Sabtu, 13 Februari 2016

Menyusui Pasca Operasi Payudara

Ada benjolan di payudara kiriku. Kukira awalnya hanya grenjel2 ASI, tapi kok tidak hilang2 sampai Ali usia 7 bulan. Aku sering sekali demam, kalau sudah begitu kulit di atas benjolan tersebut memerah dan panas, bengkak sakit sekali. Tapi kalau dipompa pun ASI keluarnya tidak selancar yang kanan. Kayaknya benjolan itu menyumbat saluran ASI-ku.

Kata dokter, kemungkinan mastitis (radang payudara). Penyebabnya adalah bakteri yang masuk melalui luka di puting yang lecet. Memang sih waktu awal2 menyusui putingku sempat lecet. Aku pun diberikan antibiotik untuk mengobati radang ini.

Sebulan setelah obat habis, demam dan bengkak kembali berulang. Bahkan sering cekit-cekit sampai ke ketiak.

Aku disarankan menemui dokter bedah. Aku sengaja mendatangi dokter bedah perempuan, selain lebih nyaman, aku juga berharap mereka memahami proses menyusui yang sedang aku jalani. Aku pun datang menemui dokter pertama di RS Hermina Tangerang. Asumsiku, biar dekat dengan ibu karena pasca operasi aku pasti akan sangat membutuhkan bantuannya untuk mengasuh Ali.

Singkat cerita, dokter tsb menyarankan untuk segera mengangkat benjolan ini. Supaya lebih jelas ini benjolan apa, bahaya atau tidak, karena hasil biopsinya nanti segera dikirim ke lab.

"Tapi ibu harus berhenti menyusui. Kami baru bisa operasi setelah payudara ibu sudah bener2 kering."

JEDERRRR.

"Maksudnya dok..?"

"Ibu harus berhenti menyusui, saya sarankan secepatnya, supaya payudaranya benar2 kering baru kita angkat benjolannya."

"Tapi dok, bayi saya baru 8 bulan..."

Langsung ngembeng membayangkan menyapih Ali, hiks... Tau kan, menyusui itu momen bonding yang sangat romantis buat ibu dan bayi. Temenku aja anaknya udh umur 3 tahun nyapih masih pake drama nangis2 pelukan berdua... Apalagi aku, baru 8 bulan. Lagi mesra2nya...

"Karena kalau ASI masih berproduksi, lukanya nggak kering2 nanti. Rawan infeksi."

"Maksudnya dua2nya saya harus berhenti menyusui? Kanan dan kiri walau yang akan dioperasi yang kiri?" Aku masih nggak terima.

"Kalau yang kanan masih disusuin terus, dia akan tetap memicu produksi ASI di payudara kiri. Jadi kedua payudara harus kering dulu, ibu sapih bayinya, baru setelah itu kita tindakan. Bisa aja sih kalau ibu mau secepatnya, tapi ya ibu tanda tangan surat pernyataan bahwa ini kemauan ibu, dan kita nggak tanggung risikonya."

Asli, dokter itu ngga enak banget ngomongnya.

Aku pun mencari opini lain. Dan baru di dokter ketiga aku bisa bernafas lega. Aku mendatangi dr. Tiur Herlina Sp.B di RS Evasari, yang ngomongnya enak banget, informatif tapi tetap menenangkan.

"Ah enggak, nggak harus berhenti menyusui kok. Mungkin yang kiri memang nggak bisa disusui sementara waktu pasca operasi, tapi setelah pulih, boleh2 aja lanjutkan menyusui. Lagipula kan masih ada yang kanan. Si adek udah makan kan? Insya Alloh cukup."

Fffiuuuuuhhh...

Akhirnya aku menjalani operasi Jumat pukul 2 siang. Sebenernya salah satu faktor kenapa gue takut banget operasi adalah karena dulu pernah nonton film "Awake" yang diperankan sama Hayden Christensen dan Jessica Alba. Parno banget sama pembiusan. Gimana coba kalau ternyata biusnya nggak mempan di gue tapi gue gabisa buka mata?

Tapi kenyataannya, setelah masuk ruang operasi, dua kali menghirup udara dari masker aja aku udah teler ngga inget apa2 sampe baru sadar jam 5. Gak inget apa2, gak ngerasain apa2, gak mimpi apa2. Hahahaha pules buuuu...

Kata Abang yang ketemu dokter Tiur pasca operasi, ternyata di dalam benjolan itu isinya nanah. Ada radang yang menyebabkan saluran ASI tersumbat sehingga menggumpal dan lama2 jadi infeksi. Makanya aku demam terus. Jadi benjolan itu isinya ya ASI dan nanah. Abses payudara yg disebabkan mastitis kronis.

Kok bisa begitu? Kurang tahu juga, karena selama ini aku selalu menyusui bayiku langsung, kapanpun dia minta. Nyusuinnya juga gantian, kanan dan kiri. Kalau ada yang grenjel2, aku kompres. Pelekatan dan pengosongan juga kayaknya ga ada masalah. Lalu kenapa? Ya entahlah, mungkin ujian aja, haha.

Malam itu, aku menginap di RS sementara Ali sama ibu di kontrakan. Payudara bengkak, ASI merembes dari kanan dan kiri membasahi baju dan sprei. Huhuhu... Bagaimana kabar Ali di rumah? Jelas ngga bisa tidur, nyariin "neh" sama "mamam"

Akhirnya setelah urusan administrasi selesai, keesokan harinya aku pulang. Ya Allah baru semalem aja rasanya kangen banget sama Ali! Dia lagi tidur, aku boboan di sampingnya eh dia langsung melek dan menggapai2 minta nen. Huaaa kangennn... Yang kanan aja ya sayang...

Adapun yang kiri, kupompa karena gak tahan bengkak, eh malah keluar darah T__T kata dokter, itu luka yang di dalamnya. Dia tidak menyarankan untuk disusui dulu yg kiri. Ya iyalah dok, horor banget Ali mimik ASI campur darah, huhu...

Seminggu pasca operasi, payudara kiriku udah mulai kempes karena nggak pernah disusui. Tapi kalau dipompa masih keluar ASI, tapi terakhir masih ada darahnya, horor ah. Yasudah aku nyusuin pake yg kanan aja.

Eeehh ternyata bertepatan dengan momentum Ali tumbuh gigi pertamanya. Agak anget n rewel semalaman, sulit tidur dan maunya nen mulu, puting dikunyah2 dipake buat garuk gusinya yang entah ngilu atau gatal! Aaaakkk drama banget deh. Dia nangis gue nangis. Udah mah cuma satu, gak bisa ganti2an kanan-kiri kan nyusuinnya.

Gigi nongol, puting melepuh. Terus kuolesin EVOO. Besoknya, dia jadi kayak koreng gitu, mau terkelupas kulitnya. Aku mo ngopekin ngeri. Eh setelah dinenin ilang tuh kulit, hahaha ketelen ama anak gue. Yah gimana lagi.

Hari ini, genap sebulan pasca operasi. Udah cabut jahitan dan udah bisa nyusuin lagi seperti biasa. Kirain udah kering ya setelah 3 minggu gak kususui. Eh taunya masih produksi, hehe.

Awalnya, kupompa dulu untuk memastikan tidak lagi keluar darah. ASI yang keluar pekat sekali, kental putih kekuningan. Mungkin bener ya, kayak susu basi. Tapi sebenarnya itu adalah lemak ASI yang menumpuk setelah 3 minggu gak disusui.

Pertama nyusuin, periiihh aduh mamah. Dari luka jahitannya rembes ASI donkk omaygat ������ aku takut kan, takutnya nanah. Aku kontrol ke dokter, sama dokter dilihat n diambil cairan rembes tsb pake spuit besar. Corrrrr... Ngocor encer berwarna putih kekuningan. "Ini apa?" tanya dokternya. Kayaknya sih ASI dok. "Yup betul. Jangan khawatir ya. Gakpapa, lanjutkan menyusui." Alhamdulillaaaaah...

Awalnya, seteguk dua teguk Ali sempat menolak. Kata dokter, mungkin rasanya agak asin karena tumpukan lemak tadi. Kalau dia menolak, ya aku berikan yang kanan lagi. Pelan2, nggak langsung bisa nyusuin lama. Karena sakit. Bertahap ngasihnya mulai dari sehari sekali, lalu sehari dua kali, dst.

Intinya, periksalah payudara sendiri dan sadari jika ada perubahan. Benjolan di payudara bisa banyak kemungkinan, jangan panik. Apalagi perempuan yang sedang masa hamil dan menyusui, hormonnya sedang labil. Segera periksa ke dokter. Dan jangan ragu untuk mencari opini kedua, ketiga, apabila tidak puas dengan dokter yang pertama. Karena ternyata, kita masih bisa menyusui pasca operasi payudara! Semangat ngASI!