Kamis, 17 Februari 2011

Penanganan terhadap Serangan Jantung Mendadak

Wafatnya Adjie Massaid beberapa hari yang lalu mengagetkan banyak orang. Betapa tidak, Adjie yang dikenal sebagai aktor dan politisi ini meninggal karena serangan jantung usai bermain sepakbola. Padahal usianya masih terbilang muda, 43 tahun. Ia juga dikenal sebagai orang yang sangat menjaga kesehatan dan rajin berolahraga.

Kejadian tersebut sekaligus membuat kita sadar dan waspada, betapa serangan jantung bisa menyerang siapa saja, dan kapan saja. Mungkin kita, atau orang-orang terdekat kita. Terutama bagi kita yang sudah memiliki faktor resiko tinggi terkena serangan jantung, misalnya obesitas, ada riwayat penyakit jantung di keluarga, pola hidup tidak sehat, dan malas berolahraga.

Menurut dr. Ugi Sugiri Sp. EM dari Medic-One, saat ini semua orang harus waspada akan penyakit jantung. “Dahulu memang berdasarkan hasil riset, usia 40 ke atas yang harus kita waspadai. Tapi belakangan, entah mengapa, batas usia itu semakin menurun hingga ke angka 35 tahun. Ya, ada kasus serangan jantung usia 35-40! Mungkin faktor gaya hidup atau apa, yang jelas kita semua sekarang harus lebih waspada,” jelasnya.

Ada tiga faktor umum yang menyebabkan seseorang terkena serangan jantung mendadak: makan berlebihan, udara yang dingin (sehingga pembuluh darah menyempit), dan peningkatan metabolisme tubuh, misalnya usai olahraga berat. “Biasanya hal-hal itulah yang memicu nyeri, atau bahkan serangan jantung,” tutur dokter Ugi.

Lalu bagaimana cara mendeteksi serangan jantung? Dokter spesialis penanganan keadaan darurat yang juga praktek di RS Fatmawati ini menjelaskan beberapa gejala awal. Pertama, nyeri dada, terutama dada sebelah kiri. Kemudian menjalar ke pundak, tangan, dan anggota tubuh lain. Badan lemas, dan nafas menjadi berat.

Jika hal itu terjadi, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk sedikit menolong penderita. (lebih jelasnya ada di lampiran file power point)
1. Istirahatkan, kurangi aktivitasnya. Jangan berikan makan atau minum, apalagi minum dingin
2. Posisikan duduk, posisi kepala lebih tinggi daripada dada.
3. Lepaskan ikatan yang menghalangi nafasnya, misalnya baju. Bimbing ia untuk mengatur nafas, usahakan dia menghirup sebanyak mungkin oksigen.
4. Berikan aspirin, yang berfungsi sebagai pengencer darah

Langkah-langkah di atas dilakukan terhadap penderita yang masih dalam keadaan sadar. “Yang penting, bagi penolong maupun yang ditolong, usahakan tenang. Kalau panik malah tidak ada yang bisa dilakukan, dan bisa semakin membahayakan penderita,” jelasnya. “Jangan diberikan aktivitas berlebih, lebih baik penderita diminta tenang, lalu lakukan langkah-langkah tadi sambil memanggil bantuan. Kalau dalam waktu 5 menit dia masih progresif atau bahkan (jantungnya) berhenti), baru dilakukan tindakan selanjutnya, yaitu Resusitasi Jantung-Paru (RJP).



RJP dilakukan ketika jantung atau nafas penderita sudah berhenti. Menurut dr Ugi, RJP termasuk ke dalam bantuan hidup dasar yang seharusnya semua orang bisa melakukan. “RJP ini tidak sulit dilakukan, tapi ini penting sekali. Ketika dilakukan dengan cepat dan tepat, bisa menyelamatkan nyawa orang lain. Harusnya semua orang bisa. Memang belum umum di negara kita, padahal kalau di luar negeri, semua orang sudah bisa melakukannya,” katanya.

Menurut Ugi, reaksi orang bisa berbeda-beda saat mendapatkan serangan jantung:
1. Ada yang nyeri, lemas dulu. Artinya ia masih dalam keadaan sadar
2. Ada yang pingsan sesaat karena rasa sakit, tapi kemudian bisa sadar lagi
3. Ada juga yang langsung tidak sadarkan diri, bahkan jantungnya berhenti mendadak.
Yang terakhir ini, diakui dr Ugi memang bisa berakibat fatal. “Jantung itu cepat sekali dropnya… jika kita bisa lakukan pertolongan yang tepat, cukup dalam waktu 4 menit, satu nyawa bisa diselamatkan. Itu jauh lebih penting daripada kita buru-buru, dalam keadaan panik semua, melarikan pasien ke rumah sakit. Ini malah bisa berbahaya bagi jantung pasien,” jelasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar