Kamis, 19 November 2009

Monumen Perjuangan dan Prasasti yang Terlupakan



Ruangan tampak gelap. Hanya ada cahaya dari sorot beberapa lampu yang tersisa di langit-langit ruangan. Lainnya tinggal kabel saja, menjulur ke luar, berantakan. Di sebelah kanan ruangan, berderet sejumlah kotak kaca yang berisi replika peristiwa-peristiwa bersejarah di Jawa Barat. Ada replika peristiwa Bandung Lautan Api, perundingan Linggarjati, pembuatan Jalan Raya Pos yang menampilkan Pangeran Kornel dari Sumedang yang menolak bersalaman dengan Daendels, dan sejumlah peristiwa bersejarah lainnya.

Segerombol anak laki-laki berpakaian seragam merah-putih masuk ke dalam ruangan sambil berlarian. Mereka langsung menyerbu melihat kotak-kotak kaca.
“Wuih, kepalanya buntung!” seru Fikri (10), seorang siswa kelas 5 SD Haur Pacung Bandung sambil menunjuk-nunjuk ke dalam sebuah kotak kaca. Tiga orang temannya pun segera menghampiri. Mereka asyik mengamati replika peristiwa perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa terhadap penjajah Belanda. Di situ memang ada boneka serdadu Belanda yang putus kepalanya setelah ditebas pedang Sang Sultan.

Segerombolan anak lain pun datang. Kali ini anak perempuan. “Ih, serem ah, gelap, nggak mau ke sana!” kata seorang anak sambil gemetaran. “Nggak ada apa-apa kok, ayo kita lihat!” kawannya menimpali sambil menarik tangan si gadis kecil yang ketakutan. Tiba-tiba seorang anak laki-laki iseng memadamkan lampu ruangan, dan mereka semua pun lari tunggang langgang.

Fikri dan kawan-kawannya bukan sedang berada di Monumen Nasional Jakarta, tempat kita bisa melihat replika peristiwa-peristiwa heroik bersejarah bangsa. Tapi mereka juga bukan sedang berada di dalam sebuah goa atau tempat menyeramkan lainnya. Mereka sedang berada di dalam ruang bawah tanah Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (MPRJB), yang terletak di Jalan Dipati Ukur, Bandung. Sebuah monumen gagah yang berdiri berseberangan dengan pusat pemerintahan Jawa Barat, Gedung Sate.

Siang itu, Sabtu (31/10) ruang bawah tanah monumen memang sedang dibuka untuk umum. Di dalamnya ditempatkan stand Direktorat Jenderal Purbakala sebagai bagian dari rangkaian pengisi acara Festival Kemilau Nusantara 2009 di Bandung. “Sudah tiga hari kami menjaga stand di sini,” ujar Alan Rendra (40), salah seorang staf Dirjen Purbakala yang ditemui di dalam ruangan tersebut.

Jangan bayangkan ruang bawah tanah seperti basement, gudang, atau seperti ruang bawah tanah Gedung Merdeka, yang tidak layak huni. Ruang bawah tanah MPRJB ini sangat baik kondisinya. Terdiri dari ruang galeri, auditorium, perpustakaan, dan ruang kantor. Sudah terdapat lampu, AC (air conditioner), bahkan toiletnya pun bagus. “Tapi semenjak tidak ada yang mengelola, banyak fasilitas yang rusak. Sangat disayangkan. Lampunya banyak yang mengambil. Dinding-dindingnya kotor. Lagipula sebetulnya, ruang bawah tanah monumen ini layak huni. Kalau dibiarkan terus seperti ini, sayang sekali.” ujar Alan sambil mengarahkan pandangannya ke sekeliling ruangan.

Tak semua orang tahu kalau monumen ini punya ruangan bawah tanah. “Saya yang sudah dua tahun tinggal di Bandung saja baru tahu kalau monumen ada ruang bawah tanahnya. Bagus pula,” tutur Dewi (22), mahasiswa Unpad asal Tasikmalaya yang baru pertama kali mengunjungi ruangan ini.

“Kalau saya, sebetulnya dari dulu tahu monumen ini punya ruangan bawah tanah, tapi hari-hari biasa jarang sekali dibuka. Padahal anak saya penasaran sekali ingin melihat isinya. Memang masih kosong, koleksinya belum banyak. Dan tempat sebagus ini tidak terawat juga, sayang sekali,” ujar Evi (34), ibu rumah tangga asal Bandung yang datang bersama anaknya.

***

Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat ini mulai dibangun sejak tahun 1990, dan diresmikan tahun 1995 oleh Gubernur Jawa Barat saat itu, R. Nuriana. Bangunan unik ini merupakan karya arsitek Sunaryo Kusumo. Monumen ini menggambarkan perjuangan masyarakat demokratis non-hirarkis Jawa Barat. Letaknya yang tepat di pusat kota, dekat dengan kawasan pendidikan, sebetulnya sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai ruang publik.

Sayang, kini bangunan yang menyerupai rumpun bambu ini tak bisa berfungsi sebagai panggung pesta publik seperti dikonsepkan pada rancangan awal Sunaryo. Relief dan diorama sejarah perjuangan rakyat Jawa Barat pada bagian bawah monumen itu ternyata tidak pernah dimanfaatkan, bahkan tidak dirawat sebagaimana mestinya, hingga kini bentuknya sudah tak karuan dengan pilok dan coretan.

Melihat keadaan museum bawah tanah yang disia-siakan ini, Dirjen Purbakala Jawa Barat pun segera bertindak.“Sebetulnya ide museum ini sudah ada sejak pertama bangunan ini dibuat, tapi memang untuk merealisasikannya butuh persiapan dan kordinasi dengan pihak-pihak lain. Rencananya tahun 2010 sudah bisa mulai dibuka museumnya, tapi belum tahu tepatnya kapan. Saat ini kami sedang membuat perencanaan yang matang, dengan kordinasi yang baik, mudah-mudahan museum ini tidak lagi terbengkalai jika sudah dikelola nanti,” jelas Alan.

Saya melangkah ke luar museum. Sebelum pintu masuk, di antara diorama dan relief perjuangan, saya mengamati tulisan yang tertera di atas sebuah lempengan kuning yang sudah dikotori tangan-tangan jahil. Saya tertegun membaca agungnya kalimat-kalimat dalam sajak karya Saini K.M itu:

Orang muda, kini giliranmu telah tiba
Untuk menerima anugerah sejarah
Rapatkan barisan, langkah tegap ke depan
Dengan karunia-Nya sepanjang jalur jejakmu
Impian demi impian akan terwujud
Julang panji, kibarkan bagi segala taufan
Karena di bahumu akan diletakkan fajar
Bagi cakrawala baru, bagi zaman yang besar.


Sangat ironis, prasasti indah yang dipersembahkan untuk generasi muda itu justru kini dikotori oleh tangan-tangan yang seharusnya menjaganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar