Rabu, 11 Juli 2018

Berkah

Di antara pertanyaan iseng orang-orang dewasa kepada anak kecil, satu yang sering ditanyakan adalah: "Ayahnya kemana? Kerja? Kerja cari apa?"

Tau kan biasanya apa jawaban anak? "Kerja nyari duit. Buat beli susu. Buat beli mobil. Dll"

Itu hal sepele, iseng, lucu-lucuan aja sih emang. Tapi dengan mengajarkannya jawaban tersebut, tanpa sadar kita sebenernya telah menanamkan bibit-bibit materialisme kepada anak. Kita mengajarkannya untuk menjadikan harta/kebendaan sebagai tujuan hidup. Dan bukan itu tujuan pendidikanku untuk Ali. Maka pertanyaan seperti itu dari orang membuatku berpikir, jawaban apa yang harus kuajarkan untuk Ali.

Aku berusaha keras menanamkan nilai keluhuran seperti rasa malu, syukur, sabar, juga konsep-konsep abstrak seperti mubazir, ridho, dan kali ini, berkah. Anak-anak pada usia Ali cenderung mempelajari sesuatu yang konkret, maka memang tidak mudah mengajarkan hal-hal tersebut. Harus diulang-ulang terus supaya terinternalisasi di benaknya.

"Kenapa Ali gak boleh beli mainan itu?"
Kalo kita jawabnya: "Kan mainan Ali sudah banyak." Niscaya akan dia jawab: "Tapi yang itu belum punya." Anak tuh pinter. Tapi aku selalu menjawab dengan "Mubazir, Nak." Titik. Dia sudah tau bahwa mubazir itu berarti berlebihan, sia-sia.

"Kenapa Ali gak boleh pipis di luar?" Kalo kita jawabnya: "Nanti ada kelihatan orang/Nanti pipisnya digigit semut." Dia akan jawab: "Gak ada orang tuh. Di sebelah sana aja yang gak ada semut." Tapi aku selalu jawab, "Aurat Nak, malu. Orang gak lihat tapi Allah lihat." Titik.

"Kenapa Ali harus sunat?" Kalo kita memotivasinya dengan: "Nanti Mama belikan mainan robot gede kalo Ali mau sunat." Selamanya dia akan minta "imbalan" dari kita sebagai syarat. Aku mengajarkan, "Sunat untuk anak laki-laki itu perintah Allah supaya Ali lebih bersih, terhindar dari kotoran dan penyakit. Kalau Ali melakukannya, Allah ridho sama Ali." Ya meskipun sampe skrg dia belom mau sunat, caraku memotivasi dia tidak akan berubah.

"Ayah Ali kerja cari apa?" Hmm.. kalo kita mengajarkannya untuk menjawab: "Cari duit." Yah, kalo cari duit doang mah jadi maling aja. Jadi koruptor. Dapet duit, beli mobil bisa, beli mainan bisa, apalagi beli susu doang. Jadi kuputuskan untuk mengajarkan Ali jawaban: "Ayah kerja cari berkah..." Berkah bukan benda, bukan sesuatu yang bisa Ali pegang untuk bayar mainan. Tapi memang itulah inti dari mencari nafkah, kan?

Capek, kalau kita mengajarkan anak untuk mengejar kebendaan, menjadikan harta sebagai tujuan. Karena itu nggak ada habisnya, dan... salah. Aku membesarkan Ali dengan identitas seorang muslim, maka tujuan hidupnya harus seiring dengan nilai-nilai Islam, demi mencapai ridho Allah. Satu tujuan yang sangat agung dan mulia, dan itu bukan benda. Allah yang ghaib, yang Ali tidak pernah melihatnya, tapi ia harus meyakininya dengan IMAN. Demikianlah ia akan bertumbuh.

Barokallah anak sholih. Semoga Allah senantiasa membimbing hati dan pikiranmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar