Selasa, 15 Maret 2016

Rahasia Perempuan

Tidak seperti laki2, perempuan cenderung tidak mengatakan secara gamblang tentang apa yang ia inginkan. Mereka ingin dimengerti, tapi tidak mau memberitahu, haha. Lebih dari itu, perempuan menyimpan banyak rahasia. Ingat kata Rose, "Hati perempuan sedalam samudera."

1. Perempuan adalah makhluk pendengar. Mereka sangat suka mendengar pujian. Walau setelahnya mereka berkata ketus, "Gombal!" tapi sesungguhnya hatinya berbunga-bunga.
2. Jauh di lubuk hatinya, perempuan sebenarnya sering berharap pasangannya lebih dulu berinisiatif dalam segala hal.
3. Ya, perempuan memang pencemburu. Namun tahukah kamu, ia tidak selalu cemburu pada perempuan lain. Ia lebih sering cemburu pada waktu dan prioritasmu untuk hal2 lain ketimbang dirinya.
4. Perempuan selalu ingin dibujuk ketika marah dan ingin pasangannya yang minta maaf lebih dulu (tak peduli siapa yang sebenarnya salah, hehe)
5. Ketika pasangannya tidak jujur atau menyimpan masalah, perempuan dapat segera mengetahuinya hanya dari nada bicara, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh.
6. Perempuan kadang hanya perlu bicara panjang lebar mengeluarkan unek2 dan ia tidak sedang meminta solusi. Dengarkan saja, berikan saran hanya jika dia meminta.
7. Perempuan tidak selalu berharap hadiah mahal. Ia lebih menyukai kejutan kecil, seperti sepotong kue coklat istimewa yang kamu bawakan sepulang kerja, atau sekuntum bunga yang kamu letakkan di samping bantalnya.
8. Kalau kamu pikir perempuan hanya suka laki2 berwajah ganteng, bertubuh atletis, kamu salah. Itu terlalu general. Sebenarnya wahai lelaki, perempuan menyukai hal2 kecil yang tidak kamu sadari seperti bulu matamu, lekukan bibir atasmu, tulang selangkamu, aroma keringatmu, bahkan mungkin perut buncitmu.
9. Diam-diam, perempuan masih suka kepoin mantan. Ya mantan kamu, ya mantan dia.
10. Jangan suka geer karena faktanya perempuan lebih sering memikirkan makanan daripada memikirkan laki-laki.

Jumat, 11 Maret 2016

Minimalist Living

Suatu ketika, temen2 main ke kontrakanku. Aku menyajikan minuman. Eh gelasnya kurang. Kucuci dulu deh gelas kotornya. Piring juga. Kak Noni komentar. "Lo punya brp gelas dan piring sih Ken?" Mmm... Piring ada 4. Mangkok 4. Gelas 6. "Panci, wajan, kukusan, teflon?" Masing2 satu berdasarkan fungsinya "Kok bisa siiiihhh..."

Aku terbiasa hidup berpindah2. Dulu waktu mondok, kami rutin pindah kamar tiap semester. Supaya bisa bersosialisasi. Lalu kuliah aku ngekos. Kerja, ngekos lagi. Setelah nikah, ngontrak rumah. Makanya aku males punya barang banyak. Ribet pindahannya! Kalo barang dikit kan ringkes. Paling 1-2 kali balik juga kelar beresin.

Setelah menikah pun demikian. Di kontrakan, kami cuma punya karpet, kasur, gantungan baju, rak, dan lemari laci kecil. Yang gede paling kulkas aja. Aku demen banget sama furnitur yang foldable atau inflatable. Seandainya aja mesin cuci gue bisa dilipet atau dikempesin. Aku seneng aja kalau rumah tampak luas dengan sedikit barang. Bayiku pun puas mengeksplorasi setiap sudut rumah, dengan aman.

Kamu tau kan modelnya rumah orang Jepang? Rumahnya Nobita. Gak ada barang2 apapun yang tinggu menjulang. Sebab orang Jepang punya filosofi, di dalam rumah, bangunan paling tinggi yang dilihat anak adalah ibunya.

That's what we call "minimalist living to maximize your life".

Sederhananya, minimalist living adalah hidup dengan lebih sedikit barang dan lebih banyak ruang. Dan ini bukan cuma soal penataan rumah. Ada ide besar di baliknya.

Pertama, tentang menolak konsumerisme. Kalau punya uang, manusia tuh bisa jadi konsumtif banget. Mariah Carey punya 5000 pasang sepatu di rumahnya. Apakah itu semua bakal dia pakai terus seumur hidupnya? Belum tentu. Paling dipake sekali2 lalu dipajang doang. Apa ada manfaatnya? Gak ada. Minimalist living berarti kita berpikir sebelum membeli, apakah benda ini benar2 kita butuhkan? Kalau kita membeli yang baru, yang lama akan dikemanakan?

Kedua, hidup minimalis berarti kita berkomitmen mengurangi sampah dengan HANYA membeli apa yang kita BUTUHKAN. Seringkali kita membeli barang2 yang tidak kita butuhkan, yang di kemudian hari akan berujung menjadi sampah. Karena semakin banyak kita membeli/konsumsi = semakin banyak kita menghasilkan sampah. Ketika kamu membeli dan terus membeli baju, ada yang lucu beli lagi, ada model terbaru beli lagi, dst, lama kelamaan baju akan menumpuk di lemarimu. Sampai bertahun2 lamanya, kamu bongkar2 lemari dan bilang, "Ini kan baju lama, kapan ya gue belinya? Jadul banget modelnya. Udah gamuat pula." Then? Pasti kamu buang. Belum lagi barang2 yang rusak, kotor, males merawatnya, pasti ujung2nya buang. Kamu menghasilkan banyak sekali sampah.

Terus gini. Kalau kamu punya banyak sendok, udh gak muat di tempat sendok yang sekarang, lalu kamu merasa harus beli tempat sendok/organizer baru untuk menampung sendok-sendokmu. Itu salah. Yang harus kamu lakukan adalah menyingkirkan sebagian sendok itu supaya muat di tempatnya yang sekarang, bukan beli tempat baru.

Ketiga, kamu bisa mengalihkan energi, pikiran, dan budgetmu untuk hal lain yang lebih bermanfaat. Mark Zuckerberg suatu ketika pernah ditanya, kenapa sih kamu make kaos abu2 yang itu ituuu melulu. Padahal kan situ orang kaya, emang gada duit buat beli baju?

"I really want to clear my life so that I have to make as few decisions as possible about anything, except how to best serve this community," kata Mark. Daripada setiap mau tidur sibuk mikirin, "Emm besok pake baju apa ya, eh iya besok mau pake sepatu yg itu tapi lupa naro dimana... Besok juga ada midnight sale di xxx gue dateng gak yah," pehlis deh lebih baik dia mengalokasikan energi, pikiran, dan budgetnya untuk hal lain yang lebih bermanfaat toh.

Itulah sebabnya, menuju poin keempat, kita belajar untuk memilih barang. Buy less choose well. Beli secukupnya, barang yang berkualitas, awet, dan tampak bagus. Itu lebih baik daripada kita beli barang murahan yang gak awet dan memaksa kita untuk gonta-ganti.

Kelima, kita belajar untuk tidak menunda2 pekerjaan. Aku cuma punya satu wajan. Mau goreng ikan, eh tapi wajannya kotor masih ada minyak bekas goreng pisang. Ya cuci dulu! Coba seandainya aku punya 3 wajan. Mungkin aku akan ambil wajan lain yang bersih. Sampai semua wajan kotor baru akan kucuci. Dampaknya? Cucian piring tampak menggunung, males ngeliat, males ngerjain, ditunda2, rumah berantakan.

Nah kalau rumah udah berantakan lebih mumet lagi bawaannya. Males ngapa2in bahkan males beresin karena seringkali hopeless mau mulai dari mana. Ya kan?

Yuk, mulai tata kembali tempat tinggal kita supaya ia bisa berfungsi sebagaimana mestinya, menjadi tempat istirahat yang nyaman, bukan berantakan. Bagaimana memulai minimalist living?

*) Siapkan sejumlah kardus besar untuk menampung barang2 yang akan kau singkirkan.
*) Mulailah beres2. Singkirkan benda yang sudah lama tidak kau gunakan, atau tidak akan kau gunakan lagi. Baju n jeans waktu SMA, bhay! Foto n surat2 dari mantan pacar, bhay! Katalog produk MLM, bhay! Kaset en dvd jadul, bhay! Pilah setiap benda berdasarkan jenisnya supaya enak kalau mau diberikan ke orang lain. Kuatkan mental, jangan sayang2, ingat, hanya simpan benda yang kamu butuhkan.
*) Ajak anak untuk memilah mainannya juga. Misal, berikan ia satu box besar sebagai tempat mainan. Katakan, "Ini tempat mainanmu. Tidak boleh lebih dari ini. Kalau kamu beli mainan baru dan gamuat di box, berarti harus ada mainan lama yang disingkirkan.
*) Kamu akan kaget betapa selama ini kamu hidup di tengah2 sampah, di antara tumpukan barang yang tidak kamu butuhkan. And now see, how much space you have!
*) Panggil pemulung atau tukang barang rongsok, tawarkan apakah mereka mau mengambil barang2mu. Jangan dibuang begitu saja di tempat sampah ya. Tawarkan ke pemulung, maukah mereka menerima barang2 bekas ini.
*) Tata lagi ruang2 yang tersisa di dalam rumah, dan nikmati hidup yang terasa lebih nyaman dan legaaaaa...

Minimalist living, maximize your life!

Rabu, 09 Maret 2016

ASI-ku kok nggak keluar?

"Usia kehamilanku sudah 38 minggu, tapi kok ASI-ku belum keluar ya? Nanti kalo setelah melahirkan ASI-ku nggak keluar gimana?"

Kekhawatiran seperti ini banyak sekali melandan para calon ibu atau ibu yang baru melahirkan. Kekhawatiran ini sebagian besar tidak berdasar, malah bisa memicu stres yang menghambat produksi ASI.

Banyak ibu baru melahirkan yang saking cemas takut tidak bisa memberikan ASI untuk anaknya, berusaha melihat ASI-nya keluar atau tidak dgn cara memencet, memompa, yang mana pada 1-3 hari pasca melahirkan ASI yang diproduksi adalah kolostrum, yg sangaaat sedikit jumlahnya. Setetes dua tetes. Akhirnya pada stres, mungkin juga terintimidasi dengan postingan foto kulkas penuh ASI perah milik emak2 lain (yang tentu saja bayinya sudah lebih gede).

Hasilnya apa? Pada stres karena "ASI-ku gak keluar" atau "Keluarnya dikit" lalu "Anakku gak kenyang, nangis terus". Akhirnya dikasih susu formula deh.

Biarpun sangat sedikit dan berwarna kekuningan, kolostrum pada hari2 pertama ini adalah cairan yang sangat berharga, padat zat gizi dan antibodi yang dibutuhkan bayi baru lahir. Bayi baru lahir nangis terus, bukan karena dia gak kenyang atau ASI-nya kurang. Wong lambung dia aja masih seukuran kelereng kok. Dia nangis karena emang dia bisanya cuma nangis, kalau dia tiba2 ngomong kamu kaget donk!

"Mamah popokku basah, aku ipis"
"Mamah aku mules mo eek"
"Mamah aku kekenyangan mo sendawa"
"Mamah AC-nya dingin banget"
"Mamah aku gerah banget"
"Mamah orang2 kok berisik aku kan mau bobo"
"Mamah udelku gatel kayaknya puserku mau puput"

Dan banyak kemungkinan lainnya yang bisa diterjemahkan dari tangisan bayi yang cuma oek oek itu.

Aku sendiri baru melihat tetesan kolostrum sehari sebelum persalinan. Banyak ibu yang ASI-nya tidak pernah menetes keluar dari payudara bahkan hingga si bayi lahir, tapi ASI-nya tentu saja ada. Setelah lahiran pun, aku nggak (mau) tau ASI-ku keluar apa enggak, pokoknya ta nenin aja si Ali, yg penting mulutnya disumpel, dia ngenyot.

Kalo ditanya orang "ASI-nya keluar?" Alhamdulillah keluar buuu.. Sampe udah disiapin sufor sama bidan "Kalau ASI-nya gak keluar minum ini aja dulu ya," Engga kok bu bidan, ASI-ku banyak! Padahal gatau, hahahaha.. Yakin aja dlm hati, Allah sudah mengatur. Masa iya sih anakku sudah ngenyot sampe kempot ASI-nya ngga keluar... Kkekekee... Tapi tentu saja sambil diperhatikan frekuensi pup n pipnya, kalau sering berarti ASI-nya cukup. Kalau nangisnya kenceng atau sering, berarti dia punya tenaga. That's it.

Pada ibu baru melahirkan, cara tau apakah kita produksi ASI dan apakah bayi cukup ASI BUKAN dgn cara dipencet/dipompa/dikeluarin paksa ASI-nya. Sumpel aja udah ke mulut bayinya, en yakin.

Lebih tepatnya, percaya dan mempercayakan kepada Allah, bahwa Allah sudah mendesain tubuh kita sedemikian hebat, sepaket lengkap rahim, payudara, dan ASI saat Dia memberikan tugas mulia kepada kita untuk menjadi seorang ibu.

Seringkali kita percaya akan adanya Allah, namun belum sepenuhnya bisa mempercayakan hidup kita kepadaNya. Itu adalah dua hal yang  berbeda. Dengan mempercayakan segala sesuatu kepada Allah, hati dan pikiran akan tenang, segala cemas hilang, ASI pun mengalir lancar.

Trust your body. And most of all, trust Allah. Semangat ngASI!

Selasa, 08 Maret 2016

Salad

Salah satu sarapan favorit keluarga. Salad! Nyumm...
Brokoli, potong kuntum kecil2
Wortel, potong korek api (klo aq diparut)
Jagung, pipil
* masing2 blansir (rebus sebentar di air mendidih lalu siram dgn air dingin)
Kentang potong dadu, rebus, tiriskan.
Kacang merah
Makaroni
* rendam dulu, lalu rebus sampai empuk
Bawang bombay
Tomat
* potong dadu
Daun selada keriting
Lettuce (apa sih bhs Indonesianya) berhubung jarang bs nemuin lettuce di pasar, kali ini aku pk selada aja, padahal lettuce ini yg bikin salad enak, hiks
Dikulkasin dl biar dingin. Sajikan dgn saus thousand island, mayonais, dan minyak zaitun. Mix well. Nyumm.

Kamis, 03 Maret 2016

Tukang Makan

Aku pernah cerita di sini, bahwa aku adalah pemakan segala. Ga ada yang ga enak buatku, adanya enak sama enak banget. Sayur basi juga gue makan kalo gada yang ngasitau.

Orang kerap berkomentar. "Emang ga kecium aromanya ga enak gitu?" Nggg... Nggak tuh. "Lidah lo error kali yak." Mungkin, hahahh. "Lo gak sakit perut makan yang tadi?" Biasa aja tuh. Mungkin si perut sudah biasa *puk puk tepok perut*

Mungkin itu memang suatu kekurangan ya. Tapi aku sangat bersyukur! Karena aku jadi bisa makan apa aja! Gak kayak si abang *kemudian curcol* kalo makanan tampilannya ga oke, misalnya goreng pisang kematengan jd rada benyek (padahal dia sendiri yang goreng) dia langsung males makan. Aku yang ngabisin. Nasi kebanyakan air atau terlalu keras, males. Sayur kemaren, apalagi. Ga bakal disentuh. Pasti dibuang. Kalo gw, kunyah ajeee... Wkwkwk.

Ada dua alasan. Pertama, mungkin emang hidung n lidah gw rada2 bermasalah soal icip2 makanan. Walau sebenernya buat gw bukan masalah sih, haha. Kedua, aku tuh gak suka banget lihat makanan terbuang. Jadi kalo gagal dikit, tampilan aneh dikit, gapapalah... Sayur lauk kemaren, angetinlah... Nasi keras dan dingin, kunyah aje lah... Trus siapa yang pernah makan bareng aku pasti tau, bahwa aku paling gemez lihat makanan nyisa2. Selagi masih bisa digeser2 nih isi usus, pasti aku minta izin sama si empunya piring, kalo boleh makanannya kuhabiskan. Terkutuklah kalian yang nyisain makanan setengah piring lalu dengan santainya buang abu rokok di atasnya! Hmpf.

Soal ini, aku cucok banget sama Mbak Shinta. Temen ngunyah banget deh. Aku paling suka wisata kuliner sama dia. Nyobain makanan baru, hayuk. Nggak ada pikiran semacam, "Nanti kalo gw ga doyan gimana?" Ga ada. Porsi besar, hayuk. Malah nyiapin tupperware kosong buat kalo dah ga muat. "Simpen, ntar sampe rumah juga udah laper lagi." Ih bener banget. Kami nggak pernah takut mencoba makanan2 baru dan kami bersyukur bahwa apapun yang mendarat di lidah kami selalu ENAK atau ENAK BANGET. Dan yang terpenting, selalu habis! Kami ngga akan membiarkan ada remah2 di piring. Biar berkah, amin.

Gak semua orang kan bisa begitu. Biasanya ada aja syarat, "Aku nggak bisa kalo terlalu manis," atau "Aku biasanya kurang cocok deh sama makanan Jepang gitu," atau "Aku alergi seafood..." atau "Aku lagi bokek," Yah kalo yang terakhir sih turut prihatin, hahahah.

Makanya aku dan mbashin sangat2 bersyukur diberikan kemudahan menikmati aneka jenis makanan. Apalagi waktu kami berdua lagi hamil, wakakak. Nongkrong di bamboo dimsum ampe pelayannya bete. Yummy happy tummy.

Yuk yuk siapa mau ngajak kami makaaann... Kami siap menghabiskan!