Jumat, 11 Agustus 2017

Mencari Skin Care yang Cocok dan... Ketemu!

Mau sedikit cerita tentang skincare nih. Kayak yang bener aja ya. Hahaha. Sebenernya kulitku ini dari dulu termasuk yang agak rewel. Stres dikit, jeriwit. Kebanyakan makan gorengan, kusam berminyak. Deket mens, jeriwit lagi. Kayak gitu dari jaman puber.

Pernah 2 kali perawatan di dokter (dokter yang berbeda). Bagus sih, tapi paling enggak sebulan sekali mesti kontrol, facial, beli krim yang abis, dll. Sekali dateng minimal 300ribu. Waduh cekak juga... Udah gitu aku sebenernya kurang sreg, karena biarpun produk racikan dokter, tapi kita sebagai konsumen nggak tau itu produk komposisinya apa aja (secara detail). Karena di kemasan krim2 itu nggak dicantumkan kan.

Terus berasa banget, kalau aku skip perawatannya kulitku langsung berubah. Bukan cuma jd kusam, tapi juga nongol jerawat, sebagiannya kering mengelupas.

Paling kalau perawatan dokter aku cuma bertahan 3-4 bulan. Abis itu, balik lagi ke perawatan seadanya, emang dasarnya aku males. Pake fc wash apa aja yang ada, bersiin muka kadang pake tisu basah doang, wkwkwk... Terus kalo lagi iseng templok2in tomat, timun, tapi ya gitu... random banget.

Setelah aku positif hamil (2014) aku stop segala jenis produk perawatan wajah, cuma pakai Wardah Lightening Facial Wash yang soap free formula. Nah, selama kehamilan ini aku mengalami banget yang namanya pregnancy glow seperti yang kuceritakan di sini. Kulitku terasa lebih halus, lebih kenyal, lebih glowing. Jerawat dkk gak pernah nongol lagi meski aku nggak pakai perawatan apapun selain fc wash.

Terus setelah anakku lahir, aku udah fokus aja sama dia. Waktuku, pikiranku, juga seluruh budgetku. Rasanya nggak ada space untuk mikirin diri sendiri. Kulitku pun rewel lagi.

Breakouts here and there. Berminyak. Komedo gerinjilan. Kusam banget dengan banyak bekas jerawat. Ohhh... Kulihat mulai ada flek hitam di daerah pipi dan sekitar mata. Waduh. Bener2 nggak pede liat muka.

Menjelang usia 2 tahun, anakku sudah mulai mandiri dan sedikit memberikan space buat aku.

Aku pun bercermin...

Hiks... aku nggak bisa nih kayak gini terus. Bercermin aja nggak pede apalagi kalau harus keluar. Aku nggak suka "menutupi" kulit dengan kosmetik. Lagipula, kalau kulit kita nggak sehat, bedak sekalipun nggak mau nempel. Blentang blentong, mudah pudar. I really hate it.

Kalau udah menyangkut percaya diri, kayaknya aku harus bertindak nih. Apalagi usiaku sudah akhir 20an, kalau nggak dirawat bisa2 penuaan dini. Akhirnya aku memutuskan, harus seriusin merawat kulit dari sekarang.

Akhirnya aku menyediakan waktu untuk riset, baca aneka review produk satu per satu. Beberapa kali trial dan error (maksudnya mencoba trial kit produk dan tambah error kulitnya 😂) akhirnya aku menemukan kombinasi yang bener-bener ngasih perubahan positif di kulitku.

Pilihanku jatuh pada Wardah White Secret Series. Tapi aku nggak langsung beli sepaket. Aku coba dulu satu per satu produknya, dan ternyata sampai sekarang cocok. Nggak ada purging, kulit mengelupas dll.

Pertana aku beli fc wash nya. Lembut, mirip2 sama lightening fc wash yang kupakai sebelumnya. Kugunakan 2 kali sehari, yaitu saat bangun pagi dan sebelum tidur. Seminggu tidak ada masalah, lalu aku beli day creamnya. Day creamnya sudah mengandung spf 30 jadi nggak pakai sunscreen lagi juga nggak papa (ya nggak sih?) Lalu aku beli exfoliating lotion yang kupakai 3 hari sekali. Mantap bener dah si exfoliating lotion ini ngangkat kotoran dan kulit mati. Keliatan coklat2 di kapas dalam sekali usapan. Kemudian aku membeli Intense Serum dan Pure Brightening Lotion sbg cleanser. Terakhir, aku lengkapi dengan night cream.

Aku memilih Wardah White Secret ini karena kurasa kulitku sudah cukup familiar dengan formula Wardah. Review2nya pun positif. Dan, harganya terjangkau.

Selain perawatan menggunakan produk tsb, aku pun rutin scrubbing menggunakan ground coffee + minyak zaitun, seminggu sekali. Bukan kopi instan ya, melainkan biji kopi giling. Suamiku kan hobi ngopi tuh, ampasnya banyak banget dibuang sayang. Jadilah kusimpan buat scrub #timantimubazir

Bukan cuma buat wajah, tapi juga buat seluruh badan. Terasa banget lho efeknya. Kulit langsung terasa halus, komedo (terutama di hidung) jauh berkurang. Dan wangiiiiii...

Ketiga, ini nih yang rada berat... karna mehong cyin! Setelah berbagai riset dan timbang-timbang yang lama, akhirnya aku memutuskan membeli SK II Facial Treatment Essence. Meski aku baru beli yang ukuran 30 ml, miris juga ya ama harganya. Tapi kata suamiku, "Sama aja kayak harga sekali dateng ke dokter." Bener jugak.

Kenapa SK II? Udah lama sih kepo ama produk yang satu ini. Pengguna setianya juga banyak, dan kelihatan wajahnya pada kinclong. Dia mah udah gak maen lagi deh upload screenshot testimoni2 BBM. Tinggal kitanya aja yang berani beli apa engga, wkwkwk. Untuk penggunaan pertama disarankan pakai FTE dulu. Tapi sebenernya aku gak niat untuk beli produk SK II yang lain sih. MAHALNYA MINTA AMPUN. Yang kubaca2 si FTE ini bisa kok dipakai bersamaan dengan produk lain. Lagian dia udah "essence" kan namanya. Pengennya sih satu produk aja cukup gitu. Aku kan orangnya males.

Tapi ternyata lumayan irit sih dia. Wong sekali pake tuh paling 2 pump cukup untuk wajah dan leher. Ditutul-tutul ke muka menggunakan lapisan kapas yang tipiiis (kalau aku, kapas biasa dibagi 3). Efek pemakaiannya langsung terasa paginya, wajah terasa lembut dan kencang. Setelah 2 minggu, suamiku komentar. "Kelihatan banget perubahannya di kulitmu dek, yang kemaren mahal itu ya? Nanti kalo abis beli lagi aja, bagus." Yeaaaaayyy senanggg...

Udah sebulan aku menggunakan SK-II FTE dan alhamdulillah cocok. Belum habis sih, but I will absolutely repurchase. Kayaknya bakal jadi holy grail aku. Sebelum memakai FTE aku menggunakan Wardah Hydrating Toner dulu.

Jadi urutan pakainya begini:
Pagi : facial wash - hydrating toner - FTE - day cream
Malam : facial wash - exfoliating lotion - hydrating toner - FTE - serum - night cream

Plus scrubbing kopi seminggu sekali.

Alhamdulillah, sudah kelihatan perubahan positif pada kulitku. Jerawat udah gak dateng lagi, bekas2 jerawat pun memudar, pori2 mengecil, kulitku terasa supple, lembab dan cerah. Bukan putih, tapi lebih ke glowy. Make up pun jadi nempel dan awet. Super love!

***

Merawat diri sendiri itu penting. Terutama wajah, bagian tubuh kita yang paling sering dilihat orang, paling sering kita rias dan pegang, juga paling terpapar sinar matahari dan polusi. Jadi, dia memang harus dirawat baik-baik.

Bukannya aku mau jadi lebih putih atau sekadar menghilangkan jerawat. Ini adalah soal percaya diri. Aku pingin bangun tidur pun wajahku sudah terlihat segar dan halus, tidak kusam berminyak, walau tanpa bedak. Aku ingin wajahku terasa ringan dan lembut, bersih. Kulit yang sehat pasti akan terlihat segar kan.

Makanya aku merasa, gak ada ruginya lah berinvestasi agak mahal untuk perawatan kulit. Supaya gak menyesal di umur 40++ nanti di mana masalah2 kulit akan datang berbondong-bondong.

Aku juga mau kasih tips nih bagi temen2 yang pengen coba beralih produk.

1. Riset dulu, baca2 reviewnya dari para beauty blogger. Jangan mudah tergiur dari testimoni screenshot BBM yang diupload seller ya, hehe.

2. Gunakan produk baru secara bertahap. Misalnya White Secret Series tadi, jangan langsung gunakan seluruh produk secara bersamaan. Kalau tiba2 kulitmu purging, nanti kamu ngga tau, produk mana penyebabnya. Beri jeda waktu minimal 1 minggu untuk melihat reaksi kulitmu.

3. Beli ukuran kecil dulu, misalnya travel size/trial kit. Supaya kalau ternyata nggak cocok dan mau kamu hentikan pemakaiannya, nggak mubazir.

4. Perhatikan urutan dan cara pemakaian yang benar. Jangan sampai udah beli mahal2 tapi karna salah urutan atau cara pakainya, produk yang kita gunakan tidak bekerja maksimal sehingga tidak menunjukkan hasil yang memuaskan.

5. Hanya gunakan produk yang sudah jelas kandungannya dan terdaftar di BPOM ya! Please jangan main coba2 sama kulit hanya karena tertarik iklan/testimoni. Kulit adalah bagian tubuh kita yang terbesar (terluas) dan apapun yang kita usapkan di atasnya akan terserap ke dalam tubuh. Jadi, cermati baik2 keamanan produk.

6. Jangan mengharapkan hasil instan. Misal baru seminggu pakai, lalu ngerasa gak cocok, lalu ganti. Kulit kita butuh waktu 28 hari untuk beregenerasi. Jadi setidaknya, tunggu sebulan pemakaian dan lihat hasilnya. Setelah itu baru kita putuskan, mau ganti produk atau lanjut.

Selain berbagai produk dan ritual skin care, asupan nutrisi dari dalam pun berpengaruh bagi kulit. Telur, makanan berminyak, kacang, pedes, seafood, dan kebanyakan makan manis seringkali bikin kulit jadi bermasalah. Jerawat, berminyak, dll. Jadi jaga juga apa yang kita makan.

Demikianlah aku sedikit sharing pengalaman mencari skin care yang cocok buat aku. Semoga bermanfaat.

Rabu, 29 Maret 2017

Ambruk Akibat Double Combo (Demam Berdarah + Tifoid)

Sepeninggal Mbah, acara pengajian digelar 7 malam berturut-turut di rumahku. Mbahku sosok yang sangat well-loved dan well-respected di keluarga dan lingkungan kami, sehingga berbagai jenis bahan makanan, sumbangan uang, dan cenderamata subhanallah walhamdulillah tiada henti mengalir. Kami membungkusnya penuh suka cita dan membagi-bagikan ke tetangga.

Paginya, tentu saja pekerjaanku menumpuk. Juga sisa makanan, yang seringkali membuatku tak harus memasak. Apalah, aku santap saja. Sayang.

Pengajian berlanjut setiap malam Jumat, terus hingga 40 harinya kelak. Banyak sekali yang ingin mendoakan Mbah.

Ali senang banyak teman, sepupunya kecil-kecil. Sore ia pasti main, lari-larian, becanda ketawa-ketiwi. Makannya banyak, karena memang banyak makanan, comot-comot. Jam 8 malam, ia sudah ngantuk. Tidur dengan mudahnya.

Dulu ia biasa tidur jam segitu sampe pagi. Tapi ternyata sekarang dia sudah gede. Tidur jam 8, jam stgh 2 pagi bangun. Laper, minta makan. Minta gendong keluar. Atuh gelap nak. Akhirnya baca buku di ruang tamu sambil nonton Chef Gordon. Main masak-masakan. Main balok. Main mobil-mobilan. Lalu nyuruh aku berdiri ajak lompat-lompat dan main bola. Gitu aja terus.

Duh, badan rentek rasanya.

Ali baru tidur jam 5. Sedangkan jam segitulah aktivitasku dimulai.

Mulai pagi itu, Selasa (21/3) pasca begadang dengan Ali, aku meriang. Demam tinggi 38,7 dan nggak turun2. Semua otot dan persendian sakit, ngilu, mual luar biasa. Air putih aja nggak sanggup, aneh rasanya. Teh manis juga jd aneh. Makan cuma sanggup dua sendok, enegnya 2 jam. Kupantau suhuku di kisaran 38-39++ mungkin sampai 40 ketika itu aku udah gak sanggup ngukur, karena kalau panas tinggi banget aku udah nggak bisa buka mata, ngigo-ngigo mimpi buruk.

Rabu, aku gak ngerasa membaik. Mungkin, bisa jadi, ini adalah siklus tipes dua tahunanku, tapi aku paham betul, tipes nggak sesakit ini. Tipes biasanya lemes aja sama sakit perut, demam tinggi malam aja. Ini engga. Ditambah kuping dan hidungku yg sakit kalau demam tinggi.

Kamis malam aku menyerah. Sudah sedikit sekali yg bisa masuk ke tubuhku dan aku sgt lemas. Aku dibawa ke IGD, cek darah. Diagnosis dokter, dengue fever, tapi trombosit masih >140.000. Yang langsung ketauan melalui tes widal adalah bakteri tipesnya.

Dokter fokus mengobati tipesku yang setelah cek darah, urin, dll, memang terbukti positif tipes tipe 6. Panasku tetap tinggi. Masih 38-39. Tidak pernah kurang.

Sampai Sabtu pukul 3 dini hari, aku terbangun karena untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, aku merasa tidak demam. Aku mengukur suhu dengan termometer yang kubawa sendiri dari rumah. 34,5 derajat celcius. What??! Masa iya anjlok banget. Memang sih aku merasa dingin dan lemas walau demamku turun. Aku turun dr tempat tidur, duduk di kursi penunggu pasien (kalau malam aku memang sendirian, karena orang rumah bergantian begadang gendong Ali). Aku bersiap ke kamar mandi, mau pipis dan ganti pembalut (yapp... Udah mah lemes dirawat, pas kena haid banyak, makin lemes). Tiba-tiba... Darah menetes dari hidungku. Aku mimisan. Aku membersihkan kotoran hidungku yang mengering, dan semuanya berwarna merah tua. Berarti  darah yang sudah kering pun cukup banyak.

Aku langsung pencet bel dan laporan sama suster. Bahwa aku tidak pernah mimisan seperti ini, dan aku perlu tau apakah ada kaitannya dengan penyakit lain (bukan tipes).

Jam 5 darahku diambil untuk cek lab, jam stgh 7 dokter visit dan bilang, trmbositku 49.000. Aku positif tipes 6, tapi sekarang demam berdarahnya yang lebih kuat. Dokter memperlihatkan pola bercak merah yang jelas di telapak tanganku. Di situ doang, lain2nya gak kentara karena kulitku mah kan sawo matang :D

Udah langsung diganti tuh infusannya. Aku jg minum banyak sari kurma. Sambil ttp dikasih antibiotik utk tipesnya tiap sore. Aku msh lemes, tapi feel better.

Besok paginya, cek darah lagi. Trombosit 41.000. Gak ada demam lagi cuma tekanan darah msh mandek di 80/60 jd msh keliyengan. Kata dokter, minimal trmbosit 100.000 deh br saya pertimbangkan utk km pulang.

Selasa pagi cek darah lagi, alhamdulillah kali ini mah trombositnya 110.000 yeaaayy... Dokter bilang, hari ini observasi dulu ya. Kalau smua bagus, besok pagi km boleh pulang. Tapi di rumah msh hrs banyak istrht, aktvts yang ringan2 aja... Rumah dijaga kebersihannya, upayakan jangan ada tempat bertelur n tempat ngumpet nyamuk. Makan pun jangan sembarangan, karena ini bakat tipesnya kamu langsung nongol begitu daya tahan tubuh melemah.

Iyah bener euy.

Alhamdulillah, urusan administrasi di Rabu pagi lancar, cepat, sehingga aku bisa segera pulang menyambut pelukan Ali.... Yang... Membuat... Oleng... Hahahaa. Aku belum kuat menggendongnya. Jalan pun rasanya masih engga napak. Kadang kalau keliyengan berlanjut dengan sedikit mimisan.

Intinya mah, masih butuh banyak istirahat lah. Cukup sekali ini aja kena yang namanya demam berdarah. Cukstaw cukstaw cukstaw. Pergi jauh2 ko virus n nyamuk!

Minggu, 12 Maret 2017

Sebaik-baik Pengingat

Ini kali pertama aku mengalami kehilangan seseorang yang sangat dekat, yang sehari-hari bersamaku. Mbah memang sudah sangat tua, dan seringkali mengingatkan kami bahwa ia bisa dipanggil Allah kapan saja. Namun tidak ada seorang pun yang siap kehilangan. Seperti ada kehampaan besar di hati, di rumah, di mana saja kami biasa melihat Mbah beraktivitas.

Tapi wafatnya Mbah membuatku merenungkan banyak hal. Sungguh kematian adalah sebaik-baik pengingat.

Belakangan, aku seperti sedang galau menjalani aktivitasku sebagai IRT yang sehari-hari kerjaannya ngurus rumah dan nemenin Ali main. Padahal dulu, semasa kuliah, aku semangat menyuarakan feminisme dan apa yang kujalani saat ini sangat jauh dari bayanganku dulu. I was a journalist before. I used to travel a lot, mewawancarai sosok-sosok inspiratif. Pulang kerja, kumpul dulu sama temen-temen. Betapa aku sangat merindukan bekerja di luar rumah. Akhir-akhir ini, aku sering merasa useless, powerless, jenuh dan penat sekali rasanya. Seperti post power syndrome.

Aku juga tinggal bersama bapak-ibu, dan Mbah juga suka tinggal di rumah. Extended family. Tidak mudah, seringkali terjadi perbedaan pendapat dalam hal mengurus rumah atau mengasuh Ali.
Namun hari-hari terakhir bisa merawat Mbah sungguh membuatku bersyukur dan merenungi lagi posisiku saat ini. Aku memang di rumah saja sehari-hari, aku jadi punya banyak waktu luang bersama keluarga. Menemani anakku main, memasak untuk suami, ngobrol dengan bapak dan ibu, serta, menemani Mbah tidur siang. Aku suka bersepeda dengan Ali saat pagi dan sore, membawakan kue untuk Mbah.

Sekarang aku sadar, bahwa momen-momen itu sangat berharga. Merawat orangtua di masa senja merupakan suatu kehormatan, keberkahan. Tidak semua anak-cucunya punya banyak kesempatan menemani Mbah di masa tuanya. Aku yang sehari-hari di rumah patut bersyukur punya banyak waktu luang bersama keluarga dan bisa mencurahkan perhatian untuk mereka.

Kepergian Mbah juga membuatku tersadar, kehidupan dunia sungguh fana. Anak-cucu sekalipun.

Malam kedua sepeninggal Mbah, Abang (suamiku) bilang sebelum tidur. "Aku kepikiran Uyut, sendirian sekarang di makam. Padahal biasanya makan aja nunggu ditemenin."

Sesayang-sayangnya, nggak ada anak-cucu yang mau nemenin di kubur. Sesedih-sedihnya ditinggal pergi, setelah tiga hari, seminggu, satu per satu kembali ke urusan mereka masing-masing. Pekerjaan, sekolah, keluarga, dll. Kembali mengurus kesibukan duniawi yang juga, fana.

Kalau sudah sendirian di kubur, tidak ada lagi yang menemani. Kecuali amal, kecuali doa mengalir dari anak yang sholih.

Setiap bulan, Mbah selalu menyisihkan sebagian uang belanjanya untuk infak masjid dan anak yatim. Jumlahnya bisa ratusan ribu lho. Sepeninggalnya, beliau juga sudah mengamanatkan agar perhiasan, cincin dan giwang, dijual lalu uangnya diinfakkan. Insya Allah amal jariyah menjadikan kubur Mbah lapang.

Sekarang sudah hampir seminggu berlalu. Tanahnya mungkin mulai mengering. Karangan bunga telah layu. Kesedihan sedikit memudar, digantikan dengan kebahagiaan lain yang mengisi hari. Semua orang pun telah kembali pada aktivitasnya masing-masing.

Sampai kini, Ali masih suka memetik melati setiap pagi, dibawanya pulang, seperti yang biasa ia lakukan kalau ada Mbah di rumah. Mbah suka menyelipkan melati di sanggulnya, atau di bawah bantal tidurnya.

Aku juga kadang masih refleks menyalakan dispenser, karena biasanya Mbah selalu cari air hangat untuk minum. Abang pun masih menyikat lantai kamar mandi agar jangan sampai Mbah terpeleset karena licin. Seolah Mbah masih ada.

Hal-hal itu sering membuatku tercekat, ya Allah, sedang apa Mbah di sana. Setiap kali teringat Mbah, aku membacakan Fatihah untuknya dan berdoa semoga Allah melimpahkan rahmat dan ampunan.

Seperti yang selalu Mbah pesankan kepadaku, tolong jangan pernah lupa doakan Mbah. Mbah nggak minta banyak-banyak, minimal satu Fatihah setelah solat. Jangan doain panjang umur, kata Mbah. Doain aja biar umurnya berkah, dosanya diampuni.

Ya Allah, betapa aku tahu Mbah selalu duduk lama setelah solat mendoakan anak-cucunya. Setiap kali mendengar ada kerabat atau tetangga yang meninggal, Mbah langsung buka Quran dan membaca Yasin dengan mata tuanya yang berair. Bagaimana mungkin permintaan satu Fatihah seusai solat terlalu berat?

Mbah tidak pernah lupa nama dan wajah anak-cucu-cicitnya yang banyak sekali. Dan aku yakin, tak satu pun yang luput ia doakan.

Mari laksanakan permintaan Mbah untuk terus mendoakannya, minimal satu Fatihah seusai sholat. Anak Mbah ada 10, cucunya buanyak, cicitnya 42, canggahnya 1. Bayangkan betapa terang kuburnya jika doa mengalir deras dari anak-anak sholih setiap hari. Ajarkan Fatihah kepada anak-anak kita, ceritakan ke mereka tentang Uyutnya yang cantik, yang selalu mencium hangat pipi mereka setiap ketemu. Setiap kali kita merindukan beliau, bacakan Fatihah agar Allah senantiasa merahmatinya, menerangi kuburnya dengan doa-doa kita yang tiada terputus.


Tutup Usia

Sampai hari ini aku masih sulit percaya Mbah sudah wafat. Beliau memang sangat sehat, sehingga kami sering lupa bahwa sebenarnya beliau sudah sangat renta.

Usianya sudah 92 tahun, dengan 10 anak dan jumlah cucu yang aku nggak bisa ngitung saking banyaknya. Cicitnya ada 42, canggah (anaknya cicit) ada 1, mau 2. Wow!

Rabu pagi (1/3) Mbah jatuh saat sedang di rumah sendirian. Beruntung, ada tetangga yang melihat dan menolongnya. Katanya, bagian tubuh sebelah kanannya tiba-tiba lemas dan dingin. Ibuku segera menyusul dan membawanya ke rumah kami. 

Malamnya, Bapak dan ibu mengajak aku dan Ali mengantar Mbah periksa ke dokter. Dokter ini mungkin hampir 20 tahun menangani Mbah, hampir seperti dokter pribadi. Beliau sebenarnya sudah pensiun, tapi tetap datang kalau Mbah mau ketemu, hehe. Mbah nggak pernah mau ke rumah sakit dan nggak pernah ke dokter lain.

Berdasarkan pemeriksaan dokter malam itu, semua bagus, hanya sedikit kembung. Kami pun pulang dengan lega. Mbah mungkin hanya kelelahan, sebab hari Senin beliau baru datang dari Surabaya, menjenguk anak sulungnya yang sedang sakit di sana.

Kamis pagi, Mbah sudah beraktivitas seperti biasa. Makannya banyak, lalu jalan-jalan pagi di depan rumah, ngobrol dan nonton TV sama aku, nonton Bake with Anna Olson, inget banget. Lalu main sama Ali dan kelinci. Makan siang pake sayur asem, Mbah makannya banyak. Kami senang Mbah sudah terlihat lebih segar.

Setelah makan, beliau solat zuhur. Ali menghampiri beliau solat di musholla. Biasanya Ali ikutan solat, tapi ini Ali berdiri bengong di tempatnya dengan ekspresi bingung. Bapak dan ibu segera menghampiri, ternyata Mbah sudah tersungkur dalam posisi kaki sedang duduk tahiyat akhir. Mbah tidak sadarkan diri, berkeringat.

Kami menggotong Mbah ke kasur, membuka mukenanya, namun Mbah tidak jua membuka mata. Beliau mengerang-erang. Kami membimbingnya mengucap lailaha illalllah. Terus menerus.
Ibu menelepon anak-anak Mbah yang lain agar segera datang. Sebelumnya, Mbah tidak pernah jatuh tak sadarkan diri seperti ini.

Sampai sore, kondisi Mbah tidak membaik. Masih tidak membuka mata, hanya merespon dengan tangan kiri dan menitikkan air mata jika mendengar anaknya datang. Kami berdiskusi untuk membawa Mbah ke rumah sakit, namun tiba-tiba Mbah menangis dan mendekap erat anaknya yang berada di dekatnya. Rupanya Mbah mendengar.

Mbah memang sering berpesan, kalau aku sakit, biar bagaimana jangan dibawa ke rumah sakit. Di rumah aja, ditemenin sama anak-anak sampai di mana juga.

Kami urung membawanya ke rumah sakit. Namun Mbah semakin lemas. Beliau tidak bisa makan atau minum. Bisa minum, setetes-dua tetes. Kami mencoba memberikannya makan biskuit, namun Mbah tersedak. Wajahnya memerah.

Tidak ada yang kami mengerti dari kondisi Mbah saat itu. Apakah Mbah terkena serangan stroke, atau lemas karena apa, tak ada yang bisa kami lakukan. Sementara Mbah semakin lemah karena tidak ada asupan. Semua dokter yang kami hubungi menyarankan agar membawa Mbah ke rumah sakit.

Akhirnya tengah malam, aku dan bapak naik motor ke rumah sakit. Saat ini, paling tidak kami harus tahu apa yang terjadi pada Mbah. Memeriksa tanda-tanda vitalnya. Dan yang paling penting, Mbah harus mendapatkan asupan agar tidak dehidrasi.

Kamar di rumah sakit terdekat rupanya penuh. Kami pun menuju RS Hermina. Aku berbicara panjang lebar kepada perawat dan dokter jaga di ICU tentang riwayat kesehatan dan kondisi terakhir Mbah, termasuk tentang keinginannya agar tidak dibawa ke rumah sakit. Aku juga menyelesaikan urusan administrasi. Dokter meminta Mbah agar segera dibawa ke RS untuk dilihat kondisinya, dan apakah harus masuk ICU. Aku berpesan, agar setiap rencana tindakan dikonfirmasi dulu ke kami, dan ICU itu pilihan terakhir saja. Setelah memastikan ada kamar rawat inap, kami pun menelepon om-tante di rumah untuk membawa Mbah ke RS.

Tiba di IGD, kesadaran Mbah sudah menurun. Beliau sudah sangat lemas, mengingat sudah 10 jam tidak ada asupan apapun. Tapi aku masih berpikir, sungguh Mbah sangat kuat. Hasil pemeriksaan menunjukkan, tekanan darah Mbah cukup tinggi, 179/90 dan ada penyumbatan yang melebar di otak kiri. Mbah terkena stroke.

Pagi itu, dokter memutuskan Mbah harus masuk ICU untuk mendapatkan perawatan intensif. Kami tidak bisa menjenguknya kecuali pada saat jam besuk, itu pun harus masuk satu per satu. Mbah menangis, tidak mau melepas tangan anak-anaknya yang menjenguk.

Kami sadar, Mbah tidak butuh semua peralatan ini. Mbah butuh bersama anak-cucunya. Kami pun sepakat memindahkan Mbah dari ICU ke kamar perawatan biasa. Kami menandatangani surat pernyataan bahwa keluar dari ICU adalah permintaan pasien dan keluarga pasien sehingga pihak RS tidak bertanggung jawab apabila ada kegawatan. Sungguh suatu keputusan yang berat karena kami sadar betul konsekuensinya.

Jumat pukul 8 malam, Mbah dipindahkan ke ruang VIP. Semua alat bantu dilepas, tinggal infus, selang makan, dan oksigen saja. Kami semua berkumpul di sisinya. Mbah tidak mau melepaskan genggaman sehingga kami bergantian menggenggam kedua tangannya.

Anak, cucu, cicit, berkumpul dan menjaganya bergantian. Kami menemani Mbah berdzikir dan mengaji. Tekanan darah Mbah masih tidak stabil dan Mbah masih belum membuka mata, namun Mbah masih bisa menggenggam erat tangan kami.

Minggu pagi, saat adzan subuh, Mbah membuka mata sebentar, lalu merem lagi. Seorang sahabatku yang bekerja di RS Hermina membantuku memantau keadaan Mbah. Ia bilang, sebenarnya keadaan Mbah menunjukkan kemajuan. Leukositnya normal, nadinya pun normal. Hanya tekanan darah yang belum stabil, dan dokter masih berharap Mbah bisa membuka mata.

Senin pagi, aku menggantikan Bapak-Ibu yang sudah begadang menjaga Mbah. Berdua saja di ruangan, aku membacakan Ar-Rahman, Al-Mulk, Al-Fajr, dan beberapa surat lain untuknya. Aku menyenandungkan lagu "Ilir-ilir" sambil mengusap rambutnya, seperti yang kulakukan saat menidurkan Ali. Mbah menangis.

"Mbah sabar ya, Mbah jangan kesel sakit kayak gini. Nggak ngerepotin siapapun kok Mbah, semuanya senang bisa nemenin Mbah di sini. Mbah banyak istighfar aja, Iken temenin di sini. Insya Allah sakitnya Mbah penggugur dosa." Mbahku menghela nafas panjang.

Kemudian beliau bersin. Banyak dahak yang keluar. Sejak kemarin memang banyak dahak yang mengganggu jalan nafas Mbah, tapi kalau disedot pakai alat sama suster, Mbah nggak mau. Selangnya digigit.

Tapi kalau dibersihkan pakai tisu sama cucunya, Mbah mau. Aku pun segera membersihkan dahak Mbah dengan tisu, sambil terus berbicara, "Ini Iken Mbah, Iken bersihin ya supaya Mbah nafasnya enak. Buka mulutnya ya Mbah." Alhamdulillah bisa dibersihkan dan Mbah bisa bernafas lebih lega.
Aku pulang menjelang zuhur, digantikan oleh budeku. Seharian itu aku tidak ke RS lagi. Aku mendoakan Mbah tiada henti dari rumah.

Malamnya, aku mimpi Mbah mau solat di musholla, minta tolong ambilin mukena. Aku mengambilkan mukena untuknya, tapi Mbah malah naik ke atas (tangga). Kubilang, Mbah mau ke mana? Mbah solat di atas aja, katanya.

Aku terbangun, sudah pukul 4 pagi. Aku membacakan Al Fatihah untuk Mbah, mengganti popok Ali, lalu tidur lagi, karena aku sedang tidak solat.

Pukul 6, ibu membangunkanku dan bilang, Mbah sudah wafat subuh tadi. Innaa lillahi wa innaa ilaihi rojiun. Hatiku mencelos. Walau kami sudah pasrah dan sudah paham kemungkinan yang bisa terjadi sejak memutuskan membawa Mbah keluar dari ICU, tetap saja, kabar duka itu terasa menyesakkan.

Cerita tante, dari pukul 2 hingga menjelang subuh, Mbah demam sampai 40 derajat celcius. Bapakku mungkin emosional, beliau segera turun ke musholla untuk sholat.

Saat itu ada om dan tante yang memegang tangan Mbah, dan terus membimbing Mbah mengucap Laa ilaha illallah, sebelum akhirnya Mbah seperti cegukan dan mengembuskan nafas panjang satu kali. Lalu genggaman tangannya melemah.

Om ku berlari ke perawat dan dokter, yang segera mengecek keadaan Mbah. Mbah pun dinyatakan wafat oleh dokter, Selasa (7/3) pukul 5.21 pagi.

Jenazah Mbah dibawa pulang ke rumahku, banyak sekali yang datang. Semua tetangga kaget, menangis, sepertinya baru kemarin lihat Mbah jalan kaki. Baru kemarin ngobrol. Baru kemarin beli jamu.

Memang sebelumnya Mbah sangat sehat, hanya 5 hari terakhir beliau drop, sebelum akhirnya wafat. Aku memandangi wajah Mbah yang cantik, cerah, seperti habis mandi lalu tidur. Tapi dingin. Padahal aku masih ingat sekali hangat genggamannya beberapa hari lalu.

Mbah dimakamkan di pemakaman dekat rumah ba'da zuhur. Cuaca hari itu sejuk, mendung, seperti menemani duka kami. Allahummarhamha wa 'afiha wa'fu 'anha. Insya Allah Mbahku husnul khotimah.

Tasurrun Nazhirin

Sejak dulu aku selalu ingin nulis tentang selera fashion, gaya berpakaian Mbah yang menurutku, berkelas. Hahaha. Beneran deh. She got style. Bahkan di usianya yang tidak muda lagi, Mbahku masih "tasurrun nazhirin" alias enak dipandang. Anggun, sederhana, cantik tapi tidak berlebihan. Caranya berjalan, memakai kerudung, memadu-padankan kebaya dengan sarung, sampai caranya menenteng tas, sungguh menawan. Kalau diajak makan di restoran hotel bintang lima sekalipun, Mbah tidak canggung. Ia tahu bagaimana makan pakai pisau dan garpu, bagaimana mengaduk teh dan meletakkan sendok, serta bagaimana duduk dan menarik kursi. Like a royal lady.

Gaya berpakaian Mbah sejak dulu tidak berubah. Zaman boleh berganti, namun Mbah tetap setia mengenakan selendang, kebaya, dan kain sarung, yang selalu matching.

Bila keluar rumah, Mbah menutup rambut bersanggulnya dengan kerudung kecil yang disebutnya "krepus", beberapa hasil rajutan tangannya sendiri. Ia sering memetik beberapa kuntum melati, lalu diselipkan di dalam krepusnya. Aroma wangi inilah yang sangat khas Mbah. Kalau mau bepergian, Mbah mengenakan selendang panjang yang dililitkan. Ada satu favoritnya, selendang Turki tebal hadiah cucunya dari Jeddah.

Kebaya Mbah pas di badan, dengan model yang tidak pernah berubah. Mbah nggak betah kalau kebayanya kekecilan atau kebesaran. Pasti didedel kalau engga langsung dikasih orang. Pilihan motif dan warnanya cenderung kalem. Aneka gradasi coklat, hitam, putih, ungu muda, krem, baru-baru ini aku lihat juga kebaya baru Mbah berwarna merah muda. Tidak ada renda, tidak ada manik-manik. Tapi manis. Kalau bepergian naik pesawat atau ke tempat dingin, Mbah tidak lupa menenteng kardigan putih rajut.

Sarung Mbah pun nggak bisa sembarangan. Favoritnya adalah Danar Hadi dan Batik Keris. Motifnya juga dicermati baik-baik sebelum dipilih. Apa yang terjadi kalau Mbah dibelikan sarung 100ribuan? Gatel 😂😂 Mbah pasti akan mengeluh kakinya gatal memakai sarung murah tersebut. Padahal beliau juga nggak tau harganya berapa, misalnya karena sarung itu adalah pemberian orang. Tetep aja, beliau pasti langsung mengeluh kakinya gatal. Hahaha canggih ya.

Sandal pilihan Mbah selalu empuk, simpel, sangat nyaman dengan warna yang tak jauh dari hitam dan coklat. Mbah suka sedikit aksen, tapi say NO to manik-manik atau kelip-kelip. Koyok wong ndeso, katanya 😂 Mbah harus diajak dan memilih sendiri sendalnya. Kalau kita salah-salah beliin, nggak bakal dipakai. Atau, ya, kakinya jadi gatal 😂 Sandal Mbah juga nggak ada yang di bawah 100 ribu. Padahal beliau nggak bisa baca ya, tapi beliau selalu melipir ke koleksi-koleksi Buccheri. Aku dan ibu sering nemenin Mbah cari sendal baru, seringnya sih ke mall. Dan itu bisa lama pilah-pilihnya. Mbah sama aja yah dengan perempuan pada umumnya kalau soal ini 😂

Berikutnya, tas atau dompet. Mbah menyukai tas dan dompet bergaya etnik, dan buatan tangan. Dompet kecilnya adalah rajutan tangannya sendiri. Dompet lainnya terbuat dari rangkaian manik-manik. Isinya, ya uang, KTP, dan beberapa kuntum melati. Kalau bepergian dan menginap, Mbah membawa tas tenteng. Ada yang bercorak batik, bermotif tenun atau bordiran khas daerah tertentu.

Gaya berpakaian Mbah tidak pernah berubah. Ke mall, ke dokter, ke Manado, atau bahkan saat umroh dan haji sekalipun, Mbah tetap dengan selendang, kebaya, dan sarung batik. Throughout the years, she stayed true to her self, to her own style. Aku pernah cerita kan, bagaimana motif kain batik Mbah menarik perhatian perempuan Turki dan Arab saat di Masjidil Haram? Mbah tidak takut untuk tampil berbeda, demi tetap menjadi dirinya sendiri.

Saat di rumah maupun bepergian, Mbah sama cantiknya. Menurutnya, begitulah seharusnya perempuan menghargai diri sendiri. Mbah pernah menegurku saat aku mengenakan daster sobek di rumah. "Di rumah boleh pakai baju yang enak, tapi harus tetep apik," katanya. Iya ya, kenapa pula aku terlihat kucel saat di rumah dan baru dandan cakep, memakai pakaian bagus saat hendak keluar? Apakah aku tampil cantik untuk mata orang lain? Seharusnya aku berpenampilan cantik semata untuk menghargai diriku sendiri. Di mana saja, termasuk di rumah. 

Dia tahu persis pakaian seperti apa yang dapat merepresentasikan dirinya. Yang simpel, namun klasik. Tren berganti setiap tahun, namun hingga usianya ke-92, selera Mbah tidak berubah. Mbah tidak tergoda pakai gamis, kerudung bergo, atau busana kelap-kelip. Karena itu bukan dirinya. "Wong lio ae, aku gak, wis."

Selain itu, kata ibu, tangan Mbah itu mahal.

Apa sebab?

Semua yang dipegang tangannya -walau beliau nggak lihat dan nggak bisa baca harganya- udah pasti mahal. Mulai dari kain sampai centong nasi 😂 Pernah, diajak beli perabot dapur sama ibu, katanya Mbah mau beli centong nasi. Di antara sekian banyak varian centong nasi yang berjejer, tangan Mbah memilih satu yang harganya 25 ribu rupiah. Wew. Padahal yang 5 ribu juga banyak. Ditawarin yang lain, nggak mau. Udah itu aja, katanya. Which is, yang paling mahal 😂

Demikianlah aku akan selalu mengingat Mbahku yang cantik, dan selalu sedap dipandang bahkan hingga akhir usianya. Mbahku yang punya selera berkelas, dan tangannya yang "mahal". Ia tahu persis apa yang ia inginkan, apa yang dapat merepresentasikan personality-nya, dan bagaimana ia tetap nyaman menjadi dirinya sendiri di tengah zaman yang terus berubah.

Bagiku, Mbah adalah contoh perempuan yang menjaga penampilan, bukan demi pujian orang lain. Ia melakukannya demi kenyamanan pribadi. Ia adalah perempuan yang sangat menghargai dirinya sendiri.

Kami akan merindukanmu, Mbah.