Rabu, 30 Mei 2012

Menikmati Ombak di Pantai Batu Karas


Pesona pantai selatan memang seolah tak ada habisnya. Mulai dari legenda Nyi Roro Kidul yang mengiringi keindahannya, hingga deburan ombak besar yang bergulung dari Samudera Hindia. Di Jawa Barat, salah satu yang paling dikenal adalah Pantai Pangandaran.

Sebenarnya tak jauh dari Pangandaran, kurang lebih 24 kilometer jaraknya, ada pantai berpasir hitam lain yang tak kalah cantik, Pantai Batu Karas. Pantai ini menjadi favorit para peselancar, karena tidak terlalu ramai dan ombaknya tidak terlalu besar seperti di Pangandaran.

surfing di Batu Karas
Bagi para pemula, belajar berselancar di Batu Karas adalah pilihan yang tepat. Untuk belajar, tidak harus punya papan selancar dulu. Di tepi pantai banyak yang menyewakan papan selancar. Anak-anak muda setempat banyak yang mahir berselancar, jadi jangan malu untuk berbagi pengalaman.

Walaupun namanya Batu Karas, bukan berarti pantai ini dipenuhi bebatuan keras atau karang di sepanjang pantai. Tepian pantainya yang berpasir hitam legam sangat landai dan aman untuk berselancar, berenang, maupun rekreasi air lainnya.

Selain itu, Pantai Batu Karas juga memiliki sudut-sudut pantai yang airnya cenderung tenang. Berenang dan bermain pasir pun dapat dilakukan dengan aman. Laut dan pantainya masih cukup bersih, sehingga sangat nyaman beraktivitas di sini.

Batu Karas juga cucok banget buat kita yang ingin berwisata bareng kawan-kawan. Misalnya makrab, gitu. Anak jurnal udah 2 kali makrab di sini. Selain karena tidak terlalu ramai, di sini juga banyak olahraga dan permainan air yang seru-seru, seperti banana boat dan jetski. Pasir pantainya juga asik buat main bola. 


Menggalau juga boleh

Di sekitar pantai banyak terdapat guest house sederhana yang cukup nyaman, dan terbilang murah. Rumah ibadah, tempat oleh-oleh, hingga tempat parkir untuk mobil maupun bus pun tertata dengan cukup baik.

Ke pantai nggak afdol kalo belum makan sea food. Di Pantai Batu Karas banyak terdapat restoran yang menjual hidangan sea food segar hasil tangkapan para nelayan. Dengan harga yang cukup terjangkau, kita bisa menikmati hidangan udang, cumi, dan aneka ikan laut segar yang diolah saat itu juga, huwow!

segarrr fresh from the tree!


Sebagai penutup, jangan lupa minum air kelapa muda. Mantap! Untuk sekedar cemilan, di sepanjang pantai banyak pula yang menjual bakso cuanki atau siomay. Mengingatkan bahwa kita masih berada di tanah Priangan, hehehe...

Selain pantai yang indah, di ujung timur Batu Karas juga terdapat sebuah bukit kecil yang ditumbuhi pepohonan cukup lebat. Dari sini kita bisa melihat pemandangan menakjubkan saat air laut menghantam tebing-tebing kokoh.

Pantai Batu Karas tidak menghadap Barat, jadi kita tidak bisa menikmati matahari terbenam dari sini. Tetapi bukit kecil tadi menjadi tempat sempurna untuk melihat matahari terbit dari balik samudera, diiringi kembalinya kapal-kapal nelayan ke daratan.
Sunrise
cakep yak? bangun pagi makanya!
Batu Karas terletak di Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Masih satu wilayah dengan sejumlah tempat wisata terkenal lain seperti Pantai Pangandaran, Batu Hiu, dan Cukang Taneuh atau yang tenar dengan sebutan Green Canyon.

Keempat tempat ini bisa kita sambangi satu per satu dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Karena letak empat tempat wisata yang berdekatan ini pula, jangan kaget ya kalau pada akhir pekan atau masa liburan lalu lintas akan cukup padat. Bayangin aja bus-bus besar memenuhi dua lajur sempit. Siap-siap nahan pipis berjam-jam.

Dari Jakarta, waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Batu Karas kurang lebih 8 jam dengan mobil (huuuft..) melalui jalur Bandung dan Tasikmalaya. Tetapi percaya deh, jarak jauh yang kita tempuh akan terbayar begitu melihat indahnya pantai ini. Yuk mari, sampai ketemu di Batu Karas!

Rabu, 02 Mei 2012

Maskapai yang Aneh


Minggu, 29 April 2012

Hari ini kami akan menempuh perjalanan panjang. Ende-Kupang-Jakarta. Pertama, kami akan naik pesawat Trans N*sa menuju Kupang (jadwalnya pukul 11.00), dan dari Kupang langsung menyambung naik pesawat Garuda pukul 13.20 menuju Jakarta.

Dari hotel, kami naik ojek ke Bandara Haji Hasan Aroeboesman. Tarifnya cukup Rp 5000. Kami tiba di bandara pukul 9, eh ternyata bandaranya masih tutup. Oh ya, ini kan hari Minggu, jadi semua orang masih di gereja. Di Ende mayoritas warganya memang beragama Katolik, maka tak heran jika Minggu pagi seperti ini jalanan terlihat sepi, digantikan dengan suara nyanyian merdu yang bergema dari seluruh gereja. Sambil menunggu pintu bandara dibuka, kami cari-cari sarapan dulu di sekitar bandara. Kami bungkus nasi kuning dan makan di ruang tunggu.

Kami check in pukul 9.30, dan ini pertama kalinya aku naik pesawat tanpa nomor tempat duduk. Aih, jadi nanti duduknya bebas aja gitu ya? Baru tau deh. Sekitar 20 menit kemudian pesawat yang akan kami tumpangi mendarat. Aku sempat bingung saat semua kru pesawat ikut turun, dan berjalan ke luar bandara. Loh, mau ke mana mereka? Bukankah sebentar lagi kita harus boarding? Ah, mungkin cuma keluar sebentar, begitu kami pikir.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30, ruang tunggu sudah penuh dengan penumpang tujuan Kupang, namun belum ada tanda-tanda kami akan boarding. Tidak ada pemberitahuan apapun. Bahkan bagasi kami pun masih belum dimasukkan. Mesin pesawat juga tidak menyala. Bapakku menghampiri petugas check in, dan bertanya, di situ jadwal boarding pesawat ini jam berapa ya? Petugas check in menjawab, “Begitu kru datang, akan langsung boarding, Pak.” Lah, memangnya para kru itu ke mana sih? Di jadwalku penerbangannya jam 11 lho. Mestinya sekarang sudah boarding. Trus dengan polosnya petugas tersebut bilang, “KRUNYA LAGI MAKAN, PAK...”

?????????

Baru pertama kali ini sebagai penumpang aku disuruh nunggu kru pesawat makan. Nggak tau apa tadi aku bungkus nasi kuning dan makan di ruang tunggu biar gak telat check in? Beberapa penumpang mulai kelihatan tidak sabar. Kebanyakan adalah mereka yang punya lanjutan penerbangan di Kupang, seperti aku. Para penumpang itu mulai bertanya dengan nada suara tinggi kepada petugas bandara, karena waktu telah menunjukkan pukul 10.50 dan mereka belum mendapatkan kepastian pesawat akan berangkat jam berapa, atau apa sebabnya pesawat belum juga berangkat. Bapakku orangnya terlalu baik sih, ga bisa marah-marah. Mesti aku nih yang beraksi. Akhirnya aku ikut keluar ruang tunggu dan menghampiri salah seorang berseragam merah, bertuliskan PT Trans N*sa. Rupanya ia orang manajemen maskapai tsb. Aku udah nggak bisa bermanis-manis.

“Pak, ini pesawat yang ke Kupang kan?”
“Iya,”
“Kenapa belum berangkat? Di jadwal tiket saya tulisannya jam 11 nih,”
“Sabar Mbak, krunya lagi makan,”
“Lah, saya nggak ada urusan Pak dengan itu. Yang saya tau jadwal pesawat adalah jam 11, sekarang sudah jam 11,”
Beberapa penumpang lain yang sudah tidak sabar pun ikut menimpali.
“Bisa dihubungin nggak Pak, suruh cepet dateng gitu!”
“Iya bu, mereka sedang meluncur ke sini,”
“Makan di mana sih emang?!” “Baru kali ini pesawat telat berangkat gara-gara kru lagi makan!” penumpang lain mulai protes.
“Sabar Pak, namanya juga manusia... mereka juga kan perlu sarapan...” kata si manajer.

Ya ampun, ngunyah apaan kali makan sampe 1 jam gitu. Perasaan di depan juga ada warung padang deh. Atau bisa juga kayak aku tadi, beli nasi kuning di depan dan makan di ruang tunggu, 15 menit beres kan?

Seorang bapak tampak sudah sangat kesal, “Pak, saya ada flight ke Jakarta pukul 13.30 dengan Garuda. Garuda selalu on time, kalo nanti saya telat dan ketinggalan pesawat gara-gara kru bapak masih makan, apa bapak mau ganti rugi tiket Garuda saya?”

Tah, eta pisan.

Eh dengan enaknya si manajer bilang, “Masih bisa Pak, tenang dulu...”

Aku gregetan, “Bisa pak, kalo krunya sudah di sini sekarang! Sekarang, mana??”

Yang aku tau ya, biasanya pesawat telat tu karena keadaan cuaca, kerusakan teknis, nungguin penumpang... bukan karena krunya lagi makan! Ampun dah. Padahal ini scheduled flight loh, bukan unscheduled flight, bukan pula chartered flight. Scheduled flight itu berarti sudah reguler jadwalnya jam segitu, dan itu justru wajib on time. Karena di bandara Kupang kan juga pasti sudah di atur, oh si ini akan mendarat pukul segini, si ini 10 menit setelahnya, lalu landasan akan dipake take off jam segini... Yang pake landasan kan juga ngantri, bukan dia doang. Makanya scheduled flight itu semestinya on time. Ini mah bagasi belum dimasukin, mesin belum dipanasin, belum cek dan ricek... yang dua terakhir itu malah sudah berkaitan dengan faktor keselamatan penerbangan.

Nggak lama, akhirnya rombongan kru itu datang juga. Cieee yang abis makan! Kenyang nih yeee... *pletak! (pengen nimpuk)

Akhirnya kami boarding. Dan saat kami masuk pesawat, mesin bahkan belum dinyalakan. Baru pertama kali aku masuk pesawat, pesawatnya masih anget dan gelap (AC dan lampu belum nyala). Haduh mas bro... mbak sis... yo opo seeehh... Maskapai yang aneh.

Begitu penumpang sudah rapi, barulah mesin dinyalakan, pesawat langsung mundur dan menuju take off position. Are you serious?!! Bapakku keliatan tegang, karena ia sangat mengerti teknis keselamatan penerbangan, dan ini udah nggak bener. Ini baru kali ketiga bapak naik maskapai selain GIA (kali kedua buatku), and this is the worst.

Pukul 12.15 kami landing (alhamdulillah dengan selamat) di Kupang. Bapak langsung ngacir buat check in, sementara kami menunggu bagasi. Pesawat Garuda dijadwalkan mendarat pukul 12.30, and here it is! Jam 12.30 teng, pesawat itu mendarat. See? Apa jadinya kalau kami telat mendarat dari Ende? Pesawat ini jadwal berangkat pukul 13.30, namun penumpang sudah diharuskan check in dari 1 jam sebelumnya, lalu boarding pukul 13.00. dan semuanya, on time.

Singkat cerita, kami tiba di Jakarta sore hari, pukul 16.30 WIB. It’s a long journey.

Ohya, aku sudah janji kan akan memberikan info estimasi biaya dan akomodasi selama di sana. Ini rinciannya – eh tapi tidak termasuk tiket PP Garuda Indonesia JKT-KOE dan KOE-JKT ya, hehe, peace (^,^)v
Kita mulai dari airport tax bandara Soekarno Hatta : Rp 40.000/org
Sewa taxi dari Bandara El Tari Kupang: Rp 60.000
Hotel Le Detadu Kupang: Rp 125.000/nett
Ojek dari hotel ke bandara: Rp 15.000
Ongkos angkutan umum Kupang: Rp 2.000/org

Tiket Wings Air KOE-ENE: Rp 486.000/org
Airport tax Bandara El Tari Kupang: Rp 20.000
Sewa mobil Ende-Kelimutu: Rp 500.000
Hotel Dwiputra Ende: Rp 150.000/nett
Ongkos angkutan dalam kota Ende: Rp 2.000/org
Ongkos angkutan Ende-Nangapanda: Rp 5.000/org

Ojek dari hotel ke bandara: Rp 5000/org
Tiket Trans Nusa ENE-KOE: Rp 980.000/org (ini harga hari Minggu. Wajar kan kalo gue marah-marah saat dia leyeh-leyeh makan?)
Airport tax Bandara Hasan Aroeboesman Ende: Rp 10.000

Flores Tourist Information, Jalan Bakti no. 1, depan Pantai Ria Ende.
Kalau mau berwisata ke Ende, bisa hubungi Bang Yosi di 081339513882
Bisa menginap di Al-Hidayah Guest House, Jalan Yos Sudarso, Ende (0381) 23707
Atau di Hotel Mentari, Jalan Pahlawan No. 19, Ende (0381) 21802

Pantai Penggajawa, Sebuah Ironi


Sabtu, 28 April 2012

Ende memang penuh warna. Setelah kemarin menyaksikan keajaiban danau tiga warna di Gunung Kelimutu, hari ini kami menyaksikan pesona lainnya di Pantai Penggajawa. Pantai berpasir hitam, itu biasa. Pantai pasir putih pun banyak. Kalau pantai dengan hamparan batu biru? Naaahh... itu cuma ada di sini, di Pantai Penggajawa.

 
Looks familiar? Ya, mungkin kamu sering melihat batu-batu seperti ini di toko bahan bangunan. Atau mungkin ia ada di akuarium atau halaman rumahmu? Di halaman rumahku juga ada bebatuan biru itu, sebagai dekorasi taman. Dulu kupikir, ya ampun orang rajin amat mengecat batu ini satu per satu! Eh ternyata, batu biru itu alami, dan semua berasal dari pantai ini.


Melihat batu warna-warni begini, aku jadi ingat dulu waktu kecil aku percaya peri-peri kecil seperti Tinkerbell-lah yang bekerja mewarnai bunga-bunga, melukis sayap kupu-kupu dan badan ikan nemo, dan mengukir karang-karang yang cantik. Hehe... imajinasi masa kecil. Sekarang, melihat semua keindahan ini aku hanya mampu bertasbih... Innallaha jamiil wa yuhibbu al-jamaal. Ialah sebenar-benarnya seniman.

Pantai Penggajawa terletak 20 km ke arah barat Kota Ende. Untuk menuju ke sana, kamu naik angkutan kota dulu ke terminal Ndao. Dari situ, kamu nyambung lagi naik angkutan yang menuju Nangapanda. Angkutan ini rutenya melewati jalanan yang mengikuti garis pantai. Berkelok-kelok melintasi punggung bukit, dengan pemandangan laut lepas di sebelah kiri jalan. Kayaknya kalau naik sepeda asik nih, kayak rute etape-etape gitu deh. Pokoknya nanti kalau sudah kelihatan pantai dengan bebatuan biru menghampar, itu berarti kamu sudah sampai di Pantai Batu Biru atau Pantai Penggajawa. Turun saja, ongkosnya Rp 5000.

Aku percaya nggak percaya melihat pemandangan di hadapanku. Edaaaaaann...! Baru pertama kali ini aku melihat pantai berwarna-warni. Subhanalloh, indah sekali. Tempat seindah ini pun ternyata belum terjamah. Pantainya sepiiiiii... sekali. Kalau di Jawa tempat secantik ini mungkin sudah ramai diserbu orang. 


Bapak, Ibu, Niko, dan aku langsung sibuk masing-masing, nyari batu-batu unik. Kebanyakan memang berwarna biru kehijauan (tosca) tapi ternyata batu dengan warna-warni lain juga banyak! Ada warna ungu, merah, putih, kuning, macem-macem. Ada yang lapis-lapis, mengingatkan kita pada warna permukaan planet Venus dan Jupiter.



Bentuknya juga lucu-lucu. Ada yang berbentuk kotak kayak sabun batangan, bentuk segitiga, bundar mulus kayak ulekan, sampai yang mirip pelok mangga (apa emang pelok mangga beneran ya? atau jangan-jangan itu adalah fosil mangga yang berasal dari jutaan tahun yang lalu? --halaaahhh...)

Apakah itu batu? Atau pelok mangga?
Bapak dan ibu mengumpulkan batu-batu imut dan lucu, Niko mengumpulkan batu-batu besar yang memiliki pola dan bentuk yang unik, sedangkan aku sibuk memenuhi kantong celanaku dengan bebatuan warna-warni segede coklat chacha. Jadi inget lebaran... hehe. Kalo lebaran kan aku selalu memenuhi kantongku dengan kue dan kacang dari rumah orang, sekarang kantongku penuh batu :p

Aku berjalan menelusuri pantai. Kalau biasanya kita bertelanjang kaki saat menelusuri pasir pantai, di sini bertelanjang kaki cuma buat orang yang niat mau refleksi. Sakit bok, ya iyalah batu semua gitu. Pantai di sini ternyata ombaknya lebih keras daripada pantai di Kupang atau di Kota Ende. Bukan ombak biasa, ini ombak yang membawa serta bebatuan warna-warni itu. Jadi suaranya bukan cuma “byuuurr...” tapi juga “kletak kletak kletak...” Dan ketika ombak datang, ia tidak hanya membasahi kakimu, tapi sekaligus MENIMPUK. Kebayang kan, ombak keras datang bersama ribuan batu dan kerikil? Rasanya: aduh! Nyeri euy! Cantik sih cantik warna-warni, tapi namanya juga batu, kalo ketimpuk tetep aja sakit.

Ombak datang membawa batu
Ohya, di sekeliling pantai ini banyak tebing, yang lagi-lagi, warnanya tidak biasa. Tebing ini, dan segala batu pecahannya berwarna hijau! Foto ini bukan hasil editan permainan warna ya, itu warnanya benar-benar seperti itu! Bukan pantulan, bukan pula cat (atuhlah...siapa juga yang rajin amat ngecat tebing sepanjang pantai jadi ijo...)


 

Kami terus berjalan menelusuri pantai, berharap menemukan penjual souvenir atau paling tidak, penjual ikan bakar. Ternyata, tidak ada sama sekali. Hufft... Pantai itu ya benar-benar pantai saja, tidak dimaksimalkan sebagai objek wisata unik dan tidak dimaksudkan untuk menarik pengunjung. Sayang sekali. Aku nggak ngerti deh, apakah pemerintah setempat memang betul-betul pengen menjaga kelestarian pantai tersebut atau karena nggak bisa dan nggak niat mengembangkan potensi wisata sih? Ckckck...

Berjalan jauh nyari tukang ikan bakar dan souvenir
Penduduk di pesisir kebanyakan bekerja sebagai nelayan dan pendulang batu. Mereka mengumpulkan batu-batu biru itu dari pantai, atau dari dasar laut, lalu disortir berdasarkan bentuk, warna, dan ukuran. Setiap minggu akan ada pengepul dari kota yang membeli batu-batu yang mereka kumpulkan. Sekantung batu dihargai Rp 25000. Murah banget ya? Kalo sudah sampai di toko bangunan, apalagi di Jakarta, harganya bisa berlipat-lipat.

Sepanjang pesisir, kamu akan melihat tumpukan batu di mana-mana, di depan setiap rumah. Artinya itulah mata pencaharian utama warga kampung ini. Mendulang batu, menyortirnya, lalu menjual ke pengepul. Tidak ada satu pun tanda-tanda penduduk sini yang menjual batu-batu indah tersebut dalam bentuk kerajinan tangan atau souvenir. Padahal kalau batu-batu ini dijual dalam bentuk kerajinan tangan dan souvenir, harganya pasti akan lebih mahal daripada kalau menjual tumpukan batu ke pengepul. Ada nilai tambahnya. Dan turis jelas lebih berminat membeli cinderamata seperti itu daripada harus membeli sekarung batu. Ya kan?

Tumpukan batu di depan rumah warga
Jelas sudah, berarti memang tidak ada perhatian dari pemerintah setempat terhadap eksotisme pariwisata Ende. Di Kelimutu tidak, di kota pun tidak, di pantai secantik ini juga tidak. Kecantikan alam dan kekayaan budaya tidak disinergikan dengan sektor pariwisata dan industri kreatif yang semestinya menjadi penggerak roda perekonomian warga.

Padahal mereka tinggal di pesisir pantai yang amat mempesona, mungkin cuma satu-satunya pantai di dunia yang punya hamparan batu biru alami, tetapi kebanyakan warga masih tinggal di gubuk reyot. Nenek-nenek berusia lanjut masih bekerja memecah batu di halaman rumahnya. Gimana nggak sedih coba? Padahal di halaman rumah mereka itu pula terhampar potensi pariwisata dan keunikan yang belum dimanfaatkan secara maksimal untuk menarik perhatian wisatawan.

Aku berpikir, mereka tidak seharusnya menjadi buruh pendulang dan pemecah batu yang hanya bisa menjual ke pengepul dengan harga murah, seharusnya mereka sudah menjadi pemilik restoran ikan bakar atau penginapan tepi pantai. Ya kan? Turis mana coba yang nggak mau tinggal lama-lama di tempat seindah ini?

Ibu-ibunya juga begitu, mereka mengangkut batu dari pantai untuk dibawa ke halaman rumah mereka, lalu disortir dan menunggu pengepul datang. Padahal aku membayangkan, mereka seharusnya bisa dibina, diberikan pengetahuan dan keterampilan, sehingga bisa membuat nilai tambah dari batu-batu biru nan cantik itu. Seharusnya mereka jadi juragan souvenir batu biru, seharusnya mereka bisa membangun industri kreatif yang membuat perekonomian desa mereka jadi lebih baik daripada harus capek-capek mengangkut batu.

Aku sedih sekali, melihat bahwa masih banyak rakyat Indonesia yang tidak sadar bahwa mereka tinggal di tanah surga. Surga itu ada di halaman rumah mereka, namun mereka tidak diberi tahu, tidak dibina bagaimana mengambil manfaat dari sana. Sungguh suatu ironi. Aku tahu, seharusnya aku bercerita kepada kalian tentang betapa cantiknya Pantai Penggajawa. Tapi aku munafik jika hanya bisa menceritakan keindahannya saja. Padahal ada ironi di sana. Di mana penduduk setempat masih hidup dalam gubuk reyot, melakukan pekerjaan kasar seperti mencari, memecah, dan mengangkut batu-batu indah itu untuk diekspor atau dibawa ke Jawa. Dibeli dari mereka dengan harga murah, lalu dijual dengan harga tinggi.

 Apa lagi itu namanya jika bukan suatu pembodohan. Pemiskinan. Itu kan sebetulnya tanggung jawab pemerintah untuk bisa membina dan memberikan keterampilan wirausaha, memberikan modal. Menyadarkan bahwa apa yang ada di halaman rumah mereka itu adalah aset tak ternilai. Namun pemerintah terlalu sibuk mengurus orang-orang di Jawa, pejabat terlalu sibuk mengisi perut, politisi terlalu sibuk plesir. Surga-surga yang ada di sini ditelantarkan. Rakyatnya dibiarkan tidak sadar dan terus hidup dalam lingkaran setan: kemiskinan-kebodohan-kemiskinan-kebodohan, dan begitu seterusnya.

Ah, Indonesia...
Aku terlalu mencintaimu sehingga sering jadi tidak tega. Kamu bagaikan putri cantik yang dibelenggu dalam penjara naga. Sebongkah tanah dari surga ini sering kena salah asuhan...

Percaya kalau kubilang Indonesia ini adalah tanah dari surga?


***

Selasa, 01 Mei 2012

Jejak Pancasila di Bawah Pohon Sukun


Di Kota Ende, kami menginap di Hotel Dwiputra yang terletak di Jalan Yos Sudarso, Ende. Seperti waktu di Kupang, kami memesan dua kamar. Masing-masing harganya Rp 150000 per malam. Itu sudah termasuk sarapan setiap pagi. Kamar yang kami tempati cukup nyaman, dengan pendingin ruangan dan jendela besar sehingga kami bisa menyaksikan pemandangan bukit-bukit hijau yang mengelilingi Kota Ende.

Pantai Ria Ende yang merupakan tempat favorit masyarakat Kota Ende menghabiskan waktu senggang di sore hari, jaraknya hanya 200 meter dari hotel kami. Pantai ini menghadap ke Barat, jadi setiap sore pemandangan matahari terbenam menjadi momen yang tidak boleh terlewatkan.

Kapal-kapal merapat di Pelabuhan Ende

Where beach meets mountains
Sunset di Pantai Ria Ende

Di pinggir pantai, paling enak minum kelapa muda sambil makan ikan bakar. Kelapa muda di sini segar sekali, karena airnya dicampur dengan perasan lemon. Begitu juga dengan ikan bakar, yang disantap dengan sambal khas, namanya sambal matah. Sambal ini terbuat dari tomat, bawang, potongan lemon dan daun kemangi mentah yang dicacah kasar, plus perasan lemon yang membuat sambal ini sangat bercitarasa asam segar, dan menghilangkan amisnya ikan. Wah, ternyata bukan tanpa alasan Pak Markus membawakan kami lemon kemarin. Ternyata di sini, lemon jadi ciri khas campuran masakan dan minuman. Aku suka banget ikan bakar plus sambal matah ini. Makan siang dan malam, lagi-lagi ikan bakar! Hehe... Kalau adikku lain lagi, dia suka banget sama es kelapa plus lemon itu.

Jika bicara tentang Ende, kita pasti teringat juga dengan Bung Karno. Ya, Belanda kan pernah mengasingkan Sang Proklamator ke Ende selama 4 tahun, dari tahun 1934-1938. Selama di Ende, Bung Karno tinggal di rumah sederhana ini.


Rumah ini terletak di Jalan Perwira, jaraknya tak sampai 100 meter dari hotel tempat kami menginap. Semua barang koleksi milik Bung Karno masih tersimpan di dalam rumah ini, seperti foto keluarga, dua buah tongkat berkepala monyet, peralatan makan, lemari, dan beberapa lukisan. Di dalam rumah ini juga terdapat ruang yang sering digunakan Bung Karno untuk sembahyang dan bersujud. Bekas sujudnya itu masih membekas di lantai. Di bagian belakang rumah juga terdapat sumur yang airnya biasa digunakan Bung Karno selama tinggal di sana, namun masyarakat setempat mempercayai air dari sumur itu bisa membuat awet muda. Warga setempat mengatakan, putra bungsu Bung Karno, Guruh Soekarno Putra masih sering datang ke sini.

Belanda boleh membuang Bung Karno jauh-jauh dari pusat pemerintahan di Jawa, tapi mereka tidak dapat memusnahkan gagasan dan pemikiran beliau. Dasar kompeni, mereka membuang Bung Karno ke tempat sedamai dan seelok ini, yang malah membuat Bung Karno bisa berpikir dengan tenang dan jernih demi masa depan bangsanya. Konon, setiap sore hari selama di Ende Bung Karno selalu duduk merenung di bawah sebuah pohon sukun di tepi pantai. Diyakini gagasannya akan Pancasila sebagai falsafah negara Indonesia terlahir dalam proses perenungannya di bawah pohon ini. Bung Karno sendiri yang mengatakannya saat berkunjung ke Ende dan bernostalgia di bawah pohon tua itu pada tahun 1955.

Pohon sukun tersebut tumbang pada tahun 1960, tapi pohon sukun kedua ditanam kembali sebagai duplikat untuk mengenang tempat Bung Karno merenungkan dasar negara. Ajaibnya, pohon kedua ini tumbuh dengan lima cabang, yang diyakini masyarakat setempat sebagai perwujudan lima sila dalam Pancasila. Tepat di depan pohon tersebut dibangun patung Sang Proklamator. Pohon sukun dan patung Bung Karno itu kini dikenal sebagai Taman Perenungan Pancasila. Setiap sore anak-anak ramai bermain di sini.

Pohon sukun bercabang lima

Patung Bung Karno di Taman Perenungan Pancasila
Di Ende juga terdapat makam ibu mertua Bung Karno, yaitu Ibu Amsi, ibunda dari Inggit Garnasih, istri Bung Karno pada waktu itu. Ibu Amsi ikut bersama putrinya menemani Bung Karno selama masa pengasingan, hingga akhirnya meninggal dunia di sini. Makam Ibu Amsi terletak di sebuah kompleks pemakaman keluarga pejuang kemerdekaan, tak jauh dari pusat kota. 

Ada juga Museum Tenun Ikat, yang terletak di Jalan Mohammad Hatta, di sebelah Taman Perenungan Pancasila. Pokoknya kalau di Kota Ende, ke mana-mana bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau naik angkutan kota. Aksesnya mudah. Mau ke pasar juga tak jauh. Ada pasar pagi dan pasar malam. Kalau pagi, sebagian toko (seperti toko baju, sepatu, elektronik) ada yang tutup karena emperannya digunakan oleh para pedagang sayur, buah, dan ikan. Barulah pada sore hari mereka buka.

Pemandangan sore di Kota Ende

Pokoknya hari ini kami hanya jalan-jalan keliling Kota Ende. Sekalian nyari oleh-oleh. Sayang banget, di kota dengan potensi pariwisata yang luar biasa seperti ini, justru sangat sulit mencari cinderamata khas. Bahkan makanan khas pun sulit ditemukan. Artinya, potensi pariwisata di Ende belum dimanfaatkan secara maksimal, dan belum disinergikan dengan sektor-sektor lain, seperti industri kreatif dan kebudayaan setempat. Sayang seribu sayang.

Toko cinderamata hanya ada dua, yaitu Fanni Art Shop dan Cendana Art Shop yang terletak di Pasar Ende. Di situ pun barangnya tidak terlalu variatif, dengan kualitas yang masih rendah. Kaos bertuliskan Ende atau Kelimutu hanya ada satu atau dua model, dengan bahan dan jahitan yang membuat kami urung membeli. Begitu pula gantungan kunci, tidak ada variasi dan desain yang menarik. Yang banyak dijual malah kain tenun ikat, sasando, dan topi khas Ende. Iya sih, itu bagus dan bisa dijadikan cinderamata, tapi kan tidak bisa beli banyak. Selain harganya mahal, benda-benda seperti itu tentu akan jarang dipakai orang.  

Begitupula dengan makanan khas, tidak ada yang ditonjolkan. Ada juga keripik singkong dan keripik pisang. Itu kan juga banyak di Bandung. Hmm... aku sih yakin pasti Ende punya penganan khas yang lebih unik dan bernilai jual daripada sekadar kripik pisang atau singkong.

Ohya, kalau mau dapat informasi lebih banyak tentang wisata di Ende dan Flores, kamu bisa datang ke Flores Tourist Information, di Jalan Bakti no.1, tepat di belakang Museum Tenun Ikat, di tepi pantai. Dari sana kamu akan diberikan banyak sekali informasi tentang pariwisata Ende dan Flores. Kami disarankan untuk berkunjung ke Pantai Penggajawa, yang berjarak 20 km dari Kota Ende. Pantai itu juga dikenal sebagai Pantai Batu Biru. Hah, batu biru? Memangnya ada pantai berbatu biru? Makanya..tunggu catatanku berikutnya.   

***

Pesona Danau Tiga Warna



“Kelimutu: Kebanggaan Indonesia, Kebanggaan Dunia”

Demikianlah tulisan yang menyambut kami ketika memasuki pintu gerbang Taman Nasional Gunung Kelimutu. Setiap pengunjung dikenakan biaya Rp 2500 per orang, Rp 6000 untuk kendaraan. Biaya yang terbilang sangat murah untuk sebuah objek wisata yang sudah mendunia. Mobil masih harus berjalan menembus kabut sejauh 5 km lagi untuk sampai di pelataran parkir Gunung Kelimutu.

Sesampainya kami di pelataran parkir, kami disambut ramah oleh Bapak Markus, penjaga keamanan sekaligus pemandu bagi pendaki Gunung Kelimutu. Dengan fasih, pria berusia 60-an itu memperkenalkan diri kepada kami.

Kehadiran pemandu sangat penting di Kelimutu, mengingat banyaknya kera liar di wilayah ini. Sebelumnya, pendaki Kelimutu tidak diwajibkan didampingi pemandu. Namun karena banyaknya kasus serangan kera (ada yang digigit, dicolong tasnya, atau dicakar), sekarang semua pendaki harus didampingi pemandu, yang akan membawakan pisang dan tas, serta memimpin jalan di depan. Ia yang sudah kenal dengan tingkah laku para kera itu akan memberikan pisang sambil terus menjaga pendaki dari serangan mereka. Bukan hanya kera, di Kelimutu ini juga masih banyak anjing dan babi hutan. Jadi memang harus waspada.

Danau Kelimutu adalah tempat sakral bagi masyarakat setempat. Mereka percaya bahwa arwah seseorang yang telah meninggal akan datang dan tinggal di Kelimutu untuk selama-lamanya. Sebelum masuk ke salah satu danau, arwah tersebut akan menghadap Konde Ratu selaku penjaga pintu masuk di Perekonde. Konde Ratu akan menentukan arwah tersebut masuk ke danau yang mana, tergantung usia dan perbuatannya. Perubahan warna danau kerap dikait-kaitkan dengan peristiwa tertentu yang akan terjadi di sekitar Kelimutu khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Makanya wisatawan yang datang ke sini harus menghormati kepercayaan masyarakat setempat dengan menjaga kebersihan dan melewati jalur setapak yang disediakan. Jangan menggunakan jalur lain, nanti bisa celaka, kata Pak Markus.

Bang Yosi cerita, pernah ada wisatawan bule yang tidak mengindahkan peraturan. Ia meloncat pagar dan ingin lewat lebih dekat dengan danau. Walhasil, ia terpeleset dan jatuh ke dalam danau. Tidak ada yang bisa menyelamatkan. Kawan-kawannya datang dan membawa berbagai alat canggih untuk bisa menemukan jasadnya dari dasar danau. “Mau dicari berapa lama pun tetap tidak ada. Tulangnya pun tidak ada. Ya sudah, ia jadi ‘warga’ sini sekarang,” kata Bang Yosi.

Kabut tebal sekali saat itu. Pak Markus bilang, lebih baik kita jalan saja, mudah-mudahan sesampainya di puncak, kabut sudah hilang. What? Kita masih harus jalan lagi? “Iya, untuk sampai puncak kita harus jalan kaki 2 km,” katanya. Ibu yang masih mabok langsung pucat. Tapi karena penasaran dengan keindahan Kelimutu, ibu tetap ikut naik. Bang Yosi juga ikut naik menemani kami.



Bener aja, segerombolan kera sudah menunggu kami dekat kawah pertama. Mereka sangat agresif. Pak Markus melemparkan pisang, dan langsung jadi rebutan.


Kami sampai di pinggir kawah pertama, Tiwu Ata Polo, yang dipercaya sebagai kampung bagi arwah orang-orang jahat. Waaaaaww... It’s soooooo beautiful! Amazing! Berdiri di tepiannya membuat kita merasa keciiiiiilll... sekali. Maha Besar Sang Pencipta.

Danau Tiwu Ata Polo

Danau Tiwu Nuamuri Koofai
Danau Tiwu Ata Polo kerap berwarna merah atau coklat, tapi waktu aku datang ke sana warna danaunya biru tosca pekat. Aku nggak kebayang bagaimana warna tosca sepekat ini kok bisa berubah jadi merah atau coklat. Sedangkan danau di sebelahnya, Tiwu Nuamuri Koofai dipercaya sebagai kampung arwah orang-orang muda atau bujang. Danau ini sering terlihat berwarna hijau atau biru tosca, dan kemarin danaunya sedang berwarna biru tosca pucat. Bang Yosi bilang, kedua danau ini memang paling sering berubah warna. Berbeda dengan danau satu lagi, yang cenderung tenang dan jarang berubah warna.

Danau Tiwu Ata Mbupu

Danau yang ketiga itu namanya Tiwu Ata Mbupu, dipercaya masyarakat sebagai kampung bagi arwah orang-orang tua yang bijaksana. Warnanya hitam kehijauan. “Makanya yang ini lebih tenang, jarang berubah. Kalau danau dua itu, bajingan semua memang, berubah-ubah terus warnanya, haha...” kata Bang Yosi. Danau ini letaknya terpisah dari dua danau berwarna tosca tadi. Kalau mau ambil foto ketiga danau bersamaan, mesti mendaki lebih jauh lagi untuk sampai di puncak sebelah sana. Ooaaaahhh... SEMANGAT ah! Satu-dua-tiga! Kata Pak Markus, ada 265 anak tangga yang harus kita daki.

hosh... hosh...
 Tiba-tiba Pak Markus berhenti dan memetik buah dari perdu ini... Pohon apa ya ini namanya... Pohon ini banyak terdapat di puncak-puncak gunung.


Kata Pak Markus, “Makanlah ini Nona, mudah-mudahan awet muda. Ini makanan para arwah.” Astagfirulloh, bukan berarti kalo makan ini saya jadi arwah kan Pak? “Tidak Nona, arwah makan ini jadi mereka abadi. Nona makan ini akan awet muda,” oooohh... kirain. (Eh, selama di sini orang panggil aku Nona, aku suka banget sebutan itu, manis sekali, hehe...)

Buah imut cemilannya Tio
Buahnya kecil-kecil, rasanya manis-sepat. Terus kata ibu, “Ini kan yang suka dimakan si Tio!” Hahaha... itu loh, Tio host Jejak Petualang Survival. Kita emang seneng nonton aksinya menjelajah hutan gunung, dan menemukan makanan-makanan untuk bertahan hidup. Ini salah satu buah-buahan gunung yang sering dicemil si Tio. Tapi aku lupa apa namanya. Rasanya segar, banyak airnya.

Akhirnya setelah melewati anak tangga ke-265 (kayaknya lebih deh) kami pun sampai di puncak Gunung Kelimutu, ketinggian 1.640 mdpl (aku dan Niko doang sih, Bapak dan Ibu masih narik nafas di tangga ke-100, hehe).

Puncak Kelimutu

Dari ketinggian puncak ini kita bisa melihat ketiga danau bersamaan. Tiwu Ata Polo dan Tiwu Nuamuri Koofai di sebelah timur, dan Tiwu Ata Mbupu di sebelah selatan. Baru saja kami sampai puncak, tiba-tiba kabut tebal datang menutupi pemandangan. Pak Markus bersiul-siul, dan setelah dua menit, kabut perlahan-lahan hilang. “Tuhan dengar doa kita,” katanya.

Danau tiga warna ini memang menjadi keajaiban tersendiri yang patut disyukuri. Allahu Akbar... Allahu Akbar... aku tak henti-hentinya memuji kebesaran Tuhan, yang telah menciptakan lukisan seindah ini. Subhanallah...



Di puncak ini ada penjual makanan. Ada kopi, teh, pop mie. Harganya Rp 10000-an. Wajar lah, belanjanya kan jauh! Naik ojek dulu, mendaki dulu, pengorbanan banget deh. Aku jadi teringat dulu waktu di padang Surya Kencana aku beli nasi uduk seharga Rp 14000 untuk sarapan. Isinya? Sambel dikiiiiittt doang plus seperempat telor. Tapi ya itu, kita tetap harus berterimakasih untuk penjual yang sudah mau bersusah-susah mendaki ke sini supaya kita tidak turun dengan perut kosong.

Dingin-dingin makan popmi anget-anget
Cukup lama kami menghabiskan waktu di puncak. Seolah enggan sekali meninggalkan semua pesona ini. Ohya, Pak Markus rupanya senang sekali memotret. Ia mengarahkan gaya kami begini, begitu, layaknya fotografer profesional. Kami senang-senang saja ada yang motret, hehe... Terus lucunya lagi, saking seringnya ia melayani wisatawan bule, Pak Markus pun jadi ikutan 'nginggris'. Beberapa kali ia ngomong “One more time, please,” usai memotret kami. Atau “A bit here,” saat mengarahkan kami untuk sedikit bergeser. Sesekali juga ia bilang, “No step there please, dangerous.” Oalaaaahh...^^

Aku bersama Pak Markus
Niko bersama Bang Yosi
Hampir dua jam kami puas menikmati pesona kawah Kelimutu di puncak. Untungnya cuaca cukup cerah jadi kami bisa lihat pemandangan yang luar biasa. Enggan sekali meninggalkan tempat indah ini. Tapi bagaimanapun kami tetap harus turun. Terlalu lama menghirup belerang juga tak baik.

Perjalanan turun. Ibu ternyata doyan buah 'arwah' dan metikin banyak buat dicemil -___-"

Di parkiran, tak lupa kami beli oleh-oleh kain tenun ikat seharga Rp 140000. Harganya macam-macam, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan motifnya. Terus jangan lupa, bawanya juga kan jauh dari bawah, hehe...jadi wajar kalo agak mahal. Sayangnya nggak ada oleh-oleh lain seperti kaos, gantungan kunci, atau apapun seperti yang bisa kamu temukan di parkiran Gunung Tangkuban Parahu, Bandung. Aku juga heran, mengapa di objek wisata kelas dunia ini justru sulit menemukan cinderamata.

Bapak memberikan tip kepada Pak Markus Rp 50000. Sebetulnya ia tidak mematok bayaran, tapi keramahan dan jasanya menuntun kami hingga selamat sampai sini memang patut dihargai. Pak Markus menahan kami sebelum naik mobil. “Tunggu sebentar,” tak lama ia kembali dengan membawa seplastik penuh buah lemon. “Baru saja saya petik dari kebun. Silakan, ini buah tangan dari Kelimutu,” katanya. Waaaaahhh Pak Markus baik sekaliiiii...! “Tuhan memberkati, Pak!” saya menjabat tangannya.

“Semoga Nona diberikan rezeki, diberikan umur panjang dan jodoh... Sehingga lain waktu Nona kesini bersama jodoh Nona...” Ya Allah, amin... “Amin...terima kasih Bapak. Semoga Pak Markus sehat terus dan diberikan umur panjang sehingga nanti kalau saya kesini kita bisa jumpa lagi,” saya tulus mendoakan. Kami pun berpisah. Pak Markus tak henti-henti melambaikan tangan.

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk ikut Bang Yosi lagi ke Ende. Malam ini dan seterusnya kami akan menginap di Ende saja. Toh hari ini tujuan utama kami untuk melihat Kelimutu sudah tercapai. Ya, benar juga. Mungkin dari Kota Ende kita akan bisa menemukan tempat-tempat wisata lain. Oke, sampai ketemu di Ende lagi!

Note:
Tarif awal yang disepakati bersama Bang Yosi adalah Rp 400000 sekali jalan (Ende-Moni) tapi ternyata kami minta untuk diantar hingga Kelimutu, Bapak menambahkan Rp 100000 untuk perjalanan Moni-Kelimutu (kami tidak keluarkan uang lagi untuk isi bensin). Karena kami kembali pulang ke Ende, jadi dikali dua. Bang Yosi baik sekali, ia mengantarkan kami keliling Kota Ende untuk mencari-cari penginapan. Kalau kamu mau berwisata ke Ende, aku rekomendasikan untuk menghubungi Bang Yosi yang sangat ramah dan bisa dipercaya ini. Nanti dia akan jemput kamu di airport dan mengantar kemana yang kamu mau.

Yosi Ende: 081339513882

Informasi lengkap mengenai biaya dan tempat menginap di Ende akan kutulis di bagian akhir catatan. Jadi ikuti terus ya!