Minggu, 30 November 2008

Taryana, Pengusaha Ubi Cilembu: Termotivasi Karena Ditertawakan Teman SMP

Sore itu, Sabtu 29 November 2008, saya, Ken Andari, mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fikom Unpad berkesempatan untuk mewawancarai seorang pengusaha ubi Cilembu, Taryana (33). Pukul 16.30 WIB saya tiba di kediamannya di Desa Cilembu, 5 kilometer dari Jalan Raya Tanjungsari. Di tengah dinginnya udara Desa Cilembu karena hujan yang lebat sore itu, saya mendapat sambutan hangat dari ayah tiga anak ini. Setelah dipersilakan masuk, saya disuguhi segelas air minum dan sepiring ubi bakar. Ia menyiapkan dan mengantarnya sendiri, bukan oleh istri atau pembantunya.

Begitulah sosok Taryana dalam kesehariannya, hangat, periang, dan rendah hati. Meskipun sudah berhasil mengekspor ubi Cilembu sampai ke Jepang, lelaki yang merintis karirnya dari nol ini mengaku dirinya belum sukses dan masih perlu banyak belajar. Perjalanan karirnya penuh cerita pahit.

Pria yang mengaku termotivasi gara-gara ditertawakan teman-teman SMP ini mengungkapkan banyak hambatan yang dihadapinya sebagai seorang pengusaha kecil, yang pendidikannya tidak terlalu tinggi. Menurutnya, masalah utama adalah kurangnya SDM dan modal. Taryana sangat ingin masyarakat Indonesia bisa menghargai ubi Cilembu, sehingga ubinya tidak hanya laku untuk diekspor, tapi juga bisa diterima dan dihargai seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Berikut petikan wawancaranya:














Bagaimana mulanya Anda merintis usaha ini?
Saya lulusan sekolah pertanian SPP/SPMA di Sumedang. Karena basic saya di pertanian, orang tua juga petani, ya, saya teruskan pertanian. Saya mulai dari jadi petani ubi, kemudian bawa pikulan, saya jajakan door to door, setelah itu punya kios, kemudian bisa mengisi supplier, sampai sekarang menjadi eksportir. Kami merintis ekspor sendiri mulai tahun 2008. Banyak permintaan dari Malaysia, Singapura, dan Jepang. Permintaan dari sana besar sekali, dari perusahaan-perusahaan besar, bahkan ada yang minta 1000-5000 ton ubi matang setiap tahunnya. Sekarang saya baru sanggup mengirim 1-2 kontainer saja, itu pun sebulan sekali.

Jadi Anda selesai sekolah kemudian memutuskan untuk berwirausaha, begitu?
Ya, karena dulu orang tua saya berjualan ubi di SMP, saya ditertawakan oleh teman-teman. Saya jalan kaki setengah jam ke sekolah, sampai sepatu saya bolong, saya dibilang anak kampung! Saya pernah naksir cewek orang kaya, ditolak hanya karena saya seorang petani. Tapi itu cerita lama, yang bisa memotivasi saya sampai sekarang.

Saya sekarang membangun CV, supaya bisa diwariskan ke anak saya nanti. Kalau saya sekarang belum maju, nanti anak saya harus maju. Anak saya yang paling besar sekarang umurnya 10 tahun, jadi dia punya waktu 10 tahun lagi untuk belajar.

Apa sih kelebihan ubi Anda dibandingkan dengan petani-petani lain?
Justru itu, bagaimana ubi-ubi yang jelek ini bisa dijual? Sumber daya alam kita sebenarnya sudah bagus, tapi banyak kekurangan dari segi sumber daya manusia (SDM) dan sebagainya.

Apakah ubi ini organik juga?
Bisa dibilang ini hampir organik, ya. Disemprot (pestisida) juga hampir tidak. Pupuk MPK digunakan sebagai starter saja. Kita menggunakan pupuk kandang. Di Cilembu ini bahkan ada beberapa daerah yang tidak menggunakan pupuk sama sekali.

Mungkin juga karena didukung oleh faktor iklim di Cilembu ini, ya?
Betul. Iklim sangat membantu. Jadi ubi Cilembu bukan dari bibitnya saja, tetapi faktor tanah dan iklim juga sangat menentukan terhadap aroma dan rasa ubi. Ubi Cilembu sulit dibudidayakan di Jepang, jadi kita harus bisa mengisi salah satu supplier. Standar ekspor di Jepang cukup tinggi, sedangkan kita cuma begini. Apalagi pembelajaran di pertanian kita ’kan.... ya begitu!

Kalau sekadar membeli dari petani kemudian saya jual, yah begitu sih, gampang. Tapi saya punya keinginan, bagaimana ubi bisa menjadi sesuatu yang berarti. Saya masih belajar, sampai bagaimana membuat pizza, es krim, dodol dari ubi. Bagaimana ubi yang kelihatan jelek ini dikemas menjadi lebih menarik.

Seperti Bakpao Telo di Malang, ya?
Betul sekali! Anda juga tahu, ya.

Sebenarnya apa sih yang menjadi standar kesuksesan Anda?
Kebanyakan orang memandang dari segi materi. Mobil banyak, rumah besar dan sebagainya. Mobil’kan bisa dibeli, siapapun kalau punya uang 20 juta juga bisa dapat mobil. Tapi kalau menghabiskan uang untuk belajar, belum tentu orang lain punya ilmu seperti saya. Saya kemarin pameran 10 hari di Jepang itu saja menghabiskan dana lebih dari 100 juta rupiah! Memang pengeluaran saya banyak dihabiskan untuk dua hal: promosi dan penelitian.

Kalau dari pemerintah sendiri?
Pemerintah sangat banyak membantu. Pelatihan-pelatihan kita difasilitasi pemerintah, banyak informasi kita dapatkan dari pemerintah, sebagian peralatan kita peroleh dari pemerintah, terutama dari Dinas Indag-agro. Kemarin juga saya sempat berkonsultasi dengan kepala DPRD Provinsi Sumedang tentang masalah pergudangan.

Waktu di Jepang ada yang minta 5000 ton itu, saya sampai ditertawakan. Sakit! Dia butuh ubi 5000 ton, tidak percaya dia dengan perusahaan saya, memang saya seperti ini. Saya disejajarkan, harus seperti Indofood. Ya tidak mungkin, karyawan tetap saya hanya dua orang. Fasilitas komputer, internet, jaringan telepon pun belum masuk ke daerah ini (Cilembu). Saya masih setara dengan tukang gandong, tapi mereka meminta kuantitas ekspor segitu.

Adakah keinginan yang belum tercapai?
Saya ingin punya perusahaan yang bisa menjalankan, bukan hanya ekspor, tapi juga pasar lokal. Ubi saya di Jepang dihargai mahal sekali, sampai 2500 yen/kilo. Itu setara dengan Rp 25.000. Kalau di sini, ubi Cilembu bahkan ada yang dihargai Rp 2000/kilo. Pokoknya saya ingin pemasaran yang lancar dulu lah, dalam dan luar negeri. Thomas Alva Edison sebelum menemukan bola lampu, berapa ribu kali ia gagal? Dan setelah berhasil, apakah hanya ia yang menikmati? Tentu tidak! Semua bisa menikmati!
Saya punya keyakinan, saya punya cita-cita, dan saya sudah berusaha. Pasti Allah melihat. Itu saja. Saya akui, saya bukan pebisnis yang bagus. Kalau orang bisnis itu harus saklek! Pokoknya harus berhasil, nggak peduli dengan yang lain! Saya nggak bisa begitu.

Maksudnya bagaimana?
Misalnya ada petani bawa sekeranjang ubi yang kualitasnya tidak terlalu bagus, kalau orang bisnis mah bilangnya, ”Apaan ini ubi jelek begini? Udah aja Rp. 2000 sekilo, ya! Kalau nggak mau, ya sudah sana pulang!” Kalau saya nggak bisa begitu. Suka kasihan sama petani-petani itu. Nggak bisa menolak saya. Padahal rugi! Kalau di bisnis ’kan tidak bisa begitu. Tapi biar bagaimanapun sejak tahun 1993 saya hidup dari ubi, saya juga pernah menerima 50 penghargaan, itu semua gara-gara ubi! Orang tua saya juga...

Kalau dibandingkan dengan pengusaha lain, keuntungannya bisa bermilyar-milyar, karena modal awalnya saja sudah ratusan juta. Sedangkan saya? Saya mulai benar-benar dari tukang panggul, kemudian mengisi kios, terus bertahap seperti itu sampai sekarang baru mau mulai ekspor!

Tapi ya...kalau kita orang jujur berbisnis sama orang yang nggak jujur ’kan jadi dikerjain! Kemarin saya dicaci maki oleh orang Jepang itu. Katanya, ”Ngapain kamu ke Jepang? Kamu nggak pantas berbisinis dengan saya!” Kesal bukan main saya. Tapi ya, saya bilang saja, ”You OK, hayyuu...tapi kalau tidak mau pun saya tidak rugi, ’kan?” Saya sering dikerjain, ditertawain. Begitu jadinya kalau orang seperti saya berbisnis dengan orang-orang pintar dan berduit.



Ken Andari
30 November 2008

Minggu, 09 November 2008

Apresiasi Buku “Pelik-Pelik Bahasa Indonesia” karya J.S. Badudu

Jusuf Syarif Badudu merupakan pakar bahasa yang banyak memberikan kontribusinya terhadap pembinaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar di negeri ini. Badudu menilai bahwa kekacauan berbahasa Indonesia mencerminkan kekacauan kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Kondisi ini tidak lepas dari kenyataan bahwa pengajaran bahasa Indonesia di sekolah umumnya masih berkutat pada aspek pengetahuan bahasa, tanpa mengarahkan siswa untuk terampil berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan.

Menurut Badudu, seperti dikutip dari situs Melayu Online, setidaknya ada tiga faktor yang membuat pemakai bahasa tidak dapat menggu¬nakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Pertama, perhatian orang yang sangat kurang terhadap bahasa Indonesia. Hampir semua orang menganggap remeh bahasa Indonesia, dan menganggap bahwa bahasa ini mudah sehingga tidak perlu dipelajari lagi, dan karena itu tidak perlu diperhatikan. Kedua, pengaruh bahasa daerah dan dialek bahasa Indonesia setempat juga menimbulkan adanya interferensi dengan bahasa Indonesia baku. Tanpa mempelajari bahasa Indonesia dengan baik, orang sukar menghindari pengaruh bahasa daerah dan interferensinya. Ketiga, sekolah-sekolah yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantar dan mengajarkannya sebagai mata pelajaran biasanya tidak berhasil meningkatkan kemampuan dan keterampilan muridnya untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Demi memperbaiki kualitas berbahasa Indonesia inilah, Badudu menulis buku “Pelik-pelik Bahasa Indonesia” yang sudah mencapai cetakan ke-42 pada 2001 lalu. Meskipun sudah 30 tahun berlalu sejak cetakan pertamanya, toh buku ini nyatanya masih sangat relevan dan dibutuhkan hingga kini. Memang, tak banyak buku-buku dan literatur tersedia untuk kita mempelajari bahasa Indonesia, apalagi yang dibuat oleh seorang profesor bahasa. Seperti diungkapkan di atas, banyak orang yang meremehkan bahasa Indonesia, menganggap orang Indonesia tak perlu belajar bahasa Indonesia lagi.
Anggapan itu terbukti salah. Kalau kita melihat apa yang dipaparkan dalam buku ini, ternyata bahasa Indonesia pun memiliki kekhasan tersendiri, dan bahasa Indonesia tak sesederhana apa yang dikatakan orang. Dalam buku ini, Badudu membahas secara gamblang dan komprehensif, mulai dari asal-usul bahasa Indonesia dan perkembangannya, standardisasi, ejaan dan gejala bahasa, morfologi, serta jenis-jenis kata dalam bahasa Indonesia, semua dibahasnya dengan detail.

Pada bab pertama, dibahas mengenai perkembangan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang kita gunakan setiap hari ini, induknya berasal dari bahasa Melayu. Dalam Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, bahasa Melayu ini kemudian diresmikan sebagai bahasa nasional, yaitu Bahasa Indonesia. Perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia rupanya berlangsung secara perlahan, tetapi secara terus-menerus.
Sebagai suatu bahasa yang hidup dan dinamis, dipakai oleh rakyat dari berbagai suku bangsa, bahasa Indonesia juga menerima pengaruh dari ragam bahasa itu. Misalnya dari bahasa Minangkabau, bahasa Sunda, bahasa Betawi, bahasa Jawa. Dan sebagai bangsa yang hidup di tengah percaturan politik dan kebudayaan dunia, Indonesia juga menerima pengaruh-pengaruh dari luar, termasuk dalam hal bahasa. Kata-kata dan kalimat asing masuk ke dalam bahasa Indonesia, seperti bahasa Sansekerta, bahasa Arab, bahasa Inggris, dan bahasa Belanda.

Tapi kalau memang mendapat pengaruh yang sedemikian banyak, lantas mengapa bahasa Melayu yang dipilih? Prof. Dr. Slametmulyana menegmukakan empat faktor yang menjadi penyebab, yaitu:
1. Sejarah membantu penyebaran bahasa Melayu. Malaka dahulu menjadi pusat perdagangan dan pusat penyebaran agama Islam. Tak heran jika kemudian bahasa Melayu menjadi lingua-franca, bahasa perhubungan/perdagangan yang disebarkan ke seluruh penjuru Nusantara.
2. Bahasa Melayu mempunyai sistem yang sederhana, ditinjau dari segi fonologi, morfologi, dan sintaksis. Karenanya, bahasa Melayu mudah dipelajari.
3. Faktor psikologi suku Jawa dan Sunda telah dengan sukarela menerima bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, yang bisa mempersatukan bangsa.
4. Kesanggupan bahasa juga menjadi faktor penentu. Terbukti, bahasa Indonesia dapat digunakan untuk merumuskan pendapat secara tepat dan mengutarakan perasaan secara jelas.

Pada bab kedua Badudu membahas tentang istilah standardisasi. Standardisasi ini diartikan sebagai penetapan norma-norma. Demikian juga standardisasi bahasa atau pembakuan bahasa adalah penetapan norma-norma atau aturan bahasa berdasarkan pola-pola yang dipakai oleh masyarakat pemakai bahasa. Standardisasi dapat dilakukan terhadap ejaan, ucapan (lafal), perbendaharaan kata, istilah, dan tata bahasa.

Standardisasi perlu dilakukan supaya persoalan salah-benar dalam bahasa Indonesia tidak menjadi berlarut-larut. Selama variasi-variasi yang timbul karena perkembangan bahasa tidak distandarkan, selama itu pula kita tak dapat melepaskan diri dari pertentangan salah dan benar. Semua ini dilakukan karena bahasa memang merupakan sesuatu yang bersifat dinamis.

Standardisasi yang dibahas Badudu kali ini misalnya, tentang penggunaan e benar dan e pepet dalam Ejaan Soewandi, dan penulisan kata-kata berasal dari bahasa Arab dalam ejaan van Ophyusen yang sangat menyulitkan dan rawan kesalahan. Besarnya pengaruh bahasa daerah pada seseorang juga seringkali terjadi tanpa disadarinya. Apalagi bahasa-bahasa daerah di Indonesia masih serumpun dengan bahasa Indonesia, sehingga besar kemungkinan terjadi intereferensi antara bahasa-bahasa itu. Terutama pada orang yang bilingual.

Misalnya, penggunaan kalimat “Rumahnya ayah saya sudah dijual” yang sangat dipengaruhi bahasa Jawa, atau “Buku itu ditulis oleh saya” yang dipengaruhi struktur kalimat bahasa Sunda. Mungkin hal-hal ini tidak menimbulkan masalah yang serius, tapi menjadi serius jika menyangkut pendidikan dasar yang dilakukan oleh para guru kepada murid-muridnya. Guru tentu harus mengajarkan yang sebenarnya kepada mereka, supaya tidak menjadi kesalahan yang fatal di kemudian hari. Kata Prof. Takdir Alisjahbana, “Guru dan murid tak boleh bereksperimen dengan bahasa. Orang dewasa, wartawan, sastrawan, boleh.” Dalam hal ini, Badudu menginginkan pemerintah untuk segera melakukan standardisasi terhadap bahasa Indonesia untuk pendidikan dasar.

Ejaan menjadi bahasan penting selanjutnya dalam bab ketiga. Ejaan di sini diartikan sebagai “perlambangan fonem dengan huruf”. Selain itu, dalam sistem ejaan termasuk juga ketetapan satuan-satuan morfologi seperti kata dasar, kata ulang, kata majemuk, kata berimbuhan dan partikel-partikel dituliskan; ketetapan penulisan kalimat dan bagian-bagianny dengan pemakaian tanda-tanda baca seperti titik, koma, tanda tanya, tanda seru, tanda kutip, dan titik dua.

Badudu juga mengemukakan perbedaan antara huruf dengan fonem, vokal dan konsonan, yang seringkali dianggap remeh, atau bahkan tidak dibahas dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Dibahas juga sejumlah ketentuan ejaan bahasa Indonesia dari masa ke masa. Mulai dari Ejaan van Ophyusen, yang banyak menyesuaikan ejaan dengan bahasa Inggris. Juga untuk penggunaan huruf y untuk kata-kata yang, payah, hayat, yang sebelumnya menggunakan huruf j. Tapi Ejaan van Ophuysen kurang berhasil mengindonesiakan kata-kata Arab.

Kemudian ada Ejaan Soewandi yang ditetapkan pada 19 Maret 1947, yang dikenal juga dengan nama Ejaan Republik. Ejaan ini banyak melakukan penyederhanaan, utamanya pada penggunaan oe seperti pada kata goeroe dan maoe menjadi guru dan mau. Bunyi hamzah atau bunyi sentak ‘ain seperti pada kata ma’lum, ra’yat, ditulis dengan huruf k, menjadi maklum, rakyat. Tanda trema dihilangkan, dan e pepet dalam sejumlah kata baru yang dalam bahasa asalnya tidak memakai pepet, juga dihilangkan, seperti peraktek, gobelok, dan sebagainya.

Bahasa terus berkembang, dan ketentuan ejaan juga semakin banyak mengalami perubahan dan terdapat berbagai versi. Sampai akhirnya pada 16 Agustus 1972, pemerintah menetapkan ejaan baru bagi bahasa Indonesia, yaitu Ejaan LBK (Lembaga Bahasa dan Kesusastraan) yang telah mengalami perbaikan dan penyempurnaan, yang kini disebut Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Depdikbud RI kemudian mengeluarkan buku Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Dalam buku tersebut dijelaskan kembali ejaan bahasa Indonesia yang baru tentang pemakaian huruf, penulisan kata, penulisan huruf, dan tanda baca.

Pada bab selanjutnya, giliran perihal gejala bahasa yang dikupas tuntas oleh J.S. Badudu. Yang dimaksud dengan gejala bahasa adalah peristiwa yang menyangkut bentukan-bentukan kata atau kalimat dengan segala macam proses pembentukannya. Yang pertama dibahas adalah mengenai gejala analogi. Analogi artinya suatu bentukan bahasa yang meniru contoh yang sudah ada. Gejala analogi memegang peranan penting dalam pengembangan dan pembinaan suatu bahasa yang sedang berkembang seperti bahasa Indonesia. Drs. Pernis dalam bukunya Taman Bahasa Indonesia mengatakan “Analogi ialah faktor terpenting dalam setiap bahasa”. Memang gejala analogi penting bagi perkembangan bahasa, karena umumnya bentukan-bentukan baru dianalogikan kepada bentuk-bentuk yang sudah ada.

Selain gejala analogi, ada juga gejala kontaminasi yang diartikan sebagai susunan, perangkaian, penggabungan, yang tidak berpasangan atau berpadanan. Kontaminasi hasilnya ialah kerancuan dalam bahasa. Ada tiga gejala kontaminasi: kontaminasi kalimat, kontaminasi susunan kata, dan kontaminasi bentukan kata. Kemudian ada lagi gejala pleonasme, yang artinya penggunaan kata yang berlebih-lebihan, yang sebenarnya tidak perlu. Ada tiga kemungkinan timbulnya gejala pleonasme: pembicara tak sadar (tak sengaja) mengucapkan kata-kata yang berlebihan, pembicara tak tahu bahwa kata yang digunakannya berlebihan, dan ada juga yang dibuat dengan sengaja untuk memberikan tekanan pada arti (intensitas).

Adapun gejala hiperkorek adalah bahasa yang sudah betul dibetul-betulkan lagi akhirnya menjadi salah. Misalnya, sehat yang dijadikan syehat, ilmu saraf dijadikan ilmu syaraf, pihak dan pikir menjadi fihak dan fikir, zaman menjadi jaman, dan anggota yang dijadikan anggauta. Terdapat pula gejala bahasa lain yang dibahas singkat, diantaranya gejala penambahan dan penghilangan fonem, gejala kontraksi, gejala metatesis, serta gejala adaptasi.

Pada bab kelima, bahasannya adalah mengenai morfologi. Morfologi adalah ilmu yang membicarakan morfem, yang berurusan dengan struktur dalam kata. Morfem ialah bentuk bahasa terkecil yang tak dapat lagi dibagi menjadi bagian yang lebih kecil. Kata putus jika dibagi menjadi pu dan tus, maka tidak lagi disebut morfem karena tidak mempunyai makna baik leksikal maupun gramatikal. Ada dua macam morfem: terikat dan bebas. Morfem putus adalah morfem yang dapat berdiri sendiri dalam kalimat. Lain halnya dengan me- dan –kan dalam memutuskan yang tidak dapat berdiri sendiri. Karena itu semua imbuhan dalam bahasa Indonesia adalah morfem terikat. Me- dan –kan ini memberikan makna tertentu pada bentukan yang terdiri atas morfem-morfem itu, maka me- dan –kan mengandung makna gramatikal.

Morfologi dalam kata kerja transitif dan taktransitif juga harus dipahami. Kata kerja bentuk me- yang membutuhkan objek disebut kata kerja transitif, contoh: membaca buku. Adapun kata yang sudah sempurna tanpa objek disebut kata kerja taktransitif. Umumnya, kata kerja tak transitif cenderung menyatakan keadaan daripada kerja. Misalnya:
Saya tak biasa merokok (taktransitif)
Ayah selalu merokok kretek (transitif)

Awalan me- apabila dihubungkan kata dasar, terjadi variasi bentuk, seperti me-, mem-, meng-, meny-, tergantung fonem awal kata dasar yang dilekatinya. Selain mengalami alternasi seperti ini, awalan me- juga mengalami kombinasi (yang produktif) dan berbagai variasi. Bentuk-bentuk imbuhan yang berasal dari sejumlah bahasa daerah juga diuraikan. Sebagaimana penulis menguraikan perbedaan imbuhan me- dengan ber-, ter- dengan di-, ke-an dengan pe-an, awalan se-, serta akhiran –an dan –i. Banyak lagi bentuk-bentuk morfologi lain yang diuraikan jelas oleh J.S Badudu.
Dalam bab keenam, diuraikan beberapa kata saja yaitu: kata kerja, kata ganti orang, kata ganti penghubung, kata sambung, dan kata depan. Pertama, dibahas mengenai kata kerja dalam bahasa Indonesia yang menurut St. Muh. Zain: “Adapun yang dinamai kata kerja yaitu kata yang menjadi jawab pertanyaan: Mengapa seseorang atau sesuatu? Atau diapakan dia? Misalnya: Si A makan, berjalan, melompat, dipukul. Segala perkataan makan, berjalan, melompat, dipukul itu masuk kata kerja.”

Sedangkan Gorys Keraf dalam buku Tatabahasa Indonesia memakai dua prosedur untuk menentukan apakah sepatah kata termasuk ke dalam kategori tertentu, yaitu: melihat dari segi bentuk, sebagai prosedur pencalonan, dan melihat dari segi kelompok kata (frase) sebagai prosedur penentuan. Kata kerja banyak macamnya, ada kata kerja gabung, kata kerja bantu, kata kerja aus, dan kata kerja bentuk persona.

Mengenai kata ganti orang, ada tiga macamnya: kata ganti orang pertama (si pembicara), kata ganti orang kedua (lawan berbicara atau orang yang diajak berbicara), dan kata ganti orang ketiga (orang yang dibicarakan). Masing-masing terbagi pula atas tunggal dan jamak. Seperti yang telah lazim kita gunakan, kata tunggalnya adalah aku, engkau, dan ia (dia). Sedangkan kata jamaknya adalah kami/kita, kamu, dan mereka. Ada juga kata ganti orang yang tak sebenarnya, yaitu kata-kata nama benda yang dipakai menggantikan kata ganti orang sebenarnya itu, misalnya bapak, kakek, abang, nyonya, oom, dan sebagainya yang dalam bahasa tutur menjadi sangat hidup.

Berikutnya ada kata sambung yang dipakai untuk merangkaikan kalimat dengan kalimat. Ada yang menghubungkan kalimat-kalimat setara dan ada pula yang menghubungkan kalimat-kalimat tidak setara. Kata sambung dalam fungsinya yang pertama (menghubungkan kalimat setara) contohnya adalah dan, lalu, bahkan, begitu pula, tetapi, dan oleh karena itu. Sedangkan kata sambung yang menghubungkan kalimat-kalimat bertingkat menurut sifat hubungan (relasi) antara induk dengan anak kalimatnya, dibagi menjadi delapan jenis:
1. relasi waktu (temporal), contohnya: ketika, semenjak, setelah
2. relasi sebab (kausal), contohnya sebab, karena, lantaran
3. relasi syarat (kondisional), contohnya jikalau, andaikata, apabila
4. relasi tujuan (final), contohnya supaya, untuk, bagi
5. relasi perlawanan (konsesif), contohnya: meskipun, walaupun
6. relasi keadaan (sirkumstansial), contohnya seraya, dengan, tanpa
7. relasi perbandingan (komparatif), contohnya seperti, sebagai, daripada, kian
8. relasi akibat (konsekutif), contohnya sehingga, sampai, maka

Kemudian ada kata depan yang sangat beragam macam dan fungsinya dalam bahasa Indonesia. Termasuk juga sejumlah kata sambung dan kata depan menjadi salah digunakan sehingga menjadi bentuk yang cenderung pleonastis.

Mengenal Dunia Wawancara

Kegiatan jurnalistik sebetulnya bermula dari kebutuhan dan naluri kita sebagai manusia, yaitu naluri ingin tahu dan naluri ingin memberitahukan. Dalam perkembangannya, kedua naluri ini disahkan menjadi hak asasi manusia (HAM) yang diakui secara universal. Kedua hak ini dikenal sebagai right to know and right to inform.

Pada tahun 1948 PBB sepakat memproklamasikan kedua hak tersebut dalam pasal 19 Deklarasi Universal Hak-hak Manusia. Di dalamnya dinyatakan bahwa setiap orang: berhak berpendapat, bebas mengeluarkan/menyatakan pendapat, bebas memiliki pendapat tanpa campur tangan orang lain, serta bebas mencari, menerima, menyampaikan informasi dan pendapat dengan cara apapun, tanpa memandang batas-batas. Selain diakui secara internasional, right to know and right to inform juga diatur dalam pasal 4 ayat 3 UU no. 40/1999 tentang pers. Dalam pasal 28F dinyatakan bahwa untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memeroleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. Pasal 6 UUP juga menegaskan peranan pes nasional, sebagai berikut:
1. Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui
2. Menegakkan nilai-nilai demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan HAM, serta menghormati kebhinekaan.
3. Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar.
4. Melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum
5. Memperjuangkan keadilan dan kebenaran

Secara sosiologis, hak personal ”to know and to inform” didelegasikan kepada profesi wartawan. Masyarakat menyerahkan mandat kepada wartawan untuk merealisasikan hak-haknya. Oleh karena itu wartawan harus konsekuen dan konsisten melaksanakan isi mandat tersebut. Selain itu, wartawan harus rajin bertanya kepada siapa saja yang dianggap relevan (people trail). Bertanya dalam konteks jurnalisme disebut wawancara, yang juga merupakan salah satu kegiatan pokok wartawan. Melalui wawancara, wartawan bisa memeroleh berbagai fakta. Earl English dan Clarence membagi dua jenis fakta. Pertama, fakta/realita sosiologis yaitu peristiwa yang sungguh-sungguh telah terjadi. Kedua, fakta/realita psikologis yaitu sesuatu yang sungguh-sungguh benar. Artinya, sungguh-sungguh telah dinyatakan oleh nara sumber. Pernyataan nara sumber biasanya diperoleh melalui wawancara.

Fakta atau realitas ini tak boleh dicemari karangan atau opini wartawan. Dalam Kode Etik Jurnalistik 2006 pasal 2 ayat d, ditegaskan bahwa wartawan harus menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik, termasuk menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya. Stewart Robertson dan George Fox Mott dalam buku mereka, New Survey of Journalism menuliskan, “Berita adalah pencatatan informasi yang paling menarik, paling penting dan paling cermat yang dapat diperoleh tentang segala apa yang dipikirkan dan dikatakan, dilihat dan digambarkan, direncanakan dan dikerjakan orang.” Ini juga berarti bahwa berita tak mesti berisi laporan mengenai realitas sosiologis, tetapi bisa juga berisi pernyataan narasumber (realitas psikologis).

Khalayak media massa saat ini semakin kritis dan tak puas bila wartawan melaporkan suatu peristiwa hanya berdasarkan unsur-unsur apa, siapa, di mana, dan kapan. Mereka juga ingin tahu bagaimana pendapat para tokoh mengenai peristiwa tersebut. Itulah sebabnya kedua jenis fakta tersebut boleh digabungkan, asal tidak dicampuradukkan dengan opini, imajinasi, dan simpulan wartawan sendiri. Seperti yang telah dinyatakan dalam pasal 3 Kode Etik Jurnalistik 2006, ”Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara seimbang, tidak mencampurkan fakta dengan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.”

Selain fakta, yang juga harus diperhatikan wartawan adalah nilai berita. Artinya, ia harus tahu realitas psikologis dan sosiologis yang benar-benar layak disiarkan, yaitu yang memiliki nilai berita tinggi. Karena tidak semua fakta yang diperoleh wartawan dibutuhkan khalayak. Tak semua fakta yang memiliki nilai berita tinggi layak disiarkan atau diterbitkan. Ada beberapa aspek yang dijadikan acuan untuk menentukan nilai berita suatu fakta: penting (significance), kedekatan (proximity), aktualitas (timeliness), ukuran (magnitude), ketenaran (prominance), konflik, seksualitas, emosi atau naluri (human interest), sesuatu yang luar biasa atau aneh, akibat atau konsekuensi, kemajuan, mukjizat atau peristiwa ajaib, serta tragedi atau bencana.

Teknik pencarian fakta oleh wartawan tergantung kepada jenis peristiwa/fakta yang diburu. Ada kejadian yang tak disangka-sangka maupun yang telah direncanakan. Selain itu ada pula realitas sosiologis yang jarang menarik perhatian wartawan, yakni yang berupa ”peristiwa diam” atau fakta laten, seperti gejala sosial dalam masyarakat. Dalam ”perburuan” fakta, wartawan dapat mengamati langsung secara pasif maupun aktif. Tinggi-rendahnya kualitas berita yang didapatkan wartawan sangat berpengaruh kepada kekayaan intelektual dan emosionalnya, maupun kekayaan sosial dan rohaniahnya. Istilahnya: kekayaan objek sangat ditentukan oleh kekayaan subjek.

Karena keterbatasan panca indera wartawan, maka untuk memperkaya laporannya ia harus melakukan wawancara. Melalui wawancara wartawan dapat menangkap fakta yang tak teramatinya, seperti latar belakang suatu peristiwa, kisah nyata, pengalaman, komentar, harapan, dan sebagainya dari orang yang diwawancarai. Wawancara tak selalu harus bertanya, namun bisa juga melontarkan pernyataan yang bagus dan provokatif, yang bisa memancing tanggapan nara sumber.

Dilihat dari segi tujuan, dalam wawancara kita mengenal beberapa jenis pertanyaan, antara lain sebagai berikut:
1. Pertanyaan informatif, adalah pertanyaan yang bertujuan meminta informasi/keterangan tentang suatu fakta
2. Pertanyaan konfirmatif, adalah pertanyaan yang bertujuan meminta pembenaran atau penegasan dari sumber berita
3. Pertanyaan verikatif, bertujuan meminta pemeriksaan atau pengecekan tentang kebenaran laporan kepada sumber berita
4. Pertanyaan sugestif, adalah pertanyaan untuk meyakinkan atau memengaruhi nara sumber bahwa ia sependapat dengan sang wartawan
5. Pertanyaan provokatif, bertujuan memancing nara sumber untuk menyatakan sesuatu yang diharapkan wartawan. Pertanyaan ini seringkali menjebak narasumber.

Pewawancara harus cermat dan tepat memilih pertanyaan. Kualitas jawaban terwawancara sangat ditentukan oleh kualitas pertanyaan pewawancara. Menurut penulis, ciri-ciri pewawancara yang profesional antara lain:
1. Memiliki wawasan yang sangat luas
2. Memiliki rasa ingin tahu yang besar
3. Mampu berbahasa dengan baik (fasih) sesuai bahasa yang dipahami terwawancara
4. Tidak mewawancarai dengan kepala kosong. Artinya, sebelum berwawancara ia harus belajar tentang topik yang akan diperbincangkan
5. Menyadari statusnya sebagai pemegang mandat masyarakat, maka ia selalu berusaha untuk mewujudkan isi hak tahu dan memberitahukan khalayak medianya.
6. Bersikap kritis dan skeptis terhadap ucapan terwawancara. Wartawan boleh mendebat terwawancara bila ia kurang yakin akan kebenaran ucapan terwawancara.
7. Mampu memosisikan diri sejajar dengan terwawancara
8. Tidak angkuh dan sok tahu
9. Berlaku sopan dan hormat
10. Tidak menginterogasi terwawancara
11. Mampu berempati terhadap terwawancara
12. Mengetahui dan menaati Kode Etik Jurnalistik, khususnya pasal 7 Kode Etik Jurnalistik 2006, yang berbunyi, ”Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi nara sumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan off the record sesuai dengan kesepakatan.”

Teknik Penulisan Berita Langsung dan Berita Khas

I. Berita Langsung
Menurut AS Haris Sumadiria dalam bukunya Jurnalistik Indonesia, straight news adalah laporan langsung mengenai suatu peristiwa. Biasanya, berita jenis ini ditulis dengan unsur-unsur yang dimulai dari what, who, when, where, why, dan how (5W+1H). Sedangkan berita khas disebutnya sebagai feature story. Dalam feature, penulis mencari fakta untuk menarik perhatian pembacanya, sebagai menu penunjang media massa.

Berita langsung mengejar aktualitas dan kepentingan, sedangkan feature mementingkan segi menarik atau tidaknya suatu tulisan. Oleh karena itu, berita langsung harus menggunakan struktur piramida terbalik, di mana fakta-fakta disusun berdasarkan tingkat kepentingannya. Demikian pembahasan mengenai straight news dalam buku Jurnalistik Indonesia yang entah mengapa jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan pembahasan mengenai feature.

Asep Syamsul M. Romli dalam buku Jurnalistik Terapan mendefinisikan berita langsung sebagai laporan peristiwa yang ditulis secara singkat, padat, lugas, dan apa adanya. Berita langsung bersifat kering, tanpa dibumbui subjektivitas wartawan. Berita langsung dibagi menjadi dua jenis: hard news dan soft news. Perbedaannya, aktualitas dan kepentingan soft news berada setingkat di bawah hard news.

Sebuah berita harus mencakup fakta dan data sebuah peristiwa, dan mengandung unsur-unsur 5W+1H. Dalam straight news, teknik penulisan yang lazim digunakan berbentuk piramida terbalik, yaitu berdasarkan tingkat kepentingannya. Struktur ini memungkinkan efisiensi waktu bagi pembaca, yang bisa langsung mengetahui inti berita melalui paragraf pertama. Bentuk ini juga memudahkan editor untuk melakukan cutting naskah jika space yang tersedia tidak cukup untuk memuat seluruh bagian berita.
Komposisi tulisan terdiri dari empat bagian: headline (judul berita), dateline (waktu dan tempat), lead (teras berita), dan news body (isi berita). Semua unsur ini kunci penulisannya terdapat pada rumus 5W+1H. Tetapi ada juga lead non 5W+1H, seperti lead kesimpulan, lead berita pernyataan, lead kutipan, lead kontras, dan lead jeritan. Sebelum menulis unsur-unsur ini, wartawan harus menentukan sudut pandang terlebih dahulu terhadap sebuah peristiwa. Penentuan angle memudahkan tahap-tahap selanjutnya.

Buku Jurnalistik: Teori dan Praktik karya Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat memuat sebuah ungkapan menarik, yaitu jurnalisme sebagai “literature in a hurry”, kesusastraan yang terburu-buru. Teknik-teknik penulisan berita –terutama berita langsung- memang mengacu pada kecepatan ini, namun tetap harus dibuat semenarik mungkin. Hikmat dan Purnama juga masih menggunakan struktur penulisan berbentuk piramida terbalik sebagai acuan penulisan straight news, seperti yang tertulis dalam literatur jurnalistik lainnya. Lead, yang mampu mencerminkan keseluruhan isi berita menjadi perhatian utama dalam piramida ini,.

Meskipun lead memiliki sejumlah keuntungan praktis, justru lead itulah bagian tersulit dalam menulis berita. Karena lead harus dibuat semenarik mungkin, atau pembaca tidak akan tertarik untuk mengikuti sampai habis. Selain menarik, lead juga harus cukup jelas dan ringkas. Ada beberapa jenis lead menurut buku ini: lead menonjok, lead deskriptif, lead kontras, lead bertanya, lead kutipan, lead kepenasaran kumulatif, lead berurutan, lead parodi, lead epigram, lead tersendat-sendat, lead ledakan, lead dialog, dan lead sapaan.

Setelah lead, ada proses penyusunan fakta-fakta secara logis, yang mengemukakan isi berita. Pengaturan materi berita secara kronologis ini memungkinkan pembaca memahami inti berita tanpa ada distorsi dalam menafsirkan arti berita secara keseluruhan. Singkatnya, tubuh berita berfungsi menguraikan ide-ide pokok dalam lead, serta menambahkan atau menguatkan hal-hal kurang penting yang tidak diungkapkan dalam lead.

Untuk gaya penulisan, ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan, agar fakta yang kita sampaikan bisa lebih jelas dan rinci, diantaranya: tulisan harus spesifik, (termasuk identitas orang, nama tempat, dan istilah), penggunaan kalimat aktif dan pasif harus tepat, alinea dibuat pendek.

Kemudian, angka di awal kalimat juga patut dihindari, memperhatikan ejaan, susunan kalimat, dan tata bahasa. Unsur-unsur yang diperlukan untuk tulisan yang efektif adalah: kecermatan dan organisasi dalam berita, diksi dan tata bahasa yang tepat, prinsip hemat, serta daya hidup (vitalitas), warna, dan imajinasi dalam berita tersebut.

Buku Teknik Penulisan Feature karya Andi Baso Mappatoto juga sedikit menyinggung straight news yang disebut juga berita lempang. Berita lempang adalah laporan tentang peristiwa fisik dan intelektual, misalnya bencana alam dan pendapat seseorang yang aktual, dan ditulis menurut rumus wajib 5W+1H dengan struktur piramida terbalik. Berita lempang dilaporkan secepat dan seobyektif mungkin dan hanya memiliki fungsi informatif mengingat isinya yang singkat-padat-jelas.

II. Berita Khas
Cara penyajian feature menggunakan gaya penulisan berkisah dan humor, tidak mengutamakan aktualitas dan pentingnya informasi yang disajikan. AS Haris Sumadiria mendefinisikan feature sebagai cerita khas kreatif yang berpijak pada jurnalistik sastra tentang suatu situasi, keadaan, atau aspek kehidupan, dengan tujuan untuk memberikan informasi dan sekaligus menghibur khalayak media massa.

Penulisan feature tidak tunduk kepada kaidah pola piramida terbalik dengan rumus 5W+1H atau cara penyusunan pesan secara deduktif seperti halnya straight news. Tapi bukan berarti kita boleh mencampurkan fakta-fakta dalam feature dengan cerita fiktif, karena karya feature pun tetap harus mengandung semua unsur yang terdapat dalam 5W+1H. Perbedaannya, feature disajikan melalui gaya bertutur kisah yang kreatif informal.

Kekhasan sifatnya inilah yang membuat kedudukan feature sangat penting di media massa. Fungsinya: sebagai pelengkap sekaligus variasi berita langsung, memberikan informasi serta nilai dan makna suatu peristiwa atau keadaan, penghibur dan pengembang imajinasi, dan sebagai sarana ekspresi paling efektif dalam memengaruhi khalayak.

Septiawan Santana, seperti dikutip Haris mengungkapkan bahwa feature memiliki empat ciri utama. Yang pertama adalah penyusunan adegan, di mana laporan disusun menggunakan teknik bercerita adegan demi adegan, membawa pembaca ke dalam situasi tersebut. Kedua, dengan mencatat dialog utuh untuk menampilkan karakter para tokoh yang terlibat, sekaligus memancing keingintahuan pembaca. Selanjutnya, jurnalis bisa menulis melalui sudut pandang orang ketiga. Pembaca dilibatkan, diajak berada dalam setiap situasi emosi dan pengalaman yang terjadi. Keempat, penulis perlu mencatat detail seperti kebiasaan, pakaian, makanan, serta pandangan-pandangan lain yang bersifat sekilas.

Sebagai sebuah cerita objektif yang menarik bagi pembaca, feature dibangun dengan berpijak kepada unsur-unsur pokok, meliputi: tema, sudut pandang, karakter, plot, gaya, suasana, dan lokasi peristiwa. Sama seperti unsur-unsur yang terdapat dalam cerita pendek. Bedanya, kalau cerpen mengangkat realitas fiktif imajinatif, maka feature menceritakan realitas faktual objektif.

Feature memiliki susunan rangka cerita yang terdiri atas tiga bagian: pembukaan, penceritaan, dan penutup. Berbeda dengan straight news yang menggunakan pola piramida terbalik, feature tidak kaku harus ditulis demikian. Menulis feature berarti berkisah, dan itu menuntut kreativitas. Bagian penutup sama pentingnya dengan bagian intro maupun isi, tergantung bagaimana penulis dapat mengemasnya.
Topik harus dibuat semenarik mungkin, sebagai titik awal keberangkatan ide penulis. Setelah menentukan topik, penulis bisa memulai tulisan dengan sebuah intro. Intro sama dengan lead, paragraf pertama dalam straight news yang berfungsi mengail pembaca. Jika pembaca sudah tertarik pada intro, bisa dipastikan ia akan penasaran untuk melanjutkan bacaannya hingga selesai. Intro harus dibuat ringkas, namun tetap segar dan bernyawa. Begitupun halnya dengan penutup.

Menurut Asep Syamsul M. Romli dalam buku Jurnalistik Terapan, feature adalah jenis tulisan di media massa yang memfokuskan pada segi (angle) tertentu sebuah peristiwa dan menonjolkannya. Sifat tulisannya lebih bersifat menghibur dan menjelaskan masalah daripada sekadar menginformasikan. Ia banyak mengungkapkan unsur how dan why sebuah peristiwa sehingga mampu menyentuh sisi human interest. Karena itulah feature berumur panjang. Feature termasuk dalam aliran “New Journalism”, yaitu teknik penulisan karya jurnalistik bergaya sastra, memerlukan gabungan dari keterampilan laporan interpretatif dengan teknik penulisan karya fiksi.

Feature memiliki enam sifat pokok: faktual, menerangkan masalah (bukan melaporkan dengan segera), berumur panjang, mengandung segi human interest, mengandung unsur sastra, dan menggunakan lead atraktif. Ada sepuluh jenis feature, yang memiliki daya tarik dan kekhasannya masing-masing, yaitu: bright, feature berita, feature artikel, feature biografi (profil), feature human interest, feature pengalaman pribadi, feature perjalanan atau petualangan, feature sejarah, feature promosi, dan feature petunjuk praktis.

Mengenai feature, buku Jurnalistik: Teori dan Praktik karya Hikmat dan Purnama Kusumaningrat menyebutnya sebagai bukan sekadar berita faktual, melainkan berita yang dibuat semenarik mungkin dengan dibubuhi sentuhan perasaan manusia. Feature dimuat bukan karena penting, tapi karena menarik. Jenis-jenis berita yang lazim disebut feature: berita human interest sederhana, berita hari kedua (sidebars), berita feature, berita latar belakang (interpretatif), dan berita berwarna. Berita human interest paling sering digunakan sebagai feature. Disebutkan juga pentingnya memberikan warna kepada berita, sebagai bumbu yang menjadikan berita itu lebih berkesan di hati pembaca.

Jika penulisan straight news menggunakan prinsip piramida terbalik, maka penulisan feature, menurut Asep M. Romli, menggunakan prinsip kerucut terbalik. Ia tidak harus menempatkan fakta terpenting di bagian awal. Komposisinya: head (judul), lead (teras, intro), bridge (jembatan antara lead dan body), body (isi tulisan), ending (penutup).

Judul berita dan lead harus dibuat semenarik mungkin. Dalam buku ini juga disebutkan macam-macam lead, kebanyakan sama saja seperti yang diuraikan dalam buku lain, tapi ada juga yang berbeda: teras analogi, teras kalimat pendek, teras figuratif, teras literer, teras pasak, teras tiruan bunyi, teras dialog, teras filosofis, dan teras kumulatif. Sebuah cerita feature mendorong terciptanya suatu penyelesaian, klimaks, atau akhir cerita. Oleh karena itu, ekor sebuah feature pun tak boleh diremehkan. Sebuah penutup yang menarik akan meninggalkan kesan mendalam bagi pembaca.
Buku Teknik Penulisan Feature karya Andi Baso Mappatotto, seperti judulnya, secara khusus membahas mengenai feature. Ia mendefinisikan feature dengan begitu panjang dan rumit, yaitu: karangan lengkap nonfiksi bukan berita lempang dalam media massa yang tak tentu panjangnya, dipaparkan secara hidup sebagai pengungkapan daya kreativitas kadang-kadang dengan sentuhan subyektivitas pengarang terhadap peristiwa, situasi, aspek kehidupan, dengan tekanan pada daya pikat manusiawi untuk mencapai tujuan memberitahu, menghibur, mendidik, dan meyakinkan pembaca.

Ada beberapa teknik yang harus diperhatikan dalam menulis feature. Pertama gaya tuturan cerita. Pada dasarnya penulis feature adalah penutur cerita yang mampu menggunakan imajinasi, kreativitas, serta kemahiran berbahasanya untuk membangkitkan keingintahuan pembaca, memainkan emosi mereka. Untuk bisa membuat feature yang menyentuh, persiapannya dimulai dari sebelum menulis.

Sebelum menulis, penulis feature harus peka terhadap keadaan di sekitarnya. Mungkin hal-hal tidak penting, seperti pasar kaget, sopir mikrolet yang sudah tua renta, orang kaya mendadak, dan sebagainya. Bagaimana ia mengangkat sisi lain dari peristiwa yang biasa menjadi karangan bernilai. Banyak cara untuk memeroleh bahan karangan, seperti dengan observasi dan wawancara. Setelah itu, bahan-bahan yang sudah didapat ditelaah kembali, untuk kemudian menentukan topik dan gagasan sentral.
Gagasan sentral yang dirumuskan dalam satu kalimat disebut teras (lead) yang kemudian akan diuraikan sebagai tubuh. Andi Baso Mappatoto menyatakan bahwa lead adalah jiwa-raga karangan. Gagasan sentral ini selalu ditulis dengan kalimat generatif yang menarik perhatian. Menarik-tidaknya sebuah lead dikembalikan lagi kepada nilai-nilai berita, seperti kebaruan, kedekatan, dan keanehan. Tema perlu diukur dari kesatuannya (unity), rincian (development), dan keaslian (originality).
Tubuh karangan sendiri baiknya dituturkan dengan urutan yang tertib, masuk akal, dengan gaya cerita yang menurut bentuk piramida atau piramida terbalik, segi empat, atau struktur kronologis. Kalau teras diibaratkan “jiwa-raga” karangan, maka tubuh layaknya setelan baju dan aksesori yang mencerminkan keadaan jiwa-raga. Beberapa pola paragraf yang digunakan untuk menjaga ketertiban susunan karangan di antaranya: tematik, spiral, dan blok. Karangan dapat disusun berdasarkan susunan waktu (kronologis), susunan kronologis, susunan dari umum ke khusus, dan susunan dari khusus ke umum.

Karangan harus diakhiri dengan tulisan penutup, yang mengisyaratkan bahwa karangan sudah lengkap. Bantuk-bentuk penutup di antaranya: ringkasan, klimaks, tanpa akhir, dan penutup yang menyengat. Semua bagian ini perlu dikemas dalam gaya bahasa yang mengalir secara alamiah, segar dan hidup. Koherensi, kohesi, dan kesatuan karangan juga harus dijaga untuk memelihara perhatian pembaca.
Betuk-betuk karangan khas yang diuraikan dalam buku ini, tak berbeda dengan buku lain: news feature/sidebars, sejarah, perayaan, sosok pribadi, human interest, latar belakang, pembuka tabir, dan feature perjalanan. Selain itu, ada juga kelompok feature argumentasi, diantaranya: karangan ilmu pengetahuan populer, berita analisis, laporan mendalam, serta tuntunan keterampilan.

Buku Seandainya Saya Wartawan Tempo lebih menarik lagi. Sebagai sebuah majalah feature terkemuka di Indonesia, kredibilitas Tempo tercermin lewat buku ini. Buku karya Goenawan Mohamad ini merupakan adaptasi dari buku Feature Writing for Newspapers (Daniel R. Williamson). Buku ini berisi tips dan trik dalam membuat laporan berita yang menarik untuk media massa cetak, khususnya feature. Alih-alih memuat tips-tips keterampilan menulis yang bersifat menggurui, penulis justru menghidupkan imajinasi pembaca, membantu pembaca mengidentifikasikan diri sebagai wartawan sungguhan yang sedang melakukan reportase, menulis laporan, sampai ketika ia berhadapan dengan editor.

Dalam buku ini feature didefinisikan sebagai artikel yang kreatif, kadang-kadang subjektif, yang dimaksudkan untuk menghibur dan memberi informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan, atau aspek kehidupan. Dari pengertian di atas, ada sejumlah ide pokok yang menjadi unsur-unsur feature, yaitu: kreativitas yang menjadi modal awal reporter dalam “menciptakan” sebuah cerita. Kedua, emosi dan pikiran penulis dapat masuk dalam laporannya, kemudian harus informatif, dan menghibur. Tulisan feature bisa ditulis panjang, seperti umurnya yang juga panjang dan tidak mudah basi.

Semua tulisan dalam buku ini dikemas dalam bahasa jurnalistik feature yang segar. Satu catatan penting, feature tetap merupakan sebuah berita yang berlandaskan fakta, tidak boleh ada rekayasa. Oleh karena itu, akurasi, ketepatan pengumpulan informasi, pengejaan dan pemakaian kata, penggunaan buku pedoman, serta pengecekan ulang terhadap laporan adalah modal-modal penting penulisan yang dimaksud dalam bab ini.
Seorang wartawan penulis feature punya empat senjata yang biasa digunakan untuk menaklukkan pembaca yang kurang bersemangat. Pembaca yang sejak awal telah diidentifikasikan oleh penulis sebagai calon wartawan profesional, diminta menggerakkan empat hal pokok: fokus, deskripsi, anekdot, dan kutipan untuk menghidupkan lukisan kata-katanya. Selain empat senjata di atas, wartawan juga harus mampu mengembangkan kreativitasnya untuk bisa membuat feature dari sisi yang lebih menarik.

Buku Seandainya Saya Wartawan Tempo secara keseluruhan memang lebih banyak membahas mengenai feature, dan dibandingkan dengan buku-buku lain, bagi saya, buku ini juaranya. Teknik penulisan feature tak hanya dijabarkan melalui teori-teori, tetapi keseluruhan isi buku ini ditulis menggunakan gaya bertutur yang menarik, seperti halnya feature.