Sabtu, 07 Mei 2011

Belajarlah dari Blitar!

Matahari mulai condong ke barat saat aku dan Uphay meninggalkan kompleks makam. Di antara sekian banyak pintu di kompleks makam ini, semua pengunjung tetap diarahkan ke satu pintu keluar yang berada di sebelah utara makam Soekarno. Nggak boleh keluar lewat pintu lain. Kenapa ya?

Nah, rupanya inilah cara pemerintah kota Blitar menata tempat pariwisata, sekaligus menghidupkan perekonomian masyarakatnya. Karena melalui pintu tersebut, sebelum keluar kita akan disambut oleh puluhan pedagang di pasar oleh-oleh yang berjejer rapi di sepanjang pintu keluar. Seperti pasar oleh-oleh yang ada di sepanjang jalan keluar dari Candi Borobudur di Magelang gitu deh. Ya, seperti itu bentuknya, namun barang-barang yang dijual memang jauh lebih sedikit dan lebih sederhana. Ada berbagai kerajinan kayu, kaos-kaos bergambar Soekarno, penganan khas, serta beragam batik. Potensi yang sederhana, namun dimaksimalkan.



Di ujung jalan, puluhan becak pariwisata sudah menunggu.

Wah… kupikir ini adalah contoh yang baik dari perencanaan sebuah kota. Di mana pengembangan sektor pariwisata dijalankan dengan melibatkan peran serta masyarakat. Pariwisata lancar, perekonomian rakyat juga berjalan dengan seimbang. Sehingga meski didatangi ratusan, mungkin ribuan turis setiap harinya, kota ini tetap tidak kehilangan identitas.

Aku dan Uphay kembali menaiki becak yang akan mengantar kami ke halte tempat menunggu bus arah Malang. Kami menikmati sore di Blitar yang indah dan nyaman dari atas becak. Tak banyak kendaraan bermotor, tak banyak polusi. Anak-anak kecil tampak bersepeda dengan riang di jalanan kota yang bersih dan rapi. Tampak beberapa petani juga mengayuh sepeda membawa karung-karung beras hasil panen.

Menariknya, para pengguna sepeda ini tetap taat peraturan lalu lintas lho! Kalau lampu lintas menyala merah, mereka serempak berhenti, meskipun arus kendaraan dari arah berlawanan sebetulnya tak terlalu ramai. Hebat ya! Beda sekali dengan di Jakarta, lampu merah di jalanan ramai sekalipun sering diterobos oleh para pengendara kendaraan bermotor!

Hmm… aku juga jadi teringat cerita Cak Ipung tentang kebersahajaan masyarakat Blitar. Cak Ipung kan asli Blitar. Katanya, kalau sawah milik keluarganya sudah panen, meski berlebih hasil panennya nggak untuk dijual. Lantas dikemanain? “Ya buat makan sendiri, dan bagi-bagi juga ke tetangga,” tuturnya. Cak Ipung juga punya 11 batang pohon rambutan di rumahnya sana, kalau lagi musim bisa sampai menggunung tuh rambutan. Itu juga untuk dimakan bersama-sama tetangga. Sebaliknya, kalau pohon jambu tetangga lagi berbuah lebat, semua pun akan menikmati.

Enak yah hidup kayak gitu. Kebersahajaan yang memupuk persaudaraan. Nggak seperti orang-orang di perkotaan yang cenderung individualis dan sibuk memperkaya diri sendiri.

Ah ya, banyak sekali yang bisa dipelajari dari kota kecil nan damai ini. Aku punya usul deh untuk para anggota DPR RI yang terhormat. Daripada buang-buang duit rakyat untuk ‘studi banding’ geje (gak jelas) ke Spanyol, Yunani, Amerika Serikat, dan Australia, mending ke sini aja deh. Ke Blitar.

Banyak loh yang bisa dipelajari di sini. Perhatikan bagaimana pemerintah setempat memaksimalkan segala potensi yang ada di daerahnya. Bagaimana roda perekonomian rakyat digerakkan demi kesejahteraan. Bagaimana transportasi tradisional seperti becak dan penganan sederhana seperti pecel justru dijadikan primadona. Dan lihat, bagaimana rakyat di sini amat menghargai sejarah.

Oh ya, kalau mau studi bener-bener ke sini, jangan naek pesawat atau mobil dinas Anda pak! Naek Matarmaja aja! Atau minimal naek Penataran deh dari Surabaya. Biar Anda-Anda ini jadi tau sendiri penderitaan rakyat di angkutan transportasi massal yang nggak keurus itu. Sekali-kali lah Pak, Bu, lihat dengar dan rasakan apa yang dirasakan oleh rakyat kecil setiap hari. Jangan sibuk ngototin gedung baru melulu.

Belajar tak mesti jauh ke luar negeri, Pak, Bu. Di dalam negeri sendiri pun sebenarnya masih banyak kok sistem yang sudah bagus. Blitar dan Solo contohnya, dua kota kecil menurut saya sudah mampu memaksimalkan segala potensi mereka. Bisa dipelajari dan dicontoh.

Denger usul saya ini ya para anggota dewan yang terhormat. Rasakanlah sensasi naik Matarmaja atau Penataran, lalu datang dan lihat sendiri Kota Blitar yang tentram. Sekalian ziarah dan minta maaf kalian sama Bung Karno, sudah menodai negeri yang beliau bangun ini dengan perilaku kalian yang selama ini nggak mencerminkan watak penyambung lidah rakyat. Mudah-mudahan bertaubatlah kalian setelah itu. Amin.

***

Soekarno, Terlalu Istimewa untuk Dilupakan

Ken Andari masih melaporkan dari kompleks makam Bung Karno, Blitar.

Tentu aku tidak lupa tujuan awalku datang ke tempat ini. Ziarah ke makam sang putra fajar. Aku menuju bangunan utama, yang tak lain adalah sebuah astono atau cungkup berbentuk joglo, rumah khas jawa, yang menaungi tiga buah makam. Pertama, makam sang ibunda, Ida Ayu Nyoman Rai. Lalu ada pula makam sang ayah, Raden Soekemi Sosrodihardjo. Keduanya mengapit makam utama yang bertuliskan: Di sini beristirahat Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.



Suasana makam hari itu ramai sekali. Mungkin karena memang akhir pekan. Mulai dari anak-anak usia sekolah dasar sampai kakek-nenek yang sudah berjalan membungkuk, semua duduk bersila melantunkan doa dan ayat-ayat suci. Aku turut duduk di antara mereka. Aku perhatikan wajah-wajah para peziarah itu. Ada yang terlihat cuek, tapi tak sedikit pula yang tampak sangat khusyuk melantunkan ayat-ayat suci, sampai air matanya hampir berurai. Entah karena apa. Mungkin semata terhanyut suasana, atau memang ada kerinduan yang begitu besar terhadap sosok pemimpin kharismatik ini.

Sementara aku larut dalam pikiranku sendiri. Diam-diam aku curhat dan berdialog dalam hati, seolah Bung Karno berada di depanku kini.

Aku cerita banyak hal tentang kegelisahanku soal bangsa ini. Pak, kalau Anda masih ada sekarang, mungkin Anda akan sedih melihat realita bangsa yang sudah Anda perjuangkan hidup-mati ini, sekarang belum menunjukkan kemajuan berarti. Malah semakin terpuruk moralnya dengan berbagai kasus korupsi dan tingkah polah ‘menggemaskan’ para petinggi negeri.

Ya, aku tau. Tidak ada sosok pemimpin ideal yang tak punya kesalahan. Termasuk juga Anda. Namun terlepas dari catatan kelabu di akhir masa pemerintahanmu, aku hanya ingin berandai-andai. Seandainya saja Anda masih hidup, kami ingin minta nasehatmu. Atau, paling tidak, semangatmu yang menggelora itu. Karena saat ini, sepertinya kaum muda pun sudah mulai apatis dengan segala bentuk kekacauan. Ya, kaum muda yang dulu selalu kau bangga-banggakan itu.

Tapi ya sudahlah, Pak. Biar Anda beristirahat dengan tenang saja. Salam kangen dari pengagum berat Anda, mbah putri saya, Siti Hamidah.

Ya, mbah putri saya itu memang sering sekali cerita tentang Bung Karno. Meski tak pernah bertatap muka langsung, Mbah sudah mengagumi Bung Karno sejak pertama kali mendengarkan pidatonya di Surabaya.

“Pak Karno iku ancene wong sakti. Nek denger Pak Karno pidato di radio, kuaaaabeh… mandek. Mau yang lagi goes becak kek, jual dawet kek, sopo ae mesti mandek ngerungo’no nang radio. Mending ono wong’e! Gak, iki suarane thok, tapi yo kabeh mandek! Nek gak sakti opo yo iso koyok ngono!”

Begitu Mbak selalu bercerita tentang Bung Karno. Suaranya yang menggelegar namun tetap santun dan membumi. Tutur katanya yang tepat membakar semangat siapapun yang mendengar. Bahkan, bisa membuat setiap orang menghentikan aktivitasnya seketika mendengar suara Bung Karno di radio. Ya, di radio! Lalu semua orang akan terpaku mendengar ia berbicara, bersorak menyambut teriakannya, dan bahkan secara bersamaan menjawab salamnya.

Cerita itulah yang selalu diulang-ulang oleh Mbahku. Cerita tentang Soekarno yang sakti. Di masa kini mungkin kita lebih mengenal ‘kesaktian’ Bung Karno itu sebagai sebuah seni berbicara, retorika. Aku pun pernah mendengar Bung Karno berpidato, meski lewat rekaman saja yang diputar di Museum Konferensi Asia-Afrika, Bandung. Ya, memang bukan pidato biasa. Seperti kata Mbahku, “Sampai sekarang belum ada orang kayak Pak Karno, yang bisa bikin semua orang berhenti waktu dengar dia bicara.”

Aku sangat bersyukur bisa datang berziarah ke makam Bung Karno saat ini. Karena dulu, pada tahun 70-an di masa awal pemerintahan Orde Baru hingga awal 80-an, berziarah ke tempat ini bukanlah perkara mudah. Seperti yang dikisahkan Andreas Harsono dalam sebuah tulisan berjudul “Makam Soekarno di Blitar 1972”, Pada masa itu kecurigaan terhadap kaum kiri maupun Soekarnois tinggi sekali. Ada ratusan ribu, bila bukan jutaan orang komunis dibunuh, dan 100,000 ditahan tanpa pengadilan. Dan pada masa itu pula, makam Soekarno tidak boleh dikunjungi orang dari Jakarta, kecuali warga Blitar saja.

Soeharto sendiri yang juga menolak mentah-mentah keinginan terakhir Bung Karno untuk dimakamkan secara sederhana di Batutulis, Jawa Barat. Ia berupaya menjauhkan Soekarno dari pusat pemerintahan di Jakarta, sekalipun hanya nama. Ya, orang besar mati meninggalkan nama, dan rupanya Soeharto tak mau nama besar Soekarno lekat diingat.

Dan di sinilah sekarang, Soekarno diistirahatkan. Di kota kecil nan damai, Blitar. Ribuan orang dari berbagai penjuru tak pernah sepi mengunjungi dan mendoakannya tiap tahun. Bahkan setelah puluhan tahun sepeninggalnya, nama Soekarno tetap lekat di hati rakyat. Bagaimanapun, ia terlalu besar untuk dikecilkan. Terlalu istimewa untuk dilupakan.



Soekarno yang kharismatik
***

Jumat, 06 Mei 2011

Misteri Lukisan yang Berdetak!

Matahari tepat berada di atas kepala saat aku dan Uphay menginjakkan kaki di stasiun Blitar. Kami langsung disambut hangat oleh abang-abang becak yang menawarkan diri mengantar kami berwisata di kota kecil ini. Tanpa banyak basa-basi, kami pun langsung memilih satu becak untuk kami naiki berdua.

“Mau ke mana mbak?” tanya si bapak pengayuh becak.
“Ngg… mau ke makam Bung Karno sih pak sebenernya, tapi laper nih,”
“Oh, mbak-nya mau makan dulu? Di jalan sebelum makam banyak kok warung makan, di alun-alun juga banyak. Mbak-nya mau makan apa?” si bapak sudah mirip tour-guide saja, hihi…
“Pecel lah Pak…”
“Ooo…nggih, nanti saya kasih tau warung pecel yang enak…”

Wuuaaahh… pecel Blitar! Siapa tak kenal penganan yang sudah terkenal itu! Beberapa bulan yang lalu aku sempat dioleh-olehi sambel pecel oleh kawanku yang asli Blitar, namanya Saiful Munir. Aku memanggilnya Cak Ipung. Sambel pecel buatan ibunya Cak Ipung langsung dari Blitar, dan itu enak bangeeeett… Pengen mampir bilang terima kasih sama ibunya, tapi maluuu… hehehe. Lain waktu aja kalo sama kamu yo Cak!

Ini kali pertama aku datang ke Blitar, dan buatku, Blitar begitu mengesankan. Semata karena kebersahajaannya. Yap, ini kota kecil yang amat damai, tentram, apik… intinya: ngangenin. Tak heran Bung Karno saja begitu mencintai kota kelahirannya ini. Bapak pengayuh becak juga beberapa kali berkata dengan bangganya, “Woo…saya ini asli mBlitar dek!” (pakek awalan “M” di depannya). Dalam hati aku berkata, “Wah, pantas aja Cak Ipung selalu kangen pulang!”

Tak ada mobil angkot di Blitar. Yang ada, ya becak ini. Kalo di Jakarta dan di Tangerang mah, becak bukannya dimanfaatin malah digusur. Di Blitar, becak diberdayakan sebagai angkutan pariwisata. Berwisata di kota Blitar memang rasanya paling pas naik becak. Biar kita bisa duduk santai, melihat-lihat, dan menikmati damainya kota ini. Selain itu, pengayuh becak yang hampir semuanya adalah warga asli Blitar juga sekaligus berperan sebagai tour-guide. Seperti bapak pengayuh becak ini, yang sedang menunjukkan berbagai kuliner khas Blitar dekat alun-alun. Ada soto, nasi pecel, rawon, terus es apa gitu… banyak deh. Bikin ngiler.

“Kak, tau nggak, di Blitar ini jumlah minimarket atau pasar modern dibatasi loh jumlahnya. Jadi roda perekonomian rakyat memang benar-benar digerakkan. Keren yah!” kata Uphay.

Ohh…pantesan dari tadi aku nggak ngeliat Circle K atau Seven Eleven gitu. Yang banyak adalah koperasi, toko kelontong, warung oleh-oleh, pokoknya pasar tradisional deh. Ngg…kayaknya mall juga nggak ada deh. Tapi rental PS2 udah banyak kok! Hihihi… ini nih, bibit-bibit hedonisme :p

Nah, kompleks makam sudah mulai kelihatan. Benar juga kata si bapak, sepanjang jalan menuju kompleks makam Bung Karno banyak warung makan, warung oleh-oleh, dan juga sentra kerajinan. Si bapak menurunkan kami di sebuah warung pecel yang atas rekomendasinya –terkenal enak di Blitar.

Setelah makan nasi pecel yang beneran enak dan murah banget, kami pun menyusuri jalan menuju kompleks makam Bung Karno, yang merupakan salah satu ikon pariwisata Kota Blitar. Bangunannya terkesan bersahaja, namun tetap kharismatik, sesuai citra Bung Karno. Arsitekturnya pun dibuat menawan oleh tim arsitek yang diketuai oleh Pribadi Widodo dan Baskoro Tedjo dari Institut Teknologi Bandung. Ya, Bung Karno sendiri ‘kan memang seorang insinyur lulusan ITB! Kompleks makam ini bergaya minimalis modern yang berpadu dengan unsur-unsur khas Indonesia, terutama Jawa dan Bali. Ya, sesuai dengan darah yang mengalir dalam tubuh Sang Proklamator.

Berikut beberapa fotonya:












Hari itu kompleks makam tampak ramai sekali dengan pengunjung. Selain makam, di dalam kompleks ini juga terdapat masjid, museum, dan perpustakaan.

Ada satu hal yang menahanku untuk berlama-lama di museum: lukisan yang berdetak! Iya, jadi ada sebuah lukisan besar Soekarno yang dipajang dekat pintu masuk, menggambarkan Soekarno sedang berdiri tegap dengan jas kebanggaan sambil memegang keris pusakanya. Dan, kalau kau perhatikan lebih jeli, dada sebelah kiri dari lukisan Soekarno itu bergerak-gerak mirip detak jantung! Aslina!

Aku memang sudah diberitahu Uphay sebelumnya, tapi aku nggak percaya sebelum lihat sendiri. Dan setelah lihat sendiri, memang betul sih kayak bergerak-gerak gitu. Ngg…mirip detak jantung, tapi aku belum percaya. Aku muter-muter lihat sebelah kanan, kiri, depan, dan belakang lukisan untuk mencari sebab musabab fenomena ini. Pasti ada alasan logisnya!

Waktu itu aku berpikir, hmm… ini hanyalah efek dari sugesti pikiran aku dan juga para pengunjung lain yang terlanjur tersugesti sejak awal bahwa lukisan itu bergerak. Aku tanya ke salah seorang penjaga museum itu. Tapi dia malah jawab, “Itu sesuatu yang nggak boleh diomongin Mbak…”

Ah masa sih…

Sebentar deh… aku balik lagi lihat lukisan itu. Berusaha meyakinkan pikiranku bahwa itu hanyalah lukisan biasa. Ngg…tapi tetep aja sih, memang bergerak dan tampak seperti jantung yang berdetak. Aku coba tanya orang di perpustakaan deh, siapa tau aja dia punya pandangan yang lebih luas. Si mas librarian tersenyum melihat aku dan Uphay yang penasaran. Terus katanya, “Bukan lukisannya yang ajaib, tapi memang pelukisnya yang hebat!”

Lukisan itu dibuat oleh IB Said, salah seorang seniman dari Bandung, pada tahun 2001. Ya, IB Said memang salah seorang pelukis ternama. Pelukis yang hebat tentu sudah tahu segala hal tentang lukisan, mulai dari cat yang digunakan, warna, komposisi gambar, kanvas, penampang, dan efek yang bisa ditimbulkan dari kombinasi teknik-teknik tertentu itu.

Ketika kamu membentangkan sebuah kain yang berukuran besar, pastilah bagian tengah kain itu akan bergerak, lantaran diterpa udara. Begitupun halnya dengan lukisan yang dilukis di atas kain kanvas, dipajang di atas penampang tipis, dibentangkan dalam sebuah pigura, lalu ditempatkan di sebuah ruangan ber-AC (apalagi di dekat pintu masuk), pastilah penampang itu akan bergerak!

Aku sudah buktikan, bahwa tidak hanya lukisan itu yang bergerak. Lukisan-lukisan lain di dalam ruangan itu pun bagian tengahnya, setelah diperhatikan, memang bergerak. Lebih tepatnya, agak berkibar-kibar gitu deh. Ya, itu adalah efek dari penampang yang dibentangkan. Kalian perhatiin deh lukisan lain di ruangan itu, sebetulnya bergerak-gerak juga. Memang betul apa yang dikatakan oleh mas librarian, yang hebat adalah sang pelukis, IB Said! Yang tahu betul bagaimana cara menghidupkan sebuah lukisan.

Lah kok gerakannya mirip detak jantung? Menurutku, itu adalah efek dari pikiran kita yang sudah terlanjur tersugesti bahwa lukisan itu ‘hidup’ dan bisa berdetak. Jangan diremehkan loh kekuatan pikiran dan imajinasi kita. Efeknya bisa sangat luar biasa terhadap panca indera.

Aku sendiri yang sudah coba mensugestikan lagi bahwa lukisan itu hanyalah lukisan biasa yang dibuat secara luar biasa, melihat sebetulnya ritme gerakannya nggak mirip-mirip amat kok dengan detak jantung, agak nggak beraturan juga. Yah…ini sih hasil pemikiranku aja, kalau dirimu masih percaya khodam Bung Karno-lah yang menghidupkan lukisan itu, ya semua kembali kepada diri masing-masing. Toh, lukisan itu pun telah menjadi magnet tersendiri buat semua orang yang penasaran ingin lihat.

Nb: sayangnya pengunjung tidak diperbolehkan mengambil gambar di dalam museum, jadi aku nggak bisa tunjukkan fotonya kepada kalian. Jadi, lihat sendiri aja ke sana dan tuntaskan rasa penasaran kalian ya!

Kamis, 05 Mei 2011

Bertahan di Penataran

22 April 2011

Jam dinding masih menunjukkan pukul 4.30 pagi, tapi aku sudah bergegas bangun dan menuju kamar mandi. Hari ini aku akan jalan-jalan ke Blitar sama kawanku Uphay. Ziarah ke makam Bung Karno, proklamator kita.

Si Uphay masih tertidur dengan buku Gandhi dan stabilo di sisinya. Ckckck… udah warna-warni aja tuh buku. Oooiiii…banguuuunnn… kita ditungguin Bung Karno!

Stasiun udah ramai aja sama orang-orang yang antri di loket. Kereta Penataran di jadwalnya sih tertulis akan datang pukul 7.30 pagi. Perjalanan ke Blitar akan memakan waktu 3 jam.

Kami nunggu kereta di peron 4 sambil ngobrol-ngobrol. Masih tentang berbagai macam permasalahan bangsa dan negara. Ya ampun Phay, gue belom sarapan ini…ntar jadi laper. Tapi emang seru banget sih obrolannya, ke sana ke mari ibarat menelusuri gumpalan benang kusut yang nggak tau di mana ujungnya, hehehe…

Sejujurnya aku kangen sekali masa-masa diskusi seperti ini. Dulu aku biasa berdiskusi dengan Ami, Hani, dan Dewi, sahabat-sahabatku yang cerdas luar biasa. Sejak Ami dan Hani menikah, dan Dewi sibuk kerja dan pindah kosan, aku jarang lagi memberikan nutrisi untuk otakku. Jadi, meskipun aku rada pusing diajak ngomongin beginian, terima kasih Phay, udah mengingatkanku akan semangatku dulu, yang hampir saja pudar. “Apatis sih boleh aja, asal jangan sampai jadi fatalis, Kak!” katanya.

Obrolan kita seru banget sampe nggak sadar berapa banyak waktu yang sudah terlewatkan. Astaga, jarum sudah menunjukkan pukul 9 tapi si Penataran belom dateng juga! Berarti udah hampir 2 jam kita nunggu. Katanya masih terhenti di stasiun Bangil. “Lamski Lambretta ya cyiiinn…”

Dan diskusi pun berlanjut membicarakan kebobrokan fasilitas publik di negara ini. Sistem transportasi massal yang nggak becus kayak gini sangat berpengaruh terhadap produktivitas roda perekonomian rakyat. Coba bayangkan, berapa banyak waktu dan kesempatan yang mungkin saja terbuang dalam kurun waktu 2 jam ini? Seharusnya kita sudah bisa melakukan hal lain ketimbang duduk bengong nungguin kereta datang.

Akhirnya si Penataran dateng juga. Masya Alloh, penuh banget… Jujur saja, ini pengalaman pertamaku naik kereta ekonomi seperti ini. Kalau di Jakarta kan ada KRL Jakarta-Bogor, menurutku segitu aja udah parah ya, dan di Penataran ini sepertinya lebih parah lagi!

“Kak, ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari naik kereta ekonomi. Pelajaran pertama adalah, bagaimana bersaing masuk ke dalam kereta dengan segitu banyak orang yang mengantri. Pelajaran kedua, adalah mencari posisi dan yang lebih penting, mempertahankan pijakan kita di antara puluhan pedagang asongan yang lewat bolak-balik. Pelajaran ketiga, adalah bagaimana turun dari kereta, berdesakan sama orang-orang yang mau naik,” kata Uphay.

Dan beneran lah, pelajaran pertama aja udah susah banget! Itu kereta sumpah penuhnya kayak apa tau, ratusan orang dijejali dalam gerbong sempit. Aku berusaha melangkah masuk ke dalam, didorong-dorong orang dari belakang yang sudah berdesakan ingin mendapat tempat.

Ya Alloh, orang-orang banyak yang jongkok dan ndelosor di bawah. Ada mbah-mbah, sampai dedek bayi yang masih merah. Punten… Nun sewu bu…berulang kata maaf aku ucapkan saat melewati mereka. Ya Alloh, maaf… maaf banget aku beberapa kali melangkahi orang-orang yang duduk di bawah itu. Gerbongnya juga sempit dan kotor banget, manusia, barang dagangan, tas, dan sampah bercampur jadi satu.

Sampai di tengah gerbong, kami berdua dapat posisi berdiri yang aman. Kereta mulai bergerak, dan pelajaran kedua pun dimulai. Pedagang asongan, pengamen, tukang bersih-bersih lewat nggak berhenti-berhenti. Uphay tersenyum, “Inget kak, pelajaran kedua!” sebelumnya aku nggak pernah membayangkan hal ini. Bagaimana ratusan orang, mulai dari dedek bayi sampai mbah-mbah yang udah tua, berjejalan di gerbong yang sempit, kotor, dan ekstra panas ini. Dan di tengah suasana yang sempit dan gerah, kita tetap harus rela berbagi tempat dan jalan untuk para pengamen, pedagang asongan, dan tukang bersih-bersih yang terus bersemangat mengais rezeki.

“Yah ginilah Kak, kereta rakyat…”

Aku masih speechless. Uphay tersenyum saja.

Luar biasa orang-orang ini. Aku saja yang baru pertama kali dan baru 15 menit di kereta, rasanya sudah pengen turun lagi. Coba bayangkan bagaimana orang yang harus naik kereta ini setiap hari, pulang-pergi? Bayangkan bagaimana dengan orang yang sudah berdiri sejak stasiun Surabaya?

Di tengah suasana yang semrawut dan bising itu, aku teringat kembali obrolanku dengan Uphay tentang kebobrokan pemimpin bangsa ini. Orang-orang yang mengaku anggota dewan perwakilan rakyat yang ngotot dibikinin gedung baru seharga 1,1 triliun. Yang plesiran ke luar negeri. Ya Alloh, nggak punya hati amat sih mereka… Penderitaan rakyat segininya, apa mereka nggak pernah tau ya? Rasanya hati ini diiris-iris. Diam-diam aku merasa ingin menangis.

“Phay, aku pernah naik KRL Ekonomi Jakarta-Bogor, tapi nggak separah ini,”
“Yah, ini mah belum ada apa-apanya Kak!”
“What could be worse than this?”
“Matarmaja! Juara dah tuh!”

Sampai sekarang aku belum bisa membayangkan seperti apa suasana di kereta Matarmaja itu. Apa yang bisa lebih parah daripada ini.

Di stasiun Kepanjen, beberapa orang turun. Aku dan Uphay pun dapat tempat duduk, meskipun hanya setengah pantat duduknya. Nggak berapa lama, ada seorang ibu dengan bawaan yang banyak, dan menggendong seorang bayi perempuan yang tertidur pulas. Aku dan Uphay buru-buru berdiri menawarkan tempat duduk kami. Si Ibu tersenyum, mengucapkan terima kasih. Tapi ia tetap mau berbagi sedikit tempat duduk untuk kami.

Aku memperhatikan adik bayi di gendongannya. Mungkin usianya baru 6 bulan. Pulas sekali tidurnya, meski dengan keringat dan kulit memerah kepanasan. Sudahlah dik, tidur saja. Biar kau nyaman di mimpi indahmu. Si ibu tak henti-henti mengipasi anaknya.

Tak berapa lama kemudian, bayi itu bangun. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan melihat sekeliling. Ah, adik bayi yang cantik sekali! Uphay langsung tersenyum dan menyapa adik bayi yang baru bangun itu. Eh, tanpa disangka-sangka, si adik bayi langsung tertawa senang disapa Uphay. Matanya yang lentik berbinar-binar menggemaskan.

Ya Tuhan… adik bayi itu saja masih bisa tertawa di tengah kesumpekan ini. Malu rasanya jika aku masih mengeluh.

Panas di dalam kereta semakin menyengat. Pasti matahari sekarang sudah ada di atas kepala. Aku melihat jam tanganku. Hampir pukul 12 siang. Laju kereta melambat perlahan hingga akhirnya berhenti tepat di Stasiun Blitar. Yak, selamat datang di Blitar. Dan, pelajaran ketiga pun dimulai: bagaimana turun dari kereta Penataran ini, berdesakan dengan lainnya yang mau turun, juga yang tak sabar mau naik. Huffftt...

***

Kawan Lama

21 April 2011

Sore ini aku akan menemui sahabat lamaku. Kami janjian di Malang Town Square. Malam ini aku berencana nginep di kosannya. Biar kuperkenalkan dulu kepada kalian.

Namanya Ulfah Fatmala Rizky, tapi semua orang memanggilnya Uphay. Kayaknya memang lebih pas dipanggil Uphay daripada Ulfah, hahaha… Ia adik kelasku waktu di SMP dulu. Kelar SMP, kami nggak pernah ketemu lagi. Uphay sekarang kuliah di Universitas Brawijaya Malang, Fakultas Ilmu Administrasi.

Enam tahun nggak ketemu, aku nggak melihat banyak perubahan. Dia masih tetep Uphay yang tomboy, cerdas, kritis, dan pingin tau banyak hal. Aku merasa dia sangat mirip aku waktu semester 3. Punya kebebasan dan rasa ingin tahu yang benar-benar tak bisa dicegah. Haus bacaan, semua buku dilahap. Kritis dalam diskusi-diskusi. Membebaskan pikiran, sampai kadang terlalu liar sampai bingung sendiri. Pada akhirnya, semakin banyak tahu, semakin gelisah pula memikirkan semua permasalahan dunia, mulai dari sejarah, ekonomi, politik, gender, sampai agama.

Iya, persis aku dulu. Hihihi.

Lah, memang aku sekarang seperti apa? Hmm…bisa dibilang aku sudah mulai jenuh memikirkan berbagai keruwetan permasalahan di dunia ini. Kapitalisme yang mengakar, hegemoni Amerika, konspirasi-konspirasi bla bla bla… demokrasi, korupsi, media massa yang, aaaaaa… tidaaaaakk… pusing banget mikirin itu semua. Semakin banyak tau tentang itu semua, semakin aku terjebak dan merasa bersalah, lantaran aku hanya setitik buih di tengah samudera, nggak tau mesti mulai dari mana.

Ngg…oke, sori, aku nggak akan melibatkan kalian dalam kerumitan jalan pikiranku. Yang sebenarnya malas juga kuungkit-ungkit, membuatku jadi ingat sama kompleksitas permasalahan di muka bumi ini.

Tapiiiii… sepanjang sore hingga larut malam itu, Uphay terus menerus mengajakku berdiskusi tentang segala kegelisahannya (yang pernah kurasakan juga), tentang segala bentuk kekacauan di dunia. Aaaagghh…lieur aslina! Aku yang sebenarnya mulai apatis ini jadi inget lagi, jadi merasa ‘helpless’ dan ‘guilty’. Tapi yah, anak ini bersemangat banget ngajak aku diskusi, dan aku juga jadi panas lagi nih.

Pertama-tama, dia memancingku dengan film “Monalisa Smile”. Mau nggak mau, aku jadi gatel juga untuk ngomongin permasalahan gender dan feminisme, serta relevansinya dengan Kartini dan Indonesia. Sampai jam 11 malam, waktu mau tidur si Uphay menunjukkan buku yang baru ia beli sore tadi. Nggak tau apa judulnya (karena mata gue udah sepet banget), yang jelas buku tentang Mahatma Gandhi. Oke… kembali lah gue sedikit terpancing membicarakan tentang Gandhi…terus menyinggung kapitalisme dan neo-imperialisme.

Yak ampun, padahal besok kita harus berangkat dari kosan jam 5.30 pagi untuk ngejar kereta Penataran yang akan membawa kita ke Blitar! Phay, udah yuk, bobo… gue jadi laper daritadi diajakin ngomongin yang berat-berat gitu… terus dia bilang, “Oh ya lo tidur aja. Gue masih penasaran sama buku ini. Mau baca dulu.”

Zzzzzzzz… persis gue banget yang dulu sering begadang ngabisin buku. Bahkan sering terbangun jam 3 atau 4 pagi karena rasa penasaran dan ngabisin buku Tan Malaka sampe subuh. Tapi kali ini, biarlah Uphay menikmati kebebasan pikirannya, yang tak pernah mau berhenti, walaupun hanya untuk tidur sejenak. Ya, aku tau rasanya. Rasa ingin tahu yang begitu menyenangkan dan semangat yang begitu menggelora untuk membuat perubahan.

Silakan Phay, kau tuntaskan rasa penasaranmu terhadap Gandhi. Sementara aku akan menikmati mimpi indah di balik selimut. Jangan lupa, besok kita harus bangun pagi.

Cerita dari Malang

19 April 2011

Pagi yang tenang, di Lawang, Malang. Ini hari keduaku di sini. Aku tiba dari Jakarta pukul 3 sore kemarin. Di Lawang yang sejuk ini, aku tinggal di rumah kerabatku. Rumah mungil yang sederhana, namun amat asri. Dikelilingi bukit-bukit rendah, yang jaraknya mungkin tak sampai 500 meter dari rumah.

Masih pukul 6, tapi sudah terang. Meski tidak ada perbedaan waktu antara Malang dan Jakarta, di bagian Timur pulau Jawa ini tentu matahari datang lebih awal. Membawa kehangatan yang menyibak kabut, menyisakan tetes embun berkilauan.

Aku menyeruput secangkir teh hangat di teras rumah. Langit timur tampak cerah dengan semburat kekuningan. Di antara bukit-bukit hijau Cemoro Lawang, tersembul sebuah puncak nan megah, Mahameru. Titik tertinggi di pulau Jawa. Selamat pagi wahai Mahameru, ada seseorang yang sangat merindukanmu.

Pagi-pagi gini, enaknya jalan-jalan buat mengusir dingin. Hmm… gimana kalo kita beli menjos aja? Menjos itu sejenis tempe, ampas tempe kali ya. Kalo di Sunda mah ada oncom yang juga ampas tahu kan, nah kalau di sini ada ampas tempe a.k.a menjos. Pagi-pagi dingin makan menjos-menjos anget, dicocol petis ditemenin teh manisss… AJIIIIIBBB…!

Ini salah satu yang membuatku selalu merindukan Malang: kulinernya! Memang dasar lidah orang Jawa Timur, aku langsung cocok sama semua kuliner di sini. Mulai dari gorengan menjos, bakpao telo, apel, sampai kripik tempe, rujak cingur, rawon, soto Lombok, hmm…jadi laper.

Banyak hal lain tentunya. Buatku, Malang ini punya potensi agrowisata dan situs-situs sejarah yang amat kaya. Tempat-tempat menarik untuk dikunjungi. Agrowisata, misalnya bakpao telo, kebun teh Wonosari, perkebunan apel di Batu, lahan-lahan pertanian nan cantik di sepanjang Nongkojajar hingga Tengger… dan tempat lain yang mungkin belum terekspos.

Sejarah, jangan ditanya. Ingat Malang pasti ingat Kerajaan Singosari dengan Ken Arok dan Ken Dedes. Terus pasti langsung jadi ingat Ken Andari (lohh??!). Ada situs candi, juga pemandian Ken Dedes yang terkenal itu. Di gunung Arjuna dan Semeru pun konon terdapat banyak arca dan candi yang masih tersebar, dan menyatu dengan kepercayaan lokal masyarakat setempat. Menarik juga untuk ditelusuri.

Hampir setiap tahun aku selalu menyempatkan diri ke sini. Buatku, Malang adalah tempat yang sempurna untuk sejenak kabur dari rutinitas. Menenangkan pikiran dari berbagai tekanan. Entahlah, aku selalu kangen Malang. Aku merasa punya ikatan dengan kota ini, yang selalu membuatku ingin kembali.

Setiap kali aku datang ke sini, rasanya Malang semakin panas saja. Pohon-pohon makin sedikit, dan pabrik-pabrik semakin banyak. Di atas perbukitan hijau yang menjulang tak jauh dari rumah tanteku, sekarang sudah terlihat deretan bangunan beratap putih. Dua cerobong asap menjulang, membuang asap putih, limbah dari pupuk yang tengah diolah. Yap, lereng bukit hijau itu sekarang sudah jadi pabrik pupuk. Ih sebel nggak sih ngeliatnya?

Pertamanya kukira kepulan asap putih itu berasal dari aktivitas gunung Bromo yang akhir-akhir ini sedang tinggi. Ehh…nggak taunya dari pabrik. Hal-hal macam ini nih yang pada akhirnya dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.

Omonganku ini sudah ada buktinya. Beberapa hari terakhir ini ratusan monyet ‘turun gunung’ menyerang lahan pertanian milik warga di Purwodadi, Pasuruan. Itu tuh deket banget dari Lawang sini. Monyet-monyet liar itu makanin jagung, buah, dan tanaman palawija milik warga. Kok bisa?

Ya jelas aja mereka turun gunung, wong habitat mereka di lereng-lereng yang lebih tinggi sudah pada jadi pabrik kok. Nggak bakalan monyet turun sejauh itu kecuali mereka benar-benar terdesak dan kelaparan. Untuk membuka sebuah pabrik di lereng bukit, berapa banyak batang pohon yang ditebang? Berapa hektar hutan yang dibabat? Berapa banyak hewan yang kehilangan tempat tinggal dan sumber makanan?

Kita seringkali tidak sadar, dengan keserakahan sesungguhnya kita telah merusak sumber-sumber kehidupan. Akibatnya mungkin tidak kita rasakan langsung, tapi pasti akan ada konsekuensi dari segala tindakan kita.

Bisa jadi, alasan yang sama berlaku pula untuk kasus serangan ribuan ulat bulu yang meluas di mana-mana. Alasan yang intinya adalah, ketidakseimbangan ekosistem. Burung-burung pemangsa ulat kan, terus menerus ditangkapi untuk dipelihara dalam sangkar. Atau serangga yang dulunya mungkin tinggal dan berkembang biak di hutan-hutan lereng bukit sekarang juga terpaksa turun gunung dan bertelur di pohon mangga milik warga. Ketika mereka menetas secara bersamaan, kita semua kebingungan.

Yah begitulah. Saking angkuh dan egoisnya manusia, seringkali lupa bahwa mereka adalah bagian dari alam itu sendiri. Mereka sering merasa sebagai makhluk paling cerdas, karena (mengaku) punya akal. Berlaku seenaknya demi duit semata, seolah mereka hanyalah satu-satunya penghuni bumi. Toh hawa nafsu dan keserakahan pula yang pada akhirnya dapat menjadi bumerang.

Selama ribuan tahun, alam, hutan dan gunung, telah membuktikan dapat hidup tanpa campur tangan manusia. Namun kita, dapatkah hidup 10 tahun saja tanpa bantuan mereka? Tidak. Percayalah.

***

Omong-omong, hari ini aku belum cerita pergi ke mana ya? Hari ini aku mengunjungi kebun teh Wonosari di kaki gunung Arjuna. Tak jauh dari sini, hanya satu kali naik angkutan umum ke atas. Tadi tuh sebenarnya di awal mau cerita tentang perjalananku ke Wonosari ini, tapi gara-gara aku teringat kepulan asap putih pabrik pupuk yang selalu mengganggu pemandangan, aku jadi geregetan deh nulis unek-unek di atas. Pabrik pupuk itu letaknya di atas bo, lereng bukit juga, makanya keliatan banget dari mana-mana, and that was really annoying.

Oke, kembali ke Kebun Teh Wonosari. Perkebunan ini berada pada ketinggian antara 950—1.250 di atas pemukaan laut (dpl) dengan temperatur antara 19—26 derajat Celsius. Agrowisata perkebunan teh ini dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara XII (Persero), yaitu perusahaan negara (BUMN) yang bergerak di bidang perkebunan kopi, kakao, karet, teh, dan holtikultura.


Udaranya sangat sejuk, ditambah dengan banyaknya taman-taman cantik dan beberapa fasilitas liburan lain seperti kolam renang, penginapan, dan tentu saja sentra oleh-oleh. Kalau akhir pecan, tempat ini ramai sekali. Berhubung hari biasa, jadi pas aku ke sana, ya masih sepi.

Aku pengen sedikit cerita nih tentang Gunung Arjuna. Sebuah gunung yang selalu menyapaku setiap kali aku mau beli menjos di pagi hari. Arjuna adalah gunung tertinggi kedua setelah Semeru. Kalau Semeru ada di sebelah timur Malang, Arjuna ada di sebelah barat. Kata oom-ku, dari puncak Arjuna kita akan melihat matahari terbit yang tersembunyi di balik punggung Semeru.

Oom-ku ini orang asli sana, punya rumah dan kebun yang luas di lereng gunung itu. Ia bilang, gunung Arjuna termasuk gunung yang jalur pendakiannya sangat menantang. Sebelum naik Arjuna, paling tidak kau harus sudah lulus mendaki puncak Gunung Ceremai di Jawa Barat, melalui jalur Linggarjati. Mirip-mirip gitu lah treknya.

Dan di Arjuna ini nih, kata oom-ku, banyak juga mitosnya. Katanya sih banyak makam orang-orang dulu yang dikubur di gunung ini. Ada candi juga, dan arca-arca yang masih banyak berserakan. Pun banyak orang yang ‘berziarah’ atau, katanya sih, bersemedi gitu lah di sini. Hmm…kayaknya seru ya. Ada yang berminat?

***