Jumat, 13 Desember 2013

Tahun Kesenangan


Life is so funny. In the end, your greatest pain becomes your greatest strength. 
**
Aku mengawali tahun 2013 dengan kepahitan dan rasa sakit dikhianati oleh orang yang kucintai. Sebuah kejutan tak terduga yang cukup mengguncangku waktu itu. Tetapi saat tengah limbung itulah, aku justru dipertemukan dengan orang-orang yang kehadirannya bukan cuma menguatkan, tapi juga mengajariku banyak hal dengan bersenang-senang.
Iya, jadinya 2013 ini tahun kesenangan!
I travel a lot this year, I checked some points of my bucket list, tetapi lebih dari itu, ada orang-orang spesial yang dikirimkan Tuhan untukku dan membuat tahun ini terasa lebih berarti. Mereka membantuku menemukan diri.
Thanks to my powerpuff girls kak Noni dan Desma yang udah bikin aku ngakak terus sampe kurus setahunan ini (eh iya kan ketawa membakar kalori kan). Bersama mereka, aku menemukan sisi diriku yang baru. Sebelumnya, orang mengenal Ken Andari dengan image yang cool, jutek, lurus banget, suka mikir yang serius-serius, kalo ngomong juga elegan dan penuh wibawa (preeett..) Tapi kalo udah sama mereka, aku jadi Ken Andari yang suka dikeplak-keplak, ditabokin, bahkan diketawain sampe ditunjuk-tunjuk karena semua tingkah laku dan celetak-celetuk yang menurut mereka ngeselin. Sembarangin-sembarangout. Sumpah, ini pertama kalinya aku diperlakukan begini sama orang!
girlfriends are the best cure
Aku juga ngga ngerti yah, kenapa aku bisa bikin kak Noni ngakak seharian sampe sakit perut karena celetukan dan imajinasi ngasalku. Apakah aku segitu konyolnya. Aku pun ngga terlalu paham kenapa Desma bisa sampe nabok bajay lalu ketawa jongkok di pinggir jalan saking keselnya sama spontanitas aku. Sungguh mengharukan, tak pernah terbayang aku bisa bikin orang ketawa segitunya, aaahhh... :')) Tingkah laku ku juga bisa membuat mereka berdua spontan berpandangan dengan tatapan ngga ngerti, kemudian tersenyum maklum dan dengan datar bilang, “Paham gue. Error lu emang.”
Mereka yang udah liat aku jatuh terjengkang dari kursi, nyusruk di keyboard setiap siang, ngelindur makan sambil tidur, nangis lalu ketawa, nari-nari sok imut sampe bikin jijik, rasanya aku bener-bener udah nggak bisa pasang topeng apapun di depan mereka. Ih, padahal seharusnya imej aku tuh cool and elegant! 
“Ken, kami berdua mengakui bahwa pencitraan lo ke luar itu bagus banget. Tapi buat kita, maap-maap kata. Udah ngga mempan..” wkwkwk kurang ajyaarrrrr! "Terserah deh, elu mau pake heels secantik apa, pake jam sekeren apa, jalan ama siapa, bahkan elu mau jadi apa, tetep aja semua itu FAIL di depan kita," Anjir!!!
Aku bisa menghabiskan waktu bersama mereka sekadar nongkrong di warung burjo sambil gosipin cowok, mem-bully dedek iphun, mojok di satu sudut Gramedia ngetawain "sesuatu" yang selamanya akan jadi rahasia kami bertiga, nongkrong di pinggir trotoar makan eskrim sambil ngomongin orang, ngebolang random, menghitung cowok yang datang dan pergi... wkwkwk... begajulan.. Eh tapi bisa juga diajak mengkaji Islam ngomongin Tuhan, sufisme dan keghaiban *yang ini edisi pencitraan* Pokoknya senang! 
Aku jadi lupa sama rasa sakitku di awal tahun, nggak punya waktu untuk menggalau! Bahkan dalam hatiku nggak ada ruang untuk kebencian. Rasanya setiap hari terasa menyenangkan. Kami hanyut bersenang-senang sebelum akhirnya di-pause sama infusan di awal bulan ini, hahaha... inget yah, di-pause doang! Hihi..

Saat ini kami lagi sering membicarakan impian masa depan, yang akan segera kami mulai dengan sebuah business plan dan desain ruang. Bermodal kontak di hape dan kemampuan ngedipin orang yang tidak diragukan lagi, kami akan mulai cita-cita besar itu. My dream scares me sometimes, hihi... It's too big!
Powerpuff girls, buatku tahun ini, kalianlah bintangnya!

*note:
Ada satu orang lagi yang kehadirannya berarti banget buatku tahun ini. Dia menunjukkan padaku tentang mencintai diri sendiri, menceritakan banyak hal baru tentang hidup, membantuku memahami dunia. Dan satu hal, ia mengajariku menerima rasa sakit, sesuatu yang sebelumnya masih asing. Eh tapi juga bersenang-senang! Hehehe... Ucapan terima kasih nggak akan cukup untuk membalas betapa banyak makna yang kamu berikan padaku tahun ini, jadi sisanya kusimpan sebagai doa. Biar Tuhan yang balas. Sorry readers, untuk yang ini ceritanya off the record :p

... Teman yang tepat bisa membantumu menemukan diri ...

Kamis, 12 Desember 2013

Bingkai Wajah


Eyebrow frame your face. Ungkapan itu sangat tenar di dunia kecantikan, yang menunjukkan betapa pentingnya alis bagi wajah kita. Ia mendefinisikan karakter wajah dan menegaskan sorot mata. Mata adalah jendela jiwa, dan alis adalah bingkai yang menghiasinya. Tanpa alis, manusia akan terlihat sangat tidak menarik.
Dalam dunia kecantikan, tren alis berubah sama dinamisnya dengan fashion. Ingat kan, masa di mana alis melengkung busur seperti Grace Kelly atau Audrey Hepburn yang jadi tren. Kemudian tren berubah awal 1980-an ketika muncul Brooke Shields dengan alisnya yang tebal natural. Tahun 1990-an, alis tipis segaris sangat digemari. Semua perempuan mencukur alisnya, mulai dari KD sampai Christina Aguilera.
Sekarang, alis tebal kembali disukai. Kalau dulu ada Brooke Shields, sekarang ada Clara Delevingne, Lily Collins, dan Camilla Belle yang menjadi ikon kesempurnaan alis (woelaaah...) dengan alis tebal dan tegas membingkai wajah. Tren baru ini bisa dilihat di runway, para model tampil dengan nude make up, tapi dengan defined eyebrow yang menunjukkan kecantikan alami. 
bold eyebrow on runway
Tapi sekarang para cewek jadi ikut-ikutan menggambar alis mereka dengan garis berlebihan (tebal) dan warna yang terlalu pekat sehingga berkesan tidak natural. Kadang malah terlihat aneh. Sering lihat kan yang kayak gitu?
Well if you talk about my eyebrow.. aku bersyukur dengan apa yang diberikan Tuhan. Sepasang alis mata yang tak terlalu tebal memang, tetapi sering dikomentari para perias, “Bentuk alisnya sudah bagus, tinggal dirapihin aja..” yang berarti adalah mereka gatel mengerok bulu-bulu alisku yang berada di luar garis ideal. Huh enak aja! Aku ngga akan mencabut satu helai pun! Makanya sejak dulu aku sudah belajar membentuk alisku dengan pinsil alis supaya kalo ada perias yang sotoy, aku akan bilang, “No, aku bisa bentuk alisku sendiri!”
Aku punya sedikit tips membentuk alis. Nggak perlu mencukur atau mencabut sehelai pun! Tuhan tidak pernah salah menciptakan, kamu tidak perlu mengubah apapun dari wajahmu. Kalau mau menegaskan bentuk untuk keperluan rias tentu boleh, begini caranya:
Basuh wajahmu dengan air mengalir dari arah atas (dahi). Jangan diusap, biar mengalir saja seperti saat wudhu. Kalau sudah, bercerminlah. Perhatikan garis lurus alis yang tampak tegas setelah dibasahi. Itulah garis tumbuh alismu. Untuk menegaskan bentuknya, kamu tinggal pakai pinsil alis mengikuti garis memanjang itu. Lalu isi the bald spots dengan pinsil alis sesuai arah tumbuhnya, agar alis terlihat lebih tebal dan penuh. Maka kamu akan mendapatkan alis yang rapi, defined, tanpa mengubah bentuk alaminya. 
(1) alis berantakan, (2) garis natural alis yang basah, (3) alis setelah dibentuk dengan pensil
Buatku, “bentuk ideal” itu tidak ada. Ia diciptakan oleh tren yang berubah-ubah. Mau gitu tampil cantik sesuai tren? Kayak Krisdayanti, bentuk alisnya ngikutin tren yang perubahannya bisa kita lihat dari masa ke masa. Capek atuh mun ngikutin selera pasar mah. Tuhan menciptakan setiap perempuan cantik dengan keunikannya. Tuhan tidak pernah salah, ialah sepandai-pandainya seniman yang telah mengukir setiap lekuk wajahmu dengan detail luar biasa. Bahkan sebaris rambut di atas matamu pun jadi sebegitu pentingnya. 
still, I admire Brooke's natural eyebrow

Selasa, 26 November 2013

Pendakian Guntur Selow Ceria (Tapi Kemalingan)


“Ke Gunung Guntur Garut? Serius lo?”
Begitu respon orang saat kubilang, aku mau ke sana akhir pekan ini. Katanya trek-nya gila, dan bener-bener bukan buat pelesir. Padahal saat itu aku, Kak Noni, dan Mbak Aini sebagai pendaki pemula niatnya cuma mau refreshing ngeliat yang ijo-ijo.
Kami janjian di Pasar Rebo jam 10 malam. Sengaja ambil bus terakhir menuju Garut supaya sampe sana subuh. Kami pun berkenalan dengan Hendra, Bimo, dan Zaki. Aku juga ngajak sahabatku Yusuf. Hampir semuanya baru kenalan, tapi begitulah sesama pendaki bersaudara.
Karena ada macet panjang di Rancaekek, kami baru tiba di Garut pukul 5.30 pagi. Langsung menuju kosan Kang Maman, yang akan jadi guide kami ke Guntur. Setelah mandi, belanja, dan re-packing, kami pun siap berangkat. Kami naik angkot dari terminal Guntur sampai Tanjung, lalu numpang truk pasir sampai atas. 
dikocok-kocok di truk
sempet-sempetin pose di atas truk
Eaaa.. belum apa-apa udah kotor aja naik truk pasir. Jalan menuju ke atas edun euy, banyak lubang, sempit, tikungan tajam, kadang berbatu besar kadang licin berpasir. Dikocok-kocok lah kami di dalam bak truk. Sesekali harus berhenti dan turun karena medan yang sulit. Kudos lah buat pak sopirnya!
Sampailah kami di penambangan pasir. Harusnya sih pemandangan di sini indah, tetapi apa yang kami saksikan sungguh miris. Kaki Gunung Guntur ini jadi semacam TPA, sampah berserak di mana-mana. Mulai dari plastik, pampers, sepatu, bahkan sofa dan kasur dibuang ke atas sini. Kemungkinan besar truk-truk itu bawa sampah dari bawah. Pemkot Garut, atau Pemda Jabar sekalian, tolong diperhatikan perilaku masyarakat sini. Garut nggak punya TPA apa yah? Parah banget. Nggak beda dengan orang Jakarta yang buang sampah ke kali, orang sini buang sampah ke gunung. 
banyak sampah, sedih... :(
pemandangan pertama

Cuaca mendung saat kami mulai mendaki. Bagus lah, jadi nggak terlalu panas. Setelah 1 jam berjalan, kami ketemu dengan sumber air dari Curug Citiis. Cuma ini sumber air di Gunung Guntur, jadi penuh-penuhin lah jerigen kalian. Dan ini masih di bawah bray, jadi siap-siap bawa full tank sampe puncak. Lalu dihemat sampe besok. Itulah salah satu tantangan Guntur.
Setelah melewati hutan basah yang cukup lebat, kami mulai masuk padang savanna. Medannya didominasi rumput-rumput tinggi yang cukup rapat. Kira-kira pukul 13 kami menemukan tempat landai, dan memutuskan istirahat sejenak sambil solat.

naik gunung solat jangan bolong bro...
Hujan makin lama makin deras. Semakin ke atas, pohon makin sedikit. Yang ada hanyalah padang savanna menguning, yang kalau musim panas pasti ini panas banget. Bebatuan dan kerikil kecil semakin memberatkan langkah kami di kemiringan yang mencapai 75 derajat. Aslina! Ngeri liat ke bawah. Kami harus ekstra hati-hati memilih pijakan di tengah hujan. Kang Maman menyiapkan webbing untuk membantu kami cewek-cewek ini.
Betul kata orang, trek Guntur ini sungguh menantang. Menguras fisik dan mental. Untungnya tim kami woles dengan ritme perjalanan yang bagus. Ceria sambil ketawa-ketiwi, kocak banget abang-abang ini. Banyak berhenti istirahat tapi nggak terlalu lama. Konstan seperti itu. Kang Maman berkali-kali mengingatkan, kita harus sampe puncak sebelum gelap. Nggak aman nge-camp di bawah karena banyak maling. Emm... aku belum pernah dengar sih sebelumnya, kalau ada maling di gunung. Asa niat pisan.

tuh medannya! ngeliatnya aja udah menguras mental!
Mbak Aini, cheese (^__^)v
Semakin ke atas, hujan semakin deras. Jaket anti badaiku ngga mempan, meresap ke dalam kaos, dingin banget. Dengkul udah mau copot. Meski tertinggal jauh di belakang, aku masih kekeuh bawa ranselku sendiri, sementara mbak Aini dan kak Noni udah melenggang ranselnya dibawain sama cowok-cowok itu. 
Lama-lama aku nggak bisa lagi berdiri di atas dua kaki. Aku merayap, memanjat tanpa lihat ke depan. Aku nggak mau melihat trek yang bisa bikin mentalku drop, aku konsen sama pijakanku. Sampai akhirnya… kakiku lemas, kepalaku berkunang-kunang, pandanganku kabur, dan bruk! Aku jatuh terguling hingga beberapa meter ke bawah.
Aku nggak pingsan, tapi tadi aku seperti “kosong” 3 detik sebelum akhirnya jatuh. Lalu aku nangis… huhu… jalannya susah banget TT___TT kerikil dan pasir membuat licin, nggak ada pohon, cuma berpegangan sama rumput… kelihatan pula jarak jauh jalannya TT___TT huaaaa kaangg…
Yusuf yang dari awal menemani di belakangku nggak bisa berkompromi lagi, dia bawa ranselku dan menyuruhku jalan duluan. Ahh… much better. Ayo Ken, semangat! Jangan kalah sama Mbak Aini dan Kak Noni! Puncak sedikit lagi!
Alhamdulillah, akhirnya sampai juga puncak! Hosh.. hosh.. Begitu aku sampe, tenda udah rapih, dan air panas sedang dimasak. Ya sayyidi ya Rosululloh… aku, Mbak Aini dan Kak Noni langsung tersungkur di dalam tenda. Saat itu sudah pukul 17.30, nunggu maghrib. Kami membutuhkan waktu hampir 6 jam untuk sampai puncak bayangan Gunung Guntur yang tingginya "cuma" 2.249 mdpl.  Kebayang?

Wussss… angin berhembus. Anjriiiiiittt dingin bangeeeeettt… Yaiyalah, puncak gitu loh! Ampun Tuhaaaannn…

Kalau lagi mendaki gini mah, perempuan selalu jadi ratu. Sementara kami bertiga tepar di dalam tenda, mereka beresin barang, bikinin kami susu jahe dan nyiapin makanan. Ahh… sungguh… 

para chef dadakan yang gemar bereksperimen
Malam itu kami lalui dengan penuh kehangatan. Kami bertiga meringkuk hangat berselimut sleeping bag, sambil nontonin cowok-cowok itu masak dan ngebanyol dari dalam tenda. 
Sakit perut antara lapar sama pegel ketawa. Kayak nonton OVJ! Dan nggak nyangka juga, ternyata mereka bawa bekal makanan banyak banget. Mulailah mereka bereksperimen. Kentang, mendoan, pempek, ikan, bala-bala jamur, semuanya digaremin, digoreng, cocol sambel. Derrr!!. Mantap. Kami ngga masak nasi karena persediaan air minim.
Tenda cuma ada satu, buat kami bertiga dan tas-tas. Para cowok itu tidur di luar. Yang bawa sleeping bag cuma Yusuf, lainnya pake sarung. Gila emang. Orang gila semua. Bermalam di puncak gunung, musim hujan, dan ngga bawa sleeping bag. Kudos.

ngintip Kota Garut dari balik awan
masih pake celana piyama baru bangun tidur.. stretching dulu *gaya
Pukul 5 pagi aku terbangun, karena merasakan angin dingin berhembus. Wait... apaan tuh? Ada sobekan sepanjang 20cm di pojok tenda, tepat sebelah kepala Mbak Aini. Mbak Aini juga terbangun, dia nyari kacamata dan tas kameranya. Kacamata ketemu, tas kamera enggak. Kami belum berpikir aneh-aneh. Tenda robek kupikir mungkin karena angin. Aku membereskan tumpukan ransel, melipat sleeping bag, biasanya tas kamera nyelip-nyelip. 
Kang Maman terbangun mendengar kesibukan kami. "Nyari apa Mbak?" Tas kamera... "Si Any*ng...!!" (???) kenapa Kang Maman??? "Sumpah aing semalem ngadenge misting jatoh, trus bunyi cek..cek..cek.. kayak yang lagi ngerobek sesuatu tapi aing teu bisa bangun...! *&^@%$&## (baca: umpatan-umpatan bahasa Sunda Kang Maman yang tak bisa diterjemahkan)
Aku dan Mbak Aini masih husnuzhonsambil tetep beres-beres, ah mungkin cuma nyelip. Kang Maman udah panik. Lalu Bimo bilang, "Semalem inget nggak, jam 1-an ada bau aneh, bau apaan... trus ngga lama setelah itu kita pada ngantuk.. padahal sebelumnya udah niat mau ngeronda.. iya gue juga bener-bener pules ngga bisa bangun.." Anjir beneerr ieu mah, maling!
bongkar-bongkar
Okei, setelah bongkar semua, kami pun memastikan bahwa tas kamera itu benar-benar raib. Isinya lumayan, Canon D1100, ponsel Samsung, powerbank, dompet, dan ATM. Mbak Aini terlihat cukup santai, dia langsung nelepon bank untuk blokir ATM. Katanya, "Mungkin aku mau dapet sesuatu yang lebih daripada ini, hehehe..."
Kang Maman yang keselnya nggak ilang-ilang. Dia bilang, dari 4 kali dia naik Guntur, baru ini kejadian maling di puncak. Makanya dia shock. Niat banget anjiss, trek kayak gitu... ckckck... 
Pas lagi beres-beres, ada pendaki lain yang turun. Dia cerita, orang sebelahnya kehilangan kerir 80 L seisi-isinya! Sama, dengan kondisi tenda disobek. Apa-apaan! Gila banget. Pendaki dari Jakarta ini cerita, semalam dia bangun-bangun ada 2 orang asing di dalam tendanya. Pas ditanya, 2 orang itu ngaku pendaki yang kedinginan, karena tenda mereka frame-nya rusak (???) bingung kan. Masa iya selancang itu masuk-masuk tenda orang. 
Udah gitu yang cerita ini polos banget lagih. Dia ngga curiga sama sekali. "Anjiss eta maling ai maneeeehhh...!" Kang Maman emosi. Dasar orang Jakarta... teu ngartieun... cenah. Untung barang-barang mereka ngga ada yang hilang. Mungkin karena mereka keburu bangun, atau mungkin juga karena mereka emang ngga punya apa-apa, hahaha... Tapi itu bukti bahwa maling sini udah nekat banget sampe masuk tenda. 
Kang Maman cerita, beberapa minggu yang lalu bahkan ada pendaki yang turun cuma pake kolor. Dia ditodong pake golok. Nauzubillah. Tapi kejadian di puncak benar-benar baru kali ini. 
Ya sudahlah, kami ikhlaskan saja. Sebelum turun, sarapan dulu kali yaa. Mbak Aini tetap ceria bikinin kami oseng kembang kol dan jamur.
selama di gunung makan sehat banget
suka foto ini, pada ketawa :D
Kang Maman.. aku suka juga foto ini *eh :p
Pukul 11 siang, kami siap turun gunung. Ngga ke kawah ah, udah lemes. Hujan pula, angin kencang. Aku, kak Noni, dan mbak Aini nggak boleh bawa tas, karena kami harus konsen jaga keseimbangan pas turun. Lagi-lagi, dengkul harus bekerja keras jadi tumpuan saat menuruni lembah dengan kemiringan yang cukup ekstrim. Kerikil dan tanah yang basah membuat kami tak punya pilihan lagi selain sosorodotan.


kalau turun, pemandangannya menyenangkan :D

million dollar view
teler di tengah jalan
Intinya yah, perjalanan turun itu memang lebih cepet tapi nggak kalah capeknya... And again... kami menemukan banyak sekali sampah :(( Yusuf aja ngebawa satu trashbag dari atas, dan selama di jalan kami sesekali istirahat sambil ngeberesin atau ngebakar sampah orang... Kok pada jorok-jorok amat sih mendaki gunung teh...

Sesampainya di bawah, Mbak Aini langsung mendatangi rumah RW setempat untuk melaporkan kasus kehilangannya. And you know what... laporan kehilangan yang terakhir masuk adalah tahun 2010! Bu RW bilang, kabar pendaki kemalingan itu sudah sering terdengar tetapi nggak pernah ada yang melapor sehingga dia nggak bisa mendata. Too bad!

Walaupun bukan termasuk kawasan taman nasional, sebelum mendaki Gunung Guntur sebenarnya tetap harus melapor. Hanya saja, pos pendaftarannya ada di bawah, jauh sebelum penambangan pasir. Sedangkan kebanyakan pendaki biasanya menumpang truk pasir sampai ke atas. Mbak Aini titip pesan ke Bu RW agar menyediakan pos pendaftaran yang tak jauh dari tambang pasir, supaya semua yang naik tetap terdata. Karena kasus-kasus yang kami dengar dan alami sudah cukup parah sepertinya.

Si maling keenakan karena nggak pernah ada yang melapor, ia tetap leluasa melakukan aksinya. Pelajaran yah kawan, melapor itu penting, apalagi kaitannya dengan kasus kriminal. Walaupun barang kita yang hilang itu kecil kemungkinannya untuk kembali, yang penting ada data tertulis sehingga bisa jadi perhatian penting baik bagi aparat setempat, penduduk, maupun para pendaki.

Ternyata maling sekarang niat banget naik ke puncak gunung! Waspadalah, waspadalah, waspadalah!

Tim Guntur selow ceria yang membuat pendakian terasa sangat menyenangkan!

Selasa, 22 Oktober 2013

Balada Hidup Bersama


Semenjak tinggal di Jakarta, Lala, sahabatku, tinggal di apartemen. Lokasi apartemennya di Pondok Bambu, kebetulan nggak terlalu jauh dari kantorku. Aku pun sering main ke tempat Lala sepulang kerja kalau lagi males sendirian di kosan. Lalu kami menggalau bersama.

Di apartemen Lala ada 2 kamar tidur. Awalnya aku lebih suka tidur sama Lala sambil pillow talk sebelum bobo. Tapi Lala sukanya tidur pake AC, sedangkan aku paling nggak tahan tidur kedinginan. Kalau mulai kedinginan tidurku ngga tenang lalu suka ngusel-ngusel Lala mencari kehangatan, sampe pernah dia hampir jatuh dari tempat tidur gara-gara aku.

"Perang dingin" itu pun semakin menjadi-jadi. Jam 1 aku yang kedinginan bangun matiin AC. Jam 2 Lala yang kegerahan bangun nyalain AC. Jam 3 aku kedinginan lagi, matiin AC lagi, dan begitu seterusnya. Sampai akhirnya semalam, aku memutuskan pisah ranjang dari Lala. Aku tidur di kamar sebelah tanpa AC, melungker berkemul selimut tebal, sementara Lala bobo cantik di kamarnya dengan AC bersuhu 18 derajat celcius.

Pagi-pagi, kami masak buat bekal dibawa ke kantor. Rencana menu pagi ini adalah tumis sayur warna-warni. Putren, wortel, brokoli, tomat, tumis dengan bawang putih dan saus tiram. Aku biasa menumis dengan sedikit minyak, dan diprotes Lala, "Kok dikit banget Ken minyaknya?" Rupanya dia biasa masak dengan banyak minyak.

Aku biasanya menyukai sayur yang kriuk-kriuk setengah matang. Jadi aku masak sebentar, dengan api kecil dan sedikit air. Tapi di tengah-tengah, Lala menuangkan air dan bilang, "Biar cepet mateng, Ken."

Aku menghela nafas. Sesaat kami berpandangan, lalu ngakak berdua. Ternyata tidak mudah hidup bersama. Begitu banyak perbedaan pendapat yang berpotensi memicu pertengkaran. Lalaaaaa... Padahal kita udah lama kenal, sama-sama cewek pula, masih aja begini. Apa kabar berumah tangga sama suamiii...!

"Ya ampun Keeeenn... Bahkan semalem kita pisah ranjang cuma gara-gara AC!" Iyak, dan lo barusan bikin sayur tumis gue jadi kayak sop! Hahahaha...

Itu baru soal AC dan masakan. Belum lagi hal-hal sepele lainnya seperti nyalain/ matiin lampu kamar mandi, nyetel TV, ngelipet baju, naro sikat gigi, dan sebagainya. Nggak ada yang sampai bikin kami berantem sih, tapi ya jadi mikir aja gimana kalo sama orang lain.

Nggak mudah memang menyatukan dua kepala (atau lebih) di bawah satu atap. Gimana yah rasanya nanti setelah menikah, hidup sama lelaki pula, dengan segala kebiasaan-kebiasaan dan sifat mereka yang pastinya beda banget sama kita perempuan. Bukan sebulan-dua bulan, tapi seumur hidup!

Kuncinya mungkin sederhana, don't sweat small things laaah... Nggak perlu dimasukin pikiran, apalagi dikeselin sampe hati. Kalau ada perbedaan gitu, ketawain aja! Kayak aku sama Lala yang memang simple minded, sesama orang plegmatis, jadinya sama-sama woles tapi sekaligus sama-sama berantakan. Hihihi... 

Mempelajari karakter manusia itu menyenangkan! Seperti main game petualangan. Suka ada kejutan tak terduga. Bikin ketawa atau bikin kesel, itu kan tergantung gimana kita menyikapinya.

Hugs 'n kiss Lala!
 

Selasa, 01 Oktober 2013

Lagi-lagi Jogja, Kali Ini Ceritanya Berbeda

Dengan kondisi badan masih biru-biru usai body rafting kemarin, aku, Kak Noni dan Desma masih berhasrat melanjutkan perjalanan ke Jogja. Nanggung euy, udah di selatan. Sementara rombongan melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta, kami bertiga turun di terminal Banjar dan menunggu bus Mandala dengan tarif Rp75rb yang akan membawa kami ke Jogja.

Ternyataaaaa... sopir busnya gila! Ugal-ugalan! Tas-tas yang disimpan di atas pada berjatuhan menimpa kami saking itu si sopir berzig-zag serasa di sirkuit kali yak. Aku sampai SMS ke orang-orang terdekatku minta maaf kalau ada salah, dan mohon ditandai apabila terjadi sesuatu pada bus Mandala menuju Jogja, saya ada di sana TT__TT Awalnya aku woles berniat tidur sambil dengerin Jay-Z, gara-gara sopir yang sembarangan ini aku jadi inget mati. Playlist-ku pun kuganti dengan murottal, seengganya kalo gw mati husnul khotimah (. . .)

Ini pertama kali aku naik bus begini ke Jogja. Pengamen ngga henti-henti masuk (tapi dangdut tarling juga tetep disetel), sopir yang berasa punya nyawa 9, AC yang kurang optimal bercampur dengan bau Stella jeruk dan apeknya kursi... damn! You know that smell, right? Eh sudah mabuk, tertimpa tas pula... Apa-apaan banget...

Adzan maghrib berkumandang saat kami tiba di terminal Purwokerto. Bus kami parkir tepat di samping bus Super Eksekutif "Efisiensi" yang terlihat bagaikan surga dengan kursi lebar nan nyaman, seat 2-1. Tarifnya Rp50rb sampai Jogja. Kami yang udah kehilangan setengah nyawa dikocok-kocok 2,5 jam dalam bus Mandala pun tanpa pikir panjang langsung memutuskan hijrah.. ke penghidupan yang lebih baik.

selonjoran di bus Efisiensi seat 2-1

Di bus super nyaman itu kami mendapatkan snack, air mineral, fasilitas shuttle, dan.. lagu-lagu Mayangsari. Ahh.. kami pun bobo dengan pules.

Sampai di Jogja pukul 11 malam, kami dijemput Dimas temennya Desma. Dia mempersilakan kami nginep di rumahnya selama di Jogja. Senangnya dapat teman baru!



rumahnya Dimas vintage banget, suka!
Keesokan paginya begitu bangun tidur baru terasa badan remuk. Dimas ngetok-ngetok pintu kamar dan bertanya, "Mau kemana dulu hari ini?" Kami dengan wajah melas serempak menjawab: "Salon..." Jadilah pagi itu, sebelum ngapa-ngapain, Dimas mengantar kami full body treatment di Salon Azzahra Jogokaryan yang murah meriah, mbaknya ramah, dan pijatannya aaahhh... enaknyahh... Recommended!

Setelah segar, barulah kami melanglang buana Jogja, ke sana kemari senang sekali..


alun-alun, of course!

sok-sok intelek ke pasar buku

Taman Lampion
Happyyyyyy.....!

Malam minggu yang sempurna di Jogja.. sambil belanja, makan, dan ngeceng.. Besok paginya kami keliling lagi di Pasar Sunday Morning UGM. Tak lupa menyapa penjual es krim goreng yang terkenal itu, hihi...

Ahh.. too bad, emang yah kalo lagi enak-enakan gini waktu berjalan begitu cepat. Kereta ekonomi Progo yang akan membawa kami menuju Jakarta sudah menunggu pukul 16.00. Jujur, ini pertama kalinya aku naik kereta ekonomi, hihi.. Norak abeeesss.. Berkali-kali dikeplak kak Noni.

Misal saat aku bertanya, "Kak, ini tuh ngga ada bagasinya ya?" *plak! Juga saat orang yang duduk di depan kami datang. Aku yang udah beli nasi kotak jadi risih untuk makan. "Nanti aja deh kak, kalo dia turun.." Apa-apaaaaan mail...! Ya dia akan duduk di situ sampe mana tau, mungkin aja sampe Senen, lo mau makan kapan kalo nungguin dia pergi!" Ohh.. gitu yak.. *plak!

Juga saat mesen mi rebus dan ngga dateng-dateng, akhirnya Desma ngajak aku ke gerbong restorasi. Berjalan melangkahi orang-orang yang tidur bergelimpangan.. Bahkan ada yang tidur depan WC.. dan Desma bilang dulu tuh lebih parah daripada ini. Ngga bisa ngebayangin sih, tapi bersyukur aja. Begitu sampai di gerbong restorasi... glek! Kotor banget... dan... mi gue... dimasaknya kok... begitu amat yak... Desma ngikik. "Emang lo pikir gimana masaknya?" Ya gue kira udah ditempatin gitu dan kalau ada yang pesan tinggal diangetin di microwave. Terus aku dikeplak lagi *plak!

Aku sudah puluhan kali seumur hidup melakukan perjalanan ke Jogja. Toh kampung ibuku di sana. Tapi selama ini aku selalu melakukannya dalam 50 menit jalur udara. Ditinggal merem sebentar udah landing. Lalu dari bandara naik taksi. Iya, selalu begitu.

Dan pengalaman baru ini menunjukkanku begitu banyak hal. Mulai dari bis yang bikin aku inget mati.. pengamen perempuan yang membawa sound karaoke seberat 5 kg, dia lari-lari ngejar bis, lalu sambil nyanyi dicolek-colek kenek.. aku akhirnya melihat sendiri. Anak-anak perempuan yang bawa termos jual kopi di stasiun sampai dini hari.. Lalu orang yang bisa tidur mangap di depan toilet kereta api yang bau.. bergelimpangan pules di bawah kursi.. Betapa sempit duniamu selama ini, Ken.

Aku menganggap hidupku, juga perjalanan ke Jogja-ku selama ini biasa saja. Ke airport, naik pesawat bahkan bisa pilih mau duduk di mana, 50 menit lalu landing, terus naik taksi. Udah. Tidak ada yang istimewa. Namun setelah ini aku sadar, duh betapa aku kurang bersyukur.. Hal-hal yang seringkali lupa ku syukuri itu mungkin sangat mahal dan istimewa buat orang lain. Yang baru bisa mereka dapatkan setelah berusaha keras, sementara aku mendapatkannya sebagai sebuah fasilitas.

Sampai di stasiun Jatinegara pukul 00.30 malam, aku naik taksi sampai kosan. Alhamdulillah.. perjalanan ini mengingatkanku untuk banyak bersyukur. Terima kasih kak Noni dan Desma, aku sungguh senang ngebolang bersama kalian, my powerpuff girls!

Jadi, ke mana lagi kita bakal begajulan?


"I love travel because you may be uncomfortable, hungry, hot and sweaty, cold and shivering... but damn it, you will never be bored!" 
Tony Wheeler

Sabtu, 28 September 2013

Sekeping Surga di Green Canyon


"Kalau kamu percaya, niscaya terwujud."
Menyusuri keindahan Green Canyon di Pangandaran sudah lama masuk bucket list aku. And now I am here to make my dreams come true!! Aku akan body rafting di Green Canyon, horaaayy...! Bayangkan, menyusuri jeram Green Canyon sepanjang 5 km, bukan pakai perahu tapi pakai badan sendiri! Memacu adrenalin banget. This is one thing you should do before you die, really.
Pagi itu, Kamis 26 September 2013 setelah sarapan yang banyak, kami pun bersiap-siap menerjang arus Green Canyon *tsaaah. Sambil sedikit pemanasan, jangan lupa pasang peralatan keamanan. Helm, pengaman siku dan lutut, pelampung, juga sepatu sendal. Semuanya sudah disediakan sama penyelenggara, tinggal pakai saja. Ohya, titipkan juga kamera dan ponsel di kantung khusus kedap air yang dititipkan ke akang-akang pemandu. Jangan khawatir, nanti merekalah yang akan memotret untuk kita.
ready!
Briefing
Dari basecamp, kita masih harus naik mobil pick up menuju hulu sungai di atas. Lumayan, 30 menit dengan jalur yang ekstrim. Nggak nyangka, tempat wisata alam yang sudah terkenal sedunia ini belum didukung oleh infrastruktur yang aman dan nyaman bagi pengunjung.

Kondisi jalan menuju hulu cukup ekstrim
Ahh look at that green and clear water! Pengen nyemplung banget nggak sih! Memang waktu terbaik untuk mengunjungi Green Canyon adalah saat musim kemarau, Juli-September. Karena airnya tidak terlalu deras dan jernih kehijauan. Kalau musim hujan, sungai ini jadi keruh.
what a wonderful world...
Karena pakai pelampung, kita nggak perlu terlalu banyak buang energi untuk berenang. Kalau arus sedang tenang, santai aja telentang dan nikmati pemandangan... apalagi kalau kamu nggak pegang kamera, sudahlah lupakan semua beban sejenak, rekam baik-baik di memori semua lukisan Tuhan ini. Tetesan air dari bebatuan, kupu-kupu yang terbang melintasimu, dan jangan kaget kalo tiba-tiba lihat biawak nongkrong di pinggir sungai.. hihi. Masih asli ini teh.
 
 
 
 
 

Ohya, inilah sebabnya kenapa di Green Canyon cuma bisa body rafting, bukan rafting pake perahu... Kadang kita harus nyelip di antara bebatuan, atau bahkan berhenti berenang dan sedikit berjalan meniti batu yang licin. Kebayang kalau pake perahu, banyakan gotongnya kaleee...


 

Paket body rafting ini biayanya 1,2 juta per 5 orang. Ngga terlalu mahal menurutku, dibandingkan kemewahan alam yang ditawarkan. It’s a million dollar view! Mungkin di surga ada tempat seperti ini. Saking indahnya.
Eh, mumpung di Pangandaran, sekalian aja mampir ke Batu Karas dan Cagar Alam. Biar poll liburannya!

belajar surfing
main bola sore-sore di Batu Karas
naik perahu ke Cagar Alam


Badan sudah rontok, ternyata kami Powerpuff Girls belum puas liburan! Kami minta turun di terminal Banjar. Hah, mau kemana lagi kitaaa...?? Tunggu cerita berikutnya! ;)
Powerpuff Girls yang nggak ada capeknya!