Selasa, 08 Februari 2011

"The Indonesian Language"

Kapan pertama kali berbicara dalam bahasa Indonesia?
Kapan pertama kali belajar tatanan bahasa Indonesia (secara formal)?
Kapan pertama kali peduli/menaruh perhatian yang agak serius terhadap bahasa Indonesia?
Kapan pertama kali menyadari bahasa Indonesia sedang kritis?


Jawaban kita dari keempat pertanyaan di atas kemungkinan besar akan merujuk ke masa yang berbeda-beda. Satu, saya pertama kali bicara dalam bahasa Indonesia pada saat berumur 15 bulan. Saya mengucapkan kata “Ibu”. Dua, saya pertama kali belajar tatanan bahasa Indonesia secara formal pada saat saya duduk di kelas 1 SD, yaitu ketika saya mendapatkan mata pelajaran “Bahasa Indonesia”. Tiga, saya pertama kali peduli/menaruh perhatian yang agak serius terhadap bahasa Indonesia yaitu ketika saya sudah kuliah di Jurusan Jurnalistik Fikom Unpad. Saya ketemu seorang dosen mata kuliah penulisan yang selalu mengajak para mahasiswanya untuk kritis terhadap tatanan dan logika bahasa Indonesia. Empat, saya mulai prihatin dengan perilaku orang Indonesia terhadap bahasanya, ketika saya menonton pemilihan Puteri Indonesia 2010. Saat itu pemenangnya adalah seorang gadis berwajah indo yang terus menerus menggunakan bahasa asing ketika menjawab pertanyaan dari juri. Bahkan saya juga tidak yakin dia bisa lancar berbahasa Indonesia, karena dia selalu menggunakan bahasa Inggris dan Perancis. Saya heran, ini pemilihan Puteri Indonesia atau Miss England sih? Padahal banyak finalis lain yang mampu berbahasa Indonesia dengan lebih baik, dan dengan percaya diri menjawab pertanyaan juri dengan bahasa Indonesia yang apik. Aneh betul, apa jadinya kalau Puteri Indonesia tak lancar berbahasa Indonesia.

Bahkan Presiden Republik Indonesia menginggris-inggriskan pidatonya. Dua kali, saya ingat betul. Padahal seingat saya bapak yang satu ini pernah diberikan gelar sebagai salah satu tokoh berbahasa Indonesia terbaik. Terakhir pidato yang nginggris-nginggris itu adalah pada saat Hari Pers Nasional. Waktu itu saya nonton di kantor, ada celetukan salah seorang wartawan senior yang juga gregetan mendengarkan pidato pak presiden, "Ini bukan Hari Pers Nasional, tapi The National Press Day!" Lama-lama Penghargaan Adinegoro berubah jadi Adinegoro Press Award tuh, mirip-mirip sama nasib sebuah penghargaan sastra Indonesia yang terkena virus nginggris: Khatulistiwa Literary Award.

Alif Danya Munsyi pernah mengatakan, “Yang pertama kali mengajari masyarakat berbahasa Indonesia bukanlah sarjana bahasa, melainkan PERS!” Tapi coba kita cek nama-nama rubrik/program acara di media massa: Islam Digest, Headline News, Breaking News, Inside, Economic Challenge.... dan masih banyak lagi.

Dua hari yang lalu, saya membuat transkrip wawancara dengan salah seorang pejabat di Kemenbudpar soal (nyaris) tersingkirnya Pulau Komodo dari nominasi Tujuh Keajaiban Dunia yang baru. Berikut beberapa petikannya yang sempat membuat saya mengerutkan dahi (karena bahasa Indonesia yang belepotan, ditambah-tambahi dengan nginggris yang berlebihan):

“Jadi dalam persyaratan mereka untuk kita terpilih itu ada advisory meeting. Mereka untuk datang ke sini. Advisory itu mereka memberikan nasihat untuk promote Pulau Komodo, untuk apa saja yang bisa dan tidak bisa dilakukan, terutama untuk sponsor. Jadi ada advisory meeting, saya ingat sekali, di situ juga mereka menawarkan indonesia cocok untuk menjadi host country. Ya kita sebetulnya oke2 aja. Artinya masih dalam proses penjajakan, belum kita committed untuk seterusnya. Karena memang term of conditionnya juga belum terlalu clear. Lantas mereka menawarkan Indonesia untuk jadi host? No no... nggak bisa dong.

Kita bisa jadi pemenang, kita bisa menjadi di-list menjadi host country. Tapi kan, tergantung kondisinya. Sama aja lah, kayak biasanya kita ngundang orang. But that's not necessary. Kita inginnya sudah committed dalam bentuk legal binding lah. Jelas term of condition-nya.

March (maksudnya bulan Maret) tanggal 30, dia malah bilang license fee itu cuma 7. terus approximative untuk venue, indoor sama outdoor. Outdoor itu sekitar 10-20 an. Terus untuk lain-lain, cost of production, 15-20. In summary, indoor venue 20-30. yang outdoor venue, 40-45 juta US dolar. Itu berarti 10 license plus 35 untuk production sama ini, indoor-outdoor."


WADUH! Kalau pejabat Kemenbudpar saja sudah tidak percaya diri menggunakan bahasa Indonesia, lantas budaya macam apa yang mau dipromosikan? Sedangkan bahasa menunjukkan bangsa.

Kenapa sih, orang Indonesia seperti tidak bangga dengan bahasa nasionalnya? Agak heran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar