Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2010

Jurnalisme Sastrawi

Dalam dunia jurnalistik, dikenal tiga jenis berita: berita langsung (straight news), berita khas (feature news), dan berita mendalam (depth news). Berita langsung disajikan dengan gaya yang lugas, kering, hampir tak berwarna. Wartawan menjaga jarak dengan objek liputan, dan tidak memaknai berita yang ditulisnya. Adapun berita mendalam biasanya ditulis menggunakan gaya berkisah, berupa laporan paket yang terdiri dari beberapa judul tulisan. Ia bersifat multidimensional (komprehensif), mendalam, komparatif, historis, terinci, interpretatif, proyektif, dan tidak konklusif.

Dalam berita khas wartawan menyajikan sebuah peristiwa atau fakta menggunakan gaya berkisah yang menarik. Fakta-fakta disajikan dengan sikap kreatif dan subjektif wartawan. Ia dapat memaknai sebuah peristiwa atau fakta secara langsung atau tidak langsung, agar khalayak dapat melihat konteks dan maknanya. Pengemasan seperti ini menjadikan umur berita khas lebih lama.

Daniel R. Williamson dalam buku Feature Writing for…

Suatu Pagi, dari Jendela Kamarku

Gambar
Hari masih gelap ketika kokok ayam jantan membangunkanku dari tidur lelap. Pukul lima pagi. Pagi-pagi seperti ini Jatinangor masih dingin sekali, apalagi semalam turun hujan. Biasanya aku masih meringkuk di balik selimutku, dan baru terbangun pukul 7 nanti, saat hari sudah terang. Tapi kali ini aku tidak ingin tidur lagi. Aku ingin menikmati pagi yang dingin dan sepi ini dari jendela kamarku. Jendela yang terletak tepat di samping tempat tidur. Biasanya menjelang tidur malam aku akan mematikan lampu kamar sehingga kamar jadi gelap. Lalu aku akan membuka tirai jendela lebar-lebar, sehingga kerlip lampu-lampu kota akan tampak jelas, dan menemani aku pergi tidur. Dan pada pagi hari, mentari akan membangunkanku dengan sapaan sinar hangatnya.

Kamarku tempat aku tinggal saat ini adalah sebuah ruangan berukuran 4 x 5 meter, yang terletak di lantai dua dari asrama Pondok Kaca, Desa Cikeruh, Jatinangor. Aku baru tinggal di sini selama satu bulan.

Sambil masih duduk berselimut, aku buka tirai je…

Pengajaran Sastra untuk Sekolah Menengah

Gambar
“Wahh... kagak tau dah yang kayak begituan mahh...”

Begitulah reaksi Fahmi (16), siswa kelas 1 SMA Pasundan Tanjungsari ketika ditanya soal karya-karya sastra Indonesia klasik seperti “Harimau Harimau’ Mochtar Lubis dan “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya HAMKA. Ketika ditanya mengenai apa yang pelajari soal karya sastra di sekolah, ia dan kawannya serempak menjawab “Ya paling kayak puisi dan cerpen begitu kan? Belajarnya paling itu aja di sekolah.”

Pengetahuan remaja Indonesia saat ini mengenai karya-karya sastra, khususnya karya sastra Melayu klasik memang bisa dikatakan semakin minim. Mereka mungkin “pernah mendengar” istilah “angkatan 45” atau “Pujangga Baru”. Namun, mereka bisa jadi masih gelagapan ketika ditanya pendapat tentang karya H.B Jassin atau ketika diminta menceritakan kisah “Bumi Manusia” –nya Pramoedya Ananta Toer.

Hal seperti ini biasanya terjadi karena siswa di Indonesia tidak mendapatkan pelajaran sastra yang memadai saat di sekolah. Di samping masih mendompleng…