Senin, 27 Mei 2013

Apakah Ibu Bahagia?


Pernahkah kamu bertanya langsung pada ibumu, “Bu, apa yang ibu inginkan dariku sekarang?” atau “Apakah ibu bahagia dengan apa yang kulakukan saat ini?”

Kalau belum, coba tanya deh. Jawabannya sangat mungkin menguatkan, atau bahkan mengubah caramu memandang hidupmu saat ini.

Aku butuh waktu 22 tahun untuk mengesampingkan ego dan bertanya kepada ibu, apa yang ia inginkan dariku. Waktu itu aku masih mahasiswa tingkat akhir yang nyambi kerja sebagai reporter di sebuah biro harian ekonomi ternama. Lagi eneg-enegnya sama skripsi dan lagi seneng-senengnya sama kerjaan. Kerja itu enak, liputan, ketemu banyak orang, dapet uang gaji, dll. Skripsi buat apa? Selembar ijazah? Hmpf.

Ibuku sebenarnya mendukung saja aku bekerja. Ia juga tak pernah memberikan target kapan aku harus wisuda. Tapi ibu tetap sering bertanya, skripsinya udah sampe mana?

Sampai akhirnya aku memutuskan untuk bertanya langsung padanya.

“Ibu seneng nggak, aku kerja sekarang?”
“Seneng lah…”
“Ibu lebih pengen aku terusin kerja atau selesain kuliah?”
“Ya kalau bisa selesaikan dulu kuliahnya, sudah wisuda, dapat ijazah, kan insya Allah akan dapat pekerjaan yang jauh lebih baik.”
“Ibu pengen lihat aku wisuda ya?”
“Bukan gitu sih, Ibu cuma pengen kamu menyelesaikan apa yang udah kamu mulai. Sudah 4 tahun, tinggal skripsi, tanggung lho...”

Ibu ingin aku menyelesaikan kuliah.

Aku merenung, sudah 20 tahun lebih orangtuaku mengusahakan yang terbaik untuk membuatku bahagia, memenuhi semua keinginanku. Termasuk soal kuliah. Dulu aku yang pengen masuk Fikom Unpad, tapi mereka yang antar aku tes bolak-balik Tangerang-Bandung. Mereka yang membiayai semuanya, termasuk uang jajan bulanan. Semua itu adalah kebutuhan dan keinginanku, tetapi mereka yang berkorban. 

Aku nggak tau apakah aku masih punya waktu 20 tahun juga untuk membalasnya.

Sudah, cukup. Aku tak punya alasan lagi. Maka aku belajar mengesampingkan ego, kutinggalkan pekerjaan berprospek cerah yang sangat aku senangi itu. Aku berjuang menyelesaikan skripsiku, sendirian, dan cuma wajah kedua orang tuaku yang kubayangkan setiap kali aku begadang malam-malam. Aku ingin membahagiakan mereka.

Wisudaku

Sejak itulah setiap keputusan dalam hidupku selalu kuiringi dengan bertanya langsung, “Ibu senang nggak kalau aku begini?”

Bapakku sudah puluhan tahun bekerja di sebuah maskapai penerbangan ternama. Adalah sesuatu yang sangat wajar bagi kawan-kawan Bapak jika anaknya ikut diajak bekerja di situ. Aku sering ketemu om teman-teman Bapak, dan setelah mereka tahu aku jadi wartawan, biasanya langsung pada tanya, “Lho, kenapa nggak ikut Bapak aja? Atau kalo mau di tempat om, nanti om tanyain.”

Di sisi lain, aku memang sempet merasa nggak nyaman dengan tempat kerjaku. Rasanya adaaa aja yang pengen dikeluhkan.

Lalu beberapa hari yang lalu, aku bertanya lagi ke ibu, “Bu, apakah Ibu pengen aku kerja di tempat Bapak?”
Ibu agak kaget, terus bilang “Enggak kok. Sebenernya Ibu malah senang banget kamu kerja di tempatmu sekarang. Lingkungannya baik, kerjanya santai, dan kamu bisa belajar banyak. Ibu seneng!”
“Walaupun gajinya nggak sebesar di tempat Bapak? Walaupun nama perusahaannya nggak sekeren di tempat Bapak?”
Ibuku cuma tertawa. Itu pertanyaan yang tak perlu dijawab seorang Ibu.

Ya, bismillah. Aku akan jadi apapun yang kau inginkan, Bu.

Ibu tak pernah meminta banyak. Ibu tidak minta penghargaan, tidak minta gengsi, apalagi materi. Apa yang ia minta tak pernah macam-macam, hal-hal sederhana saja. Itu pun biasanya tidak dengan memaksa, yang nomor satu tetaplah kebahagiaan anaknya.

Masihkah berat bagi kita untuk mengesampingkan ego diri dan mulai bertanya, “Bu, bagaimana aku bisa membuatmu bahagia?”

Minggu, 26 Mei 2013

Memaafkan


Aku masih ingat betul hari itu, saat seseorang yang sangat kupercayai selama bertahun-tahun menyakiti hatiku. Aku masuk kamar, tidak makan, tidak minum, berselimut amarah yang membuat suhu badanku jadi naik drastis. Emosiku menggelegak, bisa-bisanya aku diperlakukan seperti ini.

Lalu ibu datang mengetuk kamar. Mengelus rambutku dan bertanya, “Kamu kenapa...”

Aku bercerita patah-patah diiringi sesenggukan tangis dan nafas yang tersengal menahan kekesalan. Tapi bahkan saat ceritaku belum selesai, Ibu bilang dengan lembut, “Ya sudah, maafkan saja...”

Apa??! Aku tambah kesal. Mana bisa aku maafin dia bu??! Ibu dengerin dulu deh ceritaku sampai selesai!

“Buat apa? Nanti malah tambah kesel diceritain. Maafin saja, maafin... Kalau bisa tetap didoakan.”

Aku tidak langsung bisa memahami itu. Dendam masih berkecamuk. Tetapi betul memang, mendendam itu seperti memegang bara api. Dirimu sendiri-lah yang nantinya akan terbakar. Berat badanku anjlok, jerawatan, sering tiba-tiba nangis, pusing nggak jelas, makan nggak enak, capek...

Butuh waktu hampir 3 bulan sebelum aku bisa memahami apa yang dikatakan ibu. Memaafkan orang lain. Sebuah sikap yang mungkin terlihat sepele, tetapi sesungguhnya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berjiwa amat besar.

Beberapa waktu yang lalu, aku sedang iseng baca-baca terjemah Al-Quran. Terus, aku menemukan sesuatu yang tidak disangka-sangka, bahwa ternyata anjuran untuk memaafkan kesalahan orang banyaaaaakk sekali tercantum di kitab suci kita. Jauh lebih banyak daripada anjuran untuk puasa.


خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al-A'raf 7:199)


وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22)


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
.. dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)


الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
"Yaitu orang2 yang menginfakkan hartanya ketika lapang dan sempit dan menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)


Ada seorang pemuda yang oleh Rasulullah disebut-sebut sampai tiga kali, ia akan menjadi ahli surga. Semua orang heran dan bertanya-tanya, kok bisa dia menjadi ahli surga? Padahal dia ibadahnya tergolong biasa-biasa aja dibandingkan sahabat Rasul yang lain. Ternyata kata Rasul, ia punya satu amalan yang mendekatkannya dengan rahmat Allah, yaitu ia selalu memaafkan orang-orang yang menyakitinya tiap sebelum tidur.

And now, I learn that “Life becomes easier when you try to accept an apology you never got.”