Selasa, 23 November 2010

Nelayan Oh Nelayan



Stok BBM subsidi menipis, diperkirakan tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sampai akhir tahun 2010. Akibatnya, pasokan premium dan solar di SPBU banyak dikurangi. Orang-orang antri panjang.

Tapi pagi ini, ada berita yang ironis kulihat di televisi. Mengiris hatiku. Di Ende, Nusa Tenggara Timur, para nelayan membawa perahu mereka untuk antri di SPBU. Mereka bilang, sudah seminggu tak melaut karena tidak dapat pasokan BBM. Jadi mereka ikut antri saja di SPBU, di antara antrian mobil dan motor. Orang marah-marah, mereka bilang nelayan tak seharusnya antri di sana. Sempat ricuh.

Ah, aku sedih. Yang punya motor dan mobil itu kok ya jahat banget sama nelayan, marahin mereka yang ikut antri di SPBU dengan perahu mereka. Padahal mereka amat butuh solar untuk bahan bakar perahu. Kebanyakan nelayan miskin di Indonesia, kalau tak melaut tak makan. Pemerintah juga bagaimana, kok bisa sampai nelayan itu tidak dapat solar selama seminggu, sementara di “darat”, premium dan solar masih dipasok, walau dikurangi.

Kasihan.

Aku makin jelas saja melihat ketidakadilan. Selama ini yang terus diprioritaskan adalah kebutuhan orang-orang “darat”, terutama yang punya mobil dan motor. Kebutuhan nelayan, di sini jelas terlihat, dinomorduakan.

Dan aku, makin jelas saja melihat pemerintah yang kufur nikmat. Betapa tidak, negara kita lebih luas wilayah laut daripada daratnya. Di dalam laut Indonesia, aku yakin ada kekayaan tak terhingga. Tapi lihat, nelayan kita dianaktirikan. Padahal harusnya nelayan disayang-sayang. Difasilitasi dengan baik. Diberikan kehidupan yang lebih baik. Dan, dibantu dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, bagaimana caranya supaya bisa menangkap ikan dengan efektif dan efisien.

Harusnya nelayan tak lagi memikirkan “tak ada solar, tak melaut, tak makan”!

Tega betul pemerintah kita ini. Dengan kekayaan laut kita yang luar biasa, harusnya para nelayan bisa hidup sejahtera. Dengan wilayah laut yang begitu luas, harusnya mereka sudah bisa mengesksplorasi hingga tiap sudut biru Nusantara. Harusnya nelayan tak jadi masyarakat yang termarjinalkan.

Ya, tapi begitulah kenyataannya. Kita sering lupa bahwa negara kita adalah negara maritim. Bukan nelayan yang sejahtera, malah mall dan pabrik saja yang makin menjamur. Mulai dari pabrik rokok lokal sampai perusahaan multinasional, tumbuh subur. Bukan perahu nelayan yang dimanjakan, malah mobil-mobil mewah dan motor saja yang kian hari kian memenuhi jalan-jalan kota.

Sementara nelayan kita seminggu tak melaut, kapal-kapal asing justru setiap hari mencuri ikan di laut kita. Para nelayan makin sengsara. Seperti ayam yang mati di lumbung padi.

Catatan:
Soal ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang perikanan dan kelautan yang dapat membantu nelayan, sepertinya juga belum begitu dimanjakan. Aku jadi teringat perbincanganku dengan salah seorang Guru Besar UPI, Prof. Said Hamid Hasan. Ia pernah bercerita,
“Seorang ibu, doktor berusia 35 tahun, dosen biologi Universitas Sam Ratulangi. Ialah orang pertama di dunia yang berhasil mengembangkan plankton, yang selama ini dianggap tidak bisa diternakkan. Kalau plankton sudah bisa diternakkan maka industri perikanan pun akan maju. Maka ketika dia selesai (program doktornya) apa yang terjadi? Universitasnya (di Jepang) menolak dia untuk kembali ke Indonesia. Mereka menjanjikan gaji dan fasilitas untuk mendukung penelitiannya, supaya dia mau tinggal di Jepang. Ia bilang “Nggak, saya mau pulang, saya mau membangun bangsa saya.” Pulanglah ia ke universitasnya (di Manado), lalu di sana ia hanya diberikan lab (berukuran) 3x2 meter, dan... selesai sudah. Ilmunya habis. Tidak terpakai. “

See? Padahal menurutku, harusnya ilmu perikanan dan kelautan jadi primadona di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar