Kamis, 11 Juli 2013

Wied Harry Apriadji: Puasa itu Mengikuti Kesederhanaan Nabi



Beberapa waktu yang lalu, aku mewawancarai pakar gizi dan makanan sehat, Wied Harry Apriadji. Ia dulu membawakan acara Harmoni Alam di Trans TV. Aku menyerap banyak ilmu dan kearifan dari beliau, tentang bagaimana menghargai tubuh kita, dengan tidak memasukkan sembarang makanan ke perut. Pak Wied ini termasuk orang yang menjalankan diet food combining, ia juga cenderung vegetarian dan cenderung raw foodist.

Beliau ini orang Katolik, namun pada saat kami bertemu, ia sedang puasa. Memang sih, Pak Wied berpuasa untuk detoks tetapi sebagai orang Muslim aku malu juga betapa ia sangat menghargai kearifan yang dicontohkan Nabi Muhammad tentang makanan, sementara aku sendiri masih suka bandel tidak menghiraukan. Menyambut puasa Ramadan, ada baiknya juga menyimak sedikit petikan wawancara kami.

Anda menjalankan diet food combining, yang cenderung memilah makanan berdasarkan pola dan waktu kerja sistem pencernaan. Mengapa?
Tuhan sudah menciptakan kita begitu sempurna, termasuk sistem pencernaan kita yang bekerja sedemikian rumitnya. Tetapi jangan mentang-mentang sempurna, lalu kita sembarangan memasukkan makanan ke dalam perut. Kalau kita mau bersyukur atas pemberian Tuhan, sudah semestinya kita jaga. Dengan food combining, kita berusaha memahami cara kerja sistem pencernaan, lalu kita selaraskan dengan makanan agar pembakaran itu efisien dan penyerapan nutrisi juga maksimal.

Pola makan kebanyakan orang saat ini makan pagi, siang, dan malam dengan kombinasi yang sama; pakai nasi, protein hewani seperempat piring, dan sayur hanya sebagai hiasan. Setelah pensiun masuk rumah sakit kena asam urat, diabetes, dll itu dianggap wajar. Padahal, tidak juga. Tubuh manusia yang sehat bisa sampai usia 100 tahun. Orang-orang dulu, meninggalnya memang karena sudah tua, bukan karena sakit. Tetapi orang zaman sekarang usia 40-an saja keluhannya sudah macam-macam, keluar masuk RS.

Pola makan yang baik itu seperti apa?
Tidak perlu terlalu kaku. Pagi-pagi, sarapan yang paling tepat adalah buah-buahan karena seratnya mudah dicerna, gulanya juga mudah diserap. Boleh makan nasi juga, yang penting porsi sayurannya minimal setengah piring. Dan kalau bisa, sayuran mentah. Pada buah dan sayuran mentah terdapat enzim, yang sangat penting untuk tubuh. Enzim ini, seperti juga vitamin, bisa rusak jika dimasak.

Siang, baru makan padat, karena saat itu pencernaan kita sedang aktif bekerja. Tetapi ingat porsi dan kombinasi, jangan terlalu banyak. Malam juga boleh makan tetapi kalau di atas jam 8 lebih baik makan yang ringan-ringan saja, seperti minum jus, agar kerja pencernaan tidak terlalu berat dan proses penyerapan nutrisi di malam hari berjalan maksimal. Selain itu, jangan lupa untuk melakukan detoksifikasi.


Seperti yang sedang Anda lakukan ya?
Ya, betul. Saat ini saya sedang menjalankan puasa 24 jam, selama 40 hari berturut-turut. Ini saya lakukan untuk detoksifikasi.

Seperti apa puasa Anda, samakah dengan puasanya orang Muslim?
Tidak, saya tidak sahur. Saya hanya makan sekali, yaitu saat maghrib. Saya memperlakukan diri saya sebagaimana saat Ramadan. Saat buka saya minum air kelapa, lalu buah, selanjutnya saya berhenti sejenak seolah-olah saya pergunakan untuk shalat. Jadi sekitar 5-10 menit sampai makanan itu turun dulu. Lalu saya lanjutkan makan dengan menu vegetarian. Sebelum tidur biasanya saya minum jus buah.

Ramadan nanti biasanya saya akan diundang untuk mengisi talkshow tentang sehat saat puasa. Jadi ketika saya memberikan saran, orang nggak bisa bilang, “Ah Pak Wied sih enak non-muslim, nggak puasa,” Lho saya puasa juga. Ibu puasanya cuma 30 hari, saya 40 hari. Ibu puasanya 14 jam, saya 24 jam. Sambil puasa saya masih menulis, masih berkebun, mengisi talkshow, bahkan fitness.

Sebenarnya puasa dalam Islam itu bisa untuk detoks juga?
Oh tentu, jika dilakukan dengan niat dan cara yang betul.

Bagaimana tips puasa yang betul?
Yang utama, tidak berbuka puasa dengan yang manis gula. Kolak, sirup, teh manis, tidak. Ketika perut kita kosong seharian, langsung dimasukkan gula itu akan memicu lonjakan kadar gula dan kolesterol dalam darah.

Nabi Muhammad mencontohkan berbuka dengan air putih dan 3 butir kurma. Lalu orang ada yang bilang, yah Pak Wied, pada zaman Nabi itu kan nggak ada es campur, es doger dsb. Eh saya sebagai non muslim tersinggung lho Anda bilang begitu. Itu namanya kearifan. Nabi kan juga punya kurma. Nah, kurma itu kalo dibiarkan lama-lama keluar madunya. Kenapa Nabi mencontohkan makan buah kurma, bukan minum madunya kurma yang manis?

Saya belajar biokimia, lalu saya tahu hikmahnya bahwa di dalam kurma itu ada kandungan serat betadeglukan yang bisa membantu mengendalikan kenaikan kadar gula darah. Betadeglukan hanya ada di buah kurma, bukan madu ataupun sari kurma. Jadi manis alami dan betadeglukan dari kurma itu tidak langsung membuat kadar gula darah kita melonjak drastis.

Kalau tidak ada kurma, ya makan buah atau air kelapa muda yang kaya elektrolit dan gula alami. Saya selalu minum air kelapa muda untuk berbuka puasa. Tidak perlu ditambah sirup, es, buat apa? Alami saja sudah enak. Yang dingin, manis, segar, itu kan keinginan kita, bukan tubuh kita. Kita kan puasa untuk belajar mengendalikan hawa nafsu. Jangan puasa saja, spiritnya nggak ikut naik.

Banyak ibu-ibu mengeluh, saat Ramadan budget belanjanya bisa 2-3 kali lipat dari bulan biasa. Kenapa ya, bukankah mestinya jatah makan kita berkurang? Harusnya kita bisa menghemat sampai 40% saat Romadon, untuk kemudian kita alihkan ke amal sedekah. Ya kalau malah membengkak, itu aneh dan salah. Kemarin saya mengisi talkshow di Aceh, di sana Ramadan itu disambut sangat meriah. Sampai-sampai ada anggapan, bekerja 11 bulan, habiskan dalam 1 bulan, maksudnya Ramadan. Setuju, tetapi jangan habiskan untuk makanan. Orang Aceh itu, kalau makan harus ada santan, daging, kepiting, pedas pula, apalagi menjelang berbuka, makanan apa saja ada. Nah itu, apa iya mesti diikuti semua?

Bagaimana kalau hasil kerja 11 bulan itu dihabiskan untuk amal di bulan Ramadan? Detoks iya, ibadah juga iya. Nah sekarang antara kultur, hidup sehat, dan anjuran Nabi, kenapa kita tidak bisa berkompromi?

Kalau saat sahur bagaimana?
Karena puasa saya adalah puasa 24 jam, saya tidak sahur. Tetapi istri saya, kalau Ramadan puasanya malah full. Itulah saat yang tepat buat dia detoks, karena ibu-ibu tetangga tidak mingin-mingini dia, haha.. Sahur juga bangun dia, pagi-pagi saya sering lihat bekas kupasan mangga atau apel. Memang saat puasa, paling baik itu energinya dari manis alami buah-buahan. Suka ada yang protes, sahurnya buah doang Pak? Yah... laper dong Pak?

Lho... kalau ndak mau laper ya ndak usah puasa tho. Bukankah justru itulah esensi puasa, agar kita bisa menghayati rasa lapar saudara-saudara kita yang miskin, supaya penghematan belanja yang 40% itu bisa kita alihkan untuk beramal membantu mereka. Ya kan?

Keluar dari comfort zone itu susah. Membiasakan makan sederhana itu memang nggak gampang, tetapi justru itulah kita berpuasa, supaya bisa menahan makan makanan yang berlebihan buat tubuh kita. Jangan sampai budget bengkak hanya untuk menu berbuka atau sahur, karena puasa itu intinya adalah mengikuti kesederhanaan Nabi.

Dalam Islam dikenal konsep makanan itu harus halal dan thoyyib. Sebenarnya sejauh apa pengaruh makanan bagi diri kita? Tidak hanya untuk kesehatan fisik, tetapi juga dalam hal kestabilan mood dan emosi, kecerdasan, dsb.
Ohya, sangat berpengaruh! Apa yang kita makan sehari-hari bisa sangat berpengaruh pada emosi dan temperamen. Kita bisa lihat bahwa suku-suku yang kebiasaannya memakan banyak daging, mereka cenderung lebih temperamental. Ada penjelasannya. Sebelum disembelih, binatang itu stress dan tertekan. Ketika stress, kadar hormon kortisol atau hormon stres mereka meningkat drastis, dalam darah dan daging. Lalu jika daging hewan tersebut kita makan, kita akan lebih mudah stress.

Sebaliknya, para pelaku spiritual tertentu yang tidak makan daging, atau orang-orang di daerah tertentu yang gemar mengonsumsi sayuran mentah, itu lebih halus tutur bicaranya. Orang yang tinggal pegunungan, lebih dekat dengan makanan asli, mereka lebih mudah diajak kerja sama.

Kemarin saya baca buku Sufi Healing. Di situ tertulis, Nabi Muhammad SAW pernah berkata makanan terbaik bagi kita adalah yang dipanen atau dibawa tidak lebih dari satu malam perjalanan unta. Tidak disebutkan untanya berlari atau berjalan. Misalnya kita di Jakarta, merujuk pada sabda Nabi itu kalau dikira-kira jarak yang bisa ditempuh unta dalam satu malam, berarti makanan terbaik buat kita adalah dikirim paling jauh dari Tasikmalaya ya, oh atau Banten. Fresh food. local food. 
Lha coba  makanan kita sekarang, susu didatangkan dari New Zealand, pisang dari Afrika, jeruk dari Cina, daging dikalengkan dari Amerika. Kita sudah tidak tahu lagi dari mana ia berasal dan bagaimana ia diproses. Itu bukan makanan terbaik. 
Selain itu, makanan terbaik buat kita adalah yang paling mendekati bentuk aslinya. Orang dulu kan cemilannya singkong-pisang kukus, ubi rebus, kacang rebus, atau potongan buah-buahan biasa. Ya memang makanan-makanan seperti itulah yang aman untuk metabolisme kita. Anak zaman sekarang susah sekali makan sayur, sukanya nugget, sarden, keik, biskuit. Orang tuanya juga lebih suka memberikan mereka minuman vitamin yang manis-manis, suplemen ini-itu, vitamin tambahan dalam kapsul, dll. 
Pendek kata, you are what you eat, betul Pak?
Saya tambahkan, bukan hanya what, tetapi juga how you eat. Orang sekarang kalau makan jarang mengunyah. Semakin lembut sepotong brownies, semakin disukai. Kalau yang berserat seperti apel malas makannya. Atau kalau makan cepat-cepat, satu-dua kunyahan langsung ditelan.

Padahal Tuhan menciptakan organ cerna kita mulai dari mulut, bukan dari perut. Proses mengunyah menghasilkan banyak ludah, dan mengaktifkan kelenjar anti stress di otak kita. Kenapa orang jaman sekarang mudah emosi, karena mereka makannya cepat-cepat, tidak dikunyah. Kadang sambil jalan. Padahal Nabi Muhammad sudah menganjurkan untuk mengunyah makanan sampai 44 kali sebelum ditelan.

Kita tidak pernah dilarang untuk bisa makan kenyang dan enak, yang penting adalah tidak kekenyangan. Bukankah Nabi dulu mengatakan, “berhentilah makan sebelum kenyang” dan “Perutmu itu sepertiganya untuk makanan, sepertiga untuk minum, dan sepertiganya untuk udara,”Artinya kalau makan jangan sampai kekenyangan.

Coba lihat kepalan tangan kita, lambung kita besarnya hanya segini lho. Bayangkan kalau pagi-pagi kita masukkan lontong, nasi sepiring, ayam satu potong, sup semangkok. Lambung dan usus memang bisa melar hingga 12 kali dari ukuran asli, tetapi ya tidak ada lagi sepertiga perut itu. Yang ada malah kita jadi buncit.

Sebenarnya kebanyakan kita sudah tahu lho makanan-makanan apa saja yang dapat mendzalimi tubuh kita. Tetapi kita seringkali nggak menghiraukan. Kita harus pahami bahwa Tuhan menciptakan tubuh kita demikian sempurna. Jadi harus kita ikuti kearifan itu, dan bersyukur dengan cara menjaganya.

***