Senin, 31 Oktober 2011

Donor Darah

Akhir Oktober seperti ini, orang-orang Barat sedang heboh merayakan pesta Halloween, yang identik dengan segala yang seram-seram, hantu, labu nyengir, dan kostum-kostum aneh. Saya punya kegiatan lain di masa Halloween ini. Daripada berseram-seram pake make up berdarah-darah, lebih baik donor darah. *maksa

Ini pengalaman pertama kali bagi saya mendonorkan darah. Udah kepingin sejak lama, tapi waktunya selalu ga tepat. Entah di saat saya lagi menstruasi, lagi puasa, abis minum obat, dan sebagainya. Baru kali ini ada kesempatan, Alhamdulillah.

Usai makan siang dan solat zuhur, saya bersama tiga orang kawan langsung menuju GOR Pakuan, tempat acara donor darah berlangsung. Acara donor darah kali ini merupakan inisiatif dari mahasiswa Fakultas Geologi Unpad kerjasama dengan Corporate Social Responsibility Cipaganti dan Palang Merah Indonesia.

Wow, lumayan banyak juga yang datang. Senengnya lihat antusiasme mahasiswa untuk mendonorkan darah, sebuah kegiatan yang pastinya sangat bermanfaat! Aku, Diana, dan Anbel segera mengisi formulir pendaftaran. Sementara Ershad, dia lagi ga bisa mendonorkan darah karena lagi sakit, tubuhnya sedang terinfeksi virus-virus penggalauan, yang takut menular kalo dia mendonorkan darahnya. Akhirnya Ershad cuma cek kesehatan.

Buat aku dan Diana, ini kali pertama. Buat Anbel, ini kali kedua dia mendaftar ikut donor darah. Dulu yang pertama dia gagal karena abis minum obat, jadi gak boleh. Sekarang dia mau coba lagi. Anbel pun dipanggil ke meja pertama untuk terlebih dulu cek kesehatan. Gak lama kemudian, dia balik lagi. Lah?? Kenapa Bel?

“Gue gagal lagi donk! Kan ditanya, semalem tidur jam berapa? Gue tidur jam 3 pagi, bangun 5.30, gak bisa katanya, hehe…” Jiaaah si Anbel, ada lagi. Dia emang sering tidur jam segitu, ckckck… Lagipula katanya, tekanan darah dia rendah. Tuh, berarti besok kalo mau donor darah, inget-inget ya, ga boleh minum obat dalam jangka waktu 4 hari sebelum donor, ga boleh pas lagi mens, harus makan dulu, dan ga boleh tidur lewat dari jam 1 malam.

Diana pun dipanggil, aku juga, ya ampun deg-degan banget. Ngebayangin jarum, dan darah yang mengalir ke kantong, huaaa jujur aja serem! Tapi ga boleh kalah sama tekad dan niat baik…!!! ~tsah~

Pertama-tama dicek kesehatan dulu di meja pertama. Formulir yang udah kita isi diperiksa, sambil dicek tekanan darah. Wah, tekanan darah gue bagus banget, 120/80! Terus ditanya, udah makan? Udah. Semalem tidur jam berapa? Jam setengah sebelas. Bangunnya? Jam tiga, laper doang, makan biskuit terus tidur lagi bangun jam setengah enam. Lagi mens? Belum. Abis minum obat ga? Iya waktu hari Rabu minum Diatabs, akika menci-menci cyiinn... Terus sekarang gimana? Udah gapapa, udah normal. Terakhir minum obat kapan? Rabu siang. Gapapa minum obat hari Rabu mah, yang penting sejak Jumat udah ga minum.

Lolos ke meja kedua! Diana juga. Di meja kedua ini aku cek golongan darah dulu. Golongan darahku O positif, golongan darah yang paling banyak ditemukan. Sedangkan Diana AB positif, paling langka di antara golongan darah yang lain, jadi dia termasuk kaum minoritas yang sangat dibutuhkan. Setelah cek golongan darah, kamu diberikan kantong dan menuju ruang pengambilan darah. Deg deg deg deg!! Hiks, darah gue bakal diambil segini (450 cc) banyak bener yak, huhu…

Aku sebelahan sama Diana. Kami saling menguatkan (lebay). Ibuuu…jarumnya gede banget, hiks… cuss! Terasa digigit semut sebentar, dan darah pun mulai mengalir mengisi kantong. Satu menit, lima menit, sepuluh menit, aku baik-baik aja, malah cerewet banget nanyain segala macem ke petugas PMI yang menangani aku dan Diana. Insting jurnalis, hehe. Nah, lewat sepuluh menit ketika kantong darah sudah mau penuh, aku mulai merasa engap. Keringet dingin. Jarum pun mulai dicopot. Diana selesai lebih dulu daripada aku, kayanya darah dia mengalir deres banget yak.

Ibu petugas PMI bilang, “Kamu pusing ya dek? Pucat banget, kelihatan,” aku pun diminta istirahat sebentar, ga boleh bangun dulu, dengan posisi kaki lebih tinggi dari kepala. Lalu panitia mengantarkan teh manis buatku, yang semakin menambah rasa eneg. Mungkin lebih baik kalo dianterin teh tawar atau yang asem-asem gitu kali ya.

Beberapa menit kemudian, aku merasa baikan. Akhirnya aku diperbolehkan keluar, sambil si ibu berpesan, “Atur nafas ya, segera cari udara segar ke luar.” Kukira aku udah gapapa, ternyata setelah berdiri dan jalan, rasa pusing dan mual itu muncul lagi. Sambil mengambil kartu donor, aku bilang sama panitia aku pusing. Terus aku dikasih kotak makanan dan minuman bervitamin. Aku sempoyongan keluar gedung, dan akhirnyaaa… makan siangku tadi keluar semua. Parah banget.

Beberapa petugas langsung membopongku ke dalam ruangan lagi, dan mengambilkan sebuah kursi khusus buatku. Aku lagi-lagi diminta istirahat dengan posisi kaki lebih tinggi dari kepala. dan pada saat itu gue ditempatin deket pintu keluar, di antara antrian para calon pendonor. Boo, plis ya, gue pasti membuat mereka jiper. Apalagi nggak lama setelah gue, ada cowok yang jatuh pingsan. Pasti mereka semakin jiper, haha…

Boro-boro malu dipajang gitu, aku udah nggak bisa ngomong, nggak bisa mikir. Ditemenin Anbel, aku cuma bisa konsen atur nafas, jangan sampai aku pusing dan muntah lagi. Sekitar 15 menit, setelah keringetan, baru aku boleh berdiri dan jalan pelan-pelan keluar. Petugas PMI-nya berpesan, “Nggak apa-apa kok, mual pusing itu biasa, apalagi buat yang pertama kali. Jangan kapok ya donor darah…” Iya, insya Alloh ga kapok kok 

Aku harus segera dapat udara segar. Di luar, aku makan dan minum, tapi baru sedikit, udah eneg lagi. Langsung ilang nafsu makanku seharian itu. bahkan sampai malam, masih pusing dan mual. Kok agak lebay ya…

Aku baru merasa baikan waktu aku bangun tidur jam 3, badanku keringetan kayak abis nguli. Aku coba berdiri, jalan sedikit, dan ternyata emang udah gak pusing sama sekali. Wah, syukurlah. Soalnya semalem solat isya pun masih mual dan pusing.

Begitulah pengalaman pertamaku mendonorkan darah. Rada ngga enak memang pengalamannya, tapi insya Alloh aku ga akan kapok! Lagipula sebetulnya lebih banyak sisi positif daripada sisi negatif dengan jadi pendonor. Kita bisa menolong orang yang membutuhkan. Ini bentuk sedekah paling mudah, karena toh kita semua kan punya darah untuk didonorkan. Lalu sirkulasi darah dalam tubuh juga bisa lebih lancar, dan akan ada darah baru yang akan segera menggantikan 450 cc yang kita donorkan tadi. Pasti jadi lebih sehat! Terus kita bisa cek kesehatan gratis, dan dapet makanan gratis, hehehe…

Paling cepat 3 bulan lagi aku baru bisa donor. Pelajaran aja sih, berarti besok-besok sebelum donor, harus lebih fit dan makan lebih banyak! Hehehe…

*

*aku yg pucat pasi dan Diana yg tetap segar bugar

Jumat, 14 Oktober 2011

Tulisan Tangan

Teknologi memang diciptakan untuk memudahkan pekerjaan manusia. Namun tetap saja, dalam hubungan interaksi antar manusia, banyak hal yang tak bisa tergantikan, bahkan oleh teknologi paling modern sekalipun.

Contohnya, meski saat ini berkomunikasi semakin mudah menggunakan berbagai perangkat seperti telepon, SMS, chat, instant messenger, bahkan video chatting, tetap saja, semua tak bisa menggantikan peran komunikasi tetap muka. Meski sekarang kau bisa punya ribuan teman maya di facebook atau jutaan followers di twitter, tetap tak ada yang akan bisa menggantikan sepuluh sahabatmu.

Dan meski sekarang sudah ada berbagai perangkat teknologi untuk mengirim pesan singkat, mengetik lebih cepat, serta berbagai font tipografi, buat saya, tetap tak ada yang bisa menggantikan tulisan tangan.

Ya, tulisan tangan.

Hampir setiap hari orang menulis dengan tangan. Dan tulisan tangan itu seperti sidik jari, tak ada tulisan orang yang sama persis. Bahkan kita bisa membaca karakter dan sifat seseorang dari tulisan tangan, bahkan perasaannya ketika itu!

Tulisan tangan sebenarnya adalah tulisan dari otak manusia yang merupakan gambaran kepribadian setiap individu. Pikiran manusia secara sadar menentukan apa yang Anda tulis dan alam bawah sadar mengontrol bagaimana cara kita menulis. Jadi, analisa tulisan tangan adalah studi tentang tulisan tangan seseorang untuk menilai karakter kepribadian seseorang.

Otak manusia seperti sebuah komputer, yang mengontrol apa yang kita lakukan, apa yang kita rasakan/inginkan dan apa yang menjadi kebiasaan kita dan tangan yang kita miliki adalah seperti sebuah keyboard pada komputer yang hanya merupakan ”alat” untuk menuliskan apa yang diperintahkan oleh otak kita.

Semua orang memiliki kekhasan goresan tangannya masing-masing. Dan aku membuktikan, bahkan setelah bertahun-tahun kemudian, kau masih akan bisa mengenali tulisan tangan kawanmu, dengan goresan khas mereka.

Disadari atau tidak, tulisan tangan temen-temen SD/SMP/SMA bisa begitu melekat dalam memori kita. Saat-saat dulu saling mencontek PR kawan, menyalin catatan dari buku kawan, menulis biodata dan kesan di agenda, atau bahkan surat-surat cinta dari pacarmu semasa sekolah. Coba deh, kau masih ingat tidak, tulisan tangan kawan-kawanmu?

Beberapa waktu yang lalu aku berkesempatan ketemu dengan sahabat-sahabatku semasa sekolah menengah. Wah, senang sekali rasanya, terutama dengan mereka yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu.

Di saat temen-temen sibuk jeprat-jepret pake kamera, aku iseng mengeluarkan buku dan pulpen. Lalu kuminta mereka satu per satu menuliskan tulisan tangan mereka di bukuku. Ada yang ngaku-ngaku “Tulisan gue udah berubah Ken, rada bagus tulisan gue sekarang mah!” tapi pas nulis, doeeenggg…!!! Tetep aja kayak sandi rumput, hahaha (Riyan Suhendra, peace ^.^V)









Adalah sebuah ilmu bernama "grafologi", yang dengannya kita dapat menganalisis makna dari tulisan tangan. Bukan hanya kepribadian, namun juga karakter dan kecenderungan perilaku seseorang. Ini ilmu tua, lho. Buku pertama tentang grafologi ditulis oleh Camillo Baldi, seorang dokter asal Itali pada tahun 1622. Tahun 1872, Jean Michon menerbitkan bukunya yang menjadi buku pokok grafologi pada saat itu. Tak lama kemudian, universitas-universitas di Eropa mulai memberi gelar Ph.D. atau Master di bidang ini.

Dalam grafologi, yang dinilai atau dilihat bukan apa yang tertulis (pikiran sadar) namun arti dari setiap lengkungan, titik, garis tekanan, ukuran, konsistensi dan lainnya (pikiran bawah sadar). Karena setiap manusia merupakan makhluk yang otentik, maka dalam Graphologhy setiap tulisan bahkan coretan tangan adalah sebuah informasi berharga yang mampu menguak apa yang ada dalam pikiran bawah sadar seseorang. Ia merupakan metode yang mengukur spontanitas seseorang dan komunikasi non verbal yang berasal dari dalam diri seseorang.

Nah, kalo tulisannya mirip sandi rumput, berarti dia suka makan rumput. Kalo tulisannya bulet-bulet, kemungkinan orangnya juga bulet. Kalo tulisannya tebal dan ditekan, berarti ia punya energi yang cukup besar saat menulis, entah marah atau amat percaya diri. Sedangkan karena tulisanku imut-imut, tak bisa terbantah lagi bahwa memang seimut itulah orangnya. *skip

Begitulah, aku suka mendokumentasikan tulisan tangan teman-temanku. Tulisan tangan, tetap punya sentuhan personal, yang tak bisa digantikan oleh perangkat-perangkat digital.

Sering aku merindukan masa-masa dahulu, saat penggunaan ponsel dan internet belum sepopuler saat ini. Ah, kau tau kan, waktu kita masih SD, lalu majalah Bobo jadi bacaan favorit kita. Di rubrik “Apa Kabar Bo?” kita saling berkirim surat ke Bobo si Kelinci Biru, lalu kita juga melihat alamat sahabat Bobo lain yang suratnya dimuat di rubrik itu. Kemudian kita mengirimkan surat kepada mereka, dan jadilah SAHABAT PENA! Ah yaa… sudah berapa lama aku tak mendengar kata itu: sahabat pena. Padahal saat itu berkirim surat adalah salah satu hobiku, dan filateli (koleksi perangko) masih jadi hobi yang populer.

Ingatkah kau kawan?

Aku juga teringat dahulu saat menjelang lebaran sibuk berkirim kartu lebaran, sambil menunggu-nunggu datangnya kartu lebaran dari sahabat-sahabatku. Seru banget kayaknya. Sejak H-7 lebaran, Pak Pos sudah bolak-balik datang ke rumah, dan aku bukan main senangnya, menerima semua kartu lebaran dari sahabat-sahabatku. Kartu lebarannya lucu-lucu, plus pesan-pesan lucu juga, yang ditulis dengan tangan, tentu saja.

Saat ini, tak ada lagi kartu ucapan menjelang lebaran. Yang ada hanyalah traffic yang padat di SMS. Semua mengucapkan selamat lebaran lewat SMS hasil forward. Tak ada lagi sentuhan personal itu. Apalagi kalo di BBM, mungkin ucapan lebaran itu disebarkan via broadcast di BBM grup. Ah…gak seru.

Saya emang termasuk orang yang ketinggalan kalo soal gadget/perangkat komunikasi saat ini. Saat orang-orang pake BB, saya sebisa mungkin menghindarinya. Saat orang-orang beli komputer tablet, saya coba bertahan sama si Acer yang batrenya bahkan udah DIE dalam 5 menit ini.

Beberapa waktu yang lalu saya datang ke seminar tentang New Media, pastinya yang datang ke sana adalah anak muda digital native semua. Saat seminar berlangsung, semua pada pegang iPad. Oh sekarang tuh nyatet seminar udah pake iPad juga ya. Saya nyoba sih, dan gak nyaman. Saya lebih suka buku catatan saya.

Saya mulai punya buku harian sejak kelas 3 SD. Kalo dikumpulin, mungkin udah ada satu dus buku harian saya. Sampe sekarang pun saya masih setia sama yang namanya buku harian, di mana saya bebas menulis, menggambar, bikin kalender to do list, nyatet utang + pengeluaran, nyoret-nyoret, bikin bunga-bunga dan matahari di atas tulisan saya… trus diwarnain pake spidol…ditempel-tempelin foto, bunga edelweiss, bahkan kecupan lipstick.. hal-hal seperti itu yang buat saya nggak akan bisa digantikan dengan perangkat teknologi secanggih apapun.



Kalo lagi iseng baca-baca buku harian dari jaman dahulu kala, seru. Bisa kelihatan dari tulisan tangan saat saya berbunga-bunga, lagi emosi jiwa, lagi galau… saya juga bisa lihat perubahan sikap dan kedewasaan saya di buku harian… betapa semakin tahun semakin jarang terlihat tulisan gede-gede, coret-coret penuh kemarahan, hehe… saya semakin stabil.

Yah, begitulah saya mengenang masa-masa dahulu, saat teknologi belum menggantikan sentuhan-sentuhan personal dalam buku harian, surat, dan tulisan tangan. Saya merindukannya.