Selasa, 22 Oktober 2013

Balada Hidup Bersama


Semenjak tinggal di Jakarta, Lala, sahabatku, tinggal di apartemen. Lokasi apartemennya di Pondok Bambu, kebetulan nggak terlalu jauh dari kantorku. Aku pun sering main ke tempat Lala sepulang kerja kalau lagi males sendirian di kosan. Lalu kami menggalau bersama.

Di apartemen Lala ada 2 kamar tidur. Awalnya aku lebih suka tidur sama Lala sambil pillow talk sebelum bobo. Tapi Lala sukanya tidur pake AC, sedangkan aku paling nggak tahan tidur kedinginan. Kalau mulai kedinginan tidurku ngga tenang lalu suka ngusel-ngusel Lala mencari kehangatan, sampe pernah dia hampir jatuh dari tempat tidur gara-gara aku.

"Perang dingin" itu pun semakin menjadi-jadi. Jam 1 aku yang kedinginan bangun matiin AC. Jam 2 Lala yang kegerahan bangun nyalain AC. Jam 3 aku kedinginan lagi, matiin AC lagi, dan begitu seterusnya. Sampai akhirnya semalam, aku memutuskan pisah ranjang dari Lala. Aku tidur di kamar sebelah tanpa AC, melungker berkemul selimut tebal, sementara Lala bobo cantik di kamarnya dengan AC bersuhu 18 derajat celcius.

Pagi-pagi, kami masak buat bekal dibawa ke kantor. Rencana menu pagi ini adalah tumis sayur warna-warni. Putren, wortel, brokoli, tomat, tumis dengan bawang putih dan saus tiram. Aku biasa menumis dengan sedikit minyak, dan diprotes Lala, "Kok dikit banget Ken minyaknya?" Rupanya dia biasa masak dengan banyak minyak.

Aku biasanya menyukai sayur yang kriuk-kriuk setengah matang. Jadi aku masak sebentar, dengan api kecil dan sedikit air. Tapi di tengah-tengah, Lala menuangkan air dan bilang, "Biar cepet mateng, Ken."

Aku menghela nafas. Sesaat kami berpandangan, lalu ngakak berdua. Ternyata tidak mudah hidup bersama. Begitu banyak perbedaan pendapat yang berpotensi memicu pertengkaran. Lalaaaaa... Padahal kita udah lama kenal, sama-sama cewek pula, masih aja begini. Apa kabar berumah tangga sama suamiii...!

"Ya ampun Keeeenn... Bahkan semalem kita pisah ranjang cuma gara-gara AC!" Iyak, dan lo barusan bikin sayur tumis gue jadi kayak sop! Hahahaha...

Itu baru soal AC dan masakan. Belum lagi hal-hal sepele lainnya seperti nyalain/ matiin lampu kamar mandi, nyetel TV, ngelipet baju, naro sikat gigi, dan sebagainya. Nggak ada yang sampai bikin kami berantem sih, tapi ya jadi mikir aja gimana kalo sama orang lain.

Nggak mudah memang menyatukan dua kepala (atau lebih) di bawah satu atap. Gimana yah rasanya nanti setelah menikah, hidup sama lelaki pula, dengan segala kebiasaan-kebiasaan dan sifat mereka yang pastinya beda banget sama kita perempuan. Bukan sebulan-dua bulan, tapi seumur hidup!

Kuncinya mungkin sederhana, don't sweat small things laaah... Nggak perlu dimasukin pikiran, apalagi dikeselin sampe hati. Kalau ada perbedaan gitu, ketawain aja! Kayak aku sama Lala yang memang simple minded, sesama orang plegmatis, jadinya sama-sama woles tapi sekaligus sama-sama berantakan. Hihihi... 

Mempelajari karakter manusia itu menyenangkan! Seperti main game petualangan. Suka ada kejutan tak terduga. Bikin ketawa atau bikin kesel, itu kan tergantung gimana kita menyikapinya.

Hugs 'n kiss Lala!
 

Selasa, 01 Oktober 2013

Lagi-lagi Jogja, Kali Ini Ceritanya Berbeda

Dengan kondisi badan masih biru-biru usai body rafting kemarin, aku, Kak Noni dan Desma masih berhasrat melanjutkan perjalanan ke Jogja. Nanggung euy, udah di selatan. Sementara rombongan melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta, kami bertiga turun di terminal Banjar dan menunggu bus Mandala dengan tarif Rp75rb yang akan membawa kami ke Jogja.

Ternyataaaaa... sopir busnya gila! Ugal-ugalan! Tas-tas yang disimpan di atas pada berjatuhan menimpa kami saking itu si sopir berzig-zag serasa di sirkuit kali yak. Aku sampai SMS ke orang-orang terdekatku minta maaf kalau ada salah, dan mohon ditandai apabila terjadi sesuatu pada bus Mandala menuju Jogja, saya ada di sana TT__TT Awalnya aku woles berniat tidur sambil dengerin Jay-Z, gara-gara sopir yang sembarangan ini aku jadi inget mati. Playlist-ku pun kuganti dengan murottal, seengganya kalo gw mati husnul khotimah (. . .)

Ini pertama kali aku naik bus begini ke Jogja. Pengamen ngga henti-henti masuk (tapi dangdut tarling juga tetep disetel), sopir yang berasa punya nyawa 9, AC yang kurang optimal bercampur dengan bau Stella jeruk dan apeknya kursi... damn! You know that smell, right? Eh sudah mabuk, tertimpa tas pula... Apa-apaan banget...

Adzan maghrib berkumandang saat kami tiba di terminal Purwokerto. Bus kami parkir tepat di samping bus Super Eksekutif "Efisiensi" yang terlihat bagaikan surga dengan kursi lebar nan nyaman, seat 2-1. Tarifnya Rp50rb sampai Jogja. Kami yang udah kehilangan setengah nyawa dikocok-kocok 2,5 jam dalam bus Mandala pun tanpa pikir panjang langsung memutuskan hijrah.. ke penghidupan yang lebih baik.

selonjoran di bus Efisiensi seat 2-1

Di bus super nyaman itu kami mendapatkan snack, air mineral, fasilitas shuttle, dan.. lagu-lagu Mayangsari. Ahh.. kami pun bobo dengan pules.

Sampai di Jogja pukul 11 malam, kami dijemput Dimas temennya Desma. Dia mempersilakan kami nginep di rumahnya selama di Jogja. Senangnya dapat teman baru!



rumahnya Dimas vintage banget, suka!
Keesokan paginya begitu bangun tidur baru terasa badan remuk. Dimas ngetok-ngetok pintu kamar dan bertanya, "Mau kemana dulu hari ini?" Kami dengan wajah melas serempak menjawab: "Salon..." Jadilah pagi itu, sebelum ngapa-ngapain, Dimas mengantar kami full body treatment di Salon Azzahra Jogokaryan yang murah meriah, mbaknya ramah, dan pijatannya aaahhh... enaknyahh... Recommended!

Setelah segar, barulah kami melanglang buana Jogja, ke sana kemari senang sekali..


alun-alun, of course!

sok-sok intelek ke pasar buku

Taman Lampion
Happyyyyyy.....!

Malam minggu yang sempurna di Jogja.. sambil belanja, makan, dan ngeceng.. Besok paginya kami keliling lagi di Pasar Sunday Morning UGM. Tak lupa menyapa penjual es krim goreng yang terkenal itu, hihi...

Ahh.. too bad, emang yah kalo lagi enak-enakan gini waktu berjalan begitu cepat. Kereta ekonomi Progo yang akan membawa kami menuju Jakarta sudah menunggu pukul 16.00. Jujur, ini pertama kalinya aku naik kereta ekonomi, hihi.. Norak abeeesss.. Berkali-kali dikeplak kak Noni.

Misal saat aku bertanya, "Kak, ini tuh ngga ada bagasinya ya?" *plak! Juga saat orang yang duduk di depan kami datang. Aku yang udah beli nasi kotak jadi risih untuk makan. "Nanti aja deh kak, kalo dia turun.." Apa-apaaaaan mail...! Ya dia akan duduk di situ sampe mana tau, mungkin aja sampe Senen, lo mau makan kapan kalo nungguin dia pergi!" Ohh.. gitu yak.. *plak!

Juga saat mesen mi rebus dan ngga dateng-dateng, akhirnya Desma ngajak aku ke gerbong restorasi. Berjalan melangkahi orang-orang yang tidur bergelimpangan.. Bahkan ada yang tidur depan WC.. dan Desma bilang dulu tuh lebih parah daripada ini. Ngga bisa ngebayangin sih, tapi bersyukur aja. Begitu sampai di gerbong restorasi... glek! Kotor banget... dan... mi gue... dimasaknya kok... begitu amat yak... Desma ngikik. "Emang lo pikir gimana masaknya?" Ya gue kira udah ditempatin gitu dan kalau ada yang pesan tinggal diangetin di microwave. Terus aku dikeplak lagi *plak!

Aku sudah puluhan kali seumur hidup melakukan perjalanan ke Jogja. Toh kampung ibuku di sana. Tapi selama ini aku selalu melakukannya dalam 50 menit jalur udara. Ditinggal merem sebentar udah landing. Lalu dari bandara naik taksi. Iya, selalu begitu.

Dan pengalaman baru ini menunjukkanku begitu banyak hal. Mulai dari bis yang bikin aku inget mati.. pengamen perempuan yang membawa sound karaoke seberat 5 kg, dia lari-lari ngejar bis, lalu sambil nyanyi dicolek-colek kenek.. aku akhirnya melihat sendiri. Anak-anak perempuan yang bawa termos jual kopi di stasiun sampai dini hari.. Lalu orang yang bisa tidur mangap di depan toilet kereta api yang bau.. bergelimpangan pules di bawah kursi.. Betapa sempit duniamu selama ini, Ken.

Aku menganggap hidupku, juga perjalanan ke Jogja-ku selama ini biasa saja. Ke airport, naik pesawat bahkan bisa pilih mau duduk di mana, 50 menit lalu landing, terus naik taksi. Udah. Tidak ada yang istimewa. Namun setelah ini aku sadar, duh betapa aku kurang bersyukur.. Hal-hal yang seringkali lupa ku syukuri itu mungkin sangat mahal dan istimewa buat orang lain. Yang baru bisa mereka dapatkan setelah berusaha keras, sementara aku mendapatkannya sebagai sebuah fasilitas.

Sampai di stasiun Jatinegara pukul 00.30 malam, aku naik taksi sampai kosan. Alhamdulillah.. perjalanan ini mengingatkanku untuk banyak bersyukur. Terima kasih kak Noni dan Desma, aku sungguh senang ngebolang bersama kalian, my powerpuff girls!

Jadi, ke mana lagi kita bakal begajulan?


"I love travel because you may be uncomfortable, hungry, hot and sweaty, cold and shivering... but damn it, you will never be bored!" 
Tony Wheeler