Jumat, 02 Februari 2018

Dua Tahun Menata Hati

Tidak banyak yang tahu bahwa dua tahun terakhir aku mengalami pergulatan batin yang luar biasa. Aku menepi dari keramaian, semata-mata karena aku merasa kehilangan pijakan. Semua bermula semenjak aku memutuskan resign dari pekerjaanku sebagai wartawan Majalah Ummi dan banting setir jadi ibu rumah tangga.

Pada waktu itu alasanku resign adalah karena: capek. Aku sering sakit. Nggak ada visi dan alasan yang cukup mapan tentang mengapa aku harus di rumah. Tadinya kupikir segalanya akan jadi lebih mudah. Ternyata, pergantian rutinitas dan peran ini bikin aku shock. Mungkin semacam post power syndrome ya. Hehe. Dari yang tadinya bebassss banget jadi jurnalis wara-wiri ke sana ke mari, perempuan mandiri ke mana-mana sendiri, punya penghasilan sendiri dengan lifestyle yg lumayan konsumtif, pokoknya hidup semau-mau. Eh, tiba-tiba harus di rumahhhh aja sama bocah. Iya sih aku punya ide besar bahwa aku pengen di rumah untuk full time mendidik anak. Tapi itu ide besarnya. Realita hariannya mah. Netein. Bikin bubur. Nyuapin. Gendong. Nyebokin. Ngejar2. Nemenin eek di kamar mandi. Hampir gak ada waktu pribadi karena bahkan ke kamar mandi aja ditangisin. Solat digelayutin ampe kecekek mukena. Ya Allah. Pun gak ada pemasukan pribadi karena 100% uang dari suami. I feel so helpless... powerless... useless... Tapi aku nggak ada waktu untuk memikirkan diri sendiri. Energi, pikiran, emosi sepenuhnya tercurah untuk Ali. Aku nggak pernah sempat nangis untuk diri sendiri dan meluapkan emosi.

Juga karena latar belakang seorang jurnalis, aku "kebiasaan" mencari info detail tentang parenting dan tumbuh kembang anak. Aku melahap semua "konsep ideal" tapi seketika itu pula dibenturkan dengan realita sehari-hari yang mematahkan teori. Medsos seperti jendela yg mudah sekali membuatku melongok ke luar dan melihat rumput2 tetangga lebih hijau. Perasaan bingung, merasa bersalah kepada anak dan suami, merasa bodoh dan gagal menjadi ibu, menguburku makin dalam setiap hari. Aku kehilangan semangat dan produktivitas. Tadinya masih rajin nulis jadi mampet. Aku kehilangan diri sendiri. Tapi karena aku nggak ke psikolog jd gak tahu itu depresi/bukan. Aku juga semakin tertekan kalau ada orang yang bilang, masalahku ini hanya karena aku kurang bersyukur, kurang beriman, kurang ibadah. Semakin ngerasa berlumur dosa dan tidak berarti. Depression eats you from inside.

Suamiku berusaha memahami struggle-ku dan aku rasa dia adalah salah satu orang paling sabar yang pernah aku kenal. Kendati seringkali dia nggak ngerti gejolak emosiku yang seperti roller coaster, pada akhirnya ia cuma memelukku dalam-dalam dan membiarkanku menangis lama. Aku sering bilang padanya, Bang seandainya aku cuma lulusan SMP dari kampung trus langsung nikah mungkin aku gak se-stress ini. Seandainya aku gak pernah kuliah. Seandainya I had no idea about feminism. Seandainya aku nggak pernah merasakan berkarir dan punya uang sendiri. Mungkin aku nggak akan segini frustasinya. Tapi aku terjun bebas dari posisiku dahulu. Sekarang, aku minta uang aja sungkan. Bahkan untuk bilang "Aku capek" atau "Aku ngantuk" ke suami tuh sungkan, malu banget. Kayaknya aku ga berhak bilang begitu karna udah pasti suamiku yang lebih capek berangkat kerja setiap hari, sementara aku di rumah aja, gimana bisa capek?

Kenyataannya, aku merasa compang-camping. Tak kasat mata, tentu saja. Kalau berat badan naik atau turun, kelihatan, orang mudah berkomentar. Tapi kalau batin yang tengah pincang, padahal berat badan nambah terus, siapa yang nyangka? Pun kalian kalau ketemu aku mungkin gak akan nyangka aku tertatih-tatih menata batin.

Suamiku sangat berempati. Setelah menyampaikan semua uneg2 itu, dia agak bingung dan kaget kenapa aku bisa berpikir begitu. Dia bilang, dia sangat menghargai proses "terjun bebas" yang aku rela lakukan. Itu pengorbananku, katanya. Nggak banyak yang bisa atau bahkan mau melakukannya. Duh langsung rasa pingin nangis. Dia bukan tipe orang yang suka ngungkapin perasaan tapi denger dia ngomong gitu aku terharu. Karena itu bener banget.

Semua orang di sekitarku baik, suamiku sangat pengertian, anakku pun pinter dan sehat, namun masalahnya hanya ada di dalam diriku sendiri.

Karena begitu banyaknya emosi negatif yang terpendam di dalam dada, dan aku pun kerap mimpi buruk, aku sempat ingin rukyah. Jangan-jangan ada jin nemplok yang bikin gw begini. Tapi setelah konsultasi dulu ama temen yang ngerti, dia bilang "Lu mah stres doang itu. Kaga usah bawa2 jin!" Hahaha. Tapi tetap saja, hati yang gundah adalah sasaran empuk syaitan. Aku sadar penuh, aku harus banyak menenangkan diri dengan ngaji dan dzikir, tazkiyatunnafs.

Aku sampe skrg doaku msh sama.

"Allahummaj'alnii minasshobirin... allahummaj'alni minassyaakirin... allahummaj'alni minal mukhlashin..." ya Allah jadikan aku org yg sabar... yg bersyukur... yg ikhlas... diulang 3x dan diucapkan tiap abis solat, bangun tidur, atau kapanpun aku merasa tidak cukup sabar/capek hati.

Atau zikir asmaul husna. Aku menyebut nama-nama Allah seperti Ya Lathif... untuk meminta kelembutan hati... Ya Shobur... untuk meminta kesabaran, dst. Itu zikir paling mudah dan menenangkan.

Lalu, aku menghitung nikmat. Setiap malam, sebelum tidur, aku selalu mengajak Ali menghitung dan menyebutkan nikmat Allah kepada kami. Kami sebutkan (hampir) semuanya. Karena nikmat Allah yang sebenarnya mah, gak kehitung, hehe... "Alhamdulillah ya Allah, hari ini Ali senang Ali sehat, Mama sehat... Ayah pulang cepat jd Ali bisa main... Alhamdulillah ya Allah, Ali makannya banyak hari ini, terima kasih ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang pandai bersyukur..." dan seterusnya yang bisa panjangggg sekali sampai Ali ngantuk, hehehe...

Itu menjadi pengantar tidur Ali namun pengingat yang sangat efektif buatku, bahwa aku dikaruniai banyak nikmat dan sepatutnya aku bersyukur.

Aku menarik diri dari segala bentuk medsos, I changed my number, bahkan kemarin-kemarin di hp ini cuma ada grup keluarga. Karena seringkali kita nyari sumber stres kemana-mana, padahal ia ada di genggaman kita. Ponsel alias jendela buat ngeliat rumput orang2 yang lebih hijau. Ponsel, sosmed, adalah pangkal dari segala iri, hasad, membanding2kan, tidak bersyukur, riya', dsb. So I decided to stay away from my phone.

Aku jadi punya banyak waktu juga untuk baca buku.

Salah satu yang kubaca, buku Marie Kondo. Darinya aku terinspirasi untuk menata ulang isi rumah mengeluarkan banyak sekali barang. Abang pun sepakat mengeluarkan budget untuk renovasi dan mengganti suasana jadi serba minimalis. Sekarang rumahku minim perabot, bahkan piring pun cuma ada 8. Dulu mah tiap liat dapur bawaannya pengen beberes. Sekarang engga. Lha wong ga ada barang apa yang diberesin? Hehe. Cucian piring juga gak numpuk, karena misalnya kedua panci kotor dan aku perlu pakai, ya harus cuci dulu. Aku betul-betul nggak mau dipusingkan dengan urusan beres-beres setiap hari karena aku ingin fokus membahagiakan anak, suami, dan diri sendiri. Ternyata, itu berefek besar.

Ada satu buku lagi yang banyak menginspirasi, mencerahkan, dan... memeluk... ya, sebagai ibu yang tengah krisis percaya diri, aku merasa dipeluk oleh buku yang indah ini. Cinta yang Berpikir karya Ellen Kristi. Bacalah. Recommended banget. Buku ini betul-betul bisa membuatku memaknai lagi setiap momen bersama Ali. Membuatku lebih santai, lebih banyak bersyukur. Mencerahkan visiku akan pendidikan macam apa yang kuharapkan untuk Ali. Membesarkan hatiku bahwa saat ini aku sedang membesarkan seorang calon pemimpin masa depan. Pendidikan karakter adalah inti dari manusia sejati. Dan cuma ibu yang bisa membimbingnya 24/7.

Wafatnya Mbah pada Maret tahun lalu juga menjadi turning point buatku. Seperti yg ceritakan di sini, beliau ambruk ketika lagi di rumah sama aku dan Ali. Anak-anak dan cucu-cucu lainnya sibuk dgn rutinitas masing-masing, dan aku yg nggak punya kerjaan apa-apa pada akhirnya sangat bersyukur bisa menemani hari-hari terakhir beliau mendengarkan ceritanya, menemani tidur siang, mengaji dan berzikir di sampingnya sampai beliau wafat. Di saat yg lain sibuk berutinitas, aku yang punya waktu paling luang. Setelah beliau tiada, aku sadar bahwa waktu adalah hal paling berharga untuk dilalui bersama orang-orang terkasih. Dan semestinya aku bersyukur punya banyak waktu bukan cuma untuk membersamai Ali, tapi juga Mbah, Bapak-Ibu, dan tentu saja, suami.

Butuh waktu lama buatku untuk merenung dan memahami apa yg sesungguhnya sedang terjadi pada diri. Dan pergulatan itu pun belum sepenuhnya usai. Emosiku masih suka meledak-ledak terutama di masa PMS. Tapi seenggaknya aku mulai memahami polanya dan terus menerus berusaha mengendalikan diri lebih baik. All you need is love kata The Beatles. Aku pun, butuh banyak ciuman dan pelukan. Aku memintanya setiap hari dari suamiku dan Ali.

Ohya, satu lagi. Aku punya tetangga baru, senasib, ibu muda, punya anak 2 tahun, bocah cowok yang ga bisa diem, dan kami sehari-hari di rumah aja. Kami suka jalan2 ke taman, perpustakaan, sepedaan, berenang. Wisata murah meriah aja sekalian ajak anak eksplorasi ngabisin energi, hihi. Bawa 2 toddler super aktif gitu, ribeddd, pasti. Tapi buatku, senang banget punya temen refreshing dan temen cerita. Cerita semalem abis begadang. Cerita anak lg susah makan. Cerita anak lagi hobi nabok. Jd ngerasa gak sendirian. Kami saling berbagi makanan, pinjem-pinjeman buku dan mainan, belajar bikin kue bareng. Kadang solat atau mandi gantian saling titip, hahaha... Kayaknya stres ku jauh berkurang sejak ada dia.

Kurasa setiap ibu perlu memiliki teman senasib untuk berbagi cerita dan temen refreshing. Sesama ibu harus saling merangkul membahagiakan. Karena jika seorang ibu bahagia, tentramlah keluarganya. Sebaliknya, jika seorang ibu tidak bahagia, seisi rumah pun akan terasa penat dan muram.

Berbahagialah, ibu. Bahagiakan dirimu. Banyak2 bersyukur dan nikmati setiap momen yang kau lewati bersama anak dan suami. Mommies are awesome!

Selasa, 12 September 2017

Ketika Uyut Rindu Ali

Sudah 6 bulan sejak Mbah, Uyut, wafat. Kami selalu merindukannya. Tapi mungkin, Ali yang paling dirindukan Uyut. Cicit kesayangan yang sering nemenin Uyut tidur siang.

Kami selalu mengajak Ali kalau mau ziarah ke makam. Ali memetik kuntum melati dan kenanga, bunga kesukaan Uyut, untuk diletakkan di pusaranya. Ali bahkan hapal letak makam Uyut. Ia akan melepaskan gandengan kami dan berlari ke sana, bilang "ikum, Uyut!" lalu jongkok dan nyabutin rumput. Suatu kali sesampainya di samping makam, aku mengeluarkan botol minum dan menawarkannya ke Ali. Siang itu memang cukup terik, kupikir Ali haus. Eh, ternyata ama dia dituangin isinya ke tanah makam 😁😁 "Buat Uyut ajah!" katanya. Saat berpamitan, Ali selalu melambaikan tangannya, hihi.

Pernah juga suatu hari saat aku bersepeda sama Ali melewati depan rumah Uyut, yang sekarang lebih sering kosong. Tiba-tiba Ali bilang, "Uyut..." aku menjelaskan, "Uyut kan nggak ada Li," eh Ali menyanggah "Ada!!!" katanya sambil menganggukkan kepala yakin. "Ada Uyut Mamaaaa..." iya iya deh. Subhanallah.

Terus barusan, pas lagi main mobil-mobilan sendirian, Ali kok kayak menyebut "Yut... Iyah Yut..." lalu kami tanya,

"Siapa Li?"
"Yut yut uyuuut..."
"Uyut?! Di mana?"
"Tuh di atas."

Mataku terasa menghangat. Aku langsung terbayang senyumannya yang kurindukan. Uyut kangen Ali ya? Jadi nengokin. Subhanallah.

Tak mungkin rasanya Ali mengada-ngada. Selepas salat, aku mengajak Ali mendoakan Uyut, membacakan Fatihah dan surat Al Mulk.

Semoga Allah  mengampuni dosa dan melimpahkan rahmat-Nya untuk Uyut tercinta. Salam rindu.

Kamis, 31 Agustus 2017

Balance Bike untuk Ali

Suatu hari, beberapa pekan setelah ulang tahun keduanya, Ali bilang sama Ayahnya.

"Ayah, Ali mo sepedah baru..."
"Memang sepeda Ali yang sekarang kenapa?"
((Ali segera menaiki sepedanya))
"Gak muat... (nunjuk kakinya yang mentok setang) Ali udah gede..."
"Oh... Ali maunya sepeda baru yang kayak gimana?"
"Yang gede... Trus yang gak ada gowes-gowes..."

Hah?!

"Kenapa mau sepeda yang gak ada gowesannya?"
"Ali gak bisa gowes..."

Unbelievable. Anakku sudah besar dan pintar banget mengemukakan alasan. Hahaha...

Selama ini, sepeda Ali adalah sebuah sepeda roda 3 kecil dari plastik yang dibelikan kakek-neneknya waktu usianya baru 1 tahun. Harganya cuma 90 ribu, hahaha! Kecil dan enteng banget sepedanya. Ada sebuah tombol lagu di bagian setang. Dia udah menguasai berbagai gaya dengan sepeda itu. Ngebut, nabrak, meluncur, bahkan lepas tangan. Sepedanya dijatoh2in, diinjek, dibalik, diputer2 rodanya.

Satu hal yang kuamati dari perilaku Ali saat memainkan sepeda roda tiganya, ia jadi anak yang percaya diri karena ia sangat menguasai mainannya itu. Sepedanya kecil dan ringan, jadi dari awal pun ia sudah bisa naik dan turun sendiri tanpa minta bantuan. Kalau terjatuh ia bisa mengangkat sendiri sepedanya. Kalau ketiban sepeda pun, Ali nggak nangis. Ia bisa dengan mudah mengayuh dengan kaki dan bergerak cepat, mengendalikan setang, dan memainkan sepeda itu sesuka hatinya tanpa perlu meminta tolong orang dewasa.

Akan beda cerita seandainya anak diberikan sepeda roda tiga yang, misalnya, ada berbagai tombol dan mainan di sekeliling tempat duduk anak, sehingga kalau mau naik atau turun anak harus minta tolong. Sepedanya tinggi dan berat sehingga kaki anak tidak sampai dan untuk menjalankannya perlu didorong oleh orang dewasa. Kalau jatuh atau ketiban sepeda yang besar itupun anak bisa kapok, dan harus ditolong orang dewasa untuk mengangkatnya kembali. Kalau begini, anak tidak menguasai mainannya. Ia selalu memerlukan bantuan orang dewasa dan ia tidak menjadi anak yang mandiri dan percaya diri.

***

Aku sudah tau dari lama sih tentang balance bike/kick bike/push bike. Sepeda roda dua untuk toddler yang ga ada pedalnya. Dikayuh pake kaki, dibawa lari. Persis seperti cara Ali menggunakan sepeda roda tiganya.

Waktu itu aku lihat anak temen yang pake. Sejak itu aku baca2 referensi, ternyata banyak manfaat balance bike ketimbang training bike atau sepeda roda empat  biasa. Katanya sih bakal lebih mudah transisinya ke sepeda beneran. Tapi harganya kok lumayan, hiks.

Sempat kepikiran nyewa aja sih. Tapi Ali tipe anak yang sadis sama mainannya. Yang ada, gue bakal suruh gantiin entar.

Ali juga sudah kami ajak ke toko sepeda dan melihat berbagai macam sepeda. Sepeda roda tiga, roda empat. Semua ada gowesannya, tentu saja. Ali kekeuh bilang, gak mau ada gowesannya. Emang selama ini dia mengendarai sepeda roda tiganya dengan cara dikayuh pakai kaki. Aku udah ngajarin dia gowes sih, tapi kayaknya dia belum siap. Dia selalu ditanya sama orang, "Kok sepedanya gak digowes sih?" Mungkin dia baper keseringan ditanya dan disuruh gowes. Jadi dia gak mau sepeda yang ada gowesannya. Hahaha. Anakku ini memang paling gak suka kalau dianggap "gak bisa" :p

Yaudalah bang, belikan aja balance bike. Kebetulan kami emang belum pernah ngebeliin dia mainan kendaraan. Ada babywalker, stroller, sepeda roda tiga, sampai otopet semuanya boleh dikasih orang. Hehe. Alhamdulillah. Jadi sekarang gak papa deh belikan sepeda sendiri buat Ali. Apalagi katanya balance bike ini tingginya bisa disesuaikan sehingga bisa dipakai sampe anak usia 5 tahun.
Akhirnya pilihan kami jatuh pada London Taxi Kick Bike di sebuah marketplace yang kebetulan, seller-nya juga di Tangerang. Jadi bisa dikirim pake gojek dan sampe pada hari yang sama.

***

Hari itu, Ali yang biasanya udah ngantuk lagi jam 11, masih melek aja sampe jam 1 siang.
Aku tanya, "Ali emang belum ngantuk? Biasanya bobo."
Dia jawab, "Ali tunggu sepeda."
Gubrak. Rupanya sebelum berangkat kerja Ayahnya ngebilangin, "Nanti Ali tunggu ya sepeda barunya dikirim om gojek."

Jadilah ketika om gojek datang, Ali langsung loncat kegirangan dan cepat2 membuka kardus sepedanya. Gataunya harus dirakit dulu. Waduh mana cuma berduaan doang di rumah. Akhirnya ngikutin kertas instruksi dan pengetahuan seadanya, gue merakit balance bike sambil direcokin sama bocah ngga sabaran.

Begitu jadi, langsung dinaekin dan dimainin sampe jam 3, ketika speed dan antusiasnya melambat, pertanda sudah ngantuk berat, hahaha... Tidur satu jam doang, bangun tidur gak pake mandi langsung main sepeda lagi. Malem juga. Besok paginya juga. Dan seterusnya sampe dia udah bisa bawa sepedanya lari sekarang.

Orang-orang pada ketawa liat Ali dan sepeda kecilnya. Tentu saja mereka bertanya. Berikut FAQ.

"Emang udah bisa roda dua?"
"Kok ga ada gowesannya?"
"Dicopot apa gimana? Nanti bisa dipasangin gowesan?"
"Emang gak capek lari2 gitu bukannya digowes aja?"

Pesen gw, jawab aja dengan singkat sambil senyum, "Iya bu, emang gitu. Ini sepeda lari. Biarin capek biar tidurnya pules, hehe."

Memang setelah lihat barangnya langsung dan memperhatikan progress Ali menaikinya, aku jadi ngeh kenapa balance bike ini beda dengan sepeda kecil lain.

Pertama, dia itu ringan banget. Tadinya kan pengen beli sepeda kecil biasa trus dicopot sendiri pedalnya. Tapi sepeda kecil biasa nggak seringan ini. London Taxi ini beratnya 2,9kg. Ali yang beratnya cuma 12kg (imut-imut) bisa dengan mudah mengendalikannya. Dia keluarin sepedanya sendiri, dia angkat roda depannya (gaya!), kalau jatuh bangun sendiri, bahkan pernah jatuh kakinya ketindih sepeda. Aku gak tolongin, cuma kulihatin aja, tetangga udah pada teriak-teriak. Ternyata, Ali bisa bangun lagi dan mengangkat sepedanya. Kutanya, sakit ngga? Engga.

Anak nggak butuh bantuan orang lain untuk memindahkan atau mengendalikan sepedanya. Inilah yang dibilang balance bike memupuk kepercayaan diri dan kemandirian.

Sepeda ini juga mudah dikendalikan, semudah lari. Anak bisa berhenti, belok, ngebut, meluncur dan bermanuver sesuka hatinya. Kayak pas hari keempat, Ali lagi ngebut lalu di depannya ada batu. Sssseeeeettt! Dia refleks belokin setangnya. Selamet deh. Aku mules degdegan ngeliatnya, tapi semakin ke sini kuperhatikan refleksnya semakin baik. Sepeda roda empat mungkin tidak bisa dikendalikan semudah itu oleh toddler.

Kedua, sepeda ini memang didesain aman untuk toddler jadi selain kecil dan ringan, juga nggak ada extruding part, bagian yang menonjol atau tajam dan bagian2 kecil yang mudah lepas. Nggak ada jeruji roda, nggak ada kawat rem, atau bagian berbahaya lainnya. Bahkan pedal gowesan pun nggak ada  memang pedal gowesan sangat mungkin membentur kaki anak kan. Nah ini gak ada.

Ketiga, dengan sepeda ini kita nggak menuntut anak untuk cepet2 mempelajari sesuatu yang dia belom bisa: menggowes. Biasanya, anak usia 2 tahun emang belum bisa menggowes. Kejadiannya di Ali, kayaknya dia merasa 'tertekan' gitu karna gak bisa gowes, dan akupun beberapa kali ngajarin dia untuk gowes. Ya belom bisa. Yang ada dia malah down dan bilang "gak mau yang ada gowesannya. Ali gak bisa gowes." Aduh, my mistake. Maafin Mama ya.

Keempat, untuk belajar naik sepeda beneran, balance bike membentuk mental yang berbeda ketimbang kalo anak memakai sepeda roda empat. Balance bike melatih anak menyeimbangkan sepedanya. Miring kanan, miring kiri, ngebut, lalu jatuh. Itu biasa. Kalau udah bisa, anak akan meluncur dengan kakinya diangkat. Balance bike mengajak anak untuk berani mengeksplorasi tantangan. Angkat setang, nanjak dan meluncur, belok zigzag, semua bisa dilakukan dengan mudah. Ia sudah belajar menyeimbangkan sehingga kalau nanti dikasih sepeda berpedal di usia 5 tahun, dia ngga akan takut jatuh karena udah biasa menyeimbangkan, malah lebih mudah karena dikasih gowesan.

Kalau aku dulu, transisi ke roda dua dan mencopot kedua roda bantu itu prosesnya lama banget. Karena aku takut. Aku cemas kalau roda bantunya dicopot, nanti aku jatuh. Karena selama belajar aku fokus menggowes, bukan menyeimbangkan. Padahal sepeda kan intinya belajar keseimbangan. Jadi kayaknya kelas 2 SD gitu aku baru bisa (baru berani lebih tepatnyà) sepeda roda dua.

Jadi, yap aku merekomendasikan balance bike ini untuk toddler. Niatnya bukan biar cepet bisa naik sepeda beneran sih. Ini memang cuma sepeda mainan. Tapi mainan ini didesain untuk bisa ia kuasai dan bisa membentuk mental dan kepercayaan dirinya. Itu yang aku amati.

Balance bike aman digunakan di lahan terbuka yang luas dan bebas kendaraan bermotor, seperti jalanan perumahan atau taman kota. Sehingga anak bebas bereksplorasi, tapi tetap aman dan terkontrol. Kalau lingkungan rumah padat penduduk, banyak selokan di kanan kiri, dan motor yang lalu lalang, mungkin penggunaan balance bike kurang aman. Sebab dia itu bisa ngebut, meluncur, gak ada penahannya seperti sepeda roda tiga atau sepeda roda empat. Apalagi digunakan oleh toddler yang masih ngawur. Malah bisa jadi bahaya.

Terus, kalo mau pake balance bike, nyali kudu gede. Nyali anaknya, nyali emak bapaknya 😂😂 kalau takut si anak jatuh atau luka, mendingan jangan deh. Karena udah pasti jatuh, bonusnya luka. Itu udah pasti, aku melihatnya sebagai bagian dari pembelajaran. Temen2 kecil Ali pasti penasaran sama balance bike, aku selalu kasih kesempatan mereka untuk nyoba. Pertama kali naikin, anak pasti kesulitan nyeimbangin, 80 persen akan jatuh di percobaan pertama, atau rubuh sepedanya, atau nyusruk kedua-duanya. 

Dan seringkali, saat anak jatuh itu orangtuanya (atau kakek/neneknya) udah keburu teriak dan bilang, "Udah jangan lah kamu nggak bisa nanti jatuh!" Akhirnya si anak pun mundur dan nggak mau coba lagi. Padahal mereka penasaran, kadang aku kasian juga sih ngeliatnya.

Kadang kita terlalu sering mengasihani anak kita, padahal ia tak perlu dikasihani. Kasihan jatuh, kasihan capek, kasihan susah, kasihan sakit. Well, that's life. Tugas kita sebagai orangtua adalah mengarahkan dan mengawasi, bukan melarang dan membatasi.

Bukan berarti dengan balance bike orangtua bisa lebih santai. Malah lebih ekstra mantengin terus, ngejar, jadi Pak Ogah di persimpangan untuk mengingatkan si kecil berhati-hati saat belok, dan memastikan nggak ada kendaraan bermotor melaju dari arah seberang. Jatuh, luka, iya. Biarin aja. Tinggal bangun lagi. Kalau luka lecet, ya dicuci. Tapi jangan sampai ngebiarin dia main sendiri, bahaya. Bagaimanapun, dia cuma toddler yang kadang masih ngawur dan ngga bisa pelan-pelan.


Senang sih bisa sepedaan sama Ali. Jadi dia gak cuma dibonceng tapi bisa balapan, hehe... Yuk ah, sepedaan!

Kamis, 24 Agustus 2017

Toilet Training dalam Seminggu!

Pada tulisan sebelumnya, aku cerita bahwa sekarang aku nemuin holy grail buat perawatan wajah.. yaitu SK II FTE. Buat rakyat jelata ibu rumah tangga gak bekerja seperti gw, harga SK II emang mahal banget. Minta ke suami segen juga kan ya, makin gede aja jatah belanja si Mama.

Aku merasa, harus ada budget belanja bulanan yang dipangkas nih supaya keuangan gak bocor. Pas lagi ngelamunin itu, aku dalam posisi sedang kejar2an habis mandiin Ali. Dia berlarian telanjang gak mau dipakein popok. Hampir tiap abis mandi begini nih.

Aha! Bagaimana kalau kita mulai toilet training saja? Lepas popok selamanya. Sebab belanja popok itu kalau diturutin emang gede banget. Bisa abis 2 kemasan gede dalam sebulan, kadang lebih. Karena si Ali tipe anak yang demen ee ketika popok baru diganti  lagipula, si bocah udah genap 2 tahun usianya, dan sudah bisa diajak berkomunikasi.

Yap! Demi SK II aku rela... aku rela ngepel pipis! Mangku anak ee... aku rela...

Dan ternyata... berhasil dalam seminggu dong lepas popok! Walau baru pipis aja sih yang uda terbiasa di kamar mandi... ee mah masih di celana  tapi tetap saja, itu suatu progress yang sangat berarti.

Sebulan ini, Ali sudah lepas popok di keseharian. Walau masih kupakaikan popok kalau sedang bepergian atau berangkat ke masjid, tapi popoknya hampir selalu kosong. Dia udah ngga mau lagi pipis di situ.

First of all, toilet training nggak bisa dilakukan secara mendadak. Perlu kesiapan mental si ibu, perlu menyediakan waktu, dan perlu strategi. Tanpa itu semua, toilet training hanya akan jadi wacana yang maju mundur dan malah membikin stres. Jadi sebenernya ngga usah buru-buru juga sih, lakukan ketika ibu dan anak sudah siap.

Perlu komunikasi yang intens antara ibu dengan anak sebelum dan selama toilet training. Bacakan buku, lihat video lucu, belikan stiker tentang toilet training. Kita harus terus menerus mengingatkan bahwa kalau pipis harus di kamar mandi, sudah besar tidak pakai popok dan tidak ngompol, teruuuuss diulangi sampai melekat kata2nya di ingatan anak dan dia bisa mengucapkannya kembali.

Di sini aku mau share beberapa tips toilet training yang berhasil di aku. Dalam seminggu!


  1. Luangkan waktu selama beberapa hari, minimal 3 hari pertama untuk nggak pergi ke mana-mana. Di rumah aja. Selama rentang waktu ini, pakaikan anak kaos dalam dan celana dalam, supaya mudah membukanya ketika dia mau pipis, dan nggak banyak2 cucian ketika dia ngompol. Biar dah anak kita dikata jelek pake singlet ama CD doang, toh cuma untuk beberapa hari.
  2. Pakaikan celana dalam atau celana kacamata, supaya kalau dia ee di celana, ee nya nggak jatuh ke lantai. Although it would still happen sometimes  ((nightmare))
  3. Kanebo is my bestfriend. Ini wajib ada banget selama toilet training. Siapin 2 kanebo, satu kanebo kotor untuk menyerap pipis, dan satu kanebo bersih (basahi air) untuk membersihkan bekasnya. Setelah digunakan, kucuri di bawah air mengalir, peras, jemur, dan siap digunakan lagi.
  4. Siapin reward. Reward buat Ali adalah, ditiupin balon kalo berhasil pipis di kamar mandi. It works only in 3 days for me. Dia semangat pipis di kamar mandi ampe balonnya banyak. Hari pertama, cuma dapet 1 balon. Hari kedua, 3 balon. Hari ketiga, 5 balon! Tenang, cuma semingguan aja sih dia minta ditiupin balon. Setelah itu, cuma kadang aja dia inget. Lagian, apa sih susahnya niup balon, hehe... Jangan lupa pujian. Pinter yaaa pipis kamar mandi... Anak pintar gak ngompol lagi yaa... dll.
  5. Tiga hari pertama, ajak ia untuk minum yang banyak dan sering, biar pipisnya juga sering. Mau pipis atau enggak, kita upayakan ajak dia ke kamar mandi kira-kira 30 menit sekali. Setelah beberapa hari, kita akan bisa memprediksikan waktu-waktu dia pengen pipis
  6. Awal-awal, akan susah dan lama nungguin pipisnya keluar di kamar mandi. Temenin, sambil ajak ngobrol. Ali kubawakan krayon, dia coret2 dinding kamar mandi dan tutup kloset sambil nunggu pipisnya keluar. Atau niup gelembung dan main air. Sambil kita basahi  kemaluannya dan terus encourage dia untuk pipis supaya nanti ditiupin balon
  7. Ajak pipis bareng dkmr mandi. Agak saru sih ya. Tapi berhasil. Because monkey see monkey do. "Mama udah pipis..  ayok skrg Ali!" Hati-hati ya jangan sampai anak melihat aurat kita dan usahakan ini dilakukan hanya di beberapa hari pertama. Setelahnya, kita cukup ajak dia jongkok aja.
  8. Jangan marah kalau dia ngompol. Kalau kita marah, nanti dia kapok ngompol dan minta pake popok lagi. Ngompol itu wajar, namanya juga anak kecil. Tarik nafas, ambil kanebo, ajak membasuh ke kamar mandi dan selalu kasihtau, kalau ngompol diem aja di situ jangan jalan ya, nanti kepleset. Diem di tempat sampai mama datang. "Pinter ya pipis, tapi lebih pinter lagi kalau pipisnya di kamar mandi. Kalau pipis jempolnya satu, kalau pipis di kamar mandi jempolnya dua...
  9. Singkirkan dulu deh tuh yang namanya karpet atau sofa bagus yang gak pengen diompolin. Karna selama masa toilet training, ngompol itu pasti. Itu adalah tahap pertama pembelajaran anak mengenali sensasi basah yang tidak nyaman. Itu adalah saatnya kita mengomunikasikan bahwa lebih baik jika pipis di kamar mandi. Boleh juga mengajak dia untuk bantu membersihkan bekas ompolnya, atau mencuci celana bekas ee nya
  10. Susah ngajak anak ke kamar mandi? Ajaknya sambik ngobrol topik yang dia senangi. Misal bangun tidur masih belom mood pun, kita ajak ngobrol. "Ali tau ga, tadi pas Ali masih bobo, ada suara ngiiiiiiiiiuuuuunggg ngiiiiiuuuungg Mama kaget Li, Mama bangun deh. Suara mobil apa ya itu?" ........ sambil angkat ke kamar mandi dan pipis.
Taraaaa... Mama pun bisa mengalihkan pengeluaran popok untuk SK II, hahahahaha...

Sebenernya aku juga sudah membelikan potty seat untuk Ali, bentuknya kura-kura. Tapi dia nggak mau duduk untuk pipis atau ee di situ. Pipis maunya jongkok di kamar mandi. Ee masih maunya dipangku TT___TT Lagipula, dari pengalaman seorang teman yang anaknya dilatih di potty seat, dia jadi ngga mau buang air kalau ngga ada potty nya itu. Misal lagi bepergian, kan jadi repot kalo harus ke toilet umum dan gak ada potty. 

Dan satu lagi, karena potty seat itu bisa dibawa ke mana-mana, jadinya si anak ngga mau ee di kamar mandi. Misal lagi nonton TV, trus pengen ee, dia bawa potty nya ke depan TV trus ee sambil nonton TV. Iiiihhh...

Jadi ya, potty seat-nya Ali nganggur aja di kamar mandi tuh. 

Soal ngompol malem, alhamdulillah Ali sejak bayi dulu memang jarang ngompol malem. Bangun tidur baru deh dia banjir. Tapi ya kadang ngompol juga sih. Nasib deh, mo gimana lagi, aku belom bisa tengah malem ngegotong dia ke kamar mandi buat pipis. Jadi kalau Ali, pipis sebelum tidur itu wajib. Bangun tidur juga langsung pipis di kamar mandi. 

Setiap anak tentu memiliki kebiasaan dan progress yang bisa berbeda-beda. Aku sangat mensyukuri kemudahan yang diberikan Allah dalam hal toilet training ini. 

Sekarang, Ali udah nggak bisa pake popok lagi. Aku masih pakein dia popok kalau lagi ke masjid dan kalau pergi. Tapi, popoknya selalu kosong. Dia udah nggak mau pipis di situ. Pernah, kami pergi pagi dan aku nggak ngecek sampai menjelang sore. Sore, dia terlihat nggak nyaman dan memegang celananya terus. Benar aja, aku intip, popoknya kosong bersih dan dia kebelet pipis. Yaudah, gotong deh ke toilet dan pipis di kloset. Jadi tetep aja, walaupun anak masih dipakaikan popok (antisipasi bocor di tempat umum), tetap saja, kita harus mengajak dia pipis di kamar mandi. Karena kemungkinan besar dia sudah nggak nyaman lagi pipis di popok. 

Good luck moms!

Rabu, 29 Maret 2017

Ambruk Akibat Double Combo (Demam Berdarah + Tifoid)

Sepeninggal Mbah, acara pengajian digelar 7 malam berturut-turut di rumahku. Mbahku sosok yang sangat well-loved dan well-respected di keluarga dan lingkungan kami, sehingga berbagai jenis bahan makanan, sumbangan uang, dan cenderamata subhanallah walhamdulillah tiada henti mengalir. Kami membungkusnya penuh suka cita dan membagi-bagikan ke tetangga.

Paginya, tentu saja pekerjaanku menumpuk. Juga sisa makanan, yang seringkali membuatku tak harus memasak. Apalah, aku santap saja. Sayang.

Pengajian berlanjut setiap malam Jumat, terus hingga 40 harinya kelak. Banyak sekali yang ingin mendoakan Mbah.

Ali senang banyak teman, sepupunya kecil-kecil. Sore ia pasti main, lari-larian, becanda ketawa-ketiwi. Makannya banyak, karena memang banyak makanan, comot-comot. Jam 8 malam, ia sudah ngantuk. Tidur dengan mudahnya.

Dulu ia biasa tidur jam segitu sampe pagi. Tapi ternyata sekarang dia sudah gede. Tidur jam 8, jam stgh 2 pagi bangun. Laper, minta makan. Minta gendong keluar. Atuh gelap nak. Akhirnya baca buku di ruang tamu sambil nonton Chef Gordon. Main masak-masakan. Main balok. Main mobil-mobilan. Lalu nyuruh aku berdiri ajak lompat-lompat dan main bola. Gitu aja terus.

Duh, badan rentek rasanya.

Ali baru tidur jam 5. Sedangkan jam segitulah aktivitasku dimulai.

Mulai pagi itu, Selasa (21/3) pasca begadang dengan Ali, aku meriang. Demam tinggi 38,7 dan nggak turun2. Semua otot dan persendian sakit, ngilu, mual luar biasa. Air putih aja nggak sanggup, aneh rasanya. Teh manis juga jd aneh. Makan cuma sanggup dua sendok, enegnya 2 jam. Kupantau suhuku di kisaran 38-39++ mungkin sampai 40 ketika itu aku udah gak sanggup ngukur, karena kalau panas tinggi banget aku udah nggak bisa buka mata, ngigo-ngigo mimpi buruk.

Rabu, aku gak ngerasa membaik. Mungkin, bisa jadi, ini adalah siklus tipes dua tahunanku, tapi aku paham betul, tipes nggak sesakit ini. Tipes biasanya lemes aja sama sakit perut, demam tinggi malam aja. Ini engga. Ditambah kuping dan hidungku yg sakit kalau demam tinggi.

Kamis malam aku menyerah. Sudah sedikit sekali yg bisa masuk ke tubuhku dan aku sgt lemas. Aku dibawa ke IGD, cek darah. Diagnosis dokter, dengue fever, tapi trombosit masih >140.000. Yang langsung ketauan melalui tes widal adalah bakteri tipesnya.

Dokter fokus mengobati tipesku yang setelah cek darah, urin, dll, memang terbukti positif tipes tipe 6. Panasku tetap tinggi. Masih 38-39. Tidak pernah kurang.

Sampai Sabtu pukul 3 dini hari, aku terbangun karena untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, aku merasa tidak demam. Aku mengukur suhu dengan termometer yang kubawa sendiri dari rumah. 34,5 derajat celcius. What??! Masa iya anjlok banget. Memang sih aku merasa dingin dan lemas walau demamku turun. Aku turun dr tempat tidur, duduk di kursi penunggu pasien (kalau malam aku memang sendirian, karena orang rumah bergantian begadang gendong Ali). Aku bersiap ke kamar mandi, mau pipis dan ganti pembalut (yapp... Udah mah lemes dirawat, pas kena haid banyak, makin lemes). Tiba-tiba... Darah menetes dari hidungku. Aku mimisan. Aku membersihkan kotoran hidungku yang mengering, dan semuanya berwarna merah tua. Berarti  darah yang sudah kering pun cukup banyak.

Aku langsung pencet bel dan laporan sama suster. Bahwa aku tidak pernah mimisan seperti ini, dan aku perlu tau apakah ada kaitannya dengan penyakit lain (bukan tipes).

Jam 5 darahku diambil untuk cek lab, jam stgh 7 dokter visit dan bilang, trmbositku 49.000. Aku positif tipes 6, tapi sekarang demam berdarahnya yang lebih kuat. Dokter memperlihatkan pola bercak merah yang jelas di telapak tanganku. Di situ doang, lain2nya gak kentara karena kulitku mah kan sawo matang :D

Udah langsung diganti tuh infusannya. Aku jg minum banyak sari kurma. Sambil ttp dikasih antibiotik utk tipesnya tiap sore. Aku msh lemes, tapi feel better.

Besok paginya, cek darah lagi. Trombosit 41.000. Gak ada demam lagi cuma tekanan darah msh mandek di 80/60 jd msh keliyengan. Kata dokter, minimal trmbosit 100.000 deh br saya pertimbangkan utk km pulang.

Selasa pagi cek darah lagi, alhamdulillah kali ini mah trombositnya 110.000 yeaaayy... Dokter bilang, hari ini observasi dulu ya. Kalau smua bagus, besok pagi km boleh pulang. Tapi di rumah msh hrs banyak istrht, aktvts yang ringan2 aja... Rumah dijaga kebersihannya, upayakan jangan ada tempat bertelur n tempat ngumpet nyamuk. Makan pun jangan sembarangan, karena ini bakat tipesnya kamu langsung nongol begitu daya tahan tubuh melemah.

Iyah bener euy.

Alhamdulillah, urusan administrasi di Rabu pagi lancar, cepat, sehingga aku bisa segera pulang menyambut pelukan Ali.... Yang... Membuat... Oleng... Hahahaa. Aku belum kuat menggendongnya. Jalan pun rasanya masih engga napak. Kadang kalau keliyengan berlanjut dengan sedikit mimisan.

Intinya mah, masih butuh banyak istirahat lah. Cukup sekali ini aja kena yang namanya demam berdarah. Cukstaw cukstaw cukstaw. Pergi jauh2 ko virus n nyamuk!