Jumat, 24 Desember 2010

Teknologi

Semakin hari perkembangan teknologi, khususnya teknologi komunikasi makin pesat saja. Makin canggih, makin aneh, makin makin lah! Perkembangan yang amat pesat ini tentu amat berpengaruh bagi kehidupan, pergaulan, bahkan status sosial manusia. Misalnya, kalau setahun yang lalu blackberry (BB) belum terlalu booming, kini kalau nggak punya BB dianggap kurang oke. Kalau dua tahun lalu twitter itu bukan apa-apa, kini kalau ngggak twitteran sudah dianggap nggak gaul (padahal, sumpah, sampai sekarang saya nggak ngerti apa pentingnya twitteran). Ya... banyak lah bentuk kecanggihan teknologi lainnya yang sedikit banyak bisa memengaruhi gaya hidup dan pola bersosialisasi pada manusia.

Teknologi memang diciptakan untuk memudahkan atau meringankan pekerjaan manusia. Kalau konsep awalnya seperti itu, berarti sebetulnya kita (manusia) pun bisa hidup tanpa teknologi. Artinya ia bukanlah kebutuhan mendasar bagi manusia (ya iyalah). Tapi kemudian teknologi itu sendiri dapat menjadi bumerang jika sang manusia tidak bisa memanfaatkannya dengan baik dan bijak. Misalnya, manusia bisa jadi konsumtif sekali terhadap gadget-gadget dengan inovasi teknologi terbaru. Tiap ada yang lebih bagus, ganti ponsel. Tiap ada yang lebih canggih, ganti laptop. Daaaan...begitu seterusnya. Nah, kalau sudah begini kan, artinya perilaku si manusia itu sendiri yang malah dimanfaatkan oleh para produsen barang-barang itu.

Saya sendiri bukanlah seorang yang maniak gadget. Saya juga nggak update banget, nggak eksis banget dalam situs-situs jejaring sosial. Bukan karena saya nggak mampu beli, atau nggak gaoul, tapi ya... saya memang punya pertimbangan-pertimbangan tersendiri sebelum membeli suatu barang, atau sebelum memutuskan memasukkan informasi-informasi pribadi saya ke dalam suatu situs internet, yang saya sendiri tak pernah begitu paham sistemnya seperti apa. Yang jelas, saya ingin selalu berhati-hati.

Di balik gemerlap canggihnya teknologi, saya beberapa kali pernah mengalami hal yang dilematis, menyebalkan, ada juga yang membuat saya tersenyum pahit. Begini ceritanya.

Pada saat saya masih di semester 3 perkuliahan, saya mendapatkan mata kuliah Jurnalistik Foto. Kawan-kawan saya berbondong-bondong beli kamera Digital SLR. Macam-macam merknya. Mereka beli kamera yang harganya minimal 5 juta itu kayak beli kacang goreng aja, saya sampai melongo. Sementara saya cuma punya sebuah kamera saku digital biasa, merk Sony. Mupeng juga sih melihat kawan-kawan yang wara-wiri hunting foto dengan menggunakan kamera DSLR. Sedangkan saya? Hiks.

Sempat terpikir juga untuk minta dibelikan sama ortu. Kalau saya bilang, itu untuk kebutuhan mata kuliah Jurnalistik Foto, mereka pasti akan membelikan. Saya tahu itu, wong ortu saya juga nggak pelit kok sama anaknya. Tapi sebelum itu saya berpikir panjang, apakah saya benar-benar butuh kamera itu, atau sekadar kepengen? Saya harus bisa memikirkannya masak-masak, karena yang mau saya minta ini kamera seharga 7 jutaan, men! Bukan gorengan seribu tiga! Dan yang mau saya minta itu adalah sebuah gadget yang tergolong lebih canggih daripada kamera saku milik saya. Saya harus berpikir, apakah kelak saya akan bisa mengoperasikan semua fitur yang dimiliki kamera tersebut? Dan, apakah saya butuh dengan fitur-fitur canggih itu?

Setelah berpikir panjang, saya akhirnya meyakinkan diri, bahwa saya cuma kepengen, tapi belum butuh. Saya tidak yakin saya akan bisa mengoperasikan semua fitur canggih yang dimiliki kamera tersebut. Dan kalaupun bisa, saya tidak yakin akan bisa menggunakannya sesuai kebutuhan. Karena saya rasa, saya memang belum butuh pengaturan yang macem-macem kalau sekadar untuk foto-foto narsis, foto-foto pemandangan, atau foto-foto objek biasa. Sayang rasanya kamera secanggih dan semahal itu kalau tidak bisa digunakan secara optimal.

Lagi, saya berusaha meyakinkan diri bahwa fotografi bukan cuma tentang kamera yang keren, mahal, canggih, dan sebagainya. Masih banyak unsur dalam fotografi yang harus kita perhatikan: momen, komposisi, dan angle. Sebuah gambar harus punya cerita, cerita yang lebih banyak daripada kata-kata. Nah, tiga poin di atas lah yang paling menentukan. Kamera keren tapi nggak dapat momen yang cuma sepersekian detik, ya percuma. Kamera keren, tapi si pemotret nggak paham pengaturan komposisi dan angle, ya percuma juga. Okelah, kamera saya memang cuma 2 jutaan harganya, dan nggak keren-keren amat, cuma saya mau membuktikan bahwa saya bisa memahami teknik dan konsep fotografi.

Akhirnya, pada saat pengumpulan tugas, beberapa kali fotoku masuk kategori 5 foto terbaik versi dosen. Katanya, angle dan komposisinya pas. Foto yang mampu bercerita. Dia tanya, “Kamu pakai kamera apa?” kujawab, “Kamera Sony, Pak.” Ia bertanya lagi, “Digital SLR?” saya tersenyum, “Digital iya pak, SLR bukan. Cuma kamera saku biasa,” kataku sambil menunjukkan si kamera mungil itu. Dosenku tersenyum. Saya juga teringat pernah ikut kuliah jurnalistik foto bersama Arbain Rambey, mantan redaktur foto Kompas. Dia bilang, “Bagus-tidaknya suatu foto tidak terletak pada bagus-tidaknya kamera yang digunakan. Foto yang bagus itu konsepnya sudah ada dari sini,” katanya sambil menunjuk kepala. Kata-kata itu saya ingat terus.

Setelah semester 3 berakhir, mata kuliah jurnalistik foto pun usai. Beberapa kawan yang memang berminat fotografi masih tampak akrab dengan kameranya itu. Mereka hunting momen-momen bagus. Saya juga ikut senang melihat hasil-hasil fotonya. Tapi beberapa kawan lain, mulai terlihat meninggalkan kamera SLR mereka. Bahkan seorang kawan pernah bilang, sekarang kameranya jamuran di lemari. Ya ampuuun, kamera 7 jutaan itu? Hiks, sayang banget...

Itu cerita tentang kamera. Ada juga cerita lainnya, masih tentang kecanggihan teknologi. Kali ini agak menyebalkan. Tentang BB.

Beberapa hari yang lalu, pukul 9 pagi saya tiba di kampus. Ada kuliah. Saya biasa aja, wong yang saya tahu jadwalnya memang pukul 9 kok. sampai di depan ruangan, saya lihat pintu kelas sudah tertutup. Naluri, kawan saya, terlihat berdiri gelisah di depan pintu sambil mainin BB-nya. “Eh Ken, lo telat juga? Duh, gue telat bangun nih. Nggak boleh masuk.” Saya bingung, “Bukannya emang jadwalnya jam 9 ya?” Naluri bilang, “Enggak, semalam memang ada jarkom kok dari si ibu dosen via BBM (Blackberry Messenger), kalo hari ini masuk jam 8!” Whaaaat...?! BBM?! “Tapi gue nggak dapet jarkom!” saya mulai sewot. Ya iyalah, gue nggak punya BB! Nggak lama kemudian, Hani, Ami, Vinda, dan Agnes (semuanya adalah mahasiswa tanpa BB) datang dengan santai. “Tenang... masuknya jam 9 kan...” begitu mungkin mereka pikir.

Okelah, saya pikir, saya masih punya jatah bolos satu lagi untuk mata kuliah ini. eeeh nggak taunya, hari ini dihitung dua kali pertemuan, karena minggu depan nggak ada kuliah! Oh eff meeenn... jadilah saya dicoret dari mata kuliah itu karena absennya udah banyak banget. Kami masih mau coba ngomong sama dosen itu. Mudah-mudahan ia mau mengerti. Toh ini bukan salahku juga.

Jumat, 10 Desember 2010

Cinta Sehidup Semati Owa Jawa

Dalam hal percintaan, setiap manusia pasti menginginkan pasangan yang setia. Satu yang akan menemani hingga akhir hidupnya. Namun tahukah Anda, bahwa hewan juga bisa setia pada pasangannya? Meski dalam dunia fauna monogami bukanlah hal yang jamak, ada beberapa jenis hewan yang dikenal setia pada satu pasangan.

***

Pernahkah Anda mendengar kisah kesetiaan burung merpati? Burung cantik itu dikenal sebagai salah satu hewan yang monogami, yang hanya memiliki satu pasangan tetap sepanjang hidupnya. Tak heran jika merpati seringkali dijadikan simbol kasih sayang. Merpati juga diketahui memiliki ingatan yang sangat baik, ia tak akan lupa pada kekasihnya, pada rumahnya. Sejauh apapun terbang, ia akan kembali pulang. Jika Anda pernah mendengar ungkapan “janji merpati”, itu artinya janji yang akan selalu ditepati.

Indonesia telah lama dikenal sebagai surga bagi keanekaragaman hayati. Banyak fauna maupun flora endemik yang hanya terdapat di wilayah-wilayah tertentu di Indonesia. Pada tahun 2007, dalam buku laporan State of the World's Forests, FAO (Food and Agricultural Organization) juga menempatkan Indonesia di urutan ke-8 dari sepuluh negara dengan luas hutan alam terbesar di dunia.

Namun sayangnya, Indonesia juga termasuk negara berkembang yang laju kerusakan hutannya paling cepat hingga menduduki peringkat ke-2 di dunia. Sebuah prestasi yang tidak membanggakan tentunya, manakala kerusakan hutan mencapai 1,87 juta hektar dalam kurun waktu 2000 – 2005. Kementrian Kehutanan bahkan mencatat kerusakan hutan hingga 2009 mencapai lebih dari 1,08 juta hektar per tahunnya. Hal ini tentu saja menimbulkan berbagai ancaman lingkungan yang serius, seperti pemanasan global, bencana alam, serta kepunahan satwa-satwa endemik.

Salah satu contohnya adalah kisah tragis owa jawa. Primata endemik Pulau Jawa ini sekarang berada di ambang kepunahan lantaran ancaman deforestasi yang terus mendesak habitat mereka. Selain itu, kesetiaannya pada pasangan sekaligus menjadi salah satu penyebab hewan monogami ini terancam punah.


Owa jawa (Hylobates moloch) adalah jenis primata anggota suku Hylobatidae, yang merupakan salah satu hewan endemik Pulau Jawa. Saat ini populasi owa jawa hanya tinggal 1.000 – 2.000 ekor saja, itu pun kebanyakan hanya ditemukan di hutan lindung dan taman nasional, tempat di mana hanya sedikit hutan tersisa di Pulau Jawa. Padahal sejak tahun 1931, owa jawa telah dilindungi oleh Undang-undang Perlindungan Binatang Liar (Dierenbescherming-ordonnantie), namun tetap saja populasinya terus berkurang setiap tahun, bahkan kini terancam punah.

Daerah habitat owa jawa tersebar di hutan hujan tropis yang tersisa di Pulau Jawa bagian barat (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Taman Nasional Gunung Halimun Salak, dan Ujung Kulon) serta sedikit di Jawa bagian tengah (hutan Sokokembang). Owa jawa hidup bergelayutan di kanopi hutan, memakan buah-buahan, daun, bunga-bungaan, serta serangga hutan. Mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil, semacam keluarga inti yang terdiri dari sepasang owa jantan dan betina beserta satu atau dua anak mereka.

Wilayah teritorial sangat penting bagi sebuah kelompok owa jawa, karena area tempat mereka tinggal dan mencari makan berbatasan dengan kelompok owa yang lain. Di waktu-waktu tertentu, seperti saat pagi dan sore hari, owa betina akan mengeluarkan lengkingan suaranya yang khas untuk menandai wilayah teritorial keluarganya. Masing-masing kelompok akan mempertahankan wilayah teritorial mereka. Itulah sebabnya, deforestasi atau perusakan hutan oleh manusia menjadi salah satu ancaman utama bagi owa jawa. Habitat yang terus menerus terdesak akan membuat wilayah teritorial mereka menjadi semakin sempit.

Beberapa waktu yang lalu, dalam perjalanan turun dari puncak Gunung Gede menuju Cibodas, saya sempat melihat hewan ini bergelayutan di dahan-dahan tinggi sambil bernyanyi bersahutan dengan lengkingannya yang khas. Saya dan kawan-kawan pendaki lain melihat owa jawa tersebut tak lama usai melewati pos Kandang Badak, berarti kurang lebih di ketinggian 2000 mdpl. Padahal, habitat ideal owa jawa sebenarnya adalah di hutan dataran rendah, sekitar 600 mdpl. Tak heran jika kini habitatnya semakin terdesak mendekati puncak gunung, karena hutan dataran rendah di kaki gunung sudah dijadikan deretan vila-vila mewah milik orang kaya ibukota. Tak tersisa lagi tempat bagi sang primata.

Saat itu kami berhenti sejenak, terpaku menyaksikan hewan langka itu yang tampak cantik di habitat aslinya. Warnanya abu-abu keperakan, tidak memiliki ekor. Tangannya yang panjang dan kuat ia gunakan untuk berayun dari satu dahan ke dahan yang lain. Owa jawa ini tampak jauh lebih cantik daripada yang pernah saya lihat di pasar hewan ilegal. Saat itu saya melihat seekor owa jawa muda yang diletakkan di sebuah sangkar kecil. Ia meringkuk dan tampak tertekan. Menyedihkan sekali.


Berbagai usaha telah dilakukan untuk menyelamatkan owa jawa dari ancaman kepunahan. Salah satunya adalah dengan dibentuknya Pusat Rehabilitasi dan Penyelamatan Owa Jawa Bodogol di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango atau yang dikenal juga dengan Javan Gibbon Center (JGC) oleh Conservation International Indonesia. Di pusat rehabilitasi ini dipelihara sejumlah owa jawa yang didapat dari hasil sitaan perdagangan ilegal satwa liar. Owa-owa jawa yang diselamatkan kebanyakan masih dalam keadaan tertekan, dan di tempat inilah mereka direhabilitasi hingga siap dikembalikan ke habitat aslinya.

Langkah konservasi owa jawa tidaklah mudah, lantaran sifat hewan ini yang sangat sensitif. Owa jawa tidak akan dapat bertahan hidup di hutan tanpa pasangan. Hal ini terkait dengan proses perkawinan mereka yang monogami serta penentuan wilayah teritorial untuk kelompok (keluarga)-nya. Jadi satu hal penting yang dilakukan di pusat rehabilitasi ini adalah proses perjodohan antara owa jantan dan owa betina.

Semasa hidupnya, owa jawa hanya jatuh cinta satu kali, dan cinta itu akan menjadi cintanya sampai mati. Proses jatuh cintanya juga unik. Pertama-tama, owa jawa jantan akan mendekati owa jawa betina yang ia sukai. Sambil tetap menjaga jarak, mereka akan saling pandang. Jika owa betina juga menyukai sang jantan, ia akan menunggu sambil terus memandangi sang jantan. Sang jantan pun mendekat. Nah, sebagai tanda penerimaan cinta, owa betina kemudian akan menunggingkan bagian genitalnya di hadapan sang jantan. Dan jadilah cinta sehidup semati itu!

Masalahnya itu, cinta. Kalau tidak cinta, alih-alih menerima, owa betina malah bisa menyerang si jantan dan mengusirnya jauh-jauh. Kadang malah sampai owa jantannya cedera.

Setelah proses jatuh cinta tersebut, owa jawa akan jadi lebih aktif bergerak. Owa betina lebih sering bersuara untuk menandai wilayah bagi keluarga barunya. Layaknya pasangan setia, mereka akan banyak menghabiskan waktu bersama bergelantungan di atas pohon, saling mencari kutu, saling menggaruk, berpelukan, dan berpegangan tangan.

Jika sudah menemukan pasangan, barulah owa jawa akan dilepas ke alam bebas. Biasanya membutuhkan waktu 1 hingga 1,5 bulan bagi owa jawa untuk melewati proses karantina dan perjodohan di pusat rehabilitasi JGC, sebelum ia dapat dikembalikan ke habitat aslinya. Owa jawa akan dilepas berpasang-pasangan, dengan harapan mereka dapat melanjutkan berkembang biak di hutan tempat asalnya.

Sayangnya, owa jawa bukan termasuk satwa yang mudah berkembang biak. Seumur hidupnya –yang umumnya mencapai usia 20-30 tahun- owa betina hanya melahirkan 3-4 kali, dengan hanya satu bayi pada setiap kelahiran. Sang ibu akan menyusui anaknya sampai usia 18 bulan. Anaknya digendong dan dibawa bergelayutan ke mana-mana. Pada usia itu, anak owa jawa memang sedang lucu-lucunya, sehingga owa muda sering diburu untuk dijadikan hewan peliharaan. Tapi tahukah Anda, bahwa membunuh satu ekor owa berarti membunuh seluruh keluarganya?

Untuk mendapatkan owa jawa kecil yang lucu, pemburu biasanya akan menembak mati sang induk. Ketika sang induk terjatuh dari atas pohon, anaknya yang ketakutan masih menempel erat di dadanya. Pemburu akan mengambil anak itu, meninggalkan induknya… dan sang ayah. Tingkat stress owa jawa sangat tinggi. Ketika owa jantan ditinggal mati sang betina, ia akan kesepian dan tertekan. Tak lama setelah itu ia akan mati juga menyusul betinanya. Owa tidak dapat hidup tanpa pasangannya. Sementara si anak? Hampir dipastikan ia juga tak dapat hidup tanpa induknya.

Inilah kisah setia yang tragis itu. Membunuh satu ekor, berarti membunuh satu keluarga owa jawa. Perkembangbiakan yang lamban, tingkat stres yang tinggi, perburuan ilegal serta habitat yang terus terdesak, semua itu semakin mengancam populasi mereka di hutan-hutan. Padahal owa jawa memegang peranan penting bagi pelestarian hutan, terlebih bagi hutan yang kian sempit di Pulau Jawa. Mereka mampu menyebarkan biji-bijian melalui kotorannya.

Usaha penyelamatan owa jawa dari ancaman kepunahan tentu tak bisa dilakukan oleh JGC di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango saja. Setiap pihak harus bersinergi. Pemerintah harus menindak tegas pelaku pengrusakan hutan di habitat-habitat owa jawa serta para pelaku perdagangan hewan liar. Peraturan-peraturan yang sudah ada jangan sampai hanya menjadi slogan kosong belaka. Masyarakat juga harus diberikan pemahaman, bahwa hewan-hewan dilindungi, apalagi yang endemik dan terancam punah seperti owa jawa bukanlah hewan peliharaan. Mereka harus tetap dibiarkan hidup dan berkembang biak di alam bebas, untuk menjaga keseimbangan ekosistem hutan.

Saya merasa sangat beruntung masih sempat menyaksikan kera berbulu perak itu di habitat aslinya. Semoga saja itu bukan pertemuan terakhir. Owa jawa diprediksi akan punah dalam satu dekade ke depan, jika perburuan dan perusakan hutan terus terjadi di pulau Jawa. Jangan sampai owa jawa dan kesetiaannya kepada pasangan hanya menjadi kisah cinta tragis bagi anak cucu kita nanti. Semoga kelak mereka masih sempat menyaksikan primata cantik itu bergelantungan bebas di pucuk-pucuk tinggi Gede-Pangrango.