Senin, 21 September 2015

Majalah Ummi: Bekerja Sambil Menyusui

“Kamu kerja terus bayimu sama siapa?” Demikian orang bertanya.
“Diurus utinya ya di Tangerang?” Enggak euy, sayang ASI-nya. Kalau pisah sama aku kan mau nggak mau Ali minum susu formula.
“Diurus pengasuh?” Enggak juga, masih kecil banget, belum tega ngasih ke orang.
“Lalu gimana?” Ya aku bawa bayiku ke kantor. Ikut kerja.

Hah?! Emang boleh?

Begitu selalu reaksi orang-orang kalau tau aku ngantor bawa bayi. Gak percaya, kemudian takjub. Memang, kantorku hebat betul, aku sangat bersyukur. Di sini aku mau sharing bagaimana kantor dan rekan-rekan kerjaku bersikap sangat suportif demi keberhasilanku memberikan ASI untuk Ali. FYI, aku bekerja sebagai reporter di Majalah UMMyang seruangan isinya ibu-ibu semua. Kami getol bicara soal pentingnya ASI, kesehatan anak, dan parenting, pentingnya kelekatan ibu dan bayi, masa iya nggak mendukung rekan kami sendiri yang berjuang menyusui? Alhamdulillah, kantorku memang sangat baby-friendly, lebih mirip rumah kedua buatku. Dan Ali bukan yang pertama dibawa ngantor.
Dulu ada Kakak Shofie (7), si anak pintar yang nanyaaa melulu. Kami memutar otak menjawab pertanyaannya. “Kenapa sih gajah tidak ada yang warna pink? Kenapa sih lumba-lumba itu menyusui? Kenapa sih kok Shofie harus sholat tapi dedek Nuha engga?” Sekarang kakak Shofie sudah tinggal di Virginia, US. Ibunya, Mbak Aini, tetap menulis untuk kami.
Lalu ada Abang Rana (6), putra Mbak Mala, pemimpin redaksi Majalah Ummi. Ini si anak manis yang kalo bobo siang selalu minta dikelonin Bundanya di bawah meja. Hihi. Sekarang sudah kelas 1 SD, Abang Rana masih suka mampir ke kantor sepulang sekolah dijemput Bundanya.
Ipun (3), yang dari bayi 3 bulan udah digeletakin ibunya di kantor, dan “absensi”-nya masih penuh sampe sekarang, hihi. Kami menyaksikan bagaimana ia tumbuh dari bayi gendut yang supercool hingga jadi anak kiting cantik yang super-endel. FYI, Ipun baru disapih usia 30 bulan. Dia udah punya “rumah” sendiri, satu kabinet kosong di bawah printer yang dia isi dengan Barbie, kasur, guling, dan semua rakyat kebun binatangnya. Rumah itu muat juga buat dia masuk, dia seneng banget main petak umpet trus dia cengar-cengir keluar dari situ. Hih! Ibunya sekretaris redaksi, jadi sekarang suara telepon berdering dan suara printer seolah menjadi panggilan jiwanya. Tiap printer bunyi, dia segera berlari, nungguin kertas keluar, dan bersiap nganter kertas itu ke siapa yang ngeprint. Sebaliknya, dia juga memberikan jobdesk baru buat kami, bikinin lego, bacain buku, warnain, gambarin gajah. Kata Mbak Mala, “Nanti kita akan carikan jobdesk buat Ali!”

ipun waktu kecil
ipun sekarang
Kantorku memang tidak punya ruang ASI khusus, freezer, atau ruang bermain anak tersendiri, tapi kami bisa membawa anak dan menyusui di ruangan, mengasuh mereka langsung di sela-sela waktu kerja. Kami bersama anak-anak setiap waktu, dan itu adalah kesempatan yang sangat berharga. Di redaksi Majalah Ummi, satu ruangan isinya perempuan semua jadi privacy saat menyusui, mompa ASI, maupun ngelonin anak sangat terjaga. Ruangan juga bersih, karena kami lepas sepatu di luar. Kami menggunakan ruangan itu untuk sholat berjamaah juga, sehingga dipastikan lantai selalu bebas najis dan kotoran.


sholat berjamaah
Ruangan kami mungkin lebih mirip daycare ketimbang ruang kerja. Catnya warna-warni, temboknya dipenuhi wallsticker lucu. Kami hobinya emang nempel wallsticker. Ada kasur dan bouncer-nya Ali di pojok, sementara lego dan rakyat kebun binatangnya Ipun bertebaran. Tersedia juga buku-buku anak (kiriman dari penerbit yang udah diresensi), juga krayon. So much fun.
Teman-temanku emang baik banget, dengan tangan terbuka menerima aku dan Ali di kantor. Anak kecil itu bisa buat refreshing. Lagi mumet-mumet sama tulisan terus disuruh bikinin lego, kan intermezzo. Lagi serius rapat, tiba-tiba Ali ikutan ngoceh heboh dengan lucunya. Jadi hiburan tersendiri.  Sempat beberapa hari aku nggak masuk karena sakit, eh malah pada kangen sama Ali.
Setiap hari, Ali bangun jam 6, dimandiin pukul 7. Selesai mandi, kususui sampai dia kenyang dan tidur pulas. Baru deh berangkat ngantor. Sambil mengetik maupun nelepon narasumber, aku nggak melepasnya dari  gendongan. Aku posisikan diri senyaman mungkin, kakiku nangkring di atas CPU di bawah meja, lalu kutaro bantal di bawah siku kanan supaya nggak pegel menopang Ali. Kalau sudah pewe, kututup wajahnya dengan jilbab supaya nggak kena AC, baru deh aku ngetik. Kalau mau wawancara, telepon di-loudspeaker, taro recorder, sambil gue berdiri mengayun-ayun Ali biar tetap pules. That’s the way it is.

ngetik
Kalo dikata bau tangan, anak gue bukan bau tangan lagi, udah bau ketek. Ngetek terus sama emaknya. Terserah dah yang komen begitu, yang jelas dia anteng banget digendong, bisa pules banget tidur sampai jam 11, yang kumanfaatkan betul untuk bekerja. Karena setelah zuhur, kerjaku nggak efektif lagi. Dia melek, minta main keliling-keliling ruangan lain, lalu eek dan ganti popok, menjelang ashar baru dia tidur lagi. Setelah ashar, aku menyelesaikan pekerjaan yang terputus tadi pagi, lalu siap-siap mentransfer semuanya ke flashdisk untuk dibawa pulang. Jam 5, aku pulang dan mandiin Ali sambil nunggu ayahnya pulang. Jam 10, setelah Ali pules dan rumah rapi, aku buka laptop lagi dan menyelesaikan pekerjaan sampai tengah malam.
Capek, iya pasti. Tapi ini pilihanku sendiri. Aku yang belum tega ngasih Ali untuk diasuh orang. Aku yang risih kalau ada orang lain (baca: PRT) di dalam rumahku, karena dari dulu ibuku nggak pernah punya PRT di rumah. Aku juga yang belum siap resign dan masih amat mencintai pekerjaanku. Jadi ya, hadapi saja konsekuensinya. Mau nggak mau, dopingku memang harus banyak. Minum madu, susu, air kelapa, suplemen zat besi dan kalsium, dan tentu aja makan yang banyak. Aku juga melepas beberapa tugas rumah tangga. Cucian kutaro laundry. Cucian Ali ditangani Abang. Belanja dan masak juga Abang. Kalau nggak gitu, remuk redam ini badan.
However, aku merasakan banyak efek positif dari mengajak Ali ke kantor. Pertama, tentu saja aku jadi bisa menyusui dia kapanpun. Kedua, dia berada di tengah lingkungan yang positif, di tengah rekan-rekan kerjaku para perempuan pintar, terdidik, dan sholihah. Jadi bisa dipastikan dia nggak mendengar perkataan kasar atau melihat perilaku buruk. Ketiga, ia belajar keteraturan. Contoh kecil, Ali nggak pernah nangis kalau ditinggal sholat, dia seolah paham setiap dengar adzan Mamanya akan wudhu dan sholat. Dia main aja sendiri. Shofie, Abang Rana dan Ipun juga selalu ikut kami sholat berjamaah. Keempat, sosialisasinya bagus sekali. Karena terbiasa berinteraksi dengan banyak orang, Ali jadi bayi yang ramah, ceria, tersenyum dan menyapa semuanya. Lalu katanya sih, anak yang terbiasa diajak ibunya bekerja akan tumbuh menjadi anak yang pengertian, bisa diajak komunikasi kalau Mamanya sedang perlu fokus bekerja. Mudah-mudahan.
Sebagai ibu, aku juga merasakan banyak keuntungan. Dari rekan-rekanku ibu-ibu pintar berpengalaman, aku banyak belajar. Mereka banyak kasih tips posisi menyusui yang enak, cara ganti popok yang praktis, ajarin aku pijat bayi, dll. Aku juga banyak dibantu, misalnya dalam hal guntingin kukunya, nengkurepin, dan bantu pegang Ali saat aku nggak ada. Mbak Aida, reporter Ummi, ibu dua anak yang mompa ASI, juga mendapatkan full support. Kami semangatin dia buat mompa, kami pijat2 kalau dia setres atau capek, kami temenin makan kalo dia lagi gak napsu. Pokoknya full support! Hadirnya Ali sekaligus menjadi pembelajaran buat reporter muda di ruanganku, seperti dulu aku belajar banyak saat Mbak Imut bawa Ipun sejak bayi.
Kalau nanti Ali lulus ASI eksklusif 6 bulan, yang hebat bukan Ali-nya, apalagi Mamanya. Yang patut diacungi jempol adalah rekan-rekan kerjaku di Majalah Ummi, yang bersikap sangat suportif demi keberhasilanku menyusui Ali. Rela digumohin Ali, diganggu dengan ngak-ngeknya, berkenan pegang Ali sementara Mamanya lagi pergi ke kamar mandi atau lagi telepon, memaklumi bila ibu reporter rempong ini gak bisa liputan keluar, atau bila telat ngirim naskah karena Ali lagi rewel. Ah, sungguh. Kesempatan ini, bisa bekerja sambil tetap mengasuh dan menyusui bayiku di kantor ini sangat berharga. Nggak ternilai dengan uang. Semoga pemangku kebijakan kantorku dan juga rekan-rekan kerjaku yang baik hati ini dibalas dengan kebaikan berlipat ganda sama Allah, amiin...

Ali ngrecokin Mbak Mala, Pemred Ummi
Tentu saja, doaku juga untuk para perempuan di luar sana yang mungkin tidak seberuntung aku. Mereka yang mengalami dilema ketika harus kembali bekerja dan meninggalkan bayi di rumah bersama orang lain. Yang harus berjuang memompa ASI. Atau bahkan merelakan anaknya minum susu formula. Being a working Mom is not easy. Bukan salah sang ibu jika dia memilih bekerja. Yang harus dilakukan adalah berikan dukungan penuh kepada para ibu, jadikan kantor baby-friendly, tersedia tempat yang layak untuk menyusui maupun memompa ASI. Semoga semakin banyak kantor yang menyadari pentingnya hal ini.

Salam hangat dari kru Ummi untuk semua ibu menyusui! Semangat!


Merdeka dengan Hijab

Empat tahun yang lalu, aku pernah menulis sebuah opini tentang hijab, jilbab, kerudung,apapun namanya. Postingan itu paling banyak dikomentari, bahkan hingga kini. Jadi semacam kontroversi gitu lah. Heuheu. Lupa, akhirnya kubaca ulang dengan saksama tulisan itu. Aku pengen cengar-cengir sendiri.
Well. Aku adalah manusia yang hidupnya masih terus berproses. Apalagi aku tipe orang yang gampang banget berubah. Setiap tulisan di blog ini kan ada tahunnya, nah belum tentu tuh pendapatku masih sama akan suatu hal, dulu dan sekarang. Begitupun soal hijab.
Ken, apa kabar hijabmu sekarang? Alhamdulillah sodara-sodara, hijabku masih nemplok! Malah sekarang hijabku kian panjang. Kalau dulu, aku suka bereksperimen aneka kreasi hijab, libet sana-sini, pake daleman ninja, jarum pentul ampe tiga, peniti, bros. Terus pake kalung. Dandan pula. Busanaku juga colorful banget dulu. Ngerasa kece pada zamannya.
Sekarang? Ah elah. Keburu nangis anak gue!
Iye buuu… eike udah emak-emak sekarang. Gaya ala-ala hijabers gaul gitu udah kutinggalkan. Sekarang yang cepet aja dah. Ambil jilbab panjang yang bahannya tebel biar ga usah pake daleman lagi, penitiin di bawah dagu, lipet sisanya ke atas kepala, sematkan peniti lagi. Kelar. Ngga main jarum lagi, takut keencus anak gue. Dandan? Paling pake pinsil alis, lipstick, sunblock, en bedak. Kadang blush on kalo sempet.
Selain itu, jilbabku kuulurkan panjang, dan aku lebih sering memakai serba hitam. Awal-awal si Abang males. Katanya, “Kamu abis baca apa sih, pake bajunya gitu. Kayak Islam garis keras aja.” Wkwkwkwk.
Jilbabku kuulurkan panjang semenjak aku hamil, karena udah malu banget bejendol sana-sini. Gaenak liatnya. Setelah punya bayi, jilbab panjang itu kurasa sangat membantu menutupi kalau aku lagi menyusui, atau kalau si bayi lagi tidur, atau kita naik motor, kututupin mukanya. Trus kenapa suka pakai warna hitam? Karena hitam adalah warna paling aman sodara-sodara. Aman mix n match-nya, aman pula nyucinya. Hahahahhh. Gue udah males banget ngucek2. Kalo pake item kan aman. Bahkan lecek pun ngga keliatan. Dibilang garis keras? Hmm. You know what, aku suka memainkan persepsi orang :p
Butuh proses, betapa dulu aku menganggap hijab sebagai kekangan yang membosankan, sekarang buatku hijab adalah bentuk kebebasan. Dengan memakai hijab, aku sebagai perempuan punya hak penuh atas tubuhku. Siapa yang boleh melihatnya, dan siapa yang tidak. Aku merasa aman dalam hijabku. Memang kurasakan betul, pakaian dapat memengaruhi cara orang memandang kita. Aku suka aja kalau orang lain, terutama lelaki, menjaga jarak denganku tanpa kuminta, hanya dengan melihat caraku berpakaian. Aku merasa dihormati.
Begitu pula soal make up. Menurutku, semakin sederhana penampilan seorang perempuan, semakin sedikit ia memanipulasi penampilannya, semakin terpancarlah inner beauty-nya: kepercayaan diri. Perempuan yang tampil tak berlebihan, ia percaya dengan dirinya sendiri, dan tak butuh banyak hal lain untuk mengesankan orang. Cukup dengan pembawaannya, kecerdasannya, keramahannya. Menurutku itulah esensi Islam mengajarkan perempuan agar menutup aurat dan tak berlebihan dalam berhias. Untuk melindunginya, memuliakannya, dan memancarkan makna kecantikan yang sesungguhnya, bukan cantik polesan.
Ken, seperti di tulisanmu dulu, kalau kamu punya anak perempuan kelak, apakah kamu tidak akan memakaikan dia jilbab? Tettot! Sekarang, aku bertekad kalau punya anak perempuan, aku akan membiasakannya berjilbab sejak kecil. Membiasakan ya, bukan memaksa. Dan aku akan tegas bilang sama dia soal batasan aurat. Ini auratmu, yang boleh lihat atau pegang cuma Mama, Ayah. Dst. Mengapa? Karena berita soal pelecehan seksual terhadap anak udah semakin banyak, semakin mengerikan, sekarang orang otaknya udah pada kotor. Belum lagi kasus pedofilia, innalillahi. Gila ya, ada orang bisa napsu ngeliat anak kecil. Merinding. Terus lihat remaja putri jaman sekarang, kecil-kecil udah dandan, selfie pake tanktop, naik motor pamer paha >,< Rasa malu harus ditumbuhkan sejak dini, itu pendapatku sekarang. Pun terhadap anakku yang laki-laki. Dia harus terbiasa melihat perempuan berpakaian sopan, sehingga ketika ada yang berpakaian minim, dia akan risih dan malu melihatnya.
Ada ungkapan, kita tidak akan pernah melewati sungai yang sama dua kali. Yah begitulah kurang lebih diriku dulu dan sekarang. Tapi aku sangat menghargai hak dan pilihan setiap orang, setiap perempuan, untuk memilih pakaian. Aku nyaman dengan hijabku yang seperti ini, kalau kamu nyaman dengan pakaianmu sendiri, ya monggo
Aku yakin, setiap kita mengalami proses pembelajaran yang sirkular, tidak linear. Dari manapun kamu mulai, asalkan kamu terus belajar dan memperbaiki diri, pada akhirnya prosesmu akan membentuk lingkaran yang sempurna. Tsah elah. *kibas jilbab*




Selasa, 08 September 2015

Masa Kehamilan yang Kurindukan

Kalo ngeliatin makhluk kecil yang uget-uget di gendonganku ini, aku masih suka ga percaya bahwa 3 bulan lalu dia keluar dari dalam perutku. Sekarang aku sangat menikmati masa indah menjadi ibu. Tapi kalau diingat-ingat, masa hamil menyenangkan juga, kadang kurindukan. Mengapa?  
  1. Ketika semua orang berusaha memenuhi apapun keinginanmu. Hehe… Yang namanya hamil pasti ngidam dong. Kalaupun kamu nggak ngidam-ngidam amat, saranku manfaatkanlah masa ini untuk mengungkapkan apapun yang kamu inginkan. Pingin kelapa muda … Pingin dipijitin … Pingin ketemu sama … (ups!) Atau tengah malam, Abang lapar, mau makan bala-bala … Abang buatin es teh manis … Atau sekadar menggumam iseng, kayaknya enak banget ya makan rujak, lalu beberapa jam kemudian, jeng jeng jeng, sepiring rujak segar sudah tersedia di atas mejamu! Dari siapa? Ya siapa aja bisa, hihi…
  2. You can eat whatever you want. Selama tidak berlebihan dan tidak membahayakan kesehatan kandungan, you can eat whatever you want. Es krim, nasi padang, dimsum, apapun. Ngga usah takut gendut, ih wajar dong, namanya juga lagi hamil. Alibinya, makan buat berdua. Wakakakak… If someone tries to lecture you about your weight, eat them too!
  3. Jadi Ratu di mana-mana. Nggak usah takut pergi naik kereta, pasti bakal ada yang ngasih tempat duduk buat kamu. Terus nggak akan ada orang yang membiarkan kamu bawa terlalu banyak tentengan. Kamu bisa melenggang santai, bahkan botol minum pun dibawakan, hahah. Dalam setiap antrian, kamu akan dipersilakan maju duluan. Makasiiiiihh…
  4. Pregnancy glow. Aku ngerasain banget ini, bahwa semenjak hamil tiba-tiba jerawat di wajahku menghilang. Wajahku tampak cerah merona kayak iklan ponds. Padahal yah, sebelum hamil itu aku sedang mengalami masalah jerawat yang lumayan parah. Baru mulai perawatan di dokter, belum juga dipakai tuh segala krimnya, eh udah keburu ketauan positif hamil. Segala krim itu pun dengan berat hati kuhibahkan ke seorang teman, dan selain pencuci muka dan bedak, aku nggak pakai kosmetik apapun. Eh malah kinclong muka gue.
  5. Rambut lebat. Nggak cuma kulit yang jadi cakep, rambut juga. Sebelum hamil, dari dulu aku mengalami masalah dengan kerontokan rambut yang suka bikin sedih ngeliatnya. Itupun jadi salah satu alasan aku nggak pernah memanjangkan rambut. Pasti pada rontok parah. Eh semenjak hamil, rambutku nggak pernah rontok, malah banyak tumbuh rambut-rambut baru sehingga rambut gw semacam dimodel shaggy, aslinya bermodel panjang, tapi banyak anak rambut yang baru tumbuh pendek-pendek. Sayang banget motongnya, rambutku panjang sampai ke punggung, nggak rontok dan hitam berkilau!
  6. Multiple orgasm. The best sex happened during pregnancy, khususnya di trimester kedua. Jadi ngerasa seksi despite of my swollen belly, hahahaha…
  7. Nggak pernah merasa sendirian. Yes of course, karena ada yang selalu bisa kamu ajak bicara, lalu dia membalas dengan tonjokan dan tendangan halus, hihi. Si utun yang menggemaskan. Pulang kerja, cerita aja sama dia. Terus kalau sendirian di rumah, ajak dia nyanyi dan ngobrol. Adek, adek lagi ngapain? Kita makan yuk. Jeduk! Mau makan apa, gimana kalau kita beli eskrim dulu? Jeduk! I’ll take that as a yes, yaa! Jeduk! Baiklaaah~
Eh nih yang biasa cuma jedak-jeduk udah lahir nih. Bahkan sekarang udah bisa tengkurep, udah tambah pinter, tambah nakal. Nggak mau bobo, maunya main. Nggak mau udahan mandi. Minta jalan-jalan keluar. dll. Kadang gemes, iiiihhh Mama masukin lagi nih! 

waktu Ali masih di dalem

Senin, 15 Juni 2015

Ali's Birth Story


Perempuan kerap diidentikkan sebagai makhluk lemah. Katanya laki-laki yang superior dan lebih kuat. Tapi setelah mengalami sendiri peristiwa hamil dan melahirkan, aku bisa bilang, bahwa setiap perempuan itu luar biasa. Me-manage berjuta rasa sakit, berdamai dengan tubuhnya sendiri dan berjuang bertahan demi mengantarkan sebuah kehidupan baru. Labor might be the most powerful experience a woman could have.
                Aku sudah cuti sejak 16 Mei, dan pulang ke rumah ibu di Tangerang. Abang pulang setiap Jumat sore dan balik ke Jakarta lagi Senin pagi. Buatku yang biasa beraktivitas, menunggu hari demi hari kelahiran si baby di rumah kayaknya lamaaa banget. Hamil tua tuh serba ngga enak rasanya. Gerah, sakit pinggang, sakit punggung, selangkangan, pipis melulu, payudara nyeri, huahhh you name it all! Galaunya nungguin bayi lahir tuh ternyata lebih daripada galau apapun. Apalagi kalau temen-temen seperhamilan satu per satu udah pada melahirkan. Trus orang-orang pada kepo nanya, “Ken udah lahiran belum?” atau “Kok Ken belum lahiran juga?” Hiks,, Emang sih berdasarkan HPHT, perkiraan si bayi lahir 26 Mei. Tapi berdasarkan USG, kata dokter HPL ku 2 Juni. Tetep ajah galauuu…
                Walaupun selama ini selalu cek kandungan rutin ke dokter (aku periksa di RS Evasari Rawamangun), tapi aku memang udah niat inginnya melahirkan di bidan dekat rumah yang direkomendasikan ibuku. Klinik Bidan Yohanna, bidan delima, hanya 5 menit naik motor dari rumahku. Kata ibu di sana bidannya sabar banget dan ibuku udah dua kali nemenin orang lahiran di sana. Aku ingin banget melahirkan normal, udah bulet tekad. Entah ya, kalau di RS tuh akunya parno duluan, hehe… Ngebayangin masuk ruangan bau obat, pake baju khusus, trus banyak lampu, trus sama dokter n perawat yang mungkin asing, trus ngga tau juga apakah ibu dan Abang boleh nemenin di dalam. Terus persepsi melahirkan di “rumah sakit” malah bikin sugesti negatif di otakku. Aku kan nggak sakit, aku cuma mau melahirkan. Lebay ya parnonya, hahaha… Intinya aku lebih percaya melahirkan di bidan. Beberapa kali kunjungan ke sana, aku langsung akrab sama Mbak bidan dan suasana klinik yang rumahan banget juga membuatku nyaman.

Rabu, 27 Mei 2015
Bangun tidur, aku menemukan bercak darah di sprei dan bajuku. Warnanya merah tua. Tapi aku belum mules, dan masih bisa beraktivitas seperti biasa. Barulah siang, aku mulai merasakan sensasi aneh di perutku. Kata orang, kontraksi rasanya seperti sakit mens, aku nggak pernah sakit mens jadi nggak tau. Pokoknya ngga enak, datang dan pergi makin sore makin terasa tapi masih bisa ku-handle.
                Sore, aku ke bidan. Masih fase awal banget katanya. Janin juga masih jauh di atas. Tapi semua OK, jadi aku dipersilakan pulang lagi. Disuruh sabar, katanya anak pertama biasanya agak lama dan itu sangat wajar. Baiklah…
                Malam harinya, kontraksi kian terasa menguat. Aku jalan kaki bolak balik depan-belakang rumah, kalau capek aku duduk di atas birthing ball sambil goyang inul. Kedua aktivitas ini memang disarankan untuk mempersingkat fase awal persalinan. Walaupun rasa sakit masih bisa kuatasi, duh itu rasanya selangkangan udah kayak mau jebol. Aku ngerasa banget si baby ngusel-ngusel. Jelas, aku nggak bisa tidur nyenyak malam itu. Rasanya nano-nano. Menjelang pagi baru bisa tidur itupun karena kecapekan.

Kamis, 28 Mei 2015
Kontraksi makin terasa tapi mau-mau enggak-enggak. Sering, lama, tapi belum sakit banget. Kata ibu, kalau mau lahir itu sakitnya sakit banget kamu nggak bakalan bisa ngomong atau makan atau ngapa-ngapain. Segitunya kah?? Hiks. Aku masih bisa makan, masih santai ngomong, masih bisa tidur, jadi kata ibu ya lakukanlah selagi bisa.
Flek darah makin banyak, semakin sore kontraksi semakin intens. Aku ke bidan lagi, saking penasaran. Dicek, baru mau pembukaan dua. Yampun Tuhan… satu hari satu pembukaan. Kata bidan, ke sini lagi kalau mulesnya udah 5 menit sekali atau jika ketuban pecah. Selama ketuban belum pecah, lebih baik kulewatkan di rumah sambil SABAR. Kata yang selalu diucapkan Mbak Bidan: SABAR. Baiklah. Hari itu juga aku menyadari kolostrum sudah menetes keluar dari payudaraku. Alhamdulillah, dek nih mimiknya udah siap, ayok kamu cepat keluar…
Alhamdulillah malam itu Abang pulang dan bilang, dia ambil cuti besok. Aku sangat bersyukur nggak harus melewati semuanya sendirian lagi karena malam itu kontraksi makin terasa mulai teratur, jedanya 10 menit sekali. Sakitnya masih bisa kuatasi dengan pernafasan perut. Tarik nafas dari hidung sampai perut terasa menggembung, lalu embuskan perlahan dari mulut sambil mengeluarkan suara “heeeeehh...” Kulakukan itu semua sambil meremas tangan Abang tentunya, haha… Sambil ngantuk-ngantuk, ia mencatat waktu kontraksiku. Bener-bener malam yang panjang. Kalau malam sebelumnya aku masih bisa solat tahajjud, malam ini udah nggak inget lagi. Lagipula, flek darahku sudah banyak dan aku tanya Ustz Herlini Amran, katanya aku sudah tidak wajib sholat.

Jumat, 29 Mei 2015
Aku agak drop hari ini. Udah ngga enak makan, ngga tidur semalaman. Mules? Jangan tanya, ya iyalah makin berasa! Ya Allah, aku udah mau nangis banget. Aku udah ngga bisa lagi jalan kaki atau duduk di birthing ball, cuma bisa tiduran sambil menikmati sensasi “gelombang cinta” ini. Hehe, iya, kontraksi ini kan datang akibat hormon cinta, hormon oksitosin, yang memicu rahim berkontraksi mengantarkan si dedek kian turun ke jalan lahir. Jadi sesakit apapun, kita sebut saja dia gelombang cinta, karena setiap gelombangnya insya Allah membawa kita kian dekat bertemu si kecil ^^
                Tapi aku ada feeling ngga enak. Aku masih merasakan gerakan janin yang aktif ngusel-ngusel. Tapi di sela dia ngusel-ngusel itu aku merasakan gerakan yang tidak biasa. Dudut. Dudut. Dudut. Gitu. Kayak yang nyangkut sesuatu atau apalah ya, pokoknya feeling-ku ngga enak.  Aku memejamkan mata, dan tiba-tiba kok aku teringat tali pusat. Waduh, apa iya si dedek susah turun karena tersangkut tali pusat? Huaaa…
                Aku selalu percaya bahwa tubuhku dan janin adalah kesatuan yang bisa saling mendengarkan dan merasakan. Jadi aku mencoba rileks dan berkomunikasi dengan janinku,”Dek, ayo Mama udah nggak sabar ingin ketemu kamu, insya Allah Mama siap. Terus turun ya, banyak yang udah nunggu kamu. Nih Ayah juga sudah pulang. Hati-hati ya dek terlilit tali pusat. Pelan-pelan aja, insya Allah Mama sabar…” Sambil ku visualisasikan si dedek dan tali pusatnya. “Tali pusat, kamu kan temennya dedek selama di dalam, baik-baik ya, aku titip tolong jaga si dedek dan antarkan dia ke jalan lahir. Mari kita bekerja sama yaa…”
                Kurasa kondisiku semakin drop di tengah kontraksi yang semakin huwow. Sore hari, aku muntah byorrr banyak banget di kasur. Habis deh makananku di dalam. Aku banyak-banyak minum air zamzam aja, kayaknya cuma itu yang masih terasa enak buatku. Ba’da maghrib, aku ke bidan lagi. Udah lemes, nggak bisa senyum, males ngomong, cuma bisa meringis. Tekanan darahku rendah, aku diminta makan selagi bisa, minum susu, dan aku dikasih obat anti mual. Dicek, baru pembukaan tiga. Aku nanya setengah memohon, Mbak bisa nggak diinduksi aja? Aku udah lemes banget…
                “Mbak Ken boleh kalau mau nginap di sini biar nggak bolak-balik ke rumah. Tapi Mbak nggak akan kita apa-apain. Diinduksi itu sakit loh. Semuanya bagus kok Mbak, detak jantung dedeknya masih normal, ketuban belum pecah, sabar aja ya itu dedeknya masih cari jalan. Sekarang mending Mbak pulang aja dulu, takut malah nggak nyaman di sini,”
                Walaupun sebenarnya di birth plan aku ingin persalinan normal tanpa intervensi apapun, tapi rasa sakit yang udah hari ketiga ini bener-bener membuatku goyah. Kayaknya kalau aku di RS dan ditawarin induksi atau sesar sekalipun, aku pasti mau. Idealisme ilang, yang ada hanyalah ingin semua rasa sakit cepat berakhir.  
                Bener aja, malam itu mules kian menjadi-jadi. Lewat tengah malam, aku nggak bisa lagi bicara. Sakit banget, ya perut, ya punggung. Ah luar biasa pokoknya. Setiap kontraksi berlangsung selama 5 menit, tapi dengan jeda 7 menit. Kata bidan aku baru ke sana kalau jedanya sudah 5 menit. Ya Allah! Aku masih berusaha keras mengatur nafas, supaya nggak fokus ke rasa sakitnya. Tetap dengan metode yang sama, pernafasan perut hirup dari hidung, keluarkan lewat mulut sambil bersuara “heeeehhh…”
                Sambil meremas tangan Abang, aku udah basah berkeringat. Alhamdulillah aku nggak sampai heboh nyakar-nyakar dia sih, hehe, kan katanya banyak yang begitu untuk mengekspresikan rasa sakit yang saking-saking. Mungkin juga karena aku sadar, aku udah nggak makan bener, energiku sedikit sedangkan aku tau persalinan semakin dekat, jadi aku sebisa mungkin hemat tenaga. Kalau sakit banget, aku lebih sering minta dielus-elus rambutnya atau diciumin, dan itu sangat-sangat-sangat membantuku melewati rasa sakit. Transfer energi positif yang saling menguatkan.  

Sabtu, 30 Mei 2015 
Jam 2 dini hari, aku udah nggak tahan sakitnya, meski kontraksi masih berjeda 7 menit tapi durasinya juga makin panjang, entah udah nggak ngitung lagi, mungkin 10 menit setiap kontraksi. Akhirnya ibu bangunin Niko, karena Bapak kerja malam. Niko sebenernya belum lancar bawa mobil, pake acara lupa lepas rem tangan segala, mati mesin berkali-kali, trus ada dahan pohon di kanan kiri diterabas aja sama dia saking nervous. Dek, pelan-pelan aja! “Mbak iken sih begitu!” Dia menyalahkan gue yang sedang mengerang-erang kesakitan.
                Sampai di bidan, ternyata aku sudah mau pembukaan 4. “Paling cepat subuh, sekarang istirahat aja dulu ya Mbak.” Turun dari tempat tidur, byooorrr aku muntah lagi, udah muntah kuning karena memang aku udah nggak makan apa-apa. “Abang, aku bisa nggak ya, aku lemas…” Kepercayaan diriku mulai menurun. Tapi ya gitu, suamiku selalu menguatkan karena dia tau betapa aku sangat ingin bisa melahirkan normal. Jauh-jauh hari saat bikin birth plan, aku memang udah berpesan ke dia, kalau aku mulai goyah, tolong kuatkan. Dan kalau aku udah nggak bisa berpikir lagi, semua keputusan ada di Abang, Abang yang paling tau kemauanku. Kayak adegannya Dumbledore waktu mau minum air dari cawan Horcrux. Dia pesen ke Harry, apapun yang terjadi, biarpun menyiksa, walaupun dia memohon kayak gimana, dia harus tetep minum airnya sampai habis. Gitu juga aku ke suamiku.
                Menit ke menit terasa lamaaaa sekali, kontraksi seolah datang tanpa jeda. Aku mulai kehilangan konsentrasi ngatur nafas. Abang membimbingku. Sempat sekali, aku kesal dan saking sakitnya, aku mukul dia tapi langsung ditegur sama ibu, nggak boleh begitu. Aku pun langsung eling dan minta dicium. Hadeh nggak keruan.
                Jam 4, aku ngerasa pengen pup. Bukan pengen pup biasa, ini tuh kayak sakit diare parah, mulesnya sampai melilit, rasanya bawah pengen jebol. Aku pengen ngeden, bu… Ibu bangunin bidan, dicek ternyata pembukaan 6. Ya Allah, 4 lagi menuju lengkap,, sampai kapan ini. Aku dipindah ke ruang bersalin, bidan masang infus, cairan IV karena aku sudah lemes banget dan ketuban sudah dikit banget walau belum pecah. Dan yang paling menyiksa adalah aku sudah sangat ingin ngeden tapi belum boleh lha wong belum pembukaan lengkap. Dibimbing Abang yang berada di samping kiriku dan nggak pernah kulepas tangannya, aku berusaha keras fokus atur nafas. Bunyinya udah nggak karuan deh. So primal. Selama active labor itu, aku cuma minum sebotol air zamzam pake sedotan. Ibuku di sebelah kanan, ngelus2 punggungku yang sakit luar biasa. Bidan standby di sebelah ibu untuk memantau perkembanganku.
                Jam 6, bukaan lengkap! Ya Allah! Finally! “Mbak Ken, dedeknya udah usaha semalaman sekarang tinggal Mbak Ken-nya. Kita di sini cuma bantu, tapi sekarang bener-bener usahanya Mbak sendiri ya,” kata Bidan Riska, yang menemaniku bersalin malam itu. Dia seumuran denganku, belum menikah tapi sabar banget n baik. Nggak lama, Bidan Yohanna pun datang. Bidan senior ini umurnya kira-kira 50-60 tahun, wajahnya khas orang Timur. Aku dibimbing cari posisi ngeden yang paling enak. Setengah duduk, aku pegang pergelangan kakiku sendiri. “Jangan merem ya, lihat ke perut, lihat perutnya ngempes. Ambil nafas dari hidung, trus kumpulkan tenaga buat dorong perut. Inget jangan merem!”
                One two three, push! Tiga kali ngeden, crowning! “Stop Mbak Ken, jangan ngeden dulu, tahan ya tahan,” Aku tahu banget Bidan Yohanna berusaha setenang mungkin saat dia bilang pelan ke anak-anak didiknya, “Ini ada lilitan tali pusat kencang di leher, nggak papa, jangan panik, kita keluarkan pelan-pelan yang penting ibunya rileks. Sebentar ya Mbak Ken…” Sementara itu ibu dan Abang udah mau pingsan ngeliatnya, hahaha…
                Tuh kan, feeling-ku bener, dudut dudut yang kurasakan itu memang bayiku tersangkut tali pusat. Mungkin juga itu salah satu alasan mengapa dia lama banget turun ke jalan lahir. Nggak lama, Bidan Yohanna bilang, “Mbak Ken, kumpulkan tenaga ya. Ini sekali ngeden harus keluar dedeknya. Yok, tarik nafas,” Aku nyedot air zamzamku, dan FFIUUUUHHH…!! Seketika bidan langsung ngangkat makhluk kebiruan yang langsung nangis kenceng. Abang langsung menjatuhkan kepala, kurasa dia bener-bener lemes, hihiy… Ibuku gak berenti2 nyebut Allah.
                Setelah dikeringkan sebentar, dikasih topi, dedek langsung diletakkan di atas dadaku untuk IMD. Tepat pukul 6.30 pagi dia lahir. Aku masih nggak percaya, ya Allah begini toh rupanya makhluk yang selama ini jedak jeduk di perutku. Plasenta pun dikeluarkan, kata Abang plasentaku besar banget, hahaha… Ya iyalah makan enak terus. Air ketuban bener-bener tinggal dikit, untunglah persalinan berjalan lancar ga pake lama lagi. Setelah plasenta keluar, tibalah saat yang paling menyebalkan, dijahit! Iya, aku memang di episiotomy, karena dedek terlilit tali pusat kenceng di leher sehingga ia harus dilahirkan cepat. Kata orang nggak berasa, ih apa-apaan angger weh nyeri! Tapi ya emang sih, rasa sakit seperti apapun rasanya bisa ku handle, dan nggak ada apa-apanya dibanding mules tiga hari yang dahsyat. Tiap merasakan sakit saat dijahit, aku mengalihkan perhatian ke makhluk kecil yang uget-uget di dadaku. Kayaknya mirip aku nih semua-muanya, hehe… Abang mencium keningku lega. Bidan bahkan memuji, “Suaminya hebat ya, suami siaga banget nemenin terus…” :-*
                Sukses IMD, sukses dijahit, si dedek segera diangkat sama bu bidan untuk ditimbang dan dikasih salep mata. Habis itu dibajuin n dibedong, nggak pakai dimandiin. Baru pas sorenya dia dimandiin. Bapakku baru pulang kerja, habis masuk malam, dia datang dan menciumku, selamat yaa… Hehe. Dia yang mengazankan Ali. Lalu aku diminta bangun pelan-pelan, ditanya apakah pusing, berkunang-kunang, lemas. I said, I am totally fine. Aku merasa sangat sehat. Aku pun turun dari tempat tidur dan jalan ke kamar perawatan sendiri, hehe…
                Sampai di kamar perawatan, aku langsung MAKAN! Gile boookk gue udah berapa hari nggak menikmati makan, saat itu kulahap semua roti, susu, teh manis, telor, nasi goreng, bengbeng, pisang, duh nggak inget lagi deh apa aja yang gue telen dan itu semua rasanya ENAK BANGET. Habis itu, nerima telepon dari saudara yang ngucapin selamat, terus langsung TIDUR. Lemas coy, abis gaspol. Si dedek tidur dengan damainya di box. Kami berdua kelelahan. Keesokan paginya, setelah diperiksa semua sama bidan and she said we’re OK, kami dijemput pulang. Semua-mua biayanya cuma 2,7 juta. Aku nginep di kamar kelas satu, makanannya enak-enak banget, cemilannya juga, dikasih bekal pembalut, pampers, udah mana bidannya bener-bener baik dan melayani banget. Alhamdulillah menurutku itu udah murah banget. Alhamdulillah ya Allah, bener-bener bersyukur bisa melahirkan normal.

***

Aku amaze sama diriku sendiri, udah mules tiga hari, muntah-muntah, tekanan darah rendah (tekanan darahku selama hamil gak pernah lebih dari 110/60), nggak makan apa-apa tapi aku masih bisa push bayi seberat 3,150 gram dan panjang 49 cm tanpa epidural, tanpa intervensi berlebihan. Air zamzam tuh emang mukjizat, jelang persalinan minum banyak-banyak deh. Ada temenku, saking ingin melahirkan normal tapi nggak tahan sakitnya, dia sampai dikasih morfin, ada juga yang dikasih gas apa itu yang bikin orang senang. Tapi kurasa Abang adalah morfinku *tsah ilah* beneran deh. Saranku, kalaulagi sakit banget, hematlah tenaga dengan tidak berteriak atau mukul/nyakar. Minta dielus rambutnya, dicium, dipeluk sama suamimu, itulah penghilang sakit yang sangat ampuh.
                Ibuku juga, aku sangat bersyukur punya ibu pinter yang mau terus belajar. Dari jauh-jauh hari, dia membaca buku-bukuku tentang hamil, IMD, ASI, bayi, sehingga dia tau mana yang mitos mana yang enggak. Dia ngasihtau aku begini-begitu, perpaduan antara pengalamannya dengan apa yang dia baca. Orang-orang bilang apa, aku cuma dengerin ibuku. Karena aku tau dia selalu benar. Dia selalu ngasih sugesti positif yang membuatku semangat.

                Here he is, Abraham Ali Ararya. Abraham itu dari aku, bapak dari tiga agama samawi. Lagipula sedari di dalam kandungan, dia selalu merespon aktif setiap kali kuperdengarkan surah Ibrahim. Ali, itu nama request dari ibu, dia suka sama Ali bin Abi Thalib. Anak kecil pertama yang masuk Islam. Suami yang penyayang, sahabat setia, petarung tangguh, pemuda yang santun, pintar, gerbangnya pengetahuan. Ararya, pemberian ayahnya. Dari bahasa Sanskrit, artinya orang yang disegani.  Suatu saat dia akan mencari tahu jati dirinya, bermula dari makna namanya. Dan aku ingin dia menemukan kisah-kisah seru di balik nama yang kami berikan untuknya. Tahun lalu, kami menikah tanggal 24 Mei, dan Ali hadir sebagai kado istimewa dari Allah di ulang tahun pertama pernikahan kami. Welcome to the world, boy!