Sabtu, 05 Oktober 2019

Ibu, Jangan Diam Saja! (Menyikapi Bullying terhadap Anak)

*Kisah Dialog antara Bilal dan Abu Dzar Al-Ghifari*

Saat itu para sahabat berkumpul dalam satu majelis, sementara Rasulullah tidak bersama mereka. Khalid bin Walid, Abdurrahman bin Auf Bilal, dan Abu Dzar duduk di dalam majelis.

Orang-orang berbicara mengenai satu topik pembicaraan. Lalu Abu Dzar berbicara dan menyampaikan sebuah usulan, "Aku mengusulkan agar pasukan diperlakukan demikian dan demikian."

Tiba-tiba Bilal menimpali, "Tidak, itu adalah usulan yang salah."

Lantas Abu Dzar berkata, "Beraninya kamu menyalahkanku, wahai anak wanita berkulit hitam?" La Ilaha illallah. Bercerminlah engkau. Lihatlah siapa dirimu sebenarnya?"

Seketika itu Bilal berdiri dengan terkejut dan marah sambil berkata, "Demi Allah aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah", lalu Bilal pun pergi kepada Rasulullah.

Kemudian..

Ketika Bilal sampai kepada Rasulullah dia berkata, "Wahai, Rasulullah maukah engkau mendengar apa yang telah dikatakan oleh Abu Dzar kepadaku?"

Rasululah menjawab, "Apakah yang telah dikatakannya?"

Bilal berkata, "Dia telah berkata begini dan begitu."

Seketika itu rona muka Rasulullah berubah.

Lalu Abu Dzar bergegas datang dengan tergopoh-gopoh. Dia berkata, "Wahai, Rasulullah. Assalamu'alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh."

Nabi bersabda, "Wahai, Abu Dzar Engkau telah menghinakannya dengan merendahkan ibunya. Di dalam dirimu terdapat sifat jahiliyyah." (HR. Bukhari).

Kalimat tersebut terdengar bagaikan petir di telinga Abu Dzar. Lantas dia menangis, dan menghampiri Rasulullah, lalu berkata, "Wahai, Rasulullah Beristighfarlah untukku. Mintakanlah ampunan dari Allah untukku." Kemudian dia keluar dari masjid sambil menangis.

Abu Dzar pergi dan meletakkan kepalanya di atas tanah yang dilalui Bilal. Lalu Bilal menghampirinya.

Abu Dzar menghempaskan pipinya ke atas tanah, dan berkata, "Demi Allah, wahai Bilal. Aku tidak akan mengangkat pipiku, kecuali engkau menginjaknya dengan kakimu. Engkaulah orang yang mulia dan akulah yang hina."

Lantas Bilal pun menangis melihat pemandangan tersebut.

Bilal menangis dan mendekat kemudian memegang pipi Abu Dzar Al-Ghifari. Pipi itu lebih mulia di sisi Allah daripada diinjak dengan kaki.

Kemudian keduanya berdiri dan berpelukan sambil menangis.

*****

Rasa hati memang inginnya kekep anak di rumah ya, biar dia steril dari segala dampak buruk pergaulan. Tapi tentu saja hal itu tidak mungkin. Manusia adalah makhluk sosial, anak kita pun harus punya keterampilan bersosialisasi. Yang harus kita lakukan bukanlah menjaganya tetap steril, melainkan bagaimana memfilter hal-hal buruk agar ia dapat mengambil hikmah dan justru menjadi bijak.

Bullying dapat terjadi ketika kita melepas anak bergaul di lingkungan sosialnya. Entah itu main depan rumah, ngaji di TPA, main sama saudara kandung/sepupu, ataupun sekolah. Ia akan bertemu macam2 kawan yang berbeda latar belakangnya, sifatnya. Anak kita sangat mungkin menjadi pembully atau korban bully. Di situlah pendampingan kita tidak boleh lepas.

Ali belum sekolah, tapi di rumah, teman mainnya beragam. Yang besar-besar sudah SD, biasalah, merasa superior ketika melihat anak yang lebih kecil. Mereka suka jailin, ledekin, curangi saat main. Ali gak marah karea dia belum mengerti. Tapi saya selalu ambil sikap.

Pertama, saya akan liatin bener2 anak pembully, saya ikutin tatapan matanya yg berusaha kabur. Kedua, kalau masih begitu juga, saya bener-bener akan jalan nyamperin dia dengan langkah dan tatapan tegas sampe dia ciut kira saya mau nyubit. Apakah saya ngomel nyapnyap? No, akan hilang wibawa saya di depan anak-anak kalau saya ngomel. Saya tatap matanya lekat, pegang pundaknya, dan bilang dengan tegas, "Main yang baik. Itu namanya meledek dan itu gak baik. Kamu anak baik kan? Main yg baik, oke?! Gak ledek2an, Mama Ali akan dengar semuanya." Ini bukan ngomel tapi tegas. Ummm... mengintimidasi lebih tepatnya, haha.

Agak tricky ya karena kita jangan sampai keliatan ngomelin anak orang ntar malah diomelin balik sama emaknya 🤣

Bbrp kali seperti itu alhmdulillah sekarang anaknya selalu kabur kalo lihat aku, wkwkwk... tapi yg selalu aku perhatikan, pembully itu adl korban bully juga. Dia melampiaskan apa yg dia pernah rasakan kepada org lain, utamanya anak yg lebih kecil atau lebih pendiam/tidak membalas.

Jadi ketika anak kita menjadi korban, kita ambil sikap tegas bahwa kita membela dia, meledek itu tidak baik, bahwa dirinya berharga, dan tidak boleh ada yg merendahkan dia.

Reaksi Ali begini setelah aku samperin si anak tadi:
"Mama marah sama kakak itu?"
"Iya, karena dia meledek Ali. Ali sedih ga kalo diledek?"
"Sedih. Ali ga suka main ledek2an"
"Ya, Ali bisa bilang sama kk itu lain kali, jangan ledek2 Ali, kalo main ledek2an Ali pulang aja gak main lagi."

Sikap kita yg tegas kepada pembully ketika anak kita jd korban bully, akan ditangkap anak kita bahwa hal itu tidak baik sehingga lain waktu dia tidak akan melakukan hal itu kepada org lain.

Bullying itu sesimpel ngetawain teman yg jatuh. Ali juga pernah begitu karena dia pernah digituin. Kita tanya, Ali gimana perasaannya kalau Ali jatuh trus Mama ketawain? / Sedih.../ Kalau jatuh, Ali inginnya diapain sama Mama? / Ditolongin. / Betul. Kalau ada temannya jatuh jangan diketawain ya. Nanti dia sedih kayak Ali. Samperin, dan tanya, kamu gak papa? Mau minum dulu gak? Bantuin bangun.

Maka kecerdasan emosi dan bersikap empati itu sangat berkaitan erat, dan itu kita yang tanamkan di 7 tahun pertama, sebelum kita melemparkannya ke lingkungan yang lebih luas, yakni sekolah dan seterusnya.

Kasihan sih sbnrnya anak-anak yg pernah membully Ali itu. Kuperhatikan mereka cenderung mendapat perlakuan bullying dari kakak2nya atau orgtuanya di rumah (yaaasss orgtua juga bisa membully lohh), juga peer group nya. Mereka merasa inferior di sana. Maka ketika ketemu anak lebih kecil, mereka melihat sasaran empuk untuk melampiaskan apa yang mereka rasakan selama ini dengan kemungkinan kecil untuk dibalas.

Kalau lingkaran itu tidak diputus (korban bully jadi pembully dst), lalu berlanjut sampai dia remaja, beranjak dewasa, akan ada ospek saat di SMA/perguruan tinggi/akademi nanti... Nah itu banyak kasus senior ngospek junior smp celaka akarnya dari mana? Dari sini, dari usia dini ini. Tidak ditumbuhkannya empati, rasa, dan kepedulian, tidak ditumbuhkannya harga diri -menghargai diri sendiri dan orang lain-- kemanusiaan, keberanian untuk mengatakan kebenaran.

Itu pasti banyak kan temannya sesama senior apa tidak ada yg tergugah hatinya melihat kemungkaran? Mungkin tergugah, tapi dia memilih diam atau membiarkan.

Berkaca dari sikap yang saya tunjukkan di depan anak-anak terhadap bullying tadi, bolehlah saya simpulkan bahwa betapa sikap kita sebagai ibu, akan direkam anak dan dapat membentuk bagaimana ia memandang dunia, selamanya. Maka, jangan asal melepas ia bergaul begitu saja. Hadirlah, perhatikan, dan berikan arahan untuknya. Jangan sampai ia menjadi pelaku atau korban bullying, hanya karena kita tidak tegas menunjukkan bagaimana seharusnya ia bersikap.

Sabtu, 23 Maret 2019

Bayiku Jatuh dari Ranjang!

Meski kejadian itu sudah dua bulan berlalu, tapi tiap kali mengingatnya hati masih terasa kebat-kebit. Masya Allah, bisa-bisanya bayi 1,5 bulan jatuh dari ranjang! Ibu macam apa aku ini, huhu...

Saat itu adalah hari pertamaku bertigaan aja di rumah dengan anak-anak pasca melahirkan, tanpa ada yang membantu/nemenin. Sebelumnya, ada tante dari Jawa yang menemani.

Aidan baru berumur 45 hari. Siang itu, ceritanya aku lagi gendong boboin Aidan. Lalu Ali minta makan, pengen telor ceplok pake kecap katanya. Masya Allah, sulungku ini dari pagi baru makan selembar roti, saking aku gak sempat nyuapin dia. Untungnya aku sempat masak sayur bening.

Kulihat Aidan sudah terlelap di gendongan. Pelan-pelan kuletakkan ia di kasur, di atas ranjang setinggi 50cm, lalu aku segera ke dapur. Sambil ngangetin sayur, aku nyeplok telor. Seperti biasa, Ali ambil bangku dan ikut-ikutan "bantuin" aku masak. Tak lama, terdengar Aidan nangis. Aku melongok sebentar, waduh nanggung banget lagi goreng. "Ali, tolong Nak ajak ngobrol adiknya supaya ga nangis..." Ali pun bergegas menuju kamar. Ia mengambil rattle, berusaha menghibur Aidan tapi Aidan tetap nangis. "Mama, Aidannya masih nangis," Ali menghampiriku ke dapur. Segera kubalik telor, kumatikan kompor lalu kuambil nasi. Saat aku melongok ke kamar, ya Allah... Aidan sudah ada di bawah!

Aku histeris. Aidan masih dalam posisi yg sama saat aku meletakkannya, telentang dengan kepala mengarah ke luar ranjang. Tapi dia ada di lantai, dan tidak ada karpet atau alas apapun di lantai. Ia masih menangis kencang. Aku mengangkatnya, meraba kepalanya, mencium dan memeluknya sambil nangis. Ali ikutan shock, ikutan nangis. Aku menawarkan payudaraku, tapi Aidan nggak mau, dia masih nangis kencang. Aku memeluknya sambil sesenggukan "Huhuhu... Maafin Mama Nakk..."

Eh, tiba2 Aidan berenti nangis dan ketawa! Oalah... rupanya suara tangisanku terdengar lucu baginya. Aku sedikit merasa lega, dan akupun menawarkan ASI, yang kali ini tidak ditolak Aidan. Ia minum banyak, cegluk cegluk mungkin haus karena menangis daritadi. Aku menatap matanya, ya Allah hatiku berkeping-keping. Karena kami sudah lebih tenang, aku memeriksa lebih saksama. Kepala, bahu, leher, mata. Agaknya di kepala ada tonjolan tapi aku kurang yakin apakah itu benjol atau hanya bagian dari tengkorak belakangnya yang memang belum rata. Usai menyusu cukup lama, aku menggendongnya dan dia pun gumoh. Aku yakin betul ini bukan muntah, namun aku tetap harus mencatatnya berapa kali ini terjadi pasca jatuh.

Terdengar pintu pagar terbuka. Rupanya tetangga mendengar teriakanku dan segera menghampiri. Setelah kuceritakan apa yang terjadi, mereka bilang "Insya Allah gapapa... bayi segini mah masih ditemenin malaikat..." Amin ya Allah, ampuni aku... tolong jaga Aidan...

Tetanggaku itu membantuku dengan menggendong Aidan. Aku nyuapin Ali sambil mengingat2 kronologi kejadiannya. Seburu2nya aku, rasanya gak mungkin aku naro Aidan di pinggir ranjang. Mungkin emang kurang ke tengah, tapi gak di pinggir, aku yakin betul. Trus Aidan nangis, nah, memang dari lahir dia nih tipe bayi yang nangisnya heboh banget, ngamuk, meronta-ronta, dan dia bisa bergerak angkat-angkat kaki dan punggung... semacam gerakan ulet, dan dia benar2 bisa bergeser dengan begitu. Aku mikir, gimana dia jatohnya, karena akupun nggak dengar suara "BRUK!!" padahal dapur dengan kamar jaraknya ngga jauh, dan aku meninggalkannya sebentaaaarrrr bgt mungkin hanya 3 menit. Saat Ali kusuruh ke kamar lihat adiknya, mungkin Aidan sudah bergeser tapi Ali kan nggak mungkin melapor "Mama, Aidannya makin ke pinggir," dia belum ngerti soal itu.

Duh, terpotek-potek rasanya hati ini...

Aku mencoba menelepon Abang dengan suara setenang mungkin. Dia lagi kerja, aku gak mau dia panik. "Itulah aku memang gak tenang ninggalin kamu pagi ini. Karena ngurus dua begitu memang repot banget..." Aku langsung nangis. Iya, sebagai ibu aku banyak kekurangan. Aku nggak tau gimana caranya gendong sambil masak, sambil digelayutin Ali, makanya kutaro Aidan di ranjang karena ku takut dia kecipratan minyak atau kepentok wajan. Aku bingung bagaimana ibu dan tanteku bisa melakukannya dengan santai, masak sambil gendong. Aku juga nggak bisa nyuapin Ali sambil gendong Aidan, aku harus pakai tangan yang mana. Aku merasa jadi ibu terburuk di dunia, saat sulungku laper saking aku gak sempat nyuapin dia; lalu bayi kecilku jatuh dari ranjang karena kutinggal ke dapur. "Kamu kan ninggalin Aidan untuk memenuhi kebutuhan Ali, insya Allah, Aidan dijaga," perkataan temanku menenangkan, sekaligus membuat air mataku jatuh.

Suamiku bergegas pulang, aku masih kalut. Aku tidak melepas Aidan dari dekapanku. Aku minta tolong pada adikku untuk membongkar ranjang saat itu juga, aku trauma.

Suami tiba di rumah setelah ashar, kami pun langsung menuju rumah sakit untuk memeriksakan Aidan ke dokter spesialis anak. Aidan tampak baik-baik saja, ceria, senyam-senyum tidak rewel, menyusu seperti biasa, tidak muntah atau kejang.

Aku menyampaikan semua kepada dokter dengan mata sembab. Untung aja dokternya gak nanya "Kok bisa jatuh, ibu gimana sih" kalau dokternya nanya gitu udah pasti aku sesenggukan lagi. Beliau pun memeriksa Aidan dengan teliti, cukup lama, sambil menanyakan padaku apakah sejak ia jatuh ada tanda-tanda kegawatan seperti: kejang, muntah, keluar darah atau cairan bening dari hidung dan telinga, atau apakah ada demam dan menangis rewel, tidak seperti biasanya.

Kujawab, aku tidak yakin apakah dia gumoh atau muntah karena ia menyusu banyak. Dokter bilang, kalau muntah itu hoeeekkk ada tekanan di perut. Muntah banyak dan menyemprot. Kalau gumoh, mengalir. Aku yakin Aidan hanya gumoh, dan terjadi 2 kali pasca jatuh.

Selain gumoh, tidak ada gejala2 yang dokter sebutkan tadi.

Dokter pun menjelaskan,
"Saat ini, setelah saya periksa dan juga dari keterangan ibu, anak ibu belum wajib CT scan. Karena tidak ada tanda-tanda kegawatan itu. Tapi, tetap harus dipantau dalam 2x24 jam ke depan, kalau ada satu dari tanda-tanda yang saya sebutkan tadi, wajib CT scan. Karena dia masih sangat kecil, cedera dalam bentuk apapun harus diperhatikan dampaknya. Kalau dalam seminggu, dua minggu, dan terus ke depannya ada gejala-gejala tadi, harus dikaitkan dan diingat bahwa dia pernah jatuh. Tapi kemungkinan besar, kalau dalam 2x24 jam aman, insya Allah ke depannya pun aman."

Perasaanku campur aduk. Ada rasa lega, tapi juga masih takut dan waswas.

Aku tidak melepaskan Aidan dari dekapanku. Aku menangis tiap kali menyusui dan memandang matanya. Sambil menyusui, aku terus menggumamkan, "Allahu yahfazhka..." ya Allah tolong jaga Aidan... Selama 2 hari itu aku tidak masak, agak cuekin Ali, tidak meninggalkan Aidan dari pandangan. Aku betul-betul merasa bersalah. Seandainya aku bisa memutarbalikkan waktu.

Dan akhirnya, masa 2x24 jam terlewati tanpa ada gejala apapun yang patut dikhawatirkan. Aidan terlihat ceria, mengoceh, menyusu banyak, responnya baik, dan tidak sekalipun rewel atau demam. Ya Allah, terima kasih sudah jaga Aidan... aku masih sering nangis. Haru, lega.

Sampai kini, alhamdulillah hal-hal yang kami takutkan tidak terjadi. Aidan genap 4 bulan, ia tumbuh sehat dan ceria. Meskipun aku masih suka parno kalau ia nangis sampai sesenggukan. Aku masih takut juga. Aku sampe nontonin video "infant seizures" di yutub. Alhamdulillah sesenggukannya Aidan nggak sampai seperti itu.

Setiap kali menyusui, aku mengelus kepalanya sambil berdoa,
"Ya Allah, jadikanlah ASI-ku ini menyembuhkan apa yang sakit, memperbaiki apa yang rusak, mengisi apa yang kosong, menyempurnakan apa-apa yang belum sempurna. Jadikan ASI-ku ini tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menenangkan, menyembuhkan, dan atas izinmu, mensholihkan Aidan Dirman Hafa, bi barokati ummil Qur'an..." lalu lanjut kubacakan fatihah dan bbrp penggalan ayat Al Baqoroh sampai dia tertidur.

Apalah kita, hanya ibu muda minim pengetahuan, minim pengalaman mengurus anak. Saat anak-anak kita tumbuh besar dan sehat, bukan berarti kita yang hebat. Adalah Allah yang menjaga mereka setiap saat. Maka sebagai ibu, selayaknya kita terus-menerus meminta pertolongan Allah, memohon penjagaan-Nya, dari segala marabahaya, dari segala kealpaan dan kekhilafan kita sebagai ibu, sebagai manusia biasa. Kejadian jatuhnya Aidan benar-benar membuatku tersentak, betapa sedikit  kekhilafan bisa saja berakibat fatal. Bayi ubun-ubunnya masih kedut-kedut, tengkorak belum nutup, jatuh dari ranjang. Itu bahaya banget sebenernya, artikel hasil gugling juga rata-rata bikin parno.

Alhamdulillah, atas penjagaan Allah, Aidan-ku melewati peristiwa itu, hingga kini sehat tiada kurang suatu apapun. Tidak ada yang bisa kubanggakan dari diriku. Semuanya berkat kuasa Allah, yang entah bagaimana caranya, di luar kemampuan manusia, melindungi Aidan, menjaganya sampai sekarang. Sungguh segalanya kuasa Allah. Hasbunallah wa ni'mal wakil... ni'mal mawla wa ni'mannashir...

***

Minggu, 03 Maret 2019

Aidan's Birth Story

Tadinya aku dan Abang merencanakan jarak yang jauh untuk adiknya Ali. Inginnya saat dia berumur 5 tahun, baru program lagi. Tapi di usia 3 tahun ini, Ali sudah mulai nyari temen. Sering bilang sedih, sepi, bosen, kangen ibu, kangen yai, kangen ayah. Trus kalau dipikir2 lagi, punya anak dengan jarak yg tidak terlalu jauh itu diharapkan mereka bisa jadi teman sepermainan dengan basic didikan dan kebiasaan yang sama. Kalau jarak terlalu jauh, biasanya anak akan punya peer group sendiri-sendiri, sehingga gak dekat antar saudara kandung.

Saat positif hamil, aku lagi senang2nya bersepeda bareng Abang dan Ali. Ke kota, taman, menyusuri anak sungai. Sampai suatu hari, perutku terasa kram dan aku merasa eneg saat bersepeda. Diajak makan pun ngga enak. Aku belum ngeh kalau telat haid. Dan rasa2nya masih menerapkan KB tendang, haha...

Beberapa hari ku merasa ga enak badan, meriang, bahkan hoek2 di pagi hari, aku pun testpack dan hasilnya positif hamil. Hitunganku, sudah usia 7 minggu. Saat kukabari abang, katanya dengan santai, "yaudalah ali udah gede ini."

Kehamilan kali ini berbeda karena aku mengalami morning sickness berkepanjangan, sampai usia kandungan 6 bulan. Aku menjalani puasa Ramadan dengan susah payah, bolong 11 hari. Aku selalu sedia minuman manis di kulkas untuk menghalau rasa pahit dan eneg di mulut. Ehhh pas USG di bulan ke-8 tiba2 dokter bilang janinku kemontokan! Hahaha... akupun diminta diet, alamak... padahal lagi enak2nya makan...

Hamil dengan "ditemenin" sama anak 3 tahun tentu lebih "berasa". Berasa capeknya, berasa engapnya, berasa nyabar2in diri. Aku sempat kontraksi palsu saat 32w setelah capek ngejar dia sepedaan. Dengan perut segede balon pun, kadang Ali si monster alkaline masih menjadikanku samsak. Puncaknya, ketika 36w, aku jatuh ditubruknya. Saat itu aku lagi mandi. Ali main sendiri sambil nonton TV. Abang belum pulang kerja. Keluar kmr mandi, aku gak ngeh bahwa Ali menebar bedak ke seluruh penjuru lantai. Baru aja ngebatin, "Ini apa sih licin banget" eh si Ali berlari dari jauh dan menubrukku sambil teriak "hiyaaaaattt ultraman serang monster mamaaaa...!!!" GUBRAK! Jatuhlah kami berdua. Aku jatuh terduduk di atas pantat, dengan Ali bergelayut di punggungku. Aku cuma bisa meringis, nangis, berjalan pelan masuk kamar lalu nelpon abang. Gak bisa tidur semalaman, paginya diurut nangis2 dan gak turun dr tempat tidur 2 hari. Sakit semua, tapi syukur tidak ada tanda2 gawat seperti keluar air/flek darah, gerakan janin pun normal. Tahan banting!

Selasa (20/11) sore aku USG. Hasil terawangan dokter, bb janinku di dalam sudah 3,5kg! "Semoga segera keluar ya pekan ini, kalo ga ntar tambah gede aja... Di rem ya bu makan yg manis2nya..." Akupun menahan ngidam es campur duren dan martabak terang bulan. Hiks.

Pekan itu terasa lamaaaa sekali. Ku rajin jalan kaki muterin blok, makin rajin pula bouncing di atas birthing ball. Tiap ketemu tetangga, pasti ditanya "Eh belom lahiran? Kirain udah. Ini udah gede banget loh. Tapi kok belom turun ya, belom masuk panggul? Makanya sering2 Ken jalan kaki, ngepel jongkok..." dan komentar2 lainnya yang bikin baper. Sebenernya biasa aja ya komentarnya, tapi karna lagi galau nunggu lahiran, khawatir bayinya gede banget, dan bener2 gak tahu kapan dia mau lahir, jadinya males aja denger pertanyaan2 seperti itu *tiap hari*.

Akhirnya, ku minta jalan2 di IKEA sama Abang. Modus. Hahaha. Jadilah Minggu pagi sampe sore kami thawaf keliling IKEA sampe kaki kebas. Eh manjur loh! Senin subuh, flek yang ditunggu2 itu pun keluar. Semakin siang semakin banyak, tapi aku belum terlalu berasa mules. Aku lega sekali ketika siang itu ibuku datang dari kampung. Wah beneran nih bayi lahirnya nunggu ibu datang dulu.

Usai magrib, barulah aku mules teratur. Awalnya berjeda 10 menit, 7 menit, sampai pukul 9 malam aku mules 5 menit sekali namun dengan durasi hanya 1 menit tiap kontraksi. Saat itu hujan rintik-rintik seharian, ibu memintaku periksa pembukaan. Aku masih mempertimbangkan untuk lahiran di puskesmas karena kalau dirujuk kan udah ada prosedurnya, administrasi mudah, otomatis nanti si bayi dapet akte, KIA, dan masuk KK tanpa perlu repot2 kita ngurus sendiri. Selain tentu saja, semua pelayanan gratis. Jadi malam itu pukul 9, kami menuju puskesmas.

Sesampainya di sana, aku langsung disambut oleh satpam dan bidan jaga. Plus, satu orang asisten laki-laki berbaju dan sepatu putih. Kayaknya dia siswa stikes gitu deh, lagi magang apa gimana di puskesmas. Masih kaku banget. Tensi gw aja sampe diulang 2 kali. Termometer tembak nanya dulu gimana pakenya. Trus ditanya dan didata lengkappp bener sampe diukur tinggi fundus dll (biasanya kan cuma tekanan darah) Alamak, kalo gak lagi mules plus emosi gini sih gapapa dek mo jadiin saya bahan belajar. Ini udah pengen nyakar orang kan jadi risih kalo masih harus njawab pertanyaan2.

Pas bidan mau periksa dalem (VT) aku minta anak itu keluar, ya malu lah gimanapun dia laki2. Padahal dia udah siap2 dengan pulpen dan notes kecilnya dong. Ternyata aku udah pembukaan 3. Kubilang, yaudah bu saya pulang dulu aja. Eh katanya jangan, karena anak kedua prosesnya lebih cepet biasanya, di sini aja. Waduh namanya puskesmas ya, ga ada ruangan berprivasi. Adanya ruang tunggu, bangsal, lobi, ruang bersalin pun hanya dibatasi tirai. Sedangkan aku melewati mules biasanya dengan mengerang, dipeluk, dan muter di atas gym ball. Masa aku melakukan itu semua di ruang tunggu atau lobi? "Kalo ga gini deh, nanti kita jam setengah 10 sebentar lagi aplusan shift malam. Biar nanti setelah aplusan, periksa lagi, bikin laporan, baru abis itu gak papa deh pulang yang penting kita udah ada catatannya." Periksa lagi? VT lagi? Sumpah aku gak peduli sama laporan, none of my business tapi yang jelas gw gak mau di VT lagi dan ditanya2 lengkap lagi hanya demi ganti shift. Dan dengan keadaan yang kurang privasi seperti itu, I definitely won't come back.

Di rumah, aku melewati mules yang semakin menjadi-jadi sambil berusaha bikin Ali ngantuk supaya dia cepet tidur jadi kami gak perlu ngajak2 dia ke bidan. Akhirnya jam 11, aku udah semakin gak keruan. Kontraksi 3 menit sekali, durasi 2 menit. Ali baru aja terlelap. Aku harus ke bidan sekarang.

Baru aja aku naik mobil, byorrr ku muntah banyak 2 kali. Udah gak keruan rasanya perut. Bidan langsung membantuku ganti baju dan membantuku berbaring di ruang bersalin. Pembukaan 6. Wow. Cepat juga ya. Aku terus diingatkan untuk atur nafas, kontraksi semakin intens, semakin sakit dari menit ke menit. Aku memvisualisasikan bunga yang sedang mekar, mungkin begitulah keadaan panggulku sekarang yang terus membuka.. Tapi bunga kayaknya cakep2 aja lagi mekar juga nggak kayak gue sekarang, hahahaa...

"Ibu udah mau ngeden? Ayok kalau mau ngeden, saya bantu keluarin juga." Kedua bidan yang mendampingiku masih muda, mungkin seumur denganku atau lebih muda lagi. Beberapa kali ngeden, berasa, pas kepalanya keluar. Saat itu, harusnya aku berhenti ngeden dulu karena bidan bilang, ada lilitan tali pusat di leher, kencang. Persis Ali dulu. Tapi kali ini bidannya agak panik. "Bu...anakmu lilitan kenceng banget ini bu. Ya Allah tolong, bu tahan bu, ya Allah... kok ada lilitan sampe kaya gini..." Saat itu juga Abang ngibrit keluar. Bidannya aja panik apalagi dia? Hahaha.

Di tengah kepanikan mbak bidan, aku jadi bingung mesti gimana. Gak ketahan karena kepala janin terasa mendesak, akupun ngeden. Padahal bidan belum selesai melepas lilitan. Walhasil, si bayi pun mencolot ke pelukan bidan! Bener2 mencolot, plop! Gitu! Allohu akbar! Semua teriak. Bayiku terlihat biru, ditepok2 punggungnya sama bidan yang panik "Ya Allah dek, ayo nangis dek, nangis dong sayang..." Aku bener2 gak bisa mencerna apa yg sedang terjadi saat itu.

Plasenta juga agak susah keluarnya, dan yang paling nyebelin dan sangat traumatik karena sakit dan lama, adalah saat bidan merogoh2 ke dalam rahimku membersihkan sisa-sisa gumpalan dan darah. Huhu kenapa sih harus diginiin? Aku nanya, "Mbak, bayiku mana? Taro sini dong Mbak..." Aku heran, kenapa bayiku tidak diletakkan di dadaku untuk IMD seperti Ali dulu? Kata Mbaknya, bayiku biru jadi diangetin dulu di bawah lampu. Yah namanya juga lagi kesakitan dirogoh2 aku ga bisa protes lebih banyak.

Aku nanya lagi, "Mbak, emang harus ya diambil sampe bersih banget? Bukannya nanti pas nyusuin juga bakal keluar ya banyak gumpalan2 gitu?" Si bidan menjawab, "Masalahnya, saya kan gak tahu ibu bakal nyusuin atau engga. Kalau menyusui emang akan terbantu kontraksi rahimnya. Tapi banyak yang ujung2nya harus dikuret lagi atau perdarahan karena gak bersih."

Ffiuhhh.

Yaudalah terima nasib. Udah itu dijahit cukup banyak, karena aku ngedennya gak terkontrol dan bayiku mencolot, robeknya kemana-mana. Gak usah dibayangin lah, ngeri.

Tak berapa lama setelah aku selesai, bel berbunyi, ada yang kontraksi lagi. Itu jam 2 malam. Alamak... belum juga para bidan mengelap keringat. Luar biasa perjuangan para bidan.

Barulah di kamar perawatan, aku melihat bayiku yang sudah melet2. Ih gantengnya anakku lanang... gendut. Hahaha. Beratnya 3,6kg. Beuh. Aku langsung menggendong dan memberikannya puting, dia langsung melahapnya dan minum sampe kedengeran cegluk.. cegluk.. subhanalloh.. udah pinter miminya. Alhamdulillah semoga Allah mudahkan.

Ku lelah sangat tapi belum bisa tidur karena jahitan masih sangat sakit, trauma banget juga rasanya karena dirogoh2 tadi. Hiks. Rasanya lebih sakit drpd lahiran Ali dulu. Kalau artis2 share foto mesra bersama bayi dan suami pasca melahirkan, momen "mesra" ku bersama pak suami adalah saat dia bantuin aku cebok di kamar mandi, hahaha, rasanya miris pedih tapi sekaligus bersyukur suamiku ada bahkan di saat2 bentukku paling gak jelas sekalipun. Hehe.

Pagi2, Ali datang masih belekan dan ileran, dia langsung peluk cium aku dan takjub banget lihat adeknya. "Mama udah gak sakit perut lagi kan?" Duh anak sholihnya Mama, baik banget perhatian banget. Dicium, dipangku, dielus2 pipi adiknya. "Ali senang..." katanya sambil nyengir. Ku tertawa haru liatnya.

Di mejaku sudah terhidang aneka makanan, tapi yang paling menarik adalah sepotong besar blackforest berlapis2 lengkap dengan cherry-nya. Yampun, ku berasa ulang tahun. Ada coklat panas, sekeranjang, literally sekeranjang roti aneka rasa. Lalu semangkuk besar sup iga, beneran ada iganya gede banget, rendang, perkedel daging. Bisa makan berdua abang.

Sorenya aku pulang, semua-muanya bayar 2,5 juta ajah. Alhamdulillah aku sangat bersyukur, prosesnya cepat, lebih mudah, karena ini anak kedua jadi aku sudah berpengalaman. Memahami jeda kontraksi, mengatur nafas, sampai teknik menyusui.

Kami memberinya nama Aidan Dirman Hafa. Aidan, dari bahasa Irish artinya api kecil, semangat. Dirman, pemberian aku yang sangat mengagumi Jenderal Sudirman. Hafa, artinya hujan rintik-rintik. Aidan memang lahir di musim hujan, dan kala itu seharian hujan gerimis romantis...

Dua jagoan meramaikan rumah kecil kami. Semoga Allah selalu memberkahi...

Rabu, 11 Juli 2018

Pohon Belimbing dan Pohon Kemuning

Di depan rumah kami ada sebuah pohon belimbing yang tinggi besar... di bawahnya ada pohon bunga kemuning kecil. Aku mengarang cerita ini waktu lagi duduk-duduk di bawah pohon sama Ali 😆

Alkisah ada sebuah pohon kemuning kecil. Pohon kemuning ini punya daun kecil-kecil, bunganya putih kecil-kecil, berbuah juga kecil-kecil. Pohon kemuning yang kecil dinaungi oleh pohon belimbing yang sangaaaatt besar. Batangnya besar, cabangnya banyak, daunnya rimbun seperti payung. Buahnya juga besar-besar dan manis.

Pohon kemuning sering merasa iri sama pohon belimbing. Dia melihat ke atas, duh enaknya jadi pohon belimbing, tinggi, besar, berbatang kuat. Bisa lihat matahari terbit dan terbenam dari balik atap rumah. Dihinggapi burung-burung tiap pagi dan petang. Kalau malam, bisa lihat bulan dan bintang. Aku? Cuma bisa dipayungi bayangan pohon belimbing saja setiap saat. Keluh pohon kemuning.

Pohon belimbing nan tua dan bijak tersenyum mendengar gerutuan si pohon kecil. "Kamu mau bertukar denganku?" Pohon belimbing menawarkan. Pohon kemuning terkejut, tapi sekaligus senang mengiyakan. "Mau mau! Aku mau jadi pohon besar!"

Mereka pun bertukar.

Wah, pohon kemuning senang sekali akhirnya dia merasakan jadi pohon besar. Pagi-pagi, dia lihat matahari terbit. Ia juga senang dihinggapi burung-burung. Tetapi matahari semakin meninggi. Dan semakin terik. Pohon kemuning yang sekarang jadi pohon paling tinggi merasakan panas luar biasa. Tak ada bayangan teduh yang memayunginya. Malah bayangannya yang meneduhkan pepohonan di bawahnya. Ia sendiri kehausan, kepanasan.

Lepas tengah hari, tiba-tiba mendung bergulung. Langit jadi kelabu. Pohon kemuning senang sekarang tidak panas lagi. Tapi kemudian hujan turun dengan derasnya. Deras sekali sampai setiap tetesannya terasa menghujam. Kilat menyambar-nyambar rasanya hampir kena pucuk pohon kemuning yang paling tinggi. Pohon kemuning ketakutan. Hujan itu turun sangat lama. Pohon kemuning melihat pepohonan di bawahnya yang terlindungi, hanya terkena tampias air saja.

Malam tiba. Pohon kemuning yang masih basah kedinginan tiba-tiba dikagetkan dengan sekelompok kalong yang datang menyerbu buahnya. Kalong-kalong itu menggigit, bergelantung, dengan gigi dan cakar mereka yang tajam. Ohh... aku tidak pernah mengalami semua hal ini selama menjadi pohon kecil...

Ia pun merenung. Betapa selama ini ia banyak mengeluh. Ia tidak menyadari banyaknya pengorbanan yang dilakukan pohon besar sehingga pohon2 di bawahnya tidak kepanasan... tidak diguyur air hujan deras... menjadi besar berarti harus kuat... semakin besar pula tanggung jawabnya. Dan sebagai pohon kecil yang dinaungi, seharusnya ia banyak bersyukur. Allah telah menciptakan semua sesuai kadar kemampuan dan tugasnya.

"Maafkan aku pohon belimbing. Betapa selama ini aku iri kepadamu. Kukira jadi pohon besar itu enak-enak saja. Dan aku jadi tidak bersyukur, padahal banyak kenyamananku selama ini adalah sebab pengorbananmu, pohon belimbing."

Pohon belimbing tersenyum. "Kamu mau bertukar lagi?"
Dengan mantap pohon kemuning menjawab, "Iya, aku ingin jadi diriku sendiri saja!"

Note: tokoh bisa diubah jadi pohon yang ada di depan rumah/yang familiar dengan anak.

Berkah

Di antara pertanyaan iseng orang-orang dewasa kepada anak kecil, satu yang sering ditanyakan adalah: "Ayahnya kemana? Kerja? Kerja cari apa?"

Tau kan biasanya apa jawaban anak? "Kerja nyari duit. Buat beli susu. Buat beli mobil. Dll"

Itu hal sepele, iseng, lucu-lucuan aja sih emang. Tapi dengan mengajarkannya jawaban tersebut, tanpa sadar kita sebenernya telah menanamkan bibit-bibit materialisme kepada anak. Kita mengajarkannya untuk menjadikan harta/kebendaan sebagai tujuan hidup. Dan bukan itu tujuan pendidikanku untuk Ali. Maka pertanyaan seperti itu dari orang membuatku berpikir, jawaban apa yang harus kuajarkan untuk Ali.

Aku berusaha keras menanamkan nilai keluhuran seperti rasa malu, syukur, sabar, juga konsep-konsep abstrak seperti mubazir, ridho, dan kali ini, berkah. Anak-anak pada usia Ali cenderung mempelajari sesuatu yang konkret, maka memang tidak mudah mengajarkan hal-hal tersebut. Harus diulang-ulang terus supaya terinternalisasi di benaknya.

"Kenapa Ali gak boleh beli mainan itu?"
Kalo kita jawabnya: "Kan mainan Ali sudah banyak." Niscaya akan dia jawab: "Tapi yang itu belum punya." Anak tuh pinter. Tapi aku selalu menjawab dengan "Mubazir, Nak." Titik. Dia sudah tau bahwa mubazir itu berarti berlebihan, sia-sia.

"Kenapa Ali gak boleh pipis di luar?" Kalo kita jawabnya: "Nanti ada kelihatan orang/Nanti pipisnya digigit semut." Dia akan jawab: "Gak ada orang tuh. Di sebelah sana aja yang gak ada semut." Tapi aku selalu jawab, "Aurat Nak, malu. Orang gak lihat tapi Allah lihat." Titik.

"Kenapa Ali harus sunat?" Kalo kita memotivasinya dengan: "Nanti Mama belikan mainan robot gede kalo Ali mau sunat." Selamanya dia akan minta "imbalan" dari kita sebagai syarat. Aku mengajarkan, "Sunat untuk anak laki-laki itu perintah Allah supaya Ali lebih bersih, terhindar dari kotoran dan penyakit. Kalau Ali melakukannya, Allah ridho sama Ali." Ya meskipun sampe skrg dia belom mau sunat, caraku memotivasi dia tidak akan berubah.

"Ayah Ali kerja cari apa?" Hmm.. kalo kita mengajarkannya untuk menjawab: "Cari duit." Yah, kalo cari duit doang mah jadi maling aja. Jadi koruptor. Dapet duit, beli mobil bisa, beli mainan bisa, apalagi beli susu doang. Jadi kuputuskan untuk mengajarkan Ali jawaban: "Ayah kerja cari berkah..." Berkah bukan benda, bukan sesuatu yang bisa Ali pegang untuk bayar mainan. Tapi memang itulah inti dari mencari nafkah, kan?

Capek, kalau kita mengajarkan anak untuk mengejar kebendaan, menjadikan harta sebagai tujuan. Karena itu nggak ada habisnya, dan... salah. Aku membesarkan Ali dengan identitas seorang muslim, maka tujuan hidupnya harus seiring dengan nilai-nilai Islam, demi mencapai ridho Allah. Satu tujuan yang sangat agung dan mulia, dan itu bukan benda. Allah yang ghaib, yang Ali tidak pernah melihatnya, tapi ia harus meyakininya dengan IMAN. Demikianlah ia akan bertumbuh.

Barokallah anak sholih. Semoga Allah senantiasa membimbing hati dan pikiranmu.