendiri. Mbah pernah menegurku saat aku mengenakan daster sobek di rumah. "Di rumah boleh pakai baju yang enak, tapi harus tetep apik," katanya. Iya ya, kenapa pula aku terlihat kucel saat di rumah dan baru dandan cakep, memakai pakaian bagus saat hendak keluar? Apakah aku tampil cantik untuk mata orang lain? Seharusnya aku berpenampilan cantik semata untuk menghargai diriku sendiri. Di mana saja, termasuk di rumah. 

Dia tahu persis pakaian seperti apa yang dapat merepresentasikan dirinya. Yang simpel, namun klasik. Tren berganti setiap tahun, namun hingga usianya ke-92, selera Mbah tidak berubah. Mbah tidak tergoda pakai gamis, kerudung bergo, atau busana kelap-kelip. Karena itu bukan dirinya. "Wong lio ae, aku gak, wis."

Selain itu, kata ibu, tangan Mbah itu mahal.

Apa sebab?

Semua yang dipegang tangannya -walau beliau nggak lihat dan nggak bisa baca harganya- udah pasti mahal. Mulai dari kain sampai centong nasi 😂 Pernah, diajak beli perabot dapur sama ibu, katanya Mbah mau beli centong nasi. Di antara sekian banyak varian centong nasi yang berjejer, tangan Mbah memilih satu yang harganya 25 ribu rupiah. Wew. Padahal yang 5 ribu juga banyak. Ditawarin yang lain, nggak mau. Udah itu aja, katanya. Which is, yang paling mahal 😂

Demikianlah aku akan selalu mengingat Mbahku yang cantik, dan selalu sedap dipandang bahkan hingga akhir usianya. Mbahku yang punya selera berkelas, dan tangannya yang "mahal". Ia tahu persis apa yang ia inginkan, apa yang dapat merepresentasikan personality-nya, dan bagaimana ia tetap nyaman menjadi dirinya sendiri di tengah zaman yang terus berubah.

Bagiku, Mbah adalah contoh perempuan yang menjaga penampilan, bukan demi pujian orang lain. Ia melakukannya demi kenyamanan pribadi. Ia adalah perempuan yang sangat menghargai dirinya sendiri.

Kami akan merindukanmu, Mbah.


Sabtu, 11 Maret 2017

Sehat ala Mbah

Sampai menjelang usianya yang ke-92 tahun, Mbahku sangat sehat. Masih bisa diajak naik mobil ke Pandeglang, naik pesawat ke Surabaya dan Malang. Sehari-hari, Mbah masih memasak. Mbah tidak pikun, tidak ompong, penglihatannya pun masih bagus, bahkan masih bisa jahit sedikit-sedikit. Sampai Ramadan terakhir kemarin, Mbah selalu puasa full sebulan. Kadang ikut tarawih dan tadarrus. 

Banyak orang kagum dengan sehatnya Mbah. Tak banyak orang seusianya yang masih terlihat sesegar Mbah. Aura cantiknya pun masih memancar. 

Sungguh nikmat sehat adalah nikmat yang tak terhingga, apalagi di usia Mbah yang hampir seabad. Mbah menyadari betul hal itu. Beliau sering bilang, "Mbah ini sudah dapat bonus banyak dari Allah." Maka menurut Mbah, cara terbaik mensyukuri nikmat sehat adalah dengan menjaganya. 

Berikut beberapa tips hidup sehat, umur panjang ala Mbah :)

1. Tidak makan yang "terlalu enak"
Mbah selalu sederhana dalam urusan makan. Apa sih menurut Mbah, yang "terlalu enak" itu?

"Daging, kan enak. Terus pake santan, yo tambah enak. Gula, kan enak. Tambah coklat, telor, kacang, mentega, yo tambah enak banget. Makanan itu kalau terlalu enak jadi nggak baik," katanya. "Wis cukup aku mangan sing enak-enak. Saiki putuku ae mangan sing enak."   

Menu makan Mbah sehari-hari sederhana saja. Tempe, itu mesti ada. Sayuran. Kadang ikan kalau lagi kepingin. Nasi putih, seringkali nasi kemaren atau nasi dingin (sego wadang). Katanya, biar perutnya kuat. Camilan Mbah, paling singkong rebus, pisang rebus, salak, duku, roti polos dan biskuit asin. Kami hapal sekali favoritnya.

Intinya adalah, mengendalikan hawa nafsu. Dalam hal makan, kita lebih sering menuruti keinginan daripada kebutuhan. Makan sederhana seperti Mbah saja sebetulnya cukup, tapi kita kerap menginginkan lebih.


2. Membatasi asupan gula
"Mangan iku gak usah sing legi. Gurih banget yo gak usah, biasa ae. Kalau sik nom (masih muda) ya gak papa lah. Tapi kalau bisa, mangan opo ae gak popo, minumnya ojo sing legi. Banyu putih, teh tawar, ojo sing legi."

Malah kata Mbah, yang pahit itu yang bagus. Mbah suka minum jamu kunyit, lengkap dengan "paitan"-nya.

Sangat banyak manfaat mengontrol asupan gula. Berat badan terkontrol, kulit lebih bersinar dan tidak mudah berjerawat, kesehatan gigi pun terjaga. Hal-hal tersebut bisa kita lihat dari segarnya senyum Mbah.

3. Minum air hangat
Mbah selalu lebih memilih minum air hangat, ketimbang air biasa atau air dingin. Terutama ketika bangun tidur, malam hari menjelang tidur, dan ketika beliau sedang batuk. Makanya di rumah, kami selalu sedia air panas di termos untuk minum Mbah.

Air hangat bermanfaat menghangatkan tenggorokan, sehingga meredakan batuk. Air hangat juga dapat meningkatkan metabolisme tubuh dan memperlancar sirkulasi darah. Bagi lansia seperti Mbah, minum air hangat juga dapat merelaksasi otot yang kram.


4. Menjaga pola tidur
Mbah punya pola tidur yang teratur. Siang hari, beliau selalu tidur selama 30-40 menit sampai menjelang zuhur. Begitupun malam hari, Mbah tidak pernah tidur di atas jam 9. Ngantuk atau tidak, pokoknya kalau sudah jam 9 ya siap-siap tidur. Bersih-bersih, wudhu, lalu ganti baju. Disiplin menjaga pola tidur ternyata baik untuk menjaga fungsi kognitif. Selain itu, lansia seperti Mbah memang perlu istirahat cukup agar tidak kelelahan.


5. Melakukan aktivitas motorik halus
Dulu waktu aku SD, Mbah masih sangat suka merajut. Mbah membuatkan kotak pinsil warna-warni rajutan tangannya sendiri untuk setiap cucunya. Aku ingat setiap kali temanku tanya beli dimana, aku bilang dengan bangga, "Dibikinin Mbah!"

Sampai kira-kira 7 tahun lalu, Mbah berhenti merajut karena matanya berair kalau merajut. Tapi sesekali beliau masih menjahit, misal menjahit sisi bajunya yang robek, memasang kancing, atau memperbaiki bajunya yang kebesaran/kekecilan.

Aktivitas motorik halus seperti merajut dan menjahit yang masih dilakukan Mbah pada masa tuanya mungkin menjawab kekaguman kita, mengapa Mbah tidak pikun. Ia masih ingat satu per satu wajah serta nama cucu-cicitnya (yang buanyaak banget).

Berbagai penelitian ilmiah menunjukkan, aktivitas motorik halus memang dapat merangsang otak agar terus aktif. Merajut atau menjahit menurunkan risiko demensia dan alzheimer hingga 73% pada lansia. Lebih dari itu, aktivitas motorik halus ternyata juga dapat mencegah penyumbatan pembuluh darah di saraf otak vital.


6. Aktif bergerak
Penting bagi lansia untuk tetap aktif bergerak. Fakta penelitian menunjukkan, sel-sel menua lebih cepat dengan gaya hidup sedenter, yaitu gaya hidup yang lebih banyak duduk atau tidur.

Mbahku, di usianya yang hampir seabad, masih beraktivitas seperti biasa. 

Terakhir kami ajak umroh waktu usianya 80 tahun. Lalu ke Manado dan Bunaken, naik pesawat atau naik boat, hayu. Asal jangan naik eskalator, hahaha... Seminggu sebelum kepergiannya, Mbah bahkan baru datang dari Surabaya naik pesawat. 

Sholat 5 waktu plus rawatib, sholat dhuha, masih sambil berdiri. Memasak, mengurus rumah, berjalan kaki menjenguk cucu. Beliau juga mencuci pakaiannya sendiri dengan tangan.

"Jare dokter pokoe bergerak, latian, tapi yo ojo dipekso. Kalau nggak diajak bergerak malah nanti gampang pegel-pegel."


7. Tahu kadar kemampuan
Meski tetap beraktivitas seperti biasa, Mbahku juga sadar bahwa banyak hal yang sudah tidak bisa ia paksakan. Misalnya menggendong cicit, ngulek bumbu, pergi belanja sendiri, atau melakukan aktivitas lain yang terlalu berisiko.

Setahun terakhir dokter juga sudah meminta Mbah untuk tidak membaca Al-Quran terlalu banyak, dan tidak menjahit lagi sebab mata Mbah berair dan memerah kalau dipaksakan.

"Aku ini sudah diambil sedikit-sedikit nikmatnya sama Allah. Kuping, sudah diambil satu. (Pendengaran kanan Mbah nggak bagus). Sekarang mata. Badan yo gitu, sedikit-sedikit. Biar nggak kaget."


Mbah kami tersayang menutup usia setelah 92 tahun menjalani hidup sehat yang bahagia. Tidak pernah beliau sakit yang serius, selain batuk-batuk, pegal, yang beliau bilang, "sakite wong tuo". Sungguh kami bersyukur, masih bisa menikmati masa-masa bersama Mbah yang tidak akan kami lupakan.
Allahummarhamha.


Sabtu, 04 Maret 2017

Musuh yang Nyata

Suatu siang, aku dan Ali main ke rumah Uyut. Sehari-hari, Uyut memang sendirian di rumah, jadi siang itu kami bobo siang di sana. Kami tiduran di kasur dekat dapur.

Kami udah kriyep-kriyep mau pules, ketika tiba-tiba ada suara gedebuk-gedebuk dari kamar atas. Padahal nggak ada orang. Terus suara piring bergesekan dari tempat cucian piring dan suara keran mengucur.

Bangun dari tidurnya, Uyut nyamperin ke dapur sambil marah-marah berkacak pinggang, "Opo sih kon iku...? Ribut ae! Ta tikus ta demit ta wedhus kon??! Wedhus kon iku! Mentang2 aku gak iso ngaji ta? #$%&*!? (omelan-omelan lainnya yg tidak aku mengerti 😂) Awas ta sabbbett kon nggo Yasin."

Aku ngeri-ngeri sedap melihatnya. Demit diomelin dan dikatain wedhus sama Uyut 😂😂

Kata Uyut, sering gitu kalau beliau lagi sendirian di rumah. Mungkin karena udah lama nggak ngaji, katanya. Uyut umurnya udah 92 tahun, belakangan sudah nggak boleh baca Al-Quran sama dokter karena matanya berair kalau baca. Padahal sebelumnya, Uyut rajin ngaji. Bahkan kalau Romadon, Uyut bisa khatam! Aku aja enggak, hehehe...

Kejadian siang itu, dan apa yang dilakukan Uyut, membuatku sadar akan satu hal. Betapa Uyut sama sekali tidak takut pada kejadian aneh itu, bahkan kalau itu demit sekalipun, dia mengancam bakal disabetnya pake Yasin.

۞ أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا۟ ٱلشَّيْطَٰنَ ۖ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

"Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu." (Yasin: 60)


Musuh yang nyata. Ya, setan itu ada, tapi bukan untuk DITAKUTI melainkan untuk DIMUSUHI. Sikap Uyut tadi mengingatkanku akan hal penting tersebut dan betapa kita seringkali salah menanamkan cara menghadapi setan kepada anak-anak kita.

"Jangan main ke situ, ntar ada setan loh!"
"Main jangan malem-malem ntar dibawa kolongwewe!"
"Gelap ih, takut ih, banyak setannya di situ!"

Seringkali ungkapan-ungkapan di atas bohongan aja sebenernya, cuma supaya anak kita nurut, nggak melakukan suatu hal atau pergi ke suatu tempat yang tidak kita setujui. Tapi pada anak-anak, yang mereka tangkap adalah pesan bahwa setan itu harus ditakuti.

Kita lebih sering memperingatkan anak untuk takut pada setan, ketimbang takut pada Allah.
Tapi bayangkan, jika kita menunjukkan sikap seperti Uyut yang tanpa rasa takut dan ragu, nyamperin ke sumber suara aneh, melongok ke atas, sambil memarahi "oknum ghoib" tadi. Sambil mengancam akan "menyabetnya" dengan ayat Allah. Terlepas dari apakah suara-suara tadi gangguan jin atau cuma ulah tikus yang caper aja, poinnya adalah sikap yang Uyut tunjukkan ketika itu. Anak akan tahu, bahwa setan itu ada, tapi tidak perlu takut.Anak akan tahu, bahwa setan itu ada, tapi tidak perlu takut. Marahi saja, usir saja, musuhi mereka sampai hari kiamat.

Aku baru pertama kali menyaksikan Uyut bersikap seperti itu dan ternyata itu sangat membekas, meninggalkan pesan penting yang membuatku bisa menulis tulisan ini, bahwa setan, selamanya, adalah musuh yang nyata.

Dan sikap Uyut akan terus aku ingat sebagai contoh yang lugas buatku sebagai orangtua. Kelak jika Ali semakin besar, lalu pulang main dia tiba-tiba bilang, "Takut Mama, kata temen-temen di sana ada setan..." aku akan kisahkan tentang bagaimana Nabi Ibrahim menimpuk batu demi mengusir setan yang terus-menerus menghasutnya, dan bagaimana Uyut pernah marah sekali sama jin/setan yang membuat suara-suara aneh ketika Ali sedang tidur siang.