Kamis, 25 Desember 2008

Jurnalistik, Sebuah Pilihan


Saya suka menulis. Dengan menulis, saya merasa bisa semakin mengenal diri saya, punya waktu untuk berbicara dengan diri saya sendiri. Kadang lewat menulis saya menemukan sesuatu yang sebelumnya jauh terkubur dalam benak saya. Maka saya sengaja memilih jurusan jurnalistik. Bila ditanya mengapa, sejujurnya saya tak punya jawaban yang tepat selain hanya karena mengikuti kata hati (Menurut saya itulah jawaban paling tepat. Adakah alasan lain?)

Bukan semata karena saya ingin jadi wartawan. Wartawan itu kan profesinya. Saya tertarik justru kepada nilai-nilai yang diajarkan dalam dunia jurnalistik. Kedisiplinan, keberanian, kesetaraan, kepedulian, keingintahuan yang besar, dan banyak lagi. Ya, nilai-nilai dalam jurnalistiklah yang sesungguhnya menarik saya ke dalam jurusan ini (baru kali ini saya bisa merumuskannya dalam kata-kata). Saat itu, saya memberikan pilihan sepenuhnya kepada diri saya sendiri. Orang tua juga membebaskan saya, tapi harus bertanggung jawab. ”Kamu kan sudah dewasa, sudah tahu apa yang akan kamu pilih jadi jalan hidupmu. Semuanya kamu yang menjalani, bukan bapak-ibu, jadi silakan saja. Bapak-ibu percaya kamu sudah tahu mana yang baik dan benar untuk dirimu sendiri,” Asyik ya? Tapi kepercayaan mereka yang begitu besarlah yang menjadi tanggung jawab saya.

Saya terus berusaha untuk mengenali bakat dan potensi diri sendiri, sampai akhirnya yakin bahwa kemampuan saya adalah di bidang bahasa dan tulis menulis. Saya juga ingin menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Saya ingin bisa membantu mencerdaskan bangsa. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi hati dan pikiran saya untuk memantapkan “jurusan jurnalistik”. Sudah, saya membulatkan tekad dan mencoba “tutup kuping” atas semua cemoohan yang saya dengar. Saya segera mencari informasi mengenai kampus dengan pendidikan jurnalistik terbaik di Indonesia. Dari sekian banyak sumber, saya menyimpulkan bahwa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran terkenal dengan Jurusan Publisistik (sekarang jurnalistik). Saya langsung berkata, ”Oke, this is it. Bismillahirrahmanirrahim”. Saya berusaha keras sampai akhirnya alhamdulillah bisa diterima tepat disini. Exactly what I want. Memang sih beberapa waktu yang lalu saya sempat ciut juga melihat para senior dengan segala kesibukannya sebagai calon jurnalis. Tapi saya bukan orang yang bisa dengan mudah mengubah haluan dan tujuan hidup saya. Saya sudah bertekad sejak saya kelas 2 SMU bahwa saya akan masuk Fikom Unpad Jurusan Jurnalistik, dan itu adalah cita-cita saya. Bismillahirrahmanirrahim. Allah Maha Tahu apa yang terbaik bagi setiap hamba-Nya.

Hingga hari ini, kurang lebih sudah dua bulan lamanya saya belajar di jurusan jurnalistik (Jurnal). Saya menikmatinya. Bahkan, saya merasa beruntung kuliah disini. Pertama, karena angkatan saya sedikit, hanya 55 orang. Saya merasa jadi lebih dekat dengan teman-teman. Kedua, bagi saya para dosen jurnalistik bukan sekedar mengajar, mereka juga mendidik kami semua. Mereka adalah orang-orang yang profesional di mata saya. Berwawasan luas, tegas, disiplin, tapi tetap asyik. Pertemuan pertama sudah langsung belajar, langsung diberikan tugas. Tidak ada korupsi waktu. Jika sudah waktunya masuk, ya masuk. Dan jika belum waktunya libur, ya masuk juga. Beberapa teman saya dari jurusan lain, pada minggu pertama masuk kuliah mengeluhkan kegiatan belajar-mengajar yang belum efektif. Tidak ada kabar pasti. Padahal mereka sudah siap masuk sejak seminggu yang lalu tapi kegiatan kuliah baru efektif mulai minggu depan. Sedangkan saya, alhamdulillah sudah dapat banyak ilmu selama seminggu. Jadi saya merasa, tidak sia-sia orang tua bayar SPP saya. Pak Dandi, seorang dosen Jurnal sendiri pernah mengatakan, jurusan jurnalistik ini berbeda dengan jurusan lainnya di Fikom. Kita punya nilai-nilai plus.

Dengan dosen-dosen yang kredibel, suasana belajar yang kondusif (karena jumlah orangnya juga sedikit), kedisiplinan, pelajaran dan tugas-tugas yang berkualitas, serta suasana yang akrab dengan teman-teman dan para dosen, bagaimana mungkin saya tidak bersyukur? Banyak senior yang bilang, “Ah sekarang aja kamu masih merasa enak, coba aja nanti kalau sudah mengalami ini dan itu, bla bla...” Saya cuma bisa berharap, semoga Allah terus mengingatkan saya untuk mensyukuri nikmat-Nya.

Ya memang, mungkin tak semua orang berpikiran seperti saya. Hidup ini adalah sebuah pilihan. Begitu juga masuk Jurnal. Memang banyak hal di Jurnal, yang kata orang nggak enak. Banyak tugas, kuliah melulu, dikejar deadline, lulusnya lama, dan sebagainya. Tapi banyak positifnya juga kan? Itulah pilihannya. Apakah kita melihat masalah sebagai hambatan atau sebagai tantangan? Saya teringat sebuah pesan singkat tapi bermakna yang dikirimkan kawan saya, Nurida. Mana yang akan kita pilih, bahagia dalam bentuk syukur atau berbahagia dalam bentuk ikhlas? Life’s that simple. Saya juga selalu teringat perkataan bijak guru saya, “Bila kau hanya menghitung kekurangan, tak akan tampak olehmu kelebihan. Dan bila kau selalu menghitung kelebihan, tak akan tampak olehmu kekurangan”.

Allah telah menjanjikan untuk hamba-hambaNya yang bersyukur, niscaya akan Ia tambah nikmat-Nya. Sedangkan untuk orang-orang yang kufur nikmat (tidak bersyukur), Ia mengingatkan mereka akan azab-Nya yang pedih (QS 14:7). Saya percaya janji Allah. Maka saya selalu mencoba untuk bersyukur dan bersyukur supaya saya jadi lebih tenang dan bahagia menjalani hidup. Bahasa kerennya, “Enjoy aja!” Selain itu, saya juga merasa, toh saya mengerjakan tugas-tugas ini kan untuk diri sendiri, untuk kemajuan dan kekayaan wawasan saya juga. Jadi selama tugas itu baik untuk saya, maka saya melihatnya sebagai hak saya untuk mendapatkan ilmu, hak saya untuk bisa maju dan berusaha menjadi yang terbaik.


Jatinangor, 25 Desember 2008

3 komentar:

  1. kak, mau sharing-sharing masalah jurnalistik dong, saya silmy kelas 2 sma mau banget kuliah di jurnalistik tapi agak galau,
    @silmykaaffah

    BalasHapus
  2. Masyaallah, keren kak... jadi mungkin tertarik sama jurnalistik

    BalasHapus
  3. Masyaallah, keren kak... jadi mungkin tertarik sama jurnalistik

    BalasHapus