Kamis, 31 Agustus 2017

Balance Bike untuk Ali

Suatu hari, beberapa pekan setelah ulang tahun keduanya, Ali bilang sama Ayahnya.

"Ayah, Ali mo sepedah baru..."
"Memang sepeda Ali yang sekarang kenapa?"
((Ali segera menaiki sepedanya))
"Gak muat... (nunjuk kakinya yang mentok setang) Ali udah gede..."
"Oh... Ali maunya sepeda baru yang kayak gimana?"
"Yang gede... Trus yang gak ada gowes-gowes..."

Hah?!

"Kenapa mau sepeda yang gak ada gowesannya?"
"Ali gak bisa gowes..."

Unbelievable. Anakku sudah besar dan pintar banget mengemukakan alasan. Hahaha...

Selama ini, sepeda Ali adalah sebuah sepeda roda 3 kecil dari plastik yang dibelikan kakek-neneknya waktu usianya baru 1 tahun. Harganya cuma 90 ribu, hahaha! Kecil dan enteng banget sepedanya. Ada sebuah tombol lagu di bagian setang. Dia udah menguasai berbagai gaya dengan sepeda itu. Ngebut, nabrak, meluncur, bahkan lepas tangan. Sepedanya dijatoh2in, diinjek, dibalik, diputer2 rodanya.

Satu hal yang kuamati dari perilaku Ali saat memainkan sepeda roda tiganya, ia jadi anak yang percaya diri karena ia sangat menguasai mainannya itu. Sepedanya kecil dan ringan, jadi dari awal pun ia sudah bisa naik dan turun sendiri tanpa minta bantuan. Kalau terjatuh ia bisa mengangkat sendiri sepedanya. Kalau ketiban sepeda pun, Ali nggak nangis. Ia bisa dengan mudah mengayuh dengan kaki dan bergerak cepat, mengendalikan setang, dan memainkan sepeda itu sesuka hatinya tanpa perlu meminta tolong orang dewasa.

Akan beda cerita seandainya anak diberikan sepeda roda tiga yang, misalnya, ada berbagai tombol dan mainan di sekeliling tempat duduk anak, sehingga kalau mau naik atau turun anak harus minta tolong. Sepedanya tinggi dan berat sehingga kaki anak tidak sampai dan untuk menjalankannya perlu didorong oleh orang dewasa. Kalau jatuh atau ketiban sepeda yang besar itupun anak bisa kapok, dan harus ditolong orang dewasa untuk mengangkatnya kembali. Kalau begini, anak tidak menguasai mainannya. Ia selalu memerlukan bantuan orang dewasa dan ia tidak menjadi anak yang mandiri dan percaya diri.

***

Aku sudah tau dari lama sih tentang balance bike/kick bike/push bike. Sepeda roda dua untuk toddler yang ga ada pedalnya. Dikayuh pake kaki, dibawa lari. Persis seperti cara Ali menggunakan sepeda roda tiganya.

Waktu itu aku lihat anak temen yang pake. Sejak itu aku baca2 referensi, ternyata banyak manfaat balance bike ketimbang training bike atau sepeda roda empat  biasa. Katanya sih bakal lebih mudah transisinya ke sepeda beneran. Tapi harganya kok lumayan, hiks.

Sempat kepikiran nyewa aja sih. Tapi Ali tipe anak yang sadis sama mainannya. Yang ada, gue bakal suruh gantiin entar.

Ali juga sudah kami ajak ke toko sepeda dan melihat berbagai macam sepeda. Sepeda roda tiga, roda empat. Semua ada gowesannya, tentu saja. Ali kekeuh bilang, gak mau ada gowesannya. Emang selama ini dia mengendarai sepeda roda tiganya dengan cara dikayuh pakai kaki. Aku udah ngajarin dia gowes sih, tapi kayaknya dia belum siap. Dia selalu ditanya sama orang, "Kok sepedanya gak digowes sih?" Mungkin dia baper keseringan ditanya dan disuruh gowes. Jadi dia gak mau sepeda yang ada gowesannya. Hahaha. Anakku ini memang paling gak suka kalau dianggap "gak bisa" :p

Yaudalah bang, belikan aja balance bike. Kebetulan kami emang belum pernah ngebeliin dia mainan kendaraan. Ada babywalker, stroller, sepeda roda tiga, sampai otopet semuanya boleh dikasih orang. Hehe. Alhamdulillah. Jadi sekarang gak papa deh belikan sepeda sendiri buat Ali. Apalagi katanya balance bike ini tingginya bisa disesuaikan sehingga bisa dipakai sampe anak usia 5 tahun.
Akhirnya pilihan kami jatuh pada London Taxi Kick Bike di sebuah marketplace yang kebetulan, seller-nya juga di Tangerang. Jadi bisa dikirim pake gojek dan sampe pada hari yang sama.

***

Hari itu, Ali yang biasanya udah ngantuk lagi jam 11, masih melek aja sampe jam 1 siang.
Aku tanya, "Ali emang belum ngantuk? Biasanya bobo."
Dia jawab, "Ali tunggu sepeda."
Gubrak. Rupanya sebelum berangkat kerja Ayahnya ngebilangin, "Nanti Ali tunggu ya sepeda barunya dikirim om gojek."

Jadilah ketika om gojek datang, Ali langsung loncat kegirangan dan cepat2 membuka kardus sepedanya. Gataunya harus dirakit dulu. Waduh mana cuma berduaan doang di rumah. Akhirnya ngikutin kertas instruksi dan pengetahuan seadanya, gue merakit balance bike sambil direcokin sama bocah ngga sabaran.

Begitu jadi, langsung dinaekin dan dimainin sampe jam 3, ketika speed dan antusiasnya melambat, pertanda sudah ngantuk berat, hahaha... Tidur satu jam doang, bangun tidur gak pake mandi langsung main sepeda lagi. Malem juga. Besok paginya juga. Dan seterusnya sampe dia udah bisa bawa sepedanya lari sekarang.

Orang-orang pada ketawa liat Ali dan sepeda kecilnya. Tentu saja mereka bertanya. Berikut FAQ.

"Emang udah bisa roda dua?"
"Kok ga ada gowesannya?"
"Dicopot apa gimana? Nanti bisa dipasangin gowesan?"
"Emang gak capek lari2 gitu bukannya digowes aja?"

Pesen gw, jawab aja dengan singkat sambil senyum, "Iya bu, emang gitu. Ini sepeda lari. Biarin capek biar tidurnya pules, hehe."

Memang setelah lihat barangnya langsung dan memperhatikan progress Ali menaikinya, aku jadi ngeh kenapa balance bike ini beda dengan sepeda kecil lain.

Pertama, dia itu ringan banget. Tadinya kan pengen beli sepeda kecil biasa trus dicopot sendiri pedalnya. Tapi sepeda kecil biasa nggak seringan ini. London Taxi ini beratnya 2,9kg. Ali yang beratnya cuma 12kg (imut-imut) bisa dengan mudah mengendalikannya. Dia keluarin sepedanya sendiri, dia angkat roda depannya (gaya!), kalau jatuh bangun sendiri, bahkan pernah jatuh kakinya ketindih sepeda. Aku gak tolongin, cuma kulihatin aja, tetangga udah pada teriak-teriak. Ternyata, Ali bisa bangun lagi dan mengangkat sepedanya. Kutanya, sakit ngga? Engga.

Anak nggak butuh bantuan orang lain untuk memindahkan atau mengendalikan sepedanya. Inilah yang dibilang balance bike memupuk kepercayaan diri dan kemandirian.

Sepeda ini juga mudah dikendalikan, semudah lari. Anak bisa berhenti, belok, ngebut, meluncur dan bermanuver sesuka hatinya. Kayak pas hari keempat, Ali lagi ngebut lalu di depannya ada batu. Sssseeeeettt! Dia refleks belokin setangnya. Selamet deh. Aku mules degdegan ngeliatnya, tapi semakin ke sini kuperhatikan refleksnya semakin baik. Sepeda roda empat mungkin tidak bisa dikendalikan semudah itu oleh toddler.

Kedua, sepeda ini memang didesain aman untuk toddler jadi selain kecil dan ringan, juga nggak ada extruding part, bagian yang menonjol atau tajam dan bagian2 kecil yang mudah lepas. Nggak ada jeruji roda, nggak ada kawat rem, atau bagian berbahaya lainnya. Bahkan pedal gowesan pun nggak ada  memang pedal gowesan sangat mungkin membentur kaki anak kan. Nah ini gak ada.

Ketiga, dengan sepeda ini kita nggak menuntut anak untuk cepet2 mempelajari sesuatu yang dia belom bisa: menggowes. Biasanya, anak usia 2 tahun emang belum bisa menggowes. Kejadiannya di Ali, kayaknya dia merasa 'tertekan' gitu karna gak bisa gowes, dan akupun beberapa kali ngajarin dia untuk gowes. Ya belom bisa. Yang ada dia malah down dan bilang "gak mau yang ada gowesannya. Ali gak bisa gowes." Aduh, my mistake. Maafin Mama ya.

Keempat, untuk belajar naik sepeda beneran, balance bike membentuk mental yang berbeda ketimbang kalo anak memakai sepeda roda empat. Balance bike melatih anak menyeimbangkan sepedanya. Miring kanan, miring kiri, ngebut, lalu jatuh. Itu biasa. Kalau udah bisa, anak akan meluncur dengan kakinya diangkat. Balance bike mengajak anak untuk berani mengeksplorasi tantangan. Angkat setang, nanjak dan meluncur, belok zigzag, semua bisa dilakukan dengan mudah. Ia sudah belajar menyeimbangkan sehingga kalau nanti dikasih sepeda berpedal di usia 5 tahun, dia ngga akan takut jatuh karena udah biasa menyeimbangkan, malah lebih mudah karena dikasih gowesan.

Kalau aku dulu, transisi ke roda dua dan mencopot kedua roda bantu itu prosesnya lama banget. Karena aku takut. Aku cemas kalau roda bantunya dicopot, nanti aku jatuh. Karena selama belajar aku fokus menggowes, bukan menyeimbangkan. Padahal sepeda kan intinya belajar keseimbangan. Jadi kayaknya kelas 2 SD gitu aku baru bisa (baru berani lebih tepatnyà) sepeda roda dua.

Jadi, yap aku merekomendasikan balance bike ini untuk toddler. Niatnya bukan biar cepet bisa naik sepeda beneran sih. Ini memang cuma sepeda mainan. Tapi mainan ini didesain untuk bisa ia kuasai dan bisa membentuk mental dan kepercayaan dirinya. Itu yang aku amati.

Balance bike aman digunakan di lahan terbuka yang luas dan bebas kendaraan bermotor, seperti jalanan perumahan atau taman kota. Sehingga anak bebas bereksplorasi, tapi tetap aman dan terkontrol. Kalau lingkungan rumah padat penduduk, banyak selokan di kanan kiri, dan motor yang lalu lalang, mungkin penggunaan balance bike kurang aman. Sebab dia itu bisa ngebut, meluncur, gak ada penahannya seperti sepeda roda tiga atau sepeda roda empat. Apalagi digunakan oleh toddler yang masih ngawur. Malah bisa jadi bahaya.

Terus, kalo mau pake balance bike, nyali kudu gede. Nyali anaknya, nyali emak bapaknya 😂😂 kalau takut si anak jatuh atau luka, mendingan jangan deh. Karena udah pasti jatuh, bonusnya luka. Itu udah pasti, aku melihatnya sebagai bagian dari pembelajaran. Temen2 kecil Ali pasti penasaran sama balance bike, aku selalu kasih kesempatan mereka untuk nyoba. Pertama kali naikin, anak pasti kesulitan nyeimbangin, 80 persen akan jatuh di percobaan pertama, atau rubuh sepedanya, atau nyusruk kedua-duanya. 

Dan seringkali, saat anak jatuh itu orangtuanya (atau kakek/neneknya) udah keburu teriak dan bilang, "Udah jangan lah kamu nggak bisa nanti jatuh!" Akhirnya si anak pun mundur dan nggak mau coba lagi. Padahal mereka penasaran, kadang aku kasian juga sih ngeliatnya.

Kadang kita terlalu sering mengasihani anak kita, padahal ia tak perlu dikasihani. Kasihan jatuh, kasihan capek, kasihan susah, kasihan sakit. Well, that's life. Tugas kita sebagai orangtua adalah mengarahkan dan mengawasi, bukan melarang dan membatasi.

Bukan berarti dengan balance bike orangtua bisa lebih santai. Malah lebih ekstra mantengin terus, ngejar, jadi Pak Ogah di persimpangan untuk mengingatkan si kecil berhati-hati saat belok, dan memastikan nggak ada kendaraan bermotor melaju dari arah seberang. Jatuh, luka, iya. Biarin aja. Tinggal bangun lagi. Kalau luka lecet, ya dicuci. Tapi jangan sampai ngebiarin dia main sendiri, bahaya. Bagaimanapun, dia cuma toddler yang kadang masih ngawur dan ngga bisa pelan-pelan.


Senang sih bisa sepedaan sama Ali. Jadi dia gak cuma dibonceng tapi bisa balapan, hehe... Yuk ah, sepedaan!

Kamis, 24 Agustus 2017

Toilet Training dalam Seminggu!

Pada tulisan sebelumnya, aku cerita bahwa sekarang aku nemuin holy grail buat perawatan wajah.. yaitu SK II FTE. Buat rakyat jelata ibu rumah tangga gak bekerja seperti gw, harga SK II emang mahal banget. Minta ke suami segen juga kan ya, makin gede aja jatah belanja si Mama.

Aku merasa, harus ada budget belanja bulanan yang dipangkas nih supaya keuangan gak bocor. Pas lagi ngelamunin itu, aku dalam posisi sedang kejar2an habis mandiin Ali. Dia berlarian telanjang gak mau dipakein popok. Hampir tiap abis mandi begini nih.

Aha! Bagaimana kalau kita mulai toilet training saja? Lepas popok selamanya. Sebab belanja popok itu kalau diturutin emang gede banget. Bisa abis 2 kemasan gede dalam sebulan, kadang lebih. Karena si Ali tipe anak yang demen ee ketika popok baru diganti  lagipula, si bocah udah genap 2 tahun usianya, dan sudah bisa diajak berkomunikasi.

Yap! Demi SK II aku rela... aku rela ngepel pipis! Mangku anak ee... aku rela...

Dan ternyata... berhasil dalam seminggu dong lepas popok! Walau baru pipis aja sih yang uda terbiasa di kamar mandi... ee mah masih di celana  tapi tetap saja, itu suatu progress yang sangat berarti.

Sebulan ini, Ali sudah lepas popok di keseharian. Walau masih kupakaikan popok kalau sedang bepergian atau berangkat ke masjid, tapi popoknya hampir selalu kosong. Dia udah ngga mau lagi pipis di situ.

First of all, toilet training nggak bisa dilakukan secara mendadak. Perlu kesiapan mental si ibu, perlu menyediakan waktu, dan perlu strategi. Tanpa itu semua, toilet training hanya akan jadi wacana yang maju mundur dan malah membikin stres. Jadi sebenernya ngga usah buru-buru juga sih, lakukan ketika ibu dan anak sudah siap.

Perlu komunikasi yang intens antara ibu dengan anak sebelum dan selama toilet training. Bacakan buku, lihat video lucu, belikan stiker tentang toilet training. Kita harus terus menerus mengingatkan bahwa kalau pipis harus di kamar mandi, sudah besar tidak pakai popok dan tidak ngompol, teruuuuss diulangi sampai melekat kata2nya di ingatan anak dan dia bisa mengucapkannya kembali.

Di sini aku mau share beberapa tips toilet training yang berhasil di aku. Dalam seminggu!


  1. Luangkan waktu selama beberapa hari, minimal 3 hari pertama untuk nggak pergi ke mana-mana. Di rumah aja. Selama rentang waktu ini, pakaikan anak kaos dalam dan celana dalam, supaya mudah membukanya ketika dia mau pipis, dan nggak banyak2 cucian ketika dia ngompol. Biar dah anak kita dikata jelek pake singlet ama CD doang, toh cuma untuk beberapa hari.
  2. Pakaikan celana dalam atau celana kacamata, supaya kalau dia ee di celana, ee nya nggak jatuh ke lantai. Although it would still happen sometimes  ((nightmare))
  3. Kanebo is my bestfriend. Ini wajib ada banget selama toilet training. Siapin 2 kanebo, satu kanebo kotor untuk menyerap pipis, dan satu kanebo bersih (basahi air) untuk membersihkan bekasnya. Setelah digunakan, kucuri di bawah air mengalir, peras, jemur, dan siap digunakan lagi.
  4. Siapin reward. Reward buat Ali adalah, ditiupin balon kalo berhasil pipis di kamar mandi. It works only in 3 days for me. Dia semangat pipis di kamar mandi ampe balonnya banyak. Hari pertama, cuma dapet 1 balon. Hari kedua, 3 balon. Hari ketiga, 5 balon! Tenang, cuma semingguan aja sih dia minta ditiupin balon. Setelah itu, cuma kadang aja dia inget. Lagian, apa sih susahnya niup balon, hehe... Jangan lupa pujian. Pinter yaaa pipis kamar mandi... Anak pintar gak ngompol lagi yaa... dll.
  5. Tiga hari pertama, ajak ia untuk minum yang banyak dan sering, biar pipisnya juga sering. Mau pipis atau enggak, kita upayakan ajak dia ke kamar mandi kira-kira 30 menit sekali. Setelah beberapa hari, kita akan bisa memprediksikan waktu-waktu dia pengen pipis
  6. Awal-awal, akan susah dan lama nungguin pipisnya keluar di kamar mandi. Temenin, sambil ajak ngobrol. Ali kubawakan krayon, dia coret2 dinding kamar mandi dan tutup kloset sambil nunggu pipisnya keluar. Atau niup gelembung dan main air. Sambil kita basahi  kemaluannya dan terus encourage dia untuk pipis supaya nanti ditiupin balon
  7. Ajak pipis bareng dkmr mandi. Agak saru sih ya. Tapi berhasil. Because monkey see monkey do. "Mama udah pipis..  ayok skrg Ali!" Hati-hati ya jangan sampai anak melihat aurat kita dan usahakan ini dilakukan hanya di beberapa hari pertama. Setelahnya, kita cukup ajak dia jongkok aja.
  8. Jangan marah kalau dia ngompol. Kalau kita marah, nanti dia kapok ngompol dan minta pake popok lagi. Ngompol itu wajar, namanya juga anak kecil. Tarik nafas, ambil kanebo, ajak membasuh ke kamar mandi dan selalu kasihtau, kalau ngompol diem aja di situ jangan jalan ya, nanti kepleset. Diem di tempat sampai mama datang. "Pinter ya pipis, tapi lebih pinter lagi kalau pipisnya di kamar mandi. Kalau pipis jempolnya satu, kalau pipis di kamar mandi jempolnya dua...
  9. Singkirkan dulu deh tuh yang namanya karpet atau sofa bagus yang gak pengen diompolin. Karna selama masa toilet training, ngompol itu pasti. Itu adalah tahap pertama pembelajaran anak mengenali sensasi basah yang tidak nyaman. Itu adalah saatnya kita mengomunikasikan bahwa lebih baik jika pipis di kamar mandi. Boleh juga mengajak dia untuk bantu membersihkan bekas ompolnya, atau mencuci celana bekas ee nya
  10. Susah ngajak anak ke kamar mandi? Ajaknya sambik ngobrol topik yang dia senangi. Misal bangun tidur masih belom mood pun, kita ajak ngobrol. "Ali tau ga, tadi pas Ali masih bobo, ada suara ngiiiiiiiiiuuuuunggg ngiiiiiuuuungg Mama kaget Li, Mama bangun deh. Suara mobil apa ya itu?" ........ sambil angkat ke kamar mandi dan pipis.
Taraaaa... Mama pun bisa mengalihkan pengeluaran popok untuk SK II, hahahahaha...

Sebenernya aku juga sudah membelikan potty seat untuk Ali, bentuknya kura-kura. Tapi dia nggak mau duduk untuk pipis atau ee di situ. Pipis maunya jongkok di kamar mandi. Ee masih maunya dipangku TT___TT Lagipula, dari pengalaman seorang teman yang anaknya dilatih di potty seat, dia jadi ngga mau buang air kalau ngga ada potty nya itu. Misal lagi bepergian, kan jadi repot kalo harus ke toilet umum dan gak ada potty. 

Dan satu lagi, karena potty seat itu bisa dibawa ke mana-mana, jadinya si anak ngga mau ee di kamar mandi. Misal lagi nonton TV, trus pengen ee, dia bawa potty nya ke depan TV trus ee sambil nonton TV. Iiiihhh...

Jadi ya, potty seat-nya Ali nganggur aja di kamar mandi tuh. 

Soal ngompol malem, alhamdulillah Ali sejak bayi dulu memang jarang ngompol malem. Bangun tidur baru deh dia banjir. Tapi ya kadang ngompol juga sih. Nasib deh, mo gimana lagi, aku belom bisa tengah malem ngegotong dia ke kamar mandi buat pipis. Jadi kalau Ali, pipis sebelum tidur itu wajib. Bangun tidur juga langsung pipis di kamar mandi. 

Setiap anak tentu memiliki kebiasaan dan progress yang bisa berbeda-beda. Aku sangat mensyukuri kemudahan yang diberikan Allah dalam hal toilet training ini. 

Sekarang, Ali udah nggak bisa pake popok lagi. Aku masih pakein dia popok kalau lagi ke masjid dan kalau pergi. Tapi, popoknya selalu kosong. Dia udah nggak mau pipis di situ. Pernah, kami pergi pagi dan aku nggak ngecek sampai menjelang sore. Sore, dia terlihat nggak nyaman dan memegang celananya terus. Benar aja, aku intip, popoknya kosong bersih dan dia kebelet pipis. Yaudah, gotong deh ke toilet dan pipis di kloset. Jadi tetep aja, walaupun anak masih dipakaikan popok (antisipasi bocor di tempat umum), tetap saja, kita harus mengajak dia pipis di kamar mandi. Karena kemungkinan besar dia sudah nggak nyaman lagi pipis di popok. 

Good luck moms!