Minggu, 20 Desember 2009

Over Kapasitas di Lapas, Napi Alami Dehumanisasi

Pernahkah Anda membayangkan rasanya tinggal di dalam penjara yang over kapasitas hingga 200 persen? Sudah sial masuk penjara, penuh sesak pula. Sudah hilang kebebasan, hilang pula hak-haknya sebagai manusia untuk mendapatkan makanan, pakaian, tempat tinggal, apalagi pendidikan yang layak. Narapidana memang pelanggar hukum, tapi seringkali kita lupa, bahwa mereka juga manusia.

Hal inilah yang dibahas oleh Hasanuddin Massaile, mantan Sekretaris Jenderal Departemen Hukum dan HAM dalam disertasinya yang berjudul “Pelayanan Kepada Narapidana Narkoba Dalam Penyelenggaraan Sistem Pemasyarakatan, Studi pada Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Jakarta”. Dalam karyanya ini Hasanuddin memusatkan penelitiannya terhadap permasalahan narapidana kasus penyalahgunaan narkoba, dengan penelitian di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Jakarta. Lembaga ini dipilih karena dapat merepresentasikan kebijakan pemasyarakatan khusus narapidana narkoba.

Kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia yang semakin banyak dari hari ke hari menimbulkan berbagai permasalahan pelik. Tidak hanya meresahkan masyarakat, maraknya kasus narkoba juga membuat lembaga pemasyarakatan (LP) atau penjara jadi penuh sesak, karena hampir 40 persen dari seluruh isi penjara adalah para narapidana kasus narkoba. Ada empat macam kasus penyalahgunaan narkoba: produsen (bandar), agen (pengedar), pemakai dan pengedar, serta pemakai murni.

“Bandar itu penjahat. Ia pantas dipidanakan, bahkan harus dihukum mati menurut saya. Pengedar juga. Yang saya persoalkan adalah, kenapa pemakai murni dipidanakan. Dia ‘kan korban dari bandar dan pengedar. Ia tidak mengganggu rasa keadilan dan keamanan masyarakat, ia merusak diri sendiri. Karena pemakai murni ini dipidana, kasusnya banyak, penjara penuh. Dari seluruh narapidana kasus narkoba, kebanyakan ‘kan pemakai murni. Bandar dan pengedar pasti lebih sedikit,” jelas Hasanuddin yang ditemui di kediamannya di Lebak Bulus, Jakarta, Kamis (17/12) lalu.

Kriminalisasi terhadap pemakai murni narkoba ini menyebabkan peningkatan jumlah narapidana narkoba, yang lebih lanjut menimbulkan permasalahan over kapasitas di Lapas Narkotika. Data yang diperoleh dari Lapas Narkoba DKI Jakarta, Juli 2008 mengungkap, Lapas Narkoba DKI Jakarta dengan kapasitas hanya 1.084 orang, pada akhir 2007 dihuni 2.905 orang, berarti over kapasitas sebanyak 1.821 orang atau 267,99 persen.

Bandar dan pengedar ditempatkan bersama pemakai murni narkoba, narapidana yang sehat ditempatkan bersama narapidana berpenyakit menular, seperti HIV/AIDS. Lapas yang seharusnya bertujuan mengobati dan merehabilitasi secara paksa agar dapat sembuh dari ketergantungan narkoba, secara ekstrim malah menjadi tempat pelatihan pengedar narkoba serta tempat persemaian HIV/AIDS. Perlu diketahui, sebanyak 61 persen penghuni lapas narkoba terinfeksi virus HIV/AIDS.

Over kapasitas ini menyebabkan dehumanisasi, karena lingkungan dalam lapas yang kumuh, gangguan keamanan, terbatasnya jumlah petugas, terbatasnya sarana dan prasarana, dan padatnya kamar hunian. Ruang gerak setiap orang dalam kamar hanya 1,97 meter persegi, dari yang seharusnya 5,4 meter persegi. Ruang gerak tiap narapidana dalam blok hunian hanya 4,85 meter persegi, dari yang seharusnya 22 meter persegi (standar hasil penelitian Puslitbang Depkumham, 1994). Belum lagi biaya untuk tiga kali makan yang hanya Rp. 5500 per orang per hari, serta biaya pelayanan narapidana di luar biaya makan, yang hanya Rp 816 per orang per hari, untuk sekitar 30 mata pengeluaran.

Dalam disertasinya, Hasanuddin menulis, “Pada saat penerimaan narapidana, lebih menekankan kepada kewajiban-kewajiban dan kepatuhan narapidana. Kurang menjelaskan secara menyeluruh tentang hak-hak narapidana.:” Ia kembali menerangkan, “Hukuman orang dipenjara itu ‘kan hanya kehilangan kemerdekaan bergerak. Lainnya harus dipenuhi, seperti makan, pakaian, pendidikan, itu hak asasi manusia. Tidak ada ‘kan vonis kurungan penjara 2 tahun, ditambah dibikin menderita, ditambah tidak dikasih makan?”

“Kalau penuh sesak, sulit diatur ‘kan. Tapi kalau sesuai kapasitas tentu lebih mudah dikelompokkan berdasarkan latar belakang masing-masing narapidana. Sehingga kasus-kasus seperti penularan kejahatan, penularan penyakit, tindak kekerasan dan penyimpangan perilaku seksual dalam lapas bisa dihindari,” jelas doktor yang baru diwisuda 5 November 2009 lalu ini.

Dekriminalisasi Pemakai Murni sebagai Solusi
Atas berbagai permasalahan tadi, Hasanuddin dalam disertasinya mengajukan beberapa solusi. Pertama, memformulasikan dekriminalisasi terhadap narapidana narkoba yang termasuk pemakai murni. Artinya, pemakai murni tidak dipidanakan dan tidak masuk penjara, tapi harus dimasukkan ke dalam lembaga rehabilitasi paksa, dengan penetapan hakim.

Ia juga menyimpulkan, pelaksanaan model-model perlakuan terhadap narapidana belum efektif, yang meliputi pengekangan (restraint), pembentukan kembali (reform), rehabilitasi (rehabilitation) dan re-integrasi (reintegration). Untuk narapidana yang merupakan pemakai murni narkoba, model perlakuan yang digunakan harus berbeda, bukan restraint-reform-rehabilitation-reintegration, melainkan restraint- rehabilitation-reform-reintegration.

“Narapidana narkoba itu tidak bisa di-reform dulu baru direhabilitasi. Ia harus disembuhkan dulu dari penyakitnya atau direhabilitasi, baru dibekali keterampilan, untuk kemudian dikembalikan lagi ke masyarakat. Di lembaga rehabilitasi paksa, bukan penjara, sehingga tidak ada stigmaisasi dari masyarakat bahwa pemakai murni adalah penjahat berbahaya,” jelasnya.

Hasanuddin juga memaparkan perlunya reorganisasi di Lapas Narkotika Jakarta yang dilakukan dengan pendekatan humanis agar sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan narapidana penyalahguna narkoba. Mereka juga perlu ditempatkan pada lapas yang bentuk dan tingkat pengamanannya sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan mereka.

“Coba Anda bayangkan, penyalahguna narkoba ditempatkan di penjara dengan maximum security yang mahal sekali biayanya. Padahal tidak perlu. Mereka, para pemakai narkoba ini secara fisik lemah, tidak akan melawan, tidak akan lari. Mereka senangnya mengkhayal, loyo-loyo. Kecuali untuk produsen dan bandar narkoba, mereka sangat berbahaya bagi masyarakat, tepat jika ditempatkan di lapas super maksimum. Tapi pemakai murni narkoba, tidak perlu diperlakukan seperti itu,” ungkapnya panjang lebar.

Setelah menerima gelar akademik tertingginya November lalu, pria asal Sengkang, Sulawesi Selatan ini tidak berhenti berpuas diri dengan titelnya sekarang. Ia masih terus mengusahakan agar apa yang ia tulis dalam disertasinya bisa diaplikasikan dalam menyusun kembali konsep yang bisa meningkatkan efektivitas lembaga pemasyarakatan.

“Saya pernah menjabat sebagai Sekjen Depkumham dan Dirjen Pemasyarakatan, dan sekarang saya ini kan sudah tua, sudah 64 tahun. Saya masih ingin mengabdi pada lembaga ini, caranya dengan memberikan sumbangan pemikiran di bidang yang sudah saya geluti selama puluhan tahun,” tutur Hasanuddin sambil menunjukkan ringkasan disertasinya.

“Saya coba bicara kepada menteri, ia dorong gubernur supaya buat penjara-penjara baru. Saya kasihkan juga ini (mengacungkan ringkasannya) supaya dia baca. Dari 200 copy ringkasan yang saya buat, tinggal satu ini sisanya. Nah kalau benar-benar terwujud, luar biasa ‘kan? Saya punya idealisme dong. Sudah enam gubernur bersedia, itu hasil provokasi dari saya!” tukasnya sambil tertawa.

Biodata Narasumber
Nama : Hasanuddin Massaile
Tmp/Tgl Lahir : Sengkang, 8 November 1945
Agama : Islam
Alamat : Komplek Depkumham Kavling 3
Jalan Pertanian Raya, Lebak Bulus, Jakarta Selatan

Selasa, 01 Desember 2009

Keterbukaan Informasi dan Kebebasan Pers

Disampaikan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI tanggal 25 November 2009.


Latar Belakang
Bahwa kemerdekaan pers merupakan wujud kedaulatan rakyat berdasarkan prinsip demokrasi, keadilan dan supremasi hukum sebagaimana diatur dalam pasal 1 UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Hal tersebut ditegaskan dalam pasal 4 Undang-undang yang sama bahwa kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara. Sebagai hak asasi warga negara, maka pers bebas dari bredel, sensor dan larangan penyiaran (ayat 2). Ayat 3 pasal tersebut menegaskan, untuk menjamin kemerdekaan pers, pers bebas mencari, memperoleh dan menyebarkan gagasan dan informasi.

Untuk mencari dan memeroleh informasi tersebut, lebih lanjut dijamin dengan munculnya sunshine laws (produk-produk hukum yang menjamin keterbukaan informasi dan transparansi). Salah satu sunshine laws tersebut adalah Undang-undang No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP). Undang-undang KIP menjamin setiap orang, termasuk jurnalis, untuk mendapat informasi publik.

Hak atas informasi bukan hanya hak yang diatur melalui undang-undang, namun juga merupakan hak konstitusional warganegara. Pasal 28 F Undang-undang Dasar 1945 menyatakan, “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia”.

Sebagai hak kostitusional, maka hak tersebut tidak dapat dikuragi oleh peraturan yang lebih rendah. Dengan kata lain, tidak boleh ada produk hukum yang dapat membatasi ketentuan Undang-undang Dasar tersebut.

Selain itu, hak atas informasi juga merupakan hak asasi manusia yang diatur dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, yang telah diratifikasi pemerintah Indonesia pada tanggal 30 September 2005 dan menjadi Undang-undang No. 11 taun 2005. Pasal 19 butir (2) Kovenan tersebut mengatakan, “Setiap orang berhak atas kebebasan untuk menyatakan pendapat; hak ini termasuk kebebasan untuk mencari, menerima dan memberikan informasi dan pemikiran apapun, terlepas dari pembatasan-pembatasan secara lisan, tertulis, atau dalam bentuk cetakan, karya seni atau melalui media lain sesuai dengan pilihannya.”

Menurut butir (3) Kovenan tersebut, hak-hak yang diicantumkan dalam ayat 2 pasal ini menimbulkan kewajiban dan tanggung jawab khusus. Oleh karenanya dapat dikenai pembatasan tertentu, tetapi hal ini hanya dapat dilakukan seesuai dengan hukum dan sepanjang diperlukan untuk: a) menghormati hak atau nama baik orang lain atau b) melindungi keamanan nasional atau ketertiban umum atau kesehatan atau moral umum.

Produk-produk hukum tersebut diatas menjadi acuan pers Indonesia untuk menjalanan tugasnya, yaitu mencari, memperoleh dan menyebarkan informasi dan gagasan.

Pentingnya Keterbukaan Informasi bagi Pers
Keterbukaan informasi merupakan syarat bagi pers untuk mencari dan memperoleh informasi. Untuk memperoleh informasi, pers sering kali terbentur oleh masalah-masalah birokrasi atas nama rahasia negara, rahasia jabatan dan sebagainya. Ketika berhadapan dengan masalah itu, pers gagal menjalankan fungsi tersebut.

Lahirnya Undang-undang No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik diharapkan bisa mengatasi masalah tersebut. Dari segi pers, kini memiliki jaminan hukum untuk mencari dan memperoleh informasi. Dari segi pemerintah, kekhawatiran akan bocornya rahasia negara dan rahasia jabatan tak perlu ada, sebab bab V (pasal 17-20) mengenai Informasi yang Dikecualikan.

Pembatasan dalam pasal 17 UU tersebut sangat komprehensif, dan detail. Informas-informasi yang dikecualikan dari informasi menurut pasal 17 tersebut meliputi:
1. Informasi yang dapat menggagung proses penegakan hukum;
2. Informasi yang dapat menggangu pertlindungan Hak Atas Kekayaan Intelektual;
3. Informasi yang dapat membahayakan pertanahan dan keamanan negara;
4. Informasi yang dapat mengungkap kekayaan alam Indonesia;
5. Informasi yang dapat merugikan ketahanan ekonomi nasional;
6. Informasi yang dapat merugikan hubungan luar negeri Indonesia;
7. Informasi yang dapat mengungkap informasi pribadi dalam akta otentik atau kemauan terakhir dalam wasiat seseorang;
8. Informasi yang dapat mengungkap rahasia pribadi;
9. Memorandum atau surat-surat badan publik yang menurut sifatnya rahasia sebatas tidak dikecualikan oleh Komisi Informasi; dan
10. Informasi yang tidak boleh diungkap berdasarkan undang-undang.

Butir satu hingga sepuluh diatas sudah mencakup semua informasi yang layak dirahasikan, mulai dari rahasia negara hingga rahasia pribadi.

Dengan demikian, UU No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik telah berhasil menyeimbangkan dua kepentingan, yaitu kepentingan masyarakat untuk mendapat informasi dan kepentingan pejabat merahasiakan informasi-informasi yang penting untuk dirahasiakan.

Pembatasan Informasi
Pers bekerja untuk kepentingan publik, oleh karena itu pers mencari, memperoleh dan menyebarkan informasi publik. Informasi publik tersebut sangat luas, karena menyangkut segala segi kehidupan masyarakat. Namun demikian, pers juga dapat dibatasi dalam memperoleh informasi. Batasan-batasan yang umumnya digunakan dalam standar internasional menyangkut rahasia negara, rahasia bisnis dn privasi.

Rahasia Negara
Informasi yang tergolog rahasia negara memang tidak boleh diberitakan oleh pers. Informasi-informasi tersebut sudah masuk dalam klasifikasi dalam pasal 17 UU No. 14 tahun 2008 tentangn KIP. Namun, rahasia negara juga ada batasannya, yaitu:

Pertama, setelah melampui masa retensi sebagaimana diatur dalam undang-undang; Kedua, setelah berubah menjadi informasi publik oleh karena berbagai sebab, seperti dibuka di pengadilan maupun sudah terbuka di depan publik (misalnya bocor).

Dalam beberapa kasus di luar negeri, rahasia negara juga dapat dibuka demi kepentingan publik. Kasus Pentagon Papers di Amerika Serikat adalah salah satu contohnya. Sebuah dokumen yang dikategorikan “sangat rahasia” dapat diungkap oleh media massa karena ternyata dalam dokumen tersebut terkandung sebuah skandal. Pengklasifikasian “sangat rahasia” bukan sungguh-sungguh dilakukan untuk melindungi keselamatan negara, tapi untuk menyembunyikan skandal pemerintah.

Rahasia di Bidang Bisnis
Rahasia bisnis yang sah umumnya juga digunakan untuk membatasi keterbukaan informasi secara legal. Informasi-informasi yang umumnya dapat dibatasi meliputi informasi yang terkait dengan hak kekayaan intelektual, termasuk di dalamnya adalah rahasia dagang, informasi yang menyangkut persaingan usaha. Rahasia profesional (professional confidentiality) juga termasuk dalam kategori ini.

Namun, rahasia bisnis juga tidaklah bersifat mutlak. Rahasia di bidang bisnis juga dapat dibatasi untuk kepentingan publik. Salah satu contohnya adalah rahasia bisnis dalam perusahaan rokok di Amerika, sebagaimana diceritakan dalam film The Insider. Sebuah media televisi dapat boleh mengungkap kandungan zat kimia dalam produk rokok yang membahayakan masyarakat.

Privasi
Privasi atau rahasia pribadi termasuk hak yang dijamin oleh hukum. Pers tidak boleh mengungkap rahasia pribadi seseorang, karena informasi pribadi bukanlah konsumsi publik. Perlindungan rahasia pribadi menyangkut banyak hal, termasuk komunikasi pribadi, kehidupan pribadi, rahasia medis dan sebagainya. Informasi pribadi juga termasuk bagian dari hak asasi manusia yang dilindungi oleh berbagai instrumen HAM. Kode Etik Jurnalistik juga mewajibkan jurnalis menghormati hak atas privasi narasumber.

Namun demikian, privasi seseorang juga dapat dibatasi oleh kepentingan publik. Misalnya, seseorang yang melakukan tindak pidana, maka banyak informasi pribadinya yang diungkap di depan public, misalnya melalui persidangan yang terbuka untuk umum. Dengan demikian, pers dapat menyebarkan informasi pribadi orang tersebut.

Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan, antara lain:
Pertama, keterbukaan informasi merupakan prasyarat bagi adanya pers yang merdeka. Tanpa keterbukaan informasi, pers tidak dapat mencari dan memperoleh informasi yang dibutuhkan masyarakat, sehingga akhir juga tak dapat menyebarkan informasi tersebut. Akibatnya, pers tidak dapat menjalankan fungsinya secara maksimal. Dengan demikian, ketertutupan informasi akan merugikan masyarakat juga pada akhirnya.

Kedua, pembatasan informasi publik dapat dilakukan dengan rigid melalui undang-undang. Tidak semua pejabat dapat membuat pembatasan kebebasan informasi. Tiga alasan yang umumnya dapat digunakan untuk membatasi informasi meliputi rahasia negara, rahasia bisnis dan privasi. Ketiga hal tersebut sudah diatur dalam Bab V UU No. 14 tahun 2008 tentang KIP.

Ketiga, pembatasan terhadap infirmasi publik sebagaimana dalam butir kedua di atas, tetap dapat disimpangi atas nama kepentingan publik.

Rekomendasi
Pertama, agar produk-produk perundang-undangan yang mengandung muatan pembatasan mengenai informasi tetap mengacu pada prinsip-prinsip kebebasan pers dan kebebasan informasi, sebagaimana telah diatur dalam UUD 1945, Kovenan Hak Sipil dan Politik serta UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers dan UU No. 14 tahun 2008 tentang KIP.

Kedua, hendaknya kepentingan publik diutamakan dalam legislasi terkait informasi. Kepentingan publik merupakan tolok ukur apakah suatu informasi layak dirahasiakan atau tidak.

Jumat, 20 November 2009

“The New Ruler of The World”

Sebelum membahas film ini, saya ingin sedikit bercerita. Saya tinggal di Kota Tangerang, sebuah kota yang selalu dibangga-banggakan sebagai salah satu pusat kegiatan industri terbesar di Indonesia. Saya mengalami sendiri bagaimana rasanya tinggal di kota industri ini. Setiap pukul 12 siang dan 4 sore, sejumlah ruas jalan selalu mengalami kemacetan, karena ribuan buruh keluar pabrik untuk beristirahat maupun pulang kerja.

Saya mengenal beberapa orang buruh, bahkan terdapat sejumlah sanak famili saya yang bekerja menjadi buruh. Salah satunya ialah Endang Fatmawati (29), kakak sepupu saya asal Klaten, Jawa Tengah yang mengadu nasib di Jakarta sejak tahun 1997. Semasa SMA, saya mengenal sosok Mbak Endang –begitu saya memanggilnya- sebagai murid yang cerdas dan berprestasi di sekolahnya. Setahun kemudian, ia berangkat ke Jakarta dan menetap di rumah saya.

Waktu itu, saya masih duduk di kelas 3 SD, sehingga memang masih banyak yang berusaha saya pahami. Setiap pagi, pagi-pagi sekali, saya terbangun ketika Mbak Endang membuka pintu rumah untuk berangkat kerja. Itu sekitar pukul 05.30 pagi. Mbak Endang pulang sore hari, sekitar pukul 17.30. Saya kerap bertanya, “Mbak masuk jam berapa? Ada istirahatnya nggak? Mbak kerjanya berdiri atau duduk?” Karena wajahnya selalu tampak begitu letih sesampainya di rumah. Mbak Endang bilang, ia masuk pukul 7, istirahat pukul 12, pulang pukul 4 sore, dan ia bekerja selama itu dalam keadaan berdiri! Apalagi kalau sedang mengejar ekspor, ia bisa lembur sampai pukul 9 malam. Hari Sabtu dan Minggu yang seharusnya libur pun, tak jarang ia masih masuk juga.

Sungguh tak terbayang oleh saya betapa letihnya ia. Sudah sedemikian diperas tenaganya, upah yang diterima sungguh tak sebanding. Pabrik tempat ia bekerja menggarap produk sepatu dengan merk terkenal: Adidas! Saya pernah iseng berkata, “Mbak, bawain aku sepatu Adidas-nya dong, sepasang aja!” Kemudian dengan lesu kakak saya itu berkata, “Teman Mbak pernah ada yang kedapatan membawa tali sepatu, ia langsung diberi hukuman, gajinya dikurangi beberapa hari.” Hanya TALI SEPATU, saudara-saudara!

Mbak Endang pernah juga membawa sepasang sepatu Adidas dari pabriknya untuk ayah saya. Tapi katanya, sepatu itu bukanlah produk kualitas terbaik, alias sedikit cacat. Jadi, hanya produk yang tidak lolos seleksi ekspor yang boleh dibawa pulang para buruh, itu pun pada waktu-waktu tertentu saja. Menjelang lebaran, misalnya.

Suatu hari saya berjalan-jalan ke Supermal Lippo Karawaci, saya iseng melihat-lihat sepatu bermerk, termasuk Adidas. Wah keren-keren sekali. Saya lihat bandrolnya, dan ternyata sepasang sepatu Adidas itu dihargai sampai hampir 1 juta rupiah! Kemudian saya teringat upah Mbak Endang dalam sebulan, yang pada waktu itu mungkin lebih kecil daripada harga sepasang sepatu itu. Padahal dalam sehari, dengan jam kerja yang ‘gila-gilaan’ tadi, Mbak Endang dan kawan-kawannya bisa menyelesaikan ratusan pasang sepatu mahal itu. Saya menelan ludah. Tak sampai hati saya membelinya.

Tak pelak, setelah menonton film dokumenter “The New Ruler of The World”, saya langsung teringat Mbak Endang, yang hingga kini masih banting tulang peras keringat sebagai buruh. Sudah lebih dari 10 tahun ia bekerja, tapi saya perhatikan, kesejahteraan keluarganya tak mengalami peningkatan berarti. Wajar saja, buruh bukanlah karier. Seorang buruh, akan terus jadi buruh. Tidak ada naik tingkat karier. Apalagi buruh yang telah berkeluarga, mengontrak rumah, ditambah harga berbagai barang kebutuhan pokok yang selalu menanjak. Untuk makan, memenuhi kebutuhan gizi keluarga saja masih pas-pasan.

Mungkin karena faktor kemiskinan dan angka pengangguran yang terus bertambah, sehingga para buruh seperti Mbak Endang mau bekerja apa saja, mau dibayar berapa saja. Perusahaan yang memperkerjakan mereka pun memanfaatkan hal ini tidak hanya untuk terus memeras tenaga mereka, tapi juga dengan terus menekan upah mereka. Hal ini jelas-jelas merupakan bentuk sistem kapitalisme yang menyengsarakan buruh. Mengapa orang-orang begitu bangga memujanya sebagai GLOBALISASI?

John Pilger sendiri dalam film dokumenter tersebut menyatakan bahwa globalisasi sama dengan pembunuhan massal terhadap jutaan orang, dalam hal ini buruh. Meskipun agak sedikit ekstrim, tapi pada kenyataannya memang negara-negara dunia ketiga terjebak dalam sistem yang membuat mereka tergantung kepada dunia barat. Inilah salah satu contoh nyata dari Teori Ketergantungan.

Suatu sistem di mana segelintir kelompok yang memiliki kekuatan finansial besar bisa mendominasi kelompok lainnya, merupakan salah satu bentuk globalisasi. Globalisasi diakui secara umum, bahwa negara-negara industri maju memperlakukan negara-negara satelit layaknya keset yang membersihkan kaki si empunya. Sehingga pendek kata, yang miskin semakin miskin, yang kaya pun semakin kaya.

Tepat seperti yantg dikatakan Andre Gunder Frank dalam bukunya Capitalism and Underdevelopment in Latin America, “Saya percaya, bersama Paul Baran, bahwa kapitalisme, baik yang global maupun yang nasional, adalah faktor yang telah menghasilkan keterbelakangan di masa lalu dan yang terus mengembangkan keterbelakangan di masa sekarang.” Hal ini ditanggapi oleh Arif Budiman dalam buku Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Menurutnya, keterbelakangan bukan suatu kondisi alamiah dari sebuah masyarakat. Bukan juga karena masyarakat itu kekurangan modal. Keterbelakangan merupakan sebuah proses ekonomi, politik, dan sosial yang terjadi sebagai akibat globalisasi dari sistem kapitalisme.

Globalisasi yang menindas masyarakat negara-negara terbelakang juga terjadi di Indonesia. Namun saat ini setiap orang, termasuk para buruh, sudah tidak takut lagi berunjuk rasa. Pasca reformasi, kebebasan berbicara warga Indonesia mulai semakin terasa dan dihargai. Para buruh pun semakin sering berunjuk rasa menuntut hak-hak mereka. Hal ini menunjukkan betapa globalisasi (penindasan buruh) di Indonesia agaknya berjalan begitu mulus pada zaman Soeharto sehingga buruh-buruh itu sudah gerah setelah sekian lama menjadi keset bagi para kaum kapitalis.

Hal ini juga dibahas dalam dokumenter John Pilger, di mana Soeharto-lah yang dituding meminjam uang kepada IMF dan World Bank, yang berujung pada krisis moneter di Indonesia tahun 1997-1998. Pembangunan semu ini semakin menekan para buruh, ditandai dengan 70 juta rakyat Indonesia yang jatuh miskin. Negara-negara adidaya seperti Inggris dan Amerika Serikat yang membekingi IMF dan World Bank rupanya menganggap Indonesia sebagai lahan upeti terbesar di Asia. Rezim Soeharto pun tampaknya tak mau kalah dengan IMF dan World Bank. Selama 30 tahun, 1/3 pinjaman World Bank justru lari ke kantong-kantong kroni dan pejabat korup Soeharto.
Andre Gunder Frank dalam teorinya berbicara tentang aspek politik dari hubungan ini, yakni hubungan politis (dan ekonomi) antara modal asing dengan klas-klas yang berkuasa di negara-negara satelit (terbelakang). Paul Baran mendukung teori ini. Dalam rangka mencari keuntungan sebesar-besarnya, kaum borjuasi di negara-negara metropolis bekerjasama dengan pejabat pemerintah di negara-negara satelit dan kaum borjuasi yang dominan di sana (tuan tanah dan kaum pedagang).

Hal ini mengakibatkan munculnya kebijakan-kebijakan pemerintah yang menguntungkan modal asing dan borjuasi lokal, dengan mengorbankan kepentingan rakyat. Modal-modal asing dari perusahaan-perusahaan multinasional seperti Adidas, GAP, Old Navy, Reebok, dan sebagainya, disadari atau tidak, telah memperbudak bangsa kita. Mereka inilah yang menjadi penguasa baru dunia, The New Ruler of The World.

Bagaimana tidak? 200 perusahaan besar telah menguasai ¼ dari saham dunia. Ford pun kini menjadi lebih besar daripada Afrika Selatan. Inilah yang disebut dengan imperialisme jenis baru. Salah seorang Duta Besar Inggris menyatakan hal ini sebagai “tembakan kecil demi perubahan yang lebih baik”. ‘Tembakan kecil’ ini maksudnya tidak lain adalah pembantaian manusia (buruh). Ini merupakan bentuk sosialisme bagi si kaya, dan kapitalisme bagi si miskin.

Dalam keadaan seperti ini, menggalakkan pembangunan dengan memperkuat borjuasi di negara-negara satelit (seperti yang dilakukan Soeharto) merupakan usaha yang sia-sia, karena borjuasi tersebut hanya tergantung kapada modal asing. Muncul sebuah pertanyaan: mengapa pembangunan tidak bisa dilakukan tanpa berhubungan dengan kekuatan asing? Sebenarnya bisa saja, namun hal ini sulit dilakukan.

Pertumbuhan ekonomi makro sebuah negara satelit (dalam hal ini keuntungan borjuasi lokal) akan lebih mudah dicapai kalau ekonomi negara tersebut dikaitkan dengan operasi modal asing. Selain itu, pasar dunia sudah dikuasai oleh perusahaan-perusahaan multinasional sehingga jika negara satelit ingin mendapatkan pangsa pasar bagi produk mereka di pasar dunia, mereka harus berjuang mati-matian. Dan, belum tentu berhasil.

Inilah yang dibahas dalam Teori Ketergantungan, di mana negara-negara pinggiran begitu tergantung kepada pertumbuhan modal di negara-negara pusat. Butuh proses yang berat dan lama untuk bisa bebas dari belenggu ketergantungan ini. Blomstrom dan Hettne menyimpulkan beberapa hal tentang Teori Ketergantungan, yang intinya:
1. Keterbelakangan dipicu oleh faktor eksternal. Yang menjadi hambatan pembangunan bukanlah ketiadaan modal, melainkan pembagian kerja internasional.
2. Pembagian kerja internasional ini terbagi ke dalam dua kawasan, yakni pusat dan pinggiran. Surplus dari negara pinggiran mengalir ke pusat.
3. Akibat pengalihan surplus ini, negara-negara pinggiran kehilangan sumber utama yang dibutuhkan untuk pembangunannya. Pembangunan dan keterbelakangan merupakan akibat dari sebuah proses global, yakni sistem kapitalisme.
4. Teori Ketergantungan menganjurkan pemutusan hubungan dengan kapitalisme dunia, dan mulai menggerakkan pembangunan yang mandiri. Dibutuhkan perubahan politik yang revolusioner dan radikal, sehingga pembangunan akan terjadi melalui proses alamiah dalam masyarakat pinggiran.

Teori Ketergantungan ini sendiri mendapatkan tentangan dari Bill Warren. Menurutnya, negara-negara yang tergantung toh menunjukkan kemajuan dalam pertumbuhan ekonomi dan proses industrialisasinya ke arah yang lebih mandiri. Bukti-bukti empiris yang dikumpulkannya menunjukkan bahwa prospek pembangunan kapitalis di negara-negara berkembang ternyata lebih baik.

Bukti-bukti empirik memperlihatkan bahwa setelah Perang Dunia ke-2, keterbelakangan adalah ilusi belaka. Bagi Warren, kapitalisme pasti akan berkembang di semua negara di dunia. Baru setelah mencapai titik jenuh, tahap perkembangan selanjutnya adalah sosialisme. Mungkin maksudnya sama seperti apa yang dikatakan seorang Duta Besar Inggris “tembakan kecil untuk menuju perubahan yang lebih baik.”

Tapi Teori Artikulasi yang dikembangkan oleh Claude Meillasoux dan Pierre Philippe Ray berpendapat lain lagi. Menurutnya, kapitalisme di negara-negara pinggiran karena adanya artikulasi unsur-unsur yang tidak efisien, banyak unsur penghambatnya. Kapitalisme yang dikembangkan secara murni pasti akan berhasil, tak peduli dia berkembang di negara pusat atau negara pinggiran. Muncul pertanyaan dalam benak saya, bagaimanakah bentuk sistem kapitalisme yang murni itu? Benarkah janjinya dalam menguatkan pembangunan akan berhasil? Haruskah ada “tumbal”-nya dulu?

Bagi saya, bangsa yang merdeka, bangsa yang maju tidak bisa dilihat dari aspek pembangunan fisik, baik secara politik maupun ekonominya saja. Satu hal yang paling penting, bangsa yang maju, manusianya juga harus maju! Bangsa yang merdeka manusianya juga harus merdeka! Apalah artinya gedung-gedung pencakar langit, hotel-hotel bintang lima, atau mall-mall besar, jika manusianya sendiri bahkan tidak bisa menikmati segala kemewahan itu. Apalah arti itu semua jika ternyata harus ada segelintir kaum buruh yang dijadikan keset kaki dalam pesta gengsi gede-gedean itu. Miris.

Tampaknya kita harus merujuk kepada bab pertama yang dibahas dalam buku Teori Pembangunan Dunia Ketiga-nya Arief Budiman. Dalam bab dasar tersebut disebutkan bahwa tolok ukur pembangunan yang berhasil bukan hanya dilihat dari segi tingkat produktivitas ekonomi suatu negara. Ada lima hal yang digunakan untuk mengukur keberhasilan pembangunan: kekayaan rata-rata, pemerataan, kualitas kehidupan, kerusakan lingkungan, serta keadilan sosial dan kesinambungan.

Nah, masyarakat dengan jurang kesenjangan yang lebar antara si kaya dan si miskin, apakah bisa disebut maju? Masyarakat dengan kualitas kehidupan dan pendidikan yang rendah, apakah sudah bisa disebut maju? Masyarakat yang tidak merasakan adanya keadilan sosial, apakah sudah bisa disebut maju? Kita tentu tidak bisa terkekeh-kekeh di atas tumpukan uang, sembari menutup mata, pura-pura tidak tahu bahwa di saat yang sama kita tengah menginjak-injak hak para buruh. Ya, bisa saja, seperti yang dikatakan Bill Warner, kapitalisme diperlukan untuk membangun sosialisme, sehingga perlu ‘tembakan kecil’ untuk menuju perubahan yang lebih baik. Tapi, sungguhkah kita sebagai manusia tega melakukannya? Mungkin terdengar agak klise. Tapi sungguh, saya tak habis pikir.

Kamis, 19 November 2009

Monumen Perjuangan dan Prasasti yang Terlupakan



Ruangan tampak gelap. Hanya ada cahaya dari sorot beberapa lampu yang tersisa di langit-langit ruangan. Lainnya tinggal kabel saja, menjulur ke luar, berantakan. Di sebelah kanan ruangan, berderet sejumlah kotak kaca yang berisi replika peristiwa-peristiwa bersejarah di Jawa Barat. Ada replika peristiwa Bandung Lautan Api, perundingan Linggarjati, pembuatan Jalan Raya Pos yang menampilkan Pangeran Kornel dari Sumedang yang menolak bersalaman dengan Daendels, dan sejumlah peristiwa bersejarah lainnya.

Segerombol anak laki-laki berpakaian seragam merah-putih masuk ke dalam ruangan sambil berlarian. Mereka langsung menyerbu melihat kotak-kotak kaca.
“Wuih, kepalanya buntung!” seru Fikri (10), seorang siswa kelas 5 SD Haur Pacung Bandung sambil menunjuk-nunjuk ke dalam sebuah kotak kaca. Tiga orang temannya pun segera menghampiri. Mereka asyik mengamati replika peristiwa perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa terhadap penjajah Belanda. Di situ memang ada boneka serdadu Belanda yang putus kepalanya setelah ditebas pedang Sang Sultan.

Segerombolan anak lain pun datang. Kali ini anak perempuan. “Ih, serem ah, gelap, nggak mau ke sana!” kata seorang anak sambil gemetaran. “Nggak ada apa-apa kok, ayo kita lihat!” kawannya menimpali sambil menarik tangan si gadis kecil yang ketakutan. Tiba-tiba seorang anak laki-laki iseng memadamkan lampu ruangan, dan mereka semua pun lari tunggang langgang.

Fikri dan kawan-kawannya bukan sedang berada di Monumen Nasional Jakarta, tempat kita bisa melihat replika peristiwa-peristiwa heroik bersejarah bangsa. Tapi mereka juga bukan sedang berada di dalam sebuah goa atau tempat menyeramkan lainnya. Mereka sedang berada di dalam ruang bawah tanah Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (MPRJB), yang terletak di Jalan Dipati Ukur, Bandung. Sebuah monumen gagah yang berdiri berseberangan dengan pusat pemerintahan Jawa Barat, Gedung Sate.

Siang itu, Sabtu (31/10) ruang bawah tanah monumen memang sedang dibuka untuk umum. Di dalamnya ditempatkan stand Direktorat Jenderal Purbakala sebagai bagian dari rangkaian pengisi acara Festival Kemilau Nusantara 2009 di Bandung. “Sudah tiga hari kami menjaga stand di sini,” ujar Alan Rendra (40), salah seorang staf Dirjen Purbakala yang ditemui di dalam ruangan tersebut.

Jangan bayangkan ruang bawah tanah seperti basement, gudang, atau seperti ruang bawah tanah Gedung Merdeka, yang tidak layak huni. Ruang bawah tanah MPRJB ini sangat baik kondisinya. Terdiri dari ruang galeri, auditorium, perpustakaan, dan ruang kantor. Sudah terdapat lampu, AC (air conditioner), bahkan toiletnya pun bagus. “Tapi semenjak tidak ada yang mengelola, banyak fasilitas yang rusak. Sangat disayangkan. Lampunya banyak yang mengambil. Dinding-dindingnya kotor. Lagipula sebetulnya, ruang bawah tanah monumen ini layak huni. Kalau dibiarkan terus seperti ini, sayang sekali.” ujar Alan sambil mengarahkan pandangannya ke sekeliling ruangan.

Tak semua orang tahu kalau monumen ini punya ruangan bawah tanah. “Saya yang sudah dua tahun tinggal di Bandung saja baru tahu kalau monumen ada ruang bawah tanahnya. Bagus pula,” tutur Dewi (22), mahasiswa Unpad asal Tasikmalaya yang baru pertama kali mengunjungi ruangan ini.

“Kalau saya, sebetulnya dari dulu tahu monumen ini punya ruangan bawah tanah, tapi hari-hari biasa jarang sekali dibuka. Padahal anak saya penasaran sekali ingin melihat isinya. Memang masih kosong, koleksinya belum banyak. Dan tempat sebagus ini tidak terawat juga, sayang sekali,” ujar Evi (34), ibu rumah tangga asal Bandung yang datang bersama anaknya.

***

Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat ini mulai dibangun sejak tahun 1990, dan diresmikan tahun 1995 oleh Gubernur Jawa Barat saat itu, R. Nuriana. Bangunan unik ini merupakan karya arsitek Sunaryo Kusumo. Monumen ini menggambarkan perjuangan masyarakat demokratis non-hirarkis Jawa Barat. Letaknya yang tepat di pusat kota, dekat dengan kawasan pendidikan, sebetulnya sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai ruang publik.

Sayang, kini bangunan yang menyerupai rumpun bambu ini tak bisa berfungsi sebagai panggung pesta publik seperti dikonsepkan pada rancangan awal Sunaryo. Relief dan diorama sejarah perjuangan rakyat Jawa Barat pada bagian bawah monumen itu ternyata tidak pernah dimanfaatkan, bahkan tidak dirawat sebagaimana mestinya, hingga kini bentuknya sudah tak karuan dengan pilok dan coretan.

Melihat keadaan museum bawah tanah yang disia-siakan ini, Dirjen Purbakala Jawa Barat pun segera bertindak.“Sebetulnya ide museum ini sudah ada sejak pertama bangunan ini dibuat, tapi memang untuk merealisasikannya butuh persiapan dan kordinasi dengan pihak-pihak lain. Rencananya tahun 2010 sudah bisa mulai dibuka museumnya, tapi belum tahu tepatnya kapan. Saat ini kami sedang membuat perencanaan yang matang, dengan kordinasi yang baik, mudah-mudahan museum ini tidak lagi terbengkalai jika sudah dikelola nanti,” jelas Alan.

Saya melangkah ke luar museum. Sebelum pintu masuk, di antara diorama dan relief perjuangan, saya mengamati tulisan yang tertera di atas sebuah lempengan kuning yang sudah dikotori tangan-tangan jahil. Saya tertegun membaca agungnya kalimat-kalimat dalam sajak karya Saini K.M itu:

Orang muda, kini giliranmu telah tiba
Untuk menerima anugerah sejarah
Rapatkan barisan, langkah tegap ke depan
Dengan karunia-Nya sepanjang jalur jejakmu
Impian demi impian akan terwujud
Julang panji, kibarkan bagi segala taufan
Karena di bahumu akan diletakkan fajar
Bagi cakrawala baru, bagi zaman yang besar.


Sangat ironis, prasasti indah yang dipersembahkan untuk generasi muda itu justru kini dikotori oleh tangan-tangan yang seharusnya menjaganya.

Kamis, 29 Oktober 2009

Kutipan Percakapan dengan Prof. Said Hamid Hasan

Di tengah kejenuhan saya dengan kuliah, tiba-tiba saya teringat percakapan saya dengan salah seorang pakar pendidikan dari UPI, Prof. Dr. Said Hamid Hasan, hampir setahun lalu. Beliau mengatakan,

"Pendidikan kita hanya memikirkan ini (menunjuk kepala), tapi tidak aspek manusianya."

"Maksudnya?"

"Apa yang ada dalam pikiran Anda saat kuliah? Belajar, belajar, dan belajar ‘kan? Karena beban studi Anda banyak sekali dalam satu semester. Mata kuliah pilihan Anda bagaimana? Organi-sasi kemahasiswaan Anda bagaimana? Kegemaran Anda bagaimana? Adakah waktu untuk itu? Anda senang misalnya ikut kelompok diskusi. Seperti saya dulu mengikuti kelompok arkeologi mesin. Kita berbagi pengalaman di sana, sesuai kesukaan saya. Karena sebagai manusia, saya ulangi lagi, sebagai manusia, mahasiswa memang harus belajar, tapi ia juga punya kebutuhan lain. Seharusnya begitulah kampus, bisa mengembangkan potensi diri Anda sebagai manusia. Sehingga mahasiswa-mahasiswa yang dihasilkan pun akan berkualitas."

Ken Andari,
yang lagi mumet sama tugas-tugas kuliah dan pengen mengerjakan banyak aktivitas di luar kuliah tapi belum bisa me-manage waktu dengan baik

Senin, 15 Juni 2009

Wartawan Profesional

Wartawan makin banyak. Namun yang manakah yang benar-benar profesional?

Menurut Alex Sobur dalam Etika Pers, Profesionalisme dengan Nurani (2001:83), ada lima hal yang tercakup dalam profesionalisme:
1. Profesional menggunakan organisasi atau kelompok profesional sebagai kelompok referensi utama
2. Profesional melayani masyarakat dengan baik, mengutamakan kepentingan umum
3. Profesional memiliki kepedulian atau rasa terpanggil dalam bidangnya
4. Profesional memiliki rasa otonomi.
5. Profesional mengatur dirinya sendiri (self regulation)

Ashadi Siregar dalam bukunya “Bagaimana Meliput dan Menulis Berita untuk Media Massa” memaparkan sejumlah karakteristik wartawan profesional:
1. Persiapan sebelum ke lapangan
Wartawan yang profesional selalu mempersiapkan diri sebaik-baiknya agar dapat membaca situasi dimana dia berada dan bekerja.
2. Menjalin hubungan baik
Wartawan profesional akan selalu menjaga hubungan baik dengan para sumber berita dan berbagai pihak yang dalam kehidupan sehari-hari mempunyai kontak langsung terhadap sumber berita.
3. Menjaga akurasi
Hal ini penting karena erosi kepercayaan terhadap profesionalisme wartawan bisa bersumber dari kekurangcermatannya ketika mengumpulkan fakta, yang bisa menyebabkan pembaca dan sumber berita menjadi tidak puas.
4. Menjaga keseimbangan
Tidak mudah bagi wartawan untuk menulis berita tentang konflik kepentingan atau perbedaan pendapat. Wartawan yang profesional akan menulis beritanya dengan seimbang, cover both sides dan tidak memihak.
5. Mengutamakan objektivitas
Wartawan profesional selalu mengutamakan objektivitas, dan memperlakukan fakta apa adanya.
6. Menjunjung ketidakberpihakan
Berita tentang konflik kepentingan bisa dianggap menguntungkan atau merugikan salah satu pihak. Menulis berita yang memihak tabu bagi wartawan.
7. Menghindari tuntutan hukum
Wartawan profesional selalu melakukan cek dan ricek terhadap hasil liputannya, sehingga bisa mengurangi kesalahan penulisan sumber atau fakta. Umumnya ketergangguan akibat pernyataan pers dapat berupa pencemaran nama baik, dan gangguan terhadap kepentingan umum.
8. Menjaga etika profesi
Wartawan profesional yang memandang kewartawanan sebagai profesi yang memiliki harkat, harus turut menjaga ancaman erosi terhadap martabat profesi. Wartawan profesional mengutamakan kepentingan publik dan menaati etika.
9. Memahami politik keredaksian
Agar berita yang dimuat diminati pembaca, bermanfaat dan layak dibaca, bukan hanya redaktur yang harus bertanggung jawab, wartawan juga. Wartawan profesional bisa memahami politik keredaksian.

Asep Syamsul M. Romli dalam bukunya Jurnalistik Terapan menuliskan setidaknya ada enam standar profesi wartawan sejati (real journalist), diantaranya:
1. Well selected, maksudnya wartawan harus memenuhi kriteria profesionalisme, seperti memiliki keterampilan jurnalistik serta mnaati kode etik jurnalistik.
2. Well educated, maksudnya wartawan perlu melalui tahap pendidikan kewartawanan, setidaknya melalui pelatihan jurnalistik yang terarah secara baik
3. Well trained, artinya terlatih dengan baik sehingga berita yang kita terima menjadi cermat, enak dibaca, dan tidak menyesatkan
4. Well equipped, artinya dilengkapi peralatan memadai seperti alat tulis, alat rekam, kamera, alat komunikasi, dan sebagainya, supaya dapat bekerja secara optimal.
5. Well paid, maksudnya digaji secara layak supaya tidak ada pemerasan penyalahgunaan profesi wartawan.
6. Well motivated, artinya memiliki motivasi dan idealisme.

Profesi wartawan adalah profesi yang membutuhkan keterampilan, watak, semangat, dan cara kerja tertentu. Dalam persepsi diri para wartawan sendiri, istilah “profesional” memiliki tiga arti :
1. Profesional adalah kebalikan dari amatir.
2. Sifat pekerjaan wartawan menuntut pelatihan khusus.
3. Norma-norma yang mengatur perilakunya dititikberatkan pada kepentingan khalayak pembaca.
Selanjutnya, terdapat dua norma yang diidentifikasikan, yaitu :
1. Norma teknis (keharusan menghimpun berita dengan cepat, keterampilan menulis, menyunting, dsb.).
2. Norma etis (kewajiban kepada pembaca serta nilai-nilai, seperti tanggung jawab, sikap tidak memihak, sikap peduli, sikap adil, objektif dan lain-lain, yang semuanya harus tercemin dalam produk penulisannya).

Pendek kata, menurut saya wartawan profesional adalah wartawan yang melaksanakan profesinya dengan penuh tanggung jawab.

Selasa, 21 April 2009

Pentingnya EYD dalam Bahasa Jurnalistik

Kita membutuhkan media massa untuk memenuhi kebutuhan kita akan informasi. Setiap hari kita membaca surat kabar, majalah, dan menonton siaran berita di televisi dan radio untuk memahami apa yang terjadi dengan lingkungan kita. Artinya, setiap hari kita berhadapan dengan penggunaan bahasa jurnalistik, yang hingga kini masih bisa kita.

Tapi tak banyak khalayak yang menyadari bahwa bahasa jurnalistik penting bagi pembaca. Kebanyakan khalayak hanya tahu membaca, membaca, dan membaca. Setelah itu, ya entah bagaimana nasib surat kabar tersebut. Ada yang berakhir di tumpukan koran, ada yang disimpan untuk dikoleksi sebagai sejarah, ada juga yang menjadi bungkus cabai di tukang sayur.

Seorang jurnalis harus memiliki kemampuan menulis yang luar biasa, yang bisa membius, bahkan memanjakan keingintahuan dan imajinasi pembaca. Tentu saja, bagaimana kita bisa betah membaca surat kabar yang berisi sekian banyak halaman, sekian ratus berita setiap harinya, jika kata-kata yang digunakan cenderung “acak-acakan”, tidak teratur, tidak menarik, dan terlalu panjang. Khalayak tentu akan lebih memilih surat kabar atau majalah dengan susunan bahasa jurnalistik yang paling baik, menarik, dan mudah dimengerti.

Media massa memiliki tiga fungsi pokok, yaitu fungsi informasi, edukasi, dan hiburan. Nah, bisa jadi inilah yang menjadikan mengapa bahasa jurnalistik haruslah komunikatif, menarik, dan yang paling penting, berdasarkan aturan yang berlaku, dalam hal ini EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) dan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) contohnya. Media massa yang memegang fungsi edukasi ikut memiliki andil dalam mencerdaskan bangsa, sehingga penulisannya tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Sebuah media massa nasional yang bermodal besar pun, kalau tidak didukung oleh penggunaan bahasa jurnalistik dan EYD yang sesuai, bisa dipastikan akan berkurang pembacanya dan menurun kredibilitasnya sebagai sarana belajar dan informasi khalayak.

Kunjana Rahardi dalam bukunya Asyik Berbahasa Jurnalistik: Kalimat Jurnalistik dan Temali Masalahnya mengemukakan bahwa sosok bahasa di dalam ragam jurnalistik atau bahasa pers yang menunjuk pada bahasa yang dipakai untuk menyampaikan sosok fakta, laporan, berita, sosok tulisan yang terjadi hari ini, saat ini. Jadi bukan sosok peristiwa yang terjadi di masa lalu. Itulah sebabnya bahasa jurnalistik harus dinamis, meskipun tetap tak bisa lepas dari aturan-aturan dan etika yang berlaku. Gaya penulisan merupakan selera masing-masing penulis dalam mengungkapkan informasi dan berita, tetapi standard kebahasaan sifatnya baku.

Ada lima ciri dalam ragam bahasa jurnalistik, yaitu komunikatif, spesifik, hemat kata, jelas makna, serta tidak mubazir dan tidak klise (Kunjana, 2005 : 20). Akan tetapi, meskipun menggunakan prinsip ekonomi kata, menurut Rosihan Anwar (2004) bahasa jurnalistik sama sekali tidak boleh mengabaikan ketentuan-ketentuan bahasa baku dan kaidah-kaidah ejaan serta aturan tata tulis yang berlaku. Mulanya, filosofi koran memang efsiensi bahasa karena keterbatasan space, asalkan maknanya benar. Dalm artian, kata-kata yang tidak menghilangkan makna bisa dipotong. Tapi tentu tidak sebatas memperpendek kata, sebab kalau sekadar memperpendek kata, surat kabar bisa menggunakan bahasa SMS. Surat kabar dibaca orang banyak dari berbagai kalangan, maka bahasanya harus jelas, jernih, tidak membuat orang bingung ketika membaca.

Menurut Ashadi Siregar dalam bukunya Bagaimana Meliput dan Menulis Berita untuk Media Massa, penguasaan wartawan atas bahasa yang digunakan untuk menyampaikan suatu informasi sangat menentukan apakah informasi itu dapat dipahami pembaca. Walaupun informasi itu penting bagi pembaca, jika disampaikan lewat bahasa yang buruk sehingga sukar dimengerti, berarti wartawan gagal menjalankan perannya dengan baik.

Ashadi Siregar juga mengungkapkan bahwa penggunaan bahasa yang cermat dalam penulisan bukan semata-mata demi citarasa kebahasaan. Berita adalah rekonstruksi tertulis, hanya lewat bahasa yang cermatlah rekonstruksi tertulis itu dapat menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi. Apabila kata, kalimat, atau alinea ditulis tanpa kecermatan, besar kemungkinan antara gambaran yang diperoleh pembaca dan kenyataan jauh berbeda. Gambaran yang melenceng itu terbentuk bukan hanya karena pilihan kata atau susunan kalimat yang salah, melainkan juga akibat pilihan kata atau susunan kalimat yang justru memperhalus makna (eufimisme) dan sesungguhnya tidak perlu dilakukan.

Demikianlah sebabnya, mengapa bahasa jurnalistik harus berdasarkan ketentuan-ketentuan yang berlaku, termasuk EYD. EYD itu tentu sudah dipertimbangkan kejelasan dan keefektifannya serta masih terus diperbaharui, mengikuti sifat bahasa itu sendiri yang dinamis. Kalau bahasa jurnalistik mau dibawa kabur dari ketentuan EYD, kemana lagi kita akan berpijak?

Seringkali kita mendengar analogi seperti ini: bila seorang prajurit menggenggam senapan dengan butiran peluru sebagai senjatanya, maka seorang jurnalis memiliki kertas dan pulpen dengan butiran kata-kata yang siap “menyerang”. Jurnalis harus memiliki kemampuan dalam mengefektifkan penggunaan bahasa di media massa, yang juga memperhatikan prinsip ekonomi kata. Bahasa jurnalistik. Penggunaan bahasa jurnalistik penting agar informasi dalam bentuk laporan berita ini dapat dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. Dengan begitu tujuan utama kegiatan jurnalistik pun dapat tercapai, yakni menyampaikan informasi kepada khalayak luas. Begitulah salah satu cara pers memainkan peranan edukasinya kepada masyarakat Indonesia.

Senin, 09 Februari 2009

Membangun Indonesia dengan Kemerdekaan Pers

Indonesia adalah salah satu negara yang terbilang unik, di mana konsep kebangsaannya dibangun di atas tradisi cetak, alias dunia pers dan surat kabar. Hal ini dapat dilihat dari sebagian besar founding fathers kita adalah para penulis handal. Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Rasuna Said, Dr. Soetomo, dan tokoh bangsa lain, juga menjadi pemimpin surat kabar. Surat kabar dan pers ini digunakan untuk menyampaikan ide-ide mereka tentang kemerdekaan dan pembelaan terhadap rakyat yang ditindas pemerintahan kolonial.

Sejak dulu, efektivitas pers sebagai alat propaganda memang sudah tidak diragukan lagi. Tentu kita tahu propaganda yang dilakukan PKI (Partai Komunis Indonesia) lewat salah satu majalahnya, Lekra yang laku keras saat itu. Tapi tentu saja bukan hanya PKI yang punya media. Salah satunya adalah “Soenda Berita”, sebuah surat kabar yang didirikan, dibiayai, dipertahankan oleh seorang pribumi, Tirtoadhisoerjo. Kemudian banyak bermunculan ide pergerakan kebangsaan yang disalurkan melalui tulisan-tulisan yang membakar semangat anak bangsa di berbagai media massa.

Salah satu surat kabar yang cukup terkenal dan bisa bertahan lama adalah Medan Prijaji. Surat kabar ini juga dirintis oleh Tirtoadhisoerjo. Meskipun namanya “Medan Prijaji”, surat kabar ini boleh dibaca semua orang, bukan hanya untuk mereka yang berasal dari kalangan bangsawan atau priyayi. Bahkan saat itu, Medan Prijaji menjual sahamnya kepada para pembaca, untuk menegaskan prinsip mereka, sebagai korannya rakyat. Dari sini, kita bisa melihat bahwa ungkapan bahwa pers merupakan “the fourth estate” dalam suatu negara tidaklah salah, bahkan pers bisa jadi suatu wujud kekuatan yang lebih besar lagi dalam suatu negara. Dikatakan, kita bisa membangun ideologi negara yang berawal dari idealisme pers dan kesamaan visi dalam menyejahterakan rakyat Indonesia.

Sebelum reformasi, keadaan dunia pers kita sangat jauh dari kebebasan. Baik penguasa Orde Lama maupun Orde Baru, keduanya takut terhadap kebebasan pers. Banyak alasannya, revolusi belum selesai-lah, menjaga stabilitas pembangunan-lah. Namun pasca reformasi, angin segar menyambut dunia pers kita. Salah satunya adalah dengan ditetapkannya UU No. 40 tahun 1999 yang merupakan salah satu indikasi bebasnya pers kita. Tapi apakah hal itu kemudian bisa dijadikan tolok ukur kemajuan pers kita? Kalau dinyatakan pers kita sudah maju, memangnya pers kita punya apa?

Dari sejak awal munculnya, tarik-menarik antara idealisme media massa dan komersialisme pasar memang tak ada habisnya. Karena ternyata lama kelamaan orang media itu sendiri menyadari, bahwa pers bukan sekadar ideologi, tapi juga pasar. Apalagi akhir-akhir ini, ketika pers semakin nyata menjelma menjadi sebuah industri, dimana berita dan khalayak menjadi komoditas yang bernilai dagang tinggi. Kebebasan pers banyak disalahartikan.

Hal ini diakibatkan oleh lemahnya regulasi atau kebijakan yang ditetapkan pemerintah terhadap pers dan pasarnya. Hasilnya, pengertian kebebasan pers saat ini justru terkait dengan banyak kepentingan yang justru memenjarakan makna kebebasan itu sendiri. Kita selama ini masih banyak menuliskan apa yang dikatakan pemerintah. Kita belum bisa banyak menuliskan realita dan memaparkannya sebagai suatu ide yang mencerdaskan masyarakat. Dalam UU NO. 40 tahun 1999 itu juga ada sebuah kalimat yang tampaknya sedikit mengganggu prinsip idealisme pers, yaitu pers yang dinyatakan bisa berfungsi ekonomi.

Ini dia masalahnya, ketika orang-orang pebisnis melihat kesempatan emas di sini. Yang dkhawatirkan adalah, ketika fungsi konvensional pers terbawa fungsi ekonomi ini. Contohnya, banyak terbit pers kuning, atau tabloid gosip dan kriminal yang menjual mimpi dan kesengsaraan. Pers ini bukan kontrol sosial, atau alat mencerdaskan bangsa. Masyarakat kini sudah semakin pintar, mereka sendiri yang akan memberikan sanksi terhadap pers yang partisan. Toh buktinya, surat-surat kabar yang beridealisme tinggi tetap bertahan, bahkan telah memiliki pasarnya sendiri.

Guru besar sejarah Unpad, DR. Nina Herlina Lubis memberikan contoh yang apik mengenai keseimbangan yang baik antara ideologi dan permintaan pasar yang belum berjalan seimbang. Ia meneladani sosok Rosihan Anwar, yang sangat fleksibel dalam menentukan kebijakan pers yang dipimpinnya, di hadapan kuasa Orde Baru kala itu. Saat Mochtar Lubis memilih untuk mati demi mempertahankan idealismenya (Indonesia Raya), Rosihan Anwar masih bisa berbelok sedikit dan mengikuti aturan yang ada, untuk bisa bertahan dan menjadi lurus kembali.

Solusi yang dibutuhkan saat ini adalah tegasnya regulasi atau kebijakan dari pemerintah. Para insan pers juga seharusnya bisa lebih menghargai karya dan keutuhan konsep pers, yang menjadi simbol kebebasan. Dibutuhkan juga adanya pembinaan terhadap para wartawan maupun calon wartawan serta pers kuning, supaya media-media massa kita menjadi media yang sehat, mencerdaskan bangsa, serta tidak merusak idealisme dan makna kebebasan pers.

DR. Nina Lubis juga mengungkapkan, bahwa untuk menjadi idealis, wartawan harus digaji cukup, supaya ia tidak menerima uang dari sana-sini. Wartawan juga harus moderat. Pers harus menjalankan fungsinya sebagai kontrol sosial, yang siap berjuang dari rakyat untuk rakyat. Wartawan bukanlah pekerjaan sampingan, ia harus punya ideologi yang kuat dan nyata.

Jumat, 06 Februari 2009

Si Mbah

Nenek saya namanya Siti Hamidah. Semua orang memanggilnya dengan sebutan Mbah. Mbah itu satu-satunya grandparent saya, karena mbah-mbah yang lain udah pada meninggal. Bahkan saya tidak terlalu mengenal mbah-mbah yang lain (bapaknya Bapak dan kedua orang tuanya Ibu), sebab mereka meninggal saat saya masih sangat kecil. Nggak heran kalau saya sayaaaang banget sama Mbah Midah ini ^.^ Mbah saya ini orang Madura asli. Kata Bapak, Mbah keturunannya Raja Madura dulu. Makanya kulit Mbah putih, nggak kayak orang Madura lain yang cenderung gelap. Mbah saya juga tingkah lakunya kayak ningrat banget, rapi, jalannya anggun, kalo makan pake table manner, ya tipe-tipe perempuan Jawa rumahan. Tapi kalo soal gaya ngomong sih, sama aja kayak orang Madura umumnya, blak-blakan, rada galak, tapi lucu, hehehe. Mbah saya nih gaul dah orangnya, nggak kolot gitu. Suka bercanda sama cucu-cucunya.

Walaupun umurnya udah lebih dari 80 tahun, alhamdulillah sampe sekarang Mbah masih sehat. Nggak ada penyakit serius. Paling batuk, pegel-pegel, kata Mbah, biasalah namanya juga orang tua. Rahasianya, Mbah ini idupnya bahagia banget, dikelilingi sama cucu-cucu yang sayang banget sama beliau... Rumahnya nggak sepi deh. Terus, Mbah itu makannya sehat banget, serba ‘godokan’, alias serba direbus, non kolesterol, non lemak. Eits, jangan salah, biarpun cuma godokan, masakannya semua enak! Kalo masak buat diri sendiri, paling sayur bening, bandeng, yah pokoknya yang light bumbunya, tapi uenak’e rek! Nyam nyam... Kalo buat cucu-cucunya, baru deh masak masakan khas Jawa Timur, yang rasanya Jawa Timur banget: ikan pari bumbu rujak, rawon, telor bali, tahu balap, gule kacang ijo, wah poko’e maknyuss...! Mbah ini juga rajin minum susu dan sangat konsisten menjaga berat badannya. Hidupnya teratur, makan, tidur, ngaji, semua dijaga.



Bapak saya hobi banget ngajak Mbah jalan-jalan, abis seru sih kalo sama Mbah! Yang penting Mbah nggak perlu duduk lama dan merasa nyaman selama perjalanan. Dari mulai Taman Safari sampe Bunaken sampe umroh semua pernah. Ke mall juga sering. Biarpun masih make kebaya, sarung, dan selendang (kayak perempuan Jawa dulu lah), Mbah saya nggak katro loh! Naek eskalator, naek lift, naek pesawat, makan di restoran hotel bintang lima, keciiil...! Hahaha! Dan biar kemana aja, bahkan sampe pas naek haji dan umroh sekalipun, Mbah saya ini selalu pake pakaian tradisionalnya. Nggak mau dibeliin pakaian jaman sekarang. Tapi jangan salah, kebaya, sarung dan selendang Mbah nggak murahan. Sarungnya batik asli, selendangnya keren-keren, dan bajunya pake bahan yang mahal. Habisnya dibeliin baju-baju modern yang mahal sama anak-anaknya nggak mau.

Soal pakaian yang tradisional ini, ada cerita lucu. Yaitu saat tahun 2004, waktu kita ngajak Mbah umroh. Dari sejak pertama datang di Jeddah, Mbah udah jadi pusat perhatian gara-gara pakaiannya yang sangat berbeda dari orang-orang sana. Waktu solat di Masjidil Harom juga, berkali-kali sarung Mbah ditarik-tarik sama perempuan Arab atau Turki. Mereka senyum-senyum naksir gitu liat motif batik. Waaa Mbahku membawa misi mempromosikan budaya Indonesia ternyata, hahaha! Gaul yah.

Nah, sewaktu kita baru sampai di airport Madinah, turun dari pesawat kita diperiksa dulu sama petugas keamanan perempuan, masuk ke ruangan khusus pemeriksaan (kalo cowok kan di luar aja diperiksanya). Semua logam dikeluarkan, terus badan kita diperiksa pake alat pendeteksi logam yang panjang itu loh, yang kalo ada sesuatu dia bunyi, niit niit... Saya lolos, ibu lolos. Lha emang kita kagak bawa apa-apa kan. Eh pas si Mbah diperiksa, alat itu bunyi. Wah kita langsung kaget kan, emang Mbah bawa apa gitu?! Pikiran gw langsung ngayal-ngayal, jangan-jangan ada orang tak bertanggung jawab yang ngumpetin sesuatu di Mbah, dan memperdaya Mbahku yang tidak tahu apa-apa ini. Si petugas keamanan langsung jadi galak gitu, nyuruh Mbah buka bajunya. Saya dan ibu tentu saja pucat, khawatir, sementara Mbah ngomel-ngomel pake bahasa Madura ke petugas keamanan itu yang katanya kurang ajar. Saya bilang, ikutin aja Mbah, karena saya juga penasaran, emang Mbah bawa apa gitu? Dan pas Mbah baru ngangkat bajunya, eng ing engggg.........! Serentetan peniti yang dipake Mbah di korsetnya itulah yang ternyata membuat alat pendeteksi bom itu berbunyi! Mbah saya dikira bawa peluru! Hahaha! Sumpah ya, saat itu juga saya dan ibu ketawa ngakak! Si petugas keamanan yang tadinya tampangnya galak, jadi mati-matian nahan senyum (menjaga wibawa) dan bilang, “Andonesi?” Iya, kita orang Indonesia dan itu nenek gue make korset dan rentetan peniti di balik sarung batiknya, bo! Kalo lw kagak tau, itu fungsinya biar sarung nggak melorot, cing!

Bapak saya dan Niko (adek) udah nunggu di luar dengan tampang khawatir, kok ni orang bertiga lama bener diperiksanya? Terus akhirnya kita bertiga keluar, saya dan ibu ketawa ngakak nggak berenti-berenti, sementara Mbah masih ngomel-ngomel sambil benerin sarung yang direcokin petugas keamanan tadi. Percuma Mbah marah-marah juga mereka kagak ngarti, hahaha! Dan makin ngedumel waktu kita jelasin bahwa tadi itu alat pendeteksi bom, dan Mbah dikira nyembunyiin peluru di balik baju, yang ternyata adalah peniti dan korset, ahahahaha! Mbah ngomel sampe bilang “Wedhus wong iku!”

Ada juga kejadian lucu baru-baru ini. Mbah bilang, matanya sekarang udah mulai perih kalo dipake baca Al-Qur’an lama-lama. Akhirnya diajaklah Mbah ke dokter mata sama tante. Sesampainya di dokter mata, seperti biasa kan kita dikasih kaca mata, kemudian disuruh MEMBACA ABJAD dari yang paling besar sampai ke yang paling kecil.

Helooooww... ini nenek udah 80 tahun lebih umurnya, hidupnya di jaman penjajahan, kagak pernah sekolah, eh malah disuruh baca abjad! Plis de ah. Pertamanya Mbah diem aja, pas disuruh baca Mbah langsung berdiri dan ngomel-ngomel ke dokter matanya pake bahasa Madura. “Wong goblok ngene kok disuruh mbaca ki piye! Nek dikasi Qur’an, wis, ta’ telen!”...dan seterusnya. Malah si Mbah minta ABC nya itu diganti aja pake alif-ba-ta-tsa. Akhirnya si dokter mata menyadari kekhilafannya (ini yang bego siapa, ya?) dan minta maaf sama Mbah sambil ketawa-ketawa. Akhirnya sibuklah si dokter mencari-cari Al-Qur’an berbagai ukuran buat ngetes penglihatannya si Mbah. Barulah si Mbah puas dan mau dites, pake Al-Qur’an. Terus Mbah berpesan ke dokter mata, lain kali kalo ngetes penglihatan nenek-nenek kayak dia, jangan disuruh baca ABC. Mustinya bu dokter punya juga yang alif-ba-ta-tsa.

Wah pokoknya Mbah saya nih lucu banget dah! Gahul pisan! Itu yang membuat saya selalu kangen sama beliau, sama masakannya, sama cerita-ceritanya, sama omelannya, semuanya! I love you, Mbah sayaaaang...!

Senin, 02 Februari 2009

Senyuman untuk Petugas Gerbang Tol

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana rasanya duduk berjam-jam di dalam sebuah ruangan yang sempit, di tengah deru kendaraan, sendirian? Pasti gerah, bosan, pegel, pusing kepala... ya, siapa yang tak pernah lewat jalan tol? Siapa yang tak pernah bayar atau ambil karcis di gerbangnya?

Kita semua pasti sudah ribuan kali melakukan hal itu. Lewat gerbang tol, berhenti untuk bayar atau ambil karcis dari petugas, dan wusss... ngebut lagi. Pernahkah kita menyadari, setidaknya, bahwa ada seorang petugas, seorang manusia di sana, di dalam loket kecil itu? Bahwa yang memberikan tiket itu adalah seseorang seperti kita yang punya wajah, perasaan, dan perut? Sepertinya tak semua orang menyadari. Tapi Bapak saya berbeda. Salah satu yang saya sukai darinya adalah tentang hal-hal kecil yang ia lakukan, namun besar maknanya bagi orang lain. Seperti juga hal kecil yang selalu ia lakukan kepada para petugas pintu gerbang tol: tersenyum dan menyapa.

Setiap melewati pintu gerbang tol, Bapak dengan wajah dan senyum yang jenaka, selalu menyapa ramah petugas yang duduk di sana. Tak jarang Bapak juga melontarkan lelucon sederhana yang bisa membuat mereka berdua tertawa terbahak-bahak layaknya kawan yang sudah lama kenal. Yang tak pernah ketinggalan, Bapak selalu menyapa nama petugas tersebut, yang terpampang di kaca loket. “Selamat pagi Mas Haryanto! Sudah makan, Mas?” atau “Assalamualaikum, Mbak Siti! Jangan melamun aja, Mbak! Hehe...” Tak pelak, mereka tertawa senang mendengar teguran Bapak saya.

Lucunya, pernah juga Bapak udah dengan semangat ‘45 menyapa petugas yang di papan namanya tertulis “KHAERUDDIN”, tapi ternyata yang ada di dalamnya justru seorang Mbak berkerudung. “Assalamualaikum, Mbak Khaeruddin!” Lho?! Hahaha! Ibu, saya, dan adik tentu saja ketawa ngakak, sementara si “Mbak Khaeruddin” tersipu malu. “Saya lagi gantiin Mas Khaeruddin, Pak.” “Oh kirain namanya beneran Mbak Khaeruddin... Hehehe!”

Kebiasaan itu masih dilakukan Bapak sampai sekarang, malah kini banyak petugas gerbang tol yang duluan menyapanya. Padahal Bapak juga kayaknya udah lupa kalau dulu ia pernah menyapa Mas atau Mbak itu, tapi ya tetap saja senang, dikenal oleh orang yang tidak kita kenal, hahaha! Saya membayangkan kalau saya jadi petugas gerbang tol itu, pasti akan senang sekali. Di antara ribuan pengemudi mobil yang mungkin tak menyadari bahwa ada seorang manusia di sana, kemudian ada seorang pengemudi yang datang dengan senyum dan sapaannya. Layaknya setetes embun di tengah padang pasir, hehehe... Walau kadang konyol, setidaknya Bapak saya menganggap para petugas gerbang tol itu ada, sebagai manusia, bukannya sebagai sebuah robot atau mesin yang tinggal dipencet tombol, ambil tiketnya. Bapak saya mengakui eksistensi mereka sebagai seseorang yang punya hati, punya perasaan. Bapak saya menghargai keberadaan mereka, hanya dengan hal paling sepele sekaligus paling bermakna: senyuman.

Dalam keluarga, saya memang dididik untuk tidak meremehkan hal-hal kecil, apalagi senyuman. Bapak selalu mengingatkan saya untuk tersenyum, kepada orang-orang yang tidak dikenal sekalipun. Tukang siomay, pemulung, nenek-nenek pemanggul kayu bakar, anak kecil, semuanya! Bagi saya, kalau saya lagi badmood dan tiba-tiba seseorang (apalagi yang tidak saya kenal) tersenyum tulus kepada saya, bisa dipastikan beban saya akan terasa berkurang. The power of smile, saya sudah tidak meragukan itu.

Ada juga misalnya saat Ibu saya ingin menyumbang untuk anak-anak sebuah kampung yang cukup terpencil di daerah Pandeglang. Ibu saya mikir, apa lagi yang harus disumbangkan, ya? Baju, seragam sekolah, sepatu, alhamdulillah sudah banyak yang ngasih. Kemudian Ibu teringat satu hal: celana dalam! Ya, itu dia! Kalau kamu ke kampung-kampung terpencil, coba deh perhatikan celana dalam yang dikenakan anak-anak kecilnya. Kebanyakan sudah kumal, kotor, kedodoran, nggak nyaman lah pokoknya. Jelek-jelek lagi. Padahal tentu kita semua tahu, celana dalam itu ‘kan kita pakai setiap hari, dan berfungsi melindungi bagian tubuh kita yang cukup sensitif. Harus selalu bersih, harus nyaman, tidak boleh lembab. Kalau banyak kuman di selangkangan, tentu banyak penyakit nantinya.

Akhirnya jadilah Ibu pergi ke pasar membeli berbagai macam model celana dalam dan kaos dalam. Warna-warni, banyak rendanya. Pokoknya lucu-lucu deh. Dan ketika anak-anak kampung itu menerima celana dalam-celana dalam mereka, waaaa mereka senang sekali! Ada yang langsung dipakai, nggak mau dicopot-copot. Ada juga yang maunya pake celana dalam aja, nggak mau pake baju lagi. Waduuh gawat juga ya, hihihi. Senang juga melihat anak-anak itu sekarang udah pake celana dalam yang bagus, warna-warni, nggak kumal dan kedodoran lagi. Orang-orang senengnya membeli makanan, baju mahal-mahal, tapi sedikit sekali yang inget bahwa pakaian yang paling deket nempel dengan kulit kita adalah celana dalam dan kutang, dan betapa kenyamanan pakaian dalam sangat penting adanya. Begitulah, betapa hal-hal kecil yang penting ternyata sering luput dari perhatian kita. Saya sangat beruntung dibesarkan dalam keluarga yang selalu menghargai hal-hal kecil itu.

Kamis, 29 Januari 2009

Jangan Dekat-Dekat Bom, Ayah..

Cerpen oleh: Ken Andari

“Ayah pergi dulu, ya. Dah Arif sayang, Ayah pasti cepat pulang! Jaga Bunda dan Arif ya Ris, jagoan Ayah,” ujarnya sambil mengacak rambutku. Aku hanya bisa terpaku memandangi punggung kekarnya yang kian menjauh. Ayah harus pergi lagi. Kali ini ke Mesir, perbatasan Rafah tepatnya. Di sanalah Ayah akan bertugas, mengabarkan situasi langsung dari Gaza untuk dunia.

Ya, ayahku adalah seorang wartawan televisi. Ia tak pernah berhenti mencari berita, karena memang berita tak pernah habis. Namun karena ayahku memang wartawan senior, ia kerap diberikan tugas liputan yang berat-berat. Seringkali ke daerah konflik atau daerah bencana.

Tahun 2004 lalu misalnya, ketika situasi di Aceh sedang panas-panasnya, Ayah dikirim ke sana. Aku dan Bunda sangat khawatir, tapi setiap malam Ayah menelepon dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Selama satu minggu, kami masih bisa bernafas lega karena Ayah tak pernah absen mengabari kami. Namun tiba-tiba pagi hari tanggal 26 Desember 2004 peristiwa itu terjadi. Tsunami besar menghantam Aceh, seluruh kota luluh lantak. Lebih dari seratus ribu orang meninggal dunia. Selebihnya hilang disapu lautan yang mengamuk. Aku sedang ujian akhir semester saat itu. Dan aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi mengerjakan soal. Pikiranku selalu tertuju pada Ayah, dimana dia? Apakah ia baik-baik saja? Bagaimana keadaannya sekarang? Adakah ia terluka? Atau... ah tidak! Berbagai bayangan buruk tak henti mengusik pikiranku.

Tentu saja, kita semua tahu Aceh benar-benar hancur kala itu. Listrik terputus, saluran komunikasi tidak ada, makanan sulit. Banyak daerah yang terisolasi. Selama satu minggu tak ada kabar dari Ayah. Semua orang masih sibuk mengevakuasi jenazah yang ribuan jumlahnya. Aku tak pernah mau melihat liputan televisi atau foto-foto di media cetak. Apalagi foto para korban meninggal. Aku takut. Aku takut akan melihat sosok yang kukenali... Bunda pun tampak layu. Ia selalu berusaha tersenyum di hadapanku, mencoba menguatkanku dan bilang bahwa Ayah akan baik-baik saja, tapi aku tahu saat aku tak ada, Bunda menangis sejadi-jadinya.

Saat itu kami benar-benar digantung. Tersiksa betul rasanya. Akhirnya, seminggu kemudian Pak Andi, pemimpin redaksi Ayah menelepon kami dan mengabarkan bahwa Ayah baik-baik saja. Ayah sedang berada di bukit, dalam hutan bersama kelompok GAM ketika tsunami terjadi. Ayah selamat, tapi baru bisa pulang sepuluh hari kemudian. Ia tampak lusuh dan tertekan, tapi matanya berbinar seketika ia menatap kami kembali.
Sejak itu, Ayah semakin sering menyediakan waktu untuk kami. Agaknya Ayah merasakan betul bahwa apapun bisa terjadi dalam hidup. Ia harus siap menghadapi segala kemungkinan terburuk. Ia tak tahu kapan akan ditugaskan lagi. Mungkin besok, lusa, atau bulan depan. Mungkin ke Irak, Afghanistan, atau Rwanda. Aku tak tahu, Ayah pun tak tahu. Karena memang tak ada yang tahu, apa yang akan terjadi esok. Adik kecilku yang masih berumur lima tahun, Arif, setiap hari selalu bilang dengan polosnya, ”Ayah jangan pergi lagi...” Ayah biasanya cuma tersenyum. Ia tak bisa janji. Arif tak akan mengerti. Itu sebabnya ia menangis lagi ketika Ayah pergi tadi pagi.

Aku pun tak mau Ayah pergi. Aku sudah lihat pemberitaan di media massa tentang betapa kacaunya situasi di Gaza. Pasukan Israel menyerang siapa saja dengan membabi buta. Anak-anak, wanita, orang tua, semua terluka. Aku tahu, wartawan tidak boleh diserang di medan perang. Tapi tentu saja, kekhawatiran itu tetap saja ada. Kalau para tentara biadab itu saja tidak memandang anak-anak dan wanita, bagaimana mau menjamin keselamatan wartawan? Makanya, kami tak henti berdoa.

Sebenarnya menyenangkan jadi anak seorang wartawan. Bangga rasanya. Berkat merekalah kita jadi tahu banyak informasi dari berbagai belahan dunia. Ayah sudah terjun ke dunia jurnalistik sejak muda. Ia dahulu aktivis di kampusnya. Sebelum menikah pun, Ayah sudah bekerja sebagai reporter di sebuah surat kabar terkemuka ibukota. Berarti sudah lebih dari 13 tahun Ayah mengabdi kepada masyarakat dengan menjadi wartawan. Ya, Ayah bilang menjadi wartawan berarti memegang amanat masyarakat, karena wartawan mewakili right to know dan right to inform khalayak luas. Karena itu, Ayah tak pernah mengeluh meskipun gajinya tak sebesar kawan-kawan lain yang bekerja di perusahaan swasta. Kata Ayah, ia bekerja bukan untuk digaji perusahaan, tapi ia bekerja untuk memenuhi kepuasan khala-yaknya. Dan satu lagi, yang menurutku paling keren, Ayah bekerja untuk kebenaran.

Karena Ayah seorang wartawan, nilai-nilai jurnalistik ia terapkan juga dalam mendidik anak-anaknya di rumah. Misalnya, tepat waktu, harus bersikap kritis, tak boleh asal berbicara, apalagi berbohong. Ayah juga sangat demokratis. Ia tak pernah melarang anak atau istrinya melakukan sesuatu. Biarpun aku dan Arif masih kecil, ia bicara dan memperlakukan kami berdua layaknya orang dewasa. Kalau ada masalah kami tidak pernah dimarahi, melainkan diajak duduk bersama di ruang tamu dan mendiskusikan masalah tersebut.

Ayahku pengetahuannya luas sekali, seperti ensiklopedi berjalan. Seaneh apapun pertanyaan yang pernah aku ajukan kepadanya, tak satu pun yang tak bisa dijawabnya. Waktu memang tak akrab denganku dan Ayah, sebab ia pergi sangat pagi. Kadang pulang pagi lagi. Tapi setiap kali pulang, selalu banyak hal, banyak cerita yang ia uraikan kepada kami. Makanya rindu kami pada Ayah tak pernah musnah, walau ia jarang di rumah.

Seperti hari ini. Sudah seminggu sejak Ayah berangkat ke Gaza. Situasi di sana sudah semakin menggila. Hari ini, sudah hampir 500 orang warga sipil terbunuh. Tentara Israel benar-benar tak menghargai jiwa. Setiap hari, kami bertiga tak pernah ketinggalan mengikuti program berita. Sebab pada sesi liputan khusus mengenai krisis di Jalur Gaza, kami bisa melihat Ayah di layar kaca yang sedang melaporkan langsung dari perbatasan Rafah. Ayah dan rombongan relawan Indonesia lainnya memang belum bisa memasuki Gaza, karena tentara Israel masih memblokadenya.

Walaupun cuma lewat televisi, itu sudah cukup mengobati kerinduan kami. Kami juga bisa tahu, bahwa Ayah baik-baik saja. Meskipun tak jarang kami nyaris histeris melihat bom atau granat meledak hanya sekian kilometer dari tempat Ayah berdiri. Atau suara gemuruh pertempuran jarak dekat yang juga terdengar di antara suara Ayah yang sudah mulai serak. Suasana yang menyeramkan itu terbawa hingga ke ruang tamu kami. Setiap menonton liputan langsung Ayah, mata Bunda selalu berkaca-kaca. Tapi ia tidak mau menangis. Aku mengerti perasaan Bunda. Pasti campur aduk rasanya, rindu, khawatir, takut, sekaligus bangga. Aku juga. Aku bangga pada Ayahku yang pemberani.

Selama di Gaza, Ayah baru bisa menghubungi kami tiga kali. Itu pun ketika baru hari-hari pertama di sana. Selepas itu, mungkin situasi bertambah gawat sehingga Ayah tak sempat lagi menghubungi kami. Kini, cuma kabar dari Pak Andi dan gambar-gambar Ayah di televisi yang menjadi pengobat rindu kami. Ayah sama sekali tak pernah menelepon lagi. Setiap pagi, aku terbangun dan mendapati Bunda sudah duduk di depan televisi mengikuti berita pagi. Tentu saja, menunggu Ayah, apalagi? Bunda mengucapkan selamat pagi dan tersenyum, tapi kulihat matanya semakin hari semakin cekung. Aku mencium pipinya, mencoba membuat Bunda bahagia dan bersinar seperti biasanya. Aku ingat kata-kata Ayah sebelum ia berangkat, ”Haris jagoan Ayah, jaga Bunda dan Arif, ya!”

Tapi kurasa aku tak pernah benar-benar berhasil mengembalikan bintang di mata Bunda. Karena aku pun tak kuasa terbang lebih tinggi. Aku butuh Ayah, yang mengajari aku terbang, untuk mengambilkan Bunda bintang-bintang. Ayah, cepatlah kembali! Aku tak tahan melihat mata Bunda yang semakin meredup. Mataku pun kembali menghangat. Apalagi kalau men-dengar adikku, Arif bertanya, ”Ayah kapan pulang? Kok Ayah nggak pernah nelpon, Bunda? Arif kangen mau foto-foto lagi.” Ya, adikku itu meskipun baru 6 tahun umurnya, sudah jago memotret, loh. Pakai kamera Nikon Ayah. Aduh Dik, Ayah sendiri pun tampaknya belum tahu kapan ia bisa pulang. Karena konflik pun tampaknya belum akan berakhir.

Aku sedang duduk dan membaca buku-buku Ayahku, di ruang kerjanya. Ruang kerja Ayah kecil, tapi rapi sekali. Bukunya banyak, aku sudah baca hampir setengahnya. Sejak aku kecil, Ayah tak pernah menyodoriku buku mewarnai dan semacamnya. Ia malah membuatku penasaran dengan buku-buku ”orang gede”, seperti buku sastra atau buku tebal berbahasa Inggris. Kalau nggak ngerti, aku akan tanya pada Ayah. Maka tak heran, isi otakku sekarang agak berbeda dengan anak-anak kelas 2 SMP lain seusiaku. Bukan komik, bukan video game yang aku minati, melainkan buku.
Tiba-tiba telepon berdering. Aku mengangkatnya, dan aku langsung mendengar suara yang sangat aku kenali, Ayah!

”Assalamualaikum, Nak. Ini Ayah!”
”Wa’alaikum salam! Iya Ayah! Waa Ayah kok baru nelepon sih? Ayah kemana aja, kita kan nunggu-nungguin telepon Ayah! Ayah lagi di mana? Apa kabar, Yah?”
”Waduh, stop stop nanyanya satu-satu dong. Iya nih Rif, susah banget buat nelpon ke Jakarta dari sini. Maaf ya. Ayah sekarang lagi di Rafah. Satu jam lagi Ayah siaran, nonton ya! Hehehe...”
”Ayah jangan deket-deket sama bom dong, kita ’kan ngeri ngeliatnya.”
”Hahaha! Kadang kita ’kan juga nggak bisa memprediksi bomnya akan jatuh dimana. Tahu sendiri kan, gimana tentara Israel itu? Tapi tenang aja kok, banyak pasukan PBB di sini. Insya Allah, Ayah aman. Bunda sama Arif mana?”
”Bunda tadi lagi keluar, ada acara sama ibu-ibu RT. Arif dibawa. Mau dipanggilin?”
”Duh, nggak usah deh. Soalnya Ayah nggak bisa lama-lama. Salam aja ya, buat Bunda dan Arif. Salam sayang, salam kangen mmuah. Hahaha!”
”Oke. Ayah... cepat pulang....” suaraku tercekat.
”Iya Ayah pasti pulang bagaimanapun bentuknya. Hahaha! Titip rumah ya, Jagoan. Gantikan Ayah sebentar, oke? Assalamualaikum!”
”Wa’alaikum salam. Ayah, jangan....”
Tut...tut...tut... Sambungan telepon terputus.
...jangan dekat-dekat bom lagi.

Aku melirik jam. Wah sudah pukul lima sore. Waktunya lihat berita, lihat Ayah. Bunda belum juga pulang. Ya, aku menonton sendirian deh. Aku senang sekali habis ngobrol dengan Ayah. Aku lihat berita, ternyata situasi di Gaza semakin kacau saja. Israel semakin gencar mela-kukan serangan. Mereka bahkan mengebom rumah sakit, pengungsian, dan pos kesehatan PBB. Korban jiwa sudah mendekati angka seribu. Seluruh dunia mengutuk Israel, tapi hanya sebatas mengutuk. Mereka tidak bisa menghentikannya. Ffiuhh...tapi aku sudah lega karena Ayah baik-baik saja. Nah, itu dia Ayahku di layar kaca!

”Ya, pemirsa. Kembali Faisal Akbar melaporkan tentang situasi di Jalur Gaza, langsung dari perbatasan Rafah. Seperti bisa Anda lihat, pemirsa, di belakang saya...”

Wah baru kali ini saya tidak merasa sedih melihat Ayah. Rasa kangen saya sudah sedikit terobati. Sayang Bunda dan Arif tidak ada. Situasi di belakang Ayah sangat menyeramkan. Ada sekitar tiga atau empat asap hitam berbentuk cendawan raksasa yang mengotori langit gaza. Kemudian ada juga bom yang ditembakkan dari udara, yang asapnya berbentuk seperti ubur-ubur dan berwarna putih. Bom apa itu, ya? Duh Ayah, tadi ’kan aku sudah bilang, jangan dekat-dekat bom.

DHUAARRRR.....!!!
Suara gemuruh keras sekali. Aku tak bisa melihat apa-apa lagi di layar kaca, kecuali debu dan...darah! Astaga! AYAH!!! Bunda, tolong!! Bunda, aku sendiri! Bunda cepat kemari! Bunda, dimana kau Bunda? Bunda, aku mau lari...!!! Tapi tubuhku seperti terkunci di sofa. Mati rasa. Aku seperti mau mati. Aku tak mau percaya! Apa yang sedang terjadi? Darah siapa yang muncrat di kamera tadi? Ya Tuhan!

Ini siaran langsung, kawan! Ini sungguhan! Dan reporter itu Ayahku! AYAHKU! Seketika situasi kacau, suara tak jelas. Gambar mengerikan itu pun segera digantikan dengan gambar studio di Jakarta, yang penyiarnya tampak kalang kabut. Kedua penyiar berita sore itu berusaha tenang, tapi suara mereka hampir-hampir tercekat ketika mencoba menjelaskan apa yang terjadi kepada pemirsa. Penyiar yang perempuan bahkan tak bisa berkata-kata lagi, wajahnya memerah ketakutan. Air matanya hampir menetes. Semua orang di studio, semua pemirsa di rumah bingung apa yang terjadi. Apa yang harus dilakukan? Semua terjadi begitu cepat, dan tentu saja, sama sekali di luar bayangan kami semua! Ini siaran langsung! Berarti, saat ini, detik ini, apa yang terekam kamera barusan betul-betul sedang terjadi. Gambar yang terlalu mengerikan, terutama untukku!

Astaga, itu Ayahku! Ayahku yang baru saja menelepon satu jam yang lalu! Aku baru saja bicara dengannya! Ia bilang ia akan pulang! Peristiwa tadi kembali berputar dalam pikiranku. Suara gemuruh, debu, dan darah yang muncrat. Semua terekam jelas. Aku melihat peristiwa tadi, dengan mata kepalaku sendiri! Aku sendiri! Bunda, aku takut... Aku tak bisa bergerak Bunda! Bunda, cepat pulang... Kemudian terdengar suara pintu pagar rumah dibuka. Bunda! Terdengar suara si kecil Arif, ”Bunda, ayo cepat nanti kita ketinggalan nonton Ayahnya!” Bunda masuk, dan menyapaku, ”Mas Haris lagi nonton Ayah, ya? Kita udah ketinggalan belum?”

Aku mau mati rasanya.


***

Jumat, 16 Januari 2009

Cerpen: Jangan Terlalu Dekat Bom, Ayah!

“Ayah pergi dulu, ya. Dah Arif sayang, Ayah pasti cepat pulang! Jaga Bunda dan Arif ya Ris, jagoan Ayah,” ujarnya sambil mengacak rambutku. Aku hanya bisa terpaku memandangi punggung kekarnya yang kian menjauh. Ayah harus pergi lagi. Kali ini ke Mesir, perbatasan Rafah tepatnya. Di sanalah Ayah akan bertugas, mengabarkan situasi langsung dari Gaza untuk dunia. Ya, ayahku adalah seorang wartawan televisi. Ia tak pernah berhenti mencari berita, karena memang berita tak pernah habis. Namun karena ayahku memang wartawan senior, ia kerap diberikan tugas liputan yang berat-berat. Seringkali ke daerah konflik atau daerah bencana.

Tahun 2004 lalu misalnya, ketika situasi di Aceh sedang panas-panasnya, Ayah dikirim ke sana. Aku dan Bunda sangat khawatir, tapi setiap malam Ayah menelepon dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Namun tiba-tiba pagi hari tanggal 26 Desember 2004 peristiwa itu terjadi. Tsunami besar menghantam Aceh, seluruh kota luluh lantak. Lebih dari seratus ribu orang meninggal dunia. Selebihnya hilang disapu lautan yang mengamuk. Aku yang sedang ujian akhir semester, sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Pikiranku selalu tertuju pada Ayah, dimana dia? Apakah ia baik-baik saja? Adakah ia terluka? Atau... ah tidak! Berbagai bayangan buruk tak henti mengusik pikiranku.

Selama satu minggu tak ada kabar dari Ayah. Semua orang masih sibuk mengevakuasi jenazah yang ribuan jumlahnya. Bunda pun tampak layu. Ia selalu berusaha tersenyum di hadapanku, mencoba menguatkanku dan bilang bahwa Ayah akan baik-baik saja, tapi aku tahu saat aku tak ada, Bunda menangis sejadi-jadinya.

Akhirnya, seminggu kemudian Pak Andi, pemimpin redaksi Ayah menelepon kami dan mengabarkan bahwa Ayah baik-baik saja. Ayah sedang berada di bukit, dalam hutan bersama kelompok GAM ketika tsunami terjadi. Ayah selamat, tapi baru bisa pulang sepuluh hari kemudian. Ia tampak lusuh dan tertekan, tapi matanya berbinar seketika ia menatap kami.

Sejak itu, Ayah semakin sering menyediakan waktu untuk kami. Agaknya Ayah merasakan betul bahwa apapun bisa terjadi. Ia tak tahu kapan akan ditugaskan lagi. Mungkin besok, lusa, atau bulan depan. Mungkin ke Irak, Afghanistan, atau Rwanda. Aku tak tahu, Ayah pun tak tahu. Adik kecilku, Arif, setiap hari selalu bilang dengan polosnya, ”Ayah jangan pergi lagi...” Ayah biasanya cuma tersenyum. Ia tak bisa janji. Arif tak akan mengerti. Itu sebabnya ia menangis lagi ketika Ayah pergi tadi pagi.

Sebenarnya menyenangkan jadi anak seorang wartawan. Bangga. Ayah sudah terjun ke dunia jurnalistik sejak muda. Kini sudah lebih dari 13 tahun Ayah mengabdi kepada masyarakat dengan menjadi wartawan. Ya, Ayah bilang menjadi wartawan berarti memegang amanat masyarakat, karena wartawan mewakili right to know dan right to inform khalayak luas. Ayah tak pernah mengeluh meskipun gajinya tak sebesar kawan-kawannya. Kata Ayah, ia bekerja bukan untuk digaji perusahaan, tapi ia bekerja untuk memenuhi kepuasan khalayaknya. Dan satu lagi, yang menurutku paling keren, Ayah bekerja untuk kebenaran.

Karena Ayah seorang wartawan, nilai-nilai jurnalistik ia terapkan juga dalam mendidik anak-anaknya di rumah. Misalnya, tepat waktu, sikap kritis, tak boleh asal berbicara, apalagi berbohong. Ayah juga sangat demokratis. Biarpun aku dan Arif masih kecil, ia bicara dan memperlakukan kami layaknya orang dewasa. Kalau ada masalah kami tak pernah dimarahi, melainkan diajak duduk bersama di ruang tamu dan mendiskusikan masalah tersebut.

Ayahku pengetahuannya luas sekali, seperti ensiklopedi berjalan. Seaneh apapun pertanyaan yang ku ajukan kepadanya, semua bisa dijawabnya. Waktu memang tak akrab denganku dan Ayah, sebab ia pergi sangat pagi. Kadang pulang pagi lagi. Tapi iya selalu pulang dengan banyak cerita. Makanya rindu kami pada Ayah tak pernah musnah, walau ia jarang di rumah.

Seperti hari ini. Sudah seminggu sejak Ayah berangkat ke Gaza. Situasi di sana semakin menggila. Setiap hari, kami tak melewatkan sesi liputan khusus dari Jalur Gaza, karena saat itulah kami bisa melihat Ayah di layar kaca yang sedang melaporkan langsung.

Walaupun cuma lewat televisi, itu sudah cukup mengobati kerinduan kami. Kami juga bisa tahu, Ayah baik-baik saja. Meskipun tak jarang kami histeris melihat bom atau granat meledak hanya beberapa kilometer dari tempat Ayah berdiri. Suara gemuruh pertempuran jarak dekat juga terdengar di antara suara Ayah yang mulai serak. Suasana yang menyeramkan itu terbawa hingga ke ruang tamu kami. Setiap menonton liputan langsung Ayah, mata Bunda selalu berkaca-kaca. Tapi ia tidak mau menangis. Aku mengerti perasaan Bunda. Pasti campur aduk rasanya, rindu, khawatir, takut, sekaligus bangga. Aku juga bangga pada Ayahku yang pemberani.

Selama di Gaza, Ayah baru bisa menghubungi kami tiga kali. Selepas itu, mungkin situasi bertambah gawat sehingga Ayah tak sempat lagi menghubungi kami. Kini, cuma kabar dari Pak Andi dan gambar-gambar Ayah di televisi yang jadi pengobat rindu kami. Ayah tak pernah menelepon lagi. Setiap bangun pagi, aku mendapati Bunda sudah duduk di depan televisi mengikuti berita pagi. Tentu saja menunggu wajah Ayah, apalagi? Bunda mengucapkan selamat pagi dan tersenyum, tapi kulihat matanya semakin hari semakin cekung. . Aku ingat kata-kata Ayah sebelum ia berangkat, ”Haris jagoan Ayah, jaga Bunda dan Arif, ya!” Aku cium pipinya, mencoba membuat Bunda bahagia dan bersinar seperti biasanya.

Ayah, cepatlah kembali! Aku tak tahan melihat mata Bunda yang semakin sayu. Apalagi kalau mendengar adikku, Arif bertanya, ”Ayah kapan pulang? Kok Ayah nggak pernah nelpon, Bunda?” Aduh Dik, Ayah sendiri pun tampaknya belum tahu kapan ia bisa pulang. Karena konflik pun tampaknya belum akan berakhir.

Aku sedang duduk dan membaca buku-buku Ayahku, di ruang kerjanya. Bukunya banyak, aku sudah baca hampir setengahnya. Sejak kecil, Ayah tak menyodoriku buku mewarnai. Ia malah membuatku penasaran dengan buku-buku ”orang gede”, seperti buku sastra atau buku tebal berbahasa Inggris. Maka tak heran, minatku agak berbeda dengan anak-anak seusiaku. Bukan komik atau video game yang aku minati, melainkan buku.

Tiba-tiba telepon berdering. Aku mengangkatnya, dan aku langsung mendengar suara yang sangat aku kenali, Ayah!
”Assalamualaikum, Nak. Ini Ayah!”
”Wa’alaikum salam! Iya Ayah! Ayah kok baru nelepon sih? Ayah kemana aja, kita kan nungguin telepon Ayah! Ayah lagi di mana? Apa kabar, Yah?”
”Waduh, stop stop nanyanya satu-satu dong. Iya nih Rif, susah banget buat nelpon ke Jakarta dari sini. Maaf ya. Ayah sekarang lagi di Rafah. Satu jam lagi Ayah siaran, nonton ya! Hehehe...”
”Ayah jangan deket-deket sama bom dong, kita ’kan ngeri ngeliatnya.”
”Hahaha! Kadang kita ’kan juga nggak bisa memprediksi bomnya akan jatuh dimana. Tenang aja, banyak pasukan PBB di sini. Insya Allah, Ayah aman. Bunda sama Arif mana?”
”Bunda tadi lagi keluar, ada acara sama ibu-ibu RT. Arif dibawa. Mau dipanggilin?”
”Duh, nggak usah deh. Ayah nggak bisa lama-lama. Salam ya, buat Bunda dan Arif. Salam sayang, salam kangen!”
”Oke. Ayah... cepat pulang....” suaraku tercekat.
”Iya Ayah pasti pulang! Titip rumah ya, Jagoan. Gantikan Ayah sebentar, oke? Assalamualaikum!”
”Wa’alaikum salam. Ayah, jangan....”

Tut...tut...tut... Sambungan telepon terputus.

...jangan dekat-dekat bom lagi.

Aku melirik jam. Wah sudah pukul lima sore. Waktunya lihat berita, lihat Ayah. Bunda belum pulang. Ya, aku menonton sendirian deh. Aku senang sekali habis ngobrol dengan Ayah. Aku lihat berita, ternyata situasi di Gaza semakin kacau saja. Ffiuhh...tapi aku sudah lega karena Ayah baik-baik saja. Nah, itu dia Ayahku di layar kaca!

”Ya, pemirsa. Kembali Aji Ismail melaporkan situasi di Jalur Gaza, langsung dari perbatasan Rafah. Seperti bisa Anda lihat, pemirsa, di belakang saya...”

Wah baru kali ini aku tidak merasa sedih melihat Ayah. Situasi di belakang Ayah sangat menyeramkan. Ada tiga atau empat asap hitam berbentuk cendawan raksasa yang mengotori langit Gaza. Kemudian ada juga bom yang ditembakkan dari udara, yang asapnya berbentuk seperti ubur-ubur dan berwarna putih. Bom apa itu, ya? Duh Ayah, tadi ’kan aku sudah bilang, jangan dekat-dekat bom.

DHUAARRRR.....!!!

Suara gemuruh keras sekali. Aku tak bisa melihat apa-apa di layar kaca, kecuali debu dan...darah! Astaga! AYAH!!! Bunda, tolong!! Bunda, aku sendiri! Bunda cepat kemari! Bunda, aku mau lari...!!! Tapi tubuhku seperti terkunci di sofa. Mati rasanya. Aku tak mau percaya! Apa yang sedang terjadi? Darah siapa yang terlihat di kamera tadi? Ya Tuhan!

Ini siaran langsung, kawan! Ini sungguhan! Dan reporter itu Ayahku! AYAHKU! Seketika situasi kacau, suara tak jelas. Gambar mengerikan itu segera digantikan dengan gambar studio di Jakarta, yang penyiarnya tampak kalang kabut. Kedua penyiar berita sore itu berusaha tenang, tapi suara mereka hampir-hampir tercekat ketika mencoba menjelaskan apa yang terjadi kepada pemirsa. Penyiar yang perempuan bahkan tak bisa berkata-kata lagi, wajahnya memerah ketakutan. Air matanya hampir menetes. Semua orang bingung dan kaget. Semua terjadi begitu cepat, dan tentu saja, di luar bayangan kami semua! Ini siaran langsung! Berarti, saat ini, detik ini, apa yang terekam kamera barusan betul-betul sedang terjadi. Gambar yang terlalu mengerikan, terutama untukku!

Astaga, itu Ayahku! Ayahku yang baru saja menelepon satu jam yang lalu! Aku baru saja bicara dengannya! Ia bilang ia akan pulang! Peristiwa tadi kembali berputar dalam pikiranku. Suara gemuruh, debu, dan darah yang muncrat. Semua terekam jelas. Aku melihat peristiwa tadi, dengan mata kepalaku sendiri! Bunda, aku takut... Bunda, cepat pulang...

Kemudian terdengar suara pintu pagar rumah dibuka. Bunda! Terdengar suara si kecil Arif, ”Bunda, ayo cepat nanti kita ketinggalan nonton Ayahnya!” Bunda masuk, dan menyapaku, ”Mas Haris lagi nonton Ayah, ya? Kita udah ketinggalan belum?” Aku mau mati rasanya.

***

Minggu, 11 Januari 2009

Jatinangor, Membangun untuk Siapa?

Jatinangor, sebuah kota kecil perbatasan Bandung-Sumedang, kini mulai tumbuh menjadi sebuah “kota baru”. Kota baru yang diperkenalkan sebagai kawasan pendidikan, dengan didirikannya empat perguruan tinggi di wilayah ini, yaitu Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Institut Koperasi Indonesia (IKOPIN), Universitas Winaya Mukti, dan Universitas Padjadjaran. Dibangunnya keempat perguruan tinggi ini memaksa Jatinangor untuk melakukan perubahan besar-besaran.

Dulu, Jatinangor masih berupa bentangan perkebunan karet yang hijau dengan kehidupan masyarakatnya yang masih sangat tradisional. Sekonyong-konyong datanglah IPDN, Unpad, dan Hotel Bandung Giri Gahana Golf yang dalam waktu singkat telah mengubah wajah Jatinangor. Ratusan hektar perkebunan karet itu kini digantikan lapangan golf serta bangunan-bangunan hotel, kampus, dan kos-kosan yang tinggi menjulang.

Kesejukan udaranya berganti kepulan asap dan bisingnya suara kendaraan yang macet setiap hari. Para petani yang kehilangan tanahnya beralih profesi menjadi tukang ojek dan penarik angkutan umum. Warung-warung kecil milik penduduk lokal pun kalah pamor dengan Jatinangor Town Square, Cherrish Corner, Alfamart, Yomart, dan Indomaret yang berderet sepanjang jalan. Mereka kalah modal.

Anak-anak kecil yang dulu biasa memainkan kaulinan urang lembur ala anak-anak tradisional Sunda, kini berlomba-lomba meniru gaya kakak-kakak mahasiswa yang mungkin menurut mereka ‘keren’. Mereka ngebut naik motor, memainkan handphone, berpenampilan gaya layaknya pemain band ibukota, bahkan merokok. Beberapa anak laki-laki berpakaian lusuh juga kini tak malu-malu lagi menadahkan tangannya dan setengah memaksa minta uang kepada setiap orang yang lewat. Inilah contoh masyarakat yang mulai kehilangan arah dan terjajah di atas tanahnya sendiri.

Sejak mencuatnya kasus-kasus kekerasan praja IPDN, banyak media massa yang mulai mengalihkan perhatiannya ke kota kecamatan yang sibuk ini. Jatinangor tengah mengalami perubahan sosial yang cukup signifikan dalam sepuluh tahun terakhir. Hal ini disebabkan oleh pembangunan sejumlah kampus perguruan tinggi tadi dan kos-kosan untuk para mahasiswanya yang tentu saja telah banyak mengambil lahan dan kesempatan para penduduk lokal. Akibatnya, banyak penduduk lokal yang justru terpinggirkan oleh kaum pendatang, seperti mahasiswa dan para pemegang saham. Mereka yang terpaksa beralih profesi kini masih banyak yang bekerja dengan upah di bawah UMR dan tingkat kesejahteraan hidup yang memprihatinkan.

Salah satunya adalah Emod (66), seorang petugas keamanan Unpad yang telah bekerja selama hampir 20 tahun. Menurut Emod, dulu ia dan warga Jatinangor lainnya bekerja sebagai petani. Namun ketika lahan mereka dibeli oleh Unpad, mereka terpaksa beralih profesi. Kebanyakan malah memutuskan untuk bekerja menjadi kuli di proyek pembangunan Unpad. Kampung Emod yang bernama Babakan Sari dulu berdiri di atas lahan kampus Fakultas Ilmu Komunikasi yang sekarang. Emod mengaku dulu hanya diberikan uang pengganti rumah dan lahan yang pas-pasan, bahkan sempat diancam akan digusur bila menolak pindah. Walau begitu, Emod menyadari ia tinggal di atas tanah milik pemerintah Jawa Barat, sehingga ia akhirnya pindah ke Desa Hegarmanah bersama tetangga-tetangganya. Namun tentu saja, kesejahteraannya tak kunjung meningkat.

Emod mengungkapkan bahwa sebelum mulai membangun Unpad pada tahun 1982, bagian perencanaan pembangunan Unpad dulu pernah menjanjikan akan mengutamakan lapangan kerja untuk warga Jatinangor, sebelum warga pendatang. Namun pada kenyataannya, warga Jatinangor kini justru seperti menjadi terasing di tanahnya sendiri. Banyak warga pendatang yang memiliki modal lebih (uang dan keahlian) justru menjadi lebih sukses mendulang rupiah di Jatinangor. Masyarakat Jatinangor yang notabene berasal dari kalangan menengah ke bawah dan berpendidikan rendah pun menjadi jauh tertinggal.

Janji Unpad 20 tahun lalu tentang mengutamakan lapangan pekerjaan bagi warga asli Jatinangor pun, menurut Emod, baru terealisasi dua tahun belakangan. Unpad banyak merekrut warga asli Jatinangor menjadi satpam, petugas kebersihan, kuli bangunan, maupun supir angkutan kampus. Tapi hanya sebatas itu. Mereka masih ditempatkan di posisi yang rendah, dengan gaji yang pas-pasan, bahkan tidak memadai. Masih banyak pekerja di Unpad yang digaji di bawah standar UMK Sumedang. Untuk Kabupaten Sumedang sendiri, sebelumnya UMK pada tahun 2008 yaitu sebesar Rp 886.000 untuk Jatinangor dan Tanjungsari, dan untuk luar Jatinangor dan Tanjungsari sebesar Rp 700.000. Sedangkan untuk tahun 2009 UMK Kabupaten Sumedang naik sebesar 12,30% menjadi Rp 995.000 untuk daerah Tanjungsari dan Jatinangor, sedangkan untuk luar Tanjungsari dan Jatinangor menjadi Rp 809.000 naik sebesar 15,57%. (Tribun Jabar, 29 November 2008)

“Memangnya gaji Anda berapa, Pak?” kata saya penasaran. Pak Emod menjawab sembari tersenyum, “Gaji saya sebulan 400 ribu rupiah, Neng. Kalau uang makan juga ada, 6 ribu rupiah setiap hari.” Astaga, bisa dapat apa kita di zaman yang serba mahal ini dengan uang 400 ribu rupiah per bulan? Dan pekerjaan ini telah dilakoninya selama hampir 20 tahun! Selama itu pula Emod masih hidup dalam keadaan ekonomi yang pas-pasan, karena upah yang diterimanya juga tak pernah memadai. Bapak tiga anak ini sudah bekerja sebagai petugas keamanan Unpad sejak tahun 1999. Dulu gajinya tak sampai 100 ribu rupiah. Kemudian pada tahun 2000 barulah naik menjadi 350 ribu rupiah, dan baru dua bulan terakhir ia digaji sebesar 400 ribu rupiah. Ketika ditanya, apakah ia merasa cukup dengan uang itu? Emod menjawab, “Sebenarnya tidak cukup, tapi mau bagaimana lagi? Ini juga sudah naik kok, dibandingkan dulu. Ya dicukup-cukupin saja.:” Emod tak pernah mengeluh, meskipun gajinya hanya sedikit. Ia tetap bertahan, meskipun dengan cibiran banyak orang.

Tahukah Anda apa yang membuat Emod bertahan? Tak lain dan tak bukan adalah dedikasinya sendiri terhadap tanah kelahirannya, kampung halamannya, Jatinangor. “Saya ini orang Jatinangor, yang dipercaya menjaga keamanan asrama (Unpad). Kalau bukan saya, siapa lagi? Orang luar (Jatinangor) kan belum tentu bisa di sini terus. Rumahnya ‘kan jauh. Selain itu, saya juga punya tanggung jawab. Kalau saya nggak kerja, saya bukan malu kepada atasan, tapi kepada orang tua Neng. Orang tua Neng ‘kan sudah menitipkan Neng ke saya, kalau saya nggak amanat terus gimana?” Alasan yang sungguh sederhana, tapi tidak remeh, untuk bisa bertahan dengan gaji minim selama 10 tahun.

Bukan Pak Emod saja yang masih memiliki penghasilan minim, di bawah ketentuan UMR. Masih ada Komasih (37), seorang tukang cuci di asrama POMA Unpad yang suaminya berjualan bakso tahu (siomay). Penghasilan mereka yang tak tentu, kadang kurang dari 500 ribu rupiah setiap bulannya, habis dipakai untuk bayar kontrak rumah dan kebutuhan sehari-hari. Anak sulung Komasih yang baru lulus SMA pun masih kesulitan mencari kerja. Komasih pun kini sedang kebingungan mendapatkan biaya untuk menyekolahkan anak bungsunya di sekolah dasar. “Sekarang apa-apa mahal, sekolah juga mahal. Kata saya mah enakan zaman Pak Harto, semua murah, enak, daripada sekarang!”

Ada pula Kiki Susanto (32), petugas cleaning service di Fakultas Kedokteran Unpad, yang menyatakan, uang sebesar 200.000 rupiah yang ia terima sebagai gaji tiap dua minggu hanya cukup untuk makan keluarganya (kebetulan ia belum punya anak) dan uang rokok. Kemudian ada Bapak Aca, petugas kebersihan Pasar Unpad (Paun) yang dibayar 37 ribu rupiah untuk setiap kali selesai membersihkan Unpad. Itu masih kotor, artinya uang makan, ongkos, harus ia tanggung sendiri. Pak Aca yang tinggal di Tanjungsari ini pun terpaksa jalan kaki sampai ke Jatinangor. “Kalau naik ojek mah, habis atuh Neng, uang saya!” ujarnya sambil tertawa ringan.

Begitulah cerita-cerita masyarakat asli Jatinangor, yang di tengah pembangunan besar-besaran kota mereka, masih belum sejahtera. Memang pembangunan ini dirasa tanpa rencana, tanpa ditata. Jadi, sebenarnya untuk siapa Jatinangor ini dibangun?

Jumat, 02 Januari 2009

Susahnya Nyari Gentlemen di Damri

Setiap kali naik Damri, sebenarnya ada satu hal yang saya perhatikan kok semakin parah dari hari ke hari. Yaitu, menemukan sosok anak muda yang mau merelakan tempat duduknya untuk orang yang lebih tua. Suer deh. Semakin jarang aja.

Tadi juga gitu, pas saya mesti ke Bandung jam 7 pagi. Yaa kamu tau ‘kan betapa padatnya Damri jam 7 pagi? Semua tempat duduk penuh. Pas di Cileunyi, ada sepasang aki-nini yang udah tuaaa banget (ya iyalah tua) sampe-sampe buat naek ke Damri aja susah payah. (Saya suka mikir kalau gitu teh anaknya pada kemana, ya?)

Dengan Damri yang penuh tadi, otomatis mereka berdua nggak dapet tempat duduk. Dan nggak ada satu pun yang berdiri dan mempersilakan duduk. Padahal jelas banyak, malah hampir semua “dudukers” saat itu adalah mahasiswa (jelas masih muda-seenggaknya dibandingkan aki-nini itu), cowok apalagi, banyak.

Nggak ada yang bangkit. Kalau kamu bertanya dimana saya, oioiiii...saya duduk di pojok belakang sodara-sodara! Sulit untuk maksa keluar dengan keadaan penduduk Damri yang berdiri berdesak-desakan di depan saya. Lagian sebenernya banyak kok cowok yang duduk di pinggir dan lebih strategis posisinya dengan aki-nini itu. Bukannya mau berdalih, tapi emang begitu kenyataannya.

Nggak berapa lama, kemudian ada teteh yang berdiri dan mempersilakan si nini duduk di tempatnya. Sementara itu para cowok masih dengan santainya duduk dan pura-pura nggak tau. Uuh...kalau saya jadi cowok ya, saya bakal malu banget dengan teteh itu. Dengan nini itu juga. Dengan penumpang semuanya saya bakal malu! Masak saya yang lebih muda nggak mau merelakan tempat duduk untuk aki dan nini? Masak saya cowok yang lebih kuat nggak mau merelakan berdiri?

Sementara itu si aki belum juga duduk, padahal kaki tuanya udah gemeteran. Mungkin karena Pak Kondektur geregetan ngeliat para cowok yang apatis itu, akhirnya dia nyuruh seorang cowok yang duduk di pinggir buat berdiri dan ngasih tempat duduknya buat si aki. Disuruh, sodara-sodara! Ck ck ck...malunya dobel, cing!