Senin, 28 Februari 2011

Bambang Pamungkas, Jago Lapangan yang Jago Menulis

Pesepakbola nasional Bambang Pamungkas adalah satu di antara sedikit atlet yang rajin menulis di situs pribadinya. Ia menuliskan apa saja, kegiatannya bersama tim nasional dan Persija, opininya tentang persepakbolaan Indonesia, hingga pengalaman-pengalaman pribadi. Dan rangkaian kata-katanya terjalin apik, kadang menyentuh. Tak heran semakin banyak orang mengagumi sosoknya, tak hanya sebagai pesepakbola handal, tetapi juga penulis yang memikat. Tentang ini Bepe merasa sedikit aneh. ”Merasa sedikit aneh memang ya. Karena sebenarnya tulisan saya biasa-biasa saja...” kata pria kelahiran Salatiga, 10 Agustus 1980 ini merendah.

Meski tulisannya enak dibaca, atlet yang akrab dipanggil Bepe ini mengaku awalnya menulis karena keterpaksaan. ”Sebagai pemain sepakbola saya dikenal jarang berbicara kepada media. Dengan menulis di website pribadi, saya dapat menyampaikan hal yang sebenar-benarnya mengenai diri saya,” tuturnya kepada Ken Andari dari GATRA.



Bepe mengaku, lewat tulisan ia dapat memotivasi diri sendiri, rekan-rekannya, dan juga masyarakat. Oleh karena itu ia tak segan meluangkan waktu di tengah kesibukan untuk menulis. Biasanya ia menulis saat waktu luang usai makan malam. ”Saya mencoba mengungkap sisi lain dari seorang atlet sepakbola di luar lapangan hijau,” tutur ayah dengan tiga putri ini.

Sebagai seorang yang aktif menulis, Bepe pun gemar membaca. Biasanya ia membaca biografi tokoh-tokoh dunia dan olahragawan. Buku yang gemar ia lahap di antaranya My Journey to Hell and Back (Paul Gascoigne), Penyambung Lidah Rakyat(Soekarno), The Naked Chef Series (Jamie Oliver), The Rebel Who Would Be King (Eric Cantona), dan As Bad As I Wanna Be(Denis Rodman).

Jika rekan timnas-nya ada yang tertarik menjadi bintang iklan dan sinetron, Bepe pun tak mau ketinggalan. Ia akan segera menerbitkan buku perdananya. Buku hasil adaptasi dari website pribadinya ini rencananya akan diluncurkan Maret mendatang. ”Ada beberapa tambahan tulisan yang sengaja saya simpan, terutama yang terjadi saat gelaran AFF 2010 lalu, dan itu mungkin menjadi poin terpenting,” ujarnya sedikit berpromosi.

Jangan-jangan Bepe punya ’ghost-writer’? Ditanya seperti itu, Bepe hanya tertawa. ”Andaikan saja memang demikian adanya, saya senang sekali, dengan begitu saya dapat berkonsentrasi pada hal-hal lain. Tapi sayang sekali hal itu tidak pernah ada.”

Kamis, 24 Februari 2011

Dampak Internet terhadap Komunikasi Pasien-Dokter

Saat ini, internet tak dapat disangkal lagi pengaruhnya bagi kehidupan masyarakat urban perkotaan. Sedikit banyak, internet telah memengaruhi, bahkan mengubah cara orang mencari dan berbagi informasi, serta berkomunikasi. Tak terkecuali dalam dunia kesehatan.

Sebuah survey independen yang dilakukan oleh perusahaan konsultan komunikasi IndoPacific Edelman setidaknya menunjukkan hal itu. Bekerja sama dengan Unit Riset dan Pelayanan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, survei yang melibatkan 300 dokter ini menunjukkan bahwa semenjak ada internet, 79% dokter memercayai mesin pencari untuk menemukan informasi yang spesifik. Bahkan 97% dokter merekomendasikan pula kepada pasien untuk mencari informasi melalui sumber online.

Internet juga diketahui telah mengubah kebiasaan para dokter dalam mencari dan berbagi informasi. Kebanyakan mengakses internet melalui mobile phone, maka aktivitas berinternet pun jadi semakin sering. Semenjak ada internet, 85% dokter menjadi lebih aktif mencari informasi, dan 70% dari mereka pun mengaku lebih aktif menyebarkan informasi. Meski begitu, sebagian dokter juga masih mempercayakan majalah, jurnal, dan seminar kedokteran untuk mendapatkan informasi yang lebih valid. Karena bagaimanapun, segala informasi yang didapatkan melalui internet masih harus dikaji validitasnya.



Direktur IndoPacific Edelman, Mayang Schreiber mengatakan, melalui survei ini terlihat internet telah memengaruhi pola komunikasi dokter-pasien. Faktanya sebanyak 85% dari dokter yang menjadi responden mengaku pasien-pasien mereka jadi semakin kritis dan banyak bertanya, terutama tentang info-info kesehatan yang mereka dapatkan dari internet. Bahkan 83% dokter mengatakan, pasien mereka mencari informasi lain untuk memvalidasi informasi yang ia berikan. “Mereka sadar kini harus lebih open minded, karena pasien pun jadi semakin kritis, semakin banyak bertanya. Pasien tidak lagi menganggap bahwa dokter selalu benar, dengan melakukan kroscek ke internet atas diagnosa dokter,” jelasnya.

Selain itu, kini para dokter mulai menyadari pentingnya edukasi kesehatan kepada pasien melalui internet, yang selama ini belum dilakukan secara maksimal. “Menurut mereka, edukasi kepada pasien tidak bisa hanya ditumpukan kepada mereka (para dokter). Butuh kerja sama dari banyak pihak. Jumlah dokter kan tidak sebanding dengan jumlah pasien,” Mayang menambahkan. Kerja sama itu bisa dari para penyedia jasa kesehatan, perusahaan-perusahaan yang menggunakan asuransi kesehatan, perusahaan-perusahaan farmasi, dan tentu saja partisipasi pemerintah sangat diharapkan dalam mengedukasi pasien menggunakan media internet.

Intinya, penelitian ini membuktikan bahwa dengan internet komunikasi dokter-pasien menjadi lebih intens. Pasien tidak hanya datang untuk meminta diagnosa dari dokter. Banyak pasien kini datang menemui dokter juga untuk bertanya, 'Dok, yang saya baca di internet seperti ini, bagaimana pendapat dokter? Apa informasi itu benar?' dan sebagainya. “Bahkan sebagian besar dokter juga menyatakan ingin dapat berkomunikasi dengan lebih baik kepada pasien,” tutur Mayang sambil tersenyum.

Mayang berharap, penelitian terkait penggunaan internet oleh dokter dan pasien ini dapat memberikan sumbangsih bagi dunia kesehatan modern. Bagaimana internet dengan sifatnya yang mudah dan murah untuk berbagai kalangan seharusnya bisa dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber informasi berkualitas bagi pasien. Sehingga ke depannya internet dapat dijadikan media untuk mengedukasi pasien, yang selama ini kebanyakan dilakukan dokter saja.

Ia mengakui, memang penelitian ini bukanlah penelitian yang 'wah' bagi dunia kesehatan. Namun ia meyakini komunikasi -sebagai bidang yang diteliti dalam survei praktisi kesehatan ini- merupakan hal mendasar yang dapat berdampak kepada kualitas pelayanan kesehatan. Mayang menjelaskan, "Komunikasi kesehatan yang efektif penting sekali untuk meningkatkan pemahaman pasien dan tingkat kesehatan di Indonesia. Penggunaan informasi dari internet oleh dokter dan pasien, juga bisa meminimalisasi malpraktek, baik dalam hal terapi maupun pemberian obat.”

Tak berhenti di situ saja, IndoPacific Edelman juga akan melakukan survei kepada pasien. “Tidak seperti survei praktisi kesehatan kemarin, kali ini kecil-kecilan saja. Hasilnya akan kami beritahukan kepada 40 dokter yang mengikuti pelatihan komunikasi, akhir pekan ini,” tutur Mayang. Ia menambahkan, “Kami harap hal ini bisa membuat sedikit perubahan. Satu orang dokter punya puluhan pasien, kalau ia tahu cara berkomunikasi pasien, mendorong pasien agar lebih bersemangat, tentu secara tak langsung ini dapat berdampak kepada kesehatan pasien.”

****

Ken Andari

Jumat, 18 Februari 2011

Khasiat Tanaman Sirsak untuk Kesehatan

Siapa tak kenal buah sirsak? Buah ini tampilan luarnya memang agak garang dengan duri-duri di kulitnya, namun soal rasa, hmm… segar luar biasa. Selama ini kita mengenal sirsak sebagai buah untuk dimakan atau dijus. Di balik rasanya yang manis-asam segar ternyata sirsak mengandung banyak zat yang amat baik bagi kesehatan tubuh.



Bahkan beberapa tahun terakhir, sirsak semakin hangat diperbincangkan sebagai obat anti kanker. Namun bukan buah segarnya yang dibicarakan, melainkan kandungan di dalam daun sirsak itu sendiri. Banyak testimoni dari orang-orang yang kerabatnya mengidap kanker. Mereka mengakui keampuhan si daun sirsak memberantas sel-sel kanker yang tumbuh di dalam tubuh. Benarkah daun sirsak ampuh membunuh sel kanker? Jika betul, tentu ini sebuah berita menggembirakan bagi para pengidap kanker, yang selama ini harus menderita ketika menjalani kemoterapi.

Menurut Prof. Dr. Sumali Wiryowidagdo, yang dikenal aktif meneliti kandungan obat-obat bahan alam, hal ini tetap harus dibuktikan secara ilmiah. “Harus ada penelitian lebih lanjut tentang daun sirsak. Saya sendiri hingga hari ini belum menemukan literatur yang memadai tentang khasiat daun sirsak sebagai anti-kanker,” jelas Sumali saat ditemui di ruang kerjanya di Pusat Studi Obat Bahan Alam (PSOBA) Departemen Farmasi, Fakultas MIPA UI.

Informasi tentang khasiat daun sirsak ini memang kebanyakan masih berupa testimoni-testimoni dari mereka yang mengaku sudah merasakan khasiat daun sirsak untuk berbagai penyakit, seperti kanker, jantung, lever, darah tinggi, asam urat, dan sebagainya.

“Inilah tantangan bagi kami, para peneliti untuk menemukan khasiat tanaman-tanaman sebagai obat. Harus diteliti lebih lanjut tentang khasiatnya, keamanannya, sampai kepada formula atau takaran dosis yang diperlukan,” kata Sumali.

Jika kelak sudah dapat dibuktikan khasiatnya secara ilmiah, selanjutnya industri farmasi dapat membuat obat daun sirsak ini dalam bentuk sirup, kapsul, agar lebih mudah digunakan. Ini memang kabar menggembirakan, namun Sumali menegaskan, penelitian tetap sangat penting dilakukan.

Namun menurutnya, perihal kandungan nutrisi yang ada di dalam buah sirsak, sudah tidak diragukan lagi. Buah yang dapat tumbuh baik di daerah tropis ini kaya akan asam-asam organik, seperti asam malat, dan asam sitrat, yang terbukti dapat menurunkan kadar asam urat. Sirsak juga kaya akan serat yang sangat baik untuk kesehatan pencernaan. Selain itu, sirsak diketahui mengandung senyawa sitotoksin, yaitu jenis senyawa racun yang dapat membunuh racun yang merugikan tubuh.

Kandungan yang paling banyak dalam buah sirsak adalah vitamin C. Dalam setiap 100 gr buah, terdapat 20 mg vitamin C, yang sangat dibutuhkan tubuh sebagai antioksidan. Antioksidan dapat menetralkan oksidator-oksidator (senyawa yang bersifat merusak) dalam tubuh kita, sehingga penuaan sel dapat dihambat. “Selain itu, buah ini kandungan lemaknya hampir-hampir tidak ada. Bagus sekali memang kandungan nutrisi sirsak,” tutur Sumali yang juga Guru Besar Farmasi di Universitas Indonesia ini.

Yang paling penting, anti oksidan ini juga dapat menetralkan zat-zat polutan yang bersifat merusak sel. Sering kita tidak menyadari zat polutan di debu, asap kendaraan, bahkan bahan-bahan tambahan dan racun yang masuk ke dalam tubuh kita melalui makanan. Misalnya pestisida, vetsin, bahan pewarna, dan bahan pengawet, yang justru sering secara sengaja kita tambahkan ke dalam makanan.

“Zat-zat polutan tersebut bersifat karsinogen, memicu tumbuhnya sel kanker. Sirsak dengan kandungan vitamin C dan antioksidan yang amat tinggi dapat menetralisir zat polutan, sekaligus mencegah tumbuhnya sel kanker di dalam tubuh kita,” jelas Sumali.

Berdasarkan penelitian, kandungan yang ada di dalam buah sirsak itu mampu menghambat, bahkan menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker. “Khasiatnya tidak instan, tentu saja harus dibarengi dengan pola hidup sehat,” tambahnya.

Menurut Sumali, pencegahan dan pengobatan dengan bahan-bahan alami jauh lebih baik dan minim efek samping bila dibandingkan dengan pengobatan yang menggunakan obat sintetik. Misalnya bagi penderita kanker, selama ini kita mengenal pengobatan dengan kemoterapi dan radiasi. Pengobatan seperti ini tidak hanya membunuh sel kanker, tapi juga mengganggu sel-sel normal, maka timbullah keluhan rambut rontok, kulit mengering, perut mual, dan sebagainya. “Itu ‘kan obat sintetik, maka seharusnya kemoterapi dan radiasi menjadi pilihan terakhir bagi penderita kanker. Selama bisa dengan obat bahan alam, itu lebih baik. Terutama untuk pencegahan,” katanya.

Di dalam sirsak memang terkandung acetogenin, yang diyakini mampu membunuh sel-sel kanker tanpa mengganggu sel-sel sehat dalam tubuh manusia. Sehingga dapat dikatakan aman dan minim efek samping.

Zat-zat dalam sirsak, sebagai obat bahan alam, memiliki efek samping yang lebih kecil daripada obat sintetik. Menurut Sumali, hal ini dapat terjadi karena khasiatnya merupakan resultante dari gabungan zat-zat di dalam buah tersebut. “Ada zat yang memperkuat, ada yang menetralisir, ada yang mengurangi. Mereka bersifat sinergis. Itu sifat alami dari bahan alam, dia punya berbagai senyawa kimia, semuanya berkhasiat, dan semua senyawa itu ada dalam satu jaringan, sehingga mudah bekerja sama dan tidak saling merusak,” jelasnya.

Bukan Hanya Sirsak
Indonesia sangat kaya akan jenis tanaman, dan banyak resep-resep pengobatan tradisional dan alami dari nenek moyang, yang setelah diujikan secara ilmiah, memang terbukti khasiatnya. “Bukan hanya sirsak, tanaman-tanaman seperti keladi tikus, akar kucing, mengkudu, dan mahkota dewa itu sudah terbukti khasiat-khasiatnya. Maka ketika ada informasi mengenai manfaat daun sirsak, itu menjadi tantangan bagi kami untuk bisa membuktikannya,” tutur Sumali.

Bahan-bahan alami di sekitar kita yang seringkali tidak kita hiraukan, ternyata memiliki beragam khasiat. Apalagi bahan-bahan tersebut lebih mudah dan lebih murah didapatkan, sehingga terjangkau oleh masyarakat luas. Menurut Sumali, masyarakat belum banyak tahu karena memang belum banyak diekspos oleh media. “Masyarakat masih banyak yang belum tahu, kehebatan obat-obat alami di sekitar kita. Inilah fungsi media, untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat,” harapnya.

Kamis, 17 Februari 2011

Penanganan terhadap Serangan Jantung Mendadak

Wafatnya Adjie Massaid beberapa hari yang lalu mengagetkan banyak orang. Betapa tidak, Adjie yang dikenal sebagai aktor dan politisi ini meninggal karena serangan jantung usai bermain sepakbola. Padahal usianya masih terbilang muda, 43 tahun. Ia juga dikenal sebagai orang yang sangat menjaga kesehatan dan rajin berolahraga.

Kejadian tersebut sekaligus membuat kita sadar dan waspada, betapa serangan jantung bisa menyerang siapa saja, dan kapan saja. Mungkin kita, atau orang-orang terdekat kita. Terutama bagi kita yang sudah memiliki faktor resiko tinggi terkena serangan jantung, misalnya obesitas, ada riwayat penyakit jantung di keluarga, pola hidup tidak sehat, dan malas berolahraga.

Menurut dr. Ugi Sugiri Sp. EM dari Medic-One, saat ini semua orang harus waspada akan penyakit jantung. “Dahulu memang berdasarkan hasil riset, usia 40 ke atas yang harus kita waspadai. Tapi belakangan, entah mengapa, batas usia itu semakin menurun hingga ke angka 35 tahun. Ya, ada kasus serangan jantung usia 35-40! Mungkin faktor gaya hidup atau apa, yang jelas kita semua sekarang harus lebih waspada,” jelasnya.

Ada tiga faktor umum yang menyebabkan seseorang terkena serangan jantung mendadak: makan berlebihan, udara yang dingin (sehingga pembuluh darah menyempit), dan peningkatan metabolisme tubuh, misalnya usai olahraga berat. “Biasanya hal-hal itulah yang memicu nyeri, atau bahkan serangan jantung,” tutur dokter Ugi.

Lalu bagaimana cara mendeteksi serangan jantung? Dokter spesialis penanganan keadaan darurat yang juga praktek di RS Fatmawati ini menjelaskan beberapa gejala awal. Pertama, nyeri dada, terutama dada sebelah kiri. Kemudian menjalar ke pundak, tangan, dan anggota tubuh lain. Badan lemas, dan nafas menjadi berat.

Jika hal itu terjadi, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk sedikit menolong penderita. (lebih jelasnya ada di lampiran file power point)
1. Istirahatkan, kurangi aktivitasnya. Jangan berikan makan atau minum, apalagi minum dingin
2. Posisikan duduk, posisi kepala lebih tinggi daripada dada.
3. Lepaskan ikatan yang menghalangi nafasnya, misalnya baju. Bimbing ia untuk mengatur nafas, usahakan dia menghirup sebanyak mungkin oksigen.
4. Berikan aspirin, yang berfungsi sebagai pengencer darah

Langkah-langkah di atas dilakukan terhadap penderita yang masih dalam keadaan sadar. “Yang penting, bagi penolong maupun yang ditolong, usahakan tenang. Kalau panik malah tidak ada yang bisa dilakukan, dan bisa semakin membahayakan penderita,” jelasnya. “Jangan diberikan aktivitas berlebih, lebih baik penderita diminta tenang, lalu lakukan langkah-langkah tadi sambil memanggil bantuan. Kalau dalam waktu 5 menit dia masih progresif atau bahkan (jantungnya) berhenti), baru dilakukan tindakan selanjutnya, yaitu Resusitasi Jantung-Paru (RJP).



RJP dilakukan ketika jantung atau nafas penderita sudah berhenti. Menurut dr Ugi, RJP termasuk ke dalam bantuan hidup dasar yang seharusnya semua orang bisa melakukan. “RJP ini tidak sulit dilakukan, tapi ini penting sekali. Ketika dilakukan dengan cepat dan tepat, bisa menyelamatkan nyawa orang lain. Harusnya semua orang bisa. Memang belum umum di negara kita, padahal kalau di luar negeri, semua orang sudah bisa melakukannya,” katanya.

Menurut Ugi, reaksi orang bisa berbeda-beda saat mendapatkan serangan jantung:
1. Ada yang nyeri, lemas dulu. Artinya ia masih dalam keadaan sadar
2. Ada yang pingsan sesaat karena rasa sakit, tapi kemudian bisa sadar lagi
3. Ada juga yang langsung tidak sadarkan diri, bahkan jantungnya berhenti mendadak.
Yang terakhir ini, diakui dr Ugi memang bisa berakibat fatal. “Jantung itu cepat sekali dropnya… jika kita bisa lakukan pertolongan yang tepat, cukup dalam waktu 4 menit, satu nyawa bisa diselamatkan. Itu jauh lebih penting daripada kita buru-buru, dalam keadaan panik semua, melarikan pasien ke rumah sakit. Ini malah bisa berbahaya bagi jantung pasien,” jelasnya.

Selasa, 08 Februari 2011

"The Indonesian Language"

Kapan pertama kali berbicara dalam bahasa Indonesia?
Kapan pertama kali belajar tatanan bahasa Indonesia (secara formal)?
Kapan pertama kali peduli/menaruh perhatian yang agak serius terhadap bahasa Indonesia?
Kapan pertama kali menyadari bahasa Indonesia sedang kritis?


Jawaban kita dari keempat pertanyaan di atas kemungkinan besar akan merujuk ke masa yang berbeda-beda. Satu, saya pertama kali bicara dalam bahasa Indonesia pada saat berumur 15 bulan. Saya mengucapkan kata “Ibu”. Dua, saya pertama kali belajar tatanan bahasa Indonesia secara formal pada saat saya duduk di kelas 1 SD, yaitu ketika saya mendapatkan mata pelajaran “Bahasa Indonesia”. Tiga, saya pertama kali peduli/menaruh perhatian yang agak serius terhadap bahasa Indonesia yaitu ketika saya sudah kuliah di Jurusan Jurnalistik Fikom Unpad. Saya ketemu seorang dosen mata kuliah penulisan yang selalu mengajak para mahasiswanya untuk kritis terhadap tatanan dan logika bahasa Indonesia. Empat, saya mulai prihatin dengan perilaku orang Indonesia terhadap bahasanya, ketika saya menonton pemilihan Puteri Indonesia 2010. Saat itu pemenangnya adalah seorang gadis berwajah indo yang terus menerus menggunakan bahasa asing ketika menjawab pertanyaan dari juri. Bahkan saya juga tidak yakin dia bisa lancar berbahasa Indonesia, karena dia selalu menggunakan bahasa Inggris dan Perancis. Saya heran, ini pemilihan Puteri Indonesia atau Miss England sih? Padahal banyak finalis lain yang mampu berbahasa Indonesia dengan lebih baik, dan dengan percaya diri menjawab pertanyaan juri dengan bahasa Indonesia yang apik. Aneh betul, apa jadinya kalau Puteri Indonesia tak lancar berbahasa Indonesia.

Bahkan Presiden Republik Indonesia menginggris-inggriskan pidatonya. Dua kali, saya ingat betul. Padahal seingat saya bapak yang satu ini pernah diberikan gelar sebagai salah satu tokoh berbahasa Indonesia terbaik. Terakhir pidato yang nginggris-nginggris itu adalah pada saat Hari Pers Nasional. Waktu itu saya nonton di kantor, ada celetukan salah seorang wartawan senior yang juga gregetan mendengarkan pidato pak presiden, "Ini bukan Hari Pers Nasional, tapi The National Press Day!" Lama-lama Penghargaan Adinegoro berubah jadi Adinegoro Press Award tuh, mirip-mirip sama nasib sebuah penghargaan sastra Indonesia yang terkena virus nginggris: Khatulistiwa Literary Award.

Alif Danya Munsyi pernah mengatakan, “Yang pertama kali mengajari masyarakat berbahasa Indonesia bukanlah sarjana bahasa, melainkan PERS!” Tapi coba kita cek nama-nama rubrik/program acara di media massa: Islam Digest, Headline News, Breaking News, Inside, Economic Challenge.... dan masih banyak lagi.

Dua hari yang lalu, saya membuat transkrip wawancara dengan salah seorang pejabat di Kemenbudpar soal (nyaris) tersingkirnya Pulau Komodo dari nominasi Tujuh Keajaiban Dunia yang baru. Berikut beberapa petikannya yang sempat membuat saya mengerutkan dahi (karena bahasa Indonesia yang belepotan, ditambah-tambahi dengan nginggris yang berlebihan):

“Jadi dalam persyaratan mereka untuk kita terpilih itu ada advisory meeting. Mereka untuk datang ke sini. Advisory itu mereka memberikan nasihat untuk promote Pulau Komodo, untuk apa saja yang bisa dan tidak bisa dilakukan, terutama untuk sponsor. Jadi ada advisory meeting, saya ingat sekali, di situ juga mereka menawarkan indonesia cocok untuk menjadi host country. Ya kita sebetulnya oke2 aja. Artinya masih dalam proses penjajakan, belum kita committed untuk seterusnya. Karena memang term of conditionnya juga belum terlalu clear. Lantas mereka menawarkan Indonesia untuk jadi host? No no... nggak bisa dong.

Kita bisa jadi pemenang, kita bisa menjadi di-list menjadi host country. Tapi kan, tergantung kondisinya. Sama aja lah, kayak biasanya kita ngundang orang. But that's not necessary. Kita inginnya sudah committed dalam bentuk legal binding lah. Jelas term of condition-nya.

March (maksudnya bulan Maret) tanggal 30, dia malah bilang license fee itu cuma 7. terus approximative untuk venue, indoor sama outdoor. Outdoor itu sekitar 10-20 an. Terus untuk lain-lain, cost of production, 15-20. In summary, indoor venue 20-30. yang outdoor venue, 40-45 juta US dolar. Itu berarti 10 license plus 35 untuk production sama ini, indoor-outdoor."


WADUH! Kalau pejabat Kemenbudpar saja sudah tidak percaya diri menggunakan bahasa Indonesia, lantas budaya macam apa yang mau dipromosikan? Sedangkan bahasa menunjukkan bangsa.

Kenapa sih, orang Indonesia seperti tidak bangga dengan bahasa nasionalnya? Agak heran.

Rabu, 02 Februari 2011

DNS Nawala, Pendekar Dunia Maya Indonesia

M. Yamin (46) terkaget-kaget saat mengetahui salah seorang putrinya yang masih kecil membuka laman situs porno di internet. “Ayah, ini apa?” Yamin pun bingung menjelaskan. Padahal anaknya ketika itu bermaksud mencari gambar tokoh kartun idolanya, tapi yang muncul di mesin pencari malah situs-situs dewasa. “Saya tidak bisa menerangkan, karena gambarnya ya... seperti itu. Nyesel sekali saya, karena trauma di anak itu cukup lama lho,” kata ayah dengan dua putri ini. Kejadian itu membuat Yamin yang juga pengurus AWARI (Asosiasi Warung Internet Indonesia) langsung berpikir keras, bagaimana caranya memblokir situs porno dan menjadikan internet bersih dan aman bagi anak-anak.

Yamin membagi kegelisahannya bersama tiga orang kawan sesama pengurus AWARI, yaitu Irwin Day (40), Bill Fridini (42), dan Aditantra Adiyoso (42). Dari perbincangan itulah tercetus ide membuat sebuah sistem DNS (domain name system) filtering yang dapat memblokir situs internet yang mengandung konten pornografi, perjudian, serta konten-konten berbahaya seperti malware, phishing (penyesatan), dan sejenisnya.
“Basic kita kan AWARI, memang kita adalah pengusaha warnet. Kita ingin menghapus stigma negatif orang tentang warnet. Dulu 'kan warnet dianggap tidak bersih, tempat akses situs porno, dan tidak aman dari malware, virus, phising, dan sebagainya. Kita ingin menghilangkan stigma seperti itu,” jelas Yamin yang kini menjabat sebagai Direktur Eksekutif Yayasan Nawala Nusantara.

Sebetulnya kalau hanya untuk warnet-warnet milik mereka, para pengurus AWARI tersebut bisa dengan mudah memblokir situs-situs dengan konten negatif di internet. Namun bagi mereka itu tidak cukup. Yamin dan kawan-kawan menginginkan sistem filtering yang mereka gunakan bisa dipakai juga di warnet seluruh Indonesia. “Bukan hanya di warnet, kita ingin layanan DNS filtering ini bisa digunakan secara luas dan gratis oleh lembaga, keluarga, atau siapapun yang ingin berinternet dengan bersih dan aman,” tambahnya.

Akhirnya pada tahun 2007, tercetuslah nama DNS Nawala. Nama “Nawala” sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, yang berarti “pesan yang baik”. Yamin menjelaskan, melalui Nawala ia ingin menyampaikan pesan untuk para pengakses situs-situs negatif, bahwa sebenarnya banyak situs lain yang lebih bermanfaat di internet. Yamin bersama ketiga kawannya pun didaulat untuk menjadi pengurus layanan cuma-cuma tersebut.



“Kantor kami sebetulnya masih numpang sama AWARI. Ya, di sinilah,” kata Yamin sambil menunjuk ke sekeliling. Sebuah ruangan berukuran sekitar 5x7 meter, yang dinding-dindingnya ditempeli poster-poster yang mendukung internet bersih. Lima unit komputer, sebuah server, dan tumpukan buku serta berbagai dokumen turut memenuhi ruangan tersebut. “Kami nggak setiap hari ketemu di sini. Kami kerjanya remote, ya namanya juga ngurus internet, kan bisa dari mana aja,” ujar Yamin.

Pasca Kedatangan RIM
Kendati ide awalnya hanyalah bentuk obligasi moral para pengusaha warnet, DNS Nawala kini semakin dikenal luas, terutama semenjak perusahaan Research in Motion (RIM) menggunakan layanan mereka untuk menyaring akses internet Blackberry di Indonesia. Diakui Deputi Humas Yayasan Nawala Nusantara, Irwin Day, ketika RIM menggunakan layanan DNS Nawala memang ada keuntungan, yakni nama Nawala yang semakin dikenal orang. Namun di sisi lain, masuknya jutaan pengguna Blackberry ke kanal data Nawala sedikit banyak berpotensi mengganggu kenyamanan pengguna lain.

“Analoginya, kita punya sebuah taman, ruang terbuka publik. Masyarakat luas, siapapun boleh main di taman kita, gratis. Tapi tiba-tiba ada sebuah geng yang anggotanya banyak ikutan masuk taman, dan “mendominasi” taman tersebut. Yang tadinya orang bisa jogging, bersepeda, sekarang tamannya jadi sempit dan dipenuhi orang. Sedikit banyak, kenyamanan pasti terganggu,” jelas Irwin.

Ia menambahkan, Nawala adalah sebuah layanan sosial yang dapat digunakan secara cuma-cuma oleh publik, dan sama sekali bukan lembaga yang mengejar keuntungan bisnis. Karenanya, Nawala tidak mengharapkan kompensasi dalam bentuk uang dari RIM. Lalu, yang diinginkan seperti apa? “Ya, Anda bikin taman sendiri dong, jangan pakai taman publik. Kalau Anda punya kepentingan, ya Anda beli server sendiri dong, jangan ganggu kanal untuk publik. Harusnya kan seperti itu, kalau memang dia (RIM) mau serius,” tukas Irwin.

Digunakan Hingga ke Luar Negeri
Halaman blokir DNS Nawala ternyata tak hanya muncul di Indonesia, melainkan juga di beberapa negara seperti Mesir, Aljazair, dan Tunisia. “Tapi belakangan ini suasana lagi genting, akses internet pun sempat mati di Mesir, jadi kanal kami memang sedang longgar,” kata Irwin.

Awalnya, para pengurus DNS Nawala hanya menitipkan ke kawan-kawan mereka yang berada di negara-negara tersebut, untuk menggunakan layanan DNS Nawala. Dan ternyata, DNS Nawala disukai oleh pengakses internet di negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim tersebut. Pemahaman mereka tentang konten negatif internet rupanya sama dengan batasan-batasan Nawala, yang berasal dari Indonesia. “Karakteristik kita dirasa cocok dengan mereka, seperti pornografi, judi, SARA, dan sebagainya,” kata Irwin.

Sebetulnya tak sedikit pula sistem DNS filtering buatan Eropa maupun Amerika Serikat, tapi toh belum tentu efektif digunakan di Indonesia dan negara-negara muslim. Sebabnya menurut Irwin, karakteristik pornografi orang Eropa dan Amerika berbeda dengan karakteristik pornografi yang ada dalam pikiran orang Indonesia.

“Misalnya begini, di Indonesia, lebih ngetop mana artis porno Jepang atau artis porno AS? Lebih ngetop Jepang kan? Misalnya kita pakai sistem filtering dari luar yang kebanyakan buatan US, padahal yang disenangi orang Indonesia adalah artis dan situs porno Asia. Apa yang diakses oleh masyarakat Amerika dan Eropa tidak sama dengan yang diakses oleh masyarakat Indonesia maupun Asia,” jelas Irwin panjang lebar.

Dengan jangkauan seluas itu, Yamin dan kawan-kawannya belum berniat untuk menjadikan layanan ini sebagai lahan bisnis mereka. Cukup dengan empat orang pengurus saja, DNS Nawala melayani pelanggannya di mana-mana. Namun mereka tidak bekerja sendirian. Secara informal, anggota komunitas Nawala adalah seluruh pengguna internet yang menginginkan internet bersih dan aman. Diakui Yamin, ada ratusan orang relawan yang setiap harinya membantu mengirimkan update. Relawan-relawan dari berbagai penjuru inilah yang membantu mereka mendapatkan update daftar situs-situs yang mengandung konten pornografi, judi, malware, dan phising yang harus diblokir (situs blacklist).

“Kita tidak hanya membuat sebuah sistem, tapi juga komunitas, lingkungan. Inilah nilai plus kita,” kata Yamin bangga.

Kerja Nawala memang bukan memblokir situs porno semata. Mereka juga kerap diundang untuk melakukan sosialisasi, pendidikan, dan seminar tentang mewujudkan internet bersih dan aman. Semua kegiatan tersebut didukung oleh dana yang berasal dari kantong-kantong pribadi para pengurusnya, serta donasi yang sifatnya tidak mengikat dari pihak-pihak yang peduli akan apa yang dilakukan Nawala selama ini. "Ada orang besar, ada orang kecil. Ada juga dari lembaga atau perusahaan tertentu, tapi masih ngantri! Mau bagaimana, kami ini rekening saja belum punya," ujar Yamin sambil tertawa.


Respon Negatif
Meski didirikan dengan tujuan positif, tak berarti jalan DNS Nawala lancar-lancar saja. Tak sedikit pula orang yang melayangkan protes gara-gara tak bisa lagi mengakses situs-situs tertentu yang diblokir Nawala. Hal itu terjadi lantaran banyak penyedia jasa internet (PJI) yang telah menggunakan pengaturan default DNS Nawala, namun tidak menyosialisasikan kebijakan tersebut kepada para pelanggannya.

“Para pengguna mereka, suka ataupun tidak suka, dipakein Nawala. Banyak yang protes, kenapa Nawala blokir-blokir situs ini, padahal saya nggak merasa pakai Nawala? Nah di sinilah ada yang miss dari para PJI tersebut, mereka tidak melakukan sosialisasi kepada pelanggannya, bahwa mereka telah menggunakan Nawala untuk memfilter situs-situs tertentu. Akhirnya, banyak pelanggan provider tersebut yang malah protes keras ke Nawala,” keluh Irwin. Padahal, lanjut Irwin, pada dasarnya penggunaan DNS Nawala bersifat optional, pilihan. Bisa juga digunakan secara mandatory, wajib. Namun diakuinya, penggunaan DNS Nawala secara mandatory kepada pelanggan PJI tertentu dapat menjadi masalah. “Sekarang ini sudah banyak yang protes keras ke Nawala. Bahkan ada juga yang mau menuntut.”

Tentang isu peretas yang katanya bisa menembus sistem DNS Nawala, Irwin menjawab ringan, “Isu itu sebenarnya lucu, karena DNS manapun punya potensi yang sama ditembus hacker,” katanya sambil tersenyum.

Apakah tidak terpikir untuk mengkomersialisasikan layanan ini? “Kita bicara di Indonesia ya. Kalau berbayar siapa yang mau pakai? Orang gratis aja masih banyak yang marah-marah kok!” seloroh Yamin, yang disambut tawa kawan-kawannya. Kita nggak mau terikat dengan company policy, biarlah kita tetap jadi layanan sosial. Kalau seperti ini kan, nothing to lose buat kita,” sambungnya.