Rabu, 31 Desember 2008

Kaleidoskop Indonesia 2008

Tahun 2008 adalah tahun hitam putih bagi Indonesia. Banyak sekali peristiwa yang menyakitkan, keadaan yang menyulitkan, dan kebijakan yang sarat kepentingan. Namun tak jarang pula kita dihembus segarnya angin demokrasi dan keadilan. Semua datang bertubi-tubi, hingga kita, rakyat Indonesia menjadi kebas, mati rasa. Tak tahu kapan harus bergembira, kapan harus menangis. Sebab terkadang bahagia dan nestapa datang pada saat yang sama. Bingung mana yang harus diraba.

Contohnya, pada awal 2008 mantan presiden Soeharto meninggal dunia. Sebagian merasa sedih, kehilangan sosok yang dijuluki The Smiling General itu. Mereka berbondong-bondong mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir karena teringat jasa Pak Harto selama 30 tahun memerintah. Namun sebagian lagi ‘memampus-mampusi’ kematian Bapak Pembangunan itu. “Apa yang telah ia lakukan selama 30 tahun itu yang menyebabkan terpuruknya kita saat ini!” teriak mereka di media-media massa.

Kelompok yang pertama merelakan kasus korupsi besar-besaran Pak Harto ditutup, tak usahlah diteruskan, toh orangnya pun sudah meninggal. Kelompok kedua berteriak lebih keras lagi, menuntut diteruskannya persidangan kasus Soeharto, mengingat banyaknya uang negara yang sudah ia kantongi dan wariskan ke kroninya. Mereka menentang Soeharto dijadikan pahlawan nasional, mengingat tindakannya yang tak bisa dimaafkan. Kematian Soeharto, rakyat Indonesia bingung, haruskah berduka? Atau bolehkah tertawa?

Politik juga semakin membuat rakyat bingung. Pemerintahan SBY-JK tahun ini layaknya menjahit selembar kain yang sudah sangat usang. Berupaya menjahit salah satu bagian yang robek, tapi justru menyobek bagian lainnya. Satu masalah diatasi, malah muncul sepuluh masalah baru. Seperti halnya saat pemerintah memutuskan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Sekonyong-konyong rakyat kalang kabut. Ibu-ibu cemberut, pengendara mobil dan motor carut-marut, nelayan pun tak bisa melaut. Akhirnya pemerintah memberikan bantuan langsung tunai (BLT) yang bertujuan meringankan beban rakyat.

Bantuan jangka pendek ini mendapatkan banyak tentangan. Ada yang mengatakan bantuan ini tidak mendidik lah, membangun mental miskin lah, berpotensi konflik lah. Masalah ini terus saja diperdebatkan di kalangan atas, sementara rakyat sudah megap-megap kehabisan uang. Saat BLT cair, justru menimbulkan banyak konflik, bahkan korupsi. Pendataan tak akurat, warga ada yang dapat dua kali, ada juga yang tak dapat sama sekali. Akibatnya, kepala desa dipukuli sampai hampir mati. Miris sekali. Sudah untung kalau kepala desanya jujur dan amanah. Ada pula kepala desa yang mencari kesempatan dalam kesempitan. Diam-diam menggerogoti dana BLT, rakus seperti tikus. Padahal di luar kantornya ribuan rakyat miskin telah menunggu berjam-jam, dengan anak-anak mereka yang menangis kelaparan.

Ada lagi konversi minyak tanah ke gas yang katanya bertujuan untuk memudahkan masyarakat. Di sana-sini gencar disuarakan, gas lebih murah! Gas lebih aman! Bahkan sampai diiklankan di televisi dan radio. Masyarakat miskin yang masih menggunakan kompor minyak tanah karena takut menyalakan kompor gas dipaksa cepat-cepat beralih. Minyak tanah ditarik dari pasaran, namun tiba-tiba gas melambung harganya, bahkan hingga 100.000 rupiah per tabungnya. Terus mau masak pakai apa? Lagi, rakyat bingung setengah mati.

Persoalan BBM ini memang tak ada habisnya di tahun 2008, dan mahasiswa menjadi kelompok yang paling lantang menyuarakannya demi kesejahteraan rakyat. Di pertengahan tahun, mereka yang tak henti berdemonstrasi menolak kenaikan harga BBM. Di akhir tahun, saat harga minyak dunia turun dua kali lipat, mereka pun kembali meminta pemerintah menurunkan harga BBM seperti yang dilakukan negara-negara lain. Sampai lucu, saya pernah mendengar seorang bapak berkata, “Mahasiswa itu maunya apa, ya? BBM naik, ribut. BBM turun, ribut lagi.”

Para mahasiswa yang giat membela kepentingan rakyat itu terkadang aksinya dinodai segelintir rekan mereka yang tak bertanggung jawab. Mereka melakukan demonstrasi yang diwarnai aksi anarkis dan hal-hal yang tidak berguna. Misalnya, saat mereka menghabiskan berliter-liter bensin untuk berkonvoi, sementara di pelosok daerah orang harus mengantri berjam-jam untuk mendapatkan bensin. Atau saat mereka membakar ban serta mobil berplat merah sembari bernyanyi-nyanyi di tengah jalan, sementara di kampung-kampung orang harus mengais-ngais jerigen bekas untuk mendapatkan setetes minyak tanah. Ironis memang.

Kenaikan BBM ini tak pelak turut menyumbangkan andil bagi meningkatnya jumlah penduduk miskin di Indonesia. Meskipun Partai Demokrat mengklaim keberhasilan pemerintahan SBY dengan memperlihatkan penurunan angka kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi sebesar 6%, faktanya tidaklah demikian. Ketika harga BBM dinaikkan, harga barang-barang kebutuhan pokok meningkat, usaha kecil menengah terpaksa gulung tikar, pabrik-pabrik besar mem-PHK ribuan karyawannya. Hasilnya, angka pengangguran bertambah.

Realita kemiskinan itu tidak dapat ditutup-tutupi lagi. Apalagi jika kita melihat tragedi zakat Pasuruan yang menelan 11 korban jiwa. Ribuan orang berbondong-bondong datang, rela berdesak-desakan, bahkan mempertaruhkan nyawa hanya demi dua puluh ribu rupiah. Bahkan setelah kejadian memilukan itu, rakyat tak juga jera. Buktinya, baru kemarin saat pembagian bingkisan Natal di Solo dan Medan, orang kembali berdesak-desakan dan nyaris ricuh untuk mendapatkan bingkisan yang tak seberapa nilainya, bila dibandingkan dengan nyawa mereka. Pemerintah tak seharusnya menutup mata atas kenyataan tersebut.

Menyambut Pemilu 2009, semakin banyak lagi perdebatan yang timbul. Hal-hal seperti dicoblos atau dicontreng, menggunakan pulpen atau pensil, terpilih bedasarkan nomor urut atau suara terbanyak, caleg perempuan atau laki-laki, tak habis-habisnya dibicarakan. Partai yang muncul pun semakin banyak, ada 38 partai. Para kader partai besar masing-masing menyatakan siap maju menjadi capres, sementara partai kecil masih sibuk mencari anggota.

Peliknya permasalahan Pemilu 2009 ini mendorong rakyat untuk bersikap apatis. Agaknya rakyat sudah tak mau tahu lagi siapapun yang jadi pemimpin. Mau orang lama, orang baru, artis, terserah lah. Mereka sudah kenyang dengan janji-janji yang tak kunjung terlaksana. Kalau janji-janji pejabat itu makanan, mungkin rakyat kita sudah gendut sekarang. “Golput aja lah. Pusing.” Begitu kata mereka. Namun tiba-tiba ada fatwa MUI yang menyatakan bahwa golput itu haram hukumnya. Rakyat semakin bingung. Mereka sudah memilih untuk tidak menggunakan hak pilih, lha kok malah dipaksa ‘memilih’ lagi? Jadi sebenarnya yang tidak demokratis itu siapa, ya? Demokrasi memang mahal, tapi itulah tanda kebebasan manusia Indonesia.

Selain isu-isu di atas, yang juga menonjol di tahun 2008 ini di antaranya adalah:
1. Eksekusi hukuman mati terhadap pelaku Bom Bali, yaitu Amrozi, Imam Samudera, dan Muklas yang menunjukkan bentuk perlawanan Indonesia terhadap terorisme
2. Kasus korupsi yang semakin banyak diungkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
3. Kriminal: meningkatnya kasus mutilasi dan bunuh diri
4. Kian maraknya kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur
5. Maraknya pornografi dan pornoaksi mendorong pemerintah untuk mengesahkan UU Pornografi, meskipun sempat diwarnai pro dan kontra
6. Bertambahnya jumlah pengidap HIV/AIDS, khususnya di kota-kota besar
7. Resesi ekonomi akibat terpaan krisis finansial global
8. Angka pengangguran dan kemiskinan yang terus bertambah, akibat krisis ekonomi

Begitulah refleksi keadaan bangsa Indonesia selama tahun 2008. Masih jauh dari kesejahteraan, masih jauh dari kemerdekaan. Tahun 2009 adalah harapan baru bagi rakyat. Terlebih ada momen pemilihan umum bulan April nanti, saat rakyat berkesempatan memilih wakil-wakil mereka. Walaupun mungkin cahaya terang itu masih jauh, kita harus percaya, bahwa suatu saat kita pasti bisa bangkit dari keterpurukan dan menjadi bangsa yang besar. Masa itu pasti ada, Tuhan dengar harapan kita.

Kamis, 25 Desember 2008

Jurnalistik, Sebuah Pilihan


Saya suka menulis. Dengan menulis, saya merasa bisa semakin mengenal diri saya, punya waktu untuk berbicara dengan diri saya sendiri. Kadang lewat menulis saya menemukan sesuatu yang sebelumnya jauh terkubur dalam benak saya. Maka saya sengaja memilih jurusan jurnalistik. Bila ditanya mengapa, sejujurnya saya tak punya jawaban yang tepat selain hanya karena mengikuti kata hati (Menurut saya itulah jawaban paling tepat. Adakah alasan lain?)

Bukan semata karena saya ingin jadi wartawan. Wartawan itu kan profesinya. Saya tertarik justru kepada nilai-nilai yang diajarkan dalam dunia jurnalistik. Kedisiplinan, keberanian, kesetaraan, kepedulian, keingintahuan yang besar, dan banyak lagi. Ya, nilai-nilai dalam jurnalistiklah yang sesungguhnya menarik saya ke dalam jurusan ini (baru kali ini saya bisa merumuskannya dalam kata-kata). Saat itu, saya memberikan pilihan sepenuhnya kepada diri saya sendiri. Orang tua juga membebaskan saya, tapi harus bertanggung jawab. ”Kamu kan sudah dewasa, sudah tahu apa yang akan kamu pilih jadi jalan hidupmu. Semuanya kamu yang menjalani, bukan bapak-ibu, jadi silakan saja. Bapak-ibu percaya kamu sudah tahu mana yang baik dan benar untuk dirimu sendiri,” Asyik ya? Tapi kepercayaan mereka yang begitu besarlah yang menjadi tanggung jawab saya.

Saya terus berusaha untuk mengenali bakat dan potensi diri sendiri, sampai akhirnya yakin bahwa kemampuan saya adalah di bidang bahasa dan tulis menulis. Saya juga ingin menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Saya ingin bisa membantu mencerdaskan bangsa. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi hati dan pikiran saya untuk memantapkan “jurusan jurnalistik”. Sudah, saya membulatkan tekad dan mencoba “tutup kuping” atas semua cemoohan yang saya dengar. Saya segera mencari informasi mengenai kampus dengan pendidikan jurnalistik terbaik di Indonesia. Dari sekian banyak sumber, saya menyimpulkan bahwa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran terkenal dengan Jurusan Publisistik (sekarang jurnalistik). Saya langsung berkata, ”Oke, this is it. Bismillahirrahmanirrahim”. Saya berusaha keras sampai akhirnya alhamdulillah bisa diterima tepat disini. Exactly what I want. Memang sih beberapa waktu yang lalu saya sempat ciut juga melihat para senior dengan segala kesibukannya sebagai calon jurnalis. Tapi saya bukan orang yang bisa dengan mudah mengubah haluan dan tujuan hidup saya. Saya sudah bertekad sejak saya kelas 2 SMU bahwa saya akan masuk Fikom Unpad Jurusan Jurnalistik, dan itu adalah cita-cita saya. Bismillahirrahmanirrahim. Allah Maha Tahu apa yang terbaik bagi setiap hamba-Nya.

Hingga hari ini, kurang lebih sudah dua bulan lamanya saya belajar di jurusan jurnalistik (Jurnal). Saya menikmatinya. Bahkan, saya merasa beruntung kuliah disini. Pertama, karena angkatan saya sedikit, hanya 55 orang. Saya merasa jadi lebih dekat dengan teman-teman. Kedua, bagi saya para dosen jurnalistik bukan sekedar mengajar, mereka juga mendidik kami semua. Mereka adalah orang-orang yang profesional di mata saya. Berwawasan luas, tegas, disiplin, tapi tetap asyik. Pertemuan pertama sudah langsung belajar, langsung diberikan tugas. Tidak ada korupsi waktu. Jika sudah waktunya masuk, ya masuk. Dan jika belum waktunya libur, ya masuk juga. Beberapa teman saya dari jurusan lain, pada minggu pertama masuk kuliah mengeluhkan kegiatan belajar-mengajar yang belum efektif. Tidak ada kabar pasti. Padahal mereka sudah siap masuk sejak seminggu yang lalu tapi kegiatan kuliah baru efektif mulai minggu depan. Sedangkan saya, alhamdulillah sudah dapat banyak ilmu selama seminggu. Jadi saya merasa, tidak sia-sia orang tua bayar SPP saya. Pak Dandi, seorang dosen Jurnal sendiri pernah mengatakan, jurusan jurnalistik ini berbeda dengan jurusan lainnya di Fikom. Kita punya nilai-nilai plus.

Dengan dosen-dosen yang kredibel, suasana belajar yang kondusif (karena jumlah orangnya juga sedikit), kedisiplinan, pelajaran dan tugas-tugas yang berkualitas, serta suasana yang akrab dengan teman-teman dan para dosen, bagaimana mungkin saya tidak bersyukur? Banyak senior yang bilang, “Ah sekarang aja kamu masih merasa enak, coba aja nanti kalau sudah mengalami ini dan itu, bla bla...” Saya cuma bisa berharap, semoga Allah terus mengingatkan saya untuk mensyukuri nikmat-Nya.

Ya memang, mungkin tak semua orang berpikiran seperti saya. Hidup ini adalah sebuah pilihan. Begitu juga masuk Jurnal. Memang banyak hal di Jurnal, yang kata orang nggak enak. Banyak tugas, kuliah melulu, dikejar deadline, lulusnya lama, dan sebagainya. Tapi banyak positifnya juga kan? Itulah pilihannya. Apakah kita melihat masalah sebagai hambatan atau sebagai tantangan? Saya teringat sebuah pesan singkat tapi bermakna yang dikirimkan kawan saya, Nurida. Mana yang akan kita pilih, bahagia dalam bentuk syukur atau berbahagia dalam bentuk ikhlas? Life’s that simple. Saya juga selalu teringat perkataan bijak guru saya, “Bila kau hanya menghitung kekurangan, tak akan tampak olehmu kelebihan. Dan bila kau selalu menghitung kelebihan, tak akan tampak olehmu kekurangan”.

Allah telah menjanjikan untuk hamba-hambaNya yang bersyukur, niscaya akan Ia tambah nikmat-Nya. Sedangkan untuk orang-orang yang kufur nikmat (tidak bersyukur), Ia mengingatkan mereka akan azab-Nya yang pedih (QS 14:7). Saya percaya janji Allah. Maka saya selalu mencoba untuk bersyukur dan bersyukur supaya saya jadi lebih tenang dan bahagia menjalani hidup. Bahasa kerennya, “Enjoy aja!” Selain itu, saya juga merasa, toh saya mengerjakan tugas-tugas ini kan untuk diri sendiri, untuk kemajuan dan kekayaan wawasan saya juga. Jadi selama tugas itu baik untuk saya, maka saya melihatnya sebagai hak saya untuk mendapatkan ilmu, hak saya untuk bisa maju dan berusaha menjadi yang terbaik.


Jatinangor, 25 Desember 2008

Selasa, 16 Desember 2008

Penulisan Berita Langsung dan Khas

Berita Langsung
Menurut AS Haris Sumadiria dalam bukunya Jurnalistik Indonesia, straight news adalah laporan langsung mengenai suatu peristiwa. Biasanya, berita jenis ini ditulis dengan unsur-unsur yang dimulai dari what, who, when, where, why, dan how (5W+1H). Sedangkan berita khas disebutnya sebagai feature story. Dalam feature, penulis mencari fakta untuk menarik perhatian pembacanya, sebagai menu penunjang media massa.

Berita langsung mengejar aktualitas dan kepentingan, sedangkan feature mementingkan segi menarik atau tidaknya suatu tulisan. Oleh karena itu, berita langsung harus menggunakan struktur piramida terbalik, di mana fakta-fakta disusun berdasarkan tingkat kepentingannya. Demikian pembahasan mengenai straight news dalam buku Jurnalistik Indonesia yang entah mengapa jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan pembahasan mengenai feature.

Asep Syamsul M. Romli dalam buku Jurnalistik Terapan mendefinisikan berita langsung sebagai laporan peristiwa yang ditulis secara singkat, padat, lugas, dan apa adanya. Berita langsung bersifat kering, tanpa dibumbui subjektivitas wartawan. Berita langsung dibagi menjadi dua jenis: hard news dan soft news. Perbedaannya, aktualitas dan kepentingan soft news berada setingkat di bawah hard news.

Sebuah berita harus mencakup fakta dan data sebuah peristiwa, dan mengandung unsur-unsur 5W+1H. Dalam straight news, teknik penulisan yang lazim digunakan berbentuk piramida terbalik, yaitu berdasarkan tingkat kepentingannya. Struktur ini memungkinkan efisiensi waktu bagi pembaca, yang bisa langsung mengetahui inti berita melalui paragraf pertama. Bentuk ini juga memudahkan editor untuk melakukan cutting naskah jika space yang tersedia tidak cukup untuk memuat seluruh bagian berita.
Komposisi tulisan terdiri dari empat bagian: headline (judul berita), dateline (waktu dan tempat), lead (teras berita), dan news body (isi berita). Semua unsur ini kunci penulisannya terdapat pada rumus 5W+1H. Tetapi ada juga lead non 5W+1H, seperti lead kesimpulan, lead berita pernyataan, lead kutipan, lead kontras, dan lead jeritan. Sebelum menulis unsur-unsur ini, wartawan harus menentukan sudut pandang terlebih dahulu terhadap sebuah peristiwa. Penentuan angle memudahkan tahap-tahap selanjutnya.

Buku Jurnalistik: Teori dan Praktik karya Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat memuat sebuah ungkapan menarik, yaitu jurnalisme sebagai “literature in a hurry”, kesusastraan yang terburu-buru. Teknik-teknik penulisan berita –terutama berita langsung- memang mengacu pada kecepatan ini, namun tetap harus dibuat semenarik mungkin. Hikmat dan Purnama juga masih menggunakan struktur penulisan berbentuk piramida terbalik sebagai acuan penulisan straight news, seperti yang tertulis dalam literatur jurnalistik lainnya. Lead, yang mampu mencerminkan keseluruhan isi berita menjadi perhatian utama dalam piramida ini,.

Meskipun lead memiliki sejumlah keuntungan praktis, justru lead itulah bagian tersulit dalam menulis berita. Karena lead harus dibuat semenarik mungkin, atau pembaca tidak akan tertarik untuk mengikuti sampai habis. Selain menarik, lead juga harus cukup jelas dan ringkas. Ada beberapa jenis lead menurut buku ini: lead menonjok, lead deskriptif, lead kontras, lead bertanya, lead kutipan, lead kepenasaran kumulatif, lead berurutan, lead parodi, lead epigram, lead tersendat-sendat, lead ledakan, lead dialog, dan lead sapaan.

Setelah lead, ada proses penyusunan fakta-fakta secara logis, yang mengemukakan isi berita. Pengaturan materi berita secara kronologis ini memungkinkan pembaca memahami inti berita tanpa ada distorsi dalam menafsirkan arti berita secara keseluruhan. Singkatnya, tubuh berita berfungsi menguraikan ide-ide pokok dalam lead, serta menambahkan atau menguatkan hal-hal kurang penting yang tidak diungkapkan dalam lead.

Untuk gaya penulisan, ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan, agar fakta yang kita sampaikan bisa lebih jelas dan rinci, diantaranya: tulisan harus spesifik, (termasuk identitas orang, nama tempat, dan istilah), penggunaan kalimat aktif dan pasif harus tepat, alinea dibuat pendek.

Kemudian, angka di awal kalimat juga patut dihindari, memperhatikan ejaan, susunan kalimat, dan tata bahasa. Unsur-unsur yang diperlukan untuk tulisan yang efektif adalah: kecermatan dan organisasi dalam berita, diksi dan tata bahasa yang tepat, prinsip hemat, serta daya hidup (vitalitas), warna, dan imajinasi dalam berita tersebut.

Buku Teknik Penulisan Feature karya Andi Baso Mappatoto juga sedikit menyinggung straight news yang disebut juga berita lempang. Berita lempang adalah laporan tentang peristiwa fisik dan intelektual, misalnya bencana alam dan pendapat seseorang yang aktual, dan ditulis menurut rumus wajib 5W+1H dengan struktur piramida terbalik. Berita lempang dilaporkan secepat dan seobyektif mungkin dan hanya memiliki fungsi informatif mengingat isinya yang singkat-padat-jelas.

Berita Khas
Cara penyajian feature menggunakan gaya penulisan berkisah dan humor, tidak mengutamakan aktualitas dan pentingnya informasi yang disajikan. AS Haris Sumadiria mendefinisikan feature sebagai cerita khas kreatif yang berpijak pada jurnalistik sastra tentang suatu situasi, keadaan, atau aspek kehidupan, dengan tujuan untuk memberikan informasi dan sekaligus menghibur khalayak media massa.

Penulisan feature tidak tunduk kepada kaidah pola piramida terbalik dengan rumus 5W+1H atau cara penyusunan pesan secara deduktif seperti halnya straight news. Tapi bukan berarti kita boleh mencampurkan fakta-fakta dalam feature dengan cerita fiktif, karena karya feature pun tetap harus mengandung semua unsur yang terdapat dalam 5W+1H. Perbedaannya, feature disajikan melalui gaya bertutur kisah yang kreatif informal.

Kekhasan sifatnya inilah yang membuat kedudukan feature sangat penting di media massa. Fungsinya: sebagai pelengkap sekaligus variasi berita langsung, memberikan informasi serta nilai dan makna suatu peristiwa atau keadaan, penghibur dan pengembang imajinasi, dan sebagai sarana ekspresi paling efektif dalam memengaruhi khalayak.

Septiawan Santana, seperti dikutip Haris mengungkapkan bahwa feature memiliki empat ciri utama. Yang pertama adalah penyusunan adegan, di mana laporan disusun menggunakan teknik bercerita adegan demi adegan, membawa pembaca ke dalam situasi tersebut. Kedua, dengan mencatat dialog utuh untuk menampilkan karakter para tokoh yang terlibat, sekaligus memancing keingintahuan pembaca. Selanjutnya, jurnalis bisa menulis melalui sudut pandang orang ketiga. Pembaca dilibatkan, diajak berada dalam setiap situasi emosi dan pengalaman yang terjadi. Keempat, penulis perlu mencatat detail seperti kebiasaan, pakaian, makanan, serta pandangan-pandangan lain yang bersifat sekilas.

Sebagai sebuah cerita objektif yang menarik bagi pembaca, feature dibangun dengan berpijak kepada unsur-unsur pokok, meliputi: tema, sudut pandang, karakter, plot, gaya, suasana, dan lokasi peristiwa. Sama seperti unsur-unsur yang terdapat dalam cerita pendek. Bedanya, kalau cerpen mengangkat realitas fiktif imajinatif, maka feature menceritakan realitas faktual objektif.

Feature memiliki susunan rangka cerita yang terdiri atas tiga bagian: pembukaan, penceritaan, dan penutup. Berbeda dengan straight news yang menggunakan pola piramida terbalik, feature tidak kaku harus ditulis demikian. Menulis feature berarti berkisah, dan itu menuntut kreativitas. Bagian penutup sama pentingnya dengan bagian intro maupun isi, tergantung bagaimana penulis dapat mengemasnya.

Topik harus dibuat semenarik mungkin, sebagai titik awal keberangkatan ide penulis. Setelah menentukan topik, penulis bisa memulai tulisan dengan sebuah intro. Intro sama dengan lead, paragraf pertama dalam straight news yang berfungsi mengail pembaca. Jika pembaca sudah tertarik pada intro, bisa dipastikan ia akan penasaran untuk melanjutkan bacaannya hingga selesai. Intro harus dibuat ringkas, namun tetap segar dan bernyawa. Begitupun halnya dengan penutup.

Menurut Asep Syamsul M. Romli dalam buku Jurnalistik Terapan, feature adalah jenis tulisan di media massa yang memfokuskan pada segi (angle) tertentu sebuah peristiwa dan menonjolkannya. Sifat tulisannya lebih bersifat menghibur dan menjelaskan masalah daripada sekadar menginformasikan. Ia banyak mengungkapkan unsur how dan why sebuah peristiwa sehingga mampu menyentuh sisi human interest. Karena itulah feature berumur panjang. Feature termasuk dalam aliran “New Journalism”, yaitu teknik penulisan karya jurnalistik bergaya sastra, memerlukan gabungan dari keterampilan laporan interpretatif dengan teknik penulisan karya fiksi.

Feature memiliki enam sifat pokok: faktual, menerangkan masalah (bukan melaporkan dengan segera), berumur panjang, mengandung segi human interest, mengandung unsur sastra, dan menggunakan lead atraktif. Ada sepuluh jenis feature, yang memiliki daya tarik dan kekhasannya masing-masing, yaitu: bright, feature berita, feature artikel, feature biografi (profil), feature human interest, feature pengalaman pribadi, feature perjalanan atau petualangan, feature sejarah, feature promosi, dan feature petunjuk praktis.

Mengenai feature, buku Jurnalistik: Teori dan Praktik karya Hikmat dan Purnama Kusumaningrat menyebutnya sebagai bukan sekadar berita faktual, melainkan berita yang dibuat semenarik mungkin dengan dibubuhi sentuhan perasaan manusia. Feature dimuat bukan karena penting, tapi karena menarik. Jenis-jenis berita yang lazim disebut feature: berita human interest sederhana, berita hari kedua (sidebars), berita feature, berita latar belakang (interpretatif), dan berita berwarna. Berita human interest paling sering digunakan sebagai feature. Disebutkan juga pentingnya memberikan warna kepada berita, sebagai bumbu yang menjadikan berita itu lebih berkesan di hati pembaca.

Jika penulisan straight news menggunakan prinsip piramida terbalik, maka penulisan feature, menurut Asep M. Romli, menggunakan prinsip kerucut terbalik. Ia tidak harus menempatkan fakta terpenting di bagian awal. Komposisinya: head (judul), lead (teras, intro), bridge (jembatan antara lead dan body), body (isi tulisan), ending (penutup).

Judul berita dan lead harus dibuat semenarik mungkin. Dalam buku ini juga disebutkan macam-macam lead, kebanyakan sama saja seperti yang diuraikan dalam buku lain, tapi ada juga yang berbeda: teras analogi, teras kalimat pendek, teras figuratif, teras literer, teras pasak, teras tiruan bunyi, teras dialog, teras filosofis, dan teras kumulatif. Sebuah cerita feature mendorong terciptanya suatu penyelesaian, klimaks, atau akhir cerita. Oleh karena itu, ekor sebuah feature pun tak boleh diremehkan. Sebuah penutup yang menarik akan meninggalkan kesan mendalam bagi pembaca.

Buku Teknik Penulisan Feature karya Andi Baso Mappatotto, seperti judulnya, secara khusus membahas mengenai feature. Ia mendefinisikan feature dengan begitu panjang dan rumit, yaitu: karangan lengkap nonfiksi bukan berita lempang dalam media massa yang tak tentu panjangnya, dipaparkan secara hidup sebagai pengungkapan daya kreativitas kadang-kadang dengan sentuhan subyektivitas pengarang terhadap peristiwa, situasi, aspek kehidupan, dengan tekanan pada daya pikat manusiawi untuk mencapai tujuan memberitahu, menghibur, mendidik, dan meyakinkan pembaca.

Ada beberapa teknik yang harus diperhatikan dalam menulis feature. Pertama gaya tuturan cerita. Pada dasarnya penulis feature adalah penutur cerita yang mampu menggunakan imajinasi, kreativitas, serta kemahiran berbahasanya untuk membangkitkan keingintahuan pembaca, memainkan emosi mereka. Untuk bisa membuat feature yang menyentuh, persiapannya dimulai dari sebelum menulis.

Sebelum menulis, penulis feature harus peka terhadap keadaan di sekitarnya. Mungkin hal-hal tidak penting, seperti pasar kaget, sopir mikrolet yang sudah tua renta, orang kaya mendadak, dan sebagainya. Bagaimana ia mengangkat sisi lain dari peristiwa yang biasa menjadi karangan bernilai. Banyak cara untuk memeroleh bahan karangan, seperti dengan observasi dan wawancara. Setelah itu, bahan-bahan yang sudah didapat ditelaah kembali, untuk kemudian menentukan topik dan gagasan sentral.

Gagasan sentral yang dirumuskan dalam satu kalimat disebut teras (lead) yang kemudian akan diuraikan sebagai tubuh. Andi Baso Mappatoto menyatakan bahwa lead adalah jiwa-raga karangan. Gagasan sentral ini selalu ditulis dengan kalimat generatif yang menarik perhatian. Menarik-tidaknya sebuah lead dikembalikan lagi kepada nilai-nilai berita, seperti kebaruan, kedekatan, dan keanehan. Tema perlu diukur dari kesatuannya (unity), rincian (development), dan keaslian (originality).

Tubuh karangan sendiri baiknya dituturkan dengan urutan yang tertib, masuk akal, dengan gaya cerita yang menurut bentuk piramida atau piramida terbalik, segi empat, atau struktur kronologis. Kalau teras diibaratkan “jiwa-raga” karangan, maka tubuh layaknya setelan baju dan aksesori yang mencerminkan keadaan jiwa-raga. Beberapa pola paragraf yang digunakan untuk menjaga ketertiban susunan karangan di antaranya: tematik, spiral, dan blok. Karangan dapat disusun berdasarkan susunan waktu (kronologis), susunan kronologis, susunan dari umum ke khusus, dan susunan dari khusus ke umum.

Karangan harus diakhiri dengan tulisan penutup, yang mengisyaratkan bahwa karangan sudah lengkap. Bantuk-bentuk penutup di antaranya: ringkasan, klimaks, tanpa akhir, dan penutup yang menyengat. Semua bagian ini perlu dikemas dalam gaya bahasa yang mengalir secara alamiah, segar dan hidup. Koherensi, kohesi, dan kesatuan karangan juga harus dijaga untuk memelihara perhatian pembaca.

Bentuk-bentuk karangan khas yang diuraikan dalam buku ini, tak berbeda dengan buku lain: news feature/sidebars, sejarah, perayaan, sosok pribadi, human interest, latar belakang, pembuka tabir, dan feature perjalanan. Selain itu, ada juga kelompok feature argumentasi, diantaranya: karangan ilmu pengetahuan populer, berita analisis, laporan mendalam, serta tuntunan keterampilan.

Buku Seandainya Saya Wartawan Tempo lebih menarik lagi. Sebagai sebuah majalah feature terkemuka di Indonesia, kredibilitas Tempo tercermin lewat buku ini. Buku karya Goenawan Mohamad ini merupakan adaptasi dari buku Feature Writing for Newspapers (Daniel R. Williamson). Buku ini berisi tips dan trik dalam membuat laporan berita yang menarik untuk media massa cetak, khususnya feature. Alih-alih memuat tips-tips keterampilan menulis yang bersifat menggurui, penulis justru menghidupkan imajinasi pembaca, membantu pembaca mengidentifikasikan diri sebagai wartawan sungguhan yang sedang melakukan reportase, menulis laporan, sampai ketika ia berhadapan dengan editor.

Dalam buku ini feature didefinisikan sebagai artikel yang kreatif, kadang-kadang subjektif, yang dimaksudkan untuk menghibur dan memberi informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan, atau aspek kehidupan. Dari pengertian di atas, ada sejumlah ide pokok yang menjadi unsur-unsur feature, yaitu: kreativitas yang menjadi modal awal reporter dalam “menciptakan” sebuah cerita. Kedua, emosi dan pikiran penulis dapat masuk dalam laporannya, kemudian harus informatif, dan menghibur. Tulisan feature bisa ditulis panjang, seperti umurnya yang juga panjang dan tidak mudah basi.

Semua tulisan dalam buku ini dikemas dalam bahasa jurnalistik feature yang segar. Satu catatan penting, feature tetap merupakan sebuah berita yang berlandaskan fakta, tidak boleh ada rekayasa. Oleh karena itu, akurasi, ketepatan pengumpulan informasi, pengejaan dan pemakaian kata, penggunaan buku pedoman, serta pengecekan ulang terhadap laporan adalah modal-modal penting penulisan yang dimaksud dalam bab ini.
Seorang wartawan penulis feature punya empat senjata yang biasa digunakan untuk menaklukkan pembaca yang kurang bersemangat. Pembaca yang sejak awal telah diidentifikasikan oleh penulis sebagai calon wartawan profesional, diminta menggerakkan empat hal pokok: fokus, deskripsi, anekdot, dan kutipan untuk menghidupkan lukisan kata-katanya. Selain empat senjata di atas, wartawan juga harus mampu mengembangkan kreativitasnya untuk bisa membuat feature dari sisi yang lebih menarik.

Buku Seandainya Saya Wartawan Tempo secara keseluruhan memang lebih banyak membahas mengenai feature, dan dibandingkan dengan buku-buku lain, bagi saya, buku ini juaranya. Teknik penulisan feature tak hanya dijabarkan melalui teori-teori, tetapi keseluruhan isi buku ini ditulis menggunakan gaya bertutur yang menarik, seperti halnya feature.

Rabu, 10 Desember 2008

Mengenal Wawancara dalam Konteks Jurnalisme

Kegiatan jurnalistik sebetulnya bermula dari kebutuhan dan naluri kita sebagai manusia, yaitu naluri ingin tahu dan naluri ingin memberitahukan. Dalam perkembangannya, kedua naluri ini disahkan menjadi hak asasi manusia (HAM) yang diakui secara universal. Kedua hak ini dikenal sebagai right to know and right to inform.

Pada tahun 1948 PBB sepakat memproklamasikan kedua hak tersebut dalam pasal 19 Deklarasi Universal Hak-hak Manusia. Di dalamnya dinyatakan bahwa setiap orang: berhak berpendapat, bebas mengeluarkan/menyatakan pendapat, bebas memiliki pendapat tanpa campur tangan orang lain, serta bebas mencari, menerima, menyampaikan informasi dan pendapat dengan cara apapun, tanpa memandang batas-batas.

Selain diakui secara internasional, right to know and right to inform juga diatur dalam pasal 4 ayat 3 UU no. 40/1999 tentang pers. Dalam pasal 28F dinyatakan bahwa untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memeroleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. Pasal 6 UUP juga menegaskan peranan pers nasional, sebagai berikut:
1. Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui
2. Menegakkan nilai-nilai demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan HAM, serta menghormati kebhinekaan.
3. Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar.
4. Melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum
5. Memperjuangkan keadilan dan kebenaran

Secara sosiologis, hak personal ”to know and to inform” didelegasikan kepada profesi wartawan. Masyarakat menyerahkan mandat kepada wartawan untuk merealisasikan hak-haknya. Oleh karena itu wartawan harus konsekuen dan konsisten melaksanakan isi mandat tersebut.

Selain itu, wartawan harus rajin bertanya kepada siapa saja yang dianggap relevan (people trail). Bertanya dalam konteks jurnalisme disebut wawancara, yang juga merupakan salah satu kegiatan pokok wartawan. Melalui wawancara, wartawan bisa memeroleh berbagai fakta.

Earl English dan Clarence membagi dua jenis fakta. Pertama, fakta/realita sosiologis yaitu peristiwa yang sungguh-sungguh telah terjadi. Kedua, fakta/realita psikologis yaitu sesuatu yang sungguh-sungguh benar. Artinya, sungguh-sungguh telah dinyatakan oleh nara sumber. Pernyataan nara sumber biasanya diperoleh melalui wawancara.

Fakta atau realitas ini tak boleh dicemari karangan atau opini wartawan. Dalam Kode Etik Jurnalistik 2006 pasal 2 ayat d, ditegaskan bahwa wartawan harus menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik, termasuk menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya. Stewart Robertson dan George Fox Mott dalam buku mereka, New Survey of Journalism menuliskan, “Berita adalah pencatatan informasi yang paling menarik, paling penting dan paling cermat yang dapat diperoleh tentang segala apa yang dipikirkan dan dikatakan, dilihat dan digambarkan, direncanakan dan dikerjakan orang.” Ini juga berarti bahwa berita tak mesti berisi laporan mengenai realitas sosiologis, tetapi bisa juga berisi pernyataan narasumber (realitas psikologis).

Khalayak media massa saat ini semakin kritis dan tak puas bila wartawan melaporkan suatu peristiwa hanya berdasarkan unsur-unsur apa, siapa, di mana, dan kapan. Mereka juga ingin tahu bagaimana pendapat para tokoh mengenai peristiwa tersebut. Itulah sebabnya kedua jenis fakta tersebut boleh digabungkan, asal tidak dicampuradukkan dengan opini, imajinasi, dan simpulan wartawan sendiri. Seperti yang telah dinyatakan dalam pasal 3 Kode Etik Jurnalistik 2006, ”Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara seimbang, tidak mencampurkan fakta dengan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.”

Selain fakta, yang juga harus diperhatikan wartawan adalah nilai berita. Artinya, ia harus tahu realitas psikologis dan sosiologis yang benar-benar layak disiarkan, yaitu yang memiliki nilai berita tinggi. Karena tidak semua fakta yang diperoleh wartawan dibutuhkan khalayak. Tak semua fakta yang memiliki nilai berita tinggi layak disiarkan atau diterbitkan. Ada beberapa aspek yang dijadikan acuan untuk menentukan nilai berita suatu fakta: penting (significance), kedekatan (proximity), aktualitas (timeliness), ukuran (magnitude), ketenaran (prominance), konflik, seksualitas, emosi atau naluri (human interest), sesuatu yang luar biasa atau aneh, akibat atau konsekuensi, kemajuan, mukjizat atau peristiwa ajaib, serta tragedi atau bencana.

Teknik pencarian fakta oleh wartawan tergantung kepada jenis peristiwa/fakta yang diburu. Ada kejadian yang tak disangka-sangka maupun yang telah direncanakan. Selain itu ada pula realitas sosiologis yang jarang menarik perhatian wartawan, yakni yang berupa ”peristiwa diam” atau fakta laten, seperti gejala sosial dalam masyarakat. Dalam ”perburuan” fakta, wartawan dapat mengamati langsung secara pasif maupun aktif. Tinggi-rendahnya kualitas berita yang didapatkan wartawan sangat berpengaruh kepada kekayaan intelektual dan emosionalnya, maupun kekayaan sosial dan rohaniahnya. Istilahnya: kekayaan objek sangat ditentukan oleh kekayaan subjek.

Karena keterbatasan panca indera wartawan, maka untuk memperkaya laporannya ia harus melakukan wawancara. Melalui wawancara wartawan dapat menangkap fakta yang tak teramatinya, seperti latar belakang suatu peristiwa, kisah nyata, pengalaman, komentar, harapan, dan sebagainya dari orang yang diwawancarai. Wawancara tak selalu harus bertanya, namun bisa juga melontarkan pernyataan yang bagus dan provokatif, yang bisa memancing tanggapan nara sumber.

Dilihat dari segi tujuan, dalam wawancara kita mengenal beberapa jenis pertanyaan, antara lain sebagai berikut:
1. Pertanyaan informatif, adalah pertanyaan yang bertujuan meminta informasi/keterangan tentang suatu fakta
2. Pertanyaan konfirmatif, adalah pertanyaan yang bertujuan meminta pembenaran atau penegasan dari sumber berita
3. Pertanyaan verikatif, bertujuan meminta pemeriksaan atau pengecekan tentang kebenaran laporan kepada sumber berita
4. Pertanyaan sugestif, adalah pertanyaan untuk meyakinkan atau memengaruhi nara sumber bahwa ia sependapat dengan sang wartawan
5. Pertanyaan provokatif, bertujuan memancing nara sumber untuk menyatakan sesuatu yang diharapkan wartawan. Pertanyaan ini seringkali menjebak narasumber.

Pewawancara harus cermat dan tepat memilih pertanyaan. Kualitas jawaban terwawancara sangat ditentukan oleh kualitas pertanyaan pewawancara. Ciri-ciri pewawancara yang profesional antara lain:
1. Memiliki wawasan yang sangat luas
2. Memiliki rasa ingin tahu yang besar
3. Mampu berbahasa dengan baik (fasih) sesuai bahasa yang dipahami terwawancara
4. Tidak mewawancarai dengan kepala kosong. Artinya, sebelum berwawancara ia harus belajar tentang topik yang akan diperbincangkan
5. Menyadari statusnya sebagai pemegang mandat masyarakat, maka ia tidak asal bertanya, melainkan selalu berusaha untuk mewujudkan isi hak tahu dan memberitahukan khalayak medianya.
6. Bersikap kritis dan skeptis terhadap ucapan terwawancara. Wartawan boleh mendebat terwawancara bila ia kurang yakin akan kebenaran ucapan terwawancara.
7. Mampu memosisikan diri sejajar dengan terwawancara
8. Tidak angkuh dan sok tahu
9. Berlaku sopan dan hormat, harus memperkenalkan diri dengan baik sebelum mulai bertanya
10. Tidak menginterogasi terwawancara, tidak pula mengeluarkan kata-kata yang bersifat menghakimi
11. Mampu berempati terhadap terwawancara
12. Mencermati pesan-pesan non verbal dari narasumber
13. Mengetahui dan menaati Kode Etik Jurnalistik, khususnya pasal 7 Kode Etik Jurnalistik 2006, yang berbunyi, ”Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi nara sumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan off the record sesuai dengan kesepakatan.”