Minggu, 12 Maret 2017

Sebaik-baik Pengingat

Ini kali pertama aku mengalami kehilangan seseorang yang sangat dekat, yang sehari-hari bersamaku. Mbah memang sudah sangat tua, dan seringkali mengingatkan kami bahwa ia bisa dipanggil Allah kapan saja. Namun tidak ada seorang pun yang siap kehilangan. Seperti ada kehampaan besar di hati, di rumah, di mana saja kami biasa melihat Mbah beraktivitas.

Tapi wafatnya Mbah membuatku merenungkan banyak hal. Sungguh kematian adalah sebaik-baik pengingat.

Belakangan, aku seperti sedang galau menjalani aktivitasku sebagai IRT yang sehari-hari kerjaannya ngurus rumah dan nemenin Ali main. Padahal dulu, semasa kuliah, aku semangat menyuarakan feminisme dan apa yang kujalani saat ini sangat jauh dari bayanganku dulu. I was a journalist before. I used to travel a lot, mewawancarai sosok-sosok inspiratif. Pulang kerja, kumpul dulu sama temen-temen. Betapa aku sangat merindukan bekerja di luar rumah. Akhir-akhir ini, aku sering merasa useless, powerless, jenuh dan penat sekali rasanya. Seperti post power syndrome.

Aku juga tinggal bersama bapak-ibu, dan Mbah juga suka tinggal di rumah. Extended family. Tidak mudah, seringkali terjadi perbedaan pendapat dalam hal mengurus rumah atau mengasuh Ali.
Namun hari-hari terakhir bisa merawat Mbah sungguh membuatku bersyukur dan merenungi lagi posisiku saat ini. Aku memang di rumah saja sehari-hari, aku jadi punya banyak waktu luang bersama keluarga. Menemani anakku main, memasak untuk suami, ngobrol dengan bapak dan ibu, serta, menemani Mbah tidur siang. Aku suka bersepeda dengan Ali saat pagi dan sore, membawakan kue untuk Mbah.

Sekarang aku sadar, bahwa momen-momen itu sangat berharga. Merawat orangtua di masa senja merupakan suatu kehormatan, keberkahan. Tidak semua anak-cucunya punya banyak kesempatan menemani Mbah di masa tuanya. Aku yang sehari-hari di rumah patut bersyukur punya banyak waktu luang bersama keluarga dan bisa mencurahkan perhatian untuk mereka.

Kepergian Mbah juga membuatku tersadar, kehidupan dunia sungguh fana. Anak-cucu sekalipun.

Malam kedua sepeninggal Mbah, Abang (suamiku) bilang sebelum tidur. "Aku kepikiran Uyut, sendirian sekarang di makam. Padahal biasanya makan aja nunggu ditemenin."

Sesayang-sayangnya, nggak ada anak-cucu yang mau nemenin di kubur. Sesedih-sedihnya ditinggal pergi, setelah tiga hari, seminggu, satu per satu kembali ke urusan mereka masing-masing. Pekerjaan, sekolah, keluarga, dll. Kembali mengurus kesibukan duniawi yang juga, fana.

Kalau sudah sendirian di kubur, tidak ada lagi yang menemani. Kecuali amal, kecuali doa mengalir dari anak yang sholih.

Setiap bulan, Mbah selalu menyisihkan sebagian uang belanjanya untuk infak masjid dan anak yatim. Jumlahnya bisa ratusan ribu lho. Sepeninggalnya, beliau juga sudah mengamanatkan agar perhiasan, cincin dan giwang, dijual lalu uangnya diinfakkan. Insya Allah amal jariyah menjadikan kubur Mbah lapang.

Sekarang sudah hampir seminggu berlalu. Tanahnya mungkin mulai mengering. Karangan bunga telah layu. Kesedihan sedikit memudar, digantikan dengan kebahagiaan lain yang mengisi hari. Semua orang pun telah kembali pada aktivitasnya masing-masing.

Sampai kini, Ali masih suka memetik melati setiap pagi, dibawanya pulang, seperti yang biasa ia lakukan kalau ada Mbah di rumah. Mbah suka menyelipkan melati di sanggulnya, atau di bawah bantal tidurnya.

Aku juga kadang masih refleks menyalakan dispenser, karena biasanya Mbah selalu cari air hangat untuk minum. Abang pun masih menyikat lantai kamar mandi agar jangan sampai Mbah terpeleset karena licin. Seolah Mbah masih ada.

Hal-hal itu sering membuatku tercekat, ya Allah, sedang apa Mbah di sana. Setiap kali teringat Mbah, aku membacakan Fatihah untuknya dan berdoa semoga Allah melimpahkan rahmat dan ampunan.

Seperti yang selalu Mbah pesankan kepadaku, tolong jangan pernah lupa doakan Mbah. Mbah nggak minta banyak-banyak, minimal satu Fatihah setelah solat. Jangan doain panjang umur, kata Mbah. Doain aja biar umurnya berkah, dosanya diampuni.

Ya Allah, betapa aku tahu Mbah selalu duduk lama setelah solat mendoakan anak-cucunya. Setiap kali mendengar ada kerabat atau tetangga yang meninggal, Mbah langsung buka Quran dan membaca Yasin dengan mata tuanya yang berair. Bagaimana mungkin permintaan satu Fatihah seusai solat terlalu berat?

Mbah tidak pernah lupa nama dan wajah anak-cucu-cicitnya yang banyak sekali. Dan aku yakin, tak satu pun yang luput ia doakan.

Mari laksanakan permintaan Mbah untuk terus mendoakannya, minimal satu Fatihah seusai sholat. Anak Mbah ada 10, cucunya buanyak, cicitnya 42, canggahnya 1. Bayangkan betapa terang kuburnya jika doa mengalir deras dari anak-anak sholih setiap hari. Ajarkan Fatihah kepada anak-anak kita, ceritakan ke mereka tentang Uyutnya yang cantik, yang selalu mencium hangat pipi mereka setiap ketemu. Setiap kali kita merindukan beliau, bacakan Fatihah agar Allah senantiasa merahmatinya, menerangi kuburnya dengan doa-doa kita yang tiada terputus.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar