Senin, 21 September 2015

Merdeka dengan Hijab

Empat tahun yang lalu, aku pernah menulis sebuah opini tentang hijab, jilbab, kerudung,apapun namanya. Postingan itu paling banyak dikomentari, bahkan hingga kini. Jadi semacam kontroversi gitu lah. Heuheu. Lupa, akhirnya kubaca ulang dengan saksama tulisan itu. Aku pengen cengar-cengir sendiri.
Well. Aku adalah manusia yang hidupnya masih terus berproses. Apalagi aku tipe orang yang gampang banget berubah. Setiap tulisan di blog ini kan ada tahunnya, nah belum tentu tuh pendapatku masih sama akan suatu hal, dulu dan sekarang. Begitupun soal hijab.
Ken, apa kabar hijabmu sekarang? Alhamdulillah sodara-sodara, hijabku masih nemplok! Malah sekarang hijabku kian panjang. Kalau dulu, aku suka bereksperimen aneka kreasi hijab, libet sana-sini, pake daleman ninja, jarum pentul ampe tiga, peniti, bros. Terus pake kalung. Dandan pula. Busanaku juga colorful banget dulu. Ngerasa kece pada zamannya.
Sekarang? Ah elah. Keburu nangis anak gue!
Iye buuu… eike udah emak-emak sekarang. Gaya ala-ala hijabers gaul gitu udah kutinggalkan. Sekarang yang cepet aja dah. Ambil jilbab panjang yang bahannya tebel biar ga usah pake daleman lagi, penitiin di bawah dagu, lipet sisanya ke atas kepala, sematkan peniti lagi. Kelar. Ngga main jarum lagi, takut keencus anak gue. Dandan? Paling pake pinsil alis, lipstick, sunblock, en bedak. Kadang blush on kalo sempet.
Selain itu, jilbabku kuulurkan panjang, dan aku lebih sering memakai serba hitam. Awal-awal si Abang males. Katanya, “Kamu abis baca apa sih, pake bajunya gitu. Kayak Islam garis keras aja.” Wkwkwkwk.
Jilbabku kuulurkan panjang semenjak aku hamil, karena udah malu banget bejendol sana-sini. Gaenak liatnya. Setelah punya bayi, jilbab panjang itu kurasa sangat membantu menutupi kalau aku lagi menyusui, atau kalau si bayi lagi tidur, atau kita naik motor, kututupin mukanya. Trus kenapa suka pakai warna hitam? Karena hitam adalah warna paling aman sodara-sodara. Aman mix n match-nya, aman pula nyucinya. Hahahahhh. Gue udah males banget ngucek2. Kalo pake item kan aman. Bahkan lecek pun ngga keliatan. Dibilang garis keras? Hmm. You know what, aku suka memainkan persepsi orang :p
Butuh proses, betapa dulu aku menganggap hijab sebagai kekangan yang membosankan, sekarang buatku hijab adalah bentuk kebebasan. Dengan memakai hijab, aku sebagai perempuan punya hak penuh atas tubuhku. Siapa yang boleh melihatnya, dan siapa yang tidak. Aku merasa aman dalam hijabku. Memang kurasakan betul, pakaian dapat memengaruhi cara orang memandang kita. Aku suka aja kalau orang lain, terutama lelaki, menjaga jarak denganku tanpa kuminta, hanya dengan melihat caraku berpakaian. Aku merasa dihormati.
Begitu pula soal make up. Menurutku, semakin sederhana penampilan seorang perempuan, semakin sedikit ia memanipulasi penampilannya, semakin terpancarlah inner beauty-nya: kepercayaan diri. Perempuan yang tampil tak berlebihan, ia percaya dengan dirinya sendiri, dan tak butuh banyak hal lain untuk mengesankan orang. Cukup dengan pembawaannya, kecerdasannya, keramahannya. Menurutku itulah esensi Islam mengajarkan perempuan agar menutup aurat dan tak berlebihan dalam berhias. Untuk melindunginya, memuliakannya, dan memancarkan makna kecantikan yang sesungguhnya, bukan cantik polesan.
Ken, seperti di tulisanmu dulu, kalau kamu punya anak perempuan kelak, apakah kamu tidak akan memakaikan dia jilbab? Tettot! Sekarang, aku bertekad kalau punya anak perempuan, aku akan membiasakannya berjilbab sejak kecil. Membiasakan ya, bukan memaksa. Dan aku akan tegas bilang sama dia soal batasan aurat. Ini auratmu, yang boleh lihat atau pegang cuma Mama, Ayah. Dst. Mengapa? Karena berita soal pelecehan seksual terhadap anak udah semakin banyak, semakin mengerikan, sekarang orang otaknya udah pada kotor. Belum lagi kasus pedofilia, innalillahi. Gila ya, ada orang bisa napsu ngeliat anak kecil. Merinding. Terus lihat remaja putri jaman sekarang, kecil-kecil udah dandan, selfie pake tanktop, naik motor pamer paha >,< Rasa malu harus ditumbuhkan sejak dini, itu pendapatku sekarang. Pun terhadap anakku yang laki-laki. Dia harus terbiasa melihat perempuan berpakaian sopan, sehingga ketika ada yang berpakaian minim, dia akan risih dan malu melihatnya.
Ada ungkapan, kita tidak akan pernah melewati sungai yang sama dua kali. Yah begitulah kurang lebih diriku dulu dan sekarang. Tapi aku sangat menghargai hak dan pilihan setiap orang, setiap perempuan, untuk memilih pakaian. Aku nyaman dengan hijabku yang seperti ini, kalau kamu nyaman dengan pakaianmu sendiri, ya monggo
Aku yakin, setiap kita mengalami proses pembelajaran yang sirkular, tidak linear. Dari manapun kamu mulai, asalkan kamu terus belajar dan memperbaiki diri, pada akhirnya prosesmu akan membentuk lingkaran yang sempurna. Tsah elah. *kibas jilbab*




3 komentar:

  1. wah, kalau untuk sy yg masih single utk pake jilbab panjang yang item gak bgt deh, karena ribet, trs panas susah bgt buat ngaturnya, apalagi kalau mau renang, jalan sana sini, ikutan olahraga bela diri waduh susah banget, tp untungnya keluarga sy demokratis bgt, dibebasin asal masih dalam batasan, with hijab or without gk masalah yg penting masih berpakaian sopan, sesuai adat timur dan hal yang terpenting adalah menjadi perempuan terhormat dan menjaga kehormatan. Oke mom, sipp.... :) makasih mba, beda jilbab beda cara orang memandang kita, pakaian itu seperti kulit yg membuat siapapun memiliki berbagai macam pandangan tentang isinya...

    BalasHapus
  2. Perlahan tapi pasti sebuah proses akan menggeser sebuah persepsi lama dengan yang baru yang tentunya membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. Hehehee *bravo *horee bisa komen *eh :D

    BalasHapus
  3. saya barusan 'kesasar' ke blog ini dan malah jadi tau banyak opini ttg perihal hijab, jilbab, kerudung dan dunia seputar itu. Betul betul betul....
    Sy blm pakai hijab tapi insya allah ada keinginan kesana. Your post and article really helpful :) nice work

    BalasHapus