Jumat, 26 April 2013

Kepingan Sejarah di Bumi Sriwijaya



Palembang cantik sekali saat senja. Apalagi waktu itu hari Sabtu, tepian sungai Musi ramai sekali. Boulevard dipenuhi para penjual jajanan dan muda-mudi yang bercengkerama sambil menunggu lampu-lampu cantik Ampera dinyalakan.

Serasa dunia milik berdua. Tapi masalahnya itu cowok sama cowok -__-"


Aku menyempatkan diri mampir ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II yang terletak di belakang masjid agung, tak jauh dari tepian sungai. Masuk ke situ bayar Rp5000, dan jangan lupa buka sepatu. Hihi, iya baru ini aku masuk museum disuruh buka sepatu. Memang ruangannya bersih sekali, semua koleksinya nampak terawat. Di sini kita juga bisa membaca sejarah Palembang.

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Palembang punya catatan sejarah amat panjang. Ia pernah menjadi ibukota kerajaan maritim tertua, Kerajaan Sriwijaya. Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Bukit Siguntang saja bertarikh 682 Masehi, menjadikan Palembang sebagai kota tertua di Indonesia. Setelah Sriwijaya runtuh, Palembang juga sempat dikuasai Majapahit sebelum akhirnya pengaruh Islam masuk pada awal abad ke-17, dan Kesultanan Palembang Darussalam-lah yang kemudian berkuasa. Dilihat dari sejarahnya, tak heran jika penduduk kota ini sangat heterogen. Tionghoa, Melayu, Jawa, Muslim, Budha, semua hidup berdampingan.

Sore itu aku janjian dengan salah seorang kawan lamaku, Ade. Aku akan menginap di rumahnya 2 malam ini, hehe... Itulah senangnya jadi anak Indonesia, temannya di mana-mana! Ade membawaku ke rumahnya di kawasan Bukit Besar. Rumahnya Ade asik banget, rumah panggung di atas sungai! Jadi halaman depannya itu ya bener-bener sungai! Nggak salah memang kalau Palembang ini dijuluki Venice of The East.

Dijamu pempek sama ibunya Ade sambil menikmati sungai depan rumah

Di sana aku disuguhi pempek ikan gabus aseli buatan ibunya Ade. Enyak! Trus makan malamnya pakai pindang kepala patin dan kerupuk kemplang. Sambil duduk-duduk menikmati pantulan cahaya matahari di atas sungai depan rumah. Ahh... so this is the original taste of Palembang...

**
Minggu pagi di Palembang juga sayang untuk dilewatkan. Salah satu tempat paling ramai di Palembang saat Minggu pagi adalah taman kota Kambang Iwak, yang artinya kolam ikan. Di tengah taman yang asri ini memang terdapat sebuah kolam air mancur yang cukup luas dan banyak ikannya. Kalau malam, lampu dinyalakan dan air mancur pun jadi cantik berwarna-warni.


Ade berpose di Kambang Iwak

Ini kolam peninggalan Belanda loh. Dulu daerah ini memang merupakan pemukiman elit Belanda. Masih banyak rumah-rumah tua bergaya art deco di sekitar Kambang Iwak. Banyak yang jogging, senam, ada jalur sepeda dan tempat main skateboard. Lumayan cuci mata kan, liat cowok-cowok berkeringat, hahaha... Di sini aku dan Ade sempat juga jajan burgo dan lakso, jajanan Palembang yang terbuat dari tepung beras, lalu pakai kuah santan kuning. Enak.


Setelah dari Kambang Iwak, Ade mengajakku ke Taman Bukit Siguntang. Situs bersejarah ini merupakan kompleks pemakaman bangsawan Sriwijaya yang sangat disucikan pada zamannya. Makanya jangan kaget ya kalau masuk sini auranya agak beda, hihi. Di sini dimakamkan Raja Sigentar Alam, Pangeran Raja Batu Api, Putri Kembang Dadar, Putri Rambut Selako, Panglima Tuan Djundjungan, Panglima Bagus Kuning, dan Panglima Bagus Karang. Di lokasi ini juga banyak ditemukan benda purbakala yang berasal dari abad ke-6 sampai ke-13 Masehi. Kini Taman Bukit Siguntang menjadi taman purbakala yang dilindungi untuk menjaga artefak-artefak yang mungkin masih belum terungkap.

Taman Bukit Siguntang

Petualanganku di Palembang belum usai. Masih ada setengah hari lagi, hehe... 
To be continued.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar