Rabu, 26 Januari 2011

Nol Kilometer, Hidup Baru Saja Dimulai

Tiga minggu sudah aku absen mengisi blog ini. Selama itu juga aku absen menulis untuk diriku sendiri. Aku merindukan waktu dengan diriku sendiri. Membaca, menulis, berwisata, memotret... sudah lama sekali aku tak melakukannya. Mungkin memang sudah saatnya aku berhenti memikirkan kesenangan pribadi. Cukup sudah aku memperkaya diri sendiri dengan kebahagiaan, ilmu, pengalaman, dan waktu YANG HANYA UNTUK KUNIKMATI SENDIRI. Aku harus belajar untuk memaknai hidupku, tak hanya untukku sendiri, tapi juga untuk orang lain.

Bertahun-tahun aku hidup di zona aman dan nyaman, di lingkungan yang senantiasa menjauhkanku dari masalah. Bersama keluarga yang selalu melindungiku dari segala potensi bahaya. Di tengah teman-teman yang senantiasa mengajakku bersenang-senang, di kota Bandung yang indah, nyaman, dan tenang.

Tapi kini, aku baru saja memasuki dunia kerja. Dan kini aku tinggal di Jakarta. Oh meeeenn... this is the real life!

Di dunia kerja yang baru kujajaki ini, aku harus cepat beradaptasi dengan orang-orang baru, rutinitas baru, dan tentu saja budaya yang baru. Aku pun mulai mengenal persaingan. Untuk 2 minggu pertama, jujur saja, tidak mudah. Apalagi perempuan jadi minoritas di ruang kerjaku yang baru ini. Hanya ada 6 orang perempuan! Weww... Yang masih single dan klop denganku hanya satu orang, huks...!

Kantorku di Jakarta. Aku masih meliput di sekitaran Jakarta juga. Aku kos tak jauh dari kantor bersama salah seorang kawanku. Mau tak mau, aku harus memahami karakteristik kehidupan di Jakarta. Ritme yang cepat, dan cenderung keras. Beli apa-apa, mahal. Ke mana-mana, macet. Ketemu orang bertampang serius semua. Dan pengendara kendaraan bermotor juga sering tak ramah padaku yang memang setiap hari naik sepeda ke kantor. Mereka nyerempet-nyerempet, nggak ngasih jalan, atau ngomel-ngomel ketika aku nyebrang. Sering membuatku manyun.

Tapi yang bener-bener juara adalah ketika naik metromini dan kopaja. Kata Ricky Martin mah, “Livin' La Vida Loca” - living dangerously. Si Abang nyopir seenaknya, copet menghantui di mana-mana, polusi menerpa wajah kita, berdesakan, panas, macet, berisik... Pernah lho, palang kereta api sudah mau menutup, pertanda kereta api mau lewat, wussss....! Si Abang metromini dengan santainya menerobos palang itu. Aku menahan napas sambil nyebut “Astagfirullah...astagfirullah...” Atau sering juga, si Abang menyerobot motor, atau menyalip truk dari kiri, lalu “ciiiittt...” nge-rem mendadak dan langsung ngomel-ngomel sama pengendara sepeda motor atau sopir truk/mobil yang dia serobot. Sambil tak henti membunyikan klakson, dia teriak-teriak, dan tak jarang menyebut semua isi kebun binatang. Heboh. Padahal siapa yang salah dah? Ya ampun... aku istigfar lagi.

Mungkin bagi sebagian orang aku terdengar berlebihan ya ketika mengisahkan “the real life” versiku ini. Tapi beneran loh, bagiku ini adalah pengalaman baru. Meskipun aku lahir di Tangerang, sebuah kota industri yang tak jauh dari Jakarta, aku sangat jarang ke Jakarta. Kalaupun ke Jakarta, pasti naik mobil pribadi, duduk nyaman dengan keluarga. Tidak naik metromini, kopaja, atau bajaj. Kemudian aku menghabiskan 6 tahun masa remajaku di asrama. Makin menjauh dari Jakarta. Kuliah di Unpad, Bandung, waaahh... nyaman, tenang, kerjaanku bersenang-senang bersama teman-teman. Belanja, nongkrong, jalan-jalan, wisata kuliner, hihihi...

Tapi aku mulai sadar, kalau selama ini aku hidup di zona aman. Sangat aman. Aku mulai penasaran sama hidup yang sebenarnya. Makin banyak baca, banyak nonton TV, banyak berbagi... Aku mulai menelusuri tepian jalan, kolong jembatan, memperhatikan kehidupan di pinggir rel kereta, di bantaran sungai... Kuamati potret kehidupan mereka. Kehidupan yang ternyata, tidak selalu indah seperti yang aku alami selama ini.

Kupikir mulai saat ini, di tempat ini, aku akan memulai banyak hal baru dalam hidupku.

Senin, 17 Januari 2011

Wawancara dengan Todung Mulya Lubis, Ketua YLBHI terpilih

Pengacara kondang Todung Mulya Lubis baru saja terpilih sebagai pelaksana tugas Ketua Dewan Pembina YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia). Todung akan menempati posisi itu selama 6 bulan, sampai ketua definitif, Abdurrahman Saleh menyelesaikan tugasnya sebagai Dubes RI di Denmark, Juni mendatang.

Awalnya ia diminta untuk menjadi ketua definitif, namun ia menolak dengan alasan, ia masih punya banyak komitmen dengan pekerjaan lain, termasuk mengajar di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. “Saya tidak bisa hanya menyandang jabatan ketua, tanpa melakukan sesuatu. Saya akan merasa sangat berdosa, kepada diri sendiri, kepada organisasi, dan kepada masyarakat,” katanya.

Pria kelahiran Muara Botung, Tapanuli Selatan 61 tahun silam itu akhirnya menyanggupi menjadi Pelaksana Tugas Ketua Dewan Pembina YLBHI, untuk 6 bulan ke depan. Bagaimanapun, YLBHI pulalah yang membesarkan namanya. Todung melihat ada beberapa kendala YLBHI saat ini, di antaranya permasalahan minimnya sumber daya manusia, juga sumber dana.

Dalam masa jabatan yang singkat ini, ia sudah membuat sejumlah agenda perencanaan untuk mengembalikan vitalitas YLBHI. “Saya akan coba mengontak beberapa pihak yang mungkin bisa membantu memberikan dana buat LBH. Saya juga ingin mendorong LBH agar tetap menunjukkan sikap kritisnya terhadap isu-isu aktual,” ungkap pengacara yang dulu juga dikenal sebagai seniman ini.

Menyangkut permasalahan HAM di Indonesia, menurut Todung, ada dua wilayah yang penting untuk diintervensi oleh YLBHI. Yakni soal pelanggaran HAM di Papua dan permasalahan TKI yang tak kunjung usai. Namun tetap saja, Todung merasa perlu membicarakan semua persoalan YLBHI terlebih dahulu dengan LBH-LBH di daerah. “Saya nggak bisa mendikte apa-apa saja yang harus dilakukan LBH ke depan. Kita terlebih dahulu harus melakukan FGD (focus group discussion) dengan daerah-daerah untuk menentukan peta-peta masalah LBH,” katanya.

Todung mengaku akan berusaha seoptimal mungkin melaksanakan tugasnya, meskipun dalam masa jabatan yang amat singkat, dan di tengah-tengah kesibukannya. Namun Todung mengaku selalu menyempatkan diri untuk menulis catatan harian di sela-sela aktivitasnya yang padat. Tak lama lagi ia akan menerbitkan catatan hariannya selama tahun 2010 dalam bentuk buku. “Bagi saya, menulis itu sudah ritual harian,” katanya sambil tersenyum.

Berikut wawancara lengkap Ken Andari dari GATRA dengan Bang Mulya.

Tanggal 11 Januari lalu Anda terpilih secara aklamasi sebagai Pelaksana Tugas Dewan Pembina YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia). Anda hanya punya waktu 6 bulan untuk menjalankan tugas, di tengah kesibukan Anda. Bagaimana Anda melihat hal ini?
Pada awalnya saya diminta untuk menjadi ketua definitif. Dari sekian banyak yang hadir pada rapat itu, semua minta saya. Tapi komitmen (tanggung jawab,-pen) saya banyak sekali. Saya juga punya komitmen sebagai dosen di FH-UI, saya mengajar 3 kelas setiap semester. Saya juga punya kantor, yang membawahi sekitar 30-an advokat. Waktu saya sempit sekali. Jadi buat saya sulit, kalau saya diminta sebagai ketua definitif, selama 5 tahun. Saya tidak bisa hanya menyandang jabatan ketua, tanpa saya melakukan sesuatu, saya akan merasa sangaaat berdosa. Kepada diri sendiri, kepada organisasi, dan kepada masyarakat.

Akhirnya dalam rapat itu saya ungkapkan semuanya. Kemudian Adnan Buyung Nasution, yang juga hadir dalam rapat tersebut, menelepon mantan Jaksa Agung Abdurrahman Saleh (yang sekarang menjadi Dubes RI di Denmark). Ia bersedia menjadi ketua, tapi ia baru kembali ke tanah air sekitar Juni atau Juli. Seharusnya yang menjadi Pelaksana Tugas adalah Wakil Ketua kan, saudara Agus Parengkuan. Tapi entah mengapa, secara aklamasi, saya diminta untuk menjadi Plt.

Akhirnya sebagai bagian dari tanggung jawab saya kepada LBH, yang juga telah membesarkan saya, saya menerima jabatan ini walaupun hanya dalam waktu 6 bulan. Saya akan berusaha seoptimal mungkin.




Dahulu, semasa Orde Baru, YLBHI dikenal sebagai “lokomotif demokrasi” Indonesia, sekaligus “sekolah” bagi para tokoh hukum di negeri ini, termasuk Anda. Nah, bagaimana Anda melihat YLBHI saat ini? Apa saja yang harus dibenahi?
Saya masih ingat zaman Orde Baru, saya mulai dari bawah, sampai kemudian saya menjabat sebagai direktur LBH Jakarta, kemudian menjadi Ketua YLBHI tahun 1980-an. Memang pada saat itu YLBHI memainkan peran strategis, menangani kasus yang sifatnya struktural, yang sifatnya politis, dan ikut memberi warna bagi dunia hukum Indonesia, khususnya dalam bidang HAM. Kemudian merambah ke bidang good governance, gender, dan sebagainya.

Tapi pada waktu itu LSM tidak sebanyak sekarang. Seperti media, saya nggak tau sekarang berapa jumlahnya. LSM juga begitu. Ada LSM di Jakarta yang punya lingkup kerja nasional, ada juga LSM di daerah yang lingkupnya provinsi maupun kabupaten. Dan yang menarik, sekarang LSM semakin fokus. Misalnya, yang saya dirikan, CETRO (Center for Electoral Reform). Pusat reformasi pemilu. Hanya fokus itu saja, pemilu. Kemudian ICW, fokus di pemberantasan korupsi. Ada juga Kontras, yang fokus di HAM. LSM semakin banyak, dan mereka menangani hal-hal yang lebih spesifik.

Persoalan pada LBH adalah, LBH is too big. Ia punya cabang di banyak tempat. Kedua, LBH mau melakukan banyak hal, sedangkan sebetulnya sudah tidak bisa lagi LBH melakukan semuanya. Jadi di sinilah, kita harus melakukan REORIENTASI. Karena kenyataannya saat ini LBH tidak lagi punya kapasitas dan sumber daya untuk bisa menangani semuanya. Misalnya mau mengerjakan kasus korupsi, ICW jelas lebih siap. Kasus lingkungan hidup, sudah ada Walhi. Maka pada waktu saya diminta menjadi Plt, oke, mari kita buat dulu mapping (pemetaan) permasalahan di LBH.

Ketiga, sumber daya manusia di LBH sangat minimal. Dalam arti, mungkin orang-orang yang kita anggap punya visi dan komitmen di LBH, justru kemudian banyak yang masuk ke lembaga-lembaga tadi itu, yang lebih spesifik. Yang senang dengan perjuangan memberantas korupsi, gabung ke ICW. Yang peduli dengan lingkungan, gabung ke WALHI. Sehingga semakin sulit untuk merekrut tenaga-tenaga handal. Keempat, sumber dana yang sangat minim. Ketika saya ditunjuk sebagai Plt, saya diberikan laporan keuangan LBH. Saya lihat, wah...kok LBH miskin amat? Bagaimana bisa beroperasi, bagaimana bisa bekerja dengan baik, kalau dana minim begitu? Saya prihatin sekali.

Misalnya, kemarin saya ke Bandung, saya panggil kawan-kawan di LBH Bandung. Mereka tinggal 9 orang sekarang. Lawyer-nya 4 orang, yang aktif hanya 2. Padahal dulu semasa saya jadi Ketua LBH tahun 1980-an, LBH Bandung itu besar. Mungkin jumlah tenaganya ada 20 orang, dan bagus-bagus. Saat ini memang nggak ada dananya. Dan sekarang pun mereka hanya bisa fokus menangani 3 isu: kebebasan beragama, perburuhan, dan korupsi.

Memang ada stagnasi dalam LBH. Inilah yang harus dibangkitkan kembali. Dalam waktu dekat, saya akan membuat semacam pertemuan nasional LBH untuk mendengarkan mereka. Dan melihat apa yang harus kita lakukan untuk membangkitkan semangat mereka, supaya dapat kembali menjadi ujung tombak penegakan hukum dan keadilan Indonesia, terutama bagi masyarakat kecil.

Apa saja yang menjadi prioritas Anda dalam masa jabatan yang singkat ini?
Waktunya pendek sekali ya. Saya sudah coba merumuskan agenda untuk ke depan, dan mencoba mengontak beberapa pihak yang mungkin bisa membantu memberikan dana buat LBH. Mungkin ada funding lokal, atau mungkin kedutaan tertentu, yang punya anggaran untuk mendukung program-program LBH.

Kedua, saya ingin mendorong LBH agar tetap menunjukkan sikap kritisnya terhadap isu-isu aktual. Mungkin akan kita wujudkan dengan press briefing. Jadi kita merespons kepada wartawan tentang sikap LBH terhadap isu-isu tertentu. Misalnya kasus Gayus, yang saat ini kita lihat, tidak lagi membongkar mafia. Mafia hukum, mafia pajak, tidak tersentuh, kasusnya terus menerus dibelokkan. Buat saya, hal ini tidak bisa dibiarkan. Rakyat tidak bodoh kok.

Tentang penegakan HAM, apakah LBH juga akan memfokuskan kembali kasus-kasus HAM yang belum terselesaikan?
Ya, ada beberapa wilayah HAM yang sangat penting untuk diintervensi oleh LBH. Misalnya soal Papua. Ini serius, bukan hanya soal indisipliner tentara. Ini adalah persoalan bagaimana menghormati harkat dan martabat orang Papua sebagai manusia. Mereka nggak seharusnya diperlakukan tidak manusiawi. LBH harus menyampaikan pikiran dan pendapatnya kepada pemerintah, sebab tentu kita tidak mau Papua lepas dari Indonesia. Jangan sampai pengalaman kita dengan Timtim terulang.

Kemudian ada persoalan TKI. Memang kita nggak bisa menangani secara langsung, tapi kan ada Migrant Care. Tentu kita bisa mendorong Migrant Care dalam hal ini, kita bisa bicara dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Inilah hal-hal yang saya kira sangat mungkin kita lakukan. Dan saya yakin kita bisa. Kita harus memilih mana yang akan kita fokuskan.

Saya nggak bisa ya mendikte apa-apa saja yang harus dilakukan LBH ke depan. Karena ini harus bottom-up. Artinya kita terlebih dahulu harus melakukan FGD (focus group discussion) dengan daerah-daerah untuk menentukan peta-peta masalah LBH.

Di tengah-tengah kesibukan Bapak ini, apa masih sempat juga tulis puisi seperti dulu?
Ah... puisi sepertinya tidak lagi. Tapi saya selalu menulis catatan harian, sebentar lagi terbit. Catatan harian saya sepanjang tahun 2009, tunggu saja. Tidak semuanya ya, yang sudah diedit, itulah yang akan terbit. Yang tidak diedit, ya... saya simpan (tertawa). Karena menyangkut banyak nama. Apalagi itu juga kebanyakan interpretasi saya saja.

Selalu menyempatkan untuk menulis ya?
Oh ya, selalu. Bagi saya menulis itu penting. Sudah bagian dari ritual harian saya.

Anda dahulu dikenal sebagai seniman, yang kemudian terjun di ranah hukum. Apa sebetulnya yang menjadi benang merah antara dunia seni dan hukum?

Seni itu kan bukan hanya soal estetika, atau keindahan. Seni itu kan soal realisme. Seni bisa mengasah kepekaan kita sebagai manusia. Dan di ranah hukum, kita memperjuangkan keadilan bagi manusia. Itu benang merahnya.

Lagi sibuk apa?
Masih tetap mengajar, saya juga masih di kantor advokat saya. Dan yang lain-lain juga ya... tapi tetap setiap akhir pekan, sebisanya saya menghabiskan waktu bersama keluarga.

***

Komunitas Reptil-X: “Reptil ini Hewan Eksotis...”

Bagi sebagian orang, reptil seperti ular dan biawak mungkin dianggap sebagai hewan liar yang menakutkan. Tapi tidak bagi para anggota komunitas Reptil-X. Bagi Ibram (29), ketua komunitas tersebut, “Reptil adalah hewan eksotis.”

Hari itu, Minggu (16/1) anggota komunitas tersebut sedang berkumpul di rumah salah satu anggotanya, Koko. Mereka berbincang-bincang santai sambil membawa serta hewan kesayangan masing-masing. Ada biawak, tegu (sejenis iguana), dan berbagai jenis ular. Bagi orang yang belum terbiasa, tentu akan bergidik melihat begitu banyak reptil di dalam rumah. Tapi bagi mereka, ini lebih dari sekadar hobi. Mereka sudah begitu menyayangi dan mengagumi binatang-binatang melata ini.

Ya, komunitas Reptil-X adalah wadah bagi para pecinta hewan reptil. Anggota komunitas yang digagas sejak tahun 2005 ini sekarang sudah tersebar di berbagai kota di Indonesia, seperti Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, dan Bali. “Sekarang di Sumatera dan Kalimantan juga sudah mulai banyak yang bergabung,” kata Ibram. Bahkan sejak website reptilx.com diluncurkan pada tahun 2007, makin banyak pula orang yang tertarik bergabung menjadi anggota. “(Untuk jadi anggota) tidak harus punya reptil, siapapun yang tertarik dan membutuhkan informasi mengenai reptil, silakan bergabung,” kata Jojo, juru bicara komunitas.



Saat ini, anggota komunitas reptilX sudah mencapai hampir 7000 orang, berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan mancanegara, seperti Singapura dan Thailand. Tujuan utama dibentuknya komunitas ini adalah memberikan informasi kepada masyarakat luas tentang hewan reptil. “Masih ada pandangan negatif di masyarakat, bahwa reptil adalah hewan berbahaya, menakutkan, bahkan tak jarang dikaitkan dengan yang mistis-mistis gitu deh. Kita di sini berusaha memberikan informasi kepada masyarakat bahwa reptil adalah hewan eksotis, dan bisa juga jinak seperti ini,” kata Ibram, ketua komunitas Reptil-X sambil mengelus-elus seekor sanca bola dari Afrika yang bergelayut manja di lehernya.

Demi menghapus stigma negatif tentang reptil, komunitas ini menggelar berbagai kegiatan dalam rangka memperkenalkan reptil kepada masyarakat. Mereka kerap menggelar pameran, bazar, kontes reptil, serta berbagai kegiatan sosialisasi. Misalnya, mereka berkunjung ke sekolah-sekolah untuk mengenalkan hewan reptil sejak dini kepada anak-anak. Anak-anak tersebut diperbolehkan menyentuh, mengelus, bahkan menggendong ular atau iguana yang dibawa ke sekolah mereka. Mereka diajak untuk memahami, bahwa reptil bukanlah hewan menakutkan. Reptil sama seperti hewan lainnya, bisa dipelihara dan dijinakkan, bahkan harus dilestarikan.

Untuk mempererat relasi antar anggota komunitas, Reptil-X juga kerap mengadakan acara internal, seperti kontes reptil maupun lomba foto reptil. “Karena reptil ini punya kekhasan ya, di corak kulitnya. Ular, biawak, iguana, atau tokek, semua punya corak yang unik. Ketika kita bisa memotret dengan teknik yang bagus juga kan, keindahan corak reptil akan semakin terlihat,” jelas Ibram, ketika ditanya soal keistimewaan memotret reptil. Adapun untuk kontes, yang dinilai di antaranya kesehatan reptil, karakteristik (termasuk jinak-tidaknya reptil tersebut), ukuran, dan corak kulit.

Selain untuk memberikan informasi yang tepat tentang reptil kepada masyarakat, sebetulnya tujuan utama dibentuknya komunitas ini adalah untuk menjadi wadah berbagi informasi sesama penggemar reptil. “Sebetulnya orang ‘kan banyak yang pelihara reptil, baik itu kura-kura, ular, iguana, atau biawak. Tapi sebelum ada komunitas ini, mereka ‘kan kebanyakan mengurus sendiri aja di rumah. Kalau hewannya sakit, atau ganti kulit, bingung harus diapain. Nah, di komunitas inilah kita saling bagi info-info macam itu,” jelas Ibram.


Reptil unik hasil breeding
Di komunitas ini, para pemilik reptil juga bisa melakukan breeding (pengembangbiakan) hewan peliharaan mereka. “Misalnya ada yang punya ular jantan, tapi tidak punya yang betina, kan bisa tanya ke anak-anak sini, pasti banyak lah yang punya. Nanti dia bisa pilih, mau induk yang corak dan karakteristiknya seperti apa,” kata Ibram. Menurutnya, saat ini breeding reptil untuk mendapatkan corak kulit yang unik memang sedang tren di kalangan pecinta reptil.

Reptil yang saat ini sedang naik daun adalah sejenis tokek gurun, yang dikenal dengan nama Leopard Gecko. Tokek berukuran 20 cm ini memiliki corak kulit yang unik, ada yang bertotol mirip kulit macan (leopard), loreng bergaris, bahkan ada yang memiliki lebih dari satu warna. Misalnya, ada yang tubuhnya berwarna kuning dengan bintik hitam, namun ekornya berwarna keunguan. Atau ada juga yang seluruh tubuhnya berwarna kuning, namun keempat kakinya berwarna coklat. Semua adalah hasil breeding dengan indukan yang memiliki beragam warna. “Leopard gecko ini gampang sekali di-breeding. Usia 6-8 bulan sudah bisa kawin, dan satu kali pembuahan dia bisa mengeluarkan sepuluh telur. Dan hasilnya seperti ini,” kata Ibram sambil menunjukkan tokek warna-warni tersebut.

Ibram mengatakan, selama ini breeding reptil banyak dilakukan oleh orang luar negeri. Padahal tak jarang para hobbiers mancanegara itu pun mendapatkan indukan dari Indonesia. Menurutnya, Indonesia kaya akan beragam jenis fauna unik, termasuk reptil. Bahkan Indonesia punya banyak satwa endemik. Komunitas ini mengajak para anggotanya untuk melakukan breeding sendiri. “Artinya untuk mendapatkan reptil yang berkualitas nggak harus impor, dengan harga mahal. Malah kalau kita sudah bisa menghasilkan anakan yang berkualitas, kita bisa ekspor. Kemarin bahkan ada kawan di Jogja yang berhasil mengawinkan ular yang beda jenis, sanca dengan piton. Menghasilkan 10 anak, dan tiap ekornya sudah ada yang pesan dengan harga fantastis, Rp 25 juta per ekor. Bayangkan saja,” katanya.

Reptil memang tidak sulit dipelihara. Bahkan jika tahu cara memelihara dan mengembangbiakkan yang tepat, reptil bisa mendatangkan keuntungan. Lalu apa yang masih menjadi kesulitan hingga saat ini? “Pandangan negatif dari masyarakat tentang reptil itulah yang sangat kita sayangkan. Seringkali kalau melihat ular di rumah langsung dibunuh, bahkan dikaitkan dengan yang mistis-mistis. Padahal tidak harus dibunuh, asal kita tahu cara menangkap yang benar, ular atau reptil seperti apapun bisa ditangani,” kata Ibram.


Tanda Sayang
Ibram yang turut menggagas komunitas Reptil-X ini, sudah gemar memelihara reptil sejak masih duduk di bangku SMP. Reptil yang pertama kali ia pelihara adalah kura-kura. Mengapa kura-kura? “Karena untuk pemula, kura-kura memang yang paling mudah diizinin sama orang tua, haha...” ujar ayah satu anak ini sambil tertawa.

Setelah kura-kura, Ibram pun mulai tertarik dengan jenis reptil lainnya, termasuk ular. Ia terus menggeluti hobi ini dan memperbanyak koleksinya, sampai kemudian menggagas pembentukan komunitas reptil pada tahun 2005, bersama dua orang kawannya, Ais dan Hendri. Saat ini sudah berapa banyak koleksi yang ia miliki? Ibram mengernyitkan dahi, “Wah, berapa ya? Nggak tahu deh, banyak sekali, mungkin ratusan.”

Meski saat ini memiliki seorang putra yang baru berusia satu tahun, Ibram sama sekali tidak khawatir dengan banyaknya reptil yang ia pelihara di rumahnya. “Kebanyakan sudah saya pelihara sejak mereka masih bayi. Jadi walaupun sekarang sudah besar, mereka sudah sangat jinak.” Ia kemudian memperkenalkan Susi, seekor piton sebesar betis orang dewasa, dengan panjang lebih dari 2 meter. “Saya pelihara sejak bayi, saat ini usianya 3 tahun. Padahal rata-rata piton bisa hidup sampai dengan usia 20 tahun. Ini belum apa-apa, dia masih terus tumbuh,” katanya sambil menggendong Susi, yang beratnya sudah mencapai hampir 30 kilogram.

Menurutnya, memelihara reptil tidaklah sulit. Mereka cukup diberi makan tikus, marmut, atau ayam 1-2 kali setiap minggu. Reptil lebih menyukai mangsa yang masih hidup. Memelihara reptil juga tidak butuh banyak ruang, karena binatang melata ini tidak banyak bergerak. Cukup diletakkan di kotak-kotak kaca. Dan reptil umumnya berumur panjang, seperti Susi. Harga bayi reptil bervariasi, tergantung corak dan jenisnya. Ada yang hanya seharga 100 ribu rupiah, dan ada juga yang bernilai puluhan juta rupiah. “Misalnya kita beli bayi ular seharga ratusan ribu, kalau kita rawat dengan baik, ketika sudah besar harganya jadi berkali-kali lipat. Atau kalau kita kembangkan, kita breeding dengan corak yang lebih bagus, pasti harga bayinya bisa puluhan juta juga.”

Tetap saja bagi Ibram dan juga kawan-kawan komunitas Reptil-X lainnya, yang paling menarik dari reptil adalah eksotisme corak kulit binatang melata itu. “Keren lah,” katanya.

Apakah reptil-reptil itu sama sekali tidak berbahaya?

“Jarang di kita yang memelihara reptil beracun. Misalnya kobra, ya tidak banyak yang pelihara itu. Karena kita pelihara reptil untuk dinikmati coraknya, dan untuk dipegang seperti ini. Jadi kita lebih pilih yang jinak. Apalagi untuk yang sudah berkeluarga dan punya anak seperti saya, wah beresiko lah (memelihara reptil berbisa).”

Namun hewan tetaplah hewan, yang terkadang bisa bertingkah sangat agresif. Baskoro, salah satu anggota komunitas Reptil-X, menunjukkan bekas gigitan tegu di jari telunjuknya. “Lumayan lah, sempat dijahit juga,” katanya sambil tertawa. Ada pula lecet di lengannya, bekas cakar si tegu. Tapi itu semua sama sekali tidak mengurangi kecintaannya terhadap hewan melata ini. “Biasalah. Ini namanya tanda sayang, hahaha...” katanya, seraya mengelus tegu kesayangannya.

Selasa, 04 Januari 2011

Hijab, Jilbab, Kerudung, apapun namanya

Hari ini temenku ada yang baru aja melepaskan jilbabnya. Dia juga sebenarnya belum lama sih pakai jilbab, baru beberapa bulan. Dalam salah satu tulisannya, ia mengaku gagal menyiapkan diri dan hati untuk berjilbab. Saya pribadi sangat menghargai keberaniannya untuk mengikuti kata hatinya, dan keberaniannya dalam menghadapi pandangan orang setelah ia buka jilbab. Ya, tahu sendiri lah masyarakat kita macam apa. Sedikit-sedikit dikomentarin, sedikit-sedikit digosipin. Saya yakin, hampir setiap perempuan berjilbab pasti pernah merasakan keraguan, kejenuhan dalam memakai jilbab. Biar sedikit, tapi pasti pernah. Dan saya menghargai kawan saya ini dalam membuat keputusan yang berani.

Sebelum membicarakan jilbab lebih jauh, saya ingin menyamakan persepsi dulu. Jilbab yang saya maksud di sini adalah kain penutup kepala yang dikenakan perempuan muslimah. Banyak variasi mengenakan jilbab, tapi umumnya jilbab digunakan untuk menutupi rambut, kepala, dan diuraikan sampai menutupi leher dan dada. Bahasa islami-nya, menutup aurat.

Memang sebetulnya kalau mau benar-benar pakai jilbab, banyak konsekuensinya. Karena ketika kita sudah memakainya, jilbab itu secara otomatis menjadi identitas diri sebagai seorang muslimah. Tanpa lihat KTP, orang bisa tahu kita perempuan muslim hanya dengan melihat kita mengenakan jilbab. Dengan begitu, orang akan segera mengidentikkan kita dengan sifat-sifat dan perilaku islami. Misalnya, perempuan berjilbab tak lazim bicara atau ketawa keras-keras, perempuan berjilbab tidak pacaran, perempuan berjilbab tidak merokok, perempuan berjilbab rajin solat, dan begitu seterusnya.

Yah tidak salah juga sih pandangan seperti itu. Dan tidak salah juga orang yang mencoba mengenakan jilbab untuk meredam perilakunya yang selama ini mungkin dirasa kurang islami. Dengan mengenakan jilbab, ia merasa ada “polisi moral” yang secara tidak langsung melarangnya untuk melakukan hal-hal di luar batas keislaman.

Saya pikir ada dua pendapat perihal masalah pemakaian jilbab pada perempuan muslimah. Pertama, pendapat yang mengatakan, “Apa yang menghalangimu untuk segera berjilbab? Itu sudah tertulis jelas dalam Al-Qur’an sebagai perintah Allah untuk kaum perempuan. Pakai saja dulu, kalau sudah pakai jilbab, insya Allah kau akan diberikan kemudahan untuk mendapatkan hidayah (baca: memperbaiki perilaku, dari yang kurang islami menuju perilaku islami)...”

Kedua, pendapat yang mengatakan, “Kalau belum siap, lebih baik tidak usah memakai jilbab terlebih dahulu. Karena mengenakan jilbab sesungguhnya adalah sebuah keputusan besar, tidak bisa main-main. Sebelum mengenakan jilbab di kepala, lebih baik benahi dulu hati... Menjadi muslimah bukan hanya soal jilbab.”

Anda lebih setuju yang mana?

Menurut saya, pendapat pertama dapat menjurus kepada perilaku trial and error. Artinya, kita coba mengenakan jilbab dulu ah... eh tau-tau setelah beberapa bulan kita merasa tidak nyaman, lalu kita copot jilbab itu. Lalu, apa yang salah dengan trial dan error ini? Menurut saya pribadi, tidak ada. Tapi sekali lagi, seperti kata temen saya, “WE LIVE IN SOCIETY THAT HAVE STRONG OPINION ABOUT EVERYTHING”... Jadi yah, siap-siap aja sama omongan orang sekalinya kita udah lepas jilbab.

Saya lebih setuju dengan pendapat kedua. Karena bagi saya, menjadi muslimah bukan hanya soal mengenakan jilbab. Beberapa orang mengatakan kalau jilbab adalah budaya bangsa Arab, bukan perintah agama Islam. Bagi orang Melayu, penutup kepala perempuan lazim disebut kerudung. Itu loh, seperti yang dikenakan oleh Yenny Wahid. Menurut saya, yang dimaksud dengan menutup aurat pada perempuan bukan hanya dengan memakai pakaian yang tertutup rapat, dari kepala hingga kaki. Menutup aurat adalah menjaga diri. Ya menjaga perilaku, berbusana sewajarnya, bertutur kata santun... Hal-hal itu lebih penting daripada sekadar mengenakan penutup kepala. Jadi menurut saya, mau pakai jilbab atau kerudungkah, atau pashmina, atau nggak pakai penutup kepala apapun, selama seorang perempuan bisa menunjukkan sifat-sifat dan perilaku yang sesuai ajaran Rasulullah SAW dan bertindak sesuai petunjuk dari Allah SWT, ia tetap seorang muslimah. The straight to wear the hijab is first given from Allah, but after that you have to fight for yourself.

Nah loh... kalau Ken Andari sendiri bagaimana?

Habitus. Saya tidak ingin munafik. Dasarnya memang itu saja. Aturan => paksaan => kebiasaan. lalu jadi habitus. Tapi setelah beberapa tahun berlalu, apakah masih betah pakai jilbab? Well... sejujurnya sih saya bosan. Dan mulai mempertanyakan lagi, kenapa ya saya pakai jilbab? Haruskah saya pakai jilbab? Bolehkah saya buka jilbab?

Saat ini, saya sedang dalam tahap kebosanan itu. Namun hingga kini, toh saya masih mengenakan jilbab. Saya belum seberani teman saya tadi, yang begitu merasa terkekangnya sehingga ia benar-benar ingin lepas dari jilbabnya. Belum ada momentum yang memaksa saya bertindak demikian. Andai saja kau tahu rasanya pakai jilbab tanpa didasari oleh keputusan dan konsep diri yang matang. Mau dipakai, jenuh. Karena tidak didasari niat yang kuat di awalnya. Mau dilepas, canggung. Diri sendiri canggung (pengaruh kebiasaan berjilbab sebelumnya), orang lain pun akan canggung menerima kita setelah melepas jilbab nanti.

Jujur saja, saya sering iri lihat cewek-cewek yang bisa gaya macem-macem, lucu-lucu. Rambut dikuncir, dijepit, atau pakai topi, gonta-ganti model rambut... Pakai kaos/atasan berbagai model, pakai rok lucu-lucu, jeans, legging, stocking... yah pengen aja gitu sesekali bisa gaya seperti itu. Saya sampai pernah berujar, kalau nanti saya punya anak perempuan, saya nggak akan mengharuskan dia pakai jilbab kecuali sampai dia benar-benar yakin akan niatnya, dan tidak melepaskannya lagi. Saya pingin dandanin anak perempuan saya dengan pakaian lucu-lucu, rambut yang dikuncir, topi, rok warna-warni... hal-hal yang tidak pernah saya pakai di masa remaja saya.

Jadi di satu sisi sebenarnya saya jenuh pakai jilbab. Tapi di sisi lain, saya harus mengakui bahwa saya belum berani untuk melepasnya. Saya masih terus mencari cara agar saya tidak bosan terhadap jilbab saya. Saya ganti jins saya dengan rok panjang yang lucu-lucu dan warna-warni. Saya menambahkan aksesoris seperti syal atau selendang. Saya ganti jilbab dengan pashmina. Saya ubah cara saya mengenakan jilbab. Ya, mudah-mudahan saja tidak sampai melepas. Kalaupun suatu saat saya sampai pada titik di mana saya merasa harus lepas dari jilbab saya, pastilah itu sebuah keputusan yang besar. Keputusan yang pastinya telah saya pikirkan matang-matang. Tapi tidak untuk saat ini.