Selasa, 01 Mei 2012

Pesona Danau Tiga Warna



“Kelimutu: Kebanggaan Indonesia, Kebanggaan Dunia”

Demikianlah tulisan yang menyambut kami ketika memasuki pintu gerbang Taman Nasional Gunung Kelimutu. Setiap pengunjung dikenakan biaya Rp 2500 per orang, Rp 6000 untuk kendaraan. Biaya yang terbilang sangat murah untuk sebuah objek wisata yang sudah mendunia. Mobil masih harus berjalan menembus kabut sejauh 5 km lagi untuk sampai di pelataran parkir Gunung Kelimutu.

Sesampainya kami di pelataran parkir, kami disambut ramah oleh Bapak Markus, penjaga keamanan sekaligus pemandu bagi pendaki Gunung Kelimutu. Dengan fasih, pria berusia 60-an itu memperkenalkan diri kepada kami.

Kehadiran pemandu sangat penting di Kelimutu, mengingat banyaknya kera liar di wilayah ini. Sebelumnya, pendaki Kelimutu tidak diwajibkan didampingi pemandu. Namun karena banyaknya kasus serangan kera (ada yang digigit, dicolong tasnya, atau dicakar), sekarang semua pendaki harus didampingi pemandu, yang akan membawakan pisang dan tas, serta memimpin jalan di depan. Ia yang sudah kenal dengan tingkah laku para kera itu akan memberikan pisang sambil terus menjaga pendaki dari serangan mereka. Bukan hanya kera, di Kelimutu ini juga masih banyak anjing dan babi hutan. Jadi memang harus waspada.

Danau Kelimutu adalah tempat sakral bagi masyarakat setempat. Mereka percaya bahwa arwah seseorang yang telah meninggal akan datang dan tinggal di Kelimutu untuk selama-lamanya. Sebelum masuk ke salah satu danau, arwah tersebut akan menghadap Konde Ratu selaku penjaga pintu masuk di Perekonde. Konde Ratu akan menentukan arwah tersebut masuk ke danau yang mana, tergantung usia dan perbuatannya. Perubahan warna danau kerap dikait-kaitkan dengan peristiwa tertentu yang akan terjadi di sekitar Kelimutu khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Makanya wisatawan yang datang ke sini harus menghormati kepercayaan masyarakat setempat dengan menjaga kebersihan dan melewati jalur setapak yang disediakan. Jangan menggunakan jalur lain, nanti bisa celaka, kata Pak Markus.

Bang Yosi cerita, pernah ada wisatawan bule yang tidak mengindahkan peraturan. Ia meloncat pagar dan ingin lewat lebih dekat dengan danau. Walhasil, ia terpeleset dan jatuh ke dalam danau. Tidak ada yang bisa menyelamatkan. Kawan-kawannya datang dan membawa berbagai alat canggih untuk bisa menemukan jasadnya dari dasar danau. “Mau dicari berapa lama pun tetap tidak ada. Tulangnya pun tidak ada. Ya sudah, ia jadi ‘warga’ sini sekarang,” kata Bang Yosi.

Kabut tebal sekali saat itu. Pak Markus bilang, lebih baik kita jalan saja, mudah-mudahan sesampainya di puncak, kabut sudah hilang. What? Kita masih harus jalan lagi? “Iya, untuk sampai puncak kita harus jalan kaki 2 km,” katanya. Ibu yang masih mabok langsung pucat. Tapi karena penasaran dengan keindahan Kelimutu, ibu tetap ikut naik. Bang Yosi juga ikut naik menemani kami.



Bener aja, segerombolan kera sudah menunggu kami dekat kawah pertama. Mereka sangat agresif. Pak Markus melemparkan pisang, dan langsung jadi rebutan.


Kami sampai di pinggir kawah pertama, Tiwu Ata Polo, yang dipercaya sebagai kampung bagi arwah orang-orang jahat. Waaaaaww... It’s soooooo beautiful! Amazing! Berdiri di tepiannya membuat kita merasa keciiiiiilll... sekali. Maha Besar Sang Pencipta.

Danau Tiwu Ata Polo

Danau Tiwu Nuamuri Koofai
Danau Tiwu Ata Polo kerap berwarna merah atau coklat, tapi waktu aku datang ke sana warna danaunya biru tosca pekat. Aku nggak kebayang bagaimana warna tosca sepekat ini kok bisa berubah jadi merah atau coklat. Sedangkan danau di sebelahnya, Tiwu Nuamuri Koofai dipercaya sebagai kampung arwah orang-orang muda atau bujang. Danau ini sering terlihat berwarna hijau atau biru tosca, dan kemarin danaunya sedang berwarna biru tosca pucat. Bang Yosi bilang, kedua danau ini memang paling sering berubah warna. Berbeda dengan danau satu lagi, yang cenderung tenang dan jarang berubah warna.

Danau Tiwu Ata Mbupu

Danau yang ketiga itu namanya Tiwu Ata Mbupu, dipercaya masyarakat sebagai kampung bagi arwah orang-orang tua yang bijaksana. Warnanya hitam kehijauan. “Makanya yang ini lebih tenang, jarang berubah. Kalau danau dua itu, bajingan semua memang, berubah-ubah terus warnanya, haha...” kata Bang Yosi. Danau ini letaknya terpisah dari dua danau berwarna tosca tadi. Kalau mau ambil foto ketiga danau bersamaan, mesti mendaki lebih jauh lagi untuk sampai di puncak sebelah sana. Ooaaaahhh... SEMANGAT ah! Satu-dua-tiga! Kata Pak Markus, ada 265 anak tangga yang harus kita daki.

hosh... hosh...
 Tiba-tiba Pak Markus berhenti dan memetik buah dari perdu ini... Pohon apa ya ini namanya... Pohon ini banyak terdapat di puncak-puncak gunung.


Kata Pak Markus, “Makanlah ini Nona, mudah-mudahan awet muda. Ini makanan para arwah.” Astagfirulloh, bukan berarti kalo makan ini saya jadi arwah kan Pak? “Tidak Nona, arwah makan ini jadi mereka abadi. Nona makan ini akan awet muda,” oooohh... kirain. (Eh, selama di sini orang panggil aku Nona, aku suka banget sebutan itu, manis sekali, hehe...)

Buah imut cemilannya Tio
Buahnya kecil-kecil, rasanya manis-sepat. Terus kata ibu, “Ini kan yang suka dimakan si Tio!” Hahaha... itu loh, Tio host Jejak Petualang Survival. Kita emang seneng nonton aksinya menjelajah hutan gunung, dan menemukan makanan-makanan untuk bertahan hidup. Ini salah satu buah-buahan gunung yang sering dicemil si Tio. Tapi aku lupa apa namanya. Rasanya segar, banyak airnya.

Akhirnya setelah melewati anak tangga ke-265 (kayaknya lebih deh) kami pun sampai di puncak Gunung Kelimutu, ketinggian 1.640 mdpl (aku dan Niko doang sih, Bapak dan Ibu masih narik nafas di tangga ke-100, hehe).

Puncak Kelimutu

Dari ketinggian puncak ini kita bisa melihat ketiga danau bersamaan. Tiwu Ata Polo dan Tiwu Nuamuri Koofai di sebelah timur, dan Tiwu Ata Mbupu di sebelah selatan. Baru saja kami sampai puncak, tiba-tiba kabut tebal datang menutupi pemandangan. Pak Markus bersiul-siul, dan setelah dua menit, kabut perlahan-lahan hilang. “Tuhan dengar doa kita,” katanya.

Danau tiga warna ini memang menjadi keajaiban tersendiri yang patut disyukuri. Allahu Akbar... Allahu Akbar... aku tak henti-hentinya memuji kebesaran Tuhan, yang telah menciptakan lukisan seindah ini. Subhanallah...



Di puncak ini ada penjual makanan. Ada kopi, teh, pop mie. Harganya Rp 10000-an. Wajar lah, belanjanya kan jauh! Naik ojek dulu, mendaki dulu, pengorbanan banget deh. Aku jadi teringat dulu waktu di padang Surya Kencana aku beli nasi uduk seharga Rp 14000 untuk sarapan. Isinya? Sambel dikiiiiittt doang plus seperempat telor. Tapi ya itu, kita tetap harus berterimakasih untuk penjual yang sudah mau bersusah-susah mendaki ke sini supaya kita tidak turun dengan perut kosong.

Dingin-dingin makan popmi anget-anget
Cukup lama kami menghabiskan waktu di puncak. Seolah enggan sekali meninggalkan semua pesona ini. Ohya, Pak Markus rupanya senang sekali memotret. Ia mengarahkan gaya kami begini, begitu, layaknya fotografer profesional. Kami senang-senang saja ada yang motret, hehe... Terus lucunya lagi, saking seringnya ia melayani wisatawan bule, Pak Markus pun jadi ikutan 'nginggris'. Beberapa kali ia ngomong “One more time, please,” usai memotret kami. Atau “A bit here,” saat mengarahkan kami untuk sedikit bergeser. Sesekali juga ia bilang, “No step there please, dangerous.” Oalaaaahh...^^

Aku bersama Pak Markus
Niko bersama Bang Yosi
Hampir dua jam kami puas menikmati pesona kawah Kelimutu di puncak. Untungnya cuaca cukup cerah jadi kami bisa lihat pemandangan yang luar biasa. Enggan sekali meninggalkan tempat indah ini. Tapi bagaimanapun kami tetap harus turun. Terlalu lama menghirup belerang juga tak baik.

Perjalanan turun. Ibu ternyata doyan buah 'arwah' dan metikin banyak buat dicemil -___-"

Di parkiran, tak lupa kami beli oleh-oleh kain tenun ikat seharga Rp 140000. Harganya macam-macam, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan motifnya. Terus jangan lupa, bawanya juga kan jauh dari bawah, hehe...jadi wajar kalo agak mahal. Sayangnya nggak ada oleh-oleh lain seperti kaos, gantungan kunci, atau apapun seperti yang bisa kamu temukan di parkiran Gunung Tangkuban Parahu, Bandung. Aku juga heran, mengapa di objek wisata kelas dunia ini justru sulit menemukan cinderamata.

Bapak memberikan tip kepada Pak Markus Rp 50000. Sebetulnya ia tidak mematok bayaran, tapi keramahan dan jasanya menuntun kami hingga selamat sampai sini memang patut dihargai. Pak Markus menahan kami sebelum naik mobil. “Tunggu sebentar,” tak lama ia kembali dengan membawa seplastik penuh buah lemon. “Baru saja saya petik dari kebun. Silakan, ini buah tangan dari Kelimutu,” katanya. Waaaaahhh Pak Markus baik sekaliiiii...! “Tuhan memberkati, Pak!” saya menjabat tangannya.

“Semoga Nona diberikan rezeki, diberikan umur panjang dan jodoh... Sehingga lain waktu Nona kesini bersama jodoh Nona...” Ya Allah, amin... “Amin...terima kasih Bapak. Semoga Pak Markus sehat terus dan diberikan umur panjang sehingga nanti kalau saya kesini kita bisa jumpa lagi,” saya tulus mendoakan. Kami pun berpisah. Pak Markus tak henti-henti melambaikan tangan.

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk ikut Bang Yosi lagi ke Ende. Malam ini dan seterusnya kami akan menginap di Ende saja. Toh hari ini tujuan utama kami untuk melihat Kelimutu sudah tercapai. Ya, benar juga. Mungkin dari Kota Ende kita akan bisa menemukan tempat-tempat wisata lain. Oke, sampai ketemu di Ende lagi!

Note:
Tarif awal yang disepakati bersama Bang Yosi adalah Rp 400000 sekali jalan (Ende-Moni) tapi ternyata kami minta untuk diantar hingga Kelimutu, Bapak menambahkan Rp 100000 untuk perjalanan Moni-Kelimutu (kami tidak keluarkan uang lagi untuk isi bensin). Karena kami kembali pulang ke Ende, jadi dikali dua. Bang Yosi baik sekali, ia mengantarkan kami keliling Kota Ende untuk mencari-cari penginapan. Kalau kamu mau berwisata ke Ende, aku rekomendasikan untuk menghubungi Bang Yosi yang sangat ramah dan bisa dipercaya ini. Nanti dia akan jemput kamu di airport dan mengantar kemana yang kamu mau.

Yosi Ende: 081339513882

Informasi lengkap mengenai biaya dan tempat menginap di Ende akan kutulis di bagian akhir catatan. Jadi ikuti terus ya!

2 komentar:

  1. Hi Ken,
    iya aku ikuti terus dan tak sabar rasanya ingin pergi ke danau Kelimutu juga.

    BalasHapus
  2. Salam kenal Ken, terimakasih ya buat tulisan Ken tentang Ende dan Kelimutu, saya lagi mencari cerita ini... Thank You banget udah berbagi

    regards
    wulan

    BalasHapus