Jumat, 11 Maret 2016

Minimalist Living

Suatu ketika, temen2 main ke kontrakanku. Aku menyajikan minuman. Eh gelasnya kurang. Kucuci dulu deh gelas kotornya. Piring juga. Kak Noni komentar. "Lo punya brp gelas dan piring sih Ken?" Mmm... Piring ada 4. Mangkok 4. Gelas 6. "Panci, wajan, kukusan, teflon?" Masing2 satu berdasarkan fungsinya "Kok bisa siiiihhh..."

Aku terbiasa hidup berpindah2. Dulu waktu mondok, kami rutin pindah kamar tiap semester. Supaya bisa bersosialisasi. Lalu kuliah aku ngekos. Kerja, ngekos lagi. Setelah nikah, ngontrak rumah. Makanya aku males punya barang banyak. Ribet pindahannya! Kalo barang dikit kan ringkes. Paling 1-2 kali balik juga kelar beresin.

Setelah menikah pun demikian. Di kontrakan, kami cuma punya karpet, kasur, gantungan baju, rak, dan lemari laci kecil. Yang gede paling kulkas aja. Aku demen banget sama furnitur yang foldable atau inflatable. Seandainya aja mesin cuci gue bisa dilipet atau dikempesin. Aku seneng aja kalau rumah tampak luas dengan sedikit barang. Bayiku pun puas mengeksplorasi setiap sudut rumah, dengan aman.

Kamu tau kan modelnya rumah orang Jepang? Rumahnya Nobita. Gak ada barang2 apapun yang tinggu menjulang. Sebab orang Jepang punya filosofi, di dalam rumah, bangunan paling tinggi yang dilihat anak adalah ibunya.

That's what we call "minimalist living to maximize your life".

Sederhananya, minimalist living adalah hidup dengan lebih sedikit barang dan lebih banyak ruang. Dan ini bukan cuma soal penataan rumah. Ada ide besar di baliknya.

Pertama, tentang menolak konsumerisme. Kalau punya uang, manusia tuh bisa jadi konsumtif banget. Mariah Carey punya 5000 pasang sepatu di rumahnya. Apakah itu semua bakal dia pakai terus seumur hidupnya? Belum tentu. Paling dipake sekali2 lalu dipajang doang. Apa ada manfaatnya? Gak ada. Minimalist living berarti kita berpikir sebelum membeli, apakah benda ini benar2 kita butuhkan? Kalau kita membeli yang baru, yang lama akan dikemanakan?

Kedua, hidup minimalis berarti kita berkomitmen mengurangi sampah dengan HANYA membeli apa yang kita BUTUHKAN. Seringkali kita membeli barang2 yang tidak kita butuhkan, yang di kemudian hari akan berujung menjadi sampah. Karena semakin banyak kita membeli/konsumsi = semakin banyak kita menghasilkan sampah. Ketika kamu membeli dan terus membeli baju, ada yang lucu beli lagi, ada model terbaru beli lagi, dst, lama kelamaan baju akan menumpuk di lemarimu. Sampai bertahun2 lamanya, kamu bongkar2 lemari dan bilang, "Ini kan baju lama, kapan ya gue belinya? Jadul banget modelnya. Udah gamuat pula." Then? Pasti kamu buang. Belum lagi barang2 yang rusak, kotor, males merawatnya, pasti ujung2nya buang. Kamu menghasilkan banyak sekali sampah.

Terus gini. Kalau kamu punya banyak sendok, udh gak muat di tempat sendok yang sekarang, lalu kamu merasa harus beli tempat sendok/organizer baru untuk menampung sendok-sendokmu. Itu salah. Yang harus kamu lakukan adalah menyingkirkan sebagian sendok itu supaya muat di tempatnya yang sekarang, bukan beli tempat baru.

Ketiga, kamu bisa mengalihkan energi, pikiran, dan budgetmu untuk hal lain yang lebih bermanfaat. Mark Zuckerberg suatu ketika pernah ditanya, kenapa sih kamu make kaos abu2 yang itu ituuu melulu. Padahal kan situ orang kaya, emang gada duit buat beli baju?

"I really want to clear my life so that I have to make as few decisions as possible about anything, except how to best serve this community," kata Mark. Daripada setiap mau tidur sibuk mikirin, "Emm besok pake baju apa ya, eh iya besok mau pake sepatu yg itu tapi lupa naro dimana... Besok juga ada midnight sale di xxx gue dateng gak yah," pehlis deh lebih baik dia mengalokasikan energi, pikiran, dan budgetnya untuk hal lain yang lebih bermanfaat toh.

Itulah sebabnya, menuju poin keempat, kita belajar untuk memilih barang. Buy less choose well. Beli secukupnya, barang yang berkualitas, awet, dan tampak bagus. Itu lebih baik daripada kita beli barang murahan yang gak awet dan memaksa kita untuk gonta-ganti.

Kelima, kita belajar untuk tidak menunda2 pekerjaan. Aku cuma punya satu wajan. Mau goreng ikan, eh tapi wajannya kotor masih ada minyak bekas goreng pisang. Ya cuci dulu! Coba seandainya aku punya 3 wajan. Mungkin aku akan ambil wajan lain yang bersih. Sampai semua wajan kotor baru akan kucuci. Dampaknya? Cucian piring tampak menggunung, males ngeliat, males ngerjain, ditunda2, rumah berantakan.

Nah kalau rumah udah berantakan lebih mumet lagi bawaannya. Males ngapa2in bahkan males beresin karena seringkali hopeless mau mulai dari mana. Ya kan?

Yuk, mulai tata kembali tempat tinggal kita supaya ia bisa berfungsi sebagaimana mestinya, menjadi tempat istirahat yang nyaman, bukan berantakan. Bagaimana memulai minimalist living?

*) Siapkan sejumlah kardus besar untuk menampung barang2 yang akan kau singkirkan.
*) Mulailah beres2. Singkirkan benda yang sudah lama tidak kau gunakan, atau tidak akan kau gunakan lagi. Baju n jeans waktu SMA, bhay! Foto n surat2 dari mantan pacar, bhay! Katalog produk MLM, bhay! Kaset en dvd jadul, bhay! Pilah setiap benda berdasarkan jenisnya supaya enak kalau mau diberikan ke orang lain. Kuatkan mental, jangan sayang2, ingat, hanya simpan benda yang kamu butuhkan.
*) Ajak anak untuk memilah mainannya juga. Misal, berikan ia satu box besar sebagai tempat mainan. Katakan, "Ini tempat mainanmu. Tidak boleh lebih dari ini. Kalau kamu beli mainan baru dan gamuat di box, berarti harus ada mainan lama yang disingkirkan.
*) Kamu akan kaget betapa selama ini kamu hidup di tengah2 sampah, di antara tumpukan barang yang tidak kamu butuhkan. And now see, how much space you have!
*) Panggil pemulung atau tukang barang rongsok, tawarkan apakah mereka mau mengambil barang2mu. Jangan dibuang begitu saja di tempat sampah ya. Tawarkan ke pemulung, maukah mereka menerima barang2 bekas ini.
*) Tata lagi ruang2 yang tersisa di dalam rumah, dan nikmati hidup yang terasa lebih nyaman dan legaaaaa...

Minimalist living, maximize your life!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar