Jumat, 12 Oktober 2012

Big Bang was here...!


Setelah lama ditunggu-tunggu, akhirnya Big Bang datang juga ke Jakarta. Boyband papan atas asal Korea Selatan ini menggelar konser bertajuk ALIVE WORLD TOUR 2012 di Mata Elang International Stadium (MEIS) pada 12-13 Oktober 2012. Dan, gue nontooonn...!! Ahiww… Aku nonton hari pertama, soooo excited!

Ini pengalaman pertamaku nonton konser. Ada beberapa alasanku pengen nonton konser Big Bang.
1.       Pengen denger suaranya Daesung secara live. He has the best voice!
2.       Konser ini didukung oleh Live Nation dan dipromotori oleh Big Daddy. Double combo jaminan keren
3.       Pernah nonton rekaman Big Show 2012 di Korea dan langsung kepincut sama band + lightingnya
4.       Karena aku masih muda. Apa salahnya nyoba berbagai hal dan merasakan euforia masa muda yang mungkin beberapa tahun ke depan nggak bisa kunikmati seseru ini lagi.

Aku berangkat naik bus Transjakarta dari terminal Kalideres pukul 14.00. Transit di Harmoni, nyambung yang jurusan Ancol. Begitu keluar halte, kita bakal langsung ketemu loket untuk beli tiket masuk Ancol, Rp. 18.000. Nah, untuk menuju ke MEIS, kita bisa naik kendaraan gratis di kawasan Ancol, namanya  Bus Wara-Wiri, Rute Barat. Nanti kita transit di halte Danau Monumen, dari situ kita menunggu Bus Wara-Wiri, Rute Timur yang akan langsung membawa kita ke depan Ancol Beach City Mall. Iya, jadi MEIS ini bukan gedung yang berdiri sendiri. MEIS adalah sebuah arena yang berada di lantai 3 Ancol Beach City Mall.

VIPs!
Pas aku sampe, antriannya udah panjang geelaaa. Padahal itu baru jam 4 sore dan pintu masuk MEIS baru akan dibuka jam 6. Bahkan ada yang udah ngantri dari jam 11 pagi. Aku agak bingung, ngapain yah ngantri dari pagi amat gitu. Yang penting kan punya tiket, toh ntar pasti masuk? Kasian soalnya, harus panas-panasan dan duduk di pasir pantai selama berjam-jam.

Menjelang pukul 6, adzan magrib berkumandang. Bukannya pada solat yak, malah pada teriak-teriak “Buka…! Buka…! Buka…!” Saat itu aku udah mulai masuk antrian, jadi sempet sih ada pikiran, “Ntar kalo pas aku solat pintu dibuka gimana yah? Makin belakang dong duduknya?” Maklum, di konser kali ini yang ada seat numbernya cuma VIP class. Tapi masa iya menomorduakan solat magrib yang waktunya sempit ketimbang antrian konser yang baru dimulai jam 8 nanti?

Ninggalin sesuatu untuk solat itu nggak akan rugi, kata ibu. Bener aja, usai solat, dengan kuasa Alloh kita terdesak-desak masuk ke antrian depan, hahaha…! Lucky number one.

Lucky number one ;D
Ohya, ada satu nih yang nyebelin. Sebelumnya, Big Daddy bilang boleh bawa air minum maksimal ukuran 600ml ke dalem venue. Eh ternyata, sebelum masuk kita disuruh ngabisin minum kita dan buang botolnya. Nyebelin ga? Apakabar gue 3 jam di dalem tanpa minum? Mau kita pingsan apah?

Trus pas masuk MEIS, ya ampuuunn itu ABG-ABG pada lari-larian, aku yang lagi jalan santai sama Diana sambil kipas-kipas pun diserobot-serobot. Ngalah udah. “Oh em ji Dianaaa apakah kita sudah terlalu tua untuk dateng ke konser Big Bang??” Pada semangat-semangat amat.

Pas udah masuk semua, aku celingak-celinguk. Nah loh, kok sepi ya? Waktu itu aku di festival, standing B. Deket banget sama panggung, dan belakangku tuh kosong-song-song. Begitu ngeliat ke atas, kursi VIP juga sepi banget. Maklum, hari Jumat ini sebenarnya additional show. Main show-nya itu besok, hari Sabtu. Waduh, ntar krik-krik nggak yah jadinya?

Tepat pukul 8, jeng jeng jeng… di layar panggung tergambar 5 orang membeku dalam sebuah kapsul luar angkasa. Sound system-nyaaaaa omaigat ngerti banget gue kenapa Big Daddy nyaranin pake earplug. Jantung tuh dag dug dag dug. Ya karena deg-degan nungguin Big Bang nongol juga sih. Wusss… lima kapsul itu pun diluncurkan ke bumi. Dan dhuaaarrr…! Ternyata lima kapsul itu mendarat di depan kita! BIG BANG!

Stage-nya kece badai

 “I’m still alive… I’m still alive… I’m livin’ in a good life!”

Mereka kayak bonekaaaa… pake bajunya keren banget. “Hello Jakarta! Make some noooiiseeeee…!!!” G-Dragon, Taeyang, TOP, Daesung dan Seungri keluar dari kapsul dan langsung menyapa histeria penonton dengan lagu Tonight yang sumvahhh keren abis! Suara kelima cowok itu nggak beda dengan yang kita dengarkan di album rekaman, dan SERIOUSLY, iringan dari band-nya itu bikin lagu jadi beda dan semakin hidup! Ditambah dengan soundsystem dan lighting yang WOW, fantastic baby!!Gue jadi ngerti kenapa ribuan orang rela bayar mahal dan ngantri buat nyaksiin konser ini. Ini bener-bener sebuah pertunjukan yang mahal, world quality.

Awalnya, banyak yang sibuk mengabadikan aksi panggung mereka dengan kamera. Termasuk aku. Tapi setelah dipikir-pikir… ngapain juga aku capek-capek ngerekam? Orang fancam banyak di mana-mana. Bahkan DVD Big Show juga ada. Apa sih arti sebenarnya nonton konser kalau bukan untuk enjoy the performance? Mendengarkan kualitas live music mereka, menari dan menyanyi bersama, an

Rabu, 12 September 2012

The Lorax: Jika Pohon Terakhir Tumbang


The Lorax. Ini dia film favoritku baru-baru ini. Dari judulnya kedengeran serem ya, tapi aslinya film ini lucuuuuuu gemeeeesss banget, bikin aku sekeluarga ngakak-ngakak, sangat menghibur, tapi juga membawa pesan yang amat dalam.

Film animasi Universal Studios ini diangkat dari buku dongeng Dr. Seuss yang diterbitkan tahun 1972, dengan judul yang sama, The Lorax. Bercerita tentang suatu masa di Thneedville, di mana tidak ada lagi pepohonan dan udara bersih. Orang-orang harus membeli udara bersih dari seorang pengusaha kaya licik bernama Aloysius O’Hare.

Ngg…  apakah kedengarannya serius dan menyeramkan?

Itulah kerennya film ini! Sebuah cerita yang sebetulnya serem kalo kita bayangin, tetapi disampaikan dengan apik, lucu, dan sangat menghibur dengan sentuhan musikal.

Semua bermula dari kisah seorang pemuda bernama Once-Ler yang sedang mengembara bersama keledainya. Di tengah perjalanan, ia menemukan sebuah padang pohon Truffula yang sangaaaatt indah dan berwarna-warni. Di sana hidup berbagai hewan lucu. 

Padang pohon Truffula

Once-Ler menebang pohon Truffula dipelototin hewan-hewan

Once-Ler melihat kehalusan rumbai pohon Truffula sebagai peluang memulai bisnis. Rumbai tersebut dapat dijadikan bahan baku pakaian yang nyaman, namanya “thneed”. Ia pun menebang satu pohon Truffula dan memanen rumbainya untuk dijadikan “thneed”. Saat itulah, The Lorax datang. Setiap kali ada pohon ditebang, ia akan muncul. Dia adalah dewa yang mewakili pepohonan.

Sekali lagi, jangan membayangkan cerita ini jadi menyeramkan ya! The Lorax yang disebut dewa itu sama sekali nggak serem, malah dia unyuuuuuuuu banget, hahaha…

Lorax marahin Once-Ler yang udah menebang pohon Truffula

Lorax pun memarahi Once-Ler dan memintanya berjanji agar tidak menebang pohon lagi. Once-Ler pada awalnya menyanggupi, ia hanya memetik rumbai Truffula sedikit demi sedikit. Tapi ternyata, “thneed” dari pohon Truffula ini laku banget, semakin banyak orang yang mau membeli “thneed”. Demi meningkatkan produksi “thneed”, Once-Ler mengingkari janjinya pada Lorax. Ia menebang, menebang, dan terus menebang pohon Truffula tanpa perhitungan. Hingga akhirnya pohon terakhir pun tumbang, dan Once-Ler baru menyadari apa yang telah ia lakukan. Tidak ada lagi padang Truffula yang indah, semua berubah jadi tanah tandus tanpa pohon, sungai-sungai tercemari pabrik “thneed” miliknya. Hewan-hewan lucu yang dulu menjadi kawannya di padang Truffula juga pergi meninggalkan Once-Ler, karena mereka tidak bisa lagi hidup di tanah tandus dan penuh polusi itu. Karena pohon Truffula habis, bisnis "thneed" Once-Ler otomatis mati.

Once-Ler kemudian hidup dalam penyesalan hingga masa tuanya. Ia menceritakan kisahnya kepada Ted (Zac Efron), seorang anak lelaki dari Thneedville yang belum pernah melihat pohon seumur hidupnya. Ted ingin tahu kisah tentang pohon, karena ia lagi naksir sama seorang cewek, Audrey (Taylor Swift) yang bilang, ia akan mencium lelaki yang bisa membawakannya sebuah pohon.

Kelanjutan ceritanya, tonton sendiri dehhh… dijamin setelah nonton ini kalian akan makin sayang sama setiap batang pohon di bumi dan bersyukur atas udara bersih yang (masih) bisa kita hirup secara gratis. Jangan sampai deh kita sampai harus membeli udara bersih. Bukan tidak mungkin lho. Lima puluh tahun yang lalu, siapa sih yang kepikiran harus membeli 500ml air bersih seharga 3000 rupiah? Tapi itu terjadi sekarang. Dan kita menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar.

Air dalam kemasan

Padahal, coba renungkan lagi, kenapa kita sampai harus membeli air? Apa yang telah kita lakukan sehingga kita tidak bisa lagi meminum air sungai? Apa yang sudah kita perbuat sehingga air tanah kita tidak layak konsumsi? Apa yang sudah kita lakukan hingga sumur-sumur kita mengering?

Kita mungkin sudah agak terlambat untuk menyelamatkan sumber-sumber air bersih. Tetapi jangan sampai kita terlambat menyelamatkan limpahan udara bersih yang hingga saat ini masih bisa kita hirup secara gratis. Jagalah pepohonan, atau suatu saat kita harus membayar untuk setiap oksigen yang kita hirup. 


 
“UNLESS someone like you cares a whole awful a lot, nothing is going to get better. It’s not. “ The Lorax – Dr. Seuss.





Selasa, 17 Juli 2012

Catatan Mahasiswa Tingkat Akhir


Halo, Ken Andari kembali lagi menulis setelah beberapa bulan terakhir ini berjuang menyelesaikan skripsi dan melewati berbagai sidang. Alhamdulillah..

Skripsi… Skripsi… Ah apaan sih? Kenapa harus ada skripsi? Ngapain dikerjain ribet-ribet, itu kan cuma syarat? Nantinya juga cuma berakhir jadi tumpukan kertas!

Oh ya?

Hmm… buatku skripsi bermakna lebih dari itu. Skripsi adalah sebuah proses yang mahal harganya. Proses pendewasaan diri. Dulu, waktu sekolah dan kuliah, kamu punya jadwal yang mengatur kamu. Setiap PR dan tugas ada deadline-nya, terus dinilai apakah hasil tugas kita sesuai sama apa yang diajarkan guru/dosen.

Tapi saat mengerjakan skripsi, kamu akan belajar untuk bertanggung jawab. Tanggung jawab atas usulan penelitian yang kamu ajukan. Tanggung jawab untuk menyelesaikan apa yang telah kamu mulai. Tidak ada jadwal yang mengatur kapan kamu harus mengerjakan skripsimu. Pun tidak ada deadline yang memaksamu menyelesaikan itu. Dosen pembimbing hanya mengarahkan, tetapi selebihnya kamu-lah yang harus bisa mempertahankan ide penelitianmu. So, it’s all about yourself.

Buatku, skripsi ini bermakna lebih dari sekadar tumpukan kertas atau syarat lulus kuliah. Ini bukan tentang hasil, ini adalah sebuah proses.

Proses mengalahkan diri sendiri; egoisme dan kemalasan. Kalau dipikir-pikir, skripsi tuh sebenarnya buat apa sih? Ribet-ribetin aja. Toh aku belum jadi sarjana pun udah bisa kerja! Mungkin kita sering berpikir gitu. Ah, itu namanya egois. Apakah kita kuliah cuma untuk diri sendiri? Tidak. Ada orang tua yang selalu menunggu kabar kelulusan kita.

Wisuda
Skripsi itu biar apa sih? Biar lulus! Kalau sudah lulus kita bisa wisuda. Buat kita, wisuda memang nggak terlalu penting. Cuma seremoni. Tetapi buat orang tua kita, itu bermakna banyak. Itu adalah simbol kebanggaan, anaknya berhasil menyelesaikan pendidikan, dan sekarang sudah jadi sarjana. Betapa bangganya mereka melihat anaknya bertoga. Kita tidak bisa membalas semua limpahan materi yang sudah mereka keluarkan untuk kuliah kita, tetapi kita bisa membuat mereka bangga dengan wisuda. Itu adalah sebuah hutang yang harus kita lunasi. Dan salah satu tahapan untuk menuju wisuda adalah skripsi. Makanya kita harus bisa mengalahkan semua egoisme dan kemalasan diri, demi kebanggaan untuk orang tua kita.

Skripsi itu proses menguji batas kemampuan diri. Ya pikiran, ya tenaga, ya mental, ya kesabaran. Tumpukan kertas, nilai, dan yudisium itu hanyalah simbol garis “FINISH”. Itu hanya evaluasi dan penilaian orang lain yang melihat dari luar. Tetapi proses yang sesungguhnya terjadi dalam diri sendiri.

Seperti aku, makna dan manfaat sesungguhnya dari skripsi justru kudapatkan selama proses 6 bulan itu. Iya, 6 bulan. Lebih sih kayaknya. Aku harus tiga kali mengajukan usulan masalah sebelum akhirnya diterima. Gonta-ganti judul. Ngubek-ngubek identifikasi masalah. Udah bikin bab 2 dan 3 banyak-banyak, eh ternyata salah. Ganti lagi. Ganti lagi. Ganti lagi. Membagi waktu dengan jadwal kerja. Menyingkirkan pikiran galau-galau nggak penting (halahh…) Mengejar dosen pembimbing ke sana ke mari. Sidang sendirian, pembimbing ga ada yang dateng, ga ada yang ngebela. Ujung-ujungnya ditangguhkan. Ah sedih. Harus revisi, rombak lagi, bener-bener rombak. Ah ya… pasti kamu tau gimana rasanya.

Berat memang, proses yang demikian mahal dan melelahkan. Tapi aku tidak sekalipun merasa waktuku terbuang sia-sia dalam proses pengerjaan skripsi yang lama itu. Karena selama itu pula-lah aku belajar. Aku belajar banyak hal, membaca banyak buku, mewawancarai banyak orang, menyaring berbagai perspektif, lalu belajar membahasnya dengan kritis. Aku memperluas wawasan.

Aku belajar sabar menghadapi berbagai cobaan. Sabar… kerjakan saja pelan-pelan. Aku belajar ikhlas menerima kenyataan saat aku harus gagal atau tertinggal dari teman-temanku yang lain. Aku belajar bersyukur dan mengambil sisi positif dari setiap kejadian. Aku belajar berlapang dada dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Ibuku selalu bilang, berdoa sudah, berusaha sudah. Kalau ternyata yang terjadi tidak sesuai harapan, berarti itu bagian dari rencana Allah untuk menguji kita. Sering kita berpikir kita tidak mampu dan hampir menyerah, namun Tuhan memberikan ujian justru karena ia percaya kita mampu. Karena ia mengenal kita melebihi diri kita sendiri. 

Aku bisa bilang, aku adalah orang yang berbeda jika dibandingkan dengan aku dulu sebelum mengerjakan skripsi. Aku punya kematangan sikap dan pikiran yang berbeda. Aku berkali-kali jatuh, dan berkali-kali itu pula aku belajar bangkit. Itu adalah proses pendewasaan diri yang terlalu berharga untuk bisa dinilai dengan huruf mutu A-B-C saja. Nilai skripsimu yang sesungguhnya dilihat dari seberapa besar proses pembelajaran dan pendewasaan yang terjadi di dalam dirimu.

It’s all about journey, not destination.

Dari skripsi, aku belajar mendekatkan diri kepada Allah. Bersyukur atas setiap kesempatan dan pembelajaran yang Ia berikan. Berterima kasih atas doa-doa yang Ia kabulkan.

Kedua orang tuaku, yang selalu jadi motivator terbesarku. Mereka dengan sabar menguatkan hatiku untuk selalu mengerjakan, biarpun perlahan tapi pasti. Untuk selalu ikhlas dan sabar atas segala cobaan. Nggak pernah bosan ngingetin untuk jaga kesehatan, jangan begadang, jangan telat makan, jangan lupa minum vitamin. Mengingatkan aku untuk bangun pukul 3 pagi, solat lalu mengerjakan lagi. Walaupun aku tahu betul mereka sangat mengharapkanku untuk lekas wisuda, namun mereka tidak pernah menekan aku dengan menuntut ini-itu. Terima kasih Pak, Bu, atas pengertiannya. Aku akan jadi apapun yang kalian inginkan. Semoga suatu saat Allah mengizinkanku membalas kasih sayang kalian.  

Aku ingin berterima kasih dan bilang “kangeeeeennn…!” sama anak-anak Jurnal 07, yang selalu membuat Jatinangor terasa begitu nyaman. Ah, tau nggak sih, salah satu pelecut semangatku setiap kali aku merasa down saat mengerjakan skripsi? Video ini!



It’s so beautiful… Sering banget saat aku ngerasa down, capek, enggan ngerjain, aku setel lagu Tyler Hilton itu sebagai penyemangatku. Ayo Ken, keep on… keep on… when you can’t understand, but you’re starting to see, it’ll work in the end. You just got to believe, keep on… keep on… Terus aku nangis. Terharu, karena dari lagu itu aku mendengar teman-temanku tulus menyemangati. Terima kasih teman-teman! Aku kangen!


Buat teman-teman, yang masih berjuang nyekripsi, SEMANGAT...!!!

Rabu, 30 Mei 2012

Menikmati Ombak di Pantai Batu Karas


Pesona pantai selatan memang seolah tak ada habisnya. Mulai dari legenda Nyi Roro Kidul yang mengiringi keindahannya, hingga deburan ombak besar yang bergulung dari Samudera Hindia. Di Jawa Barat, salah satu yang paling dikenal adalah Pantai Pangandaran.

Sebenarnya tak jauh dari Pangandaran, kurang lebih 24 kilometer jaraknya, ada pantai berpasir hitam lain yang tak kalah cantik, Pantai Batu Karas. Pantai ini menjadi favorit para peselancar, karena tidak terlalu ramai dan ombaknya tidak terlalu besar seperti di Pangandaran.

surfing di Batu Karas
Bagi para pemula, belajar berselancar di Batu Karas adalah pilihan yang tepat. Untuk belajar, tidak harus punya papan selancar dulu. Di tepi pantai banyak yang menyewakan papan selancar. Anak-anak muda setempat banyak yang mahir berselancar, jadi jangan malu untuk berbagi pengalaman.

Walaupun namanya Batu Karas, bukan berarti pantai ini dipenuhi bebatuan keras atau karang di sepanjang pantai. Tepian pantainya yang berpasir hitam legam sangat landai dan aman untuk berselancar, berenang, maupun rekreasi air lainnya.

Selain itu, Pantai Batu Karas juga memiliki sudut-sudut pantai yang airnya cenderung tenang. Berenang dan bermain pasir pun dapat dilakukan dengan aman. Laut dan pantainya masih cukup bersih, sehingga sangat nyaman beraktivitas di sini.

Batu Karas juga cucok banget buat kita yang ingin berwisata bareng kawan-kawan. Misalnya makrab, gitu. Anak jurnal udah 2 kali makrab di sini. Selain karena tidak terlalu ramai, di sini juga banyak olahraga dan permainan air yang seru-seru, seperti banana boat dan jetski. Pasir pantainya juga asik buat main bola. 


Menggalau juga boleh

Di sekitar pantai banyak terdapat guest house sederhana yang cukup nyaman, dan terbilang murah. Rumah ibadah, tempat oleh-oleh, hingga tempat parkir untuk mobil maupun bus pun tertata dengan cukup baik.

Ke pantai nggak afdol kalo belum makan sea food. Di Pantai Batu Karas banyak terdapat restoran yang menjual hidangan sea food segar hasil tangkapan para nelayan. Dengan harga yang cukup terjangkau, kita bisa menikmati hidangan udang, cumi, dan aneka ikan laut segar yang diolah saat itu juga, huwow!

segarrr fresh from the tree!


Sebagai penutup, jangan lupa minum air kelapa muda. Mantap! Untuk sekedar cemilan, di sepanjang pantai banyak pula yang menjual bakso cuanki atau siomay. Mengingatkan bahwa kita masih berada di tanah Priangan, hehehe...

Selain pantai yang indah, di ujung timur Batu Karas juga terdapat sebuah bukit kecil yang ditumbuhi pepohonan cukup lebat. Dari sini kita bisa melihat pemandangan menakjubkan saat air laut menghantam tebing-tebing kokoh.

Pantai Batu Karas tidak menghadap Barat, jadi kita tidak bisa menikmati matahari terbenam dari sini. Tetapi bukit kecil tadi menjadi tempat sempurna untuk melihat matahari terbit dari balik samudera, diiringi kembalinya kapal-kapal nelayan ke daratan.
Sunrise
cakep yak? bangun pagi makanya!
Batu Karas terletak di Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Masih satu wilayah dengan sejumlah tempat wisata terkenal lain seperti Pantai Pangandaran, Batu Hiu, dan Cukang Taneuh atau yang tenar dengan sebutan Green Canyon.

Keempat tempat ini bisa kita sambangi satu per satu dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Karena letak empat tempat wisata yang berdekatan ini pula, jangan kaget ya kalau pada akhir pekan atau masa liburan lalu lintas akan cukup padat. Bayangin aja bus-bus besar memenuhi dua lajur sempit. Siap-siap nahan pipis berjam-jam.

Dari Jakarta, waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Batu Karas kurang lebih 8 jam dengan mobil (huuuft..) melalui jalur Bandung dan Tasikmalaya. Tetapi percaya deh, jarak jauh yang kita tempuh akan terbayar begitu melihat indahnya pantai ini. Yuk mari, sampai ketemu di Batu Karas!

Rabu, 02 Mei 2012

Maskapai yang Aneh


Minggu, 29 April 2012

Hari ini kami akan menempuh perjalanan panjang. Ende-Kupang-Jakarta. Pertama, kami akan naik pesawat Trans N*sa menuju Kupang (jadwalnya pukul 11.00), dan dari Kupang langsung menyambung naik pesawat Garuda pukul 13.20 menuju Jakarta.

Dari hotel, kami naik ojek ke Bandara Haji Hasan Aroeboesman. Tarifnya cukup Rp 5000. Kami tiba di bandara pukul 9, eh ternyata bandaranya masih tutup. Oh ya, ini kan hari Minggu, jadi semua orang masih di gereja. Di Ende mayoritas warganya memang beragama Katolik, maka tak heran jika Minggu pagi seperti ini jalanan terlihat sepi, digantikan dengan suara nyanyian merdu yang bergema dari seluruh gereja. Sambil menunggu pintu bandara dibuka, kami cari-cari sarapan dulu di sekitar bandara. Kami bungkus nasi kuning dan makan di ruang tunggu.

Kami check in pukul 9.30, dan ini pertama kalinya aku naik pesawat tanpa nomor tempat duduk. Aih, jadi nanti duduknya bebas aja gitu ya? Baru tau deh. Sekitar 20 menit kemudian pesawat yang akan kami tumpangi mendarat. Aku sempat bingung saat semua kru pesawat ikut turun, dan berjalan ke luar bandara. Loh, mau ke mana mereka? Bukankah sebentar lagi kita harus boarding? Ah, mungkin cuma keluar sebentar, begitu kami pikir.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30, ruang tunggu sudah penuh dengan penumpang tujuan Kupang, namun belum ada tanda-tanda kami akan boarding. Tidak ada pemberitahuan apapun. Bahkan bagasi kami pun masih belum dimasukkan. Mesin pesawat juga tidak menyala. Bapakku menghampiri petugas check in, dan bertanya, di situ jadwal boarding pesawat ini jam berapa ya? Petugas check in menjawab, “Begitu kru datang, akan langsung boarding, Pak.” Lah, memangnya para kru itu ke mana sih? Di jadwalku penerbangannya jam 11 lho. Mestinya sekarang sudah boarding. Trus dengan polosnya petugas tersebut bilang, “KRUNYA LAGI MAKAN, PAK...”

?????????

Baru pertama kali ini sebagai penumpang aku disuruh nunggu kru pesawat makan. Nggak tau apa tadi aku bungkus nasi kuning dan makan di ruang tunggu biar gak telat check in? Beberapa penumpang mulai kelihatan tidak sabar. Kebanyakan adalah mereka yang punya lanjutan penerbangan di Kupang, seperti aku. Para penumpang itu mulai bertanya dengan nada suara tinggi kepada petugas bandara, karena waktu telah menunjukkan pukul 10.50 dan mereka belum mendapatkan kepastian pesawat akan berangkat jam berapa, atau apa sebabnya pesawat belum juga berangkat. Bapakku orangnya terlalu baik sih, ga bisa marah-marah. Mesti aku nih yang beraksi. Akhirnya aku ikut keluar ruang tunggu dan menghampiri salah seorang berseragam merah, bertuliskan PT Trans N*sa. Rupanya ia orang manajemen maskapai tsb. Aku udah nggak bisa bermanis-manis.

“Pak, ini pesawat yang ke Kupang kan?”
“Iya,”
“Kenapa belum berangkat? Di jadwal tiket saya tulisannya jam 11 nih,”
“Sabar Mbak, krunya lagi makan,”
“Lah, saya nggak ada urusan Pak dengan itu. Yang saya tau jadwal pesawat adalah jam 11, sekarang sudah jam 11,”
Beberapa penumpang lain yang sudah tidak sabar pun ikut menimpali.
“Bisa dihubungin nggak Pak, suruh cepet dateng gitu!”
“Iya bu, mereka sedang meluncur ke sini,”
“Makan di mana sih emang?!” “Baru kali ini pesawat telat berangkat gara-gara kru lagi makan!” penumpang lain mulai protes.
“Sabar Pak, namanya juga manusia... mereka juga kan perlu sarapan...” kata si manajer.

Ya ampun, ngunyah apaan kali makan sampe 1 jam gitu. Perasaan di depan juga ada warung padang deh. Atau bisa juga kayak aku tadi, beli nasi kuning di depan dan makan di ruang tunggu, 15 menit beres kan?

Seorang bapak tampak sudah sangat kesal, “Pak, saya ada flight ke Jakarta pukul 13.30 dengan Garuda. Garuda selalu on time, kalo nanti saya telat dan ketinggalan pesawat gara-gara kru bapak masih makan, apa bapak mau ganti rugi tiket Garuda saya?”

Tah, eta pisan.

Eh dengan enaknya si manajer bilang, “Masih bisa Pak, tenang dulu...”

Aku gregetan, “Bisa pak, kalo krunya sudah di sini sekarang! Sekarang, mana??”

Yang aku tau ya, biasanya pesawat telat tu karena keadaan cuaca, kerusakan teknis, nungguin penumpang... bukan karena krunya lagi makan! Ampun dah. Padahal ini scheduled flight loh, bukan unscheduled flight, bukan pula chartered flight. Scheduled flight itu berarti sudah reguler jadwalnya jam segitu, dan itu justru wajib on time. Karena di bandara Kupang kan juga pasti sudah di atur, oh si ini akan mendarat pukul segini, si ini 10 menit setelahnya, lalu landasan akan dipake take off jam segini... Yang pake landasan kan juga ngantri, bukan dia doang. Makanya scheduled flight itu semestinya on time. Ini mah bagasi belum dimasukin, mesin belum dipanasin, belum cek dan ricek... yang dua terakhir itu malah sudah berkaitan dengan faktor keselamatan penerbangan.

Nggak lama, akhirnya rombongan kru itu datang juga. Cieee yang abis makan! Kenyang nih yeee... *pletak! (pengen nimpuk)

Akhirnya kami boarding. Dan saat kami masuk pesawat, mesin bahkan belum dinyalakan. Baru pertama kali aku masuk pesawat, pesawatnya masih anget dan gelap (AC dan lampu belum nyala). Haduh mas bro... mbak sis... yo opo seeehh... Maskapai yang aneh.

Begitu penumpang sudah rapi, barulah mesin dinyalakan, pesawat langsung mundur dan menuju take off position. Are you serious?!! Bapakku keliatan tegang, karena ia sangat mengerti teknis keselamatan penerbangan, dan ini udah nggak bener. Ini baru kali ketiga bapak naik maskapai selain GIA (kali kedua buatku), and this is the worst.

Pukul 12.15 kami landing (alhamdulillah dengan selamat) di Kupang. Bapak langsung ngacir buat check in, sementara kami menunggu bagasi. Pesawat Garuda dijadwalkan mendarat pukul 12.30, and here it is! Jam 12.30 teng, pesawat itu mendarat. See? Apa jadinya kalau kami telat mendarat dari Ende? Pesawat ini jadwal berangkat pukul 13.30, namun penumpang sudah diharuskan check in dari 1 jam sebelumnya, lalu boarding pukul 13.00. dan semuanya, on time.

Singkat cerita, kami tiba di Jakarta sore hari, pukul 16.30 WIB. It’s a long journey.

Ohya, aku sudah janji kan akan memberikan info estimasi biaya dan akomodasi selama di sana. Ini rinciannya – eh tapi tidak termasuk tiket PP Garuda Indonesia JKT-KOE dan KOE-JKT ya, hehe, peace (^,^)v
Kita mulai dari airport tax bandara Soekarno Hatta : Rp 40.000/org
Sewa taxi dari Bandara El Tari Kupang: Rp 60.000
Hotel Le Detadu Kupang: Rp 125.000/nett
Ojek dari hotel ke bandara: Rp 15.000
Ongkos angkutan umum Kupang: Rp 2.000/org

Tiket Wings Air KOE-ENE: Rp 486.000/org
Airport tax Bandara El Tari Kupang: Rp 20.000
Sewa mobil Ende-Kelimutu: Rp 500.000
Hotel Dwiputra Ende: Rp 150.000/nett
Ongkos angkutan dalam kota Ende: Rp 2.000/org
Ongkos angkutan Ende-Nangapanda: Rp 5.000/org

Ojek dari hotel ke bandara: Rp 5000/org
Tiket Trans Nusa ENE-KOE: Rp 980.000/org (ini harga hari Minggu. Wajar kan kalo gue marah-marah saat dia leyeh-leyeh makan?)
Airport tax Bandara Hasan Aroeboesman Ende: Rp 10.000

Flores Tourist Information, Jalan Bakti no. 1, depan Pantai Ria Ende.
Kalau mau berwisata ke Ende, bisa hubungi Bang Yosi di 081339513882
Bisa menginap di Al-Hidayah Guest House, Jalan Yos Sudarso, Ende (0381) 23707
Atau di Hotel Mentari, Jalan Pahlawan No. 19, Ende (0381) 21802

Pantai Penggajawa, Sebuah Ironi


Sabtu, 28 April 2012

Ende memang penuh warna. Setelah kemarin menyaksikan keajaiban danau tiga warna di Gunung Kelimutu, hari ini kami menyaksikan pesona lainnya di Pantai Penggajawa. Pantai berpasir hitam, itu biasa. Pantai pasir putih pun banyak. Kalau pantai dengan hamparan batu biru? Naaahh... itu cuma ada di sini, di Pantai Penggajawa.

 
Looks familiar? Ya, mungkin kamu sering melihat batu-batu seperti ini di toko bahan bangunan. Atau mungkin ia ada di akuarium atau halaman rumahmu? Di halaman rumahku juga ada bebatuan biru itu, sebagai dekorasi taman. Dulu kupikir, ya ampun orang rajin amat mengecat batu ini satu per satu! Eh ternyata, batu biru itu alami, dan semua berasal dari pantai ini.


Melihat batu warna-warni begini, aku jadi ingat dulu waktu kecil aku percaya peri-peri kecil seperti Tinkerbell-lah yang bekerja mewarnai bunga-bunga, melukis sayap kupu-kupu dan badan ikan nemo, dan mengukir karang-karang yang cantik. Hehe... imajinasi masa kecil. Sekarang, melihat semua keindahan ini aku hanya mampu bertasbih... Innallaha jamiil wa yuhibbu al-jamaal. Ialah sebenar-benarnya seniman.

Pantai Penggajawa terletak 20 km ke arah barat Kota Ende. Untuk menuju ke sana, kamu naik angkutan kota dulu ke terminal Ndao. Dari situ, kamu nyambung lagi naik angkutan yang menuju Nangapanda. Angkutan ini rutenya melewati jalanan yang mengikuti garis pantai. Berkelok-kelok melintasi punggung bukit, dengan pemandangan laut lepas di sebelah kiri jalan. Kayaknya kalau naik sepeda asik nih, kayak rute etape-etape gitu deh. Pokoknya nanti kalau sudah kelihatan pantai dengan bebatuan biru menghampar, itu berarti kamu sudah sampai di Pantai Batu Biru atau Pantai Penggajawa. Turun saja, ongkosnya Rp 5000.

Aku percaya nggak percaya melihat pemandangan di hadapanku. Edaaaaaann...! Baru pertama kali ini aku melihat pantai berwarna-warni. Subhanalloh, indah sekali. Tempat seindah ini pun ternyata belum terjamah. Pantainya sepiiiiii... sekali. Kalau di Jawa tempat secantik ini mungkin sudah ramai diserbu orang. 


Bapak, Ibu, Niko, dan aku langsung sibuk masing-masing, nyari batu-batu unik. Kebanyakan memang berwarna biru kehijauan (tosca) tapi ternyata batu dengan warna-warni lain juga banyak! Ada warna ungu, merah, putih, kuning, macem-macem. Ada yang lapis-lapis, mengingatkan kita pada warna permukaan planet Venus dan Jupiter.



Bentuknya juga lucu-lucu. Ada yang berbentuk kotak kayak sabun batangan, bentuk segitiga, bundar mulus kayak ulekan, sampai yang mirip pelok mangga (apa emang pelok mangga beneran ya? atau jangan-jangan itu adalah fosil mangga yang berasal dari jutaan tahun yang lalu? --halaaahhh...)

Apakah itu batu? Atau pelok mangga?
Bapak dan ibu mengumpulkan batu-batu imut dan lucu, Niko mengumpulkan batu-batu besar yang memiliki pola dan bentuk yang unik, sedangkan aku sibuk memenuhi kantong celanaku dengan bebatuan warna-warni segede coklat chacha. Jadi inget lebaran... hehe. Kalo lebaran kan aku selalu memenuhi kantongku dengan kue dan kacang dari rumah orang, sekarang kantongku penuh batu :p

Aku berjalan menelusuri pantai. Kalau biasanya kita bertelanjang kaki saat menelusuri pasir pantai, di sini bertelanjang kaki cuma buat orang yang niat mau refleksi. Sakit bok, ya iyalah batu semua gitu. Pantai di sini ternyata ombaknya lebih keras daripada pantai di Kupang atau di Kota Ende. Bukan ombak biasa, ini ombak yang membawa serta bebatuan warna-warni itu. Jadi suaranya bukan cuma “byuuurr...” tapi juga “kletak kletak kletak...” Dan ketika ombak datang, ia tidak hanya membasahi kakimu, tapi sekaligus MENIMPUK. Kebayang kan, ombak keras datang bersama ribuan batu dan kerikil? Rasanya: aduh! Nyeri euy! Cantik sih cantik warna-warni, tapi namanya juga batu, kalo ketimpuk tetep aja sakit.

Ombak datang membawa batu
Ohya, di sekeliling pantai ini banyak tebing, yang lagi-lagi, warnanya tidak biasa. Tebing ini, dan segala batu pecahannya berwarna hijau! Foto ini bukan hasil editan permainan warna ya, itu warnanya benar-benar seperti itu! Bukan pantulan, bukan pula cat (atuhlah...siapa juga yang rajin amat ngecat tebing sepanjang pantai jadi ijo...)


 

Kami terus berjalan menelusuri pantai, berharap menemukan penjual souvenir atau paling tidak, penjual ikan bakar. Ternyata, tidak ada sama sekali. Hufft... Pantai itu ya benar-benar pantai saja, tidak dimaksimalkan sebagai objek wisata unik dan tidak dimaksudkan untuk menarik pengunjung. Sayang sekali. Aku nggak ngerti deh, apakah pemerintah setempat memang betul-betul pengen menjaga kelestarian pantai tersebut atau karena nggak bisa dan nggak niat mengembangkan potensi wisata sih? Ckckck...

Berjalan jauh nyari tukang ikan bakar dan souvenir
Penduduk di pesisir kebanyakan bekerja sebagai nelayan dan pendulang batu. Mereka mengumpulkan batu-batu biru itu dari pantai, atau dari dasar laut, lalu disortir berdasarkan bentuk, warna, dan ukuran. Setiap minggu akan ada pengepul dari kota yang membeli batu-batu yang mereka kumpulkan. Sekantung batu dihargai Rp 25000. Murah banget ya? Kalo sudah sampai di toko bangunan, apalagi di Jakarta, harganya bisa berlipat-lipat.

Sepanjang pesisir, kamu akan melihat tumpukan batu di mana-mana, di depan setiap rumah. Artinya itulah mata pencaharian utama warga kampung ini. Mendulang batu, menyortirnya, lalu menjual ke pengepul. Tidak ada satu pun tanda-tanda penduduk sini yang menjual batu-batu indah tersebut dalam bentuk kerajinan tangan atau souvenir. Padahal kalau batu-batu ini dijual dalam bentuk kerajinan tangan dan souvenir, harganya pasti akan lebih mahal daripada kalau menjual tumpukan batu ke pengepul. Ada nilai tambahnya. Dan turis jelas lebih berminat membeli cinderamata seperti itu daripada harus membeli sekarung batu. Ya kan?

Tumpukan batu di depan rumah warga
Jelas sudah, berarti memang tidak ada perhatian dari pemerintah setempat terhadap eksotisme pariwisata Ende. Di Kelimutu tidak, di kota pun tidak, di pantai secantik ini juga tidak. Kecantikan alam dan kekayaan budaya tidak disinergikan dengan sektor pariwisata dan industri kreatif yang semestinya menjadi penggerak roda perekonomian warga.

Padahal mereka tinggal di pesisir pantai yang amat mempesona, mungkin cuma satu-satunya pantai di dunia yang punya hamparan batu biru alami, tetapi kebanyakan warga masih tinggal di gubuk reyot. Nenek-nenek berusia lanjut masih bekerja memecah batu di halaman rumahnya. Gimana nggak sedih coba? Padahal di halaman rumah mereka itu pula terhampar potensi pariwisata dan keunikan yang belum dimanfaatkan secara maksimal untuk menarik perhatian wisatawan.

Aku berpikir, mereka tidak seharusnya menjadi buruh pendulang dan pemecah batu yang hanya bisa menjual ke pengepul dengan harga murah, seharusnya mereka sudah menjadi pemilik restoran ikan bakar atau penginapan tepi pantai. Ya kan? Turis mana coba yang nggak mau tinggal lama-lama di tempat seindah ini?

Ibu-ibunya juga begitu, mereka mengangkut batu dari pantai untuk dibawa ke halaman rumah mereka, lalu disortir dan menunggu pengepul datang. Padahal aku membayangkan, mereka seharusnya bisa dibina, diberikan pengetahuan dan keterampilan, sehingga bisa membuat nilai tambah dari batu-batu biru nan cantik itu. Seharusnya mereka jadi juragan souvenir batu biru, seharusnya mereka bisa membangun industri kreatif yang membuat perekonomian desa mereka jadi lebih baik daripada harus capek-capek mengangkut batu.

Aku sedih sekali, melihat bahwa masih banyak rakyat Indonesia yang tidak sadar bahwa mereka tinggal di tanah surga. Surga itu ada di halaman rumah mereka, namun mereka tidak diberi tahu, tidak dibina bagaimana mengambil manfaat dari sana. Sungguh suatu ironi. Aku tahu, seharusnya aku bercerita kepada kalian tentang betapa cantiknya Pantai Penggajawa. Tapi aku munafik jika hanya bisa menceritakan keindahannya saja. Padahal ada ironi di sana. Di mana penduduk setempat masih hidup dalam gubuk reyot, melakukan pekerjaan kasar seperti mencari, memecah, dan mengangkut batu-batu indah itu untuk diekspor atau dibawa ke Jawa. Dibeli dari mereka dengan harga murah, lalu dijual dengan harga tinggi.

 Apa lagi itu namanya jika bukan suatu pembodohan. Pemiskinan. Itu kan sebetulnya tanggung jawab pemerintah untuk bisa membina dan memberikan keterampilan wirausaha, memberikan modal. Menyadarkan bahwa apa yang ada di halaman rumah mereka itu adalah aset tak ternilai. Namun pemerintah terlalu sibuk mengurus orang-orang di Jawa, pejabat terlalu sibuk mengisi perut, politisi terlalu sibuk plesir. Surga-surga yang ada di sini ditelantarkan. Rakyatnya dibiarkan tidak sadar dan terus hidup dalam lingkaran setan: kemiskinan-kebodohan-kemiskinan-kebodohan, dan begitu seterusnya.

Ah, Indonesia...
Aku terlalu mencintaimu sehingga sering jadi tidak tega. Kamu bagaikan putri cantik yang dibelenggu dalam penjara naga. Sebongkah tanah dari surga ini sering kena salah asuhan...

Percaya kalau kubilang Indonesia ini adalah tanah dari surga?


***