Rabu, 31 Desember 2008

Kaleidoskop Indonesia 2008

Tahun 2008 adalah tahun hitam putih bagi Indonesia. Banyak sekali peristiwa yang menyakitkan, keadaan yang menyulitkan, dan kebijakan yang sarat kepentingan. Namun tak jarang pula kita dihembus segarnya angin demokrasi dan keadilan. Semua datang bertubi-tubi, hingga kita, rakyat Indonesia menjadi kebas, mati rasa. Tak tahu kapan harus bergembira, kapan harus menangis. Sebab terkadang bahagia dan nestapa datang pada saat yang sama. Bingung mana yang harus diraba.

Contohnya, pada awal 2008 mantan presiden Soeharto meninggal dunia. Sebagian merasa sedih, kehilangan sosok yang dijuluki The Smiling General itu. Mereka berbondong-bondong mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir karena teringat jasa Pak Harto selama 30 tahun memerintah. Namun sebagian lagi ‘memampus-mampusi’ kematian Bapak Pembangunan itu. “Apa yang telah ia lakukan selama 30 tahun itu yang menyebabkan terpuruknya kita saat ini!” teriak mereka di media-media massa.

Kelompok yang pertama merelakan kasus korupsi besar-besaran Pak Harto ditutup, tak usahlah diteruskan, toh orangnya pun sudah meninggal. Kelompok kedua berteriak lebih keras lagi, menuntut diteruskannya persidangan kasus Soeharto, mengingat banyaknya uang negara yang sudah ia kantongi dan wariskan ke kroninya. Mereka menentang Soeharto dijadikan pahlawan nasional, mengingat tindakannya yang tak bisa dimaafkan. Kematian Soeharto, rakyat Indonesia bingung, haruskah berduka? Atau bolehkah tertawa?

Politik juga semakin membuat rakyat bingung. Pemerintahan SBY-JK tahun ini layaknya menjahit selembar kain yang sudah sangat usang. Berupaya menjahit salah satu bagian yang robek, tapi justru menyobek bagian lainnya. Satu masalah diatasi, malah muncul sepuluh masalah baru. Seperti halnya saat pemerintah memutuskan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Sekonyong-konyong rakyat kalang kabut. Ibu-ibu cemberut, pengendara mobil dan motor carut-marut, nelayan pun tak bisa melaut. Akhirnya pemerintah memberikan bantuan langsung tunai (BLT) yang bertujuan meringankan beban rakyat.

Bantuan jangka pendek ini mendapatkan banyak tentangan. Ada yang mengatakan bantuan ini tidak mendidik lah, membangun mental miskin lah, berpotensi konflik lah. Masalah ini terus saja diperdebatkan di kalangan atas, sementara rakyat sudah megap-megap kehabisan uang. Saat BLT cair, justru menimbulkan banyak konflik, bahkan korupsi. Pendataan tak akurat, warga ada yang dapat dua kali, ada juga yang tak dapat sama sekali. Akibatnya, kepala desa dipukuli sampai hampir mati. Miris sekali. Sudah untung kalau kepala desanya jujur dan amanah. Ada pula kepala desa yang mencari kesempatan dalam kesempitan. Diam-diam menggerogoti dana BLT, rakus seperti tikus. Padahal di luar kantornya ribuan rakyat miskin telah menunggu berjam-jam, dengan anak-anak mereka yang menangis kelaparan.

Ada lagi konversi minyak tanah ke gas yang katanya bertujuan untuk memudahkan masyarakat. Di sana-sini gencar disuarakan, gas lebih murah! Gas lebih aman! Bahkan sampai diiklankan di televisi dan radio. Masyarakat miskin yang masih menggunakan kompor minyak tanah karena takut menyalakan kompor gas dipaksa cepat-cepat beralih. Minyak tanah ditarik dari pasaran, namun tiba-tiba gas melambung harganya, bahkan hingga 100.000 rupiah per tabungnya. Terus mau masak pakai apa? Lagi, rakyat bingung setengah mati.

Persoalan BBM ini memang tak ada habisnya di tahun 2008, dan mahasiswa menjadi kelompok yang paling lantang menyuarakannya demi kesejahteraan rakyat. Di pertengahan tahun, mereka yang tak henti berdemonstrasi menolak kenaikan harga BBM. Di akhir tahun, saat harga minyak dunia turun dua kali lipat, mereka pun kembali meminta pemerintah menurunkan harga BBM seperti yang dilakukan negara-negara lain. Sampai lucu, saya pernah mendengar seorang bapak berkata, “Mahasiswa itu maunya apa, ya? BBM naik, ribut. BBM turun, ribut lagi.”

Para mahasiswa yang giat membela kepentingan rakyat itu terkadang aksinya dinodai segelintir rekan mereka yang tak bertanggung jawab. Mereka melakukan demonstrasi yang diwarnai aksi anarkis dan hal-hal yang tidak berguna. Misalnya, saat mereka menghabiskan berliter-liter bensin untuk berkonvoi, sementara di pelosok daerah orang harus mengantri berjam-jam untuk mendapatkan bensin. Atau saat mereka membakar ban serta mobil berplat merah sembari bernyanyi-nyanyi di tengah jalan, sementara di kampung-kampung orang harus mengais-ngais jerigen bekas untuk mendapatkan setetes minyak tanah. Ironis memang.

Kenaikan BBM ini tak pelak turut menyumbangkan andil bagi meningkatnya jumlah penduduk miskin di Indonesia. Meskipun Partai Demokrat mengklaim keberhasilan pemerintahan SBY dengan memperlihatkan penurunan angka kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi sebesar 6%, faktanya tidaklah demikian. Ketika harga BBM dinaikkan, harga barang-barang kebutuhan pokok meningkat, usaha kecil menengah terpaksa gulung tikar, pabrik-pabrik besar mem-PHK ribuan karyawannya. Hasilnya, angka pengangguran bertambah.

Realita kemiskinan itu tidak dapat ditutup-tutupi lagi. Apalagi jika kita melihat tragedi zakat Pasuruan yang menelan 11 korban jiwa. Ribuan orang berbondong-bondong datang, rela berdesak-desakan, bahkan mempertaruhkan nyawa hanya demi dua puluh ribu rupiah. Bahkan setelah kejadian memilukan itu, rakyat tak juga jera. Buktinya, baru kemarin saat pembagian bingkisan Natal di Solo dan Medan, orang kembali berdesak-desakan dan nyaris ricuh untuk mendapatkan bingkisan yang tak seberapa nilainya, bila dibandingkan dengan nyawa mereka. Pemerintah tak seharusnya menutup mata atas kenyataan tersebut.

Menyambut Pemilu 2009, semakin banyak lagi perdebatan yang timbul. Hal-hal seperti dicoblos atau dicontreng, menggunakan pulpen atau pensil, terpilih bedasarkan nomor urut atau suara terbanyak, caleg perempuan atau laki-laki, tak habis-habisnya dibicarakan. Partai yang muncul pun semakin banyak, ada 38 partai. Para kader partai besar masing-masing menyatakan siap maju menjadi capres, sementara partai kecil masih sibuk mencari anggota.

Peliknya permasalahan Pemilu 2009 ini mendorong rakyat untuk bersikap apatis. Agaknya rakyat sudah tak mau tahu lagi siapapun yang jadi pemimpin. Mau orang lama, orang baru, artis, terserah lah. Mereka sudah kenyang dengan janji-janji yang tak kunjung terlaksana. Kalau janji-janji pejabat itu makanan, mungkin rakyat kita sudah gendut sekarang. “Golput aja lah. Pusing.” Begitu kata mereka. Namun tiba-tiba ada fatwa MUI yang menyatakan bahwa golput itu haram hukumnya. Rakyat semakin bingung. Mereka sudah memilih untuk tidak menggunakan hak pilih, lha kok malah dipaksa ‘memilih’ lagi? Jadi sebenarnya yang tidak demokratis itu siapa, ya? Demokrasi memang mahal, tapi itulah tanda kebebasan manusia Indonesia.

Selain isu-isu di atas, yang juga menonjol di tahun 2008 ini di antaranya adalah:
1. Eksekusi hukuman mati terhadap pelaku Bom Bali, yaitu Amrozi, Imam Samudera, dan Muklas yang menunjukkan bentuk perlawanan Indonesia terhadap terorisme
2. Kasus korupsi yang semakin banyak diungkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
3. Kriminal: meningkatnya kasus mutilasi dan bunuh diri
4. Kian maraknya kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur
5. Maraknya pornografi dan pornoaksi mendorong pemerintah untuk mengesahkan UU Pornografi, meskipun sempat diwarnai pro dan kontra
6. Bertambahnya jumlah pengidap HIV/AIDS, khususnya di kota-kota besar
7. Resesi ekonomi akibat terpaan krisis finansial global
8. Angka pengangguran dan kemiskinan yang terus bertambah, akibat krisis ekonomi

Begitulah refleksi keadaan bangsa Indonesia selama tahun 2008. Masih jauh dari kesejahteraan, masih jauh dari kemerdekaan. Tahun 2009 adalah harapan baru bagi rakyat. Terlebih ada momen pemilihan umum bulan April nanti, saat rakyat berkesempatan memilih wakil-wakil mereka. Walaupun mungkin cahaya terang itu masih jauh, kita harus percaya, bahwa suatu saat kita pasti bisa bangkit dari keterpurukan dan menjadi bangsa yang besar. Masa itu pasti ada, Tuhan dengar harapan kita.

Kamis, 25 Desember 2008

Jurnalistik, Sebuah Pilihan


Saya suka menulis. Dengan menulis, saya merasa bisa semakin mengenal diri saya, punya waktu untuk berbicara dengan diri saya sendiri. Kadang lewat menulis saya menemukan sesuatu yang sebelumnya jauh terkubur dalam benak saya. Maka saya sengaja memilih jurusan jurnalistik. Bila ditanya mengapa, sejujurnya saya tak punya jawaban yang tepat selain hanya karena mengikuti kata hati (Menurut saya itulah jawaban paling tepat. Adakah alasan lain?)

Bukan semata karena saya ingin jadi wartawan. Wartawan itu kan profesinya. Saya tertarik justru kepada nilai-nilai yang diajarkan dalam dunia jurnalistik. Kedisiplinan, keberanian, kesetaraan, kepedulian, keingintahuan yang besar, dan banyak lagi. Ya, nilai-nilai dalam jurnalistiklah yang sesungguhnya menarik saya ke dalam jurusan ini (baru kali ini saya bisa merumuskannya dalam kata-kata). Saat itu, saya memberikan pilihan sepenuhnya kepada diri saya sendiri. Orang tua juga membebaskan saya, tapi harus bertanggung jawab. ”Kamu kan sudah dewasa, sudah tahu apa yang akan kamu pilih jadi jalan hidupmu. Semuanya kamu yang menjalani, bukan bapak-ibu, jadi silakan saja. Bapak-ibu percaya kamu sudah tahu mana yang baik dan benar untuk dirimu sendiri,” Asyik ya? Tapi kepercayaan mereka yang begitu besarlah yang menjadi tanggung jawab saya.

Saya terus berusaha untuk mengenali bakat dan potensi diri sendiri, sampai akhirnya yakin bahwa kemampuan saya adalah di bidang bahasa dan tulis menulis. Saya juga ingin menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Saya ingin bisa membantu mencerdaskan bangsa. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi hati dan pikiran saya untuk memantapkan “jurusan jurnalistik”. Sudah, saya membulatkan tekad dan mencoba “tutup kuping” atas semua cemoohan yang saya dengar. Saya segera mencari informasi mengenai kampus dengan pendidikan jurnalistik terbaik di Indonesia. Dari sekian banyak sumber, saya menyimpulkan bahwa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran terkenal dengan Jurusan Publisistik (sekarang jurnalistik). Saya langsung berkata, ”Oke, this is it. Bismillahirrahmanirrahim”. Saya berusaha keras sampai akhirnya alhamdulillah bisa diterima tepat disini. Exactly what I want. Memang sih beberapa waktu yang lalu saya sempat ciut juga melihat para senior dengan segala kesibukannya sebagai calon jurnalis. Tapi saya bukan orang yang bisa dengan mudah mengubah haluan dan tujuan hidup saya. Saya sudah bertekad sejak saya kelas 2 SMU bahwa saya akan masuk Fikom Unpad Jurusan Jurnalistik, dan itu adalah cita-cita saya. Bismillahirrahmanirrahim. Allah Maha Tahu apa yang terbaik bagi setiap hamba-Nya.

Hingga hari ini, kurang lebih sudah dua bulan lamanya saya belajar di jurusan jurnalistik (Jurnal). Saya menikmatinya. Bahkan, saya merasa beruntung kuliah disini. Pertama, karena angkatan saya sedikit, hanya 55 orang. Saya merasa jadi lebih dekat dengan teman-teman. Kedua, bagi saya para dosen jurnalistik bukan sekedar mengajar, mereka juga mendidik kami semua. Mereka adalah orang-orang yang profesional di mata saya. Berwawasan luas, tegas, disiplin, tapi tetap asyik. Pertemuan pertama sudah langsung belajar, langsung diberikan tugas. Tidak ada korupsi waktu. Jika sudah waktunya masuk, ya masuk. Dan jika belum waktunya libur, ya masuk juga. Beberapa teman saya dari jurusan lain, pada minggu pertama masuk kuliah mengeluhkan kegiatan belajar-mengajar yang belum efektif. Tidak ada kabar pasti. Padahal mereka sudah siap masuk sejak seminggu yang lalu tapi kegiatan kuliah baru efektif mulai minggu depan. Sedangkan saya, alhamdulillah sudah dapat banyak ilmu selama seminggu. Jadi saya merasa, tidak sia-sia orang tua bayar SPP saya. Pak Dandi, seorang dosen Jurnal sendiri pernah mengatakan, jurusan jurnalistik ini berbeda dengan jurusan lainnya di Fikom. Kita punya nilai-nilai plus.

Dengan dosen-dosen yang kredibel, suasana belajar yang kondusif (karena jumlah orangnya juga sedikit), kedisiplinan, pelajaran dan tugas-tugas yang berkualitas, serta suasana yang akrab dengan teman-teman dan para dosen, bagaimana mungkin saya tidak bersyukur? Banyak senior yang bilang, “Ah sekarang aja kamu masih merasa enak, coba aja nanti kalau sudah mengalami ini dan itu, bla bla...” Saya cuma bisa berharap, semoga Allah terus mengingatkan saya untuk mensyukuri nikmat-Nya.

Ya memang, mungkin tak semua orang berpikiran seperti saya. Hidup ini adalah sebuah pilihan. Begitu juga masuk Jurnal. Memang banyak hal di Jurnal, yang kata orang nggak enak. Banyak tugas, kuliah melulu, dikejar deadline, lulusnya lama, dan sebagainya. Tapi banyak positifnya juga kan? Itulah pilihannya. Apakah kita melihat masalah sebagai hambatan atau sebagai tantangan? Saya teringat sebuah pesan singkat tapi bermakna yang dikirimkan kawan saya, Nurida. Mana yang akan kita pilih, bahagia dalam bentuk syukur atau berbahagia dalam bentuk ikhlas? Life’s that simple. Saya juga selalu teringat perkataan bijak guru saya, “Bila kau hanya menghitung kekurangan, tak akan tampak olehmu kelebihan. Dan bila kau selalu menghitung kelebihan, tak akan tampak olehmu kekurangan”.

Allah telah menjanjikan untuk hamba-hambaNya yang bersyukur, niscaya akan Ia tambah nikmat-Nya. Sedangkan untuk orang-orang yang kufur nikmat (tidak bersyukur), Ia mengingatkan mereka akan azab-Nya yang pedih (QS 14:7). Saya percaya janji Allah. Maka saya selalu mencoba untuk bersyukur dan bersyukur supaya saya jadi lebih tenang dan bahagia menjalani hidup. Bahasa kerennya, “Enjoy aja!” Selain itu, saya juga merasa, toh saya mengerjakan tugas-tugas ini kan untuk diri sendiri, untuk kemajuan dan kekayaan wawasan saya juga. Jadi selama tugas itu baik untuk saya, maka saya melihatnya sebagai hak saya untuk mendapatkan ilmu, hak saya untuk bisa maju dan berusaha menjadi yang terbaik.


Jatinangor, 25 Desember 2008

Selasa, 16 Desember 2008

Penulisan Berita Langsung dan Khas

Berita Langsung
Menurut AS Haris Sumadiria dalam bukunya Jurnalistik Indonesia, straight news adalah laporan langsung mengenai suatu peristiwa. Biasanya, berita jenis ini ditulis dengan unsur-unsur yang dimulai dari what, who, when, where, why, dan how (5W+1H). Sedangkan berita khas disebutnya sebagai feature story. Dalam feature, penulis mencari fakta untuk menarik perhatian pembacanya, sebagai menu penunjang media massa.

Berita langsung mengejar aktualitas dan kepentingan, sedangkan feature mementingkan segi menarik atau tidaknya suatu tulisan. Oleh karena itu, berita langsung harus menggunakan struktur piramida terbalik, di mana fakta-fakta disusun berdasarkan tingkat kepentingannya. Demikian pembahasan mengenai straight news dalam buku Jurnalistik Indonesia yang entah mengapa jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan pembahasan mengenai feature.

Asep Syamsul M. Romli dalam buku Jurnalistik Terapan mendefinisikan berita langsung sebagai laporan peristiwa yang ditulis secara singkat, padat, lugas, dan apa adanya. Berita langsung bersifat kering, tanpa dibumbui subjektivitas wartawan. Berita langsung dibagi menjadi dua jenis: hard news dan soft news. Perbedaannya, aktualitas dan kepentingan soft news berada setingkat di bawah hard news.

Sebuah berita harus mencakup fakta dan data sebuah peristiwa, dan mengandung unsur-unsur 5W+1H. Dalam straight news, teknik penulisan yang lazim digunakan berbentuk piramida terbalik, yaitu berdasarkan tingkat kepentingannya. Struktur ini memungkinkan efisiensi waktu bagi pembaca, yang bisa langsung mengetahui inti berita melalui paragraf pertama. Bentuk ini juga memudahkan editor untuk melakukan cutting naskah jika space yang tersedia tidak cukup untuk memuat seluruh bagian berita.
Komposisi tulisan terdiri dari empat bagian: headline (judul berita), dateline (waktu dan tempat), lead (teras berita), dan news body (isi berita). Semua unsur ini kunci penulisannya terdapat pada rumus 5W+1H. Tetapi ada juga lead non 5W+1H, seperti lead kesimpulan, lead berita pernyataan, lead kutipan, lead kontras, dan lead jeritan. Sebelum menulis unsur-unsur ini, wartawan harus menentukan sudut pandang terlebih dahulu terhadap sebuah peristiwa. Penentuan angle memudahkan tahap-tahap selanjutnya.

Buku Jurnalistik: Teori dan Praktik karya Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat memuat sebuah ungkapan menarik, yaitu jurnalisme sebagai “literature in a hurry”, kesusastraan yang terburu-buru. Teknik-teknik penulisan berita –terutama berita langsung- memang mengacu pada kecepatan ini, namun tetap harus dibuat semenarik mungkin. Hikmat dan Purnama juga masih menggunakan struktur penulisan berbentuk piramida terbalik sebagai acuan penulisan straight news, seperti yang tertulis dalam literatur jurnalistik lainnya. Lead, yang mampu mencerminkan keseluruhan isi berita menjadi perhatian utama dalam piramida ini,.

Meskipun lead memiliki sejumlah keuntungan praktis, justru lead itulah bagian tersulit dalam menulis berita. Karena lead harus dibuat semenarik mungkin, atau pembaca tidak akan tertarik untuk mengikuti sampai habis. Selain menarik, lead juga harus cukup jelas dan ringkas. Ada beberapa jenis lead menurut buku ini: lead menonjok, lead deskriptif, lead kontras, lead bertanya, lead kutipan, lead kepenasaran kumulatif, lead berurutan, lead parodi, lead epigram, lead tersendat-sendat, lead ledakan, lead dialog, dan lead sapaan.

Setelah lead, ada proses penyusunan fakta-fakta secara logis, yang mengemukakan isi berita. Pengaturan materi berita secara kronologis ini memungkinkan pembaca memahami inti berita tanpa ada distorsi dalam menafsirkan arti berita secara keseluruhan. Singkatnya, tubuh berita berfungsi menguraikan ide-ide pokok dalam lead, serta menambahkan atau menguatkan hal-hal kurang penting yang tidak diungkapkan dalam lead.

Untuk gaya penulisan, ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan, agar fakta yang kita sampaikan bisa lebih jelas dan rinci, diantaranya: tulisan harus spesifik, (termasuk identitas orang, nama tempat, dan istilah), penggunaan kalimat aktif dan pasif harus tepat, alinea dibuat pendek.

Kemudian, angka di awal kalimat juga patut dihindari, memperhatikan ejaan, susunan kalimat, dan tata bahasa. Unsur-unsur yang diperlukan untuk tulisan yang efektif adalah: kecermatan dan organisasi dalam berita, diksi dan tata bahasa yang tepat, prinsip hemat, serta daya hidup (vitalitas), warna, dan imajinasi dalam berita tersebut.

Buku Teknik Penulisan Feature karya Andi Baso Mappatoto juga sedikit menyinggung straight news yang disebut juga berita lempang. Berita lempang adalah laporan tentang peristiwa fisik dan intelektual, misalnya bencana alam dan pendapat seseorang yang aktual, dan ditulis menurut rumus wajib 5W+1H dengan struktur piramida terbalik. Berita lempang dilaporkan secepat dan seobyektif mungkin dan hanya memiliki fungsi informatif mengingat isinya yang singkat-padat-jelas.

Berita Khas
Cara penyajian feature menggunakan gaya penulisan berkisah dan humor, tidak mengutamakan aktualitas dan pentingnya informasi yang disajikan. AS Haris Sumadiria mendefinisikan feature sebagai cerita khas kreatif yang berpijak pada jurnalistik sastra tentang suatu situasi, keadaan, atau aspek kehidupan, dengan tujuan untuk memberikan informasi dan sekaligus menghibur khalayak media massa.

Penulisan feature tidak tunduk kepada kaidah pola piramida terbalik dengan rumus 5W+1H atau cara penyusunan pesan secara deduktif seperti halnya straight news. Tapi bukan berarti kita boleh mencampurkan fakta-fakta dalam feature dengan cerita fiktif, karena karya feature pun tetap harus mengandung semua unsur yang terdapat dalam 5W+1H. Perbedaannya, feature disajikan melalui gaya bertutur kisah yang kreatif informal.

Kekhasan sifatnya inilah yang membuat kedudukan feature sangat penting di media massa. Fungsinya: sebagai pelengkap sekaligus variasi berita langsung, memberikan informasi serta nilai dan makna suatu peristiwa atau keadaan, penghibur dan pengembang imajinasi, dan sebagai sarana ekspresi paling efektif dalam memengaruhi khalayak.

Septiawan Santana, seperti dikutip Haris mengungkapkan bahwa feature memiliki empat ciri utama. Yang pertama adalah penyusunan adegan, di mana laporan disusun menggunakan teknik bercerita adegan demi adegan, membawa pembaca ke dalam situasi tersebut. Kedua, dengan mencatat dialog utuh untuk menampilkan karakter para tokoh yang terlibat, sekaligus memancing keingintahuan pembaca. Selanjutnya, jurnalis bisa menulis melalui sudut pandang orang ketiga. Pembaca dilibatkan, diajak berada dalam setiap situasi emosi dan pengalaman yang terjadi. Keempat, penulis perlu mencatat detail seperti kebiasaan, pakaian, makanan, serta pandangan-pandangan lain yang bersifat sekilas.

Sebagai sebuah cerita objektif yang menarik bagi pembaca, feature dibangun dengan berpijak kepada unsur-unsur pokok, meliputi: tema, sudut pandang, karakter, plot, gaya, suasana, dan lokasi peristiwa. Sama seperti unsur-unsur yang terdapat dalam cerita pendek. Bedanya, kalau cerpen mengangkat realitas fiktif imajinatif, maka feature menceritakan realitas faktual objektif.

Feature memiliki susunan rangka cerita yang terdiri atas tiga bagian: pembukaan, penceritaan, dan penutup. Berbeda dengan straight news yang menggunakan pola piramida terbalik, feature tidak kaku harus ditulis demikian. Menulis feature berarti berkisah, dan itu menuntut kreativitas. Bagian penutup sama pentingnya dengan bagian intro maupun isi, tergantung bagaimana penulis dapat mengemasnya.

Topik harus dibuat semenarik mungkin, sebagai titik awal keberangkatan ide penulis. Setelah menentukan topik, penulis bisa memulai tulisan dengan sebuah intro. Intro sama dengan lead, paragraf pertama dalam straight news yang berfungsi mengail pembaca. Jika pembaca sudah tertarik pada intro, bisa dipastikan ia akan penasaran untuk melanjutkan bacaannya hingga selesai. Intro harus dibuat ringkas, namun tetap segar dan bernyawa. Begitupun halnya dengan penutup.

Menurut Asep Syamsul M. Romli dalam buku Jurnalistik Terapan, feature adalah jenis tulisan di media massa yang memfokuskan pada segi (angle) tertentu sebuah peristiwa dan menonjolkannya. Sifat tulisannya lebih bersifat menghibur dan menjelaskan masalah daripada sekadar menginformasikan. Ia banyak mengungkapkan unsur how dan why sebuah peristiwa sehingga mampu menyentuh sisi human interest. Karena itulah feature berumur panjang. Feature termasuk dalam aliran “New Journalism”, yaitu teknik penulisan karya jurnalistik bergaya sastra, memerlukan gabungan dari keterampilan laporan interpretatif dengan teknik penulisan karya fiksi.

Feature memiliki enam sifat pokok: faktual, menerangkan masalah (bukan melaporkan dengan segera), berumur panjang, mengandung segi human interest, mengandung unsur sastra, dan menggunakan lead atraktif. Ada sepuluh jenis feature, yang memiliki daya tarik dan kekhasannya masing-masing, yaitu: bright, feature berita, feature artikel, feature biografi (profil), feature human interest, feature pengalaman pribadi, feature perjalanan atau petualangan, feature sejarah, feature promosi, dan feature petunjuk praktis.

Mengenai feature, buku Jurnalistik: Teori dan Praktik karya Hikmat dan Purnama Kusumaningrat menyebutnya sebagai bukan sekadar berita faktual, melainkan berita yang dibuat semenarik mungkin dengan dibubuhi sentuhan perasaan manusia. Feature dimuat bukan karena penting, tapi karena menarik. Jenis-jenis berita yang lazim disebut feature: berita human interest sederhana, berita hari kedua (sidebars), berita feature, berita latar belakang (interpretatif), dan berita berwarna. Berita human interest paling sering digunakan sebagai feature. Disebutkan juga pentingnya memberikan warna kepada berita, sebagai bumbu yang menjadikan berita itu lebih berkesan di hati pembaca.

Jika penulisan straight news menggunakan prinsip piramida terbalik, maka penulisan feature, menurut Asep M. Romli, menggunakan prinsip kerucut terbalik. Ia tidak harus menempatkan fakta terpenting di bagian awal. Komposisinya: head (judul), lead (teras, intro), bridge (jembatan antara lead dan body), body (isi tulisan), ending (penutup).

Judul berita dan lead harus dibuat semenarik mungkin. Dalam buku ini juga disebutkan macam-macam lead, kebanyakan sama saja seperti yang diuraikan dalam buku lain, tapi ada juga yang berbeda: teras analogi, teras kalimat pendek, teras figuratif, teras literer, teras pasak, teras tiruan bunyi, teras dialog, teras filosofis, dan teras kumulatif. Sebuah cerita feature mendorong terciptanya suatu penyelesaian, klimaks, atau akhir cerita. Oleh karena itu, ekor sebuah feature pun tak boleh diremehkan. Sebuah penutup yang menarik akan meninggalkan kesan mendalam bagi pembaca.

Buku Teknik Penulisan Feature karya Andi Baso Mappatotto, seperti judulnya, secara khusus membahas mengenai feature. Ia mendefinisikan feature dengan begitu panjang dan rumit, yaitu: karangan lengkap nonfiksi bukan berita lempang dalam media massa yang tak tentu panjangnya, dipaparkan secara hidup sebagai pengungkapan daya kreativitas kadang-kadang dengan sentuhan subyektivitas pengarang terhadap peristiwa, situasi, aspek kehidupan, dengan tekanan pada daya pikat manusiawi untuk mencapai tujuan memberitahu, menghibur, mendidik, dan meyakinkan pembaca.

Ada beberapa teknik yang harus diperhatikan dalam menulis feature. Pertama gaya tuturan cerita. Pada dasarnya penulis feature adalah penutur cerita yang mampu menggunakan imajinasi, kreativitas, serta kemahiran berbahasanya untuk membangkitkan keingintahuan pembaca, memainkan emosi mereka. Untuk bisa membuat feature yang menyentuh, persiapannya dimulai dari sebelum menulis.

Sebelum menulis, penulis feature harus peka terhadap keadaan di sekitarnya. Mungkin hal-hal tidak penting, seperti pasar kaget, sopir mikrolet yang sudah tua renta, orang kaya mendadak, dan sebagainya. Bagaimana ia mengangkat sisi lain dari peristiwa yang biasa menjadi karangan bernilai. Banyak cara untuk memeroleh bahan karangan, seperti dengan observasi dan wawancara. Setelah itu, bahan-bahan yang sudah didapat ditelaah kembali, untuk kemudian menentukan topik dan gagasan sentral.

Gagasan sentral yang dirumuskan dalam satu kalimat disebut teras (lead) yang kemudian akan diuraikan sebagai tubuh. Andi Baso Mappatoto menyatakan bahwa lead adalah jiwa-raga karangan. Gagasan sentral ini selalu ditulis dengan kalimat generatif yang menarik perhatian. Menarik-tidaknya sebuah lead dikembalikan lagi kepada nilai-nilai berita, seperti kebaruan, kedekatan, dan keanehan. Tema perlu diukur dari kesatuannya (unity), rincian (development), dan keaslian (originality).

Tubuh karangan sendiri baiknya dituturkan dengan urutan yang tertib, masuk akal, dengan gaya cerita yang menurut bentuk piramida atau piramida terbalik, segi empat, atau struktur kronologis. Kalau teras diibaratkan “jiwa-raga” karangan, maka tubuh layaknya setelan baju dan aksesori yang mencerminkan keadaan jiwa-raga. Beberapa pola paragraf yang digunakan untuk menjaga ketertiban susunan karangan di antaranya: tematik, spiral, dan blok. Karangan dapat disusun berdasarkan susunan waktu (kronologis), susunan kronologis, susunan dari umum ke khusus, dan susunan dari khusus ke umum.

Karangan harus diakhiri dengan tulisan penutup, yang mengisyaratkan bahwa karangan sudah lengkap. Bantuk-bentuk penutup di antaranya: ringkasan, klimaks, tanpa akhir, dan penutup yang menyengat. Semua bagian ini perlu dikemas dalam gaya bahasa yang mengalir secara alamiah, segar dan hidup. Koherensi, kohesi, dan kesatuan karangan juga harus dijaga untuk memelihara perhatian pembaca.

Bentuk-bentuk karangan khas yang diuraikan dalam buku ini, tak berbeda dengan buku lain: news feature/sidebars, sejarah, perayaan, sosok pribadi, human interest, latar belakang, pembuka tabir, dan feature perjalanan. Selain itu, ada juga kelompok feature argumentasi, diantaranya: karangan ilmu pengetahuan populer, berita analisis, laporan mendalam, serta tuntunan keterampilan.

Buku Seandainya Saya Wartawan Tempo lebih menarik lagi. Sebagai sebuah majalah feature terkemuka di Indonesia, kredibilitas Tempo tercermin lewat buku ini. Buku karya Goenawan Mohamad ini merupakan adaptasi dari buku Feature Writing for Newspapers (Daniel R. Williamson). Buku ini berisi tips dan trik dalam membuat laporan berita yang menarik untuk media massa cetak, khususnya feature. Alih-alih memuat tips-tips keterampilan menulis yang bersifat menggurui, penulis justru menghidupkan imajinasi pembaca, membantu pembaca mengidentifikasikan diri sebagai wartawan sungguhan yang sedang melakukan reportase, menulis laporan, sampai ketika ia berhadapan dengan editor.

Dalam buku ini feature didefinisikan sebagai artikel yang kreatif, kadang-kadang subjektif, yang dimaksudkan untuk menghibur dan memberi informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan, atau aspek kehidupan. Dari pengertian di atas, ada sejumlah ide pokok yang menjadi unsur-unsur feature, yaitu: kreativitas yang menjadi modal awal reporter dalam “menciptakan” sebuah cerita. Kedua, emosi dan pikiran penulis dapat masuk dalam laporannya, kemudian harus informatif, dan menghibur. Tulisan feature bisa ditulis panjang, seperti umurnya yang juga panjang dan tidak mudah basi.

Semua tulisan dalam buku ini dikemas dalam bahasa jurnalistik feature yang segar. Satu catatan penting, feature tetap merupakan sebuah berita yang berlandaskan fakta, tidak boleh ada rekayasa. Oleh karena itu, akurasi, ketepatan pengumpulan informasi, pengejaan dan pemakaian kata, penggunaan buku pedoman, serta pengecekan ulang terhadap laporan adalah modal-modal penting penulisan yang dimaksud dalam bab ini.
Seorang wartawan penulis feature punya empat senjata yang biasa digunakan untuk menaklukkan pembaca yang kurang bersemangat. Pembaca yang sejak awal telah diidentifikasikan oleh penulis sebagai calon wartawan profesional, diminta menggerakkan empat hal pokok: fokus, deskripsi, anekdot, dan kutipan untuk menghidupkan lukisan kata-katanya. Selain empat senjata di atas, wartawan juga harus mampu mengembangkan kreativitasnya untuk bisa membuat feature dari sisi yang lebih menarik.

Buku Seandainya Saya Wartawan Tempo secara keseluruhan memang lebih banyak membahas mengenai feature, dan dibandingkan dengan buku-buku lain, bagi saya, buku ini juaranya. Teknik penulisan feature tak hanya dijabarkan melalui teori-teori, tetapi keseluruhan isi buku ini ditulis menggunakan gaya bertutur yang menarik, seperti halnya feature.

Rabu, 10 Desember 2008

Mengenal Wawancara dalam Konteks Jurnalisme

Kegiatan jurnalistik sebetulnya bermula dari kebutuhan dan naluri kita sebagai manusia, yaitu naluri ingin tahu dan naluri ingin memberitahukan. Dalam perkembangannya, kedua naluri ini disahkan menjadi hak asasi manusia (HAM) yang diakui secara universal. Kedua hak ini dikenal sebagai right to know and right to inform.

Pada tahun 1948 PBB sepakat memproklamasikan kedua hak tersebut dalam pasal 19 Deklarasi Universal Hak-hak Manusia. Di dalamnya dinyatakan bahwa setiap orang: berhak berpendapat, bebas mengeluarkan/menyatakan pendapat, bebas memiliki pendapat tanpa campur tangan orang lain, serta bebas mencari, menerima, menyampaikan informasi dan pendapat dengan cara apapun, tanpa memandang batas-batas.

Selain diakui secara internasional, right to know and right to inform juga diatur dalam pasal 4 ayat 3 UU no. 40/1999 tentang pers. Dalam pasal 28F dinyatakan bahwa untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memeroleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. Pasal 6 UUP juga menegaskan peranan pers nasional, sebagai berikut:
1. Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui
2. Menegakkan nilai-nilai demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan HAM, serta menghormati kebhinekaan.
3. Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar.
4. Melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum
5. Memperjuangkan keadilan dan kebenaran

Secara sosiologis, hak personal ”to know and to inform” didelegasikan kepada profesi wartawan. Masyarakat menyerahkan mandat kepada wartawan untuk merealisasikan hak-haknya. Oleh karena itu wartawan harus konsekuen dan konsisten melaksanakan isi mandat tersebut.

Selain itu, wartawan harus rajin bertanya kepada siapa saja yang dianggap relevan (people trail). Bertanya dalam konteks jurnalisme disebut wawancara, yang juga merupakan salah satu kegiatan pokok wartawan. Melalui wawancara, wartawan bisa memeroleh berbagai fakta.

Earl English dan Clarence membagi dua jenis fakta. Pertama, fakta/realita sosiologis yaitu peristiwa yang sungguh-sungguh telah terjadi. Kedua, fakta/realita psikologis yaitu sesuatu yang sungguh-sungguh benar. Artinya, sungguh-sungguh telah dinyatakan oleh nara sumber. Pernyataan nara sumber biasanya diperoleh melalui wawancara.

Fakta atau realitas ini tak boleh dicemari karangan atau opini wartawan. Dalam Kode Etik Jurnalistik 2006 pasal 2 ayat d, ditegaskan bahwa wartawan harus menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik, termasuk menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya. Stewart Robertson dan George Fox Mott dalam buku mereka, New Survey of Journalism menuliskan, “Berita adalah pencatatan informasi yang paling menarik, paling penting dan paling cermat yang dapat diperoleh tentang segala apa yang dipikirkan dan dikatakan, dilihat dan digambarkan, direncanakan dan dikerjakan orang.” Ini juga berarti bahwa berita tak mesti berisi laporan mengenai realitas sosiologis, tetapi bisa juga berisi pernyataan narasumber (realitas psikologis).

Khalayak media massa saat ini semakin kritis dan tak puas bila wartawan melaporkan suatu peristiwa hanya berdasarkan unsur-unsur apa, siapa, di mana, dan kapan. Mereka juga ingin tahu bagaimana pendapat para tokoh mengenai peristiwa tersebut. Itulah sebabnya kedua jenis fakta tersebut boleh digabungkan, asal tidak dicampuradukkan dengan opini, imajinasi, dan simpulan wartawan sendiri. Seperti yang telah dinyatakan dalam pasal 3 Kode Etik Jurnalistik 2006, ”Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara seimbang, tidak mencampurkan fakta dengan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.”

Selain fakta, yang juga harus diperhatikan wartawan adalah nilai berita. Artinya, ia harus tahu realitas psikologis dan sosiologis yang benar-benar layak disiarkan, yaitu yang memiliki nilai berita tinggi. Karena tidak semua fakta yang diperoleh wartawan dibutuhkan khalayak. Tak semua fakta yang memiliki nilai berita tinggi layak disiarkan atau diterbitkan. Ada beberapa aspek yang dijadikan acuan untuk menentukan nilai berita suatu fakta: penting (significance), kedekatan (proximity), aktualitas (timeliness), ukuran (magnitude), ketenaran (prominance), konflik, seksualitas, emosi atau naluri (human interest), sesuatu yang luar biasa atau aneh, akibat atau konsekuensi, kemajuan, mukjizat atau peristiwa ajaib, serta tragedi atau bencana.

Teknik pencarian fakta oleh wartawan tergantung kepada jenis peristiwa/fakta yang diburu. Ada kejadian yang tak disangka-sangka maupun yang telah direncanakan. Selain itu ada pula realitas sosiologis yang jarang menarik perhatian wartawan, yakni yang berupa ”peristiwa diam” atau fakta laten, seperti gejala sosial dalam masyarakat. Dalam ”perburuan” fakta, wartawan dapat mengamati langsung secara pasif maupun aktif. Tinggi-rendahnya kualitas berita yang didapatkan wartawan sangat berpengaruh kepada kekayaan intelektual dan emosionalnya, maupun kekayaan sosial dan rohaniahnya. Istilahnya: kekayaan objek sangat ditentukan oleh kekayaan subjek.

Karena keterbatasan panca indera wartawan, maka untuk memperkaya laporannya ia harus melakukan wawancara. Melalui wawancara wartawan dapat menangkap fakta yang tak teramatinya, seperti latar belakang suatu peristiwa, kisah nyata, pengalaman, komentar, harapan, dan sebagainya dari orang yang diwawancarai. Wawancara tak selalu harus bertanya, namun bisa juga melontarkan pernyataan yang bagus dan provokatif, yang bisa memancing tanggapan nara sumber.

Dilihat dari segi tujuan, dalam wawancara kita mengenal beberapa jenis pertanyaan, antara lain sebagai berikut:
1. Pertanyaan informatif, adalah pertanyaan yang bertujuan meminta informasi/keterangan tentang suatu fakta
2. Pertanyaan konfirmatif, adalah pertanyaan yang bertujuan meminta pembenaran atau penegasan dari sumber berita
3. Pertanyaan verikatif, bertujuan meminta pemeriksaan atau pengecekan tentang kebenaran laporan kepada sumber berita
4. Pertanyaan sugestif, adalah pertanyaan untuk meyakinkan atau memengaruhi nara sumber bahwa ia sependapat dengan sang wartawan
5. Pertanyaan provokatif, bertujuan memancing nara sumber untuk menyatakan sesuatu yang diharapkan wartawan. Pertanyaan ini seringkali menjebak narasumber.

Pewawancara harus cermat dan tepat memilih pertanyaan. Kualitas jawaban terwawancara sangat ditentukan oleh kualitas pertanyaan pewawancara. Ciri-ciri pewawancara yang profesional antara lain:
1. Memiliki wawasan yang sangat luas
2. Memiliki rasa ingin tahu yang besar
3. Mampu berbahasa dengan baik (fasih) sesuai bahasa yang dipahami terwawancara
4. Tidak mewawancarai dengan kepala kosong. Artinya, sebelum berwawancara ia harus belajar tentang topik yang akan diperbincangkan
5. Menyadari statusnya sebagai pemegang mandat masyarakat, maka ia tidak asal bertanya, melainkan selalu berusaha untuk mewujudkan isi hak tahu dan memberitahukan khalayak medianya.
6. Bersikap kritis dan skeptis terhadap ucapan terwawancara. Wartawan boleh mendebat terwawancara bila ia kurang yakin akan kebenaran ucapan terwawancara.
7. Mampu memosisikan diri sejajar dengan terwawancara
8. Tidak angkuh dan sok tahu
9. Berlaku sopan dan hormat, harus memperkenalkan diri dengan baik sebelum mulai bertanya
10. Tidak menginterogasi terwawancara, tidak pula mengeluarkan kata-kata yang bersifat menghakimi
11. Mampu berempati terhadap terwawancara
12. Mencermati pesan-pesan non verbal dari narasumber
13. Mengetahui dan menaati Kode Etik Jurnalistik, khususnya pasal 7 Kode Etik Jurnalistik 2006, yang berbunyi, ”Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi nara sumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan off the record sesuai dengan kesepakatan.”

Minggu, 30 November 2008

Taryana, Pengusaha Ubi Cilembu: Termotivasi Karena Ditertawakan Teman SMP

Sore itu, Sabtu 29 November 2008, saya, Ken Andari, mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fikom Unpad berkesempatan untuk mewawancarai seorang pengusaha ubi Cilembu, Taryana (33). Pukul 16.30 WIB saya tiba di kediamannya di Desa Cilembu, 5 kilometer dari Jalan Raya Tanjungsari. Di tengah dinginnya udara Desa Cilembu karena hujan yang lebat sore itu, saya mendapat sambutan hangat dari ayah tiga anak ini. Setelah dipersilakan masuk, saya disuguhi segelas air minum dan sepiring ubi bakar. Ia menyiapkan dan mengantarnya sendiri, bukan oleh istri atau pembantunya.

Begitulah sosok Taryana dalam kesehariannya, hangat, periang, dan rendah hati. Meskipun sudah berhasil mengekspor ubi Cilembu sampai ke Jepang, lelaki yang merintis karirnya dari nol ini mengaku dirinya belum sukses dan masih perlu banyak belajar. Perjalanan karirnya penuh cerita pahit.

Pria yang mengaku termotivasi gara-gara ditertawakan teman-teman SMP ini mengungkapkan banyak hambatan yang dihadapinya sebagai seorang pengusaha kecil, yang pendidikannya tidak terlalu tinggi. Menurutnya, masalah utama adalah kurangnya SDM dan modal. Taryana sangat ingin masyarakat Indonesia bisa menghargai ubi Cilembu, sehingga ubinya tidak hanya laku untuk diekspor, tapi juga bisa diterima dan dihargai seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Berikut petikan wawancaranya:














Bagaimana mulanya Anda merintis usaha ini?
Saya lulusan sekolah pertanian SPP/SPMA di Sumedang. Karena basic saya di pertanian, orang tua juga petani, ya, saya teruskan pertanian. Saya mulai dari jadi petani ubi, kemudian bawa pikulan, saya jajakan door to door, setelah itu punya kios, kemudian bisa mengisi supplier, sampai sekarang menjadi eksportir. Kami merintis ekspor sendiri mulai tahun 2008. Banyak permintaan dari Malaysia, Singapura, dan Jepang. Permintaan dari sana besar sekali, dari perusahaan-perusahaan besar, bahkan ada yang minta 1000-5000 ton ubi matang setiap tahunnya. Sekarang saya baru sanggup mengirim 1-2 kontainer saja, itu pun sebulan sekali.

Jadi Anda selesai sekolah kemudian memutuskan untuk berwirausaha, begitu?
Ya, karena dulu orang tua saya berjualan ubi di SMP, saya ditertawakan oleh teman-teman. Saya jalan kaki setengah jam ke sekolah, sampai sepatu saya bolong, saya dibilang anak kampung! Saya pernah naksir cewek orang kaya, ditolak hanya karena saya seorang petani. Tapi itu cerita lama, yang bisa memotivasi saya sampai sekarang.

Saya sekarang membangun CV, supaya bisa diwariskan ke anak saya nanti. Kalau saya sekarang belum maju, nanti anak saya harus maju. Anak saya yang paling besar sekarang umurnya 10 tahun, jadi dia punya waktu 10 tahun lagi untuk belajar.

Apa sih kelebihan ubi Anda dibandingkan dengan petani-petani lain?
Justru itu, bagaimana ubi-ubi yang jelek ini bisa dijual? Sumber daya alam kita sebenarnya sudah bagus, tapi banyak kekurangan dari segi sumber daya manusia (SDM) dan sebagainya.

Apakah ubi ini organik juga?
Bisa dibilang ini hampir organik, ya. Disemprot (pestisida) juga hampir tidak. Pupuk MPK digunakan sebagai starter saja. Kita menggunakan pupuk kandang. Di Cilembu ini bahkan ada beberapa daerah yang tidak menggunakan pupuk sama sekali.

Mungkin juga karena didukung oleh faktor iklim di Cilembu ini, ya?
Betul. Iklim sangat membantu. Jadi ubi Cilembu bukan dari bibitnya saja, tetapi faktor tanah dan iklim juga sangat menentukan terhadap aroma dan rasa ubi. Ubi Cilembu sulit dibudidayakan di Jepang, jadi kita harus bisa mengisi salah satu supplier. Standar ekspor di Jepang cukup tinggi, sedangkan kita cuma begini. Apalagi pembelajaran di pertanian kita ’kan.... ya begitu!

Kalau sekadar membeli dari petani kemudian saya jual, yah begitu sih, gampang. Tapi saya punya keinginan, bagaimana ubi bisa menjadi sesuatu yang berarti. Saya masih belajar, sampai bagaimana membuat pizza, es krim, dodol dari ubi. Bagaimana ubi yang kelihatan jelek ini dikemas menjadi lebih menarik.

Seperti Bakpao Telo di Malang, ya?
Betul sekali! Anda juga tahu, ya.

Sebenarnya apa sih yang menjadi standar kesuksesan Anda?
Kebanyakan orang memandang dari segi materi. Mobil banyak, rumah besar dan sebagainya. Mobil’kan bisa dibeli, siapapun kalau punya uang 20 juta juga bisa dapat mobil. Tapi kalau menghabiskan uang untuk belajar, belum tentu orang lain punya ilmu seperti saya. Saya kemarin pameran 10 hari di Jepang itu saja menghabiskan dana lebih dari 100 juta rupiah! Memang pengeluaran saya banyak dihabiskan untuk dua hal: promosi dan penelitian.

Kalau dari pemerintah sendiri?
Pemerintah sangat banyak membantu. Pelatihan-pelatihan kita difasilitasi pemerintah, banyak informasi kita dapatkan dari pemerintah, sebagian peralatan kita peroleh dari pemerintah, terutama dari Dinas Indag-agro. Kemarin juga saya sempat berkonsultasi dengan kepala DPRD Provinsi Sumedang tentang masalah pergudangan.

Waktu di Jepang ada yang minta 5000 ton itu, saya sampai ditertawakan. Sakit! Dia butuh ubi 5000 ton, tidak percaya dia dengan perusahaan saya, memang saya seperti ini. Saya disejajarkan, harus seperti Indofood. Ya tidak mungkin, karyawan tetap saya hanya dua orang. Fasilitas komputer, internet, jaringan telepon pun belum masuk ke daerah ini (Cilembu). Saya masih setara dengan tukang gandong, tapi mereka meminta kuantitas ekspor segitu.

Adakah keinginan yang belum tercapai?
Saya ingin punya perusahaan yang bisa menjalankan, bukan hanya ekspor, tapi juga pasar lokal. Ubi saya di Jepang dihargai mahal sekali, sampai 2500 yen/kilo. Itu setara dengan Rp 25.000. Kalau di sini, ubi Cilembu bahkan ada yang dihargai Rp 2000/kilo. Pokoknya saya ingin pemasaran yang lancar dulu lah, dalam dan luar negeri. Thomas Alva Edison sebelum menemukan bola lampu, berapa ribu kali ia gagal? Dan setelah berhasil, apakah hanya ia yang menikmati? Tentu tidak! Semua bisa menikmati!
Saya punya keyakinan, saya punya cita-cita, dan saya sudah berusaha. Pasti Allah melihat. Itu saja. Saya akui, saya bukan pebisnis yang bagus. Kalau orang bisnis itu harus saklek! Pokoknya harus berhasil, nggak peduli dengan yang lain! Saya nggak bisa begitu.

Maksudnya bagaimana?
Misalnya ada petani bawa sekeranjang ubi yang kualitasnya tidak terlalu bagus, kalau orang bisnis mah bilangnya, ”Apaan ini ubi jelek begini? Udah aja Rp. 2000 sekilo, ya! Kalau nggak mau, ya sudah sana pulang!” Kalau saya nggak bisa begitu. Suka kasihan sama petani-petani itu. Nggak bisa menolak saya. Padahal rugi! Kalau di bisnis ’kan tidak bisa begitu. Tapi biar bagaimanapun sejak tahun 1993 saya hidup dari ubi, saya juga pernah menerima 50 penghargaan, itu semua gara-gara ubi! Orang tua saya juga...

Kalau dibandingkan dengan pengusaha lain, keuntungannya bisa bermilyar-milyar, karena modal awalnya saja sudah ratusan juta. Sedangkan saya? Saya mulai benar-benar dari tukang panggul, kemudian mengisi kios, terus bertahap seperti itu sampai sekarang baru mau mulai ekspor!

Tapi ya...kalau kita orang jujur berbisnis sama orang yang nggak jujur ’kan jadi dikerjain! Kemarin saya dicaci maki oleh orang Jepang itu. Katanya, ”Ngapain kamu ke Jepang? Kamu nggak pantas berbisinis dengan saya!” Kesal bukan main saya. Tapi ya, saya bilang saja, ”You OK, hayyuu...tapi kalau tidak mau pun saya tidak rugi, ’kan?” Saya sering dikerjain, ditertawain. Begitu jadinya kalau orang seperti saya berbisnis dengan orang-orang pintar dan berduit.



Ken Andari
30 November 2008

Minggu, 09 November 2008

Apresiasi Buku “Pelik-Pelik Bahasa Indonesia” karya J.S. Badudu

Jusuf Syarif Badudu merupakan pakar bahasa yang banyak memberikan kontribusinya terhadap pembinaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar di negeri ini. Badudu menilai bahwa kekacauan berbahasa Indonesia mencerminkan kekacauan kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Kondisi ini tidak lepas dari kenyataan bahwa pengajaran bahasa Indonesia di sekolah umumnya masih berkutat pada aspek pengetahuan bahasa, tanpa mengarahkan siswa untuk terampil berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan.

Menurut Badudu, seperti dikutip dari situs Melayu Online, setidaknya ada tiga faktor yang membuat pemakai bahasa tidak dapat menggu¬nakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Pertama, perhatian orang yang sangat kurang terhadap bahasa Indonesia. Hampir semua orang menganggap remeh bahasa Indonesia, dan menganggap bahwa bahasa ini mudah sehingga tidak perlu dipelajari lagi, dan karena itu tidak perlu diperhatikan. Kedua, pengaruh bahasa daerah dan dialek bahasa Indonesia setempat juga menimbulkan adanya interferensi dengan bahasa Indonesia baku. Tanpa mempelajari bahasa Indonesia dengan baik, orang sukar menghindari pengaruh bahasa daerah dan interferensinya. Ketiga, sekolah-sekolah yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantar dan mengajarkannya sebagai mata pelajaran biasanya tidak berhasil meningkatkan kemampuan dan keterampilan muridnya untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Demi memperbaiki kualitas berbahasa Indonesia inilah, Badudu menulis buku “Pelik-pelik Bahasa Indonesia” yang sudah mencapai cetakan ke-42 pada 2001 lalu. Meskipun sudah 30 tahun berlalu sejak cetakan pertamanya, toh buku ini nyatanya masih sangat relevan dan dibutuhkan hingga kini. Memang, tak banyak buku-buku dan literatur tersedia untuk kita mempelajari bahasa Indonesia, apalagi yang dibuat oleh seorang profesor bahasa. Seperti diungkapkan di atas, banyak orang yang meremehkan bahasa Indonesia, menganggap orang Indonesia tak perlu belajar bahasa Indonesia lagi.
Anggapan itu terbukti salah. Kalau kita melihat apa yang dipaparkan dalam buku ini, ternyata bahasa Indonesia pun memiliki kekhasan tersendiri, dan bahasa Indonesia tak sesederhana apa yang dikatakan orang. Dalam buku ini, Badudu membahas secara gamblang dan komprehensif, mulai dari asal-usul bahasa Indonesia dan perkembangannya, standardisasi, ejaan dan gejala bahasa, morfologi, serta jenis-jenis kata dalam bahasa Indonesia, semua dibahasnya dengan detail.

Pada bab pertama, dibahas mengenai perkembangan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang kita gunakan setiap hari ini, induknya berasal dari bahasa Melayu. Dalam Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, bahasa Melayu ini kemudian diresmikan sebagai bahasa nasional, yaitu Bahasa Indonesia. Perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia rupanya berlangsung secara perlahan, tetapi secara terus-menerus.
Sebagai suatu bahasa yang hidup dan dinamis, dipakai oleh rakyat dari berbagai suku bangsa, bahasa Indonesia juga menerima pengaruh dari ragam bahasa itu. Misalnya dari bahasa Minangkabau, bahasa Sunda, bahasa Betawi, bahasa Jawa. Dan sebagai bangsa yang hidup di tengah percaturan politik dan kebudayaan dunia, Indonesia juga menerima pengaruh-pengaruh dari luar, termasuk dalam hal bahasa. Kata-kata dan kalimat asing masuk ke dalam bahasa Indonesia, seperti bahasa Sansekerta, bahasa Arab, bahasa Inggris, dan bahasa Belanda.

Tapi kalau memang mendapat pengaruh yang sedemikian banyak, lantas mengapa bahasa Melayu yang dipilih? Prof. Dr. Slametmulyana menegmukakan empat faktor yang menjadi penyebab, yaitu:
1. Sejarah membantu penyebaran bahasa Melayu. Malaka dahulu menjadi pusat perdagangan dan pusat penyebaran agama Islam. Tak heran jika kemudian bahasa Melayu menjadi lingua-franca, bahasa perhubungan/perdagangan yang disebarkan ke seluruh penjuru Nusantara.
2. Bahasa Melayu mempunyai sistem yang sederhana, ditinjau dari segi fonologi, morfologi, dan sintaksis. Karenanya, bahasa Melayu mudah dipelajari.
3. Faktor psikologi suku Jawa dan Sunda telah dengan sukarela menerima bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, yang bisa mempersatukan bangsa.
4. Kesanggupan bahasa juga menjadi faktor penentu. Terbukti, bahasa Indonesia dapat digunakan untuk merumuskan pendapat secara tepat dan mengutarakan perasaan secara jelas.

Pada bab kedua Badudu membahas tentang istilah standardisasi. Standardisasi ini diartikan sebagai penetapan norma-norma. Demikian juga standardisasi bahasa atau pembakuan bahasa adalah penetapan norma-norma atau aturan bahasa berdasarkan pola-pola yang dipakai oleh masyarakat pemakai bahasa. Standardisasi dapat dilakukan terhadap ejaan, ucapan (lafal), perbendaharaan kata, istilah, dan tata bahasa.

Standardisasi perlu dilakukan supaya persoalan salah-benar dalam bahasa Indonesia tidak menjadi berlarut-larut. Selama variasi-variasi yang timbul karena perkembangan bahasa tidak distandarkan, selama itu pula kita tak dapat melepaskan diri dari pertentangan salah dan benar. Semua ini dilakukan karena bahasa memang merupakan sesuatu yang bersifat dinamis.

Standardisasi yang dibahas Badudu kali ini misalnya, tentang penggunaan e benar dan e pepet dalam Ejaan Soewandi, dan penulisan kata-kata berasal dari bahasa Arab dalam ejaan van Ophyusen yang sangat menyulitkan dan rawan kesalahan. Besarnya pengaruh bahasa daerah pada seseorang juga seringkali terjadi tanpa disadarinya. Apalagi bahasa-bahasa daerah di Indonesia masih serumpun dengan bahasa Indonesia, sehingga besar kemungkinan terjadi intereferensi antara bahasa-bahasa itu. Terutama pada orang yang bilingual.

Misalnya, penggunaan kalimat “Rumahnya ayah saya sudah dijual” yang sangat dipengaruhi bahasa Jawa, atau “Buku itu ditulis oleh saya” yang dipengaruhi struktur kalimat bahasa Sunda. Mungkin hal-hal ini tidak menimbulkan masalah yang serius, tapi menjadi serius jika menyangkut pendidikan dasar yang dilakukan oleh para guru kepada murid-muridnya. Guru tentu harus mengajarkan yang sebenarnya kepada mereka, supaya tidak menjadi kesalahan yang fatal di kemudian hari. Kata Prof. Takdir Alisjahbana, “Guru dan murid tak boleh bereksperimen dengan bahasa. Orang dewasa, wartawan, sastrawan, boleh.” Dalam hal ini, Badudu menginginkan pemerintah untuk segera melakukan standardisasi terhadap bahasa Indonesia untuk pendidikan dasar.

Ejaan menjadi bahasan penting selanjutnya dalam bab ketiga. Ejaan di sini diartikan sebagai “perlambangan fonem dengan huruf”. Selain itu, dalam sistem ejaan termasuk juga ketetapan satuan-satuan morfologi seperti kata dasar, kata ulang, kata majemuk, kata berimbuhan dan partikel-partikel dituliskan; ketetapan penulisan kalimat dan bagian-bagianny dengan pemakaian tanda-tanda baca seperti titik, koma, tanda tanya, tanda seru, tanda kutip, dan titik dua.

Badudu juga mengemukakan perbedaan antara huruf dengan fonem, vokal dan konsonan, yang seringkali dianggap remeh, atau bahkan tidak dibahas dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Dibahas juga sejumlah ketentuan ejaan bahasa Indonesia dari masa ke masa. Mulai dari Ejaan van Ophyusen, yang banyak menyesuaikan ejaan dengan bahasa Inggris. Juga untuk penggunaan huruf y untuk kata-kata yang, payah, hayat, yang sebelumnya menggunakan huruf j. Tapi Ejaan van Ophuysen kurang berhasil mengindonesiakan kata-kata Arab.

Kemudian ada Ejaan Soewandi yang ditetapkan pada 19 Maret 1947, yang dikenal juga dengan nama Ejaan Republik. Ejaan ini banyak melakukan penyederhanaan, utamanya pada penggunaan oe seperti pada kata goeroe dan maoe menjadi guru dan mau. Bunyi hamzah atau bunyi sentak ‘ain seperti pada kata ma’lum, ra’yat, ditulis dengan huruf k, menjadi maklum, rakyat. Tanda trema dihilangkan, dan e pepet dalam sejumlah kata baru yang dalam bahasa asalnya tidak memakai pepet, juga dihilangkan, seperti peraktek, gobelok, dan sebagainya.

Bahasa terus berkembang, dan ketentuan ejaan juga semakin banyak mengalami perubahan dan terdapat berbagai versi. Sampai akhirnya pada 16 Agustus 1972, pemerintah menetapkan ejaan baru bagi bahasa Indonesia, yaitu Ejaan LBK (Lembaga Bahasa dan Kesusastraan) yang telah mengalami perbaikan dan penyempurnaan, yang kini disebut Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Depdikbud RI kemudian mengeluarkan buku Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Dalam buku tersebut dijelaskan kembali ejaan bahasa Indonesia yang baru tentang pemakaian huruf, penulisan kata, penulisan huruf, dan tanda baca.

Pada bab selanjutnya, giliran perihal gejala bahasa yang dikupas tuntas oleh J.S. Badudu. Yang dimaksud dengan gejala bahasa adalah peristiwa yang menyangkut bentukan-bentukan kata atau kalimat dengan segala macam proses pembentukannya. Yang pertama dibahas adalah mengenai gejala analogi. Analogi artinya suatu bentukan bahasa yang meniru contoh yang sudah ada. Gejala analogi memegang peranan penting dalam pengembangan dan pembinaan suatu bahasa yang sedang berkembang seperti bahasa Indonesia. Drs. Pernis dalam bukunya Taman Bahasa Indonesia mengatakan “Analogi ialah faktor terpenting dalam setiap bahasa”. Memang gejala analogi penting bagi perkembangan bahasa, karena umumnya bentukan-bentukan baru dianalogikan kepada bentuk-bentuk yang sudah ada.

Selain gejala analogi, ada juga gejala kontaminasi yang diartikan sebagai susunan, perangkaian, penggabungan, yang tidak berpasangan atau berpadanan. Kontaminasi hasilnya ialah kerancuan dalam bahasa. Ada tiga gejala kontaminasi: kontaminasi kalimat, kontaminasi susunan kata, dan kontaminasi bentukan kata. Kemudian ada lagi gejala pleonasme, yang artinya penggunaan kata yang berlebih-lebihan, yang sebenarnya tidak perlu. Ada tiga kemungkinan timbulnya gejala pleonasme: pembicara tak sadar (tak sengaja) mengucapkan kata-kata yang berlebihan, pembicara tak tahu bahwa kata yang digunakannya berlebihan, dan ada juga yang dibuat dengan sengaja untuk memberikan tekanan pada arti (intensitas).

Adapun gejala hiperkorek adalah bahasa yang sudah betul dibetul-betulkan lagi akhirnya menjadi salah. Misalnya, sehat yang dijadikan syehat, ilmu saraf dijadikan ilmu syaraf, pihak dan pikir menjadi fihak dan fikir, zaman menjadi jaman, dan anggota yang dijadikan anggauta. Terdapat pula gejala bahasa lain yang dibahas singkat, diantaranya gejala penambahan dan penghilangan fonem, gejala kontraksi, gejala metatesis, serta gejala adaptasi.

Pada bab kelima, bahasannya adalah mengenai morfologi. Morfologi adalah ilmu yang membicarakan morfem, yang berurusan dengan struktur dalam kata. Morfem ialah bentuk bahasa terkecil yang tak dapat lagi dibagi menjadi bagian yang lebih kecil. Kata putus jika dibagi menjadi pu dan tus, maka tidak lagi disebut morfem karena tidak mempunyai makna baik leksikal maupun gramatikal. Ada dua macam morfem: terikat dan bebas. Morfem putus adalah morfem yang dapat berdiri sendiri dalam kalimat. Lain halnya dengan me- dan –kan dalam memutuskan yang tidak dapat berdiri sendiri. Karena itu semua imbuhan dalam bahasa Indonesia adalah morfem terikat. Me- dan –kan ini memberikan makna tertentu pada bentukan yang terdiri atas morfem-morfem itu, maka me- dan –kan mengandung makna gramatikal.

Morfologi dalam kata kerja transitif dan taktransitif juga harus dipahami. Kata kerja bentuk me- yang membutuhkan objek disebut kata kerja transitif, contoh: membaca buku. Adapun kata yang sudah sempurna tanpa objek disebut kata kerja taktransitif. Umumnya, kata kerja tak transitif cenderung menyatakan keadaan daripada kerja. Misalnya:
Saya tak biasa merokok (taktransitif)
Ayah selalu merokok kretek (transitif)

Awalan me- apabila dihubungkan kata dasar, terjadi variasi bentuk, seperti me-, mem-, meng-, meny-, tergantung fonem awal kata dasar yang dilekatinya. Selain mengalami alternasi seperti ini, awalan me- juga mengalami kombinasi (yang produktif) dan berbagai variasi. Bentuk-bentuk imbuhan yang berasal dari sejumlah bahasa daerah juga diuraikan. Sebagaimana penulis menguraikan perbedaan imbuhan me- dengan ber-, ter- dengan di-, ke-an dengan pe-an, awalan se-, serta akhiran –an dan –i. Banyak lagi bentuk-bentuk morfologi lain yang diuraikan jelas oleh J.S Badudu.
Dalam bab keenam, diuraikan beberapa kata saja yaitu: kata kerja, kata ganti orang, kata ganti penghubung, kata sambung, dan kata depan. Pertama, dibahas mengenai kata kerja dalam bahasa Indonesia yang menurut St. Muh. Zain: “Adapun yang dinamai kata kerja yaitu kata yang menjadi jawab pertanyaan: Mengapa seseorang atau sesuatu? Atau diapakan dia? Misalnya: Si A makan, berjalan, melompat, dipukul. Segala perkataan makan, berjalan, melompat, dipukul itu masuk kata kerja.”

Sedangkan Gorys Keraf dalam buku Tatabahasa Indonesia memakai dua prosedur untuk menentukan apakah sepatah kata termasuk ke dalam kategori tertentu, yaitu: melihat dari segi bentuk, sebagai prosedur pencalonan, dan melihat dari segi kelompok kata (frase) sebagai prosedur penentuan. Kata kerja banyak macamnya, ada kata kerja gabung, kata kerja bantu, kata kerja aus, dan kata kerja bentuk persona.

Mengenai kata ganti orang, ada tiga macamnya: kata ganti orang pertama (si pembicara), kata ganti orang kedua (lawan berbicara atau orang yang diajak berbicara), dan kata ganti orang ketiga (orang yang dibicarakan). Masing-masing terbagi pula atas tunggal dan jamak. Seperti yang telah lazim kita gunakan, kata tunggalnya adalah aku, engkau, dan ia (dia). Sedangkan kata jamaknya adalah kami/kita, kamu, dan mereka. Ada juga kata ganti orang yang tak sebenarnya, yaitu kata-kata nama benda yang dipakai menggantikan kata ganti orang sebenarnya itu, misalnya bapak, kakek, abang, nyonya, oom, dan sebagainya yang dalam bahasa tutur menjadi sangat hidup.

Berikutnya ada kata sambung yang dipakai untuk merangkaikan kalimat dengan kalimat. Ada yang menghubungkan kalimat-kalimat setara dan ada pula yang menghubungkan kalimat-kalimat tidak setara. Kata sambung dalam fungsinya yang pertama (menghubungkan kalimat setara) contohnya adalah dan, lalu, bahkan, begitu pula, tetapi, dan oleh karena itu. Sedangkan kata sambung yang menghubungkan kalimat-kalimat bertingkat menurut sifat hubungan (relasi) antara induk dengan anak kalimatnya, dibagi menjadi delapan jenis:
1. relasi waktu (temporal), contohnya: ketika, semenjak, setelah
2. relasi sebab (kausal), contohnya sebab, karena, lantaran
3. relasi syarat (kondisional), contohnya jikalau, andaikata, apabila
4. relasi tujuan (final), contohnya supaya, untuk, bagi
5. relasi perlawanan (konsesif), contohnya: meskipun, walaupun
6. relasi keadaan (sirkumstansial), contohnya seraya, dengan, tanpa
7. relasi perbandingan (komparatif), contohnya seperti, sebagai, daripada, kian
8. relasi akibat (konsekutif), contohnya sehingga, sampai, maka

Kemudian ada kata depan yang sangat beragam macam dan fungsinya dalam bahasa Indonesia. Termasuk juga sejumlah kata sambung dan kata depan menjadi salah digunakan sehingga menjadi bentuk yang cenderung pleonastis.

Mengenal Dunia Wawancara

Kegiatan jurnalistik sebetulnya bermula dari kebutuhan dan naluri kita sebagai manusia, yaitu naluri ingin tahu dan naluri ingin memberitahukan. Dalam perkembangannya, kedua naluri ini disahkan menjadi hak asasi manusia (HAM) yang diakui secara universal. Kedua hak ini dikenal sebagai right to know and right to inform.

Pada tahun 1948 PBB sepakat memproklamasikan kedua hak tersebut dalam pasal 19 Deklarasi Universal Hak-hak Manusia. Di dalamnya dinyatakan bahwa setiap orang: berhak berpendapat, bebas mengeluarkan/menyatakan pendapat, bebas memiliki pendapat tanpa campur tangan orang lain, serta bebas mencari, menerima, menyampaikan informasi dan pendapat dengan cara apapun, tanpa memandang batas-batas. Selain diakui secara internasional, right to know and right to inform juga diatur dalam pasal 4 ayat 3 UU no. 40/1999 tentang pers. Dalam pasal 28F dinyatakan bahwa untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memeroleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. Pasal 6 UUP juga menegaskan peranan pes nasional, sebagai berikut:
1. Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui
2. Menegakkan nilai-nilai demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan HAM, serta menghormati kebhinekaan.
3. Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar.
4. Melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum
5. Memperjuangkan keadilan dan kebenaran

Secara sosiologis, hak personal ”to know and to inform” didelegasikan kepada profesi wartawan. Masyarakat menyerahkan mandat kepada wartawan untuk merealisasikan hak-haknya. Oleh karena itu wartawan harus konsekuen dan konsisten melaksanakan isi mandat tersebut. Selain itu, wartawan harus rajin bertanya kepada siapa saja yang dianggap relevan (people trail). Bertanya dalam konteks jurnalisme disebut wawancara, yang juga merupakan salah satu kegiatan pokok wartawan. Melalui wawancara, wartawan bisa memeroleh berbagai fakta. Earl English dan Clarence membagi dua jenis fakta. Pertama, fakta/realita sosiologis yaitu peristiwa yang sungguh-sungguh telah terjadi. Kedua, fakta/realita psikologis yaitu sesuatu yang sungguh-sungguh benar. Artinya, sungguh-sungguh telah dinyatakan oleh nara sumber. Pernyataan nara sumber biasanya diperoleh melalui wawancara.

Fakta atau realitas ini tak boleh dicemari karangan atau opini wartawan. Dalam Kode Etik Jurnalistik 2006 pasal 2 ayat d, ditegaskan bahwa wartawan harus menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik, termasuk menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya. Stewart Robertson dan George Fox Mott dalam buku mereka, New Survey of Journalism menuliskan, “Berita adalah pencatatan informasi yang paling menarik, paling penting dan paling cermat yang dapat diperoleh tentang segala apa yang dipikirkan dan dikatakan, dilihat dan digambarkan, direncanakan dan dikerjakan orang.” Ini juga berarti bahwa berita tak mesti berisi laporan mengenai realitas sosiologis, tetapi bisa juga berisi pernyataan narasumber (realitas psikologis).

Khalayak media massa saat ini semakin kritis dan tak puas bila wartawan melaporkan suatu peristiwa hanya berdasarkan unsur-unsur apa, siapa, di mana, dan kapan. Mereka juga ingin tahu bagaimana pendapat para tokoh mengenai peristiwa tersebut. Itulah sebabnya kedua jenis fakta tersebut boleh digabungkan, asal tidak dicampuradukkan dengan opini, imajinasi, dan simpulan wartawan sendiri. Seperti yang telah dinyatakan dalam pasal 3 Kode Etik Jurnalistik 2006, ”Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara seimbang, tidak mencampurkan fakta dengan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.”

Selain fakta, yang juga harus diperhatikan wartawan adalah nilai berita. Artinya, ia harus tahu realitas psikologis dan sosiologis yang benar-benar layak disiarkan, yaitu yang memiliki nilai berita tinggi. Karena tidak semua fakta yang diperoleh wartawan dibutuhkan khalayak. Tak semua fakta yang memiliki nilai berita tinggi layak disiarkan atau diterbitkan. Ada beberapa aspek yang dijadikan acuan untuk menentukan nilai berita suatu fakta: penting (significance), kedekatan (proximity), aktualitas (timeliness), ukuran (magnitude), ketenaran (prominance), konflik, seksualitas, emosi atau naluri (human interest), sesuatu yang luar biasa atau aneh, akibat atau konsekuensi, kemajuan, mukjizat atau peristiwa ajaib, serta tragedi atau bencana.

Teknik pencarian fakta oleh wartawan tergantung kepada jenis peristiwa/fakta yang diburu. Ada kejadian yang tak disangka-sangka maupun yang telah direncanakan. Selain itu ada pula realitas sosiologis yang jarang menarik perhatian wartawan, yakni yang berupa ”peristiwa diam” atau fakta laten, seperti gejala sosial dalam masyarakat. Dalam ”perburuan” fakta, wartawan dapat mengamati langsung secara pasif maupun aktif. Tinggi-rendahnya kualitas berita yang didapatkan wartawan sangat berpengaruh kepada kekayaan intelektual dan emosionalnya, maupun kekayaan sosial dan rohaniahnya. Istilahnya: kekayaan objek sangat ditentukan oleh kekayaan subjek.

Karena keterbatasan panca indera wartawan, maka untuk memperkaya laporannya ia harus melakukan wawancara. Melalui wawancara wartawan dapat menangkap fakta yang tak teramatinya, seperti latar belakang suatu peristiwa, kisah nyata, pengalaman, komentar, harapan, dan sebagainya dari orang yang diwawancarai. Wawancara tak selalu harus bertanya, namun bisa juga melontarkan pernyataan yang bagus dan provokatif, yang bisa memancing tanggapan nara sumber.

Dilihat dari segi tujuan, dalam wawancara kita mengenal beberapa jenis pertanyaan, antara lain sebagai berikut:
1. Pertanyaan informatif, adalah pertanyaan yang bertujuan meminta informasi/keterangan tentang suatu fakta
2. Pertanyaan konfirmatif, adalah pertanyaan yang bertujuan meminta pembenaran atau penegasan dari sumber berita
3. Pertanyaan verikatif, bertujuan meminta pemeriksaan atau pengecekan tentang kebenaran laporan kepada sumber berita
4. Pertanyaan sugestif, adalah pertanyaan untuk meyakinkan atau memengaruhi nara sumber bahwa ia sependapat dengan sang wartawan
5. Pertanyaan provokatif, bertujuan memancing nara sumber untuk menyatakan sesuatu yang diharapkan wartawan. Pertanyaan ini seringkali menjebak narasumber.

Pewawancara harus cermat dan tepat memilih pertanyaan. Kualitas jawaban terwawancara sangat ditentukan oleh kualitas pertanyaan pewawancara. Menurut penulis, ciri-ciri pewawancara yang profesional antara lain:
1. Memiliki wawasan yang sangat luas
2. Memiliki rasa ingin tahu yang besar
3. Mampu berbahasa dengan baik (fasih) sesuai bahasa yang dipahami terwawancara
4. Tidak mewawancarai dengan kepala kosong. Artinya, sebelum berwawancara ia harus belajar tentang topik yang akan diperbincangkan
5. Menyadari statusnya sebagai pemegang mandat masyarakat, maka ia selalu berusaha untuk mewujudkan isi hak tahu dan memberitahukan khalayak medianya.
6. Bersikap kritis dan skeptis terhadap ucapan terwawancara. Wartawan boleh mendebat terwawancara bila ia kurang yakin akan kebenaran ucapan terwawancara.
7. Mampu memosisikan diri sejajar dengan terwawancara
8. Tidak angkuh dan sok tahu
9. Berlaku sopan dan hormat
10. Tidak menginterogasi terwawancara
11. Mampu berempati terhadap terwawancara
12. Mengetahui dan menaati Kode Etik Jurnalistik, khususnya pasal 7 Kode Etik Jurnalistik 2006, yang berbunyi, ”Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi nara sumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan off the record sesuai dengan kesepakatan.”

Teknik Penulisan Berita Langsung dan Berita Khas

I. Berita Langsung
Menurut AS Haris Sumadiria dalam bukunya Jurnalistik Indonesia, straight news adalah laporan langsung mengenai suatu peristiwa. Biasanya, berita jenis ini ditulis dengan unsur-unsur yang dimulai dari what, who, when, where, why, dan how (5W+1H). Sedangkan berita khas disebutnya sebagai feature story. Dalam feature, penulis mencari fakta untuk menarik perhatian pembacanya, sebagai menu penunjang media massa.

Berita langsung mengejar aktualitas dan kepentingan, sedangkan feature mementingkan segi menarik atau tidaknya suatu tulisan. Oleh karena itu, berita langsung harus menggunakan struktur piramida terbalik, di mana fakta-fakta disusun berdasarkan tingkat kepentingannya. Demikian pembahasan mengenai straight news dalam buku Jurnalistik Indonesia yang entah mengapa jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan pembahasan mengenai feature.

Asep Syamsul M. Romli dalam buku Jurnalistik Terapan mendefinisikan berita langsung sebagai laporan peristiwa yang ditulis secara singkat, padat, lugas, dan apa adanya. Berita langsung bersifat kering, tanpa dibumbui subjektivitas wartawan. Berita langsung dibagi menjadi dua jenis: hard news dan soft news. Perbedaannya, aktualitas dan kepentingan soft news berada setingkat di bawah hard news.

Sebuah berita harus mencakup fakta dan data sebuah peristiwa, dan mengandung unsur-unsur 5W+1H. Dalam straight news, teknik penulisan yang lazim digunakan berbentuk piramida terbalik, yaitu berdasarkan tingkat kepentingannya. Struktur ini memungkinkan efisiensi waktu bagi pembaca, yang bisa langsung mengetahui inti berita melalui paragraf pertama. Bentuk ini juga memudahkan editor untuk melakukan cutting naskah jika space yang tersedia tidak cukup untuk memuat seluruh bagian berita.
Komposisi tulisan terdiri dari empat bagian: headline (judul berita), dateline (waktu dan tempat), lead (teras berita), dan news body (isi berita). Semua unsur ini kunci penulisannya terdapat pada rumus 5W+1H. Tetapi ada juga lead non 5W+1H, seperti lead kesimpulan, lead berita pernyataan, lead kutipan, lead kontras, dan lead jeritan. Sebelum menulis unsur-unsur ini, wartawan harus menentukan sudut pandang terlebih dahulu terhadap sebuah peristiwa. Penentuan angle memudahkan tahap-tahap selanjutnya.

Buku Jurnalistik: Teori dan Praktik karya Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat memuat sebuah ungkapan menarik, yaitu jurnalisme sebagai “literature in a hurry”, kesusastraan yang terburu-buru. Teknik-teknik penulisan berita –terutama berita langsung- memang mengacu pada kecepatan ini, namun tetap harus dibuat semenarik mungkin. Hikmat dan Purnama juga masih menggunakan struktur penulisan berbentuk piramida terbalik sebagai acuan penulisan straight news, seperti yang tertulis dalam literatur jurnalistik lainnya. Lead, yang mampu mencerminkan keseluruhan isi berita menjadi perhatian utama dalam piramida ini,.

Meskipun lead memiliki sejumlah keuntungan praktis, justru lead itulah bagian tersulit dalam menulis berita. Karena lead harus dibuat semenarik mungkin, atau pembaca tidak akan tertarik untuk mengikuti sampai habis. Selain menarik, lead juga harus cukup jelas dan ringkas. Ada beberapa jenis lead menurut buku ini: lead menonjok, lead deskriptif, lead kontras, lead bertanya, lead kutipan, lead kepenasaran kumulatif, lead berurutan, lead parodi, lead epigram, lead tersendat-sendat, lead ledakan, lead dialog, dan lead sapaan.

Setelah lead, ada proses penyusunan fakta-fakta secara logis, yang mengemukakan isi berita. Pengaturan materi berita secara kronologis ini memungkinkan pembaca memahami inti berita tanpa ada distorsi dalam menafsirkan arti berita secara keseluruhan. Singkatnya, tubuh berita berfungsi menguraikan ide-ide pokok dalam lead, serta menambahkan atau menguatkan hal-hal kurang penting yang tidak diungkapkan dalam lead.

Untuk gaya penulisan, ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan, agar fakta yang kita sampaikan bisa lebih jelas dan rinci, diantaranya: tulisan harus spesifik, (termasuk identitas orang, nama tempat, dan istilah), penggunaan kalimat aktif dan pasif harus tepat, alinea dibuat pendek.

Kemudian, angka di awal kalimat juga patut dihindari, memperhatikan ejaan, susunan kalimat, dan tata bahasa. Unsur-unsur yang diperlukan untuk tulisan yang efektif adalah: kecermatan dan organisasi dalam berita, diksi dan tata bahasa yang tepat, prinsip hemat, serta daya hidup (vitalitas), warna, dan imajinasi dalam berita tersebut.

Buku Teknik Penulisan Feature karya Andi Baso Mappatoto juga sedikit menyinggung straight news yang disebut juga berita lempang. Berita lempang adalah laporan tentang peristiwa fisik dan intelektual, misalnya bencana alam dan pendapat seseorang yang aktual, dan ditulis menurut rumus wajib 5W+1H dengan struktur piramida terbalik. Berita lempang dilaporkan secepat dan seobyektif mungkin dan hanya memiliki fungsi informatif mengingat isinya yang singkat-padat-jelas.

II. Berita Khas
Cara penyajian feature menggunakan gaya penulisan berkisah dan humor, tidak mengutamakan aktualitas dan pentingnya informasi yang disajikan. AS Haris Sumadiria mendefinisikan feature sebagai cerita khas kreatif yang berpijak pada jurnalistik sastra tentang suatu situasi, keadaan, atau aspek kehidupan, dengan tujuan untuk memberikan informasi dan sekaligus menghibur khalayak media massa.

Penulisan feature tidak tunduk kepada kaidah pola piramida terbalik dengan rumus 5W+1H atau cara penyusunan pesan secara deduktif seperti halnya straight news. Tapi bukan berarti kita boleh mencampurkan fakta-fakta dalam feature dengan cerita fiktif, karena karya feature pun tetap harus mengandung semua unsur yang terdapat dalam 5W+1H. Perbedaannya, feature disajikan melalui gaya bertutur kisah yang kreatif informal.

Kekhasan sifatnya inilah yang membuat kedudukan feature sangat penting di media massa. Fungsinya: sebagai pelengkap sekaligus variasi berita langsung, memberikan informasi serta nilai dan makna suatu peristiwa atau keadaan, penghibur dan pengembang imajinasi, dan sebagai sarana ekspresi paling efektif dalam memengaruhi khalayak.

Septiawan Santana, seperti dikutip Haris mengungkapkan bahwa feature memiliki empat ciri utama. Yang pertama adalah penyusunan adegan, di mana laporan disusun menggunakan teknik bercerita adegan demi adegan, membawa pembaca ke dalam situasi tersebut. Kedua, dengan mencatat dialog utuh untuk menampilkan karakter para tokoh yang terlibat, sekaligus memancing keingintahuan pembaca. Selanjutnya, jurnalis bisa menulis melalui sudut pandang orang ketiga. Pembaca dilibatkan, diajak berada dalam setiap situasi emosi dan pengalaman yang terjadi. Keempat, penulis perlu mencatat detail seperti kebiasaan, pakaian, makanan, serta pandangan-pandangan lain yang bersifat sekilas.

Sebagai sebuah cerita objektif yang menarik bagi pembaca, feature dibangun dengan berpijak kepada unsur-unsur pokok, meliputi: tema, sudut pandang, karakter, plot, gaya, suasana, dan lokasi peristiwa. Sama seperti unsur-unsur yang terdapat dalam cerita pendek. Bedanya, kalau cerpen mengangkat realitas fiktif imajinatif, maka feature menceritakan realitas faktual objektif.

Feature memiliki susunan rangka cerita yang terdiri atas tiga bagian: pembukaan, penceritaan, dan penutup. Berbeda dengan straight news yang menggunakan pola piramida terbalik, feature tidak kaku harus ditulis demikian. Menulis feature berarti berkisah, dan itu menuntut kreativitas. Bagian penutup sama pentingnya dengan bagian intro maupun isi, tergantung bagaimana penulis dapat mengemasnya.
Topik harus dibuat semenarik mungkin, sebagai titik awal keberangkatan ide penulis. Setelah menentukan topik, penulis bisa memulai tulisan dengan sebuah intro. Intro sama dengan lead, paragraf pertama dalam straight news yang berfungsi mengail pembaca. Jika pembaca sudah tertarik pada intro, bisa dipastikan ia akan penasaran untuk melanjutkan bacaannya hingga selesai. Intro harus dibuat ringkas, namun tetap segar dan bernyawa. Begitupun halnya dengan penutup.

Menurut Asep Syamsul M. Romli dalam buku Jurnalistik Terapan, feature adalah jenis tulisan di media massa yang memfokuskan pada segi (angle) tertentu sebuah peristiwa dan menonjolkannya. Sifat tulisannya lebih bersifat menghibur dan menjelaskan masalah daripada sekadar menginformasikan. Ia banyak mengungkapkan unsur how dan why sebuah peristiwa sehingga mampu menyentuh sisi human interest. Karena itulah feature berumur panjang. Feature termasuk dalam aliran “New Journalism”, yaitu teknik penulisan karya jurnalistik bergaya sastra, memerlukan gabungan dari keterampilan laporan interpretatif dengan teknik penulisan karya fiksi.

Feature memiliki enam sifat pokok: faktual, menerangkan masalah (bukan melaporkan dengan segera), berumur panjang, mengandung segi human interest, mengandung unsur sastra, dan menggunakan lead atraktif. Ada sepuluh jenis feature, yang memiliki daya tarik dan kekhasannya masing-masing, yaitu: bright, feature berita, feature artikel, feature biografi (profil), feature human interest, feature pengalaman pribadi, feature perjalanan atau petualangan, feature sejarah, feature promosi, dan feature petunjuk praktis.

Mengenai feature, buku Jurnalistik: Teori dan Praktik karya Hikmat dan Purnama Kusumaningrat menyebutnya sebagai bukan sekadar berita faktual, melainkan berita yang dibuat semenarik mungkin dengan dibubuhi sentuhan perasaan manusia. Feature dimuat bukan karena penting, tapi karena menarik. Jenis-jenis berita yang lazim disebut feature: berita human interest sederhana, berita hari kedua (sidebars), berita feature, berita latar belakang (interpretatif), dan berita berwarna. Berita human interest paling sering digunakan sebagai feature. Disebutkan juga pentingnya memberikan warna kepada berita, sebagai bumbu yang menjadikan berita itu lebih berkesan di hati pembaca.

Jika penulisan straight news menggunakan prinsip piramida terbalik, maka penulisan feature, menurut Asep M. Romli, menggunakan prinsip kerucut terbalik. Ia tidak harus menempatkan fakta terpenting di bagian awal. Komposisinya: head (judul), lead (teras, intro), bridge (jembatan antara lead dan body), body (isi tulisan), ending (penutup).

Judul berita dan lead harus dibuat semenarik mungkin. Dalam buku ini juga disebutkan macam-macam lead, kebanyakan sama saja seperti yang diuraikan dalam buku lain, tapi ada juga yang berbeda: teras analogi, teras kalimat pendek, teras figuratif, teras literer, teras pasak, teras tiruan bunyi, teras dialog, teras filosofis, dan teras kumulatif. Sebuah cerita feature mendorong terciptanya suatu penyelesaian, klimaks, atau akhir cerita. Oleh karena itu, ekor sebuah feature pun tak boleh diremehkan. Sebuah penutup yang menarik akan meninggalkan kesan mendalam bagi pembaca.
Buku Teknik Penulisan Feature karya Andi Baso Mappatotto, seperti judulnya, secara khusus membahas mengenai feature. Ia mendefinisikan feature dengan begitu panjang dan rumit, yaitu: karangan lengkap nonfiksi bukan berita lempang dalam media massa yang tak tentu panjangnya, dipaparkan secara hidup sebagai pengungkapan daya kreativitas kadang-kadang dengan sentuhan subyektivitas pengarang terhadap peristiwa, situasi, aspek kehidupan, dengan tekanan pada daya pikat manusiawi untuk mencapai tujuan memberitahu, menghibur, mendidik, dan meyakinkan pembaca.

Ada beberapa teknik yang harus diperhatikan dalam menulis feature. Pertama gaya tuturan cerita. Pada dasarnya penulis feature adalah penutur cerita yang mampu menggunakan imajinasi, kreativitas, serta kemahiran berbahasanya untuk membangkitkan keingintahuan pembaca, memainkan emosi mereka. Untuk bisa membuat feature yang menyentuh, persiapannya dimulai dari sebelum menulis.

Sebelum menulis, penulis feature harus peka terhadap keadaan di sekitarnya. Mungkin hal-hal tidak penting, seperti pasar kaget, sopir mikrolet yang sudah tua renta, orang kaya mendadak, dan sebagainya. Bagaimana ia mengangkat sisi lain dari peristiwa yang biasa menjadi karangan bernilai. Banyak cara untuk memeroleh bahan karangan, seperti dengan observasi dan wawancara. Setelah itu, bahan-bahan yang sudah didapat ditelaah kembali, untuk kemudian menentukan topik dan gagasan sentral.
Gagasan sentral yang dirumuskan dalam satu kalimat disebut teras (lead) yang kemudian akan diuraikan sebagai tubuh. Andi Baso Mappatoto menyatakan bahwa lead adalah jiwa-raga karangan. Gagasan sentral ini selalu ditulis dengan kalimat generatif yang menarik perhatian. Menarik-tidaknya sebuah lead dikembalikan lagi kepada nilai-nilai berita, seperti kebaruan, kedekatan, dan keanehan. Tema perlu diukur dari kesatuannya (unity), rincian (development), dan keaslian (originality).
Tubuh karangan sendiri baiknya dituturkan dengan urutan yang tertib, masuk akal, dengan gaya cerita yang menurut bentuk piramida atau piramida terbalik, segi empat, atau struktur kronologis. Kalau teras diibaratkan “jiwa-raga” karangan, maka tubuh layaknya setelan baju dan aksesori yang mencerminkan keadaan jiwa-raga. Beberapa pola paragraf yang digunakan untuk menjaga ketertiban susunan karangan di antaranya: tematik, spiral, dan blok. Karangan dapat disusun berdasarkan susunan waktu (kronologis), susunan kronologis, susunan dari umum ke khusus, dan susunan dari khusus ke umum.

Karangan harus diakhiri dengan tulisan penutup, yang mengisyaratkan bahwa karangan sudah lengkap. Bantuk-bentuk penutup di antaranya: ringkasan, klimaks, tanpa akhir, dan penutup yang menyengat. Semua bagian ini perlu dikemas dalam gaya bahasa yang mengalir secara alamiah, segar dan hidup. Koherensi, kohesi, dan kesatuan karangan juga harus dijaga untuk memelihara perhatian pembaca.
Betuk-betuk karangan khas yang diuraikan dalam buku ini, tak berbeda dengan buku lain: news feature/sidebars, sejarah, perayaan, sosok pribadi, human interest, latar belakang, pembuka tabir, dan feature perjalanan. Selain itu, ada juga kelompok feature argumentasi, diantaranya: karangan ilmu pengetahuan populer, berita analisis, laporan mendalam, serta tuntunan keterampilan.

Buku Seandainya Saya Wartawan Tempo lebih menarik lagi. Sebagai sebuah majalah feature terkemuka di Indonesia, kredibilitas Tempo tercermin lewat buku ini. Buku karya Goenawan Mohamad ini merupakan adaptasi dari buku Feature Writing for Newspapers (Daniel R. Williamson). Buku ini berisi tips dan trik dalam membuat laporan berita yang menarik untuk media massa cetak, khususnya feature. Alih-alih memuat tips-tips keterampilan menulis yang bersifat menggurui, penulis justru menghidupkan imajinasi pembaca, membantu pembaca mengidentifikasikan diri sebagai wartawan sungguhan yang sedang melakukan reportase, menulis laporan, sampai ketika ia berhadapan dengan editor.

Dalam buku ini feature didefinisikan sebagai artikel yang kreatif, kadang-kadang subjektif, yang dimaksudkan untuk menghibur dan memberi informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan, atau aspek kehidupan. Dari pengertian di atas, ada sejumlah ide pokok yang menjadi unsur-unsur feature, yaitu: kreativitas yang menjadi modal awal reporter dalam “menciptakan” sebuah cerita. Kedua, emosi dan pikiran penulis dapat masuk dalam laporannya, kemudian harus informatif, dan menghibur. Tulisan feature bisa ditulis panjang, seperti umurnya yang juga panjang dan tidak mudah basi.

Semua tulisan dalam buku ini dikemas dalam bahasa jurnalistik feature yang segar. Satu catatan penting, feature tetap merupakan sebuah berita yang berlandaskan fakta, tidak boleh ada rekayasa. Oleh karena itu, akurasi, ketepatan pengumpulan informasi, pengejaan dan pemakaian kata, penggunaan buku pedoman, serta pengecekan ulang terhadap laporan adalah modal-modal penting penulisan yang dimaksud dalam bab ini.
Seorang wartawan penulis feature punya empat senjata yang biasa digunakan untuk menaklukkan pembaca yang kurang bersemangat. Pembaca yang sejak awal telah diidentifikasikan oleh penulis sebagai calon wartawan profesional, diminta menggerakkan empat hal pokok: fokus, deskripsi, anekdot, dan kutipan untuk menghidupkan lukisan kata-katanya. Selain empat senjata di atas, wartawan juga harus mampu mengembangkan kreativitasnya untuk bisa membuat feature dari sisi yang lebih menarik.

Buku Seandainya Saya Wartawan Tempo secara keseluruhan memang lebih banyak membahas mengenai feature, dan dibandingkan dengan buku-buku lain, bagi saya, buku ini juaranya. Teknik penulisan feature tak hanya dijabarkan melalui teori-teori, tetapi keseluruhan isi buku ini ditulis menggunakan gaya bertutur yang menarik, seperti halnya feature.

Minggu, 26 Oktober 2008

You C 1000

Seorang teman pernah bercerita tentang kejadian lucu yang ia alami gara-gara masalah pelafalan “You C 1000”. Suatu hari, ia sedang berada di rumahnya di Cimahi, dan ia ingin membeli minuman vitamin C, You C 1000. Ia pun pergi ke warung dekat rumahnya. Sesampainya di warung, ia berkata kepada si ibu penjaga warung, “Ibu punten, mau beli You C 1000 (baca: yu si wan tauzen), ada nggak?” Lalu sang ibu berkata, “Mangga Neng, sok ningali tah di handap,” ujarnya sambil menunjuk ke etalase tempat bedak dan berbagai alat kosmetik dagangannya dipajang. Teman saya heran, ia melihat ke etalase, tapi tentu saja minuman yang ia maksud tak ada di antara produk-produk kosmetik itu. “Nggak ada Bu…” ujarnya. Ibu itu lalu bertanya lagi, “Naon sih Neng?”, “You C 1000 Bu, botol koneng, alit, biasana mah dina kolkas eta Bu…” ujarnya sambil menunjuk sebuah lemari es tempat berbagai merk minuman dingin diletakkan. Ibu penjaga warung itu berpikir sebentar, lalu ia seperti baru menyadari sesuatu dan berseru, “Oooh …CE SAREBU, Neng? Aih, si Eneng mah yu-si yu-si naon…ibu teu ngarti! CE SAREBU, kitu Neng!” Teman saya hanya bisa bengong dan berpikir, “Kok jadi aku yang salah ya?”

Sop Paniki


Enam tahun yang lalu, saya dan keluarga berwisata ke Manado, Sulawesi Utara. Bukan hanya berwisata ke tempat-tempat indah seperti Danau Tondano dan Taman Laut Bunaken, kami juga gemar berwisata kuliner. Kami mencoba berbagai makanan khas Manado seperti bubur Manado, ikan cakalang, dodol gula aren, dan banyak lagi makanan yang belum pernah kami coba sebelumnya.

Hingga suatu hari kami melihat sebuah warung makan yang tidak terlalu besar namun sangat ramai pengunjungnya. Di depannya tertulis huruf besar-besar: “SEDIA SOP PANIKI”. Dan memang ternyata menu favorit disana adalah “Sop Paniki” tersebut. Dalam pikiran kami, jika pengunjungnya ramai, makanan disana pasti harganya terjangkau dan enak, khususnya “Sop Paniki” tadi, si menu favorit. Wah, kami semakin penasaran saja, seperti apa ya kira-kira “Sop Paniki” ini?

Dari luar, sudah tercium harum masakan yang menggoda selera, seperti aroma daging asap yang lezat. Karena penasaran, kami pun memutuskan untuk makan di warung ini. Kami baru akan masuk ketika saya iseng-iseng mengintip ke dapurnya (yang memang agak terbuka), dan saya melihat banyak kelelawar besar –beserta sayapnya- digantung di atas tungku api, dan beberapa warnanya sudah menjadi kemerahan setengah matang.

Astaga….ternyata inilah sumber aroma daging asap yang lezat itu! Wah, jangan-jangan “paniki” itu…..kelelawar! Berarti sop paniki itu adalah sop kelelawar?! Oh, tentu saja saya tidak mau makan kelelawar! Saya segera memberitahukan hal itu kepada ayah, beliau pun langsung menanyakan kepada pelayan disitu, apa benar “paniki” itu berarti kelelawar? Ia lalu membenarkan bahwa “paniki” dalam bahasa Manado berarti kelelawar. Nafsu makan kami lenyap seketika. Sejak itulah, kami lebih berhati-hati sebelum membeli makanan, khususnya di daerah yang bahasa dan kebudayaannya berbeda dengan kami orang Jawa.

Senin, 13 Oktober 2008

Si Cantik Asli Sumedang


Jatinangor, sebuah kota kecil di perbatasan Bandung-Sumedang yang kini mulai tumbuh menjadi sebuah “Kota Baru”. Dengan dibangunnya beberapa institusi perguruan tinggi di kota ini, banyak mahasiswa pendatang yang secara tidak langsung telah membawa arus modernisasi dari dari daerah asal mereka masing-masing. Namun siapa sangka di tengah arus modernisasi yang begitu keras menerpa Jatinangor, ternyata masih ada sekeping mitos rakyat yang masih sangat populer bagi penduduknya.

Siapa tak kenal Gunung Geulis? Gunung yang satu ini memang bisa dibilang trademark-nya kota Jatinangor. Memasuki Kecamatan Jatinangor, kita sudah disambut dengan hijaunya Gunung Geulis yang menjulang. Gunung ini memang merupakan puncak tertinggi di Kecamatan Jatinangor, yakni setinggi 1.281 m di atas permukaan laut, sehingga tak heran jika banyak mahasiswa yang kos di Jatinangor tertantang untuk mendakinya.

Konon, di puncak Gunung Geulis terdapat sebuah makam seorang wanita bernama Putri Geulis, yang konon merupakan wanita paling cantik pada masanya. Makam itu berada tepat di puncak gunung, dan dinaungi dua pohon besar yang bisa terlihat jelas dari kota Jatinangor. Ada yang mengatakan bahwa Putri Geulis adalah istri dari seorang prabu (raja) penguasa Jatinangor zaman dahulu kala. Sebenarnya nama aslinya bukan Putri Geulis, namun karena kecantikannya maka rakyat memanggilnya dengan julukan Putri Geulis, yang berarti „Putri Cantik“. Suatu saat, sang putri cantik meninggal dunia karena sakit yang tak kunjung sembuh. Sang Prabu sangat terpukul atas kepergian istri tercintanya. Karena cintanya yang begitu besar, ia ingin sang istri dimakamkan di tempat tertinggi di Jatinangor yaitu di puncak gunung. Kemudian Sang Prabu pun mengabadikan nama istrinya sebagai nama gunung tempat ia dimakamkan, maka jadilah gunung itu dinamai Gunung Geulis. Nama yang sangat sesuai dengan kecantikannya.

Dari kisah tersebut, bisa dikatakan bahwa Gunung Geulis ini merupakan simbol cinta kasih yang abadi, seperti halnya Taj Mahal di India. Menurut informasi yang kami dapatkan, ternyata banyak juga orang yang mendaki Gunung Geulis dan bersemedi di makam Putri Geulis untuk meminta jodoh. Mungkin hal ini juga berkaitan dengan cerita cinta Sang Prabu dengan Putri Geulis.

Seperti halnya mitos-mitos di daerah lain, mitos ini pun hanya berdasarkan cerita dari mulut ke mulut masyarakat Jatinangor, sehingga memang terdapat beberapa versi berbeda. Ada juga yang mengatakan bahwa itu merupakan makam seorang gadis cantik bernama Geulis yang meninggal karena diperkosa lalu dibunuh. Lain lagi yang dikatakan Mang Tukang Somay di POMA, ”Sebenernya saya gak begitu tahu tentang nama ’geulis’nya, tapi setahu saya memang ada makam disana, tapi makamnya Pangeran. Pangeran kayak Pangeran Diponegoro gitu lah, meninggalnya waktu zaman penjajahan Belanda,”

Apapun versi cerita yang beredar di masyarakat Jatinangor mengenai Gunung Geulis serta misteri makam di puncaknya, yang jelas ini merupakan suatu daya tarik tersendiri, berkaitan dengan kebudayaan dan pariwisata Kota Jatinangor. Sebenarnya gunung cantik ini sangat potensial dijadikan tujuan pariwisata. Apalagi ditambah dengan kisah Putri Geulis, yang bukan tak mungkin dapat membuat para wisatawan tertarik dan penasaran untuk mendakinya. Hendaknya pemerintah Sumedang dapat mencontek kesuksesan Gunung Tangkuban Parahu yang berhasil menarik minat wisatawan melalui legenda Sangkuriang-nya, atau Candi Prambanan di Jawa Tengah yang terkenal dengan kisah Roro Jonggrang-nya.

Gunung Geulis menawarkan sejuta pesona yang masih alami dan belum banyak terungkap. Tak ada salahnya bagi para mahasiswa pendatang yang bermukim di kaki gunung tersebut untuk sesekali menghilangkan kepenatan setelah seminggu penuh kuliah, dengan mendakinya. Apalgi rute pendakiannya pun terbilang mudah, cukup dengan mengikuti jalan setapak kita akan sampai tepat di puncaknya

Selama ini, sebagian besar mahasiswa selalu ke Bandung jika ingin melepas stres, padahal ke arah Sumedang –termasuk Gunung Geulis ini- juga tidak kalah menarik dengan Bandung. Justru di kota budaya ini kita bisa refreshing dan menemukan keindahan alam, yang memang sangat berbeda dengan hiruk-pikuk Bandung yang kini sudah menjelma menjadi kota metropolitan. (ken andari/berbagai sumber)

Selasa, 09 September 2008

Aku, Kuburan, dan Kematian

Agustus lalu, waktu liburan semester yang panjang, saya dikasih kesempatan sama Allah untuk menghabiskan sisa liburan di Jawa Timur. Saya punya banyak saudara di sana. Ada yang di Surabaya, Sidoarjo, Malang, dan Lawang. Saya juga menyempetkan ziarah ke makam Mbahkung, ayah bapak saya. Makamnya di Bangil.

Duh, sudah lama sekali saya nggak datang ke sana. Kalau tidak salah sudah 6 tahun lamanya saya nggak ziarah ke makam Mbahkung ini. Lewat cerita-cerita Bapak dan Mbah, saya ngerasa udah kenal beliau. Pasti beliau orang hebat, karena beliaulah yang mendidik Bapak saya yang sekarang saya tahu, he has a great personality.

Begitu sampai di makam, saya sedih menyaksikan makam Mbahkung dipenuhi sampah dan rumput-rumput liar, hampir menutupi nisannya. Kotor sekali. Berarti memang sudah lama tak ada yang ziarah ke sini. Setelah selesai dibersihkan, kami bersimpuh dan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an sembari berdoa, semoga Allah meringankan siksa kuburnya. Dalam hati, saya mengucap salam untuknya, “Assalamualaykum Mbahkung, ini Ken udah gede. Maaf sudah lama tidak datang.”

Diam-diam, mata saya berkaca-kaca. Saya sedih, melihat kondisi makam Mbahkung yang seperti tak terawat. Saya marah, mengapa sanak saudara yang tinggal lebih dekat seperti sudah lama sekali tak berziarah. Saya terharu, melihat kerinduan yang begitu mendalam di mata Bapak saat menatap nisan Mbahkung. Saya gemetar, mengingat suatu saat nanti kedua orang tua saya pun akan meninggalkan saya. Dan... saya takut mati.

Benar kata Rasulullah SAW, berziarah ke makam bisa mengingatkan kita akan kematian. Ya Allah, saya belum siap mati. Bagaimana jika saya tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Munkar dan Nakir? Akankah saya disiksa hingga Hari Kiamat? Bagaimana jika amal saya tak cukup untuk masuk surga? Bagaimana jika... suatu saat orang-orang melupakan saya? Apakah keluarga, anak saya pun, akan ingat mendoakan saya?

Di tengah lamunan, tiba-tiba Bapak berkata, “Jangan pernah lupakan... walau tinggal sebongkah tanah,” Itu saja. Bapak cuma bilang itu. Tapi kata-kata itu terus terngiang-ngiang di telinga saya hingga kini. Air mata saya hampir tumpah.

Kemudian saya teringat perkataan Mbah yang titp salam buat Mbahkung sebelum saya pergi. Katanya, “Nanti jangan lupa ya ziarah ke makam Mbahkung. Cara mbales budi ke orang tua itu cukup dengan silaturahmi. Mau masih hidup, atau udah mati orangnya, cukup silaturahmi. Kalau masih hidup ya datang ke rumah atau nelpon, nanyain kabar, ngobrol, cerita, makan masakannya, itu aja. Nggak, orang tua gak pernah mengharap uang, gak perlu rumah atau makam yang megah. Orang tua cuma perlu tahu kalau anak-anaknya selalu sayang mereka, selamanya. Pokoe selama masih ada umur, masih ada rejeki, jangan lupa silaturahmi. Yo, Nduk?”

Iya, Mbah. Ken nggak akan pernah lupa itu.