Kamis, 31 Maret 2011

Mari Menulis

Aku suka menulis. Dengan menulis, aku merasa menemukan otonomi diri. Tentu saja, dalam hal ini maksudnya adalah ketika aku menulis untuk diriku sendiri, tidak untuk tekanan pekerjaan ataupun perkuliahan.

Ya, menulislah salah satu cara bagiku untuk mengekspresikan diri. Mencurahkan apa yang ada di pikiran dan hati. Senang rasanya ketika tulisanku dibaca orang, terlebih kalau mereka menyukainya. aku sama sekali tak menyangka, bahwa ternyata blog yang kubuat sudah dikunjungi oleh ribuan orang. kalau kuketik namaku di mesin pencari google, langsung muncul tautan-tautan dari tulisanku. Yang di blog, di Gatra, dan di beberapa blog lain milik orang/organisasi yang pernah kuwawancarai. Wow!

Beberapa orang yang tak kukenal mengikuti kicauanku di Twitter, meng-add facebook-ku, dan ketika kutanya, “Kenal dari mana ya?” mereka bilang, “Saya baca blog Mbak, saya suka tulisan-tulisannya.” Waah rasanya hati ini gimanaaa gitu. Gede rasa.

Saya hanya bisa berharap, semoga tulisan-tulisan saya itu bisa memberikan manfaat, inspirasi buat orang-orang yang membacanya. Dan nggak cuma ‘nyampah’ di ruang maya dengan curhatan keluh kesah. Saya ingin menyebarkan energi positif buat setiap orang yang membaca tulisan saya.

Maka ayolah kawan, kita menulis. Agar kita tak hilang dari sejarah. Kita terlahir sebagai bangsa dengan budaya lisan, jadi terbiasa berkisah dan menerima kabar dari mulut ke mulut, yang pada akhirnya menjadi kabar burung, yang tak jelas dari mana dan siapa yang pertama kali mengucapkan. Tak usah jauh-jauh, baca saja kesuraman sejarah bangsa kita. Yang satu berkata ini, yang satu berkata itu, tapi tak ada yang menulis. Sekalinya ada yang menulis, sejarah itu dipolitisasi. Banyak yang dihapus, dibelokkan. Lalu dimasukkan ke dalam buku-buku pelajaran. Jadilah sekarang kita generasi yang hampir kehilangan asas. Tak kenal orang-orang berjasa. Memuja orang berdosa. Karena kita hampir tak tahu, mana yang benar dan mana yang salah.

Semua itu karena apa? Karena tak banyak orang sadar untuk menulis. Dan karena penguasa yang tidak menghargai tulisan buah pikiran orang. Sehingga kini banyaklah yang hilang dari sejarah.

Maka di masa-masa yang bebas berekspresi ini, tuliskanlah apa yang pernah kau alami, apa yang mengusik pikiran dan nuranimu. Mari kita berbagi.

Selasa, 15 Maret 2011

Mari Bersepeda!

I want to ride my bicycle, I want to ride my bike
I want to ride my bicycle, I want to ride it where I like


Aku menyanyikan bait legendaris Queen itu sambil mengayuh sepedaku dengan riang ke kantor. Aku suka bersepeda! Ke rumah kawan, saudara, ke mall, dan tentu saja ke kantor!

Bike to work, ceuk batur mah. Yap, setiap hari aku memang pergi ke kantorku di majalah Gatra dengan mengendarai sepeda Polygon-ku yang setia. Dari kosan, jarak ke kantor memang lumayan. Jalan kaki 15 menit, naik ojek 5.000 rupiah. Nah, lebih baik naik sepeda kan?

Kegemaran bersepeda ini agaknya ditularkan dari Bapakku. Ia juga bersepeda ke kantornya di kawasan Bandara Soekarno-Hatta yang berjarak 12 km dari rumah. Dulu semasa SD, Bapak juga suka menjemput aku di sekolah dengan menggunakan sepeda ontel antik kesayangannya. Lengkap pakai topi bambu.

Beberapa kawan SD-ku masih mengingat hal itu sampai sekarang. Kalau main ke rumah, mereka bertanya, “Mana Ken, sepeda ontel bokap lo?” Aku hanya tertawa, “Nggak ada, udah dihibahin ke tukang beras!” Dan mereka pun terkaget-kaget, “Jiaaah… itu kan sepeda antik, Ken! Sekarang mahal loh!”

Iya, tapi gimana atuh? Kasihan tukang beras, kalau nggak punya sepeda dia mau jualan pake apa?

Di saat kawan-kawan seusiaku sudah wara-wiri pakai sepeda motor (bahkan beli pulsa atau ke warung pun naik motor), aku masih seperti saat kecil dulu, setia dengan sepedaku. Pernah waktu reuni SD di rumah seorang kawan, teman-teman datang ke sana dengan motor atau mobil, sementara aku datang dengan berkeringat karena mengayuh sepeda. “Ya ampun si Ken udah gede masih aja naik sepeda!” hahaha…

Kupikir banyak manfaat yang kita dapatkan dengan mengendarai sepeda. Pertama, minim polusi (udara dan suara). Kedua, hemat BBM (ya iyalah). Ketiga, sehat. Keempat, murah. Kelima, yang terpenting menurutku - dengan mengendarai sepeda kita akan lebih mudah berinteraksi dengan orang-orang yang kita lewati. Coba deh, ketika melewati sebuah gang dengan banyak ibu-ibu yang lagi ngerumpi, kalau dengan motor atau mobil kita biasanya akan melaju kencang, wusss…! Cuek-cuek aja. Tapi kalau naik sepeda, entah mengapa rasanya berbeda. Kita secara refleks akan memelankan kayuhan kita dan tersenyum mengangguk, “Punten ibu…”

Ketika ada orang di depan yang menghalangi jalan kita, kalau dengan motor atau mobil, mungkin kita akan membunyikan klakson. Tin! Tin! Tapi kalau naik sepeda, suaranya akan lebih enak didengar sebagai kata permisi, kring… kring…!
Kalau yang aku rasa seperti itu.

Dari kosan menuju gedung Gatra, aku harus menyeberangi Jalan Raya Pasar Minggu yang padat setiap hari. Cukup sulit, jarang mobil atau motor yang mau memberikan jalan untuk sepeda. Apalagi sepeda nggak ada lampu sen, jadi sambil nyebrang, aku harus memberikan tanda lewat tangan. Belum lagi kalau kena semprot asap hitam metromini, yang berpotensi menghilangkan konsentrasi sepersekian detik *lebay...

Untung saja, “Pak Ogah” di persimpangan itu baik sekali padaku. Meski aku nggak pernah memberikan uang receh untuknya, ia selalu mendahulukan aku untuk menyeberang. “Ayo sini Neng! Awas, lihat kiri-kanan! Hati-hati ya neng!” Yang bisa kuberikan hanya senyuman paling manis sembari meneriakkan “Makasih Pak!”. Itu terjadi setiap hari. Bahkan aku merasa disayang dan diperhatikan oleh bapak itu, hehe...

Masuk kantor, Pak Satpam menyapaku ramah sambil sedikit keheranan. “Lho, kamu anak magang itu ya? Naek sepeda tho dek?” Aku cengar-cengir. “Rumahmu di mana?” dan seterusnya berkembang menjadi obrolan yang menyenangkan.

Begitu pula Mas-Mas dan Bapak-Bapak di kantor (berhubung ceweknya cuma ada 5), dengan cepat mengenaliku sebagai anak magang yang naik sepeda, hehe... Agak geer ya...
“Ken pinjem sepedanya, mau ke ATM!”
“Ken mau sepedaan, pinjem dong!”
“Ken, pulang jam berapa? Aku pinjem sebentar dong ke Plaza Kalibata!”

Disadari atau tidak, sepeda itu secara tak langsung membuatku merasa lebih dekat dengan orang-orang baru di kantor. Tentu akan lain ceritanya, kalau aku ke kantor dengan mobil atau supir pribadi. Sepertinya, sepedaku menjadikanku lebih mudah berinteraksi dengan orang-orang baru, hehe...

Dan aku senang lho, ketika banyak kawanku yang juga gemar bersepeda. Ada yang pakai Fixie, ada yang berontel ria. Setiap pagi saat aku bersepeda di jalan raya, nyelip-nyelip di kemacetan, megap-megap kena polusi, aku suka berandai-andai... duh seandainya ada 100 orang saja, yang bersepeda ke kantornya di sekitar Pasar Minggu sini, mungkin jalanan tak semacet ini. Mungkin polusi akan sedikit berkurang, meski hanya beberapa persen saja. Dan mungkin akan lebih banyak orang yang saling bertegur sapa daripada mengumpat-umpat kesal karena polusi dan kemacetan.

Ayolah kawan, kita bersepeda! Semakin banyak dan semakin sering orang yang bersepeda, manfaatnya bukan hanya untuk bumi kita, tapi juga untuk diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita, percaya deh ;)


Rabu, 09 Maret 2011

Aglaia elliptica sp, Harapan Baru bagi Penderita Kanker Payudara

Sudah hampir dua tahun sejak Yuyun Handayani (41) divonis mengidap kanker payudara. Ibu dua anak ini telah mencoba berbagai cara demi menyembuhkan dirinya dari penyakit pembunuh perempuan nomor dua di Indonesia itu. Ia yang kini seorang vegetarian, juga rajin mengonsumsi jus kentang, wortel, apel dan daun sirsak yang dipercaya sebagai anti-kanker.

Kini ada harapan baru bagi Yuyun. Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Agung Eru Wibowo MS., Apt dalam bidang biomedik berhasil menemukan senyawa anti-kanker dalam tanaman laban abang (Aglaia elliptica Blume). Lebih spesifik, senyawa dalam tanaman ini telah diujikan untuk menghambat pertumbuhan sel kanker payudara.



Aglaia elliptica sp, atau laban abang

Laban abang yang termasuk ke dalam kelompok tanaman Aglaia sp mengandung odorin sebagai senyawa utama yang terbukti dapat menghambat pertumbuhan sel kanker, serta rocaglamid sebagai senyawa minor yang memiliki efek sitotoksik paling kuat dalam membasmi sel kanker. Artinya, tanaman yang satu ini dapat digunakan baik untuk pencegahan maupun pengobatan penyakit kanker payudara.

Menurut Agung, meski senyawa rocaglamid dengan potensi antikanker paling tinggi ini merupakan senyawa minor, ia tetap akan bersinergi dengan senyawa utama dan senyawa-senyawa lain di dalam tanaman. “Itulah bagusnya obat herbal, senyawa yang terkandung di dalamnya tidak saling merusak. Sifat sinergis ini juga dapat menekan efek samping,” jelasnya kepada Ken Andari dari GATRA usai mempertahankan disertasinya dalam sidang terbuka di Fakultas Kedokteran UI, Rabu (9/3) pagi.

Selain dua senyawa tadi, dalam laban abang ternyata juga terkandung senyawa flavonoid yang bersifat antioksidan. “Maka ia sangat baik untuk pencegahan kanker,” Agung menambahkan.

Ide untuk meneliti kandungan senyawa anti-kanker dalam tanaman laban abang ini berawal dari keampuhannya sebagai insektisida. “Awalnya ia digunakan sebagai insektisida alami pada tanaman, dan ternyata efek sitotoksiknya kuat sekali. Maka kami teliti lebih lanjut efeknya bagi sel kanker,” imbuh Agung yang juga Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT ini.

Agung mengkhususkan penelitiannya pada daun tanaman laban abang, karena beberapa penelitian terdahulu sudah ada yang berhasil mengidentifikasi senyawa aktif pada batang dan biji tanaman laban abang. Selain itu, ia juga sengaja memilih daun lantaran meyakini bagian tanaman ini regenerasinya lebih cepat, “Sehingga berpotensi untuk dibudidayakan.”

Guru Besar Tetap Ilmu Farmakologi FK-UI Prof. Dr. Frans Suyatna, PhD. SpFK yang bertindak selaku promotor dalam upacara promosi doktor ini mengatakan, alam Indonesia begitu kaya dengan jenis tanaman yang amat beragam. Oleh karena itu ia mengharapkan penelitian tentang obat herbal dapat tumbuh subur pula di negeri ini. Obat herbal tak kalah dari obat sintetik, malah bisa jadi lebih ampuh, mudah, murah, dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.

Meski begitu, Agung mengakui masih banyak aspek yang harus diteliti lebih lanjut dari penelitian ini. “Ini masih langkah awal, terutama aspek keamanan harus diperhatikan. Kita akan teliti lagi, apakah obat herbal ini dapat membahayakan jantung, ginjal, dan sebagainya. Kita harap penelitian tidak berhenti di sini,” kata Agung optimis.

Lewat penelitian yang telah dilakukan sejak tahun 2007 ini pula, Agung diangkat menjadi doktor dalam ilmu biomedik dengan nilai cum laude.

Selasa, 01 Maret 2011

Kesadaran atau Paksaan, Pilih Mana?

Pertamina mengatakan, cadangan minyak kita hanya cukup untuk 15 tahun ke depan. Terlepas dari motif Pertamina berkata demikian, yang jelas konflik yang semakin meluas di negara-negara penghasil minyak memang cukup mengkhawatirkan. Harga minyak melambung, Stok pun semakin menipis.

Lah emang kita nggak punya minyak? Oh, ladang minyak kita mungkin sebetulnya masih banyak, hanya saja titik-titik emas hitam itu sudah dikontrak untuk bebas dieksploitasi oleh perusahaan multinasional macam Exxon Mobile. Memang dasar mental bangsa terjajah, punya kekayaan alam segini besar tapi tak cukup percaya diri untuk bisa mengelola sendiri. Semua malah dikasihin begitu aja ke pihak asing.

Kemarin lagi-lagi daerah Kalibata Tengah (kosan saya) mengalami pemadaman bergilir. Sudah tak aneh sih. Kenapa ya pemadaman bergilir? Katanya sih alasannya karena ada yang rusak, katanya juga karena krisis energi.

Okelah kalau memang pemerintah mau menghemat energi. Tapi kalau bentuknya berupa pemadaman bergilir, kupikir itu namanya pemaksaan. Aku rasa kesadaran untuk hemat energi harus muncul dari dalam diri setiap orang, jangan menunggu ‘paksaan’ dari pemerintah.

Banyak yang bisa kita lakukan untuk hemat energi, dan hal-hal itu tidak ada yang begitu sulit dilakukan.

Pertama, hemat penggunaan listrik. Sulitkah mengurangi penggunaan AC, lampu, dispenser, komputer? Rasanya tidak juga. Nyalakan barang-barang itu hanya ketika akan digunakan. Misalnya dispenser, sebetulnya tak perlu dinyalakan seharian. Nyalakan hanya ketika kita butuh bikin kopi, bikin teh… Tak sulit, hanya butuh sedikit kesabaran untuk menunggu si air dalam dispenser jadi panas. Kalau sudah selesai, ya matikan lagi. Lampu juga begitu. Kalau ruangan masih terang karena sinar matahari, untuk apa kita nyalakan lampu? Matikan saja ketika memang ia tak begitu diperlukan. Tidak sulit kan? Hal kecil seperti itu jika dilakukan oleh banyak orang setiap hari, tentu energi yang berhasil dihemat tidaklah sedikit.

Kedua, kurangi penggunaan BBM. Ini tidak sulit juga, banyak orang sudah memulainya. Misalnya kamu disuruh sama ibu ke warung. Kalau jaraknya hanya 700 meter dari rumah, untuk apa pakai sepeda motor. Jalan kaki saja, atau naik sepeda. Bukankah itu juga sehat?

Atau bisa juga disiasati dengan penggunaan angkutan umum. Ya, daripada naik mobil pribadi, boros sendiri, ngabisin jalan bikin macet, lebih baik naik naik angkutan umum. Aku suka geregetan, kalo lagi berdesakan di metromini atau bus transjakarta, lalu terjebak kemacetan panjang. Aku lihat di kanan-kiri, banyak mobil-mobil mewah yang isinya cuma 1-2 orang. Iiiihhh... sebel deh ngeliatnya! Situ lega banget di dalem, tapi situ juga udah menuh-menuhin jalan kami! Coba kalau mereka naik angkutan umum seperti saya, atau paling enggak, bukalah mobil Anda dan ajak kami-kami ini dalam mobil Anda yang mewah dan lega itu. (Ini namanya kecemburuan sosial)

Tapi tentu saja, pemerintah juga harus berkomitmen dong untuk memperbaiki sarana transportasi massal. Orang-orang kaya yang biasa naik mobil mewah kan juga nggak mungkin disuruh naik metromini atau kopaja. Apalagi kereta ekonomi, bweeehh... Bus transjakarta adalah salah satu contoh yang sudah cukup baik menurut saya. Beberapa kereta ber-AC juga sudah bagus, hanya perlu ditambah armadanya, dijaga pula halte-halte dan stasiunnya.

Nah, kembali lagi. Untuk mewujudkan itu semua ada hal paling penting: KESADARAN dari kita semua. Jangan menunggu sampai dipaksa pemerintah lah. Pemaksaan seperti pemadaman listrik bergilir tadi, atau pembatasan bahan bakar, atau peningkatan tarif parkir dan pajak kendaraan... Nah, hal-hal seperti itu kan paksaan.

Akan jauh lebih baik ketika kita, masyarakat ibukota bisa memiliki kesadaran dan kepekaan terhadap apa yang ada di sekitar kita. Saya selalu percaya kata-kata ini: mulai dari hal-hal kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang!