Jumat, 26 April 2013

Cerita tentang Indonesia



Negeri kita ini indah sekali, kawan! Pergilah jelajahi Indonesia, jangan hanya bersembunyi di balik meja kantormu saat weekdays, dan berlindung di bawah ketek pacarmu saat weekend. Ada lebih dari 13.000 pulau di sini yang tak perlu pakai paspor dan visa untuk mengunjunginya. Masa dirimu hanya puas di Jawa saja, terus lebih memilih ngantri lama di imigrasi bikin paspor buat ke Singapura atau Thailand?

Percayalah, surga itu ada di tepian Sumatera, di tengah rimba Borneo, di bawah laut Sulawesi, di gugusan Nusa Tenggara, di manisnya senyum orang Ambon, dan di antara lembah-lembah Papua. Kita mungkin hidup nyaman di Jawa, tapi pergi dan lihatlah, apakah saudara-saudara kita di sana baik-baik saja. Apakah hidup mereka seindah potret alamnya?

Jika orang bertanya padaku, kenapa aku suka sekali jalan-jalan dan mengagumi negeri ini, jawabanku sederhana. Aku ingin menyimpan banyak cerita tentang Indonesia untuk anak-anakku. Agar nanti kalau mereka sudah besar, seburuk apapun kondisi politik-ekonomi negeri ini nantinya mereka tetap bangga jadi anak Indonesia. Aku akan bilang sama mereka, Indonesia ini seperti putri cantik yang salah asuhan. Harus kita selamatkan.

Pergilah kawan, jelajahi negeri ini. Simpanlah banyak kisah tentang Indonesia untuk anak-anakmu supaya nanti kau tak perlu beli buku dongeng Cinderella untuk mengantar mereka tidur.


 "Travelling - it leaves you speechless, then turns you into a story teller."
Ibnu Batutah

Menyusuri Sungai Musi


Pukul 11 siang, pasukan sudah siap. Ada aku, Ade, Yani, dan Mizan. Inilah senangnya ngebolang, kita menyambung silaturahmi dengan kawan lama dan bertemu kawan baru. Sebelum menyeberang sungai menuju Pulau Kemaro, kita makan dulu di pasar kuliner bawah jembatan Ampera. Lagi-lagi, aku pilih pindang, tapi kali ini pindang gabus, nyam... :9

makan lagi lah!

Belum ke Palembang kalau belum menyusuri Sungai Musi,” kata Ade.

Ah ya, benar juga. Sejak dulu sungai terpanjang di Sumatera ini memang menjadi urat nadi sekaligus identitas Kota Palembang. Tau nggak, sebenarnya cita rasa makanan Palembang yang asli itu berasal dari salah satu ikan endemik Sungai Musi, ikan belido namanya. Kata Pak Bondan Winarno, ikan belido ini lezat sekali rasanya. Tetapi karena populasinya terus menerus berkurang, akhirnya sekarang bahan dasar kemplang, pempek, tekwan, dan pindang pun berganti jadi menggunakan ikan gabus, tengiri, dan ikan lainnya. 

Kali ini kita akan ke Pulau Kemaro, sebuah delta kecil di tengah Sungai Musi, jaraknya 6 km dari Jembatan Ampera. Disebut Pulau Kemaro, karena selalu kering dan tidak pernah terendam air meskipun Sungai Musi sedang meluap. Untuk menuju ke sana, kita akan menaiki ketek, perahu kecil yang tarifnya Rp100.000 pp. Well, bisa nawar sih. Dan semakin banyak rombongan, udunannya juga pasti makin sedikit kan.

barisan kapal di bawah jembatan

Sebelumnya kami kira bus air Trans Musi sudah beroperasi, eh ternyata belum. Padahal udah lama direncanainnya. Jadi inget tuh ide bus air di Jakarta. Ya kali orang mau nahan nafas sambil hoekk hoekk menyusuri Kali Ciliwung yang bau. Trus nabrak kasur sama kulkas (kebayang sampahnya orang Jakarta). Walaupun airnya tidak jernih, tapi naik bus air di Sungai Musi kayaknya masih enak deh dibandingkan naik bus air di kali Ciliwung -__-“  kalau ada bus air pasti makin banyak tempat-tempat yang bisa terjamah wisatawan. Akses dari daerah hilir ke hulu pun tidak lagi hanya mengandalkan jembatan Ampera yang sekarang sudah makin macet. Tolong dibantu ya pak gub, pak walkot, jangan nampang doang. Segera realisasikan bus air Sungai Musi supaya Palembang benar-benar bisa seromantis Venice.

Wuahhh... naik ketek sensasinya luar biasa! Apalagi ketek ini cuma perahu kecil, jadi siap-siap aja deh bergoyang-goyang kalau dilewatin kapal besar atau perahu motor. Itu lebih memacu adrenalin daripada naik kora-kora. Because this is real, man! Kalo kecemplung ya harus berenang beneran. Kurang lebih 30 menit kami menyusuri sungai. Melewati rumah penduduk, pabrik pupuk, melihat kapal-kapal besar pengangkut pupuk dan batubara yang parkir di pinggir sungai. Anggap aja di Venice, lah. Hihi. 

Great view!

Sampailah kami di Pulau Kemaro. Di tempat ini terdapat sejumlah patung Buddha, Klenteng Hok Tjing Rio dan pagoda Soei Goeat Kiong (Dewi Kuan Im) setinggi 9 lantai. Saat Imlek atau Cap Go Meh, pulau ini pasti ramai sekali. Ada pertunjukan barongsai dan sebagainya.

Pulau Kemaro punya legenda. Konon, dulu Putri Palembang bernama Siti Fatimah dilamar Pangeran Tan Bun Ann dari Tiongkok. Fatimah meminta 9 guci berisi emas sebagai tanda cinta. Takut terhadap bajak laut, orangtua Tan Bun Ann menutupi guci berisi emas dengan sawi. Tan Bun Ann malu dan kecewa ketika melihat guci itu hanya dipenuhi sawi. Ia membuang semua guci ke sungai, tetapi guci terakhir jatuh dan pecah, emas pun berserakan bersama sawi. Menyadari hal itu, Tan Bun Ann panik dan segera menyelam ke sungai untuk mencari guci-guci emas yang ia buang tadi. Fatimah ikut menyelam, dan jasad mereka kemudian ditemukan di Pulau Kemaro. 



 



Di sini juga ada pohon besar yang dinamai "Pohon Cinta". Katanya ini perlambang cinta Fatimah dan Tan Bun Ann yang berasal dari dua budaya berbeda. Tapi sekarang pohon ini dipagari, karena terlalu banyak aksi vandalisme akibat mitos, kalau kamu mengukir namamu dan pasangan di sini, kalian akan bersama selamanya. Owyeah. Nggak usah diikuti ya mitos yang merusak lingkungan seperti itu.

Setelah puas foto-foto, kami pun kembali ke ketek dan bersiap menyusuri sungai lagi, yeaaay! Lebih seruan naik keteknya sih, hahaha...

Next destination is... Jaka Baring Sport Center! Untuk menuju ke sana kita akan menyeberangi jembatan Ampera. Kita harus bangga loh punya kompleks olahraga berkelas internasional. Tapi lagi-lagi, mukanya Alex Noerdin merusak pemandangan. Di mana-mana! Bahkan bukan cuma umbul-umbul, spanduk dan baliho, tapi juga BALON! Oh meeenn... udah kayak supermarket baru buka aja promosinya. Berapa duit dah dia ngabisin. 

balonnya si A.N
Gelora Sriwijaya

Meskipun sore itu cukup ramai, tetapi kita bisa melihat bahwa selepas SEA GAMES 2011 lalu, kompleks olahraga ini mulai terabaikan. Gedung-gedung dibiarkan kosong dan berdebu, beberapa bahkan tampak mengelupas catnya. Sayang sekali, ramainya saat Sriwijaya FC bertanding saja. Padahal semestinya semangat olahraga bisa terus dihidupkan, misalnya menjadi pusat pembinaan atlet muda. Pokoknya ramein lah, sayang banget ini dananya miliaran euy... dikorupsi pula... ckckck. Sayang kalo pada akhirnya cuma diramein sama umbul-umbul, baliho, dan balon mukanya Alex Noerdin.

 **
Matahari sudah hampir tenggelam saat kami lewat di atas jembatan Ampera. Kami menyempatkan untuk foto-foto sebentar di sini, sambil dag-dig-dug takut dimarahin karena sebenarnya nggak boleh berhenti sembarangan. Bok, jembatan Ampera kan jalan raya yang bisa macet juga.



macet di AmpeAmpera, seandainya jembatan masih dinaik-turunkan untuk membiarkan kapal-kapal besar lewat. Pasti macet puanjang dari hulu ke hilir. 

Bagian tengah jembatan yang dibangun pada tahun 1962 ini dulunya bisa diangkat ke atas agar kapal-kapal besar bisa lewat. Ada dua bandul seberat masing-masing 500 ton di dua menaranya. Kecepatan pengangkatannya sekitar 10 meter per menit dan total waktu yang diperlukan untuk mengangkat penuh jembatan selama 30 menit.

Setelah jembatan diangkat, kapal selebar 60 meter dan dengan tinggi maksimum 44,50 meter, bisa lewat mengarungi Sungai Musi. Bila bagian tengah jembatan ini tidak diangkat, tinggi maksimum kapal yang lewat di bawah Jembatan Ampera hanya sembilan meter dari permukaan air sungai

Selepas sholat ashar, kami cemal-cemil. Badhokan ae ancene, hihi. Makan es alus di depan masjid, yaitu semacam es puter tapi pakai santan dan kacang merah. Indonesia banget rasanya, hehe. Terus menuju martabak HAR yang terkenal itu, dan ternyata nggak cocok sama lidahku. Karena bener-bener telor doang isinya, nggak ada sayur atau daun bawang gitu. Terus disiram kuah kari kambing dan kecap asin, dimakan sama kentang. Buatku aneh.

Petualangan kami hari ini diakhiri dengan nongkrong di boulevard depan Benteng Kuto Besak, menunggu lampu-lampu cantik Ampera dinyalakan. Lagi-lagi, sambil ngemil (?) mie tektek. Betul kata orang, Ampera cantik sekali di malam hari.



Begitulah cerita petualanganku 2 hari di Palembang. Sangat berkesan. Keesokan paginya pukul 5.30 aku sudah boarding. Terbang di tengah cuaca buruk, mendung kelabu merata dari Palembang sampai Jakarta. Jakarta-Palembang cuma 1 jam, tapi Cengkareng-Rawamangun hampir 2 jam -___-“

Welcome back to the city, Ken.

Kepingan Sejarah di Bumi Sriwijaya



Palembang cantik sekali saat senja. Apalagi waktu itu hari Sabtu, tepian sungai Musi ramai sekali. Boulevard dipenuhi para penjual jajanan dan muda-mudi yang bercengkerama sambil menunggu lampu-lampu cantik Ampera dinyalakan.

Serasa dunia milik berdua. Tapi masalahnya itu cowok sama cowok -__-"


Aku menyempatkan diri mampir ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II yang terletak di belakang masjid agung, tak jauh dari tepian sungai. Masuk ke situ bayar Rp5000, dan jangan lupa buka sepatu. Hihi, iya baru ini aku masuk museum disuruh buka sepatu. Memang ruangannya bersih sekali, semua koleksinya nampak terawat. Di sini kita juga bisa membaca sejarah Palembang.

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Palembang punya catatan sejarah amat panjang. Ia pernah menjadi ibukota kerajaan maritim tertua, Kerajaan Sriwijaya. Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Bukit Siguntang saja bertarikh 682 Masehi, menjadikan Palembang sebagai kota tertua di Indonesia. Setelah Sriwijaya runtuh, Palembang juga sempat dikuasai Majapahit sebelum akhirnya pengaruh Islam masuk pada awal abad ke-17, dan Kesultanan Palembang Darussalam-lah yang kemudian berkuasa. Dilihat dari sejarahnya, tak heran jika penduduk kota ini sangat heterogen. Tionghoa, Melayu, Jawa, Muslim, Budha, semua hidup berdampingan.

Sore itu aku janjian dengan salah seorang kawan lamaku, Ade. Aku akan menginap di rumahnya 2 malam ini, hehe... Itulah senangnya jadi anak Indonesia, temannya di mana-mana! Ade membawaku ke rumahnya di kawasan Bukit Besar. Rumahnya Ade asik banget, rumah panggung di atas sungai! Jadi halaman depannya itu ya bener-bener sungai! Nggak salah memang kalau Palembang ini dijuluki Venice of The East.

Dijamu pempek sama ibunya Ade sambil menikmati sungai depan rumah

Di sana aku disuguhi pempek ikan gabus aseli buatan ibunya Ade. Enyak! Trus makan malamnya pakai pindang kepala patin dan kerupuk kemplang. Sambil duduk-duduk menikmati pantulan cahaya matahari di atas sungai depan rumah. Ahh... so this is the original taste of Palembang...

**
Minggu pagi di Palembang juga sayang untuk dilewatkan. Salah satu tempat paling ramai di Palembang saat Minggu pagi adalah taman kota Kambang Iwak, yang artinya kolam ikan. Di tengah taman yang asri ini memang terdapat sebuah kolam air mancur yang cukup luas dan banyak ikannya. Kalau malam, lampu dinyalakan dan air mancur pun jadi cantik berwarna-warni.


Ade berpose di Kambang Iwak

Ini kolam peninggalan Belanda loh. Dulu daerah ini memang merupakan pemukiman elit Belanda. Masih banyak rumah-rumah tua bergaya art deco di sekitar Kambang Iwak. Banyak yang jogging, senam, ada jalur sepeda dan tempat main skateboard. Lumayan cuci mata kan, liat cowok-cowok berkeringat, hahaha... Di sini aku dan Ade sempat juga jajan burgo dan lakso, jajanan Palembang yang terbuat dari tepung beras, lalu pakai kuah santan kuning. Enak.


Setelah dari Kambang Iwak, Ade mengajakku ke Taman Bukit Siguntang. Situs bersejarah ini merupakan kompleks pemakaman bangsawan Sriwijaya yang sangat disucikan pada zamannya. Makanya jangan kaget ya kalau masuk sini auranya agak beda, hihi. Di sini dimakamkan Raja Sigentar Alam, Pangeran Raja Batu Api, Putri Kembang Dadar, Putri Rambut Selako, Panglima Tuan Djundjungan, Panglima Bagus Kuning, dan Panglima Bagus Karang. Di lokasi ini juga banyak ditemukan benda purbakala yang berasal dari abad ke-6 sampai ke-13 Masehi. Kini Taman Bukit Siguntang menjadi taman purbakala yang dilindungi untuk menjaga artefak-artefak yang mungkin masih belum terungkap.

Taman Bukit Siguntang

Petualanganku di Palembang belum usai. Masih ada setengah hari lagi, hehe... 
To be continued.

Kamis, 25 April 2013

(Pindang) Palembang, Aku Datang!


Sebagai anak yang lahir dan besar di sebuah negara kepulauan terluas di dunia, salah satu misi hidupku adalah menjelajahi paling tidak 5 pulau terbesar negeri ini. Hingga di usiaku sekarang, aku sudah menginjakkan kaki di Pulau Jawa, Madura, Bali, Sulawesi, serta Pulau Timor dan Ende di NTT. Dan, hari ini aku akan ke Sumatera, yeaaayy...!! Berikutnya tinggal Kalimantan dan Papua (plus Maluku & NTB sebagai bonus) yang akan segera kita atur waktunya ^.^

Melihat cantiknya jembatan Ampera di malam hari sudah masuk bucket list aku sejak lama. Jadi ketika sebulan terakhir ini aku lagi mumet, yang ada di pikiranku cuma: Palembang Palembang Palembang. Aku memang belum punya cuti, tapi kukira 2 hari di akhir pekan cukuplah untuk city tour dan wisata kuliner, hehe... Cewek kalo lagi stres pengennya yang asem-asem pedes, jadi sepanjang hari aku memikirkan brengkes, pempek, pindang, sambel mangga, dan tekwan. Pindaaaaanggg... aku dataaaaanggg...!

Aku berangkat dari Jakarta pukul 7.30 pagi. Penerbangan ke Palembang akan ditempuh selama 1 jam. As always, aku minta duduk dekat jendela, supaya aku bisa melengkapi koleksi album jepretanku, “Indonesia from above”. Memotret Indonesia dari atas itu seru, kita bisa punya gambaran lansekap berbeda dari apa yang kita lihat di darat.

Cuaca pagi itu cukup cerah, tetapi apa yang kulihat di bawahku sungguh mencengangkan. Dari atas Lampung sampai sesaat sebelum mendarat di Palembang, yang tampak olehku hanyalah ribuan hektar lahan kotak-kotak yang pepohonannya berjejer rapi. Sawit dan karet :( seolah nggak habis-habis lahan perkebunan itu kulihat dari atas. Jadi hutanku pada ke mana? Itu ribuan hektar loh, jadi perkebunan semua. Terus orang utan, harimau, dan gajahku sekarang tinggal di mana? Sedih :(

ribuan hektar lahan perkebunan

 Waktu menunjukkan pukul 8.30 saat pesawatku landing di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin 2. Bermodalkan petunjuk arah, aku langsung menuju halte Trans Musi dan mengabaikan semua tawaran taksi dan ojek.

“Mau ke mana dek? Saya antar,”
Sejujurnya gue juga gatau mau ke mana, hahaha... “Ke Ampera bang,”
“Ya, dari Ampera mau ke mana?”

Huk! Ke mana ya, nggak tau? Hihi... I just want to get lost. Haduh, tapi ditanya melulu kesel juga. Saya harus jawab apa ya? Sepintas aku melihat tulisan di bus Punti Kayu trus aku bilang aja, “Punti Kayu”. Mungkin itu jauh kali ya, jadi mereka berhenti nawarin, hihi... Padahal aku juga gatau itu di mana o_0

Trans Musi

Setelah 20 menit menunggu di halte (aku satu-satunya cewek yang celingukan sendiri di halte itu), akhirnya Trans Musi datang juga. Kita harus membayar ongkos Rp4000 sekali jalan. Mizan, kawanku di Palembang bilang, dia akan tunggu di halte SMA 3. Tapi aku ketiduran pules di bus, baru bangun saat bus mencapai tempat pemberhentian terakhir, halte bus Integrasi tepat di bawah jembatan Ampera. Di situlah aku ketemu dengan Mizan kawan lamaku ini. Dia wartawan di Sumatera Express yang sudah kuminta jadi guide-ku selama di Palembang. Nggak ada yang lebih asik daripada di-guide sama wartawan yang sudah tahu daerah jajahannya, hihi. 

“Mau ke mana dulu?”
“LAPER.”
“Oke, yuk,”

Akhirnya kami langsung menuju tempat makan terenak di Palembang yang pernah dia liput. Pindang Haji Salim namanya. Beuuuhh.. itu rasa impianku jadi nyata. Pindang patin, brengkes tempoyak, ikan asap sama sambal mangga lengkap dengan aneka lalapan, semua tersaji cantik di atas meja. Lumayan untuk membangkitkan lagi nafsu makan dan berat badan yang sempat anjlok belakangan ini. 

Tapi maaf, saya khilaf kelaparan baru makan sepotong roti di pesawat, jadi gak sempet fotoin deh, udah keburu tancap gas. Aduh pokoknya ituuuu... >,< lemak-lemak di patinnya, trus kuah asam ada nanasnya, trus bumbu durian OMG OMG OMG khilaf! Semua gue yang ngabisin. Si Mizan cuma sempet makan semangkuk pindangnya. Aku ditelepon Bapak pas lagi makan, katanya "Cangkemmu iku lho badhokan thok!" Bae atuh Pak! Eh, udah makan paling banyak, gataunya gue dibayarin, hahaha... Dijamu euy. Jazakallah ya!

Burp! *bau duren* ahh tempoya... kenapa dirimu enak sekali... 

Setelah kenyang, kami solat zuhur dan istirahat sebentar di Masjid Agung Palembang. Masjid ini sudah dibangun sejak tahun 1724 Masehi, pada masa kejayaan Islam di Palembang. Saat itu Sultan Mahmud Badaruddin 2 yang berkuasa, di keraton Kuto Gawang. Memang kalau mau melihat arsitektur dan ukiran khas suatu daerah, lihatlah masjid agungnya.

Masjid Agung Palembang

Kota Palembang ini bersih dan cantik sekali, aku suka. Dari tahun 2007-2011 berturut-turut menang penghargaan Adipura. Bahkan pernah dinobatkan sebagai kota terbersih se-ASEAN pada 2008. Tetapi saat kemarin aku datang, satu-satunya hal yang malesin dari Palembang adalah banyaknya umbul-umbul, stiker, spanduk, dan baliho para calon gubernur Sumsel. Pilgub akan dilaksanakan Juni mendatang, jadi sekarang mereka lagi gencar-gencarnya kampanye. Ish, malesin! It’s like EVERYWHERE! 

Apalagi ini si calon incumbent Alex Noerdin, ya ampun eta beungeeeuuuutttt... di airport, di rumah sakit, di depan kantor pemerintahan, belum lagi umbul-umbulnya di sepanjang jalan dan di tepi sungai Musi, mengganggu pemandangan! Aku kan males kalo mau foto cantik tapi photobombed sama mukanya dia. Modusnya macem-macem, mengucapkan selamat datang lah, selamat menyambut festival seni lah, berobat jangan dipersulit-lah, bla bla bla... nyebelin! Itu pake duit siapa coba, pikir. Ya duitnya daerah lah, karena dia sok-sok melakukan itu atas nama Gubernur Sumsel kan. Duh, betapa mahal dan tidak sehatnya demokrasi negeriku ini. 

Huft.
itu konser musik dan umbul-umbul juga dalam rangka kampanye loh -__-"

Next, aku akan bercerita tentang kunjunganku melihat Al-Quran ukir kayu terbesar di dunia. Iya, masih dari Palembang! Stay tune!

Selasa, 23 April 2013

Gunung Kunci, Benteng Kokoh di Balik Bukit


Sumedang, sebuah kota kecil di Jawa Barat yang paling banyak dikenal karena produksi tahunya. Tapi tahu nggak, sebenarnya Sumedang juga memiliki banyak sekali peninggalan sejarah berharga. Jejak-jejak bekas penjajahan Belanda dan masa Kerajaan Sumedang Larang masih tersimpan rapi di sudut-sudut sunyi kota ini.

Berjarak hanya 45 km dari Kota Bandung, Sumedang memiliki sejumlah objek wisata sejarah yang patut Anda kunjungi. Salah satu situs sejarah keren menurutku yang belum banyak dikenal adalah situs Gunung Kunci. Padahal lokasinya hanya 200 meter dari alun-alun Kota Sumedang.

Gunung Kunci adalah sebuah benteng dan goa yang dibangun sebagai tempat persembunyian para tentara Belanda. Gunung Kunci sebenarnya berbentuk bukit kecil saja, bukan gunung. Di bukit yang rimbun tertutup pepohonan itulah sebuah benteng besar dengan banyak lorong dibangun.


Goa ini dibangun oleh tentara Belanda pada tahun 1914, dan selesai pada tahun 1917. Penyelesaian benteng dan goa seluas bukit dalam waktu singkat ini tentu saja karena Belanda memberlakukan sistem kerja paksa terhadap rakyat Sumedang kala itu.

Saking banyaknya lorong dan ruang bawah tanah di benteng Gunung Kunci, sebagian orang mengatakan bahwa benteng ini dibangun terlebih dahulu, baru kemudian ditimbun dengan tumpukan tanah dan ditanami pepohonan. Jadilah “bukit” ini tempat perlindungan dan persembunyian yang sempurna.

Pendapat itu memang belum tentu benar bisa dipercaya, tapi kalau kamu menyaksikan sendiri betapa luas dan banyaknya ruangan dalam goa, mungkin kamu akan berpikiran serupa. Kalaupun goa ini dibangun di bukit yang sudah ada, terbayang bagaimana para pekerja harus menggali dan membuat lorong-lorong panjang menembus sebuah bukit! Sebuah bukti kecanggihan konstruksi di masa lalu.



Gunung Kunci dipenuhi dengan lorong dan bunker yang luasnya mencapai 450 m2. Panjang goa penghubung antar ruangannya hingga 200 m. Banyak ruangan di Gunung Kunci, yang secara keseluruhan dibagi menjadi 3 lantai. Ada ruangan untuk prajurit, perwira, tahanan, dan tentu saja benteng. Semuanya dilapisi beton setebal 1 meter.

Kita bisa masuk ke dalam gua-gua tersebut dan menelusuri lorongnya yang terlihat masih sangat kokoh, walaupun sudah berabad-abad lamanya ia tersembunyi di balik bukit. Kita akan menemukan beberapa ruangan yang dilengkapi dengan meja, tempat duduk, bahkan tempat tidur yang semuanya terbuat dari beton.
Benteng kokoh di Gunung Kunci runtuh juga saat tahun 1942 pemerintahan Hindia Belanda mendapat serangan bertubi-tubi dari tentara Jepang. Salah satu bom Jepang menghantam benteng Gunung Kunci, dan reruntuhannya masih bisa kita saksikan hingga kini.



Letak goa yang tak jauh dari pusat kota membuatnya sangat mudah dicapai dengan kendaraan umum sekalipun. Dari arah Bandung, kita bisa menggunakan bus apa saja yang mengarah ke Sumedang atau Cirebon. Turun sebelum alun-alun Sumedang, lalu jalan kaki ke arah Gunung Kunci. Naik angkutan umum juga bisa, tetapi jaraknya dekat sekali.

Bagi yang membawa kendaraan pribadi tentu lebih mudah. Di depan Gunung Kunci juga tersedia tempat parkir yang teduh dan luas. Masuk ke dalam kawasan Gunung Kunci kita perlu membayar karcis Rp500 saja per orang. Dengan karcis semurah itu, bisa dibayangkan fasilitas yang ada di dalamnya.

Potensi wisatanya yang hingga kini belum tergali maksimal. Pepohonan yang terlalu lebat, sampah dedaunan yang bertumpuk, udara yang sangat lembab, dan fasilitas yang tidak terawat membuat lokasi wisata ini banyak disalahgunakan sebagai tempat “mojok” pasangan muda-mudi. Saya bahkan pernah menemukan kondom bekas di salah satu pojok dalam goa. Iyuuuuhh disgusting!

banyak sampah :(
pepohonannya terlalu lebat tak terawat

Sungguh sayang seribu sayang karena benteng ini tentunya menyimpan nilai sejarah yang tinggi. Selain itu, apabila dirawat dengan baik rindangnya pepohonan pinus serta patung dan taman-taman di sekitar benteng tentu dapat mempercantik pemandangan. Bukit ini juga menjadi habitat berbagai jenis burung, tupai, dan kupu-kupu.

Jika dapat dikelola baik, Benteng Gunung Kunci seharusnya dapat menjadi oase hutan kecil di tengah kota Sumedang. Sambil menikmati alam, sambil mempelajari sejarah. Para mahasiswa di Jatinangor, jangan ke Bandung terus. Sekali-kali beloklah ke Sumedang dan kunjungi obyek-obyek wisata sejarah di sini, termasuk Gunung Kunci yang keren ini. Semoga jika semakin banyak peminat wisata sejarah yang datang ke sana, pemerintah setempat dapat memperbaiki fasilitas sehingga pengunjung bisa semakin nyaman.

berpose dulu sama Wikan

Senin, 01 April 2013

Mengendalikan Rasa Lapar


Bukan cuma fashion yang tren-nya mengikuti zaman. Tren penyakit pun berubah mengikuti zaman. Kalau dulu yang mewabah adalah penyakit-penyakit infeksi seperti malaria, demam berdarah, kolera, dan polio, sekarang ini banyak penyakit yang muncul akibat gaya hidup.

Mungkin kita sering mendengar penyakit degeneratif. Ini nih, tren penyakit abad 21. Saat makanan alami sudah sulit ditemukan, saat manusia semakin malas gerak (karena gadget dan alat transportasi), saat pepohonan berkurang dan udara bersih semakin mahal. Menurut data dari Kementerian Kesehatan, pada tahun 2007 sebanyak 59% kematian disebabkan oleh penyakit non-infeksi ini, seperti kanker, penyakit jantung, stroke, diabetes. Sounds familiar huh?

Aku akan membahas satu faktor yang paling dekat dengan kita, dan paling sulit kita kontrol: makan. Betapa makanan sehat nan alami sudah semakin sulit ditemukan. Kalaupun ada, gaya hidup orang zaman sekarang lebih suka makanan nggak sehat. Resto-resto junkfood seperti KFC, Sevel, J.Co, dan makanan nggak sehat seperti kripik super pedes yang penuh micin, cheese-rainbow-cup cakes yang penuh lemak dan kalori itu lebih digemari daripada resto Sunda dengan lalapan dan karedoknya.

Junkfood favorit anak muda jaman sekarang


Jujur aja, belakangan ini aku bingung mau makan apa. Mau dapet protein hewani dari daging, hampir semua hewan pedaging sudah diberi makanan sintetis dan suntikan hormon. Mau makan makanan olahan, pasti tercampur zat adiktif seperti pengawet, pewarna, dll. Mau makan sayur dan buah pun, hampir semuanya tumbuh dengan pupuk kimia dan semprotan pestisida. Bahkan aku pernah sampai parno sama makanan. Jadi harus makan apa sayaaa selain belimbing depan rumaaahhh T__T

Aku sampai nanya ke dokter, jadi saya harus makan apa dok?

Dr Sofia Wardhani, MKK namanya. “Kalau kita kembali lagi ke cara makan yang dicontohkan Rasulullah SAW, insya Allah kita akan sehat. Terutama soal pola makan,” jawabannya bikin nyess banget. Tersindir berapa hadits Rasul yang aku abaikan.

Pertama, ingat Rasulullah pernah bilang Makanlah saat kamu lapar, dan berhentilah sebelum kamu kenyang. Menurut dr. Sofia, cara makan Rasul ini sesuai dengan apa yang diajarkan ilmu kedokteran modern, yaitu makan yang proporsional, ada takarannya. “Jangan makan sebelum kamu merasa lapar, artinya jangan terlalu banyak ngemil! Makanlah di waktu-waktu yang sudah ditentukan. Lalu seberapa sih idealnya porsi makan kita? Dua sendok nasi, sepotong lauk, dan sayuran yang banyak. Dengan porsi itu, kita akan berhenti sebelum kita kenyang,” dr. Sofia menjelaskan.

Porsi makan

Kedua, ingat betapa Rasul bahkan telah mengajarkan kita mengunyah makanan sampai 30-50 kali. Mengunyah makanan berarti kita tidak terburu-buru makan, sambil menikmati apa yang Allah berikan. Semakin halus makanan dikunyah, kerja lambung dan usus kita akan semakin ringan.

Ketiga, istirahatkanlah pencernaan kita dengan berpuasa. Sabda Rasul, Perut adalah sumber penyakit, dan berpuasa adalah obatnya. Kalau dipikir-pikir, betapa berat kerja pencernaan kita. Seolah tidak ada istirahatnya setiap waktu. Apalagi kalau kamu termasuk yang doyan ngemil pedes-pedes asem, pasti kamu nggak pernah mikirin betapa beratnya organ pencernaan bekerja. Berpuasa, berarti memberikan jeda sejenak untuk pencernaan kita. Tanya deh sama dokter mana pun, nggak bakal ada yang melarang berpuasa. Malah menganjurkan. Karena Allah tidak pernah memerintahkan segala sesuatu dengan sia-sia.

Berpuasa juga bisa menekan hawa nafsu. Kekenyangan itu tidak baik. Kita bisa ngantuk, sakit perut, males ngapa-ngapain, dan berperut buncit. Para biksu Buddha sudah lama mempraktekkan itu. Mereka makan seperlunya, menghindari segala protein hewani. Alasannya? Untuk menekan nafsu dan sifat kebinatangan yang ada dalam dirinya. Nafsu kebinatangan itu ya lapar, amarah, birahi, dan sebagainya. Rasul juga pernah bersabda, jangan jadikan perutmu sebagai kuburan binatang.

Ingat lagi nih yang keempat kata Rasul, Perutmu itu sepertiganya untuk makan, sepertiganya untuk minum, dan sepertiganya untuk udara. Jangan kebanyakan makan daging, dan jangan kekenyangan.

 
!!!!!!!

Keempat, ingat bagaimana Rasul telah mencontohkan kita untuk mengonsumsi madu yang dicampur air hangat pagi hari sebelum sarapan. Madu mengandung vitamin C yang sangat baik bagi daya tahan tubuh. Minum madu hangat setiap pagi, itu berarti kau membersihkan pencernaanmu. Bahkan kalau jerawatan pun, olesin saja madu. Ia mengandung anti bakteri alami yang bisa membersihkan wajahmu. Madu adalah obat untuk segala penyakit.

Subhanallah. Betapa Islam sangat detail memberikan kita tuntunan di semua aspek kehidupan, sampai masalah makan. Dan semua perintah Allah dan akhlak Rasul itu tidak ada yang bertentangan dengan ilmu kedokteran modern. Subhanallah.

Jadi, ingat ya semua anjuran Rasul ini! Thanks to dr. Sofia Wardhani MKK yang telah memberikan aku pencerahan. Semoga Allah meridhoi semua energi positif yang Anda bagi ke aku :)

Semakin penuh restoran, semakin penuh pula rumah sakit. Dan semakin besar lingkar perut Anda, semakin pendek usia Anda lho... Yuk, benahi pola makan kita sekarang, kembali ke alam, dan kembali pada apa yang diajarkan Rasulullah SAW.