Jumat, 22 Oktober 2010

Jurnalisme Sastrawi

Dalam dunia jurnalistik, dikenal tiga jenis berita: berita langsung (straight news), berita khas (feature news), dan berita mendalam (depth news). Berita langsung disajikan dengan gaya yang lugas, kering, hampir tak berwarna. Wartawan menjaga jarak dengan objek liputan, dan tidak memaknai berita yang ditulisnya. Adapun berita mendalam biasanya ditulis menggunakan gaya berkisah, berupa laporan paket yang terdiri dari beberapa judul tulisan. Ia bersifat multidimensional (komprehensif), mendalam, komparatif, historis, terinci, interpretatif, proyektif, dan tidak konklusif.

Dalam berita khas wartawan menyajikan sebuah peristiwa atau fakta menggunakan gaya berkisah yang menarik. Fakta-fakta disajikan dengan sikap kreatif dan subjektif wartawan. Ia dapat memaknai sebuah peristiwa atau fakta secara langsung atau tidak langsung, agar khalayak dapat melihat konteks dan maknanya. Pengemasan seperti ini menjadikan umur berita khas lebih lama.

Daniel R. Williamson dalam buku Feature Writing for Newspapers (1975) menulis: “A feature story is a creative, sometimes subjective, article designed primarily to entertain and to informreaders of an event, a situation or an aspect of life.” Menurut Goenawan Mohamad dan Slamet Djabarudi, definisi Daniel mengandung empat hal pokok: kreativitas, subjektivitas, informatif, dan meghibur. Mereka juga mengungkapkan keunggulan lain feature news yaitu awet.

Riyono Pratikto dalam Kreatif Menulis Feature menegaskan, feature adalah suatu tulisan jurnalistik dengan semua dasar-dasar penyusunan karya jurnalistik. Yang membedakannya dengan berita langsung adalah, ia juga lazim disusun dengan dasar-dasar sastra. Apabila jurnalistik dan sastra masing-masing digambarkan sebagai dua lingkaran yang saling berpotongan, maka feature adalah daerah arsirannya.

Dalam in-depth reporting atau pelaporan mendalam, wartawan juga umumnya bisa menggunakan gaya berkisah layaknya feature. Bedanya, pelaporan mendalam tulisannya lebih panjang, karena sifatnya yang komprehensif, multidimensional, bahkan historis. Pelaporan mendalam biasanya berupa satu paket tulisan, terdiri dari beberapa tulisan pendek mirip feature. Dituturkan dengan gaya berkisah juga. Penulisan berita macam ini; dengan gaya menulis fiksi, juga dikenal dengan nama jurnalisme sastrawi. Apa itu jurnalisme sastrawi? Bagaimana awal mulanya?

Ada yang mengatakan, genre jurnalisme ini adalah jawaban media cetak terhadap serbuan televisi, radio, dan internet. Surat kabar tak bisa bersaing dengan media elektronik dalam hal kecepatan. Ia justru bisa berkembang bila menyajikan berita yang dalam dan analitis. Di mana sebuah berita dirangkai layaknya kisah dalam novel, inilah jurnalisme sastrawi.

Empat Alat Jurnalisme Sastrawi
1. Penyusunan Adegan
Laporan disusun menggunakan teknik bercerita adegan demi adegan, atau suasana demi suasana. Teknik pengisahan suasana demi suasana, membuat pembaca larut dalam kejadian yang tengah dilaporkan jurnalis baru. Untuk melaporkan suatu berita secara lengkap, kerja jurnalis harus lebih dari sekedar melaporkan fakta-fakta dan menyusunnya secara kronologis. Mereka harus melakukan pengamatan melebihi reporter biasa.

2. Dialog
Setiap orang pasti akan “berkata” atau “menyampaikan sesuatu”, dan apa yang dikatakannya bisa bernilai “berita”. Dengan teknik “dialog” ini, jurnalis sastra coba menjelaskan peristiwa yang hendak dilaporkannya. Bagaimana yang terjadi, itu yang disampaikan. Melalui percakapan pula, disiratkan karakter para pelaku yang terlibat, sekaligus diterangkan mengapa suatu peristiwa terjadi. Melalui dialog, jurnalis mencoba memancing rasa keingintahuan pembaca.

3. Sudut Pandang Orang Ketiga
Dengan alat ini, jurnalis baru tidak hanya pelapor, ia bahkan kerap menjadi tokoh berita. Ia bisa menjadi orang disekitar tokoh, karena ia harus berperan menjadi pelapor yang tahu jalannya berita. Sudut pandang bisa didapat dari orang yang diajak berdialog. Dalam pelaporan jenis ini, sudut pandang tidak hanya satu tetapi bisa sampai tiga. Orang ketiga bisa jadi tokoh utama dalam berita, tetapi bisa juga sebagai orang yang berada di sekitar kejadian dan tengah melaporkan hasil pengamatan jurnalistik.

4. Mencatat Detail
Semua hal dicatat dengan terperinci; yaitu perilaku, adat istiadat kebiasaan, gaya hidup, pakaian, dekorasi rumah, perjalanan wisata, makanan dan lain-lain. Jurnalisme diharuskan untuk lebih meriilkan realitas peristiwa-berita dan dengan kesungguhan menampilkan kenyataan yang murni dalam pelbagai segi.

Elemen jurnalisme sastra menurut Farid Gaban

1. Akurasi, membuat penulis kredibel.
2. Keterlibatan, memadu reporter untuk menyajikan detail yang merupakan kunci untuk menggugah emosi pembaca.
3. Struktur, tulisan harus mampu menggelar suasana, merancang irama dan memberikan impact yang kuat kepada pembaca.
4. Suara, dalam artian posisi penulis dalam tulisan tersebut.
5. Tanggung jawab, penulis harus mampu menampilkan nilai pertanggung jawaban.
6. Simbolisme, setiap fakta yang kecil sekalipun merupakan gagasan yang sengaja disusun karena terkait makna yang lebih dalam


Pro dan Kontra

Kebanyakan materi tentang jurnalisme sastrawi, definisi dan karakteristiknya, memang ditulis dalam kurun waktu 1970-1980 ketika Tom Wolfe menulis The New Journalism. Setelah Tom, ada James E. Murphy yang menulis artikel “The New Journalism: A Critical Perspective” yang disiapkan untuk Asosiasi Pembelajaran Jurnalistik pada 1974. Tulisan Murphy ini merupakan satu bentuk kritik terhadap konsep “new journalism” yang ditawarkan Wolfe.

Selain itu, muncul pula Ronald Weber dengan bukunya The Literature of Fact dan The Reporter as Artist: A Look at The New Journalism Controversy. Masing-masing karyanya berupa penilaian yang detil terhadap aspek-aspek yang diperdebatkan dalam jurnalisme sastrawi. Kevin Kerrane tak mau kalah, ia mengembangkan kembali konsep-konsep yang dipaparkan Wolfe pada 1960-an, dalam buku Making Facts Dance (1997). Begitu pula Chris Harvey dengan bukunya Tom Wolfe’s Revenge: The Renewed Interest in Literary Journalism yang meyuarakan isu seputar jurnalisme sastrawi di masa kini.

Konsep jurnalisme baru atau jurnalisme sastrawi ini menjadi satu hal yang paling banyak diperdebatkan. Pasalnya, ia sangat berbeda dengan standar reportase biasa yang memiliki karakteristik objektif, bahasa yang langsung, dan ditulis dengan bentuk piramida. Jurnalisme sastrawi menyampaikan fakta dengan sebuah narasi layaknya membacakan cerita dan menggunakan pendekatan serta teknik penulisan sastra.

Perdebatan lain seputar jurnalisme sastrawi yaitu perihal detil (rincian) dan penyajian fakta. Situasi dalam jurnalisme sastrawi seolah dibentuk agar reporter bisa menambah-nambahkan fakta dan membuat subjektivitas dalam ceritanya. Dalam beberapa kasus, penulis bisa terjebak dalam penilaian yang subjektif terhadap suatu situasi.

Argumen lain menyatakan bahwa jurnalisme sastrawi bukanlah genre yang unik, karena mencerminkan gaya menulis yang beragam dan tidak mempunyai bentuk yang berbeda dengan yang lain. Dalam Columbia Journalism Review, Jack Newfield menyatakan bahwa jurnalisme baru (jurnalisme sastrawi) adalah ide yang salah. Baginya hanya ada penulisan yang bagus dan buruk, ide cerdas dan ide bodoh, kerja keras dan malas. Dan jurnalisme baru termasuk ke dalam ide yang bodoh/salah.

Andreas Harsono menjelaskan, jurnalisme sastrawi (literary journalism) menggabungkan disiplin paling berat dalam jurnalisme serta kehalusan dan kenikmatan bercerita dalam karya fiksi. Dan jurnalisme sastrawi bukan naskah yang ditulis dengan kata-kata mendayu-dayu atau puitis. Dalam blognya, Andreas menulis: “Sangat sedikit wartawan atau sastrawan yang bisa menulis fakta dengan metode reportase ketat dan presentasi indah.” Tulisan jurnalis-jurnalis terbaik Indonesia yang sukses memikat lewat genre ini bisa kita nikmati dalam buku “Jurnalisme Sastrawi” terbitan Yayasan Pantau (2005). Mereka di antaranya Linda Christanty, Chik Rini, Alfian Hamzah, Agus Sopian, dan tentu saja Andreas Harsono.

Menurut Asep Syamsul M. Romli dalam buku Jurnalistik Terapan, feature atau berita khas termasuk dalam aliran “New Journalism”, yaitu teknik penulisan karya jurnalistik bergaya sastra, memerlukan gabungan dari keterampilan laporan interpretatif dengan teknik penulisan karya fiksi.

Budiman S. Hartoyo, menjelaskan jurnalisme sastrawi sebagai jurnalisme yang ditulis dengan gaya berkisah (mendekati atau agak mirip) dengan (gaya) menulis sastra. Maksudnya, bukan "bersastra-sastra", atau "memfiksikan fakta" (yang mustahil), melainkan menuturkan atau menggambarkan suatu fakta secara detil dan relevan dengan bahasa yang benar dan bagus. Tapi ia lebih cenderung menyebut genre ini sebagai jurnalisme literair. Ia menulis demikian:

“Saya tidak sepakat dengan penamaan "jurnalisme sastrawi". Saya lebih menyukai jurnalisme literair karena lebih mendekati penamaan aslinya, yaitu literary journalism. Untuk memahami, apalagi menulis dengan gaya jurnalisme literair, tidaklah mudah. Sangat sulit! Wartawan yang ingin menulis (dengan gaya) jurnalisme literair, terlebih dahulu harus mampu menulis feature, sedangkan wartawan yang ingin menulis feature terlebih dulu harus mampu menulis berita yang konvensional, mulai dari straight news dan berita yang ditulis dengan metode "piramida terbalik" -- yang semuanya harus mengandung unsur 5-W dan 1-H, yang juga disebut sebagai jurnalisme dasar (basic journalism).”

Fakta, Fakta, Fakta!
Jurnalisme sastrawi bukan reportase yang ditulis dengan kata-kata puitis. Jurnalisme sastrawi juga tidak berada di ranah sastra, apalagi fiksi. Ia hanya boleh berada di ranah fakta. Wartawan tidak boleh menggunakan imajinasinya untuk mengarang cerita dalam tulisan jurnalisme sastrawi. Yang harus digunakan ialah kreativitas dalam menyusun kisah yang enak dibaca. Kisah, yang semua berdasarkan fakta.

Ada yang menyandingkan jurnalisme sastrawi dengan novel sejarah. Novel dianggap mewakili sastra, dan sejarah dianggap mewakili jurnalisme. Sebetulnya ini adalah dua hal yang amat berbeda. Sejarah, sejauh ia terbukti benar, tak ditambah dan tak dikurang, maka ia adalah fakta. Namun ketika ia ditambah atau dikurangi, memakai nama samaran dan karakter fiktif, ia tak lagi menjadi fakta.

Karya-karya fiksi Mochtar Lubis atau Pramoedya Ananta Toer yang berlatar sejarah misalnya, tidak bisa dijadikan sumber primer. Meskipun memang menggambarkan situasi sosial di masa lalu, nama karakter, kejadian, dan sebagainya harus diverifikasi. “Tak boleh ada khayalan atau fiksi satu titik pun.” Kata Andreas.

Chik Rini, ketika diwawancarai perihal narasinya yang mengagumkan dalam “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft” juga memastikan, setiap detail dalam tulisannya adalah fakta. Mulai dari suasana terminal Lhokseumawe, sampai percakapan antara dua orang, semua bisa ia pastikan kebenarannya. Chik Rini berpendapat sama dengan Andreas, bahwa jurnalisme sastrawi tetaplah sebuah karya jurnalistik yang harus berdasarkan fakta, hingga ke tiap detail deskripsinya.

Jurnalisme Sastrawi di Era Internet
Di era teknologi komunikasi dan informasi sekarang ini, terdapat peluang besar untuk memperluas dan meningkatkan konsumsi online nonfiksi di internet. Terutama dengan fenomena majalah dan surat kabar utama yang berlomba menyediakan konten di Web yang bersifat menarik dalam batas-batas dunia maya. Fitur-fitur dari Web tersebutlah yang menerapkan karakteristik jurnalisme sastra.

Karakteristik yang dimaksud dalam hal ini adalah karakteristik yang diungkapkan oleh James E. Murphy, yakni menggunakan teknik sastra dramatis, subjektivitas, dan perendaman.

Salah satu contoh web yang mengaplikasikan jurnalisme sastrawi adalah situs Blackhawk Down. Sebuah novel karya Mark Bowden tentang peran serta Amerika dalam perang di Somalia. Situs ini berisi 29 bagian dengan detail latar belakang dan analisisnya masing-masing. Setiap bagian dilengkapi dengan link yang akan mempermudah pembaca memahami arti-arti istilah yang dimuatnya.

Jurnalisme sastrawi memiliki prospek tersendiri dalam dunia internet. Keuntungan utama dari internet adalah kita dapat mempublikasikan karya kita dengan sangat cepat. Secara umum, masa depan jurnalisme sastra di media internet cukup menjanjikan. Hanya saja, ada beberapa tantangan yang harus diperhatikan.

Pertama, perihal penempatan karya kita di situs-situs yang memiliki banyak pembaca. Tentu kita harus menempatkan tulisan di media yang paling banyak diakses. Kedua, bagaimana caranya membuat tulisan panjang kita tetap menarik dan mudah dibaca tanpa harus menyusahkan si pembaca karena harus terus menerus melakukan scrolling pada mouse-nya.

Masa Depan Jurnalisme Sastrawi di Indonesia
Atmakusumah Astraatmaadja, dalam sebuah diskusinya dengan Andreas Harsono, mengaku pesimis genre ini bisa berkembang di Indonesia. Pasalnya, kebanyakan media di sini bermodal kecil, dengan pengasuh dan wartawan yang sangat sedikit jumlahnya. Harian di Papua, Palu, Kendari, ada yang diasuh oleh 3-5 wartawan saja. Jumlah wartawan Indonesia pada masa Soeharto hanya sekitar 7.000, mengasuh hampir 300 media cetak. Sekarang, paling-paling wartawan bertambah jadi 10.000 orang. Bandingkan dengan di Jerman, misalnya, yang memiliki 90.000 wartawan, termasuk 40.000 wartawan freelance.

Astraatmadja mengatakan, media massa kita lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas –yang memerlukan lebih banyak waktu untuk membuatnya. Tenaga wartawan sangat kurang, padahal media seharusnya mampu menyisihkan sebagian wartawannya untuk mengerjakan investigative reporting, in-depth reporting, dan jurnalisme baru.

Pendapat senada juga datang dari Andreas Harsono. Menurutnya, jurnalisme sastrawi sulit berkembang di Indonesia karena tak ada media yang mau menyediakan tempat, uang, dan waktu untuk naskah panjang. Memang ada media yang memberi kesempatan menulis panjang, macam majalah Sastra, Horizon, Kalam, Basis, atau Intisari. Itupun kebanyakan berupa esai, dan media-media tersebut pun bukanlah media mainstream. Padahal genre ini membutuhkan ruang yang banyak pada sebuah media.


****

tugas kelompok jurnalisme kontemporer Ken, Ami, Hani, dan Agnes. Bersumber dari berbagai bahan bacaan dan wawancara langsung dengan Andreas Harsono dan Chik Rini.

Minggu, 03 Oktober 2010

Suatu Pagi, dari Jendela Kamarku




Hari masih gelap ketika kokok ayam jantan membangunkanku dari tidur lelap. Pukul lima pagi. Pagi-pagi seperti ini Jatinangor masih dingin sekali, apalagi semalam turun hujan. Biasanya aku masih meringkuk di balik selimutku, dan baru terbangun pukul 7 nanti, saat hari sudah terang. Tapi kali ini aku tidak ingin tidur lagi. Aku ingin menikmati pagi yang dingin dan sepi ini dari jendela kamarku. Jendela yang terletak tepat di samping tempat tidur. Biasanya menjelang tidur malam aku akan mematikan lampu kamar sehingga kamar jadi gelap. Lalu aku akan membuka tirai jendela lebar-lebar, sehingga kerlip lampu-lampu kota akan tampak jelas, dan menemani aku pergi tidur. Dan pada pagi hari, mentari akan membangunkanku dengan sapaan sinar hangatnya.

Kamarku tempat aku tinggal saat ini adalah sebuah ruangan berukuran 4 x 5 meter, yang terletak di lantai dua dari asrama Pondok Kaca, Desa Cikeruh, Jatinangor. Aku baru tinggal di sini selama satu bulan.

Sambil masih duduk berselimut, aku buka tirai jendelaku. Langit masih berwarna biru gelap, dengan semburat kekuningan di sebelah timur, pertanda matahari akan segera terbit dari balik Gunung Geulis. Si cantik itu terlihat berupa siluet saja, dengan lekuk-lekuk bukitnya yang landai. Mirip lekuk tubuh indah seorang gadis remaja. Ia masih berselimut kabut tipis, padahal matahari sudah bersiap membangunkannya. Menggantikan bulan yang sudah semalam suntuk menemani. Ah, itu dia Si Bulan Sabit! Ia masih di sana, tepat di atas puncak Geulis. Lengkung indahnya memancarkan sinar terang yang sebentar lagi akan pudar.

Di kaki Gunung Geulis, tampak kota Sumedang dengan cahaya lampu yang berkelipan bagai bintang. Warna-warni cahayanya, indah sekali. Merah, putih, kuning. Membentang dari timur sampai ke ujung tenggara. Di arah selatan, tepat arah aku menghadap, aku melihat barisan kos-kosan padat yang tumbuh berdampingan dengan perumahan warga Jatinangor. Pendatang ke kota kecamatan ini tiap tahunnya makin bertambah, perlahan menggeser lahan penduduk pribumi. Aku melihat pemandangan yang seperti kue lapis di sini. Hamparan rumah dengan atapnya yang berwarna oranye, disusul dengan lapisan hijau dari pohon-pohon setinggi +/- 5 meter yang (syukurlah) masih tumbuh cukup lebat di Jatinangor. Lalu tampak siluet pegunungan Priangan yang berlapis-lapis. Warnanya biru gelap, dan semakin jauh warnanya semakin pucat. Indah sekali pemandangan dari sini.

Langit timur sekarang sudah berwarna kekuningan, pertanda matahari sebentar lagi muncul. Cahaya lampu yang berkelipan di bawah kaki bukit Geulis dan di sebelah tenggara sudah berkurang. Mungkin orang-orang sudah terbangun dan mematikan lampu rumahnya. Aku memperhatikan bagaimana cahaya bintang itu redup satu per satu.

Sekarang aku mengedarkan pandanganku ke arah barat. Well, pemandangannya tidak indah lagi di sebelah sini. Sebuah lahan yang dulunya ditumbuhi ilalang hijau sepinggang, kini sudah menjadi lahan proyek pembangunan apartemen, yang diklaim sebagai apartemen pertama di Jatinangor. Dua crane setinggi 20 meter menjulang dan menyajikan pemandangan yang kontras dengan kedamaian di sebelah timur. Di bawahnya, tanah hasil kerukan tampak amburadul. Proyek pembangunan apartemen ini baru sampai di tahap pemasangan pondasi tampaknya. Setiap hari kedamaian kosanku ini terganggu dengan bunyi debuman keras yang memekakkan telinga, plus menggetarkan kaca jendela. Para pekerja itu akan mulai berdatangan pukul 6.30; sebentar lagi. Bunyi deru mesin dan dentuman keras pun akan segera mengalahkan bunyi kicauan burung dan ayam jantan yang masih kudengar bersahutan sekarang. Debu-debu berterbangan akan menggantikan kedamaian kabut pagi.

Pembangunan apartemen ini sebetulnya penuh kontroversi. Banyak warga asli Jatinangor yang tidak setuju. Aku pernah berbincang-bincang dengan Kang Deden, ketua Karang Taruna Jatinangor. Ia bersama kawan-kawannya pemuda Jatinangor sudah memperjuangkan berbagai cara agar apartemen ini tidak jadi dibangun. Kang Deden mengatakan, bila apartemen ini jadi dibangun, warga Jatinangor akan jadi makin terasing dan terpinggirkan di rumah mereka sendiri. Selain itu, masalah lingkungan juga jadi pertimbangan. Jatinangor dengan jumlah pendatang yang terus bertambah tiap tahun, jumlah air tanahnya pun sudah berkurang. Bagaimana bila ada gedung setinggi 20 lantai? Tentu kebutuhan air tanah akan meningkat dan daerah resapan air juga akan semakin berkurang.

Lokasi apartemen itu nantinya akan bersebelahan dengan pusat perbelanjaan modern di Jatinangor, Jatinangor Town Square (yang pembangunannya juga sempat ditentang warga lokal Jatinangor pada awal 2007). Kang Deden mengatakan, lahan yang akan dijadikan apartemen itu sebenarnya merupakan daerah resapan air yang tersisa di Jatinangor. Bila di situ didirikan bangunan, desa-desa yang berada di dataran lebih rendah akan terkena dampak: banjir. Belum juga rampung pembangunan apartemen itu, kekhawatiran Kang Deden sudah terbukti. Beberapa minggu yang lalu banjir besar melanda wilayah Rancaekek, sebuah wilayah perbatasan Sumedang-Bandung Timur yang notabene lebih rendah daripada Jatinangor. Banjir itu bahkan menimbulkan korban jiwa.

Banyak lagi permasalahan sosial dan lingkungan yang bisa ditimbulkan dari pembangunan apartemen itu. Bahayanya lebih besar daripada manfaatnya, dan keuntungannya pun hanya akan mengalir ke kantong para penguasa. Rakyat kecil hanya akan semakin terpinggirkan, sambil mengkhawatirkan limbah dan bencana yang mungkin timbul sebagai akibat pembangunan yang semena-mena ini. Meskipun Kang Deden dan kawan-kawannya sudah menempuh berbagai cara untuk mencegah pembangunan apartemen itu, namun apalah daya mereka melawan kaum kapitalis dan penguasa mata duitan. Toh apartemen ini jadi dibangun juga.

Hari sudah terang sekarang. Para pekerja tampak mulai berdatangan, dan.... “brrrrrrrrmm.. brrrrrrrrm...” Oh no. They started again. Kedamaian pagi-ku kembali terusik. Ah, sudahlah. Daripada kesal, lebih baik aku mandi saja.

Jumat, 01 Oktober 2010

Pengajaran Sastra untuk Sekolah Menengah

“Wahh... kagak tau dah yang kayak begituan mahh...”

Begitulah reaksi Fahmi (16), siswa kelas 1 SMA Pasundan Tanjungsari ketika ditanya soal karya-karya sastra Indonesia klasik seperti “Harimau Harimau’ Mochtar Lubis dan “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya HAMKA. Ketika ditanya mengenai apa yang pelajari soal karya sastra di sekolah, ia dan kawannya serempak menjawab “Ya paling kayak puisi dan cerpen begitu kan? Belajarnya paling itu aja di sekolah.”

Pengetahuan remaja Indonesia saat ini mengenai karya-karya sastra, khususnya karya sastra Melayu klasik memang bisa dikatakan semakin minim. Mereka mungkin “pernah mendengar” istilah “angkatan 45” atau “Pujangga Baru”. Namun, mereka bisa jadi masih gelagapan ketika ditanya pendapat tentang karya H.B Jassin atau ketika diminta menceritakan kisah “Bumi Manusia” –nya Pramoedya Ananta Toer.

Hal seperti ini biasanya terjadi karena siswa di Indonesia tidak mendapatkan pelajaran sastra yang memadai saat di sekolah. Di samping masih mendompleng pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, pengajaran sastra juga belum bisa dinikmati sepenuhnya oleh siswa. Sehingga nilai estetik dan puitik dalam sastra belum mampu membangun karakter siswa jadi lebih peka dan memiliki “rasa”.

Pengajaran sastra di kelas biasanya hanya terbatas pada menghafal nama-nama dan karya, kemudian siswa diminta untuk membuat karya sastra berupa puisi dan prosa. Siswa tidak diberikan kesempatan untuk membaca dan menikmati karya sastra itu sendiri.


Ahmadun Yosi Herfanda (2007) dalam makalahnya menggambarkan kondisi terkini pengajaran sastra di sekolah. Menurutnya, pengajaran sastra di sekolah hingga kini belum maksimal. Hal ini jelas terlihat dari masih rendahnya apresiasi dan minat baca siswa dan lulusan SMU terhadap karya sastra. Pengetahuan mereka tentang sastra umumnya juga masih sempit, tidak seluas pengetahuan mereka tentang dunia selebriti. Mereka mungkin lebih kenal Pasha Ungu daripada Mochtar Lubis.

Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMA/MA bertujuan agar siswa bisa menghargai dan menggunakan bahasa Indonesia. “Dan ada poin penting juga, pelajaran Bahasa Indonesia harus bisa membuat siswa menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Siswa juga harus menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia,” tambah Baban Banita, Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Unpad, saat ditanya pendapatnya mengenai pembelajaran sastra di sekolah menengah.

Sastra, Dihafal atau Dinikmati?
Kenyataannya kini di banyak sekolah menengah, pelajaran sastra masih diberikan pada siswa berupa hafalan. Sastra sebagai bagian dari mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah juga termasuk salah satu mata pelajaran yang diujikan secara nasional. Namun materi UN tak berhubungan dengan kemampuan apresiasi siswa. Meski di dalamnya terdapat beberapa soal yang berhubungan dengan sastra, namun soal tersebut hanya berupa hapalan dan ingatan, tak berhubungan dengan kemampuan apresiasi, olah rasa, emosi dan perasaan. Padahal menurut Baban, dalam belajar sastra yang paling penting adalah dengan membaca, menikmati, kemudian mengapresiasi. Apresiasi atau analisis dilakukan untuk melatih kekritisan. Dan untuk bisa menganalisis, tentu saja siswa harus membaca terlebih dahulu.

Baban menambahkan, “Ini dimungkinkan karena ada faktor guru juga. Kadang karena dianggap pelajaran mudah, guru-guru yang ditempatkan di pelajaran bahasa Indonesia, siapa saja bisa.” Ia berpendapat, kurikulum dari pemerintah sudah bagus, hanya ketika untuk dilaksanakan oleh guru, belum tentu ia bisa melaksanakan dengan metode yang benar. “Sebenarnya kompetensi guru-lah yang berpengaruh ke metode yang tidak tepat digunakan saat mengajar di kelas,” katanya.

Namun Sapardi Djoko Damono dalam sebuah tulisannya yang berjudul Sastra untuk Sekolah menyebutkan, pihak guru tak bisa selalu disalahkan. Menurutnya, justru sistem pendidikan, kurikulum-lah yang mematikan kreativitas. Ia menulis: Namun, yang menjadi permasalahan mendasar dalam sesungguhnya adalah sistem pendidikan kita. Kurikulum pendidikan yang saat ini dianut tidak pernah memberikan ruang gerak yang leluasa pada pembelajaran sastra.

Sastra sebagai Hiburan

Baban Banita berpendapat, sastra bukanlah pelajaran yang berat. Ia justru mengandung banyak unsur hiburan yang jika digali dengan metode yang baik, siswa akan mudah tertarik. “Sastra itu bermanfaat, dan nikmat. Menghibur. Jadi misalnya siswa belajar apresiasi puisi, bisa kita bingkai dalam bentuk pementasan drama. Drama juga kan termasuk kajian sastra. Kalau begitu kan jadi lebih seru, siswa lebih menikmati,” ujarnya.

Sementara itu, Maryati (42), guru pengajar bahasa Indonesia di SMA Pasundan Tanjungsari mengatakan, siswanya mulai tertarik sastra manakala karya mereka seperti puisi atau cerpen dipublikasikan di majalah dinding (mading) sekolah. “Mereka banyak memanfaatkan mading untuk memajang puisi dan prosa yang mereka buat. Ini inisiatif dari siswa dan kami dorong juga. Biasanya dikordinir oleh OSIS. Dan alhamdulillah mading ini masih berjalan lancar hingga sekarang,” ujarnya bangga.

Selain itu, masih dalam rangka meningkatkan minat sastra kepada para siswanya, Wiwin mengatakan ia selalu berupaya mengikutsertakan siswanya jika ada lomba-lomba penulisan cerpen atau puisi. “Jika sudah punya prestasi, mudah-mudahan mereka semakin cinta kepada sastra Indonesia.”

Saat ini ia dan guru bahasa Indonesia lainnya sedang berusaha memperkenalkan apresiasi puisi dan pementasan drama kepada siswanya. “Apresiasi puisi dalam bentuk drama agak lebih sulit, makanya kami mulai dari kelas dulu. Kalau di kelas sudah lancar, baru rencananya akan membuat pementasan drama di sekolah.

Kepustakaan
Sementara itu, Wiwin (44), Wakil Kepala Sekolah sekaligus bagian kurikulum SMA PGRI Jatinangor mengatakan, sebenarnya kurikulum dari pemerintah sudah bagus. Dalam kurikulum berbasis kompetensi, pengajaran sastra yang terhimpun dalam pelajaran bahasa Indonesia, menekankan pada materi membaca dan mengarang. Setiap siswa wajib membaca buku sastra sejenis novel, roman, cerpen, dan karya puisi lainnya, bukan sekadar membaca sinopsisinya. Kewajiban siswa itu dievaluasi oleh gurunya dengan memberikan tugas-tugas yang terkait dengan sastra.

Namun yang jadi masalah adalah manakala ketersediaan buku-buku tersebut di perpustakaan sekolah sangatlah minim. “Ini kan sekolah swasta, jadi tidak bisa mengandalkan sumbangan dari pemerintah. Kalau buku-buku sastra klasik, biasanya milik pribadi para guru. Siswa di sini bukan dari kalangan atas, jadi jangankan menyumbang buku, bayar bulanan pun sulit,” keluh Wiwin.

Ujian Nasional yang Jeblok
Bukankah sastra sebagai bagian dari mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah juga termasuk mata pelajaran yang diujikan secara nasional? Harusnya siswa Indonesia mendapatkan pengajaran yang memadai bukan, soal mata pelajaran yang diujikan secara nasional ini?

Ya, seharusnya seperti itu. Namun kalaupun pengajarannya sesuai, toh materi dan soal-soal UN masih tak berhubungan dengan kemampuan apresiasi siswa. Meski di dalamnya terdapat beberapa item soal yang berhubungan dengan sastra, namun lagi-lagi soal tersebut hanya berupa hapalan dan ingatan. Belumdapat menguji kemampuan apresiasi, olah rasa, emosi dan perasaan, nilai-nilai estetis dan seni tulis yang seharusnya dipahami siswa.

Tahun ini, hasil ujian nasional (unas) di berbagai kota di tanah air, jeblok karena bahasa Indonesia di semua jurusan. Ya IPA, IPS, bahkan jurusan bahasa. Nilai rata-rata Bahasa Indonesia untuk jurusan IPA 7,37. Nilai Bahasa Indonesia ini terendah dibandingkan pelajaran lain macam matematika, fisika, kimia, biologi, bahasa Inggris. Rata-rata unas IPS untuk Bahasa Indonesia 6,84. Untuk yang jurusan bahasa rata-rata Bahasa Indonesia 6,84.

Misalnya, dari Catatan Dinas Pendidikan Surabaya, dari 260 siswa SMA di kota ini yang mengulang UN, 110 diantaranya mengulang mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sedangkan untuk SMK, dari sekitar 1300 siswa yang ujian ulangan, hampir 900 siswa atau hingga 70 persen diantaranya harus mengulang Bahasa Indonesia.

Hubungan bahasa dengan sastra Indonesia layaknya dua sisi mata uang. Keduanya saling terkait, dan seharusnya tidak boleh dipisahkan satu sama lain. Dalam dunia pendidikan, nilai estetik dan puitik sastra diyakini mampu membangun karakter manusia. Meskipun masih mendompleng pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, setidaknya sastra sudah diajarkan pada siswa di sekolah. Sayangnya kondisi pengajaran sastra masih jauh dari harapan.

Dalam pengajaran sastra, yang terpenting adalah kontak langsung antara siswa dan karya sastra. Kontak itu tidak bisa diwakili siapapun, tidak terkecuali guru. Tanpa adanya kesempatan membaca karya sastra sebanyak-banyaknya, sebenarnya pengajaran sastra itu omong kosong saja. Namun, tidak berarti pengetahuan sastra sama sekali tidak ada manfaatnya. Berbagai konsep penting dalam sastra perlu ditanamkan untuk membantu siswa memahami dan menghayati karya sastra. Dan ditingkat akhir, ada baiknya dibekali juga dengan pengetahuan yang menyangkut sejarah dan perkembangan sastra. Pengetahuan itu perlu sebab pada hakikatnya hal itu merupakan bagian penting dari sejarah pemikiran bangsa.