Rabu, 11 Juli 2018

Pohon Belimbing dan Pohon Kemuning

Di depan rumah kami ada sebuah pohon belimbing yang tinggi besar... di bawahnya ada pohon bunga kemuning kecil. Aku mengarang cerita ini waktu lagi duduk-duduk di bawah pohon sama Ali 😆

Alkisah ada sebuah pohon kemuning kecil. Pohon kemuning ini punya daun kecil-kecil, bunganya putih kecil-kecil, berbuah juga kecil-kecil. Pohon kemuning yang kecil dinaungi oleh pohon belimbing yang sangaaaatt besar. Batangnya besar, cabangnya banyak, daunnya rimbun seperti payung. Buahnya juga besar-besar dan manis.

Pohon kemuning sering merasa iri sama pohon belimbing. Dia melihat ke atas, duh enaknya jadi pohon belimbing, tinggi, besar, berbatang kuat. Bisa lihat matahari terbit dan terbenam dari balik atap rumah. Dihinggapi burung-burung tiap pagi dan petang. Kalau malam, bisa lihat bulan dan bintang. Aku? Cuma bisa dipayungi bayangan pohon belimbing saja setiap saat. Keluh pohon kemuning.

Pohon belimbing nan tua dan bijak tersenyum mendengar gerutuan si pohon kecil. "Kamu mau bertukar denganku?" Pohon belimbing menawarkan. Pohon kemuning terkejut, tapi sekaligus senang mengiyakan. "Mau mau! Aku mau jadi pohon besar!"

Mereka pun bertukar.

Wah, pohon kemuning senang sekali akhirnya dia merasakan jadi pohon besar. Pagi-pagi, dia lihat matahari terbit. Ia juga senang dihinggapi burung-burung. Tetapi matahari semakin meninggi. Dan semakin terik. Pohon kemuning yang sekarang jadi pohon paling tinggi merasakan panas luar biasa. Tak ada bayangan teduh yang memayunginya. Malah bayangannya yang meneduhkan pepohonan di bawahnya. Ia sendiri kehausan, kepanasan.

Lepas tengah hari, tiba-tiba mendung bergulung. Langit jadi kelabu. Pohon kemuning senang sekarang tidak panas lagi. Tapi kemudian hujan turun dengan derasnya. Deras sekali sampai setiap tetesannya terasa menghujam. Kilat menyambar-nyambar rasanya hampir kena pucuk pohon kemuning yang paling tinggi. Pohon kemuning ketakutan. Hujan itu turun sangat lama. Pohon kemuning melihat pepohonan di bawahnya yang terlindungi, hanya terkena tampias air saja.

Malam tiba. Pohon kemuning yang masih basah kedinginan tiba-tiba dikagetkan dengan sekelompok kalong yang datang menyerbu buahnya. Kalong-kalong itu menggigit, bergelantung, dengan gigi dan cakar mereka yang tajam. Ohh... aku tidak pernah mengalami semua hal ini selama menjadi pohon kecil...

Ia pun merenung. Betapa selama ini ia banyak mengeluh. Ia tidak menyadari banyaknya pengorbanan yang dilakukan pohon besar sehingga pohon2 di bawahnya tidak kepanasan... tidak diguyur air hujan deras... menjadi besar berarti harus kuat... semakin besar pula tanggung jawabnya. Dan sebagai pohon kecil yang dinaungi, seharusnya ia banyak bersyukur. Allah telah menciptakan semua sesuai kadar kemampuan dan tugasnya.

"Maafkan aku pohon belimbing. Betapa selama ini aku iri kepadamu. Kukira jadi pohon besar itu enak-enak saja. Dan aku jadi tidak bersyukur, padahal banyak kenyamananku selama ini adalah sebab pengorbananmu, pohon belimbing."

Pohon belimbing tersenyum. "Kamu mau bertukar lagi?"
Dengan mantap pohon kemuning menjawab, "Iya, aku ingin jadi diriku sendiri saja!"

Note: tokoh bisa diubah jadi pohon yang ada di depan rumah/yang familiar dengan anak.

Berkah

Di antara pertanyaan iseng orang-orang dewasa kepada anak kecil, satu yang sering ditanyakan adalah: "Ayahnya kemana? Kerja? Kerja cari apa?"

Tau kan biasanya apa jawaban anak? "Kerja nyari duit. Buat beli susu. Buat beli mobil. Dll"

Itu hal sepele, iseng, lucu-lucuan aja sih emang. Tapi dengan mengajarkannya jawaban tersebut, tanpa sadar kita sebenernya telah menanamkan bibit-bibit materialisme kepada anak. Kita mengajarkannya untuk menjadikan harta/kebendaan sebagai tujuan hidup. Dan bukan itu tujuan pendidikanku untuk Ali. Maka pertanyaan seperti itu dari orang membuatku berpikir, jawaban apa yang harus kuajarkan untuk Ali.

Aku berusaha keras menanamkan nilai keluhuran seperti rasa malu, syukur, sabar, juga konsep-konsep abstrak seperti mubazir, ridho, dan kali ini, berkah. Anak-anak pada usia Ali cenderung mempelajari sesuatu yang konkret, maka memang tidak mudah mengajarkan hal-hal tersebut. Harus diulang-ulang terus supaya terinternalisasi di benaknya.

"Kenapa Ali gak boleh beli mainan itu?"
Kalo kita jawabnya: "Kan mainan Ali sudah banyak." Niscaya akan dia jawab: "Tapi yang itu belum punya." Anak tuh pinter. Tapi aku selalu menjawab dengan "Mubazir, Nak." Titik. Dia sudah tau bahwa mubazir itu berarti berlebihan, sia-sia.

"Kenapa Ali gak boleh pipis di luar?" Kalo kita jawabnya: "Nanti ada kelihatan orang/Nanti pipisnya digigit semut." Dia akan jawab: "Gak ada orang tuh. Di sebelah sana aja yang gak ada semut." Tapi aku selalu jawab, "Aurat Nak, malu. Orang gak lihat tapi Allah lihat." Titik.

"Kenapa Ali harus sunat?" Kalo kita memotivasinya dengan: "Nanti Mama belikan mainan robot gede kalo Ali mau sunat." Selamanya dia akan minta "imbalan" dari kita sebagai syarat. Aku mengajarkan, "Sunat untuk anak laki-laki itu perintah Allah supaya Ali lebih bersih, terhindar dari kotoran dan penyakit. Kalau Ali melakukannya, Allah ridho sama Ali." Ya meskipun sampe skrg dia belom mau sunat, caraku memotivasi dia tidak akan berubah.

"Ayah Ali kerja cari apa?" Hmm.. kalo kita mengajarkannya untuk menjawab: "Cari duit." Yah, kalo cari duit doang mah jadi maling aja. Jadi koruptor. Dapet duit, beli mobil bisa, beli mainan bisa, apalagi beli susu doang. Jadi kuputuskan untuk mengajarkan Ali jawaban: "Ayah kerja cari berkah..." Berkah bukan benda, bukan sesuatu yang bisa Ali pegang untuk bayar mainan. Tapi memang itulah inti dari mencari nafkah, kan?

Capek, kalau kita mengajarkan anak untuk mengejar kebendaan, menjadikan harta sebagai tujuan. Karena itu nggak ada habisnya, dan... salah. Aku membesarkan Ali dengan identitas seorang muslim, maka tujuan hidupnya harus seiring dengan nilai-nilai Islam, demi mencapai ridho Allah. Satu tujuan yang sangat agung dan mulia, dan itu bukan benda. Allah yang ghaib, yang Ali tidak pernah melihatnya, tapi ia harus meyakininya dengan IMAN. Demikianlah ia akan bertumbuh.

Barokallah anak sholih. Semoga Allah senantiasa membimbing hati dan pikiranmu.

Patriarki Sehari-hari~

Aku belom pernah nulis ya tentang kampung halaman suamiku, di Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Itu jauuuuh banget. Dari Makassar masih harus naik bus 12 jam. Pertama kali ke sana waktu lebaran 2014, dua bulan setelah kami menikah. Seru sih, mengunjungi tempat baru, mengenal budaya baru. Aku suka alamnya, orang-orangnya, kulinernya. Tapi ada satu hal yang aku gak suka banget di sini: budaya patriarkinya.

Terasa banget tiap lebaran, saat kita saling silaturahmi ke rumah kerabat satu kampung. Dan suasana yang di setting hampir selalu sama: orang lelaki duduk di sofa, ruang tamu. Dengan sajian kue-kue di toples cantik, es sirup, ngobrol sambil merokok. Kaum perempuan bersama anak-anak kecil diarahkan ke ruang belakang alias dapur, duduk lesehan di atas karpet, dengan kue-kue yang tersaji di atas piring, air putih di gelas kemasan plastik, sambil sesekali dipanggil suami yang minta diambilin onoh-inih. Ambilin asbak lah. Bikinin kopi lah. Nyiapin makan. Kobokan. Kobokan meeennn... Oh wow. Ku ingin mengumpat-umpat rasanya. Hahahahaha.

Sekian rumah begitu semua, aku akhirnya minta pulang. Bukan karena gak suka ketemu kerabat, aku gak tahan terpapar pemandangan seperti itu. Pulang, aku ngomel-ngomel dulu. Hahahaha... Mencurahkan kemuakan kepada Abang. Yah suamiku sih paham lah ya. Dia bilang, memang kuat banget patriarki di sini. Lalu dia cerita hal-hal lain yang membantuku memahami betapa kuatnya dominasi lelaki dan bagaimana perempuan di rumah masih dianggap sebagai subordinat.

Karena aku pendatang, aku suka pura-pura polos aja nggak tau aturan. Duduk di sofa, di sebelah Abang, menyilangkan kaki dengan cantik dan nyemilin kue dari toples. Orang-orang laki berdatangan dan memandangku dengan kikuk, kubalas dengan tatapan "any problem?" Hahahahahaha...

Terus, setiap kali Abang ketemu temen-temennya yang lelaki, mereka pasti dong salaman sama Abang (sama aku engga), terus nanya kabar dan nanya-nanya tentang aku, kepada Abang, padahal aku ada di depan matanya! "Istrimu orang mana? Namanya siapa? Betah nggak di sini?" They don't even look me in the eye!

Kuulurkan tangan, kujabat tangannya, and I look him directly in the eye saying, "Saya Ken Andari, mas. Dari Tangerang. Mas ini, mas siapa?" Ketebak reaksinya? Dia kaget dan gak nyangka, kikuk banget menjawabku dengan kalimat pendek. Lalu lanjut ngobrol sama Abang, aku kadang sengaja duduk lama untuk tahu apa mereka akan menyapaku lagi. Ternyata tidak. Dilirik aja engga. Seolah ku ngga ada di situ. Ngek ngok... KZL.

Kukira aku tidak tumbuh di lingkungan seperti itu. Keluargaku sendiri memang nggak begitu. Tapi belakangan, aku mulai bergabung arisan RT, kumpul warga. Ya biasalah. Trus aku menemukan, oh ternyata di lingkungan rumahku (mungkin di rumahmu juga) masih terasa banget patriarkinya.

Kalau ada pertemuan warga, pasti dong ibu-ibu yang rempong nyiapin. Mulai dari belanja pagi-pagi, masak siang sampe sore, lalu nyiapin hidangan sampai jelang Pak RT buka salam, barulah ibu-ibu pulang ganti kostum dulu dari kostum dapur jadi kostum resmi dandan dikit sebelum duduk di forum.

Terus, biasanya kan tempat duduknya beda antara bapak-bapak dengan ibu-ibu. Anehnya, semua sajian didahulukan di tempat bapak-bapak. Lengkap di sana. Lebih lengkap daripada di area duduk ibu-ibu. Air putih, teh, kopi, es. Potongan kue dan buah dipilihin yang cakep-cakep. Bolu dan semangka yang bagian pinggir, yang patah-patah tuh, ditaro di area ibu-ibu. Terus, pas udah waktunya makan, ibu-ibu langsung berdiri, menuju panci sibuk ngambilin makanan buat bapak-bapak dan bolak-balik mengantarkannya ke hadapan mereka.

Whyyyyy...??? Kan ibu-ibu yang udah capek masak dari pagi, kenapa semua disajikan duluan di depan bapak-bapak? Trus kenapa gak biar bapak-bapak ambil aja sendiri prasmanan gitu? Kenapa harus repot-repot dicentongin dan dianter ke depan mereka? Et dah. Kan ibu-ibu udah motongin bolu dan semangka cakep-cakep, kenapa malah dikasih bagian yang jelek? Kenapa ada kue-kue yang gak ada di bagian perempuan? Kenapa cuma ada air mineral di gelas plastik di sini sementara di area bapak-bapak aernya warna-warni? Whyyyyy...???

Eh kebiasaan ini bisa berdampak serius loh. Di wilayah-wilayah yang budaya patriarkinya kuat sekali, banyak perempuan yang kurang gizi, karena mereka mendapat bagian makanan yang lebih sedikit dan kurang bernutrisi dibanding laki-laki. WHO juga banyak jurnal tentang ini. Beberapa yang ekstrim misalnya di India dan Nigeria, kaum perempuan banyak menderita malnutrisi, padahal mereka bekerja seharian, terutama yang sedang hamil atau menyusui. Mereka sering dapat sisa saja, karena bagian-bagian utamanya disajikan untuk kaum lelaki terlebih dahulu. Mereka pun disibukkan dengan berbagai tugas domestik dan mengurus suami, sehingga tak sempat mengurus diri sendiri atau bahkan sekadar makan dengan tenang.

Selain semangka patah-patah tadi, aku juga pernah loh, nyendok di sop yang bagian-bagian dagingnya udah abis, hanya tersisa ceker... sebab ya daging2 itu udah disajikan duluan buat kaum laki-laki yang juga dipersilakan ngambil duluan. Dengan dua potong ceker pun, ku masih harus nyuapin Ali... hiks... gimana gak kurang gizi seandainya tiap hari begitu...

Posisi perempuan dan laki-laki itu setara di hadapan Allah, kenapa kita merendahkan posisi perempuan di tengah masyarakat? Perempuan dan laki-laki harusnya setara, berhak duduk di tempat yang sama, makan makanan yang sama, berhak diajak bicara dan dipandang setara. Perempuan nggak wajib ngambilin makanan, minuman, apalagi asbak dan kobokan buat laki-laki. Ambil diri napa ih! I wish we can all shout like that kepada para laki-laki yang nyuruh-nyuruh kita.

Tapi yaa... sebenernya nggak papa juga sih kalau perempuan dengan senang hati memanjakan suaminya. Kadang suami rese juga kan, pake bilang "Tolong ambilin makan dong sayang, pengen makan nasi centongan bini," kan kita juga jadi nyengir. Tak jarang aku membiarkan suamiku makan nasi anget sepulang kerja, sementara aku makan nasi dingin, semata karena aku nggak tega aja dia pulang kerja makan nasi dingin. Aku pun tiap pagi senang hati nyiapin makan minum suamiku, jaket helm kaos kaki, dibales ciuman gitu kan ya lumayan. Hahaha.

Cuma kalo sampe di forum, di acara umum macem lebaran atau arisan gitu ya gak adil aja kalo porsi/bagian makanan antara perempuan dan laki-laki dibedakan.

Memang sedemikian dalam patriarki terinternalisasi pada budaya kita, diri kita, sehingga kita sering menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar, yah emang udah tempat kita di sini, emang udah bagian kita segini, emang udah tugas kita begini.

Tapi aku sih berharap kita segera berubah. Laki-laki mesti sadar diri dan memuliakan posisi perempuan, dan perempuan pun mesti sadar bahwa mereka punya hak yang sama dan mereka sama sekali bukan pelayan laki-laki.

Bias Gender pada Balita

Suatu hari, Ali sedang asyik ngebut dengan pushbike kesayangannya. Dia memang udah lincah banget maininnya, kalo lihat dia ngebut pake pushbike pokoknya dijamin mules lah. Apalagi kalau ada temannya sepedaan, dia makin semangat balapan. Teman-teman yang tentu udah jauh lebih besar daripada Ali, usia 6-10 tahun. Ali memang satu-satunya anak bawang di gang kami yang sudah bisa ngebut pake sepeda roda dua.

Datanglah seorang temannya. Perempuan. Sebutlah si Zee. Usianya 2,5 tahun. Dia lagi disuapin sama neneknya sambil main. Anak ini tipe yang rapi, manis, dikuncir, pake baju pink pink, pake sendal, beda 180 derajat dari Ali yang petakilan, gak pernah sempet dibedakin (udah kabur), baru dimandiin 5 menit udah asem keringetan lagi, dan kalo disuruh pake sendal, sendalnya ditinggal dimana tau (demenan nyeker).

Temennya ini tertarik pingin pinjem sepeda Ali. Ali dengan senang hati meminjamkan. Baru aja Zee naik, datang neneknya dengan kata-kata sakti "JANGAN!" kubilang, gak papa bu, saya jagain kok.

"Jangan dedek, nanti jatoh. Kamu gak bisa, kamu masih kecil!"
"Bu, Ali kan udah main sepeda ini dari umur 2 tahun..."
"Ini sepeda buat anak laki-laki, dedek mah naik sepedanya yang di rumah didorong sama nenek aja yok,"
Si anak tetap kekeuh jalan pake sepedanya Ali, sambil kerah baju belakangnya dipegangin ama nenek.
"Bu, biar aja bu kalau dipegangin malah kagok..."
"Udah udah dek, aduh ngeri Nenek (dipaksa turun)"

Ibu-ibu lain nyaut, "Ngga bisa Ken nyamain Ali sama Zee. Anak perempuan mah harus dijaga... anak laki mah biarin mau lari2 kek, mau gapake sendal kek, mau naek sepeda ngebut, anak perempuan gak boleh..."
"Iya Ken ntr ngerasain sendiri dah kalo punya anak perempuan, gak bisa disamain..."

@$/#$&$*$?#!@ rasanya hati ini. Akhirnya kubilang, "Doain ya bu, mudah-mudahan saya punya anak perempuan. Biar ibu lihat, nanti saya perlakukan sama kayak Ali..."

"Yeee jangan Ken!" Sorak mereka kompak. Aku ngikik aja sambil ngejar Ali lagi.

Sebagai seorang perempuan, hati ini miris mendengar perkataan para nenek tadi. Betapa anak perempuan sudah dilabel lebih lemah, tidak bisa melakukan apa yang anak laki-laki lakukan, bahwa mereka tidak boleh diperlakukan sama seperti anak laki-laki; sejak sangat dini, jauh sebelum anak itu bisa berbicara untuk dirinya sendiri. Katanya anak perempuan harus lebih "dijaga" alias dibatasi dari melakukan hal-hal yang berisiko melukai dirinya. Ia sudah dilarang menantang dirinya sendiri mencoba hal baru, ia dilarang mengejar potensi diri, sejak sangat sangat sangat dini.

It breaks my heart.

Aku jadi betul-betul berdoa supaya aku kelak punya anak perempuan, supaya aku bisa tunjukkan pada orang bahwa aku memperlakukan anak laki-laki dan anak perempuanku dengan setara. Ia boleh ngebut naik sepeda, lari-larian, manjat pohon. Ia boleh berkeringat dan kulitnya menggelap mandi matahari. Ia boleh jatuh, ia boleh terluka, dan seperti Ali, ia harus selalu belajar untuk bangkit sendiri.

Jika sedari kecil saja dia sudah dibatasi untuk tidak memainkan "permainan anak laki-laki" ke depannya, apakah dia juga tidak boleh memilih bidang yang mayoritas dipilih laki-laki? Jadi montir, misalnya? Jadi teknisi, jadi tentara, pembalap, atlet bela diri, jadi pemanjat tebing? Masih relevan kah membatasi anak perempuan? Saya kira tidak. Perempuan boleh dan bisa melakukan apa yang laki-laki lakukan. Mereka setara.

"Memiliki atau menjadi anak perempuan di tengah sistem sosial yang mendiskriminasi perempuan dari laki-laki menjadi tantangan tersendiri. Dahulu hak anak perempuan untuk menempuh pendidikan formal dibatasi. Sementara saudara laki-lakinya sekolah terus, anak perempuan dianggap cukup dibekali pendidikan minimal lalu harus tinggal di rumah, mempersiapkan diri menjadi calon istri dan ibu yang baik. Seberapa bijaksana dan maju pemikiran orangtuanya akan menentukan apa yang bisa dicapai oleh seorang anak perempuan dalam hidupnya. Jika orangtua tak tahu cara mengarahkan, ia akan betul-betul berhenti belajar -akhirnya menjadi pribadi yang dangkal, cerewet soal remeh-temeh, membuat opini atau keputusan berbasis opini tanpa prinsip." --Ringkasan Vol. 5 Charlotte Mason "Formation of Character" (156)

***

Bukan cuma terhadap anak perempuan, Ali pun demikian. Beberapa kali orang terheran, kok Ali dibelikan mainan masak-masakan? Kok Ali diajarkan menjahit? Kayak anak perempuan, katanya.

Iiiihhh rasa hati ingin ceramah. Hahahahaha...

Hellooooo ini udah tahun 2018 ya, lewat 100 tahun dari surat-surat Kartini tentang emansipasi, masih juga mengidentikkan urusan domestik dengan perempuan saja. Terlebih, menganggap aneh lelaki yang mau melakukannya.

Ali bersamaku setiap hari. Tentu saja dia melihatku mengerjakan tugas-tugas domestik. Aku juga sering memintanya "membantuku" bebersih rumah, memasak, mencuci baju, buang sampah, meletakkan piring/gelas kotor ke bak cuci, dll. Semakin dia besar, justru akan semakin besar pula porsi tugas rumah tangga yang akan kulimpahkan untuknya. Selain mendidiknya untuk bertanggungjawab, aku juga ingin menghilangkan stigma "pekerjaan domestik adalah pekerjaan perempuan". Ia akan tumbuh jadi lelaki dewasa, kelak ia akan jadi kepala rumah tangga. Aku nggak mau membayangkan Ali jadi suami yang kerjaannya nunggu dibikinin kopi sambil berharap dilayani semua sama istri.

Aku ingin Ali jadi seperti ayahnya. Yang nggak canggung memasak, nyuci piring, buang sampah. Dulu bahkan dia yang nyuci popok Ali waktu Ali baru lahir dan aku belom bisa jongkok. Terus coba tanya sama Ali, Ayah kalau libur di rumah ngapain Li? Pasti dia jawab "Bikin kopi terus nyapu" 😂😂

Semua orang di dalam keluarga wajib berbagi tugas. Ayah, ibu, anak laki-laki, anak perempuan saling membantu. Tidak selalu Ayah yang bekerja. Tidak selalu ibu yang nyuci piring. Tidak selalu anak laki-laki yang benerin genteng. Tidak selalu anak perempuan yang harus menyapu. We can do it all together.

Patriarki telah mengakar begitu kuat dalam budaya kita sejak lama. Tapi sudah saatnya kita membuang jauh-jauh hal yang dapat merugikan masa depan. Ya jelas merugikan kalau kelak anak lelaki kita tumbuh menjadi suami yang minta dilayani istri dalam segala hal, membatasi istri dan anak perempuannya dalam berkarya. Dan merugikan, jika anak perempuan kita tumbuh tidak percaya diri setiap kali mau melakukan sesuatu, " Aku bisa nggak ya? Tapi kayaknya berat buat perempuan. Emang boleh? Nanti apa kata orang..."

Keberanian, percaya diri, ketangkasan, kekuatan, dan daya tahan wajib kita ajarkan kepada anak-anak kita, laki-laki atau perempuan. Sama saja. Itu adalah keterampilan dasar manusia. Menurutku, itu tidak ada kaitannya dengan fitrah identitas gender mereka, laki-laki atau perempuan. Mengajarkan anak laki untuk masak atau menjahit bukan berarti melawan fitrah kok. Tidak mengurangi kelelakiannya. Pun kalau anak perempuan suka manjat pohon dan tertarik dengan perbengkelan juga nggak melawan fitrah. Lihat aja montir Hana di kartun Tayo. Ya kan?

Tuhan menciptakan manusia ada laki-laki dan perempuan. Kalau kita cuma mengajari anak laki-laki, sementara kepada anak perempuan kita mengajarkan mereka untuk bersolek, lalu menyerahkan urusan sumur, dapur, dan kasur, apakah kita telah cukup memanusiakannya?

Jumat, 02 Februari 2018

Dua Tahun Menata Hati

Tidak banyak yang tahu bahwa dua tahun terakhir aku mengalami pergulatan batin yang luar biasa. Aku menepi dari keramaian, semata-mata karena aku merasa kehilangan pijakan. Semua bermula semenjak aku memutuskan resign dari pekerjaanku sebagai wartawan Majalah Ummi dan banting setir jadi ibu rumah tangga.

Pada waktu itu alasanku resign adalah karena: capek. Aku sering sakit. Nggak ada visi dan alasan yang cukup mapan tentang mengapa aku harus di rumah. Tadinya kupikir segalanya akan jadi lebih mudah. Ternyata, pergantian rutinitas dan peran ini bikin aku shock. Mungkin semacam post power syndrome ya. Hehe. Dari yang tadinya bebassss banget jadi jurnalis wara-wiri ke sana ke mari, perempuan mandiri ke mana-mana sendiri, punya penghasilan sendiri dengan lifestyle yg lumayan konsumtif, pokoknya hidup semau-mau. Eh, tiba-tiba harus di rumahhhh aja sama bocah. Iya sih aku punya ide besar bahwa aku pengen di rumah untuk full time mendidik anak. Tapi itu ide besarnya. Realita hariannya mah. Netein. Bikin bubur. Nyuapin. Gendong. Nyebokin. Ngejar2. Nemenin eek di kamar mandi. Hampir gak ada waktu pribadi karena bahkan ke kamar mandi aja ditangisin. Solat digelayutin ampe kecekek mukena. Ya Allah. Pun gak ada pemasukan pribadi karena 100% uang dari suami. I feel so helpless... powerless... useless... Tapi aku nggak ada waktu untuk memikirkan diri sendiri. Energi, pikiran, emosi sepenuhnya tercurah untuk Ali. Aku nggak pernah sempat nangis untuk diri sendiri dan meluapkan emosi.

Juga karena latar belakang seorang jurnalis, aku "kebiasaan" mencari info detail tentang parenting dan tumbuh kembang anak. Aku melahap semua "konsep ideal" tapi seketika itu pula dibenturkan dengan realita sehari-hari yang mematahkan teori. Medsos seperti jendela yg mudah sekali membuatku melongok ke luar dan melihat rumput2 tetangga lebih hijau. Perasaan bingung, merasa bersalah kepada anak dan suami, merasa bodoh dan gagal menjadi ibu, menguburku makin dalam setiap hari. Aku kehilangan semangat dan produktivitas. Tadinya masih rajin nulis jadi mampet. Aku kehilangan diri sendiri. Tapi karena aku nggak ke psikolog jd gak tahu itu depresi/bukan. Aku juga semakin tertekan kalau ada orang yang bilang, masalahku ini hanya karena aku kurang bersyukur, kurang beriman, kurang ibadah. Semakin ngerasa berlumur dosa dan tidak berarti. Depression eats you from inside.

Suamiku berusaha memahami struggle-ku dan aku rasa dia adalah salah satu orang paling sabar yang pernah aku kenal. Kendati seringkali dia nggak ngerti gejolak emosiku yang seperti roller coaster, pada akhirnya ia cuma memelukku dalam-dalam dan membiarkanku menangis lama. Aku sering bilang padanya, Bang seandainya aku cuma lulusan SMP dari kampung trus langsung nikah mungkin aku gak se-stress ini. Seandainya aku gak pernah kuliah. Seandainya I had no idea about feminism. Seandainya aku nggak pernah merasakan berkarir dan punya uang sendiri. Mungkin aku nggak akan segini frustasinya. Tapi aku terjun bebas dari posisiku dahulu. Sekarang, aku minta uang aja sungkan. Bahkan untuk bilang "Aku capek" atau "Aku ngantuk" ke suami tuh sungkan, malu banget. Kayaknya aku ga berhak bilang begitu karna udah pasti suamiku yang lebih capek berangkat kerja setiap hari, sementara aku di rumah aja, gimana bisa capek?

Kenyataannya, aku merasa compang-camping. Tak kasat mata, tentu saja. Kalau berat badan naik atau turun, kelihatan, orang mudah berkomentar. Tapi kalau batin yang tengah pincang, padahal berat badan nambah terus, siapa yang nyangka? Pun kalian kalau ketemu aku mungkin gak akan nyangka aku tertatih-tatih menata batin.

Suamiku sangat berempati. Setelah menyampaikan semua uneg2 itu, dia agak bingung dan kaget kenapa aku bisa berpikir begitu. Dia bilang, dia sangat menghargai proses "terjun bebas" yang aku rela lakukan. Itu pengorbananku, katanya. Nggak banyak yang bisa atau bahkan mau melakukannya. Duh langsung rasa pingin nangis. Dia bukan tipe orang yang suka ngungkapin perasaan tapi denger dia ngomong gitu aku terharu. Karena itu bener banget.

Semua orang di sekitarku baik, suamiku sangat pengertian, anakku pun pinter dan sehat, namun masalahnya hanya ada di dalam diriku sendiri.

Karena begitu banyaknya emosi negatif yang terpendam di dalam dada, dan aku pun kerap mimpi buruk, aku sempat ingin rukyah. Jangan-jangan ada jin nemplok yang bikin gw begini. Tapi setelah konsultasi dulu ama temen yang ngerti, dia bilang "Lu mah stres doang itu. Kaga usah bawa2 jin!" Hahaha. Tapi tetap saja, hati yang gundah adalah sasaran empuk syaitan. Aku sadar penuh, aku harus banyak menenangkan diri dengan ngaji dan dzikir, tazkiyatunnafs.

Aku sampe skrg doaku msh sama.

"Allahummaj'alnii minasshobirin... allahummaj'alni minassyaakirin... allahummaj'alni minal mukhlashin..." ya Allah jadikan aku org yg sabar... yg bersyukur... yg ikhlas... diulang 3x dan diucapkan tiap abis solat, bangun tidur, atau kapanpun aku merasa tidak cukup sabar/capek hati.

Atau zikir asmaul husna. Aku menyebut nama-nama Allah seperti Ya Lathif... untuk meminta kelembutan hati... Ya Shobur... untuk meminta kesabaran, dst. Itu zikir paling mudah dan menenangkan.

Lalu, aku menghitung nikmat. Setiap malam, sebelum tidur, aku selalu mengajak Ali menghitung dan menyebutkan nikmat Allah kepada kami. Kami sebutkan (hampir) semuanya. Karena nikmat Allah yang sebenarnya mah, gak kehitung, hehe... "Alhamdulillah ya Allah, hari ini Ali senang Ali sehat, Mama sehat... Ayah pulang cepat jd Ali bisa main... Alhamdulillah ya Allah, Ali makannya banyak hari ini, terima kasih ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang pandai bersyukur..." dan seterusnya yang bisa panjangggg sekali sampai Ali ngantuk, hehehe...

Itu menjadi pengantar tidur Ali namun pengingat yang sangat efektif buatku, bahwa aku dikaruniai banyak nikmat dan sepatutnya aku bersyukur.

Aku menarik diri dari segala bentuk medsos, I changed my number, bahkan kemarin-kemarin di hp ini cuma ada grup keluarga. Karena seringkali kita nyari sumber stres kemana-mana, padahal ia ada di genggaman kita. Ponsel alias jendela buat ngeliat rumput orang2 yang lebih hijau. Ponsel, sosmed, adalah pangkal dari segala iri, hasad, membanding2kan, tidak bersyukur, riya', dsb. So I decided to stay away from my phone.

Aku jadi punya banyak waktu juga untuk baca buku.

Salah satu yang kubaca, buku Marie Kondo. Darinya aku terinspirasi untuk menata ulang isi rumah mengeluarkan banyak sekali barang. Abang pun sepakat mengeluarkan budget untuk renovasi dan mengganti suasana jadi serba minimalis. Sekarang rumahku minim perabot, bahkan piring pun cuma ada 8. Dulu mah tiap liat dapur bawaannya pengen beberes. Sekarang engga. Lha wong ga ada barang apa yang diberesin? Hehe. Cucian piring juga gak numpuk, karena misalnya kedua panci kotor dan aku perlu pakai, ya harus cuci dulu. Aku betul-betul nggak mau dipusingkan dengan urusan beres-beres setiap hari karena aku ingin fokus membahagiakan anak, suami, dan diri sendiri. Ternyata, itu berefek besar.

Ada satu buku lagi yang banyak menginspirasi, mencerahkan, dan... memeluk... ya, sebagai ibu yang tengah krisis percaya diri, aku merasa dipeluk oleh buku yang indah ini. Cinta yang Berpikir karya Ellen Kristi. Bacalah. Recommended banget. Buku ini betul-betul bisa membuatku memaknai lagi setiap momen bersama Ali. Membuatku lebih santai, lebih banyak bersyukur. Mencerahkan visiku akan pendidikan macam apa yang kuharapkan untuk Ali. Membesarkan hatiku bahwa saat ini aku sedang membesarkan seorang calon pemimpin masa depan. Pendidikan karakter adalah inti dari manusia sejati. Dan cuma ibu yang bisa membimbingnya 24/7.

Wafatnya Mbah pada Maret tahun lalu juga menjadi turning point buatku. Seperti yg ceritakan di sini, beliau ambruk ketika lagi di rumah sama aku dan Ali. Anak-anak dan cucu-cucu lainnya sibuk dgn rutinitas masing-masing, dan aku yg nggak punya kerjaan apa-apa pada akhirnya sangat bersyukur bisa menemani hari-hari terakhir beliau mendengarkan ceritanya, menemani tidur siang, mengaji dan berzikir di sampingnya sampai beliau wafat. Di saat yg lain sibuk berutinitas, aku yang punya waktu paling luang. Setelah beliau tiada, aku sadar bahwa waktu adalah hal paling berharga untuk dilalui bersama orang-orang terkasih. Dan semestinya aku bersyukur punya banyak waktu bukan cuma untuk membersamai Ali, tapi juga Mbah, Bapak-Ibu, dan tentu saja, suami.

Butuh waktu lama buatku untuk merenung dan memahami apa yg sesungguhnya sedang terjadi pada diri. Dan pergulatan itu pun belum sepenuhnya usai. Emosiku masih suka meledak-ledak terutama di masa PMS. Tapi seenggaknya aku mulai memahami polanya dan terus menerus berusaha mengendalikan diri lebih baik. All you need is love kata The Beatles. Aku pun, butuh banyak ciuman dan pelukan. Aku memintanya setiap hari dari suamiku dan Ali.

Ohya, satu lagi. Aku punya tetangga baru, senasib, ibu muda, punya anak 2 tahun, bocah cowok yang ga bisa diem, dan kami sehari-hari di rumah aja. Kami suka jalan2 ke taman, perpustakaan, sepedaan, berenang. Wisata murah meriah aja sekalian ajak anak eksplorasi ngabisin energi, hihi. Bawa 2 toddler super aktif gitu, ribeddd, pasti. Tapi buatku, senang banget punya temen refreshing dan temen cerita. Cerita semalem abis begadang. Cerita anak lg susah makan. Cerita anak lagi hobi nabok. Jd ngerasa gak sendirian. Kami saling berbagi makanan, pinjem-pinjeman buku dan mainan, belajar bikin kue bareng. Kadang solat atau mandi gantian saling titip, hahaha... Kayaknya stres ku jauh berkurang sejak ada dia.

Kurasa setiap ibu perlu memiliki teman senasib untuk berbagi cerita dan temen refreshing. Sesama ibu harus saling merangkul membahagiakan. Karena jika seorang ibu bahagia, tentramlah keluarganya. Sebaliknya, jika seorang ibu tidak bahagia, seisi rumah pun akan terasa penat dan muram.

Berbahagialah, ibu. Bahagiakan dirimu. Banyak2 bersyukur dan nikmati setiap momen yang kau lewati bersama anak dan suami. Mommies are awesome!