Minggu, 26 Oktober 2008

You C 1000

Seorang teman pernah bercerita tentang kejadian lucu yang ia alami gara-gara masalah pelafalan “You C 1000”. Suatu hari, ia sedang berada di rumahnya di Cimahi, dan ia ingin membeli minuman vitamin C, You C 1000. Ia pun pergi ke warung dekat rumahnya. Sesampainya di warung, ia berkata kepada si ibu penjaga warung, “Ibu punten, mau beli You C 1000 (baca: yu si wan tauzen), ada nggak?” Lalu sang ibu berkata, “Mangga Neng, sok ningali tah di handap,” ujarnya sambil menunjuk ke etalase tempat bedak dan berbagai alat kosmetik dagangannya dipajang. Teman saya heran, ia melihat ke etalase, tapi tentu saja minuman yang ia maksud tak ada di antara produk-produk kosmetik itu. “Nggak ada Bu…” ujarnya. Ibu itu lalu bertanya lagi, “Naon sih Neng?”, “You C 1000 Bu, botol koneng, alit, biasana mah dina kolkas eta Bu…” ujarnya sambil menunjuk sebuah lemari es tempat berbagai merk minuman dingin diletakkan. Ibu penjaga warung itu berpikir sebentar, lalu ia seperti baru menyadari sesuatu dan berseru, “Oooh …CE SAREBU, Neng? Aih, si Eneng mah yu-si yu-si naon…ibu teu ngarti! CE SAREBU, kitu Neng!” Teman saya hanya bisa bengong dan berpikir, “Kok jadi aku yang salah ya?”

Sop Paniki


Enam tahun yang lalu, saya dan keluarga berwisata ke Manado, Sulawesi Utara. Bukan hanya berwisata ke tempat-tempat indah seperti Danau Tondano dan Taman Laut Bunaken, kami juga gemar berwisata kuliner. Kami mencoba berbagai makanan khas Manado seperti bubur Manado, ikan cakalang, dodol gula aren, dan banyak lagi makanan yang belum pernah kami coba sebelumnya.

Hingga suatu hari kami melihat sebuah warung makan yang tidak terlalu besar namun sangat ramai pengunjungnya. Di depannya tertulis huruf besar-besar: “SEDIA SOP PANIKI”. Dan memang ternyata menu favorit disana adalah “Sop Paniki” tersebut. Dalam pikiran kami, jika pengunjungnya ramai, makanan disana pasti harganya terjangkau dan enak, khususnya “Sop Paniki” tadi, si menu favorit. Wah, kami semakin penasaran saja, seperti apa ya kira-kira “Sop Paniki” ini?

Dari luar, sudah tercium harum masakan yang menggoda selera, seperti aroma daging asap yang lezat. Karena penasaran, kami pun memutuskan untuk makan di warung ini. Kami baru akan masuk ketika saya iseng-iseng mengintip ke dapurnya (yang memang agak terbuka), dan saya melihat banyak kelelawar besar –beserta sayapnya- digantung di atas tungku api, dan beberapa warnanya sudah menjadi kemerahan setengah matang.

Astaga….ternyata inilah sumber aroma daging asap yang lezat itu! Wah, jangan-jangan “paniki” itu…..kelelawar! Berarti sop paniki itu adalah sop kelelawar?! Oh, tentu saja saya tidak mau makan kelelawar! Saya segera memberitahukan hal itu kepada ayah, beliau pun langsung menanyakan kepada pelayan disitu, apa benar “paniki” itu berarti kelelawar? Ia lalu membenarkan bahwa “paniki” dalam bahasa Manado berarti kelelawar. Nafsu makan kami lenyap seketika. Sejak itulah, kami lebih berhati-hati sebelum membeli makanan, khususnya di daerah yang bahasa dan kebudayaannya berbeda dengan kami orang Jawa.

Senin, 13 Oktober 2008

Si Cantik Asli Sumedang


Jatinangor, sebuah kota kecil di perbatasan Bandung-Sumedang yang kini mulai tumbuh menjadi sebuah “Kota Baru”. Dengan dibangunnya beberapa institusi perguruan tinggi di kota ini, banyak mahasiswa pendatang yang secara tidak langsung telah membawa arus modernisasi dari dari daerah asal mereka masing-masing. Namun siapa sangka di tengah arus modernisasi yang begitu keras menerpa Jatinangor, ternyata masih ada sekeping mitos rakyat yang masih sangat populer bagi penduduknya.

Siapa tak kenal Gunung Geulis? Gunung yang satu ini memang bisa dibilang trademark-nya kota Jatinangor. Memasuki Kecamatan Jatinangor, kita sudah disambut dengan hijaunya Gunung Geulis yang menjulang. Gunung ini memang merupakan puncak tertinggi di Kecamatan Jatinangor, yakni setinggi 1.281 m di atas permukaan laut, sehingga tak heran jika banyak mahasiswa yang kos di Jatinangor tertantang untuk mendakinya.

Konon, di puncak Gunung Geulis terdapat sebuah makam seorang wanita bernama Putri Geulis, yang konon merupakan wanita paling cantik pada masanya. Makam itu berada tepat di puncak gunung, dan dinaungi dua pohon besar yang bisa terlihat jelas dari kota Jatinangor. Ada yang mengatakan bahwa Putri Geulis adalah istri dari seorang prabu (raja) penguasa Jatinangor zaman dahulu kala. Sebenarnya nama aslinya bukan Putri Geulis, namun karena kecantikannya maka rakyat memanggilnya dengan julukan Putri Geulis, yang berarti „Putri Cantik“. Suatu saat, sang putri cantik meninggal dunia karena sakit yang tak kunjung sembuh. Sang Prabu sangat terpukul atas kepergian istri tercintanya. Karena cintanya yang begitu besar, ia ingin sang istri dimakamkan di tempat tertinggi di Jatinangor yaitu di puncak gunung. Kemudian Sang Prabu pun mengabadikan nama istrinya sebagai nama gunung tempat ia dimakamkan, maka jadilah gunung itu dinamai Gunung Geulis. Nama yang sangat sesuai dengan kecantikannya.

Dari kisah tersebut, bisa dikatakan bahwa Gunung Geulis ini merupakan simbol cinta kasih yang abadi, seperti halnya Taj Mahal di India. Menurut informasi yang kami dapatkan, ternyata banyak juga orang yang mendaki Gunung Geulis dan bersemedi di makam Putri Geulis untuk meminta jodoh. Mungkin hal ini juga berkaitan dengan cerita cinta Sang Prabu dengan Putri Geulis.

Seperti halnya mitos-mitos di daerah lain, mitos ini pun hanya berdasarkan cerita dari mulut ke mulut masyarakat Jatinangor, sehingga memang terdapat beberapa versi berbeda. Ada juga yang mengatakan bahwa itu merupakan makam seorang gadis cantik bernama Geulis yang meninggal karena diperkosa lalu dibunuh. Lain lagi yang dikatakan Mang Tukang Somay di POMA, ”Sebenernya saya gak begitu tahu tentang nama ’geulis’nya, tapi setahu saya memang ada makam disana, tapi makamnya Pangeran. Pangeran kayak Pangeran Diponegoro gitu lah, meninggalnya waktu zaman penjajahan Belanda,”

Apapun versi cerita yang beredar di masyarakat Jatinangor mengenai Gunung Geulis serta misteri makam di puncaknya, yang jelas ini merupakan suatu daya tarik tersendiri, berkaitan dengan kebudayaan dan pariwisata Kota Jatinangor. Sebenarnya gunung cantik ini sangat potensial dijadikan tujuan pariwisata. Apalagi ditambah dengan kisah Putri Geulis, yang bukan tak mungkin dapat membuat para wisatawan tertarik dan penasaran untuk mendakinya. Hendaknya pemerintah Sumedang dapat mencontek kesuksesan Gunung Tangkuban Parahu yang berhasil menarik minat wisatawan melalui legenda Sangkuriang-nya, atau Candi Prambanan di Jawa Tengah yang terkenal dengan kisah Roro Jonggrang-nya.

Gunung Geulis menawarkan sejuta pesona yang masih alami dan belum banyak terungkap. Tak ada salahnya bagi para mahasiswa pendatang yang bermukim di kaki gunung tersebut untuk sesekali menghilangkan kepenatan setelah seminggu penuh kuliah, dengan mendakinya. Apalgi rute pendakiannya pun terbilang mudah, cukup dengan mengikuti jalan setapak kita akan sampai tepat di puncaknya

Selama ini, sebagian besar mahasiswa selalu ke Bandung jika ingin melepas stres, padahal ke arah Sumedang –termasuk Gunung Geulis ini- juga tidak kalah menarik dengan Bandung. Justru di kota budaya ini kita bisa refreshing dan menemukan keindahan alam, yang memang sangat berbeda dengan hiruk-pikuk Bandung yang kini sudah menjelma menjadi kota metropolitan. (ken andari/berbagai sumber)