Selasa, 17 Juli 2012

Catatan Mahasiswa Tingkat Akhir


Halo, Ken Andari kembali lagi menulis setelah beberapa bulan terakhir ini berjuang menyelesaikan skripsi dan melewati berbagai sidang. Alhamdulillah..

Skripsi… Skripsi… Ah apaan sih? Kenapa harus ada skripsi? Ngapain dikerjain ribet-ribet, itu kan cuma syarat? Nantinya juga cuma berakhir jadi tumpukan kertas!

Oh ya?

Hmm… buatku skripsi bermakna lebih dari itu. Skripsi adalah sebuah proses yang mahal harganya. Proses pendewasaan diri. Dulu, waktu sekolah dan kuliah, kamu punya jadwal yang mengatur kamu. Setiap PR dan tugas ada deadline-nya, terus dinilai apakah hasil tugas kita sesuai sama apa yang diajarkan guru/dosen.

Tapi saat mengerjakan skripsi, kamu akan belajar untuk bertanggung jawab. Tanggung jawab atas usulan penelitian yang kamu ajukan. Tanggung jawab untuk menyelesaikan apa yang telah kamu mulai. Tidak ada jadwal yang mengatur kapan kamu harus mengerjakan skripsimu. Pun tidak ada deadline yang memaksamu menyelesaikan itu. Dosen pembimbing hanya mengarahkan, tetapi selebihnya kamu-lah yang harus bisa mempertahankan ide penelitianmu. So, it’s all about yourself.

Buatku, skripsi ini bermakna lebih dari sekadar tumpukan kertas atau syarat lulus kuliah. Ini bukan tentang hasil, ini adalah sebuah proses.

Proses mengalahkan diri sendiri; egoisme dan kemalasan. Kalau dipikir-pikir, skripsi tuh sebenarnya buat apa sih? Ribet-ribetin aja. Toh aku belum jadi sarjana pun udah bisa kerja! Mungkin kita sering berpikir gitu. Ah, itu namanya egois. Apakah kita kuliah cuma untuk diri sendiri? Tidak. Ada orang tua yang selalu menunggu kabar kelulusan kita.

Wisuda
Skripsi itu biar apa sih? Biar lulus! Kalau sudah lulus kita bisa wisuda. Buat kita, wisuda memang nggak terlalu penting. Cuma seremoni. Tetapi buat orang tua kita, itu bermakna banyak. Itu adalah simbol kebanggaan, anaknya berhasil menyelesaikan pendidikan, dan sekarang sudah jadi sarjana. Betapa bangganya mereka melihat anaknya bertoga. Kita tidak bisa membalas semua limpahan materi yang sudah mereka keluarkan untuk kuliah kita, tetapi kita bisa membuat mereka bangga dengan wisuda. Itu adalah sebuah hutang yang harus kita lunasi. Dan salah satu tahapan untuk menuju wisuda adalah skripsi. Makanya kita harus bisa mengalahkan semua egoisme dan kemalasan diri, demi kebanggaan untuk orang tua kita.

Skripsi itu proses menguji batas kemampuan diri. Ya pikiran, ya tenaga, ya mental, ya kesabaran. Tumpukan kertas, nilai, dan yudisium itu hanyalah simbol garis “FINISH”. Itu hanya evaluasi dan penilaian orang lain yang melihat dari luar. Tetapi proses yang sesungguhnya terjadi dalam diri sendiri.

Seperti aku, makna dan manfaat sesungguhnya dari skripsi justru kudapatkan selama proses 6 bulan itu. Iya, 6 bulan. Lebih sih kayaknya. Aku harus tiga kali mengajukan usulan masalah sebelum akhirnya diterima. Gonta-ganti judul. Ngubek-ngubek identifikasi masalah. Udah bikin bab 2 dan 3 banyak-banyak, eh ternyata salah. Ganti lagi. Ganti lagi. Ganti lagi. Membagi waktu dengan jadwal kerja. Menyingkirkan pikiran galau-galau nggak penting (halahh…) Mengejar dosen pembimbing ke sana ke mari. Sidang sendirian, pembimbing ga ada yang dateng, ga ada yang ngebela. Ujung-ujungnya ditangguhkan. Ah sedih. Harus revisi, rombak lagi, bener-bener rombak. Ah ya… pasti kamu tau gimana rasanya.

Berat memang, proses yang demikian mahal dan melelahkan. Tapi aku tidak sekalipun merasa waktuku terbuang sia-sia dalam proses pengerjaan skripsi yang lama itu. Karena selama itu pula-lah aku belajar. Aku belajar banyak hal, membaca banyak buku, mewawancarai banyak orang, menyaring berbagai perspektif, lalu belajar membahasnya dengan kritis. Aku memperluas wawasan.

Aku belajar sabar menghadapi berbagai cobaan. Sabar… kerjakan saja pelan-pelan. Aku belajar ikhlas menerima kenyataan saat aku harus gagal atau tertinggal dari teman-temanku yang lain. Aku belajar bersyukur dan mengambil sisi positif dari setiap kejadian. Aku belajar berlapang dada dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Ibuku selalu bilang, berdoa sudah, berusaha sudah. Kalau ternyata yang terjadi tidak sesuai harapan, berarti itu bagian dari rencana Allah untuk menguji kita. Sering kita berpikir kita tidak mampu dan hampir menyerah, namun Tuhan memberikan ujian justru karena ia percaya kita mampu. Karena ia mengenal kita melebihi diri kita sendiri. 

Aku bisa bilang, aku adalah orang yang berbeda jika dibandingkan dengan aku dulu sebelum mengerjakan skripsi. Aku punya kematangan sikap dan pikiran yang berbeda. Aku berkali-kali jatuh, dan berkali-kali itu pula aku belajar bangkit. Itu adalah proses pendewasaan diri yang terlalu berharga untuk bisa dinilai dengan huruf mutu A-B-C saja. Nilai skripsimu yang sesungguhnya dilihat dari seberapa besar proses pembelajaran dan pendewasaan yang terjadi di dalam dirimu.

It’s all about journey, not destination.

Dari skripsi, aku belajar mendekatkan diri kepada Allah. Bersyukur atas setiap kesempatan dan pembelajaran yang Ia berikan. Berterima kasih atas doa-doa yang Ia kabulkan.

Kedua orang tuaku, yang selalu jadi motivator terbesarku. Mereka dengan sabar menguatkan hatiku untuk selalu mengerjakan, biarpun perlahan tapi pasti. Untuk selalu ikhlas dan sabar atas segala cobaan. Nggak pernah bosan ngingetin untuk jaga kesehatan, jangan begadang, jangan telat makan, jangan lupa minum vitamin. Mengingatkan aku untuk bangun pukul 3 pagi, solat lalu mengerjakan lagi. Walaupun aku tahu betul mereka sangat mengharapkanku untuk lekas wisuda, namun mereka tidak pernah menekan aku dengan menuntut ini-itu. Terima kasih Pak, Bu, atas pengertiannya. Aku akan jadi apapun yang kalian inginkan. Semoga suatu saat Allah mengizinkanku membalas kasih sayang kalian.  

Aku ingin berterima kasih dan bilang “kangeeeeennn…!” sama anak-anak Jurnal 07, yang selalu membuat Jatinangor terasa begitu nyaman. Ah, tau nggak sih, salah satu pelecut semangatku setiap kali aku merasa down saat mengerjakan skripsi? Video ini!



It’s so beautiful… Sering banget saat aku ngerasa down, capek, enggan ngerjain, aku setel lagu Tyler Hilton itu sebagai penyemangatku. Ayo Ken, keep on… keep on… when you can’t understand, but you’re starting to see, it’ll work in the end. You just got to believe, keep on… keep on… Terus aku nangis. Terharu, karena dari lagu itu aku mendengar teman-temanku tulus menyemangati. Terima kasih teman-teman! Aku kangen!


Buat teman-teman, yang masih berjuang nyekripsi, SEMANGAT...!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar